Tentang Irwan Prayitno

Aksi Sejuta Lidi (2015-09-04 Padek)

AKSI SEJUTA LIDI

Oleh: Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Ide yang dilontarkan Ibnu dan kawan-kawan, alumni SMA 3 Padang tahun 2015 sebenarnya sederhana saja. Anak muda ini dan kawan-kawan ingin memberikan sesuatu sebagai tanda cintanya untuk Kota Padang. Ibnu dan kawan-kawan ingin membebaskan Pantai Muaro Sungai Lasak-Purus Kota Padang dan sekitarnya dari sampah yang merusak pemandangan.

Lalu sejumlah kawan-kawan alumni SMA 3 Padang ia kumpulkan, sejumlah pihak ia hubungi untuk bisa ikut mebantu. Agar kegiatan pembersihan pantai itu menjadi menarik dan tidak membosankan, di tempat dan saat yang sama juga diadakan pentas seni dan sejumlah lomba. Acara itu lalu diberi judul Pentas Sejuta Aksi, Aksi Sejuta Lidi, Kreasi Sejuta Aksi.

Pada awalnya saya agak miris melihat pemandangan di lokasi acara tersebut. Dimana-mana sampah berserakan, saya jadi bertanya, apakah ini tempat wisata ataukah tempat pembuangan sampah? Padahal lokasi tersebut adalah salah satu destinasi wisata andalan Kota Padang. Sungguh seperti siang dan malam jika dibandingkan dengan destinasi wisata di daerah lain, apalagi jika dibandingkan dengan objek wisata di negara lain seperti Malaysia, Singapura, atau Jepang.

Usai melantunkan beberapa buah lagu untuk memberi semangat, tanpa banyak komentar lagi, kami langsung memungut sampah-sampah yang bertebaran, lalu memasukkannya ke dalam tong sampah bantuan dari PT. Coca-cola. Sebagian kawan lainnya bertugas menyapu dengan sapu lidi yang juga sudah disediakan.

Melihat sejumlah kawan dan saya sendiri sudah turun tangan memungut sampah, yang lain juga tak tinggal diam, termasuk karyawan PT. Coca-cola, BNI dan sponsor lainnya. Warga sekitar Muaro Lasak pun tak mau ketinggalan ikut berpartisipasi memungut sampah.

Ternyata dengan bergotong-royong tak butuh waktu lama untuk menyingkirkan sampah- sampah yang merusak keindahan panorama pantai tersebut. Hanya sekitar 1 jam bergotong-royong, lokasi yang sebelumnya penuh sampah berubah menjadi bersih dan membuat suasana berubah menjadi nyaman. Sampah yang sebelumnya berserakan telah dikumpulkan dan selusin tong sampah besar yang disediakan telah terisi penuh.

Melihat hasil kerja gotong royong massal yang cukup baik tersebut saya jadi berandai-andai. Andai saja masing-masing sekolah, perguruan tinggi yang ada Kota Padang yang ribuan jumlah murid, mahasiswa dan almamaternya turun bergotong royong membersihkan tempat-tempat umum yang ada di Kota Padang, pastilah dalam waktu singkat tempat-tempat tersebut bersih seketika. Kantor-kantor, instansi juga memiliki karyawan ratusan atau ribuan orang jumlahnya juga bisa ikut berpartisipasi.

Alangkah indahnya jika hal itu terwujud. Suatu saat Kota Padang, bahkan semua kota dan daerah di Sumatera Barat bersih, rapi dan indah sampai ke pelosok-pelosok sekalipun. Ditambah lagi dengan masyarakatnya ramah, rukun, bersahabat dan taat beribadah. Jika sudah demikian, tidak hanya investor yang datang mengantar rezeki, Tuhan pun lebih lagi ikut mencurahkan rezkinya.

Bercermin ke negara lain yang lebih maju dan daerahnya terkenal bersih, peran pemerintah untuk mengelola kebersihan kota memang sangat penting. Pemerintah perlu menyediakan sarana dan pra sarana kebersihan serta regulasi berupa aturan maupun
ajakan agar masyarakat ikut berpartisipasi menjaga kebersihan.

Namun pengalaman membuktikan bahwa justru peran masyarakat jauh lebih penting. Kesadaran masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, jauh lebih besar dampaknya dibandingkan dengan memperbanyak petugas kebersihan. Bisa kita bayangkan jumlah total penduduk kota Padang lebih dari 800.000 jiwa, sementara petugas kebersihan hanya puluhan orang saja. Tentu saja jumlah ini sangat tidak seimbang.

Karena itu di negara-negara maju justru kesadarannya masyarakatnya yang lebih berperan, jumlah petugas kebersihan malah lebih sedikit. Di Singapura atau di Jepang misalnya, kita tidak menemukan selembar sampahpun berserakan. Karena memang tidak ada satu orangpun masyarakat di sana yang membuang sampah sembarangan. Sampah bekas kemasan makanan masing-masing atau sisa makanan selalu mereka buang di tempat sampah, atau mereka simpan sementara dalam tas masing-masing sampai menemukan tempat sampah.

Saya yakin, jika hal serupa juga kita lakukan, kita juga bisa memiliki kota dan daerah yang bersih, tak kalah dengan kota terbersih di dunia lainnya. Islam telah mengajarkan bahwa kebersihan itu penting malah dikatakan bahwa kebersihan itu adalah sebagian dari iman.

Gerakan kebersihan juga seperti lidi, jika hanya sebatang lidi saja yang diandalkan untuk menggerakkan kebersihan, tak kan banyak berarti. Tetapi jika dilakukan dengan banyak lidi bersama-sama membentuk sapu lidi, sapu lidi diperbanyak lagi menjadi jutaan sapu lidi, Insya negeri ini akan menjadi bersih dan nyaman.***

Padang Ekspres, 4 September 2015

 

Karakter dan Model Investasi Sumbar (2015-08-12 Padek)

Karakter dan Model Investasi Sumbar

Oleh: Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Bahwa masyarakat Sumatera Barat perlu sejahtera, itu sudah pasti. Karena itu pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat harus meningkat, pendapatan masyarakat harus terus bertambah.

Lalu strategi manakah yang akan dipakai untuk mendongkrak (leverage) pertumbuhan ekonomi masyarakat Sumatera Barat yang pada akhirnya mampu mensejahterakan masyarakat?

Untuk memilih pola mana yang akan digunakan, perlu mempertimbangkan dulu budaya, karakter wilayah Sumatera Barat serta karakter masyarakatnya. Hal ini penting dipertimbangkan agar upaya pengembangan ekonomi yang dilakukan tepat sasaran, mengena dan berkelanjutan (sustainable).

Sebut saja sejumlah perusahan besar seperti Sumatex Subur, Asia Biscuit, Rimba Sunkyong, Polyguna Nusantara dan lain-lain, tak lama beroperasi di Sumbar, lalu mati. Hanya PT. Semen Padang, satu-satunya perusahaan skala besar yang mampu bertahan di Sumbar hingga kini. Hingga saat ini, telah 10 kali pergantian Gubernur di Sumbar, sepanjang masa tersebut belum ada investasi besar yang sukses dan bertahan di Sumatera Barat, kecuali PT. Semen Padang yang didirikan sejak zaman Belanda tahun 1910.

Selama ini investasi di bidang industri besar memang tidak nampak menyolok di Sumbar, namun investasi di bidang lain dari tahun ke tahun semenjak 2010 hingga kini terus meningkat misalnya untuk bidang pariwisata (seperti perhotelan, restoran), home industri, UMKM, energi panas bumi dan lain-lain.
Kita tentu tidak ingin hal serupa terus terjadi. Untuk apa bersusah payah menarik investor ke Sumatera Barat, jika hanya jalan sebentar, lalu kolaps dan mati. Untuk itu akar persoalannya harus dicari agar didapat solusi yang tepat dan ditemukan model investasi dan pola pengembangan ekonomi yang cocok untuk Sumatera Barat.

Secara sederhana ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan jika melakukan investasi atau pengembangan ekonomi di Sumatera Barat. Pertama adalah faktor budaya kedua faktor wilayahnya dan ke tiga adalah faktor karakter masyarakatnya. Budaya masyarakat Sumatera Barat sangat spesifik, sangat religius, terkenal dengan falsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Produk industri yang bertentangan dengan agama/budaya pasti ditolak, begitu pula investor yang tidak memperhatikan budaya dan kearifan lokal juga tidak diterima masyarakat. Kenyataan lapangan sangat jauh berbeda dengan teori-teori yang ada dalam texbooks.

Dari aspek wilayah, Sumatera Barat didominasi oleh pergunungan dengan kemiringan rata-rata di atas 45 persen. Karena itu lebih dari 60 persen wilayah Sumatera Barat adalah Hutan Lindung yang jika salah dalam pengelolaannya justru akan menimbulkan bencana bagi masyarakatnya. Sumbar secara wilayah terletak jauh dari pasar dan raw material industri sehingga kurang efisien, biaya transportasi menjadi tinggi.

Ditinjau dari karakter masyarakat, masyarakat Sumatera Barat terkenal sebagai etnik yang egaliter. Mereka lebih suka bekerja mandiri dibandingkan sebagai buruh. Etnik Minang memiliki energi positif, tidak cepat puas dan selalu ingin lebih maju dan lebih baik. Mereka terkenal sebagai pedagang yang ulet dan sungguh-sungguh . Mereka juga lebih suka menjadi raja kecil di perusahaan kecil daripada menjadi buruh di perusahaan besar.

Karena itu banyak masyarakat Minang lebih memilih menjadi pengusaha UMKM dibandingkan menjadi buruh pabrik atau buruh bangunan. Data menunjukkan 84 persen pengusaha di Sumbar adalah usaha mikro dan 14 persen sebagai pengusaha skala kecil.
Hal ini juga bisa dilihat dari peluang-peluang kerja yang tersedia di Sumatera Barat setiap tahunnya. Setiap tahun sektor konstruksi dan bangunan membutuhkan ribuan tenaga kerja, namun peluang kerja yang terbuka ini umumnya tidak dilirik oleh masyarakat Sumatera Barat sendiri. Peluang kerja ini justru sebagian besar diisi oleh pekerja dari Jawa dan sekitarnya. Begitu juga pekerjaan sebagai buruh tani/perkebunan, pelayan rumah makan, misalnya, juga lebih banyak diisi oleh warga asal luar Sumatera Barat.

Padahal di Sumatera Barat sendiri masih banyak penduduk yang dalam usia kerja masih belum mendapatkan pekerjaan. Mereka umumnya berpendidikan tinggi dan menunda bekerja hingga menemukan pekerjaan yang sesuai dengan apa mereka inginkan.
Data dari Disnaker menyebutkan tidak ada tenaga kerja dari Sumatera Barat yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (TKW) dan tidak ada yang dikirim ke luar negeri sebagai pekerja sektor non formal. Sekitar 1400 pekerja asal Sumbar yang setiap tahunnya bekerja di luar negeri bekerja di sektor formal.

Uniknya di Sumatera Barat kemiskinan tidak berkorelasi dengan jumlah pengangguran, sebagaimana di provinsi lain. Kemiskinan di Sumatera Barat jauh di bawah rata-rata nasional, namun pengangguran di Sumatera Barat lebih tinggi, 0,1 persen di atas rata-rata nasional. Hal ini menggambarkan bahwa Masyarakat Sumatera Barat lebih selektif memilih tempat mereka bekerja dan jumlah pendapatan yang akan mereka terima.

Di sisi pemilik usaha, mereka cendrung memilih pekerja asal luar Sumatera Barat (terutama Jawa) dengan alasan pekerja asal Jawa tidak memilih-milih jenis pekerjaan, siap bekerja kasar di lapangan, tidak harus bekerja di kantoran dan upah lebih rendah. Hal ini bukan mitos, tetapi merupakan fakta yang telah terjadi sejak lama hingga sekarang.

Dari diskusi dengan sejumlah pengusaha dan ekonom, menurut mereka karakter masyarakat itulah yang membuat beberapa perusahaan dengan pola padat karya tidak bertahan lama di Sumatera Barat. Berbeda dengan di Jawa, perusahaan-perusahaan padat karya seperti pabrik sepatu, pabrik rokok, pabrik tekstil, dan sejenisnya bisa jalan dan bertahan lama.
Namun itu bukan berarti investasi tidak bisa dilakukan dan industri tidak bisa dibangun di Sumatera Barat. Nyatanya PT Semen Padang bisa bertahan, Rumah Makan Padang, indsutri kecil dan home industri juga terus tumbuh menjamur dimana-mana.

Ternyata industri yang cocok untuk orang Minang adalah industri yang menggunakan teknologi tinggi, butuh skil untuk bekerja di sana, bukan sebagai pekerja kasar seperti buruh pabrik, buruh bangunan dan sejenisnya. Mereka juga lebih menyukai usaha/pekerjaan yang bersifat mandiri.

Sedangkan untuk pertanyaan kenapa usaha Rumah Makan Minang juga bisa bertahan, jawabannya adalah sistem yang digunakan adalah sistem kerjasama, bukan pola buruh dan majikan. Umumnya sistem kerja di bidang pertanian juga dengan pola kerjasama dengan sistem bagi hasil seduaan atau sepertigaan. Di sini juga tidak berlaku pola hubungan kerja buruh dan majikan. Industri rumahan seperti sepatu, songket, bordiran, sulaman, konveksi, pengolahan hasil pertanian/perkebunan, makanan, juga dilakukan dengan sistem kerjasama.

Kenyataan ini bukanlah sebuah kelemahan yang harus kita nafikan. Menurut saya ini adalah sebuah energi positif etnis Minang yang selalu ingin lebih baik, lebih maju, tidak cepat puas dan ingin mandiri. Energi ini harus disalurkan pada tempatnya secara proporsional. Energi ini pula yang menyebabkan banyak warga etnis Minang menjadi orang-orang sukses dan menjadi tokoh di pentas nasional.

Karena itu tidak perlu dipaksakan untuk memasukkan investasi ke Sumatera Barat jika memang tidak sesuai dengan karakter dan keinginan masyarakat daerah ini, jika tidak ingin kegagalan-kegagalan seperti sebelumnya terulang lagi. Bahkan investasi yang investornya non muslim atau non pribumi juga menjadi persoalan prokontra di Sumbar. Selain itu investasi yang berpotensi merusak harga pasar pun bisa menimbulkan persoalan. Investasi seperti ini dikuatirkan akan mematikan pengusaha lokal mikro dan kecil.

Memilih investasi dan investor yang tepat memang sangat penting. Model pengembangan UMKM dan industri rumahan (home industri) nampaknya adalah di antara bentuk usaha yang cocok dikembangkan sebagai langkah awal pengembangan usaha di Sumatera Barat.

Jepang sendiri sebagai negara industri raksasa mengandalkan home industri untuk mendukung industrinya. Pabrik mobil, misalnya, hanya komponen-komponen utama yang butuh teknologi tinggi saja yang diproduksi di pabrik induk, sedangkan komponen-komponen lain diproduksi oleh industri rumah tangga. Begitu juga barang-barang elektronik, pembuatannya tidak hanya di satu pabrik terpusat, tetapi dibagi-bagi menjadi beberapa komponen terpisah, bahkan komponen-komponen tersebut juga ada yang diproduksi di negara lain. Belakangan tidak hanya Jepang, negara-negara maju lainnya di Eropa juga melakukan hal serupa.

Banyak bukti menunjukkan bahwa pengusaha-pengusaha besar memulai karirnya dari UMKM. UMKM terbukti bisa membuka peluang kerja bagi banyak orang, UMKM juga cocok dengan sifat egaliter etnis Minang yang lebih suka menjadi raja kecil di perusahaan kecil, dibanding menjadi buruh di perusahaan besar. Namun suatu saat, seperti yang telah banyak terjadi, tentu ia juga ingin naik kelas dan tidak tertutup peluang bagi mereka untuk menjadi raja besar di perusahaan besar.

Model yang cocok untuk mengatasi kemiskinan dan pengangguran di Sumatera Barat adalah dengan metode pemberdayaan, bukan dengan membangun industri padat karya seperti di daerah lain. Tugas pemerintah adalah memberikan stimulan, pembinaan, pelatihan, membantu modal, sehingga bermunculan usaha-usaha kecil dan mikro lalu memfasilitasi dan membina usaha tersebut sehingga tumbuh dan berkembang menjadi usaha-usaha besar dan mapan. Pola seperti ini memang butuh waktu, butuh dukungan banyak pihak (multi stake holders), termasuk perguruan tinggi. Pola pendekatan seperi ini memang tidak langsung terlihat perkembangan dalam waktu singkat. Namun strategi ini lebih tepat dan dampaknya bertahan lama. Pola pemberdayaan cocok untuk Sumatera Barat karena masyarakat Sumatera Barat memiliki potensi dan kemampuan dasar yang bisa dikembangkan.

Jika kita benar-benar memperhatikan aspek budaya, kondisi wilayah dan karakter masyarakat Sumatera Barat yang spesifik seperti yang dibahas di atas, in-sya Allah, model investasi dan pola pengembangan ekonomi akan berjalan dengan baik dan bertahan lama. Model ini telah diterapkan pada enam Program Gerakan Pembangunan yang telah dilaksanakan di Sumatera Barat sejak tahun 2011. Hasilnya memang tidak langsung dan cepat terlihat seperti membalikkan telapak tangan. Namun program ini langsung menyentuh masyarakat di akar rumput, langsung mencapai titik-titik sumber permasalahan. ***

Padang Ekspres, 12 Agustus 2015

 

Gubernur Yang Rendah Hati (Haluan 31 Des 2010)

Gubernur yang Rendah Hati

Oleh Rusdi Zen

Karena pekerjaan, saya cukup sering bolak balik Padang-Jakarta. Dalam rutinitas itu acapkali saya sepesawat terbang dengan Gubernur Sumbar pak Irwan Prayitno. Pertama kali sepenerbangan dengan beliau, ketika hendak balik ke Padang. Kami bersua di Garuda GFF Lounge Bandara Soekarno-Hatta, hendak sama-sama sarapan. Saya dan pak Gubernur hendak ke Padang hari itu menggunakan Garuda penerbangan pertama pukul 6.30 WIB.

Setelah saya sapa, saya lalu bergegas mengambil the hangat dan nasi goreng yang disediakan secara buffet. Waktu boarding sudah dekat. Sambil menikmati sarapan, dalam hati saya mereka-reka tiket yang digunakan sang Gubernur kelas apa? Saya yakin beliau menggunakan tiket kelas bisnis. Namun saya agak ragu juga, lantaran dalam beberapa kali penerbangan ke Jakarta atau ke Padang saya sepenerbangan dengan kawan-kawan anggota DPRD Sumbar yang selalu membahas mengenai Gubernur Sumbar yang setiap terbang tidak pernah duduk di kelas bisnis.

Mereka merasa risih jika sepenerbangan dengan Gubernur yang selalu duduk di kursi ekonomi, sementara para anggota dewan yang terhormat, sejak adanya peraturan penggantian uang jalan sesuai bukti pengeluaran, selalu duduk di kursi bisnis. Keadaan demikian itu menimbulkan hal yang lucu. Para anggota dewan jika hendak booking tiket untuk ke Jakarta atau ke Padang, mereka mencari info dulu, apakah Gubernur juga berangkat pada hari, jam dan penerbangan yang sama, dengan maksud agar jangan sampai sepenerbangan dengan Gubernur.

Rabu 29 Desember lalu, ketika hendak balik ke Padang dengan Garuda penerbangan pertama, saya sepenerbangan lagi dengan pak Gubernur. Saya duduk di kursi emergensi No. 14A, pak Gubernur di belakang saya, kursi No. 15C. Di sebelah saya pada kursi No. 14 B duduk teman saya mantan anggota DPRD Sumbar. Dalam penerbangan, perbincangan dengan teman saya kembali menyinggung mengenai rasa risi melihat Gubernur duduk di kursi ekonomi. Kami berdua memperhatikan, ternyata pramugari pun tidak mengenali bahwa yang duduk di kursi No. 15C itu adalah Gubernur Sumatera Barat.

Dalam cuaca padang yang mendung, Garuda yang menerbangkan kami dari Jakarta mendarat mulus di BIM. Ketika turun dari pesawat, saya, teman yang mantan anggota DPRD Sumbar berjalan beriringan dengan pak Gubernur yang selangkah lebih dulu di depan kami. Sambil berjalan menuju tempat kalim bagasi, saya memberanikan diri bertanya, gerangan apa yang menjadi alasan beliau tidak pernah terbang menggunakan kelas bisnis? Gubernur dengan spontan menjawab bahwa duniawi tidak terlalu penting bagi dirinya. Selain itu jika terbang dengan ekonomi, akan terjadi penghematan anggaran yang cukup besar setiap tahun. Menanggapi jawaban pak Gubernur, saya katakan…..betul pak, tapi apalah artinya jika para Bupati, Walikota dan Anggota Dewan yang jumlahnya begitu banyak, justru terbang menggunakan kelas bisnis. Lagi pula risih kami melihatnya pak.

Mendengar jawaban saya yang setengah protes itu, pak Gubernur hanya tersenyum mafhum.

Bagi saya, dan saya yakin bagi kebanyakan anggota masyarakat Sumbar tidak menjadi masalah dan malah wajar jika Gubernur terbang menggunakan kelas bisnis. Bukankah sebagai pemimpin, beliau kita tinggikan seranting dan dahulukan selangkah. Lagi pula kerendahan hati Gubernur, menurut saya tidak terletak pada kelas penerbangan yang digunakannya, melainkan oleh banyak hal lain yang telah beliau pakai dalam sikapnya.

Koran Haluan, 31 Desember 2010

 

Doakan Ayah dan Ibu Ya Nak (Haluan 21 Agus 2015)

“Doakan Ayah dan Ibu Ya Nak…”

Laporan: RYAN SYAIR

Sebagai seorang kepala keluarga, Irwan Prayitno (IP) memang terbilang paling beruntung dan bahkan teramat pantas untuk berbangga hati. Betapa tidak, selain memiliki seorang istri yang cantik, tangguh dan selalu setia mendampinginya dikala suka maupun duka, sosok sederhana nan bersahaja itu juga dikaruniai 10 anak-anak soleh dan soleha, buah cintanya dengan sang istri tercinta, Nevi Zuairina.

Setiap orangtua, tentu tak akan pernah membayangkan betapa sulitnya IP dan Nevi mengurusi 10 anak dalam perjalanan mengarungi mahligai rumah tangga mereka. Tak terbayangkan, betapa repotnya mereka membagi waktu untuk melengkapi setiap kebutuhan, memberikan perhatian dan tentunya mencurahkan kasih sayang kepada 10 buah hati mereka. Belum lagi ketika harus dihadapkan pada rutinitas dan kesibukan harian, terutama saat IP masih menjabat sebagai Gubernur Sumbar dan tentunya Nevi, yang otomatis menjabat sebagai Ketua TP PKK.

Tanpa harus mengupas lebih jauh, mulai sejak anak-anaknya berproses dari balita, hingga akhirnya merangkak dewasa, namun secara umum IP memang telah berhasil dalam menepis anggapan banyak orang soal sulitnya mengurusi dan membesarkan 10 orang anak secara bersamaan, terutama di saat semuanya sedang butuh-butuhnya perhatian, bimbingan dan kasih sayang. Lagi pula, saat ini kebahagiaan IP dan Nevi juga sudah semakin sempurna dengan kehadiran tiga cucu mereka, yakni Hawnan Aulia, Hasna Labiqa Raisya dan Syakira Aulia.

Dalam percakapan dengan Haluan, Kamis (20/8), IP membocorkan sedikit rahasia soal keberhasilannya dalam mewujudkan keluarga bahagia, sakinah, mawaddah dan warrohmah, terutama dalam membimbing, membesarkan dan mendidik ke 10 anaknya (Jundi Fadhlillah, Waviatul Ahdi, Dhiya’u Syahidah, Anwar Jundi, Atika, Ibrahim, Shohwatul Islah, Farhana, Laili Tanzila dan Taqiya Mafaza). IP yang sepenuhnya menyadari jika keluarga adalah segala-segalanya, menyebut jika salah satu resepnya adalah salat berjamaah.

“Ya, salat berjamaah adalah salah satu resep kami mewujudkan keluarga bahagia. Selain untuk urusan hablum minallah, salat berjamaah juga menjadi media paling efektif bagi kami untuk berkomunikasi, bersilaturrahmi, saling berbagi, berduskusi dan bermusyawarah dalam memecahkan berbagai persoalan, terutama yang menyangkut dengan anak-anak,” kata Profesor Bidang Sumber Daya Manusia, yang juga pendiri lembaga pendidikan berbasis ke-Islaman, Adzkia itu memulai pembicaraan.

Tradisi pelaksanaan salat berjamaah yang melibatkan seluruh anggota keluarga terang IP, telah dilakukannya sejak usia pernikahan mereka masih belia. Khusus bagi anak-anak, IP bahkan selalu menekankan pentingnya melaksanakan sunnah Rasul tersebut dimanapun berada. Pesan dan nasihat itu, diakui IP telah ditanamkan sejak anak-anaknya mulai memasuki bangku sekolah.

“Dari mereka kecil, saya sudah mulai pesankan pentingnya salat, apalagi jika dilakukan dengan berjamaah. Karena selain telah menjadi kewajiban, salat jika dilakukan dengan cara berjamaah bersama keluarga, juga akan menjadi wadah komunikasi paling ideal. Disaat hati dan fikiran sudah tenang, tak ada masalah yang tak akan terselesaikan. Anak-anak bisa bercerita soal masalah, kesulitan dan pengalaman-pengalaman mereka di sekolah, dan sebaliknya orangtua juga akan mudah memasuki anak, terutama untuk memberikan nasehat dan bekal-bekal pendidikan agama bagi mereka. Alhamdulillah, kebiasaan salat berjamaah sampai kini masih tetap terjaga di keluarga kami,” papar IP.

Karena memang sudah menjadi salah satu kebiasaan yang telah mendarah daging di keluarga IP, maka tiada hari tanpa salat berjamaah bagi dia, istri dan anak-anaknya. Bahkan khusus bagi anak-anak putri, tak jarang sang istri memimpin langsung salat berjamaah jika kebetulan IP sedang bertugas dan sedang tidak berada di rumah. Waktu rutin untuk bisa berjamaah bersama yang langsung diimaminya sebut IP, yakni ketika waktu Magrib, Isya dan Subuh.

“Kalau siang (Zuhur dan Ashar), terutama di hari kerja, saya kan tidak mungkin selalu berada di rumah karena berdinas, kecuali ketika waktu libur. Lagian kalau siang anak-anak juga masih di sekolah, jadi mereka juga salat berjamaahnya di sekolah bersama guru-guru mereka,” kata IP yang juga Guru Besar Universitas Muhammadiyah Jakarta itu.

Jika di rumah sebut IP, salat berjamaah paling sering dilakukan di Musala yang berada di komplek gubernuran. Usai salat, dzikir dan mengaji, biasanya IP melanjutkan forum keluarganya itu dengan bercengkrama, diskusi-diskusi ringan, menerima curhat, serta memberikan solusi dan pencerahan untuk setiap keluh kesah anak-anaknya. Bahkan di setiap akhir-akhir bulan Ramadan, IP beserta istri dan anak-anaknya juga rutin melakukan itikaf bersama, hingga menjelang sahur tiba.

IP yang juga selalu membiasakan puasa Senin-Kamis bagi anak-anaknya itu, mengaku begitu banyak hikmah dan manfaat yang dipetiknya selama melatih anak dan menjalani kebiasaan melaksanakan salat berjamaah bersama istri dan anak-anaknya. Selain untuk selalu mengingatkan anak agar patuh kepada perintah Allah SWT, manfaat terbesar yang paling dirasakan IP adalah terbangunnya komunikasi yang ideal antar seluruh anggota keluarga. Antara istri dengan suami, antara anak dengan orangtua. Hari-hari yang dijalaninya bersama keluarga sebut IP, juga terasa menjadi lebih berkah, bahagia dan penuh manja.

Sukses membangun karir di panggung politik, berhasil membina rumah tangga bahagia dan selalu menjadikan agama sebagai pedoman hidup menuju kehidupan abadi di akhirat kelak, adalah sosok dan karakter yang tak bisa dipisahkan dari seorang IP. Sesibuk apapun dengan urusan dunia, melayani dan mengurusi berbagai persoalan masyarakat yang dipimpinnya selama menjabat Gubernur Sumbar, IP tetaplah seorang pria sebagaimana layaknya. Suami bagi istrinya dan ayah bagi ke 10 anak-anaknya.

“Kalau terdapat setitik surga yang dijatuhkan Allah SWT ke bumi, maka surga itu adalah kalian wahai istri dan anak-anakku. Usai salat, jangan lupa untuk selalu mendoakan Ayah dan Ibu ya nak,” pesan IP kepada anak-anaknya setiap saat usai salat berjamaah. (**)

Haluan, 21 Agustus 2015

 

IP Seorang Konsultan Dan Entreprenur (Haluan 20 Agus 2015)

IP, SEORANG KONSULTAN DAN ENTREPRENEUR

PADANG, HALUAN – Orang mungkin lebih mengenal Irwan Prayitno sebagai Gubernur Sumbar ketimbang sebagai konsultan dan enterpreneur. Ternyata sebelum menyandang jabatan gubernur, Irwan Prayinto sibuk sebagai seorang konsultan.
Profesi konsultan ini dimulainya semenjak 1992 silam. Banyak sudah yang memakai jasanya sebagai konsultan. “Untuk konsultan itu saya geluti semenjak 1992 lalu. Itu saya sempurnakan setelah kembali dari Malaysia,” terangnya.
Diceritakan IP bahwa selama menggeluti profesi konsultan banyak sudah yang memakai jasanya. Seperti Dirut PT. Semen Padang, Benny Wendry dan seangkatannya. “Itu sudah lama juga, untuk direktur dan pejabat di Sumbar itu saya yang menjadi konsultannya,” ujar IP.

Profesi konsultan itu kata IP tidak lagi maksimal dilakoninya saat ia dipercaya menjadi anggota DPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera dengan daerah pemilihan Sumbar I.
Irwan Prayitno merupakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia 2 periode (2004–2009 dan 2009-2014) dari Partai Keadilan Sejahtera dengan daerah pemilihan Sumatera Barat I.

Pada Tanggal 15 Agustus 2010, dilantik menjadi Gubernur Sumbar periode 2010-2015 oleh Menteri Dalam Negeri , Gamawan Fauzi di Gedung Darurat DPRD Provinsi Sumbar.
“Saat ini saya memang tidak lagi menggeluti profesi ini, namun alat yang saya gunakan sebagai alat tes, hingga saat ini masih dipakai oleh konsultan lainnya. Jadi saya tinggal memetik hasil dari situ,” ujarnya.

IP juga tidak menampik kalau gaji sebagai konsultan lebih besar dari gaji gubernur. Hanya saja tuntutan menjadi gubernur gaji bukan lagi sebuah ukuran, karena kesejahteraan masyarakat Sumbar menjadi prioritas utama IP.

Selain konsultan, IP juga seorang interpreneur ulung. Banyak usaha yang dirintis IP seperti usaha properti, ruko dan restoran. Usaha ini dijalankan bersama istri tercinta Nevi Zuairina.
Jiwa interpreneur IP sudah muncul semenjak ia berada di bangku kuliah. Pria kelahiran Jogjakarta, 20 Desember 1963 ini terus mengasah jiwa interpreneurnya hingga saat ini.

“Saya juga aktif sebagai pengusaha, hanya saja semenjak menjabat gubernur saya tidak terlibat lagi. Hanya istri yang tetap aktif mengelola usaha ini. Itu pun hanya mengambil hasil saja dari apa yang telah dirintis,” pungkasnya.

IP juga mengimbau kepada generasi muda untuk aktif dalam dunia interpreneur. Menurutnya, menadi usahawan disamping menggeluti profesi lain, bisa menjadi jenjang menuju kesuksesan kelak.

“Jadikan ini bekal untuk menuju sukses, karena dengan interpeneur selain sebagai sarana pengembangan diri yang positif, interpreneur juga sebagai usaha menabung untuk masa depan dan hari tua,” tukasnya. (h/mg-isr)

Haluan, 20 Agustus 2015

Mau Maju (Haluan 19 Agus 2015)

Mau Maju? Harus Sejahtera Dulu…!!

Laporan: RYAN SYAIR

Adalah benar, jika kesejahteraan kerap dijadikan sebagai jualan seseorang untuk ‘membeli’ banyak hati. Karena memang, hidup sejahtera adalah mimpi bagi setiap orang. Mimpi bagi saya, bagi anda dan bagi kita semua. Namun, kemana harus mengejar dan bagaimana pula untuk menggapainya?

Mencari kesejahteraan, belakangan ini bisa diibaratkan seperti berputar-putar mengejar satu fatamorgana, untuk kemudian tersesat di fatamorgana yang lain. Namun, anggapan itu dibantahkan oleh Irwan Prayitno (IP). Meraih dan mewujudkan kesejehteraan menurut mantan Gubernur Sumbar ini, bukanlah mimpi muluk. Sejahtera, bukanlah fatamorgana yang hadir untuk sekedar menjanjikan pemuas dahaga, apalagi menjerumuskan kepada binasa.

“Menjadi sejahtera itu tidak hanya sekedar mencatatkan angka-angka statistik pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Tidak pula karena negeri kita kaya, maju dalam bidang teknologi dan tingginya tingkat industrialisasi dan modernisasi,” kata IP menjawab Haluan dalam diskusi santai bersama sejumlah wartawan, Selasa (18/8).

Dalam kacamata yang berdimensi lebih luas, IP mendefinisikan “kesejahteraan” tidak hanya sekedar capaian yang melampaui dari ukuran-ukuran angka pertumbuhan ekonomi semata. Bagi IP, kesejahteraan berarti semakin terbukanya kesempatan dan kemampuan (capability) untuk mendapatkan hak-hak dasar sebagai seorang manusia.

Sebut saja cukup dan terpenuhinya kebutuhan pangan, mendapatkan pendidikan dasar yang memadai, bebas dari buta huruf, selalu dalam keadaan sehat, terhindar dari kematian (avoiding escapable morbidity), atau berupa kondisi abstrak semisal menjadi bahagia, dihormati, bebas dari rasa takut, bebas dari ancaman penghilangan secara paksa, bebas mengemukakan pendapat, serta bisa berpartisipasi dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

“Saya lebih melihat kesejahteraan itu dari dua sisi. Yang pertama dari sisi psikis atau moril yang meliputi sosial, agama, budaya dan lainnya, serta dari sisi fisik atau materil. Jadi, pendekatannya lebih kepada pemberdayaan dan pengembangan sumber daya manusia, atau yang lebih dikenal dengan Human Development Index,” ujar IP.

IP mengakui, jika bagi kebanyakan orang, HDI kerap dikaitkan dengan sekedar urusan pengembangan sumber daya manusia, atau pengembangan SDM dalam arti sempit. Namun lanjut IP, HDI sesungguhnya akan mampu membawa paradigma baru yang akan menjungkirbalikkan cara pandang tentang pembangunan, tentang apa yang harus dicapai, ke arah mana pembangunan harus dilakukan, serta siapa-siapa yang harus disentuh oleh pembangunan itu sendiri.

Apa yang disampikan IP, bukan tidak beralasan. Melihat lebih detail ke dalam daftar ranking kesejahteraannya dari 180 negara di dunia, sejumlah fakta soal definisi sejahtera memang menunjukkan realita terbalik dari sudut pandang banyak orang soal definisi kesejahteraan itu sendiri. Lihat saja negara-negara “imut” (karena kecil luasannya) seperti Norwegia, Islandia, dan Switzerland, yang ternyata rakyatnya lebih sejahtera dibandingkan negara-negara besar semisal Jepang, Amerika Serikat ataupun Inggris. Bahkan, Norwegia berada di urutan paling puncak sebagai negara yang paling sejahtera.

“Khusus di Sumatera Barat, sesuai dengan kultur masyarakatnya, mewujudkan daerah dan masyarakat sejahtera itu harus dilakukan melalui tiga pola pendekatan, yakni geografis, budaya dan prilaku. Apalagi kita sama-sama mengetahui, bahwa karakter masyarakat Minang bukanlah tipe yang dipekerjakan, melainkan harus diberdayakan. Saya yakin, pola ini akan mampu dalam mengurai kemiskinan dan menjadi langkah paling bernas untuk meraih kesejehteraan,” pungkas IP.

Budaya dan kebiasaan orang minang sebut IP, memperlihatkan program pemberdayaan masyarakat sangat baik dan memberikan dampak positif bagi kemajuan daerah, terutama dalam upaya menuntaskan kemiskinan dan mengurangi pengangguran. Jika di provinsi lain dapat melakukan program dengan pengembangan bidang industri, dan program usaha yang membutuhkan banyak tenaga kerja, di Sumatera Barat justru sebaliknya.

“Tipe masyarakat Sumatera Barat tidak memiliki bakat sebagai buruh atau pekerja harian. Mereka lebih suka menyandang status sebagai wirausaha, walaupun sebagai usahawan kecil dan menengah. Nah, inilah yang harus diberdayakan. Jadi, tidak usah dulu terlalu jauh untuk berfikir maju (punya gedung-gedung bertingkat, punya banyak pabrik, industri dll). Karena jelas, indikator sejahtera tidak hanya sebatas itu. Untuk bisa maju, semua harus sejahtera dulu,” pungkas pria sederhana yang memegang tegus prinsip efisien, efektif dan produktif itu.

Tidak Mengurus Partai

Dalam kesempatan itu, IP juga membantah rumor tak sedap yang menyebutkan bahwa selama lima tahun memimpin Sumbar (2010-2015), dirinya hanya sibuk mengurus partai (PKS). Hal itu jelas IP, adalah tuduhan yang terlalu mengada-ada dan tanpa alasan. Buktinya, begitu ditetapkan sebagai Gubernur Sumbar, IP bahkan mengaku langsung dicopot dari jabatan kepartaiannya sebagai Ketua MPP di DPP PKS.

“Tuduhan itu (sibuk mengurus partai) adalah sangat tidak benar. Sejak menjadi gubernur, saya bahkan tak pernah lagi terlibat dengan urusan partai. Kecuali sekali dua tahun dalam kapasitas fungsional sebagai anggota majelis syuro. Lagipula, hal ini juga telah menjadi aturan baku bagi PKS. Dimana setiap kader yang terpilh menjadi pebajat publik, sepenuhnya akan dihibahkan untuk kepentingan masyarakat dan tidak akan diganggu dengan berbagai urusan partai,” terang IP.

IP juga membantah banyaknya tudingan yang menyebut bahwa dirinya dikelilingi oleh orang-orang partai. Baik di lingkungan internal, maupun kedinasan dan pemerintahan (SKPD). “Tidak benar itu. Lihat saja semua yang tengah menjabat saat ini (SKPD). Mana ada yang orang partai. Sebagian besar mereka adalah pejabat-pejabat yang sudah ada di pemerintahan sebelum saya (Gamawan Fauzi). Saya juga tidak mengerti dengan banyaknya tuduhan dan tudingan-tudingan miring yang mengarah kepada saya. Tapi biarlah, Allah itu tidak tidur dan saya yakin masyarakat jauh lebih cerdas,” tukuk IP. (**)

Haluan, 19 Agustus 2015

 

Ditunggu Gubernur Untuk Makan Bersama (Haluan 18 Feb 2011)

Ditunggu Gubernur Untuk Makan Bersama

SUKA DUKA SUPIR SEORANG PETINGGI DAERAH

Padang, Haluan-Ikhlas, patuh dan tertib. Itulah prinsip hidup yang diterapkan oleh supir BA 1, Ahsanunas (36) dalam bertugas. Terlebih ini kali pertamanya ia bekerja untuk melayani orang nomor satu di Sumbar dengan segudang agenda atau pun acara ketimbang menjadi sopir pajabat terdahulu.

Pegawai humas kantor Gubernur serta para wartawan yang posko di sana, bisa saja angkat tangan untuk tidak mengiringi perjalanan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dalam hari yang bersamaan. Namun, hal itu tak mungkin pula ia lakukan, mencoba berputar arah dan menggantikannya dengan sopir yang lain dalam hari itu juga.

Buktinya, sejak ia bekerja setelah satu bulan Irwan Prayitno dilantik, sampai saat ini belum ada teguran lisan dari pemimpin Sumbar itu terhadap kinerjanya. Tetapi dibalik kesibukannya membawa mobil itu, hari-harinya justru lebih terasa ringan. Kenapa tidak, satu per satu perbatasan lintas daerah yang banyak menghabiskan waktu dan perjalanan antar daerah jauh serta memiliki resiko tinggi, ia lewati dengan canda tawa.

Ternyata, selama diperjalanan Irwan Prayitno dan sopirnya sering bergurau layaknya kakak beradik tanpa mengurangi rasa hormat dan tak melampaui tata krama.

Selain bercerita, Irwan pun sering merintahnya untuk memutarkan lagu dan bernyanyi bersama. Siapa yang menyangka, ternyata mereka berdua memiliki lagu kesukaan dengan judul ”bareh solok”. Itu lagu yang selalu didendangkan oleh Irwan dan sopirnya. Selama ia bekerja menjadi sopir pegawai atau pejabat lainnya sejak awal tahun 2002 sebagai pegawai honorer dan diangkat menjadi PNS tahun 2008, ia tersanjung dengan sikap dan perhatian komandannya yang saat ini.

”Bertahun-tahun menjadi sopir pejabat, baru kali ini pimpinan yang benar-benar perhatian dengan sopirnya, begitu juga dengan ajudan atau polisi yang membawa mobil voreijder (iring-iringan pengawal). Setiap singgah di rumah makan atau dimana pun ia selalu menawarkan kami untuk masuk dan makan,” tuturnya.

Namun yang sangat mengesankan, ketika ia ditunggu Irwan untuk sama-sama masuk rumah makan. ”Ia rela menanti saya di pintu rumah makan,” jelasnya Uun, sapaan akrabnya.

Dari ketiga anak-anaknya, hanya nama anak terakhirnya yang memberi kesan hingga diberi nama Firma Maulana Putra.

Nama Firma itu singkatan dari Firdaus K dan Marlis, sepasang calon bupati Sijunjung pada tahun lalu. Karena sebelumnya ia membawa Firdaus K (mantan Sekda Pemprov yang juga mantan komandannya) serta pasanganya Marlis ketika hendak berkampanye dalam pemilu Bupati Sijunjung tahun lalu. Ketika sedang bertugas itulah, ia tak sempat mendampingi istrinya dalam bersalin.

Pertama kali ia bekerja di lingkungan pemerintahan sejak awal tahun 2002 sebagai sopir rumah tangga di kantor Gubernur, dan pindah kebagian Biro Humas Setdaprov pada tahun 2003 dengan lama kerja 6 bulan. Selanjutnya, ia dipindahkan untuk membawa Asrul Mas’ud, mantan Asisten IV selama 3,5 tahun. Lalu berpindah untuk menjadi mantan Sekda Pemprov Yohanes Dahlan, lalu Firdaus K. Dimasa Firdauslah, ia diangkat sebagai PNS. Setelah pemunduran diri Firdaus, selama 3 bulan ia disiapkan di Biro Umum, hingga dipercaya sebagai sopir BA 1 setelah satu bulan Irwan dilantik.

Haluan, 18 Februari 2011

 

Gubernur Sumatera Barat (Haluan 14 Feb 2011)

GUBERNUR SUMATERA BARAT : Peduli Pendidikan dan Pertanian

Oleh: SURYA BUDHI, S.H.

Kepala Biro Humas Dan Protokol

Setda Pemprov Sumbar

Biasanya di hari minggu merupakan hari yang dihabiskan bersama keluarga, handaitolan, kerabat ataupun sahabat. Dan biasanya juga di hari minggu kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan liburan, sosial atau yang bersifat pribadi. Namun ternyata tidak semua yang menikmati hari minggu seperti itu. Salah satunya adalah orang nomor satu di Sumatera Barat ini.

Hari minggu beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 6 Februari 2011, Irwan Prayitno menjambangi Kabupaten Pasaman. Kunjungan kerja Gubernur selama dua hari itu, untuk memantau secara langsung perkembangan pembangunan di Kabupaten dibawah kepemimpinan Bupati Benny Utama hingga Senin 7 Februari 2011.

Tepat pukul 07.00 wib sebelum ke Kabupaten Pasaman, Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno dengan sejumlah rombongan, mengawali kunjungannya ke Kabupaten Agam dengan agenda diantaranya peresmian jalan yang dibangun PNPM bersama dengan masyarakat di Lawang. Dan peresmian Masjid yang dibangun dengan dana pemirsa Tv One di Maninjau.

Agenda yang cukup padat dijalani dengan begitu ”enjoy” dan penuh semangat. Hampir tak ada kesan lelah secara fisik maupun pikiran bagi Gubernur Sumbar ini. Jujur saya sebagai Kepala Biro yang kerap mendampingi beliau dalam beberapa agenda kepemerintahannya, baik di daerah maupun di ibu kota Provinsi sedikit ”keteteran”. Namun beliau tidak, dan sepertinya menikmati setiap kesibukannya itu. Lelah itu dilawannya dengan ”keikhlasan” ini terbukti dari ekspresi ramah dan ceria yang selalu dilihatkannya pada semua tamu, bahkan masyarakat.

Kehadiran gubernur yang langsung turun meninjau ke daerah-daerah yang cukup jauh aksesnya dari ibukota provinsi, memotivasi kepala-kepala daerah untuk membangun daerahnya agar lebih baik lagi. Dan gubernur memberi apresiasi bagi setiap daerah yang mau maju berupa suntikan dana dengan tujuan agar setiap daerah mampu berkopentensi memajukan daerahnya masing-masing.

Gubernur muda ini, terus melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap pelaksanaan program pemerintah oleh masing-masing daerah di Sumbar tahun ini ditargetkan harus tercapai. Kini giliran kabupaten Pasaman yang ditinjau langsung oleh Irwan.

Agenda di Kabupaten Pasaman ini, yang diawali dengan pertemuan bersama muspida, kepala SKPD dilingkungan Pemkab Pasaman dan tokoh-tokoh masyarakat. Paginya juga berkesempatan menjadi Pembina apel pagi gabungan, apartur pemkab Pasaman. Setelah itu dilanjutkan dengan kunjungan ke MAN Lubuk Sikaping dan Gubernur ini juga memberikan Orasi Ilmiah di wisuda perguruan tinggi agama Islam (STAI) di Lubuk Sikaping. Dalam orasi tersebut Irwan menekankan pentingnya peran guru pendidikan Islam dalam membentuk kepribadian siswa yang berdayasaing dan berbudi. Dalam tiga agenda tersebut, Irwan menyampaikan program pembangunan Sumatera Barat periode 2010-2015. Terutama dalam melakukan reformasi birokrasi, peningkatan kesejahteraan masyarakat petani malalui program satu petani satu sapi, dan lain-lain. Memberikan motivasi pada masyarakat agar selalu hidup dalam tatanan nilai religius, adat istiadat, norma hukum yang berlaku dan selalu meningkatkan kepedulian sosial.

Temu Wicara

Tingginya kebutuhan pokok akhir-akhir ini menyorot perhatiannya, terutama dibidang pertanian. Dia yakin bahwa kabupaten ini sangat potensial menjadi sentral produksi pertanian dan tanaman pangan dan hortikultura, ini terbukti dengan banyaknya perkebunan dan perikanan yang mendukung program pemerintah menjadi salah satu daerah lumbung beras nasional.

Masih segar dalam ingatan kita kala presiden Soeharto saat menjadi orang nomor satu di Indonesia. Waktu itu ada agenda yang kerap kita tonton di tvri ”bapak pembangunan” itu kerap temu wicara langsung dengan sejumlah petani. Mendengarkan langsung keluh kesah petani dan mencarikan solusi yang bisa langsung didengar juga oleh para petani tersebut. Ternyata perhatian langsung seperti itu yang paling mengena di hati masyarakat. Mereka tidak merasa dikesampingkan meskipun sangat jauh dari pusat ibu kota. Ini luar biasa! Ada kebanggaan bagi masyarakat saat bertatap langsung dengan beliau, apalagi sampai bisa berbincang tanpa ada batas kepangkatan dan dalam taraf kesopanan. Inilah yang dilakukan Irwan di Kabupaten Pasaman ini.

Irwan menjelaskan, ”Jika semua kita bersungguh-sungguh, maka kesejahteraan petani di Sumbar yang sebahagian besar masyarakat tak mampu, tentu angka kemiskinan akan dapat kita tekan. Selama ini, kita ketahui petani hanya berusaha pada satu pekerjaan tani saja, sementara waktu mereka banyak yang tersia-siakan. Selain itu juga masih terlihat banyaknya lahan-lahan kosong disekitar kita yang belum kita manfaatkan dengan baik.

Ditambahkan Gubernur Sumbar ini ”Amat sungguh lucu jika masyarakat kita dinegeri yang begitu rupawan, subur dan indah ini, hidup dalam kemiskinan. Oleh karena itu pemerintah provinsi sumatera barat, melakukan program-program yang mampu memberikan peningkatan kesejahteraan secepat mungkin, baik melalui program bantuan, kredit KUR UMKM, juga program peningkatan wawasan dan kemampuan masyarakat melalui penyuluhan dan pelatihan-pelatihan.”

Disampaikan Irwan, setiap petani tidak hanya bisa mengelola lahan pertanian saja, namun pemerintah memberikan program ”satu petani satu sapi”. Program ini diharapkan mampu memberikan nilai lebih untuk kesejahteraan dan meningkatkan taraf hidup para petani. Dengan adanya program ini petani bisa mengefektifkan jam kerjanya untuk bisa mengembangkan usaha lain selain pertanian, perikanan dan lain-lain.

Bahkan saat temu ramah dengan jajaran pemda kabupaten Pasaman, gubernur juga, menegaskan tentang kesejahteraan petani dan upaya mensejahterakan masyarakat. Semua itu tak lepas dari peran serta pemerintah daerah masing-masing. Bagaimana cara pemerintah daerah bisa memotivasi petani serta masyarakat untuk lebih giat lagi menambah usaha sesuai deangan basis perekonomian daerah.

Diyakini Irwan, daerah ini, menurut kondisi geografis sangat potensial untuk lahan pertanian, perkebunan dan perikanan. Ini aset yang luar biasa jika pemdanya mampu mendorong masyarakat dengan meningkatkan SDM, seperti memberikan penyuluhan dan modal kredit usaha rakyat yang mampu mensejahterakan petani dan masyarakat.

Kadis PSDA Ali Musri, dalam eksposnya, kepada Gubernur Sumbar di lokasi bendungan Irigasi Panti Rao, menjelaskan bendungan ini bisa mengairi untuk 8.300 Ha lahan pertanian. Ini sebagai salah satu penyangga kebutuhan pangan di kabupaten ini. Pembangunan bendungan dengan sistim jaringan irigasi yang dilaksanakan sejak tahun 1991 awalnya terhenti karena kondisi keuangan negara, dan tahun 2000 dimulai kembali membangun terowongan lima.

Kelanjutan penyelesaian pembangunan daerah irigasi ini dibiayai oleh JBIC melalui laon Agreement no. IP 505 tanggal 5 juli 2001. sumber air bendungan ini berasal dari sungai Batang Sumpur dengan debit (Q) andalan = 21,3 m3/dt. Jumlah penduduk yang ada disekitar irigasi tersebut berjumlah 115.505 jiwa/23.101 KK dengan kepadatan penduduk 176 orang/km2.

Gubernur melihat dengan adanya irigasi ini, akan meningkatkan hasil panen mencapai dua kali lipat. Semua program yang bisa memajukan kesejahteraan rakyat haruslah diutamakan, pesannya. Pemprov Sumbar menargetkan, selesainya pembangunan bendungan irigasi Panti Rao di harapkan mampu meningkatkan intensitas tanam dari 152 persen menjadi 200 persen dan melebihi dua kali tanam dalam setahun. Hal ini menyebabkan peningkatan hasil produksi 3,2 ton per hektare menjadi 5 ton per hektare. Maka akan terjadi peningkatan swasembada pangan nasional dan mengurangi kemiskinan serta mampu memberdayakan petani dalam pengembangan wilayah pedesaan.

Haluan, 14 Februari 2011

 

IP Sosok Disiplin dan Tepat Waktu (Haluan 14 Agus 2015)

IP Sosok Disiplin dan Tepat Waktu

Masa kepemimpinan Prof Dr H Irwan Prayitno SPsi MSc sebagai Gubernur
Sumatera Barat (Sumbar) satu hari lagi berakhir. Besok Irwan Prayitno (IP)
akan serahterima jabatan dengan penjabat Gubernur Sumbar. Lima tahun
memimpin Ranah Minang, IP banyak meninggalkan kesan dan tauladan bagi
masyarakat. Di antaranya adalah sikap disiplin dan tepat waktu yang
mendarah daging pada dirinya.

Selanjutnya IP akan mencalonkan kembali menjadi Gubernur Sumbar (2016-2021)
dan berpasangan dengan Drs H Nasrul Abit (NA) yang kini menjabat sebagi
Bupati Pesisir Selatan (Pessel). Sikap disiplin dan tepat waktu yang selama
ini dipraktikan oleh IP akan menjadi salah satu modal penting untuk dapat
meraih simpati masyarakat.

IP-NA dengan segala macam prestasi dan kesuksesannya saat menjadi kepala
daerah, dinilai banyak pihak berpotensi memenangkan Pilkada. Selama menjadi
Gubernur Sumbar, IP dinilai berhasil membangun kepercayaan masyarakat. Dia
pun menjadi pemimpin yang disukai masyarakat.

Keberhasilan Irwan dalam memimpin Sumbar selama lima tahun belakangan juga
dinyatakan oleh rekannya di Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Penilaian
ini salah
satunya disampaikan Ketua DPW Koordinator Dapil Sumbar 3, Rafdinal.

Rafdinal yang sekarang menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sumbar
menyebutkan, di matanya Irwan Prayitno adalah sosok pemimpin yang disiplin,
tegas, dan taat aturan. Pada kegiatan-kegiatan yang pernah ia ikuti bersama
Irwan, ia melihat yang bersangkutan selalu datang tepat waktu.

Pada bagian lain, Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Padang Muharlion mengatakan,
sikap disiplin dan tepat waktu merupakan karakter pribadi seorang IP. “Saya
belajar sikap disiplin dan tepat waktu dari beliau. Hal itu tampak dari
saya pernah mendampinginya ketika IP mencalonkan untuk DPR RI dulu. Beliau
rela naik ojek ke sana ke mari menemui masyarakat, agar selalu tepat waktu
sampai di lokasi. Untuk memenuhi harapan masyarakat sikap disiplin dan
tepat waktu harus dimiliki sejak dini,” kata Muharlion kepada *Haluan*,
Kamis (13/8) di Padang.

Ia juga mengatakan, sikap disiplin dan tepat waktu yang dimiliki IP bukan
dibuat-buat. Tapi, memang karakter pribadi yang melekat pada diri IP dan
kemudian menjadi contoh para kader dan konstituennya.

Sementara itu Ketua DPD PKS Kota Padang Muhidi mengatakan, sikap disiplin
dan tepat waktu yang dimiliki IP patut dicontoh oleh kader dan
konstituennya. Karena, sikapnya itu menandakan seorang pemimpin yang tidak
ingkar janji pada masyarakat.

“Karakter disiplin dan tepat waktu itu, bukan karena menjelang pilkada saja
agar dipilih masyarakat. Tapi, merupakan sikap dasarnya yang patut dicontoh
dan tidak dibuat-buat,” ujarnya. (**)

Haluan, 14 Agustus 2015

IP Beristeri Tangguh (Haluan 13 Agus 2015)

IP BERISTRI TANGGUH

Pepatah menyatakan “di belakang pria hebat terdapat wanita tangguh”. Maknanya adalah sukses yang diraih seorang suami tidak terlepas dari dukungan dan peran dari seorang istri. Begitu pula kiranya pada kehidupan sukses Prof Dr H Irwan Prayitno SPsi MSc. Keberhasilannya di dunia politik, akademik, bisnis dan keluarga tidak terlepas dari supporting penuh sang istri, Hj Nevi Zuairina.

Dari masa kuliah di Universitas Indonesia, Irwan Prayitno (IP) terbilang sangat sibuk. Waktunya tidak saja tersita oleh jadwal kuliah tetapi juga untuk dakwah, organisasi dan untuk menafkahi keluarga. Dibanding orang kebanyakan, IP dan Nevi membangun mahligai rumah tangga dalam usia muda. Mereka menikah di tahun 1985, IP berusia 22 tahun, sedangkan Nevi 20 tahun.

IP-Nevi pun banyak mendapatkan nikmat berupa titipan keturunan, yakni 10 anak. Putra dan putri mereka, yakini; Jundy Fadhlillah (L), Wafiatul Ahdi (P), Dhiya’u Syahidah (P), Anwar Jundy (L), Atika (P), Ibrahim (L), Shohwatul Ishlah (P), Farhana Irwan (P), Laili Tanzila (P), Taqiya Mafaza (P). Tentu bukan pekerjaan mudah bagi seorang suami dan istri bisa mendidik anak 10 orang dengan baik. Apalagi di tengah kesibukan IP yang luar biasa. Di sanalah kehebatan dan ketangguhan Nevi Zuairina, alumnus Jurusan Kimia FMIPA Universitas Indonesia.

Kesibukan IP selain mengurus dan bertanggung jawab atas keluarga dapat dibayangkan. Dia mesti menjalani kuliah S1 di Jurusan Psikologi UI, berdakwah, berorganisasi dan bekerja. Berikutnya ketika selesai kuliah tahun 1987, IP kembali ke Padang dan mendirikan Lembaga Pendidikan Adzkia. Pada tahun 1995 dia melanjutkan studi S2 dan S3 ke Universitas Putra Malaysia (UPM) dan memboyong istri dan lima anaknya. Saat itu kesibukannya makin tinggi. Kuliah, berdakwah, berorganisasi, berpartai politik, kegiatan sosial, mencari nahkah dan mengurus keluarga, semua sejalan. Ketangguhan dan kehebatan sang istri, Nevi semakin teruji.

Setelah menyelesaikan S3 di Malaysia di tahun 1999, IP terpilih menjadi anggota DPR dari Dapil Tanah Datar, Sumatera Barat dari Partai Keadilan (PK-saat ini bernama PKS). IP tiga periode menerima amanah sebagai anggota DPR RI (1999-2004, 2004-2009 dan 2009-2010). Selanjutnya menjadi Gubernur Sumatera Barat (2010-2015). Kendati sangat sibuk dengan agenda kegiatan sebagai Gubernur Sumbar, pengurus partai politik, penghulu atau datuak Suku Tanjung di Nagari Puah IX, pengurus cabang olahraga karate dan seabrek aktifitas lainnya, namun perhatian IP atas anaknya tetap terjaga.

IP yang bergelar Datuk Rajo Bandaro Basa (dilewakan 13 Februari 2005), memiliki komitmen yang tinggi dengan istrinya untuk tidak menyia-nyiakan pendidikan dan masa depan putra-putrinya.

“Memang dari dulu saya sudah pesan kepada Bapak agar jangan jauh dari anak-anak. walaupun sibuk. (Jangan) nanti menyesal di kemudian hari karena anak-anak adalah harta tak ternilai harganya. Kalau kita bertemu orang kan yang ditanya anaknya berapa, sekolah di mana, kerja di mana dan lain-lain,” kata Nevi, kepada Haluan Selasa (11/8).

Menurut Nevi, orang-orang tidak bertanya berapa mobil yang dipunya keluarga IP-Nevi atau berapa mereka punya rumah. “Jadi kami memiliki visi dan misi yang sama dalam membangun rumah tangga kami. Sehingga kami berjalan seiring tidak ada saling lawan arah,” ujar Nevi.

Nevi juga mengakui, bahwa punya banyak anak, menjadi sebuah tantangan besar. Sepuluh orang anak yang dilahirkan, ia anggap sebagai anugerah sekaligus tantangan dunia-akhirat. “Ini rezeki buat kami, punya anak sepuluh. Kita harus menjalankan amanah ini dengan baik karena jumlah itu sudah ada di depan mata kita,” ujar Nevi, sebagaimana yang dikutip dari Republika.

Di tengah kesibukan suami yang menjadi orang nomor satu di Sumatra Barat, juga kesibukannya sebagai ibu pejabat, ia tak ingin kehilangan peran dalam mendidik anak. Ia ingin anak-anaknya mendapatkan pendidikan langsung darinya. Sesibuk apa pun dia dan suami berkarier di ruang publik, mereka adalah orang tua yang juga punya amanah mendidik dan membesarkan anak-anak mereka.

“Saya terus terang saja kepada Pak Gubernur, kebetulan beliau seorang psikolog. Saya bilang, dalam mendidik anak ini saya tidak mau sendiri. Karena jumlah anak ini banyak, tentu saya tak bisa sendiri,” paparnya.

Ia ingin ada kerja sama yang solid antara dia dan suami dalam mendidik anak. Apalagi pada zaman globalisasi saat ini yang membuat kenakalan remaja semakin meningkat. “Ketika masih kecil-kecil mungkin masih gampang. Tetapi ketika mereka sudah kuliah, kita mulai khawatir. Zaman sekarang dengan teknologi informasi, pergaulan muda-mudi, dan perkembangan zaman yang cepat sekali, ini tentu membuat kita khawatir,” ujarnya.

Kehadiran orang tua yang ber peran mendampingi anak- anaknya sangat penting. Ia meng aku, tanpa peran suami, ia tak akan mungkin me nangani pendidikan anak seorang diri. “Saya ingin, saya dan suami bersama-sama merawat anak. Misalkan, bapak juga ikut menyuapi anak-anak makan. Pekerjaan seperti itu, kalau dalam agama kita kan dinilai ibadah,” kisahnya.

Nevi dan suaminya mengaku, dalam mendidik anak banyak terinspirasi dari model keluarga Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sebagai seorang Nabi yang punya tanggung jawab kepada umatnya, Beliau SAW tak lantas mengabaikan pendidikan anak dalam keluarga. “Dalam hadis kan disebutkan, seorang bapak yang punya anak perempuan tiga orang saja, kemudian mendidiknya dengan baik sehingga salehah. Maka itu, semua menjadi penghalangnya dari neraka,” paparnya.

Nevi yang lahir di Jakarta, 20 Desember 1965, juga punya seabrek organisasi yang tentunya menuntut dia pandai-pandai membagi waktu. Jabatan Nevi antara lain; Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sumbar, Ketua Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial Provinsi Sumbar, Ketua Dekranasda Provinsi Sumbar, Ketua Forum PAUD Provinsi Sumbar, Ketua P2TP2A Provinsi Sumbar, Ketua FORIKAN Provinsi Sumbar, Ketua Forum Silaturahmi Majelis Ta’lim Provinsi Sumbar, Ketua Yayasan Kanker Indonesia Cabang Provinsi Sumbar, Ketua Persatuan Istri Pemprov dan Muspida Provinsi Sumbar. (h/erz/dbsb)

Haluan, 13 Agustus 2015

 

Batalkan Puasa Sunat Karena Hormati Undangan (Haluan 12 Juli 2012)

Batalkan Puasa Sunat Karena Hormati Undangan

GUBERNUR SUMBAR IRWAN PRAYITNO

Ramadhan kali ini agaknya tidak jauh berbeda dengan Ramadhan tahun lalu bagi Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dan keluarga. Kesibukannya sebagai orang nomor satu di Sumbar, tetap padat. Bahkan selama Ramadhan ada agenda khusus yang rutin dilakukannya, yaitu memimpin Tim Ramadhan Pemprov Sumbar berkunjung ke masjid/mushala di kabupaten/kota.

Namun Ramadhan selalu membawa berkah tersendiri baginya. Sebab dengan kesibukan yang luar biasa, putra Kuranji ini sering tidak punya waktu untuk kumpul dan makan bersama dengan keluarga. Justru momen Ramadhan ini, biasanya kesempatan untuk kumpul saat makan sahur, Irwan menikmati betul makan bersama saat sahur.

“Kami jarang makan bersama. Tetapi saat Ramadhan, saya selalu usahakan kumpul bersama keluarga saat makan sahur. Momen ini menjadi saat – saat yang paling saya nanti, karena saya bisa mencurahkan perhatian yang lebih banyak untuk keluarga,” kata ayah 10 putra ini.

Selain itu, pada malam hari selalu dimanfaatkannya bersama keluarga untuk melaksanakan salat malam berjamaah. Sedangkan waktu lainnya lebih banyak dihabiskan untuk menjalankan roda pemerintahan.

Berpuasa bagi Irwan sudah menjadi kebiasaan. Irwan membiasakan dirinya menjalani puasa sunat Senin dan Kamis. Kebiasaan ini sudah dimulainya sejak masih kuliah tanpa henti. Karena itu, tidak ada yang berubah atau spesial saat menjalani puasa Ramadhan yang diwajibkan bagi seluruh umat Islam.

”Saya sudah membiasakan diri berpuasa sejak masih kuliah dengan rutin puasa sunat Senin dan Kamis. Karena itu saat puasa Ramadhan, saya menjalaninya sama dengan puasa sunat, tidak ada yang spesial, termasuk menu makannya, seperti biasanya,” katanya.

Untuk menjaga kebugaran dan kesehatan selama puasa, Irwan selalu memakan makanan yang manis-manis. Selain itu perbanyak minum air putih. Yang pasti pasang niat untuk menjalani puasa dan berupaya meraih rahmat Allah yang bertebaran di bulan penuh berkah itu.

Namun sekali waktu, Irwan terpaksa membatalkan puasa sunatnya. Dia masih ingat, ketika maju sebagai calon Gubernur Sumbar yang dihelat tahun 2005 silam, beberapa kali Irwan membatalkan puasanya. Hal itu terjadi tahun 2005 silam , beberapa kali Irwan membatalkan puasanya. Hal itu terjadi saat sosialisasi di tengah-tengah masyarakat, hidangan yang disajikan dan tawaran makan tak mungkin ditolaknya.

Begitu pula ketika sudah menjadi gubernur Sumbar saat ini, beberapa kali Irwan juga terpaksa membatalkan puasa sunatnya karena menghormati undangan yang punya hajat.

Haluan, 22 Juli 2012

 

IP Sosok Cerdas Yang Pintar (Haluan 12 Agus 2015)

IP, Sosok Cerdas yang Pintar
NILAI S3 DI MALAYSIA SEMUA A

Sukses yang diraih Irwan Prayitno (IP) saat ini tidak diperoleh dengan mudah. Tapi penuh liku dan perjuangan. Kisah hidupnya pun menarik untuk disimak. Meskipun kini bertitel sebagai Prof, Dr, SPsi dan MSc, bukan berarti studinya selalu berjalan mulus. Nilainya juga tidak melulu tinggi. Namun, kecerdasan dan kepintarannya tercermin dari kesuksesannya di berbagai dimensi. “IQ Bapak memang di atas rata-rata,” kata Nevi Zuairina, sang pendamping hidup IP.

IP wisuda S1 Sarjana Psikologi di Universitas Indonesia (UI) tahun 1987 dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) hanya 2,02. Kendati IPK rendah, bukan berarti dia tidak pintar, apalagi pemalas. Kesibukannyalah yang menjadi penyebab utama, sehingga tidak gampang olehnya membagi waktu. Apalagi tahun 1985 di usia 22 tahun, saat masih kuliah, IP sudah berumah tangga dengan menyunting Nevi Zuairina yang satu kampus di UI. Jadwal kuliahnya terbentur dengan kesibukan berorganisasi, dakwah dan bekerja.

Setelah menamatkan studi S1 di UI, IP memang tidak mencari kerja di Jakarta atau kota-kota lain di Tanah Air. Persoalan IPK menjadi salah satu kendala utama. Sulit bagi kebanyakan perusahaan atau instansi mana pun menerima pencari kerja dengan nilai IPK rendah. IP tidak patah arang. Malah kusulitan melecutnya untuk membuka peluang kerja sendiri.

Bersama-sama temannya, antara lain Mahyeldi Ansharullah (sekarang Walikota Padang), IP mendirikan lembaga pendidikan luar sekolah atau kursus Adzkia. Kini Adzkia sudah besar dan menyelenggarakan pendidikan PAUD, TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Adzkia masuk dalam jajaran sekolah pilihan masyarakat menengah atas di Kota Padang dan Sumbar.

Berhasil mendirikan dan membina Adzkia, tahun 1995 IP kembali berkeinginan melanjutkan studinya ke jenjang S2 atau pascasarjana. Bukan di dalam negeri, tapi di negeri jiran Malaysia pilihannya. Saat akan mendaftar masuk kuliah, dia pun kembali terbentur oleh persyaratan formal. Lagi-lagi IPK-nya menjadi persoalan.

Akhirnya melalui bantuan teman sesama aktivis dakwah di Selangor, IP dipertemukan dengan Pembantu Rektor Universitas Putra Malaysia (UPM) Prof Hasyim Hamzah. Saat itu Irwan menyatakan kesanggupannya kepada Prof Hasyim Hamzah bisa menyelesaikan kuliah S2 selama tiga semester dari enam semester ukuran normal. Alhamdulilah IP tahun 1996 bisa tamat sesuai janjinya di Jurusan Pengembangan SDM (Human Resource Development) dan langsung mengambil S3 atau doktor di kampus yang sama.

Saat menjalani studi S3, kesibukan IP dengan berbagai aktifitas terus meningkat. Dia mesti cerdas memanajemen waktu. Sehingga mengurus keluarga, berorganisasi, dakwah, kuliah dan mengendalikan Adzkia bisa berjalan sekaligus. Ketika itu dia tidak saja berdakwah di Malaysia dan Indonesia, tapi sampai ke London Inggris. Sembari itu 20 Juli 1998, IP dipercaya sebagai Ketua Perwakilan Partai Keadilan (kini PKS) di Malaysia. PK pada akhirnya mengantarkan IP menjadi anggota DPR RI melalui Pemilu Legislatif (Pileg) 1999 dari daerah pemilihan Tanah Datar, Sumatera Barat.

Waktunya untuk kuliah benar-benar hanya sekitar 10-20 persen. Sering dia mengerjakan tugas-tugas kuliah saat bepergian, seperti di mobil, kereta api dan pesawat udara. Walau begitu, IP tetap bisa menyelesaikan studi S3 tepat waktu. Bahkan dia lulus dengan IPK gemilang, yakni 3,97. Nilainya semua A.

“IQ Bapak di atas rata-rata dan ia selalu konsentrasi saat kuliah. Dan langsung merekam kuliah yang disampaikan dosen. Yang pasti Bapak selalu sungguh-sungguh ketika mengerjakan sesuatu,” kata Nevi, Selasa (11/8) malam kepada Haluan.

Sahabat IP, Yongki, juga mengatakan dulu ketika melanjutkan studi S2 dan S3 di Malaysia, profesor di sana meragukan IP mampu menyelesaikan studinya. Kemampuannya diragukan karena beban kerjanya sangat berat, kuliah, mengurus rumah tangga, istri beserta 5 orang anak, sekaligus mencari nafkah untuk keluarga.

“Tapi bagi penggemar olah raga trabas dan karate ini justru kesulitan itulah yang membuatnya terpacu. Ia berhasil menyelesaikan studi S2 dan S3 tersebut tepat waktu dengan nilai cemerlang. Untuk S3 ia berhasil lulus dengan prediket cumlaude dengan IPK 3,97. Itu artinya semua nilai mata kuliah adalah A, hanya satu mata kuliah dengan nilai A minus,” sebutnya.
Setelah satu periode diamanahkan menjadi Gubernur Sumatera Barat (2010-2015) oleh masyarakat, kini IP kembali mencalonkan diri berpasangan dengan Drs H Nasrul Abit (NA) untuk melanjutkan program-program yang belum tuntas dan membuat terobosan-terobosan baru guna memajukan Sumatera Barat.

IP tiga periode menjabat sebagai anggota DPR RI (1999-2004, 2004-2009 dan 2009-2010). Selanjutnya menjadi Gubernur Sumatera Barat (2010-2015). Sedangkan calon wakilnya, NA menjabat sebagai Bupati Pesisir Selatan dua periode (2005-2010 dan 2010-2015). NA sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Wakil Bupati Pessel (2000-2005). Di tangannya Pessel berubah menjadi maju dan kesejahteraan masyarakat meningkat. Pariwisata Pessel kini menjadi salah satu andalan Sumbar. Pessel pun di tahun 2014 berhasil keluar dari status daerah tertinggal.

Nevi selaku ibu dari 10 anak dan istri dari IP yang menjabat sebagai Gubernur Sumbar, menegaskan bahwa IP adalah orang yang sudah terbiasa bekerja keras. “Sejak kami menikah, pergi pagi pulang malam sampai sekarang sudah biasa,” kata Nevi menandaskan. (h/erz/dbsb)

Haluan, 12 Agustus 2015

 

Pelanggan Kelas Ekonomi yang Anti Protokoler (Haluan 11 Agus 2015)

Pelanggan Kelas Ekonomi yang Anti Protokoler

“Sekiranya aku punya emas sebesar Gunung Uhud, niscaya aku tidak akan senang jika sampai berlalu lebih dari tiga hari, meski padaku hanya ada sedikit emas. Kecuali akan aku pakai untuk membayar hutang yang menjadi tanggunganku”. (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Laporan: RYAN SYAIR

Dalam situasi yang sedikit berdesak-desakan, laki-laki berkacamata itu tampak rileks saja ketika ia harus ikut bergelantungan dalam sebuah bus besar milik bandara Soekarno Hatta bersama puluhan penumpang Garuda GA 162 kelas ekonomi lainnya. Meski harus berbaur dan bergelincit-pincit dengan rakyat biasa, namun tak sedikitpun tergurat perasaan malu, risih dan minder di wajahnya.

Padahal, semua orang tahu, ia adalah seorang pejabat dan penyelenggara negara, sebagaimana bunyi pasal 122 Undang-undang Aparatur Sipil Negara (ASN). Ya, ia adalah Gubernur Sumatera Barat, orang nomor satu di Ranah Minang. Tak ada satu penumpangpun pada penerbangan kelas ekonomi pesawat Garuda tujuan Padang-Jakarta kala itu, yang tak mengenalnya.

“Saya benar-benar tak percaya. Mungkin bagi orang lain tidak, namun menurut saya ada gubernur yang duduk di kelas ekonomi dalam sebuah penerbangan, ini adalah istimewa. Sangat istimewa,” ujar Taufik Ismail, salah seorang Sastrawan Indonesia menuturkan kisahnya pada pertemuan tak sengaja dengan Gubernur Sumbar, Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, SPsi, MSc, dalam sebuah penerbangan kelas ekonomi Garuda GA 162 tujuan Padang-Jakarta, seperti dikutip dari laman http:// pks-jakarta.or.id/ kesaksian-taufik-isma il-tentang-gubernur- sumbar-irwan-prayitn o/ dan laman http://­www.portalsumut.com/

 

2014/05/ beredar-foto-gubernur -sumbar-irwan.html.

Diceritakan Taufik, ketidakpercayaannya itu bermula ketika ia melihat Irwan Prayitno (IP) melangkah ke “ruang rakyat” di kelas ekonomi penerbangan itu. Ruang dimana rakyat badarai memilih tempat duduk, sesuai kemampuan keuangan masing-masing. Sebagai seorang gubernur, tentu tidak satu penumpangpun yang akan berkecil hati, jika IP duduk di eksekutif atau business class yang nyaman.

“Saya sudah lama juga hidup, sering naik pesawat bersama banyak orang, mulai dari pejabat tinggi hingga orang biasa. Bagi saya, ada gubernur rendah hati seperti ini, adalah obat. Ia tak berjarak dengan rakyat. Ia tampil apa adanya. Bagi saya, ini adalah sebuah keteladanan,” katanya.

Dari catatan Haluan, sejak masa kepemimpinannya di Sumatera Barat, IP memang dikenal terbilang jarang, bahkan nyaris tak pernah menumpangi pesawat kelas bisnis, walaupun pesawat yang ditumpanginya adalah Garuda Indonesia. IP selalu memesan kelas ekonomi, meskipun tujuan dan kapasitasnya bepergian adalah sebagai seorang gubernur, sebagai pejabat negara.

Kebiasaan ‘aneh’ IP ini pulalah yang akhirnya mengundang keingintahuan banyak orang, terutama tentang kesederhanaan sosok mantan anggota DPR RI kelahiran 20 Desember 1963 itu. Orang ingin tahu, apakah benar hal tersebut dilakukan IP. Karena memang, sejumlah fakta dan berbagai peristiwa nyata dibalik kesederhanaan dan keapaadaannya, hampir tak pernah dipublish di media-media.

Pada awal Mei 2014 lalu, salah seorang nettizen juga pernah mengunggah foto IP di media sosial facebook. Dalam foto itu, terlihat IP sedang terlibat antre pengecekan tiket pesawat Lion Air sebelum menaiki pesawat. Meski tidak ada keterangan yang jelas IP akan terbang kemana, tapi dari buramnya gambar diketahui bahwa pengambilan foto dilakukan dengan menggunakan kamera HP.

Anti Protokoler dan Atribut

IP yang dihubungi Haluan, Senin (10/8) mengaku, jika ketentuan protokoler yang mengatur seorang gubernur untuk bepergian dengan pesawat, kerap dilanggarnya. Dengan tegas, IP memang mengaku tak mau ‘terlalu patuh’ untuk mengikuti aturan protokoler tersebut. Bagi gubernur yang semenjak dilantik dan hingga kini masih berkantor di rumah dinasnya itu, segala fasilitas adalah sunah. Yang wajib adalah menjalankan kewenangan dan tanggung jawab yang melekat dari jabatan.

“Saya sebenarnya tak mau terlalu jauh membahas soal itu (penerbangan di kelas ekonomi). Karena memang tidak ada maksud apa-apa dan saya juga sudah terbiasa seperti ini. Duduk di kelas ekonomi, itulah saya. Nikmatnya naik pesawat itu adalah saat take off tertidur dan ketika landing terbangun,” ujarnya ringan.

Ketika terus didesak Haluan, IP akhirnya angkat bicara. Selama menjabat dan menjalankan tugasnya sebagai gubernur, ia mengaku sudah tak menghitung lagi berapa ratus kali ia naik pesawat. Namun diakui, selama itu pulalah dirinya mencatatkan diri sebagai ‘penumpang setia’ di kelas ekonomi. Tanpa harus merasa risih, ia terlihat tak canggung untuk berbaur dengan ratusan penumpang pesawat lainnya dari kalangan rakyat biasa.

“Alhamdulillah, sudah ratusan kali naik pesawat selama menjadi gubernur, saya selalu menumpang di kelas ekonomi. Walaupun sebenarnya ada jatah di kelas bisnis. Bagi saya, kelas ekonomi atau bisnis itu sama saja, tak ada bedanya. Justru di kelas ekonomi jauh lebih baik, karena saya bisa berkomunikasi dengan masyarakat,” tandas profesor yang telah melahirkan puluhan judul buku bertemakan anak dan keluarga, manajemen SDM, politik dan dakwah itu.

Selama menjadi gubernur sejak dilantik 2010 lalu terang IP, dirinya juga baru menikmati fasilitas berupa mobil dinas (mobnas) baru, persis di tahun ke-4 kepemimpinannya. Sebelumnya, IP justru lebih sering menggunakan mobil pribadi yang disulapnya menjadi kendaraan operasional kedinasan. Kebijakan pemakaian mobil pribadi ini, juga diberlakukan untuk kepentingan istri dan anak-anaknya.

“Dulu pada awal menjabat, masukan untuk pembelian mobil dinas baru, saya tolak. Karena buat apa beli yang baru, toh mobil yang lama masih bisa jalan. Begitupun soal fasilitas rumah dinas. Selama rumah-rumah penduduk korban gempa belum selesai dibangun, sampai sekarang saya belum mau untuk membangun (rumah dinas),” pungkas Irwan.

Selain tak mau terikat protokoler, IP yang dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan penuh kesahajaan itu, juga merupakan sosok gubernur yang tak terlalu menonjolkan antribut. Untuk kedua hal ini, IP sejak awal masa kepemimpinannya, bahkan telah mewanti-wanti dan meminta kepada siapapun untuk tidak memaksa dirinya ‘berubah’.

Dalam pelaksanaan tugas kesehariannya sebagai gubernur, di berbagai kesempatan Irwan juga terlihat tak pernah mengenakan atribut gubernur, yang sedianya dipasang di bagian dada sebelah kiri para gubernur atau kepala daerah kebanyakan.

“Jangan paksa saya mengubah style hidup saya. Bagi saya, tampil sederhana tanpa atribut dan minim protokoler, adalah simbol kedekatan dan tidak adanya pembatas antara pemimpin dengan rakyat. Protokoler dan atribut hanya akan menjauhkan pemimpin dengan rakyatnya. Sungguh, saya tak ingin begitu, karena saya juga manusia biasa,” tandas Irwan yang benar-benar meneladani kesederhanaan Rasulullah SAW sebagaimana sabda yang diriwayatkan HR Bukhari dan Muslim di awal tulisan tadi. (**)

Haluan, 11 Agustus 2015

 

Terbang dengan Kelas Ekonomi (haluan 8 Des 2010)

Terbang dengan Kelas Ekonomi

Menjabat sebagai gubernur bukan berarti harus hidup mewah. Prinsip itu setidaknya melekat pada Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, terutama dalam masa perjalanan dinas dengan menggunakan pesawat udara.

Dalam sebulan, minimal ada dua agenda Irwan yang membuatnya harus terbang dari Padang-Jakarta. Namun dalam memilih pesawat, Irwan tidak terlalu fokus pada salah satu maskapai penerbangan nasional terbesar yang tergolong mahal dari penerbangan lainnya.

”Apapun pesawatnya, itu tidak masalah. Yang penting waktu penerbangannya sesuai dengan jadwal kebutuhan saya”, ujar Irwan ketika ditemui Haluan di kawasan Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Senin (6/12).

Irwan juga memilih kelas ekonomi, dan mengaku tidak pernah memesan kelas bisnis atau eksekutif selama menjabat sebagai gubernur, dengan alasan penghematan. Menurutnya, dengan kelas ekonomi, bisa menghemat APBD hingga 7 miliar pertahun.

”Kalau di kelas bisnis, setidaknya harus mengeluarkan biaya sebesar Rp2,4 juta. Tapi dengan kelas ekonomi, kita hanya mengeluarkan Rp800 ribu. Penghematannya bisa mencapai Rp7 miliar pertahun, dan uangnya dikembalikan ke APBD dan bisa dipergunakan untuk program lainnya”, ujar Irwan.

Irwan berharap, langkah ini bisa diterapkan oleh pejabat lainnya di lingkungan Pemprov Sumbar beserta jajaran. Menurutnya, saat ini baru Wagub Muslim Kasim dan beberapa pejabat lainnya yang mengikuti langkah penghematan itu. Siapakah pejabat yang akan menyusul langkah Irwan ini? (h/wan)

Haluan 8 Desember 2010

 

IP dan Namanya (Metrans 21 Agus 2015)

IP dan NAMANYA: Menjadi Datuk itu Menjadi Penyabar

PADANG – Dalam banyak kesempatan apabila orang baru bekernalan dengannya maka orang akan bertanya: “Bapak orang Jawa?” Maka dengan senyum ia menjelaskan bahwa dirinya tulen urang awak. Nama Prayitno di belakang nama Irwan memang memancing tanya seperti itu.

Ketika ayahnya Drs H. Djamrul Djamal SH mengambil program tugas belajar sebagai pengajar ke PTAIN di Yogyakarta, ia memboyong serta istrinya Dra Hj. Sudarni Sayuti. Di Yogyakarta, Sudarni hamil dan melahirkan, “Nuansa Jawa di Yogya agaknya membuat ayah saya memilih nama itu,” kata Irwan.

Tapi tak ayal ia harus menjawab banyak pertanyaan orang setelah itu tentang nama bernuansa njawa itu. Soalnya adik-adiknya tak ada yang menggunakan huruf ‘O’ untuk nama mereka. Dan ia pun tak ambil peduli benar ketika banyak teman-teman kuliahnya dulu memanggilnya ‘Mas Irwan’.

Pun, ketika ia harus berkampanye untuk Partai PKS ketika Pemilu saat ia tampil sebagai Caleg DPR RI dari Sumbar, ia acap ditanya soal nama itu oleh konstituennya. Dan iapun menjelaskan dengan enjoy perihal nama itu. Walhasil, ia tetap dikenal sebagai urang awak tulen oleh para konstituennya. Begitu juga ketika maju sebagai Cagub lima tahun silam, iapun dimenangkan oleh pemilihnya.

“Hanya saja sedikit yang agak susah saya ubah lantaran itu kebiasaan saat kecil di lingkungan Jawa. Aksentuasi saya masih terasa njawa, namun lagi-lagi itu tidak membuat saya kesulitan untuk berkomunikasi. Biasa saja,” katanya.

Seniman Alwi Karmena yang pernah membuat film pendek berjudul Tammanih mencoba membuktikan bahwa aksentuasi Irwan bisa menjadi tidak asing bagi lafaz-lafaz Minang. “Saya tawarkan Datuk menjadi pemain utama, eh beliau mau. Saya ragu-ragu soal aksentuasi itu. Ternyata dengan berlatih sebentar saja, dialog-dialog yang sarat bahasa Minang itu bisa dilafazkan dengan tidak buruk oleh Datuk,” kata Alwi yang menyutradarai sendiri film pendeknya itu. Yang dimaksud dengan Datuk oleh Alwi adalah Datuk Rajo Bandaro Basa, gelar pusaka yang disandang Irwan Prayitno ini sebagai penghulu kaum suku Tanjung, Pauh IX, Taratak Paneh Nagari Kuranji Padang.

Nah, itu lagi soal gelar Datuk. Sejak dikukuhkan sebagai penghulu dalam kaumnya pada Maret 2005 ia serta merta harus lebih menjaga lagi pribadinya. Menyandang gelar Datuk tentu segala konsekwensinya. “Saya was-was juga harus bersikap seperti apa karena saya belum belajar ketika itu. Tapi mamak-mamak saya para tetua adat di Pauh IX banyak mengajarkan saya ihwal adat. Saya sempat juga mendapat nasehat dari ketua LKAAM Sumbar almarhum pak Datuk Simulie (HKR DT.P. Simulie-red) dan pak Ikasuma Hamid Dt. Gadang Batuah,” kata Irwan. Datuk Simulie adalah Ketua LKAAM yang menyampaikan pidato saat pengukuhan Irwan jadi Datuk yang dihadiri oleh Jusuf Kalla (ketika itu Wapres). Sedangkan Ikasuma Hamid Datuk Gadang Batuah adalah mantan Bupati Tanah Datar yang berpasangannya dengan Irwan ketika itu menjadi Cagub/Cawagub 2005.

Dari semula Irwan menyadari bahwa menjadi Datuk pasti bukan sebuah jabatan untuk gagah-gagahan. Ia menyadari bahwa menjadi penghulu kaum itu memiliki tanggung jawab yang besar. “Tak mungkin jadi Datuk hanya untuk pajangan saja, mesti benar-benar membimbing kemenakan. Selama lima tahun ini paling tidak seminggu sekali saya bersua-sua dengan kemenakan. Ada saja yang dikeluhkan, dari masalah ekonomi sampai masalah perselisihan dalam kaum. Saya akhirnya menyadari betapa luhurnya adat Minang itu. Sebab sebagai ninik mamak kita benar-benar dituntut untuk senantiasa sabar menghadapi berbagai masalah yang disampaikan oleh anak kemenakan kepada kita,” kata Irwan.

Akhlak, yang menjadi basis filosofi adat itu sangat sejalan dengan apa yang dituntunkan oleh syara’. “Beradat, berarti berakhlak. Jadi sangat aneh kalau seorang penghulu berkata kasar, mahariak mahantam tanah apalagi berkata kotor,” ujar Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa. Hari-hari lepas dari jabatannya sebagai gubernur dan legislatif di DPR, hampir tiap hari ia dapat bersua dengan anak kemenakannya kaum persukuan Tanjung.(**)

Metro Andalas, 21 Agustus 2015

 

IP dan Karate (Metrans 20 Agus 2015)

IP dan KARATE
“Saya Suka Karate dan Hormati Silat”

Banyak pertanyaan begini: “Kenapa Irwan Prayitno tidak belajar silat, kok memilih karate”. Alasan yang menanya (selain dengan sinisme) juga lantaran Irwan adalah seorang penghulu di kaumnya.
“Saya susah juga menjelaskan, tetapi mungkin media bisa menyambungkan saya dengan publik yang bertanya begitu. Intinya, jangan bilang saya tidak suka silat atau tidak memperhatikan silat. Tapi sejak SD di Cirebon, saya belajar karate dan terus menerus sampai saya SMA, lalu terhenti sebenrat ketika saya kuliah tapi kemudian latihan lagi. Jadi panjang masanya saya berlatih. Bila memang seperti yang dimaui penanya tadi seorang ninik mamak menguasai silat, saya kan baru jadi pengulu belakangan ini saja,” kata Irwan.

Tapi menurutnya, antara keduanya, karate dan silat sama-sama memiliki keluruhan filosofi. Sama-sama memiliki watak tak memulai serangan.

Di Cirebon, ia berlatih di bawah Inkai. Ia melewati masa-masa sebagai pemegang Kyu (dari Kyu 10 hingga Kyu 5). Masa itu adalah masa penempaan pisik dan mental. “Ya, kebetulan saya mengenal karate pertama kali, bukan silat. Maka akhirnya saya keterusan saja berlatih,” katanya ketika ditanya kenapa tak pilih silat sebagai bela diri. Lagi-lagi Irwan berkata: “Bukan, bukan untuk berkelahi tapi untuk kesehatan pisik dan mental. Jadi saya pentingkan olahraganya dan menjalankan filosofi-filosofi karate itu,” kata penabuh drum ini.

Hingga Kyu5 dia dan orang tuanya pindah ke Padang. Latihan karatenya dilanutkan di Inkai di sekolahnya di SMP1 dan kemudian berlanjut hingga SMA.

Tapi ketika sudah berkuliah di Universitas Indonesia di Jakarta, kegiatan itu terhenti. Barulah ketika sudah duduk di parlemen, ia kembali menyisihkan waktu untuk berlatih dan mencari dojo (sasaran tempat latihan) terdekat dengan tempat tinggalnya.
Ketika sudah jadi gubernur, Irwan bertemu beberapa teman seperguruannya. Lalu mengajaknya latihan kembali di Padang. Maka jadilah ia berlatih lagi, kali ini bersama Inkanas.

Di sekitar gubernuran pagi-pagi Anda akan melihat pria itu melatih Mae-geri, mawashi gei, choko zuki hingga mawashi zuki.Haiiit……
Bagi Irwan yang terpenting adalah semangatnya, bukan tingkatannya. Meskipun ia beroleh DanIV tetapi baginya itu adalah kehormatan.

Dengan karate yang mengandung semangat bushido sesungguhnya menurut Irwan seorang karateka yang mengedepan adalah kesabarannya bukan emosinya. Bagaimana pengendalian diri yang mengesampingkan semua sakit hati akan membuat pikiran jadi bersih dan tubuh tentu saja menjadi sehat karenanya.

“Kembali ke soal silat dan karate dimana saya seolah ditempatkan lebih memberi perhatian pada karate, tidak. Bahkan semua seni beladiri yang bertujuan luhur saya suka. Dalam keterbatasan saya sebagai manusia, tentu saja satu itu saja yang bisa saya sanggupi untuk ikut berlatih. Tak mungkin semuanya. Saya mencoba menerapkan filosofi hampir semua seni bela diri, diawali dengan memberi hormat diakhiri dengan memberi hormat. Artinya, saling menghormati menurut saya adalah sebuah filosofi luhur, itu juga ada dalam karate,” kata psikolog ini.

Kalau begitu apa yang paling menarik bagi Irwan dalam karate? Lagi-lagi ia menjawab bahwa filosofinya itu. Dalam karete diajarkan, kontrol lah dirimu sebelum mengontrol orang lain, jika kamu ceroboh maka kecelakaan akan menimpamu.

“Dan ini salah satu dari filosofi karate, jangan kamu berpikir kamu harus menang, tapi berpikirlah bahwa kamu tidak boleh kalah. Kemenangan tergantung pada keahlianmu membedakan titik-titik yang mudah diserang dan yang tidak. Pertarungan didasari oleh bagaimana kamu bergerak secara hati-hati dan tidak (bergerak menurut lawanmu),” kata dia.

Dalam beberapa kesempatan ia berlatih bersama dengan anggota Satpol PP dan anggota Brimoda Polda Sumbar.

“Sekali lagi, ini agar badan tetap sehat dan kita tetap latihan mengendalikan diri sendiri, itu saja,” katanya, hosss!. (***)

Metro Andalas, 20 Agustus 2015

Biasa Saja Jadi Orang Biasa itu (Metrans 19 Agus 2015)

IP dan MOBILNYA: Biasa Saja Jadi Orang Biasa itu

Pajero berwarna silver metalik itu menyeruak diantara antrian di belokan SMA Negeri 1 Padang. Beberapa kendaraan di belakang ada yang membunyikan klakson seolah tak sabar kenapa ada antrian. Biasalah, antrian di belokan Belanti tak jauh dari SMA 1 Padang itu, kalau pagi hari memang begitu. Banyak orang tua mengantar anaknya ke sekolah.

Ketika pengemudi Pajero itu membuka jendela, tiba-tiba yang mengatur jalan datang. “Ohh…maaf pak, sebentar pak…” lalu ia segera menyetop kebndaraan di belakang. Maksudnya agar Pajero itu bisa maju.

“Ndak baa…. Bia se lah…..tarimokasih,” kata pengemudi Pajero, sedang yang mengatur jalan hanya geleng kepala. Padahal……

Lelaki itu, yang duduk di belakang setir Pajero bernama Irwan Prayitno. Selasa 18 Agustus 2015, ia berada dalam kabin mobilnya untuk mengantar anaknya di SMA 1 Padang. Hari itu, adalah hari kerja pertama Irwan Prayitno kembali menjadi orang biasa. Jabatannya sebagai gubernur Sumatera Barat yang diemban sejak 15 Agustus 2010 sudah diserahkan kepada Menteri Dalam Negeri sebagaimana Undang-Undang menghendaki. Lalu oleh Mendagri, ditunjuk seorang Penjabat Gubernur, Reydonnyzar Moenek untuk menjalankan pemerintahan di Sumatera Barat sampai dilantiknya gubernur definitif hasil Pilkada 9 Desember mendatang.

Menjadi orang biasa itu bagi orang lain mungkin tidak biasa. Maklumlah selama menjabat serba dilayani. Jadinya ketika tidak lagi menjabat, kalang kabut bahkan tak sedikit yang terkena postpower syndrome. Tapi bagi Irwan menjadi orang biasa itu biasa saja. “Dari tiada menjadi ada, lalu menjadi tiada. Dulu saya tidak anggota DPR lalu jadi anggota DPR, lalu tidak jadi anggota DPR. Dulu bukan gubernur, lalu jadi gubernur, jadi yaaa… biasa saja, its nothing to lose,” kata Irwan Prayitno.

Karena itu ia merasa tak ada beban ketika harus nyetir sendiri dari rumahnya untuk mengantar Shofwatul Islah (kelas II) dan Farhana (kelas I) ke sekolah. Bahkan bagi Irwan ini sebuah sesansi sendiri, lantaran lima tahun ini ia benar-benar tak sempat mengantar anak-anaknya ke sekolah. “Hari itu saya yang minta mengantar,” ujar Irwan.

Pajero berpelat B itu sebenarnya acap juga dikemudikan Irwan tapi malam hari apabila ia sedang ingin berkeliling Kota Padang melihat-lihat atau sekedar mencari sate kesukaannya di kawasan Kalumbuk.

Berkendara sendiri atau menyetir sendiri bagi Irwan sudah hal yang tidak asing. Bertahun-tahun di Jakarta ia banyak mengemudi sendiri mobilnya termasuk waktu duduk di DPR. Ia pakai sopir bila harus buru-buru menghadiri sidang.

Maunya, ketika berdinas sebagai Gubernur ke Jakarta, ia mengemudi sendiri. Tapi lantaran ada sopir yang sudah menjemputnya dari Kantor Penghubung di Jakarta ia pun naik mobil dinas.

Itulah sebabnya ia merasa penting memperpanjang rijbewijs alias Surat Izin Mengemudi nya yang hampir habis masa berlaku. Untuk itu, ia datang sendiri ke Polresta Padang ke unit SIM di Satlantas. Padahal, banyak pejabat negara bahkan pejabat eselon II saja kalau mengurus SIM dibantu oleh stafnya, tinggal berfoto saja. “Tapi Pak Irwan mengisi sendiri blanko permohonan dan menunggu seperti juga yang lain mengantri giliran sampai namanya dipanggil,” kata Rinaldi, staf pribadi Irwan yang menemaninya satu hari ke Polresta Padang untuk memperpanjang SIM.

Begitulah, dalam kesehariannya Irwan kadang acap lepas dari perhatian protokoler yang dia sendiri berhak diberikan pelayanan protokoler. Tapi apabila bisa memilih tanpa protokoler, Irwan akan memilih yang tanpa protokoler itu. Alasanya, kendengarannya memang klise, namun sesunggunya itu adalah alasan dia apa adanya. “Dulu juga tidak dilayani, dan nanti setelah tak ada jabatan juga tidak dilayani. Mari kita coba melayani diri sendiri agar kita bisa membantu melayani orang,” ujar Irwan kemarin ketika duduk berselonjor di salah satu gazebo yang dibangun di sisi selatan kampus Adzkia sambil mamatut-matut aliran sungai Batang Kuranji.

Meskipun bukan orang Jawa, tetapi salah satu nasehat orang Jawa ojo dumeh atau ‘jangan mentang-mentang’ sangat merasukinya. Sering kepada para pembantu dekatnya ia mengatakan hal itu, “Jangan mentang-mentang kita berkuasa, kita seenaknya,” kata Irwan. Maka kata kuncinya: low profile. Kalau sudah low profile lantas masih saja orang tidak suka, ya…t e r l a l u.(**)

Metro Andalas, 19 Agustus 2015

 

IP dan Benggolnya (Metrans 18 Agus 2015)

IP dan BENGGOLNYA: Tanpa Benggol, Irwan Merasa Lebih Leluasa

PADANG — Pada permulaan masa jabatannya lima tahun yang silam, banyak yang meributkan ketika sebagai gubernur, Irwan Prayitno tidak pakai benggol tanda jabatan di dadanya. Mulanya hanya pada waktu dilantik oleh Mendagri saja Irwan Prayitno mengenakan benggol tanda jabatan itu di baju PDU (Pakaian Dinas Upacara) setelah itu ia masuk kantor dan kemana-mana tanpa benggol.

Tak ayal kemudian Irwan jadi sorotan dan akhirnya termuat juga di media massa. Bahkan ada yang menuding dirinya tidak menghargai dan menghormati lambang negara, karena jabatan gubernur adalah termasuk lambang-lambang negara.

Tapi Irwan punya alasan juga. Bukan dirinya tidak menghargai tanda jabatan itu, tetapi ia bermaksud ingin tampil sederhana saja. Bahkan kalau ia datang ke satu tempat, ia lebih suka orang tidak tahu dirinya gubernur, dengan demikian Irwan merasa leluasa mendengar dan mengamati apa yang sedang dilakukan masyarakat. “Bahkan saya bisa berdialog tanpa batas dengan masyarakat tanpa masyarakat sungkan mengkritik gubernur, padahal mereka sedang bicara dengan gubernur,” kenang Irwan.

Tetapi setelah diingatkan oleh para pembantunya, Irwan akhirnya mau memakai tanda jabatan itu jika ia sedang di kantor dan atau ketika bertamu ke satu kantor untuk urusan dinas. “Ya, tentu saja tanda jabatan itu harus dipakai bila menghadiri sidang DPRD, bertamu ke kantor menteri, ke istana dan sebagainya,” kata lelaki yang berbako ke Simabur Kecamatan Pariangan Kabupaten Tanah Datar ini.

Pada sebagian pejabat yang lain mengenakan emblim tanda jabatan itu mungkin punya sensasi sendiri pula. Secara psikologis mungkin akan menambah rasa percaya diri yang menggunakan dan mengenakannya. Tetapi bagi Irwan, sama saja antara menggunakan benggol dengan tidak menggunakan. Ia hanya berharap orang mengenalnya sebagai seorang Irwan Prayitno saja. “Karena kalau dikaitkan dengan jabatan, kan jabatan itu tidak abadi. Sudahlah, secara formal kan orang sudah tahu juga saya gubernur lantaran dilantik atau dimuat di media massa. Maka tanda jabatan itu, ya formalitas juga. Tapi saya menghormatinya lantaran penggunaan dan pemakaiannya ada payung hukumnya,” kata Irwan yang tidak suka memilih-milih makan, apa saja yang ada yang tersedia maka itulah rezeki, asal halal.

Tanda jabatan Kepala Daerah khususnya Gubernur itu nyaris tiada beda dengan tanda jabatan seorang Lurah atau Wali Nagari. Sama-sama merupakan lambang burung garuda. Bedanya kalau untuk Kepala Desa, Lurah atau Wali Nagari, warnanya perak. Sedangkan tanda jabatan Gubernur berwarna keemasan. Ukuran keduanya sama. Semua aturan tentang itu termaktub dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No 11 tahun 2008.

Akibat acap tidak mengenakan tanda jabatannya itu, maka beberapa kali pula Irwan terpaksa terhambat oleh protokoler di tempat lain. Tapi setelah dia jelaskan bahwa dirinya adalah Gubernur Sumatera Barat yang diundang ke acara itu, ia pun dipersilahkan masuk. “Ya, tentu saja protokolnya ragu-ragu karena kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Dan wajar pula mereka bertanya karena tidak ada tanda-tanda saya seorang gubernur dari pakaian yang saya kenakan. Saya tidak kecil hati, toh mereka hanya menjalankan tugas,” kata Irwan.

Setelah beberapa bulan sejak dilantik, akhirnya orang (terutama di Sumatera Barat) menjadi terbiasa melihat Gubernur Sumbar tanpa tanda jabatan. Untuk orang yang jarang membaca koran atau menyimak TV tentu tak hafal betul wajah Gubernur Sumbar tersebut. Karena itu apabila Irwan melakukan blusukan ke berbagai daerah, acap masayarakat terkaget-kaget. “Setelah bercakap-cakap cukup lama dengan masyarakat, biasanya ada yang membisikkan bahwa yang sedang bercakap-cakap itu adalah Irwan Prayitno Gubernur Sumatera Barat. Lalu suasana berubah riuh dan yang terjadi berikutnya yang hadir pada menyorongkan tangan dan bersalam. Setelah itu berbagai keluhan mengalir dari masyarakat itu kepada Gubernur,” kata Yongki Salmeno, temannya sesama SMA.

Menurut Yongki, kebiasaan-kebiasaan itu menunjukkan kesederhanaan seorang Irwan Prayitno, bukan lantaran dia enggan pakai emblim jabatan. “Kan pada acara-acara resmi atau pada waktu di kantor, beliau tetap menggunakan emblim jabatan. Ya haruslah, kan itu adalah lambang negara yang mesti dihormati,” kata Yongki.(**)

Metro Andalas, 18 Agustus 2015

 

IP Dan Janggut (Metrans 14 Agus 2015)

IP DAN JANGGUT
“Saya tak Berjanggut, kok Dibilang Taliban?”

PADANG – Janggut (dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia: janggut 1/jang·gut / n 1 bulu yg tumbuh di dagu; jenggot: — nya panjang sampai ke perut; 2 dagu: sewaktu jatuh — nya berdarah;spt — pulang ke dagu, pb sudah pd tempatnya) acap orang mengasosiasikan semua kader partai PKS adalah berjanggut.

Irwan Prayitno, pria dari Taratak Paneh itu dari sejak muda memang tidak berjanggut, tapi ia PKS. Bahkan menjadi salah satu dari beberapa orang penting di tingkat DPP PKS. Sampai menikah dengan Nevi, Irwan tak memiara janggut.

“Sudah tidak berjanggut, masih saja kadang dituduh pengikut Taliban. Tapi silahkan lah apapun anggapannya, tetapi sekali lagi saya katakan bahwa saya tidak berjanggut dan memelihara janggut. Tapi saya kader PKS, itu benar,” kata Irwan Prayitno, Datuk Rajo Bandaro Basa, ketika ditanya soal kenapa ia tak berkanggut sebagaimana banyak kader PKS yang lain memiara janggut.

Menurut Irwan, ini soal rasa saja. “Berjanggut itu baik saja, tapi jika saya berjanggut mungkin tidak pas untuk saya,” katanya.

Joke sekitar janggut sering muncul ketika seorang pejabat pemiara janggut akan memilih pembantunya yang berjanggut pula. Yang berkumis memilih pembantu berkumis. Yang tidak berkumis dan tak berjanggut memilih pembantu yang kelimis. Itulah sebabnya, di zaman Pak Harto, tak ada banyak pejabat berkumis. Konon jika ada pejabat di sekeliling Pak Harto berkumis tebal alamat tidak akan lama jabatannya.

Tapi Irwan balik bertanya: “Coba cari staf di sekeliling saya yang berjanggut, tidak ada kan? Kalau pun ada, pasti itu bukan orang PKS. Sebab tak mungkin saya memasukkan orang partai ke kantor gubernur,” begitu rupanya Irwan menjelaskan korelasi antara janggut dengan isu yang menuduhnya hanya mengumpulkan orang PKS di sekelilingnya.

Banyak orang menuduh dirinya hanya mementingkan orang-orang partainya saja, tapi sekali lagi Irwan membantahnya. “Yang jelas orang partai tak boleh dipakai jadi pejabat di kantor gubernur, atau persisnya PNS tidak boleh jadi anggota partai politik. Karena itu mustahil saya ‘menyimpan’ orang PKS di kantor gubernur,” kata Irwan blak-blakan soal janggut dan PKS itu kemarin tatkala bersilaturahmi dengan para pimpinan SKPD dan kalangan pers di Bungus, Padang.

Sejauh ini, Irwan hanya menggunakan orangnya, hanya untuk staf pribadi. “Sejauh ini, saya hanya pakai satu orang yang disebut ‘orang saya’ yakni Sdr. Rinaldi, itu untuk mengurusi segala keperluan pribadi saya. Saya tidak mau masalah pribadi saya diuruskan pula oleh negara dengan memakai staf pribadi yang pegawai negeri,” katanya.

Kembali ke soal janggut tadi, bagi Irwan itu hanyalah fashion. Ada orang yang memelihara janggut, ada yang tidak. Dan janggut pastilah tidak ada hubungan dengan ideologi dan aliran. “Jadi saya heran juga kalau ada yang mengatakan saya adalah Taliban. Taliban kok main band, bernyanyi lagu rock bahkan heavy metal dan menggunakan motor trail, hehehe,” katanya.

Meski ia cap diterpa isu yang mengatakan bahwa dia mementingkan partainya di kantor gubernur. Irwan hanya bereaksi dengan senyum kecil saja. “Biar saja, dan kalau perlu tanya satu persatu yang mana kepala SKPD itu yang kader PKS. Kalau ada buktinya, usut saja dan berikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku. Selama lima tahun menjadi gubernur, saya hanya menonjobkan pejabat eselon II paling banyak dua kali. Apakah karena dia tidak sejalan dengan saya yang orang PKS? Tidak, yang non job murni karena kesalahannya sendiri. Jadi saya tidak memiliki kesukaan mengangkat seseorang atau memberhentikan seseorang karena saya tidak suka kepadanya, tidak karena ia bukan kader saya atau kader saya, tidak karena ia membantu saya atau tidak membantu saya. Saya memiliki latar belakang keilmuan yang berhubungan dengan human resource, jadi saya paham lah soal itu. Bukankah semua pejabat yang ada di kantor gubernur sekarang adalah orang-orang yang dulu diserahterimakan dari Pak Marlis Rahman kepada saya lima tahun silam? Tidak ada yang saya bawa dari luar,” kata Irwan.(**)

Metro Andalas, 14 Agustus 2015

 

Hidup Sederhana Itu Baik (Metrans 13 Agus 2015)

Hidup Sederhana Itu Baik

PADANG – Acap sekali lewat tengah malam seorang pria menyetir mobil berselinder 1300 cc berwarna hitam, keluar dari Jl Sudirman dan masuk ke kiri lewat Jl Abdul Muis. Di tape mobil sedang diputar lagu-lagu Nasyid.

Lelaki itu bernama Irwan Prayitno, ia berkendara ditemani seorang stafnya tanpa ajudan dan lainnya. “Ah, dulu juga berkendara sendiri, lalu apa bedanya kalau jadi gubernur. Kan malam hari biasa saja, agar sopir bisa istirahat untuk tugas dinas besok hari,” kata Irwan ketika satu hari ditanya soal ia menyetir sendiri tengah malam itu.

Dari cerita yang diperoleh, Irwan kemudian malancin dengan kecepatan sedang ke arah Kalumbuk. Di Kalumbuk ada seorang penjual sate langganannya. Di situlah Irwan, gubernur Sumatera Barat yang tidak terlalu risau dengan protokoler itu duduk menikmati sate malam hari.

Yang empunya warung sate karena sudah tahu siapa pelanggannya, ya biasa saja. Ia pun kadang ikut ngobrol dengan Irwan. Biasalah, Irwan pun menanyakan banyak hal dan keluhan yang dirasakan masyarakat sekitar.

Dalam banyak kejadian, para pejabat yang tidak setingkat gubernur pun kadang untuk hal seperti itu pasti sudah memanggil sopir, memanggil ajudan dan ada serombongan besar datang ke satu tempat. Seakan hak protokoler yang melekat itu harus digunakan sepenuhnya, tanpa ada yang tersisa.

Irwan menyadari juga ada yang kurang suka dengan dirinya kalau ia mengabaikan protokoler. Meskipun fasilitas di Bandara Minangkabau misalnya, seorang gubernur disediakan ruangan tunggu VIP. Tapi acap kali Irwan malah nyelonong saja ke ruang tunggu publik dan ikut antri masuk menuju ruang tunggu. “Sama saja, lagi pula kalau hanya saya sendiri ngapain pula duduk di ruang tunggu VIP itu. Lebih baiklah lah di ruang tunggu publik, bisa berinteraksi dengan masyarakat,” kata dia ketika ditanya ihwal menggunakan fasilitas di Bandara itu.

Bagi Irwan, keprotokoleran adalah sebuah kehormatan yang diberikan negara untuk pejabat negara, lantas kalau tidak sering dinikmati fasilitas itu bukankah itu tidak merupakan pelanggaran? Ia lebih melihat pada segi praktis dan kesederhanaan saja. Berbeda dengan kondisi dimana ada tamu negara atau dirinya bersama beberapa pejabat yang lain dalam satu rombongan, mungkin saja kalau masuk ke ruang tunggu publik akan merepotkan orang banyak. Karena itu ia gunakan fasilitas VIP.

Jadi kalau ia acara terlihat duduk di kabin pesawat tidak di kelas bisnis, itu bukan sok bermiskin-miskin, tapi Irwan melihat segi kesederhanaan saja. Menurut Irwan, toh akhirnya nanti kalau semua penumpang selamat sampai di tujuan, akan sama-sama turun di tangga juga dan sampainnya pada jam yang sama pula. “Iya, saya tahu aturannya adalah at cost. Tapi biarlah saya ambil posisi di kelas ekonomi saja. Tidak ada yang salah kan?” katanya.

Irwan tidak menyalah-nyalahkan pula pejabat yang memilih at cost untuk perjalanan udaranya. Menurut dia, itu hak masing-masing. Memilih at cost tidak salah, tidak memilih at cost dan memilih yang lebih bawah dari at cost itu juga tidak salah. “Jadi jangan dipersoalkan benar, yang tidak boleh itu kalau kita mengambil yang bukan hak kita,” ujar suami Ny. Nevi ini.

Jangan merepotkan orang, bahkan menurut Irwan Prayitno, staf sendiri pun jangan pernah direpotkan oleh pemimpin. Itu sebabnya pernah terjadi satu ketika karena semua sopir sedang tugas keluar, sedang Irwan punya keperluan pula keluar, maka ia mengemudikan sendiri mobil ke tempat tujuannya.

Sederhana dalam penampilan, sederhana dalam bersikap kadang membuat orang ragu-ragu: apakah ini Gubernur Sumatera Barat? Irwan sendiri kadang acap bertemu dengan orang yang mengamati dirinya cukup lama, baru kemudian menyalaminya: “Oohh…pak Gubernur ya?” begitu orang itu menyapa dengan kekagetannya lantaran tak menyangka bertemu dengan dirinya dalam ruang tunggu publik sebuah bandara dan orang itu ternyata urang awak yang juga hendak melakukan perjalanan ke Padang via Jakarta.***

Metro Andalas, 13 Agustus 2015

 

Di Adzkia, Dicetak Pemimpin Bangsa(Metrans 12 Agus 2015)

Di Adzkia, Dicetak Pemimpin Bangsa

PADANG — Pergaulannya di kampus Universitas Indonesia di Jakarta ketika menimba ilmu psikologi lebih banyak dengan lingkungan aktivis Islam. Didikan orangtuanya yang berlatar pendidikan agama, membuat Irwan Prayitno muda cepat menyatu dengan komunitas itu di kampus UI.

UI memang bukan pendidikan tinggi yang khusus Islam, tetapi persemaian untuk komunitas Islam sangat membetot perhatian Irwan Prayitno.

Banyak mahasiswa yang kemudian menemukan hidayah ketika sudah kuliah di kampus UI, padahal mereka tidak berasal dari pendidikan dasar dan menengah yang berbasis Islam. Maka dapat dibayangkan kalau pendidikan dini sampai dasar dan menengah yang berbasis Islam dikelola dengan profesional, bukan tak mungkin kelak melahirkan ilmuan dan itelektual Islam yang handal untuk turut serta membesarkan Indonesia.

Pikiran itulah yang terus mengusik Irwan Prayitno, putra Taratak Paneh, Kuranji Padang ini.
“Jadi selepas kuliah dan mendapat gelar sarjana saya pulang ke Padang. Saya berniat mendirikan sekolah yang berbasis Islam. Saya lihat pada pengujung tahun 80an itu belum ada sekolah seperti itu di Padang. Barangkali ada di Padang Panjang seperti Dinniyah Putri atau Thawallib,” kata Irwan, yang kini bergelar Datuk Rajo Bandaro Basa ini.

Tapi harus diakuinya bahwa mendirikan sekolah seperti Dinniyah Putri dan Thawallib di Padang Panjang itu atau seperti Al Azhar di Jakarta tentu tidak sedikit modalnya. Mau mengandalkan orang tuanya yang menjadi staf pengajar di IAIN Imam Bonjol, juga tidak cukup sementara orang tua juga punya tanggung jawab yang besar untuk semua anggota keluarga mereka.

Irwan adalah tipikal yang tak gampang menyerah untuk mewujudkan impian-impiannya. “Pendidikan kan tidak berarti seperti sekolah formal SD, SMP atau SMA. Menambah atau meningkatkan kemampuan peserta didik di luar sekolah mereka adalah juga pendidikan. Namanya pendidikan luar sekolah,” kata Irwan, yang juga hobi mengendari sepeda motor trail. Kata Irwan, jalan menuju sukses itu tidak harus jalan datar, kadang berliku dan sulit. Jadi seperti menempuh perjalanan dengan motor trail, semak belukar, lumpur, bebatuan, Insya Allah bisa ditempuh.

Irwan menerjemahkan semangat seperti dengan ‘menggunakan akal’. Jika mendirikan sekolah perlu modal, maka modalnya harus dicari. Cari uang dengan uang, menurut dia adalah cara yang memungkinkan banyak orang bisa sukses. Tapi kalau cari uang dengan akal, ini baru menantang.

Agar bisa mendirikan sekolah, Irwan memilih mendirikan lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel). Inspirasinya ia peroleh ketika dari tahun ke tahun di UI dulu ia melihat banyak yunior-yuniornya masuk ke Bimbel dulu sebelum berasing mengikuti ujian masuk PTN.

“Saya mau Bimbel yang Islami juga untuk merintis jalan ke sekolah Islami,” kenang Irwan. Tahun 1988 ia mengajak beberapa temannya alumni Unand, ITB, UGM, UI dan sebagainya menjadi pengajar di Bimbel yang diberi nama Adzkia.

Gedung PGAI yang di kawasan Jati Padang yang disewa menjadi saksi bisu bagaimana Irwan dan kawan-kawannya berjumpalitan membangun Bimbel itu. Irwan dan teman-temannya mau datang ke sekolah-sekolah membagikan brosur tentang Bimbel Adzkia kepada anak-anak SMA.

Awalnya memang agak sulit, tetapi setelah terus berusaha tanpa kenal lelah akhirnya sampai juga peserta didiknya 60 orang. Tahap pertama itu cukuplah untuk melunasi sewa gedung yang memang diminta oleh yang empunya gedung setelah dua bulan.

Luar biasa, pada permulaan tahun 90an Bimbel Adzkia itu meledak siswanya setelah dalam sebuah uji coba ujian try out ternyata para siswa bisa mengukur kemampuannya melihat seberapa besar peluangnya masuk perguruan tinggi tertentu dengan cara membandingkan nilai try out dengan passing grade masing-masing jurusan di berbagai PTN.

Banjir peserta itu akhirnya mendatangkan berkah bagi Irwan dan kawan-kawan, ia mulai mendekatkan impiannya dengan kenyataan. Dari hasil Bimbel yang ia tabung, mulailah Irwan mengembangkan Adzkia mendirikan Taman Kanak-kanak. “Ini peluangnya sangat besar waktu itu, belum banyak TK yang dikelola profesional berbasis Islam.

TK Adzkia, pada permulaan tahun 1990an tiba-tiba menjadi sorotan. Promosi dari mulut ke mulut yang menyebutkan bahwa anak-anak TK Adzkia sangat berbeda dengan anak-anak TK lain karena pendekatan pengajarannya yang penuh kasih sayang serta Islami itu telah mengusik ibu-ibu untuk memasukkan anaknya ke TK Adzkia.

“Karena tak mampu belui tanah, maka saya dihibahkan tanah oleh ibu saya di Taratak Paneh, di situ saya mulai mendirikan TK Adzkia. Alhamdulillah karena doa ibu dan bimbingan ayah, semua berjalan lancar. Murid-murid makin banyak, bahkan kami harus melakukan seleksi masuk TK untuk membatasi jumlah lantaran kami kekurangan tempat dan guru,” kenang suami Ny. Nevi ini.
Padahal sepanjang 90an itu, Irwan harus pindah ke Malaysia bersama istri dan anaknya karena melanjutkan pendidikan S2 di sana. Allah memang menuntun ke arah yang baik rupanya, TK Adzkia berkembang. Dari hanya satu di Taratak Paneh, kemudian dibuka di Komplek GOR Agus Salim, di Tabing, di Bukittinggi dan Payakumbuh.

Cita-cita Irwan mendirikan sekolah dari jenjang terendah hingga yang tinggi agar asuhan keislaman tak putus di tengah jalan karena Adzkia tak menyediakan sekolah lanjutannya. Karena itu kemudian SD Islam Terpadu Adzkia didirikan di Taratak Paneh. Hingga anak-anak sampai di kelas VI, maka Yayasan Adzkia pun menyiapkan SMP Adzkia. Sementara itu, sebelumnya sudah ada SMK Elektronika Adzkia, “Sedang SMA belum kita siapkan,” katanya.

Dan kini amat mencengangkan, hamparan tanah yang luas di pinggir sungai di Taratak Paneh menjadi tempat berdirinya sekolah-sekolah Adzkia. Ada PAUD, TK, SD, SMP, SMK dan ada PGTK Adzkia, AKIA dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah. Kini Adzkia mengantungi izin penyelenggaraan STKIP Adzkia program S1 PG-PAUD dan PGSD di bawah Kementerian Pendidikan Nasional dengan Nomor Izin 111/D/O/2009. Upaya kerja keras sejak zaman Bimbel itu, kini sudah bernilai tak kurang dari Rp70 miliar.(**)

Metro Andalas, 12 Agustus 2015

 

Bermusiklah Bersama Mereka (Metrans 11 Agus 2015)

“Bermusiklah Bersama Mereka”

PADANG – Dekat dengan anak muda, bukan lantaran apa-apa. Tetapi anak muda adalah kelompok potensial untuk diajak serta membangun bangsa ini. Yang lain mungkin memakai approach berpetuah atau nasehat. Tapi Irwan Prayitno, sesuai dengan usianya pula, ia merasa lebih pas mengajak anak-anak muda bersamanya dengan ikut menggeluti dunia mereka.

Bermain musik, hampir rata-rata anak muda punya kemampuan itu. Dan anak muda pastilah amat dekat dengan musik. Itulah sebabnya, kemampuan yang dulu ada sejak masa remaja di SMA 3 Padang, terus diasah oleh Irwan Prayitno.

“Anak muda senang apabila dunia mereka kita hargai. Kita hadir bersama mereka, terlibat dengan berbagai aksi positif mereka. Maka semua yang kita ingin pesankan bagi pembangunan bangsa ini akan mudah mereka tangkap,” kata psikolog ini.

Itulah sebabnya, menghidupkan IPe Band, bagi Irwan Prayitno bukan lantaran hendak berkampanye. Tapi justru untuk ikut serta bersama-sama anak muda Sumatera Barat memanfaatkan waktu kosong bagi kegiatan yang positif.

“Main band sekaligus mengajarkan kepda anak muda Sumatera Barat bahwa kita perlu harmonisasi. Band itu harus mengedepankan kekompakan. Satu saja personel fals maka secara keseluruhan musik yang dimainkan akan fals juga. Dengan main band, kita mencoba untuk mengharmoniskan hubungan,” kata Irwan Prayitno yang kalau ikut main bersama IPe Band, ia akan duduk di belakang drum menabuh perkusi.

Irwan suka dengan drummer Ian Paice dari kelompok musik cadas Inggris, Deep Purple. Itulah makanya, tiap tampil Highway Star yang jadi salah satu lagu hebat milik Deep Purple selalu dimainkan oleh IP –sapaan Irwan.

“Wow,…saya kira tadi main-main saja, tahu-tahu pak Gubernur benar-benar memainkan lagu itu, dan mantap,” kata Dedy Demona, Ketua Umum Flippers Organization, sebuah komunitas anak muda di Padang Panjang. Ketika itu, menjelang puasa lalu, Flippers menggelar acara Jalan Sehat Flippers (JSF) dan IP datang meresmikan sekaligus memberi hadiah sebuah sepeda motor untuk pemenang. IP kemudian didaulat naik ke panggung menabuh drum dan beberapa teman dekat IP meminta membawakakan lagu Deep Purple itu.

Dengan keyakinan seperti itulah, IP dalam banyak kesempatan bertemu anak-anak muda sebelum bicara, ia akan ikut bergabung dengan keasyikan dan keseharian anak muda. “Anak muda itu tak bisa diindoktrinasi atau disuguhi pidato-pidato saja. Pasti tidak akan terserap. Tapi mari kita masuk lewat dunia mereka. Konsekwensinya, kita harus paham dunia mereka, tidak serta merta mencela dan menyalah-nyalahkan. Pendekatan persuasif diperlukan membina anak muda,” kata Irwan Prayitno dalam satu kesempatan latihan bersama grupnya IP Band yang dimanejeri Herry Singkuan itu.

Ketika ada yang mencela, gubernur kok main band? Maka bagi IP itu hanya ditanggapi dengan senyum saja. Bermain musik, bukanlah sebuah hal yang tercela. Menurut IP, hanya niatnya saja yang harus diluruskan. Kalau niatnya menghibur orang banyak, lalu orang banyak terhibur pula, siapa yang akan bilang itu adalah sesuatu yang tak pantas?

Irwan mengatakan musik adalah bagian dari alat komunikasi. Dengan musik maka komunikasi akan terjalin. “Lihatlah dalam berbagai resepsi, baik formal maupun informal selalu ada permintaan kepada pejabat, tokoh, pimpinan masyarakat yang hadir dalam acara itu untuk tampil bernyanyi atau memainkan musik,” kata dia.

Maka, apabila bertemu dengan anak-anak muda, para siswa SMA, IP akan bertanya ada yang suka main musik? Ia akan memberi support kepada sekolah-sekolah yang dikunjungi untuk mengembangkan grup musik sebagai salah satu bentuk ekstra-kurikuler. Musik itu adalah tempat menyatakan empati dan simpati terutama kepada anak-anak muda. Bahkan seperti telah diperankan oleh sejumlah musisi dan musikus seperti Hari Mukti, Rhoma Irama, “Kesimpulannya, dunia anak muda itu dunia meriah, sebagai orang tua kita harus paham dan memberikan support kepada kegiatan mereka. (***)

Metro Andalas, 11 Agustus 2015

 

Irwan Menarik Dunia Ke Sumbar (Raksum 21 Agus 2015)

Irwan ’Menarik’ Dunia ke Sumbar

 

Sejak usia muda, Irwan Prayitno telah tampil di kancah internasional. Irwan memiliki jaringan dengan negara-negara asing, dan beberapa di antaranya menjadi investor di Sumbar, seperti dalam pengembangan energi panas bumi.

 

Muharman——————Padang

 

Tak banyak yang bisa tampil sebagai pembicara di internasional, apalagi harus mempersentasikannya dalam bahasa Inggris. Tapi begitulah, Irwan Prayitno, berkat kemampuannya, ditambah penguasaan ilmu tentang energi dan pertambangan, meskipun masih berusia muda, ia selalu diundang sebagai narasumber tentang pertambangan dan energi di berbagai pentas internasional.

 

“Saat saya di DPR RI, banyak yang mengundang saya sebagai pembicara internasional, di antaranya di Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Australia, Jerman, dan Singapura,” sebutnya, kemarin.

 

Kembali sejenak mengingat memori lama masa-masa lamanya, bagaimana di saat menjadi pembicara di berbagai kancah internasional. Di antaranya, tampil sebagai narasumber pada kegiatan seminar Houston Energy Dialogue, Houston di tahun 2001.

 

Di tahun yang sama, di Singapura ia juga diberikan kesempatan sebagai menyampaikan makalah berjudul Visions for Indonesian Future, Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS). Irwan juga menjadi pembicara di saat menjadi utusan anggota delegasi Indonesia pada 117th OPEC Konference, Vienna Austria, 26 September 2001, dan banyak lagi seminar lainnya.

 

“Di Houston waktu itu, sebagai pembicara, saya menyampaikan makalah berbahasa Inggris yang berjudul, Legislative Role of the Indonsian House of Representatives in Indonesia’s Legal Reform,” ujarnya.

 

Begitulah, meskipun dengan penampilan sederhanya, namun kecerdasan dan kemampuannya untuk memahami suatu materi tak perlu ditanyakan lagi. Jadi tak heran, Ia selalu meraih juara umum saat sekolah di SMA 3 Padang, dan peraih prediket cumlauade saat menyelesaikan kuliah S3 di University Putra Malaysia.

 

Di hadapan pemerintah negara-negara maju dan investor, kemampuannya Irwan berbicara tentang pemanfaatan potensi energi panas bumi sebagai upaya kemandirian penyediaan energi itu, selalu membuat orang terkesima.

 

Kemampuannya itu sepertinya tak disia-siakannya. Terbukti selama menjadi Gubernur Sumbar, jaringan yang telah ia bangun dari muda itu dimanfaatkan. Negara-negara maju ditariknya untuk menjadi investor di Sumbar.

 

“Provinsi Sumbar ini salah satu provinsi yang memiliki banyak potensi energi panas bumi, namun belum tergarap secara optimal. Berbekal hubungan baik dengan negara-negara maju itu, Saya berusaha agar terjalinnya kerjasama antara pemprov Sumbar di bidang energi dan pertambangan dengan beberapa investor dari berbagai negara tersebut. Seperti, Jepang, Jerman, Amerika Serikat, Turki dan beberapa negara di Benua Eropa lainnya,” ungkapnya.

Selama lima tahun menjadi Gubernur Sumbar, 15 Agustus 2010-2015, ia tunjukkan kemampuannya itu dengan telah terjalinnya beberapa kerjasama dalam pengembangan energi panas bumi yang ada di Sumbar. Di antaranya, lima titik potensi panas bumi di Solok Selatan sudah digarap investor Supreme Energy dan Hitay Energy.

 

“Di Sumbar terdapat 20 titik potensi panas bumi. Selain di Solok Selatan potensi lainnya terdapat di Pasaman. Tak hanya, Hungaria, Bulgaria, Qatar, Slovakia dan Finlandia, namun negara-negara lainnya juga tertarik berinvestasi menggarap energi panas bumi di Sumbar,” pungkasnya. (***)

 

Rakyat Sumbar, 21 Agustus 2015

Istri yang tangguh (Raksum 20 Agus 2015)

Istri yang Tangguh

Selama lima tahun, Nevi Zuraida berperan membantu berbagai program meningkatkan kesejahteraan perempuan di Sumbar. Itu digelutinya di sela-sela kewajiban mengurus anak-anak dan suaminya, Irwan Prayitno, yang menjadi Gubernur Sumbar sejak 15 Agustus 2010 hingga 15 Agustus 2015, dan menjalani beberapa bisnis di Jakarta.

Muharman——-Padang

Istri yang tangguh, memang. Menemani perjalanan Irwan Prayitno saat menjadi Gubernur Sumbar, Nevi Zuraida tak pelak harus berperan memimpin berbagai organisasi perempuan.

Ketangguhan istri membuat rumah tangga yang dijalani Irwan Prayitno sejak 30 tahun lalu, bertahan hingga sekarang. Tak hanya menjadi ketua beberapa organisasi perempuan di Sumbar, namun Nevi juga menjalankan beberapa bisnis. Di antaranya, bisnis properti, rumah makan, rumah kos, dan lainnya.

Irwan Prayitno menyebutkan, pada saat telah sibuk dengan berbagai kegiatan di Padang, ada beberapa bisnis yang ditutup. Namun saat ini, dari bisnis yang digeluti sang istri, dalam sebulan menghasilkan lebih seratus juta sebulan.

Alhamdulillah, bisnis yang dijalaninya menghasilkan lebih dari seratus juta rupiah per bulan, bahkan zakat yang dikeluarkan dari bisnisnya itu Rp250 juta per bulannya,” sebut Irwan Prayitno, kemarin.

Menurutnya, bukan main ketangguhan istrinya itu, selain menjalankan tugasnya sebagai istri dalam membantu mengurus keluarga, tapi juga menjadi ketua berbagai organisasi, termasuk menjabat ketua organisasi di bidang perempuan di Sumbar.

“Itu semuanya dijalankan dengan baik, subhanallah. Ia begitu ulet dalam mengurus anak kami sepuluh, dan enam di antaranya dapat kuliah di perguruan tinggi negeri, seperti di UI, ITB, dan IPB,” ungkap pendiri Yayasan Pendidikan Adzkia tersebut.

Nevi Zuraida menyebut, selama lima tahun, ia menjabat Ketua PKK, Ketua Dekranasda, Ketua Forum PAUD, Ketua Silaturahmi Majelis Taklim, Ketua Yayasan Kanker Indonesia, Ketua Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan), Ketua Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS), Ketua Pusat Pemberdayaan Terpadu Terhadap Perempuan dan Anak (P2TP2A ).

 

“Semua organisasi itu tentunya perannya sangat srategis dalam mendukung program yang dilakukan gubernur,” ujarnya yang ditemui di rumahnya di Lubukkilangan.

Ia menjelaskan, organisasi PKK dapat menyentuh kaum perempuan dan ibu rumah tangga. Begitu juga dengan Dekranasda, berperan memajukan kerajinan tangan kaum ibu untuk menambah pendapatan keluarga.

“Begitu juga dengan LKKS, ini menyiapkan program yang menyentuh kepada memberikan bantuan rumah layak huni, dan modal kerja bagi kaum perempuan. Termasuk juga Forikan bagaimana perempuan nelayan tak hanya menghasilkan ikan, tapi bagaimana mereka dapat mengkonsumsi ikan,” terangnya.

Saat ini, hanya Ketua PKK dan Ketua Forum PAUD yang harus dilepaskannya, yang lain masih tetap dipegang. Meskipun banyaknya kegiatan yang dilakukan itu, tapi itu bukanlah menjadi beban baginya, semuanya dijalani dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab. Begitu juga dengan mengurus kebutuhan harian suaminya, seperti dalam hal pakaian dan makanan.

“Bapak itu mandiri, jadi saya tidak begitu banyak direpotkan. Soal pakaian, jika saya sedang di rumah saya yang menyiapkan semuanya. Namun jika saya pergi karena ada kegiatan organisasi, bapak tinggal ngambil sendiri, soalnya pakaian itu telah tersusun rapi sesuai dengan kegiatan apa yang bapak laksanakan,” paparnya.

Begitu juga mengenai makanan, kalau makan siang dan sore jika saat suaminya itu di rumah semua makanan kesukaan Irwan Prayitno telah dihidangkannya. Untuk pagi, biasanya suaminya itu telah mengurangi makan nasi, hanya minum susu dan makan pisang saja, dan senin kamis selalu puasa sunat.

“Kalau makanan yang bapak suka itu, di antaranya asam padeh daging dan ikan, dendeng, rendang, dan tahu goreng apalagi,” ujarnya lagi.

Kesehariannya, Nevi pada saat ke Jakarta untuk melaksanakan kegiatan pribadi ia terbiasa sendiri tanpa ajudan. Termasuk saat suaminya menjadi anggota DPR RI dan menjadi Gubernur Sumbar. Jadi pada saat sekarang suaminya tak lagi menjabat Gubernur, tentunya itu bukanlah masalah baginya, sebab kesederhanaan telah menjadi ciri khas dari keluarga ini.

“Saya sudah biasa kemana-mana sendiri, saat mengurus usaha properti, rumah makan, dan rumah kos. Yang penting sehat jasmani, jadi bisa mengerjakan apa-apa,” pungkas Nevi di rumah minimalis berukuran 250 meter persegi berlantai dua, yang dibeli sejak Februari 2015. (***)

Rakyat Sumbar, 20 Agustus 2015

Selalu Semangat dan Optimis (Raksum 18 Agus 2015)

Selalu Semangat dan Optimis

Meskipun tak menjabat Gubernur Sumbar, namun Irwan Prayitno terlihat tetap bersemangat disaat berada ditengah masyarakat. Sama seperti pada sebelumnya, ketika rutinitas mengunjungi masyarakat hingga ke ujung daerah terpencil dalam memajukan pembangunan Sumbar itu dilakoninya selama 5 tahun belakangan dari pagi hingga larut malam.

 

Muharman———–Padang

 

Senin (17/8) siang, Pendiri Yayasan Pendidikan Adzkia itu terlihat hadir diantara kegembiraan masyarakat Parak Karakah, Kecamatan Padang Timur yang sedang mengadakan berbagai kegiatan dalam rangka hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke 70.

Ia memang selalu tampil sederhana, jadi ia tidak terlihat canggung meskipun datang tanpa embel-embel sebagai pejabat daerah bertemu dengan masyarakat. Itu yang menyebabkan beberapa masyarakat tak menyangkal bahwa Irwan Prayitno yang menjadi Gubernur Sumbar 2010-2015 yang berakhir masa jabatannya pada 15 Agustus lalu itu, datang ke tempatnya dan berbaur dengan mereka.

“Kami tak menyangka, kalau Pak Gubernur itu akan datang kesini tadi. Tentunya daerah ini sangat perlu sosok pemimpin yang seperti itu, selalu dekat dengan masyarakat,” sebut Burhanuddin, tokoh masyarakat Parak Karakah.

 

Memang mengunjungi masyarakat, tentunya bukan hal baru bagi Irwan Prayitno. Walau akses sulit ditempuh dengan roda empat, tapi dengan semangatnya ia selalu berusaha datang ke masyarakat, terkadang dengan motor trail ia perlihatkan upaya dalam memajukan kesejahteraan masyarakat tersebut.

 

Ia merupakan sosok selalu semangat tak pernah mengenal lelah, selalu optimis dalam memajukan pembangunan Sumbar. Begitulah bagaimana ia bisa sukses dengan lebih dari 300 indikator indikator kemajuan pembangunan Sumbar dan ratusan penghargaan diraih Sumbar dari nasional hingga internasional, disejumlah bidang.

Baginya untuk menjadi pemimpin adalah mengharapkan ridha Allah dan mengabdi untuk kepentingan umat, bukan untuk berkuasa. Menerima dengan ikhlas siapapun yang diinginkan rakyat. Allah yang memutuskan apa yang terbaik buat kita semua. Pemimpin yang baik itu adalah pemimpin yang dicintai masyarakat.

Meskipun saat ini tak lagi menjabat Gubernur, tapi ia selalu menghargai keinginan masyarakat. Seperti momen peringatan HUT RI saat ini, padahal beberapa waktu sebelumnya ia baru saja menghadiri rangkaian upacara bendera pada peringatan HUT RI ke 70 di depan kantor Gubernur Sumbar. Namun begitulah IP untuk membahagian masyarakat, selalu bersemangat.

Pada saat mengunjungi kegiatan yang didakan masyarakat RT 02, RW 07 Kubu Dalam, Parak Karakah, Padang Timur itu, Irwan Prayitno mengatakan ulang tahun kemerdekaan ini merupakan momentun untuk menghargai perjuangan yang harus diperingati dengan kegiatan yang menggambarkan semangat nasionalisme, semangat perjuangan.

“Banyak hal yang bisa dilakukan untuk memperingati HUT RI ini. Diantaranya mengadakan kegiatan-kegiatan yang dapat memacu nasionalisme ditengah masyarakat. Karena itu saya juga menyempatkan diri memberikan semangat kepada masyarakat disini untuk menghargai kemerdekaan, dengan menyatukan semangat untuk membangun daerah ini semakin maju,” pungkasnya (***)

Rakyat Sumbar, 18 Agustus 2015

 

Like and dislike (Raksum 14 Agus 2015)

Like and Dislike

 

“Membangun daerah itu, bisa dibilang mudah, bisa juga dikatakan tidak mudah. Dibilang susah juga tidak susah. Itu tergantung kita memandang saja,” ujar Irwan Prayitno, Kamis (13/8) sore.

Muharman, Padang

Dua hari lagi, masa jabatannya sebagai Gubernur Sumbar berakhir. Irwan Prayitno sudah berpamitan dengan pegawai dan bersilaturahmi dengan Kepala SKPD serta wartawan di Padang.

“Melalui kegiatan ini silaturahmi ini, saya menyampaikan permohonan maaf atas kebijakan yang saya lakukan, selama 5 tahun menjabat, ada sikap yang dilakukan telah membuat SKPD ataupun wartawan tersinggung,” sebut Irwan Prayitno, di Mess Pemda Provinsi Sumbar, di Bukik Lampu, Bungus Teluk Kabung.

Tentunya banyak situasi penting yang telah dilewatkan bersama, bagaimana upaya yang dilakukan bersama-sama dalam kerangka membangun Sumbar.

Menurutnya, berbagai hal telah dilakukan selama 5 tahun belakangan ini, di antaranya upaya meningkatkan kesejahteraan melalui program-program yang dijalankan SKPD, di bidang kesehatan dan pendidikan, begitu juga dalam membangun infrastruktur.

“Jika hanya mengandalkan PAD yang ada pada masing-masing daerah, tentunya pembangunan Sumbar ini akan sulit, perlu dukungan APBD Provinsi dan APBN. Dengan itulah pembangunan banyak infrastruktur di Sumbar dilakukan,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, pada awal ia menjabat Gubernur Sumbar, kondisi Sumbar masih porak-poranda akibat gempa yang menguncang 30 September 2009 dan itu membuat 7 kabupaten/kota rusak parah. Rumah penduduk, kantor pemerintah, swasta, dan fasilitas umum rusak parah.

“Hingga Agustus 2010, belum masuk rehab-rekon, hanya ada dana gawat darurat yang dikucurkan pemerintah. Banyak pihak yang mempertanyakan Saya waktu itu, bagaimana cara Saya bisa membangun Sumbar. Apalagi jika melihat dengan kondisi kantor SKPD yang kebanyakan berkantor darurat dan serba keterbatasan fasilitas kerja,” ungkapnya.

Menurutnya, setelah dilantik menjadi Gubernur Sumbar, ia langsung memohon Kepala BNPB Syamsul Maarif untuk turunkan dana rehab-rekon ke Sumbar. Itu harus dilakukannya.

“Tak hanya menyegerakan agar masyarakat mendapatkan tempat tinggalnya yang rusak akibat gempa. Pembenahan terhadap bangunan kantor-kantor penting dilakukan, di antaranya mendahulukan membangun gedung Kejati dan RSUP M Djamil daripada Kantor Gubernur,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam melakukan pembangunan itu didahulukan menyelesaikan mana yang sebelumnya telah dibangun. Balairung yang sebelumnya hanya tiang, kemudian dibangun. Begitu juga dengan Masjid Raya Sumbar yang saat ini telah bisa digunakan, juga dibangun secara berangsur-angsur.

“Melanjutkan pembangunan Jembatan Kelok 9 yang sebelumnya masih terbengkalai, sekarang dapat digunakan. Melakukan lobi ke banyak pihak, sehingga akhirnya pembanguan dapat selesai dan mampu digunakan dalam mengurai kemacetan Sumbar-Riau,” paparnya.

Selain itu, Jalan Sicincin Malalak juga dibangun, jembatan-jembatan yang rusak diperbaiki. Mungkin ada sekitar dari 30 jembatan yang kita bangun dalam 5 tahun ini. Begitu juga irigasi yang sangat penting dalam pengairan lahan pertanian masyarakat, itu selalu menjadi prioritasnya.

Lima tahun ini, ia bersama wakilnya Muslim Kasim, membuat berbagai program yang berpihak pada masyarakat Sumbar. Begitupula melanjutkan pekerjaan gubernur sebelumnya. Sebab semua program yang dibuat berjenjang. Artinya tidak tuntas oleh gubernur sebelumnya, maka dilanjutkan pemimpin terpilih kemudian

“Memimpin itu bisa disebut sebagai pekerjaan sulit, bisa juga susah. Tergantung seseorang menyikapinya Jika dipersusah maka jadi susah. Jika tidak, maka segalanya berjalan dengan mudah,” ungkapnya lagi.

Dalam memimpin Sumbar, ia korbankan waktu untuk urusan keluarga. Semua dilakukan untuk kemajuan Sumbar. Ketika masa jabatannya habis, maka Irwan mengaku kembali pada kehidupan normal. Meski demikian, karena diberi amanah oleh partai, dia kembali mencalonkan diri sebagai kepala daerah incumbent. Semua tidak lepas atas permintaan partai dan masyarakat.

Namun ketika nasib tidak berpihak padanya, ia akan kembali ke rutinitasnya. “Setelah ini saya akan kembali pada kehidupan normal. Mengantarkan anak-anak sekolah, kembali mengajar dan melakukan aktifitas yang dilakukannya sebelum menjadi Gubernur. Sebab selama ini waktu saya habiskan untuk urusan pemerintah,” terangnya.

Dalam pertemuan tersebut, Irwan Prayitno juga mengungkapkan kalau tidak ada orang-orang PKS yang mengelilinginya selama dia memimpin Sumbar. Itu disampaikan karena banyak informasi yang tersiar kalau dia memberi jabatan pada orang separtai dengannya.

“Lima tahun saya memimpin. Saya bekerja siang malam untuk kemajuan daerah ini. Tapi ada saja yang mengomentari kinerja saya. Saya dikatakan memakai orang-orang PKS dalam bekerja. Padahal itu tidak benar,” sebut Irwan.

Ungkapan tidak adanya orang PKS di sekitarnya, dijelaskan Irwan, dengan menyebut nama-nama kepala dinas. Sebab kebanyakan dari mereka adalah orang-orang pada zaman gubernur sebelumnya. Sebut saja, Kepala Dinas Pertanian, Fajaruddin, Kepala Bapedalda, Asrizal Asnan, Kepala Badan Arsip dan Perpusatkaan, Alwis, Kadis Kesehatan Sumbar, Rosnini Savitri dan kepala SKPD lain.

“Dalam memimpin saya tidak menggunakan istilah like and dislike tapi lebih pada kemampuan para kepala dinas. Jadi apa yang disebarkan tentang saya yang dikelilingi orang PKS jelas tidak berdasar dan tidak benar,” pungkasnya. (***)

 

Tidak Ada Masalah Kecuali Ada Solusi (Raksum 12 Agustus 2015)

Tidak Ada Masalah, Kecuali Ada Solusi

Permasalahan tentunya selalu ada dalam kehidupan ini. Apalagi mengurus Sumbar dengan 19 kabupaten/kota, berpenduduk 1,5 juta jiwa lebih, tak gampang tentunya. Tapi berbagai kendala dan persoalan bisa diselesaikan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dengan mencarikan solusinya.

Muharman——– Padang

Setiap masalah itu perlu dihadapi bukan dihindari. Hal itulah yang selalu ditekankannya, sehingga berbagai kemajuan di sejumlah sektor berjalan baik. Kerja keras dilakukannya dengan meningkatkan kesungguhan semua pihak, SKPD, PNS Pemprov, para bupati dan wali kota.

“Atas izin Allah semua keberhasilan bisa diraih,” ujar Irwan Prayitno.

Sejak menjabat Gubernur Sumbar, 15 Agustus 2010 lalu, berbagai persoalan besar dihadapinya. Pada tahun pertama saja, ujian paling berat mulai dibebankan di pundaknya. Gempa besar baru saja meluluh lantakan hampir separuh Sumbar. Keadaan daerah yang porak poranda pascagempa dan suasana transisi pasca reformasi kala itu.

Mulai dari matahari pagi terbit hingga larut malam silih berganti tamu datang ke rumah dinas yang juga menjadi kantornya itu. Unsur pemerintahan dan non pemerintah datang kepadanya membawa dan menyampaikan berbagai masalah yang terjadi.

Namun dengan kepala dingin, ia berusaha mencarikan solusi kendala dan persoalan itu. Seperti mengurai benang yang kusut, satu per satu itu dapat diselesaikannya. Seiring berjalannya waktu perekonomian Sumbar kembali tumbuh, sejumlah program yang dibuatnya untuk meningkatkan kesejahteraan.

Sumbar semakin mendapat perhatian dari nasional hingga internasional. Dalam 5 tahun ini, lebih dari 200 penghargaan yang diraih Sumbar. Itu tentunya membuktikan keseriusan untuk mengurus Sumbar. Tak banyak yang bisa melakukan apa yang dilakukannya saat ini.

“Masalah pasti ada dalam kehidupan. Ibarat badai, ombak dan angin di laut yang menerpa, bagaimana kita untuk selalu bisa untuk bangkit. Ibarat jalan ada berlubang atau mendaki menurun. Semuanya ada dan perlu dihadapi bukan dihindari. Sehingga masalah itu adalah bagian dari kesuksesan. Setiap yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan beri banyak solusi,” sebut IP, kemarin.

Ia menyatakan, dalam setiap masalah, pasti ada solusinya. Dalam setiap kesulitan, selalu ada kemudahan, begitu kata Allah. Prinsip itulah yang digunakan, dalam menyikapi berbagai persoalan yang terjadi di Sumbar. Ketenangannya menghadapi persoalan, dan dengan bijak menyiapkan solusinya.

“Alhamdulillah, tidak ada masalah yang berat, karena semua masalah kita jalani dengan ikhlas dan serahkan kepada Allah. Semuanya dapat diselesaikan. Ada keinginan pasti ada jalan dan pasti akan solusi,” pungkasnya. (***)

Rakyat Sumbar, 12 Agustus 2015

 

Insya Allah Pemaaf dan Tak Pernah Marah (Raksum 11 Agus 2015)

Insya Allah, Pemaaf dan Tak Pernah Marah

Irwan Prayitno dikenal sebagai orang yang pemaaf dan mungkin tak pernah marah. Sejak awal menjabat Gubernur Sumbar sejak 15 Agustus 2010, tentunya telah banyak ujian dan hambatan yang dilaluinya. Namun ia tidak pernah terpancing untuk membalas apa yang telah dilakukan orang kepadanya. Ia terlihat tenang dengan setiap masalah yang terjadi, baginya marah bukanlah solusi menyelesaikan masalah.

Muharman———–Padang

Dunia politik, tentunya selalu penuh dengan persaingan. Ada-ada saja yang dilakukan untuk saling menjatuhkan. Namun bagi Irwan Prayitno, ia terlihat tenang pada setiap masalah yang terjadi. Kalaupun diminta awak media untuk menjawab pertanyaan sehubungan dengan masalah itu. Ia hanya senyum, seperti tak pernah ada keinginan untuk membalas pernyataan itu.

Banyak tudingan bernada miring yang ditujukan kepadanya. Bahkan itu berupa fitnah. Tentunya hal ini membuat orang yang ada disekelilingnya, kerabat dan rekan-rekannya geram. Tapi ia tetap santai, tak terfikir olehnya bagaimana untuk menyerang balik penyebar fitnah.

“Jika kejahatan dibalas kejahatan, bukannya itu berarti kita sama saja dengan mereka. Sabar, dan sabar, biarlah Allah yang membalasnya, karena Allah itu Maha Tahu dan Maha Adil,” sebutnya (10/8) kemarin.

Tanpa membalas, jika kita benar kenapa harus takut. Kebenaran itu akan muncul dengan sendirinya. Mungkin itulah yang menjadi prinsip dalam hidupnya. Hal itu jugalah yang sering disampaikan dalam tausiah-nya. “Selagi kita berada di jalan yang benar, Tuhan akan selalu tunjukan jalan,” jelasnya.

Seperti saat ini, ketika ia kembali mendapat kepercayaan sebagai salah satu calon gubernur Sumbar untuk Pilkada 9 Desember mendatang. Ada-ada saja yang berusaha agar jalannya untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat Sumbar ini gagal.

Lagi-lagi ia terlihat tenang, karena apa yang dilakukannya itu tak ada yang melanggar aturan. “Semua yang saya lakukan ini tak ada yang melanggar aturan, jadi tak perlu ditakutkan,” ujarnya yang terlihat begitu sabar. (***)

Rakyat Sumbar, 11 Agustus 2015

 

Usai Dilantik Langsung Rapat Dengan Olahraga (Raksum 7 Agus 2015)

Usai Dilantik, Langsung Rapat dengan Orang Olahraga

‘Orang-orang olahraga’ tahu benar bahwa Gubernur Sumbar Irwan Prayitno saat pertama kali dilantik tahun 2010, rapat pertama yang dilakukannya adalah dengan pengurus KONI Sumbar.

Saat itu, Irwan Prayitno masih menggunakan baju putih yang dipakainya saat pelantikan, langsung memimpin rapat seputar pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2010 yang terancam tidak terlaksana karena ketidaksiapan tuan rumah; Kabupaten Agam, kala itu.

“Saat itu saya langsung menggelar rapat dengan pengurus KONI Sumbar, kita putuskan saat itu Porprov harus tetap dilaksanakan dengan membagi cabang olahraga pada beberapa kabupaten kota di Sumatra Barat,” ujar Irwan Prayitno kepada Rakyat Sumbar, Rabu (5/8).

Hingga di penghujung kepemimpinannya yang berakhir 15 Agustus 2015 nanti, Porprov yang digelar sekali dua tahun ini tak pernah terputus, mulai dari tuan rumah Agam, Limapuluh Kota, dan Dharmasraya akhir tahun lalu.

“Dalam waktu lima tahun bisa menggelar tiga kali Porprov itu sangat luar biasa, itu tidak mudah. Hal itu berkat dukungan KONI juga,” lanjut mantan anggota DPR RI itu.

Menurut Irwan, tidak terputusnya Porprov selama era kepemimpinannya bisa dijadikan bukti kepedulian pemerintah daerah terhadap dunia olahraga, baik prestasi maupun pembinaan atlet.

“Bahkan kita sangat antusias menjadikan Sumatra Barat sebagai tuan rumah PON 2024. Pemerintah daerah telah mempersiapkan diri sejak 2 tahun silam, namun untuk mewujudkan misi itu, tentu butuh dukungan semua pihak, termasuk masyarakat. Sebelumnya, saya dan bupati serta wali kota sudah komit dan menekan MoU untuk membuat venue olahraga. Sementara Kota Padang membangun stadion utama di Sikabu, Padangpariaman, dengan luas tanah 38,5 hektare dari 50 hektare yang ditargetkan,” sambungnya.

Pembangunan stadion utama yang nantinya dilengkapi beberapa venue olahraga itu ground breaking-nya dilakukan, Kamis (6/8). Segala hal teknis menyangkut pembangunan, kata Irwan, sudah tidak ada masalah lagi karena, telah ditentukan pemenang tendernya.

“Mimpi kita untuk punya stadion besar, Insya Allah terlaksana, ini langkah kita untuk mewujudkan Ranah Minang sebagai tuan rumah alek terakbar olahraga nasional,” cetus Gubernur.

Apa yang disampaikan orang nomor satu di Sumbar itu diamini Ketua KONI Sumbar, Syahrial Bakhtiar. Mantan bawahan Irwan Prayitno di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumbar itu menyebut, kapasitas Gubernur dalam perkembangan olahraga daerah sangat dirasakan terutama KONI sebagai perpanjangan tangan pemerintah.

“Kami sangat mengapresiasi peran Gubernur dalam memperhatikan olahraga daerah selama ini,” sebut Syahrial.(rif)

Rakyat Sumbar, 7 Agustus 2015

 

Mendirikan adzkia dengan 15 ribu rupiah (Raksum 6 Agus 2015)

Mendirikan Adzkia dengan 15 Ribu Rupiah

Didorong niat besar ikut mencerdaskan masyarakat, Irwan Prayitno menolak menjadi pegawai Semen Padang setamat kuliah, 1988 lalu. Walau ditawari posisi aman untuk seorang tamatan kuliah, Irwan memilih mendirikan bimbingan belajar (Bimbel) dengan modal Rp15 ribu.

Dengan susah payah menamatkan kuliah di Universitas Indonesia (UI), Irwan Prayitno langsung pulang kampung. Di Padang Irwan mendirikan bimbingan belajar yang kemudian menjelma menjadi Yayasan Pendidikan Islam Adzkia dengan aset Rp70 miliar saat ini.

Di Kota Padang, saat itu tidak banyak bimbingan belajar berdiri. Kecenderungan masyarakat masih menempuh pendidikan formal. Melihat peluang itu, Irwan mencari kawan-kawan yang dapat bekerjasama.

“Adzkia saya dirikan dengan uang Rp15 ribu, waktu itu saya dapat mencetak brosur sebanyak satu rim, kemudian dibagikan ke sekolah-sekolah yang ada di Kota Padang,” kenang Irwan mengingat perjuangannya membesarkan Adzkia.

Sebenarnya, untuk menamatkan kuliah bagi Irwan cukup panjang, enam tahun sejak 1982 hingga 1988. Lamanya Irwan di kampus bukan kemampuan akademiknya yang kurang. Namun tuntutannya untuk melaksanakan kegiatan di luar kampus membuatnya molor menyelesaikan kuliah.

Dia banyak menghabiskan waktu di luar kampus untuk mengajar, berdakwah, berdiskusi, serta mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Menikah dengan Nevi Zuairina tahun 1985 dengan tanpa modal apa-apa

Begitu lulus sarjana psikologi UI yang terngiang di pikirannya justru ingin berdakwah. Tawaran gaji besar dari perusahaan semen terbesar di Padang, misalnya, ditampiknya. Keyakinan untuk terus berdakwah, menurutnya, bila dilandasi nawaaitu demi menggapai Islam kaffah akan menjadi besar.

Semangatnya bersama teman-teman lalu terdorong untuk membangun lembaga pendidikan Adzkia (yang artinya kecerdasan) untuk dakwah pendidikan, serta Yayasan Al-Madani untuk mengurusi dakwah sosial. Hidup Irwan kemudian dipenuhi warna-warni Adzkia.

Brosur telah disebar ke sekolah-sekolah di Kota Padang, Irwan berhasil mendapatkan murid dua lokal. Sebanyak 80 siswa yang mengikuti bimbingan belajar dengan Adzkia. Tidak memiliki gedung sendiri, Adzkia menyewa gedung PGAI, dengan syarat uang sewanya dibayarkan bulan berikutnya setelah siswa didapatkan.

“Awalnya cuma empat jurusan, setelah itu terus berkembang, banyak peminat, saya memilih untuk mendirikan Taman Kanak-Kanak,” ujarnya.

Langkah itu berjalan lancar, siswa didapat, sewa gedung juga sudah dibayarkan. Ada empat jurusan yang dibuka, Fisika, Matematika, Biologi dan Kimia. Sementara tenaga pengajarnya juga hanya empat orang, di antaranya, Prof Syukri Arief, mereka pada umumnya berasal dari perguruan tinggi ternama seperti, IPB, UGM, Unand dan dirinya dari UI.
Tempat belajar juga menjadi berpindah-pindah. Pertama di PGAI pindah ke jalan Raden Saleh, Jalan Diponegoro, pindah lagi ke Belakang Olo, Simpang Damar. Setelah itu Irwan mendapatkan tanah wakaf dari ibunya di Taratak Paneh, Kuranji. Secara perlahan gedung sekolah dibangun. Kemudian membeli tanah di sekitarnya untuk mendirikan sekolah lainnya.

Secara perlahan tapi pasti, Yayasan Pendidikan Islam Adzkia terus tumbuh seiring tingginya kesadaran masyarakat di Kota Padang pentingnya akan pendidikan. Tahun 1990 Adzkia membuka Taman Kanak-Kanak Adzkia yang sampai sekarang berkembang menjadi 7 cabang yang tersebar di kota Padang, Bukittinggi dan Payakumbuh.

Kemudian Yayasan Adzkia mendirikan SD, SMP, SMA dan SMK. Kemudian juga melanjutkan dengan mendirikan perguruan tinggi. “Sekarang kita juga sudah membuka di Medan, Sumatera Utara,” sebutnya.

Melihat kebutuhan masyarakat terhadap ketersediaan guru TK yang profesional, maka YPIC Adzkia pada tahun 1994 membuka Program Diploma I PGTK Adzkia, yang kemudian berkembang menjadi program Diploma 2 PGTK/RA dan PGSD/MI di bawah Naungan Akademi Kependidikan Islam Adzkia (AKIA). Tahun 2003 status Akademi berubah ke arah yang lebih positif yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah yang dinaungi oleh Departemen Agama Republik Indonesia.

Sudah sangat banyak lulusan yang telah dihasilkan oleh AKIA/STIT Adzkia. Lulusan STIT Adzkia bahkan sudah banyak yang diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil baik di Propinsi Sumatera Barat, maupun di luar provinsi Sumatera Barat. Bahkan keberadaan para alumni AKIA/STIT Adzkia ini tidak hanya menduduki jabatan sebagai guru melainkan juga sebagai kepala sekolah terutama lulusan jurusan PGTK Adzkia.

Tahun 2005 Program Diploma 2 tidak diizinkan lagi untuk dibuka sehingga tahun 2007-2008 perguruan tinggi Adzkia fakum. Alhamdulillah tahun 2009, Adzkia diberikan izin penyelenggaraan STKIP Adzkia program S1 PG-PAUD & PGSD di bawah Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia dengan Nomor izin 111/D/O/2009.

Lanjutkan Pendidikan
Di saat Adzkia mulai menapak maju di kota Padang, Irwan tahun 1995 justru terdampar ke negeri jiran Malaysia untuk melanjutkan pendidikan S-2. Awalnya, banyak universitas yang menolak mengingat IP-nya rendah 2,02 sebelum akhirnya Universitas Putra Malaysia (UPM) di Serdang, Kuala Lumpur mau menampung dengan status percobaan satu semester. Namun Irwan malah menantang Prof Hasyim Hamzah, Pembantu Rektor UPM dirinya bisa menyelesaikan studi tiga semester atau satu setengah tahun dari waktu normal enam semester atau tiga tahun.

Tantangan itu terbukti dan memberinya hak menyandang gelar Msc bidang Human Resources Development. Kuliah S-3 pun di kampus yang sama dicapainya dengan gemilang. Irwan lulus S-2 dan S-3 bidang Training Management kali ini dengan nilai A semua, kecuali mata kuliah mengenai hukum
perempuan. Itupun hanya akibat berbeda pendapat dengan dosennya.

Yang menarik, selama pergulatannya di Negeri Jiran Irwan Prayitno harus bekerja keras untuk menghidupi istri dan lima anak, saat itu, yang ikut diboyongnya. Dibutuhkan minimal 2.000 hingga 3.000 ringgit Malaysia per bulan, 10 hingga 20 persen di antaranya untuk kuliah. Sumber pendapatan tak lain dari berdakwah dan berceramah sampai ke London sekalipun. Pesawat terbang atau kereta api adalah tempat biasa untuk mengerjakan tugas-tugas perkuliahan. Itupun masih belum melepaskannya dari pekerjaan rutin di rumah mencuci pakaiannya, istri, dan anak-anak.

Kini, Adzkia telah bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas di Kota Padang, Sumbar umumnya. Dengan Adzkia Irwan telah menyumbangkan sebuah perjuangan membangun pendidikan di Sumbar.

“Bagi saya Adzkia bukanlah untuk mengejar profit, namun bagaimana berperan membangun manusia berkarakter di Ranah Minang,” ujarnya. (mul)

Bangun Rumah Ketimbang Kantor Gub (Raksum 4 Agus 2015)

Dahulukan Bangun Rumah Rakyat dan Kantor, Dibanding Kantor Gubernur

Tanggal 15 Agustus 2010, kurang 11 bulan setelah peristiwa gempa 30 September 2009, dilakukan pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar setelah terpilih melalui Pemilukada. Saat itu, keadaan Sumbar tak jauh berubah, Sumbar masih dalam keadaan porak-poranda.

“Kami dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar ketika itu di gudang atau garase Gedung DPRD Sumbar. Peserta sidang dan tamu undangan memenuhi gudang yang secara darurat disulap menjadi gedung pertemuan, membuat suasana makin terasa sempit, sumpek, dan panas. Kantor DPRD Sumbar saat itu mengalami rusak berat sehingga untuk sementara tak bisa digunakan,” ujar Irwan Prayitno kepada Rakyat Sumbar, kemarin (3/8).

Kantor Gubernur Sumbar juga tak jauh berbeda. Kantor berlantai empat yang biasa disebut rumah bagonjong ini juga mengalami rusak berat. Ratusan karyawan terpaksa berkantor darurat di bangunan yang sebelumnya adalah gedung pertemuan (aula).

Di instansi lain, kebanyakan SKPD terpaksa membangun barak-barak darurat sebagai kantor tempat bekerja. “Saya dan Pak Wagub terpaksa berkantor secara darurat di rumah, dan bangunan bekas Kantor PKK Provinsi,” ujarnya.

Sekitar 200.000 rumah penduduk rusak, sekolah, rumah ibadah, jalan dan berbagai fasilitas umum lainnya lumpuh.

Itulah tantangan pertama yang harus dihadapi Gubernur, Wakil Gubernur dan Pemprov Sumbar di awal masa tugasnya, menata Sumatera Barat yang tengah porak-poranda. Persoalan yang dihadapi tidak hanya masalah bangunan fisik dan berbagai infrastruktur yang porak-poranda, tetapi juga masalah nonfisik.

Peristiwa dahsyat ini tidak hanya menghancurkan bangunan fisik, tetapi juga memukul mental masyarakat. Peristiwa ini menimbulkan trauma dan ketakutan yang mendalam, banyak masyarakat yang eksodus meninggalkan Sumbar Barat, termasuk pengusaha dan investor. Banyak yang meramalkan saat itu, kota-kota yang terletak di kawasan pantai akan menjadi kota mati ditinggal penduduknya untuk menghindari amukan gempa dan tsunami.

“Tugas, tetaplah tugas meski berat, ini harus dilakukan dengan serius. Siang malam, kami bersama Wakil Gubernur, unsur Forkopimda dan semua kepala SKPD bekerja keras. Dengan dukungan masyarakat Sumbar, baik yang ada di daerah apalagi yang berdomisili di rantau, pemerintah pusat maupun internasional serta media massa, bahu-membahu mengatasi masalah itu,” ungkapnya.

Pemprov Sumbar bersama Forkopimda mengadakan rapat setiap hari, rata-rata tiap malam, untuk menggerakkan, memotivasi serta mengevaluasi upaya penanggulangan pasca gempa. Sampai sekarang pun, untuk efisiensi waktu, rapat-rapat umumnya dilakukan malam hari dan hari libur.

Penanganan dilakukan secara serius, segala usaha diupayakan untuk mengatasi setiap persoalan yang timbul, tak lupa pula berdoa semoga banyak pihak digerakkan hatinya untuk membantu Sumatera Barat dan daerah ini mendapat perlindungan Allah serta dijauhkan dari bencana.

Apalagi Sumatera Barat dikenal sebagai daerah supermarket bencana. Banjir, longsor, letusan gunung merapi, abrasi pantai, galodo, gempa bumi, tsunami, angin puting beliung, kemarau panjang, kabut asap pernah terjadi. Karena itu penanganan pembangunan di Sumatera Barat perlu mempertimbangkan situasi dan kondisi kebencanaan tersebut.

“Alhamdulillah, kerja keras, keseriusan serta doa kita rakyat Sumbar, tidak sia-sia. Upaya serius, kerja keras dan doa tersebut membuat berbagai pihak bersimpati turun tangan membantu. Dengan dana APBD dan dana masyarakat sendiri, semua kerusakan itu tak mungkin bisa dipulihkan. Pemerintah pusat mengucurkan dana sebesar Rp2,7 triliun lebih untuk rehab rekon Sumatera Barat. Para perantau tak kurang mengucurkan pula dana untuk kampungnya, begitu juga pihak lain, negara sahabat, perusahaan, donatur dan berbagai pihak yang tak mungkin disebutkan satu per satu,” jelas Irwan Prayitno.

Kerja keras dan profesional, serta saling bahu-membahu multi stake holders ini mendapat apresiasi dari pemerintah pusat yaitu mendapat empat penghargaan sekaligus: Terbaik I Nasional dalam pelaksanaan Tanggap Darurat,Terbaik I Nasional dalam Pelaksanaan Rehab Rekon Pascabencana, Terbaik II Kategori Akuntabilitas Bidang Kebencanaan dan Terbaik III Bidang Mitigasi. Penghargaan ini diterima pada tahun 2011.

Pada tahun 2013 diperoleh lagi penghargaan Rehab Rekon Tercepat. Sumbar berhasil menyelesaikan rehab rekon sebanyak 197.636 rumah masyarakat yang menelan dana sebesar Rp 2,714 triliun dengan tepat waktu.

Saat ke Sumbar, memang berkali-kali Kepala BNPB Syamsul Maarif mengatakan bahwa Sumatera Barat patut dijadikan contoh dalam pelaksanaan penanganan pascabencana. Syamsul Maarif juga mengatakan Pemerintah Pusat tidak ragu-ragu mengucurkan dana dalam jumlah besar ke Sumbar, karena yakin dana tersebut pasti dimanfaatkan sebagaimana mestinya dan bisa dipertanggungjawabkan.

Kini pemandangan seperti 3 atau 4 tahun lalu itu tak nampak lagi, bahkan nyaris tak berbekas. Kantor-kantor yang dulu roboh telah dibangun lagi dan diganti dengan yang lebih baik dan lebih kokoh. Begitu juga rumah masyarakat dan fasilitas-fasilitas umum yang dulu luluh-lantak telah dibangun lagi dan kembali berfungsi normal. Hotel-hotel berbintang dan aktivitas ekonomi lainnya menggeliat.

Suasana mencekam, kini tak terlihat lagi bahkan nyaris terlupakan. “Saya lebih mendahulukan membangun rumah rakyat dan kantor pemerintahan, dibandingkan kantor gubernur,” tutup IP. (mul)

Rakyat Sumbar, 4 Agustus 2015

Ratusan Karateka Lulus Ujian Kenaikan Sabut Inkanas (Padek 24 Agus 2015)

Ratusan Karateka Lulus Ujian Kenaikan Sabuk Inkanas

Baso, Padek—Sebanyak 183 karateka berhasil lulus ujian kenaikan sabuk dalam Gashuku dan Ujian Nasional Inkanas (Institut Karate-DO Nasional) Wilayah Sumatera di lapangan kampus IPDN Baso, Kabupaten Agam, kemarin (23/8). Selain dihadiri majelis tinggi dan dewan guru, kegiatan ini juga diikuti mantan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno.

Para peserta yang berhasil lulus kenaikan tingkat sabuk itu, terdiri dari sabuk cokelat ke DAN I 99 orang, DAN I ke DAN II 68, dan DAN II ke DAN III 16. Uji kenaikan sabuk ini dihadiri Majelis Tinggi Apris Hamid, Rere E Soepardi. Lalu, Dewan Guru Ellong Tjandra, Syamsu Bahar, M Saleh Mallawat, AKBP Rosmawi, Indra Yurmansyah, dan Kompol Surya Malindra.

Dalam kesempatan ini, Irwan terlihat berlatih bersama peserta, majelis tinggi dan dewan guru pada Sabtu (22/8). Pria pemilik sabuk DAN IV ini terlihat memperagakan gerakan dasar, termasuk gerakan khas Inkanas lainnya. Irwan sendiri mengaku sudah mulai latihan karate ini sejak duduk di sekolah dasar.

Ketua Dewan Guru Ellong Tjandra menuturkan bahwa pihaknya memang sengaja memecah ujian kenaikan sabuk ini per regional, guna memudahkan dan menghemat biaya akomodasi peserta. Khusus ujian kali ini, menurut pria pemegang sabuk DAN VII itu, diikuti 183 karateka berasal dari 11 provinsi di Sumatera.

Nah, salah syarat ujian kenaikan sabuk ini, harus dihadiri oleh dewan guru. Itulah sebabnya, saya bersama beberapa dewan guru termasuk majelis tinggi hadir. Namun perlu dicatat, ujian per regional ini hanya sampai kenaikan sabuk DAN III. Sedangkan kenaikan sabuk DAN III ke DAN IV dan seterusnya diadakan secara nasional,” sebut pria berasal dari Makassar itu.

Dalam ujian ini, tambahnya, para karateka diminta memperagakan kihon (gerakan dasar), kata (keindahan gerakan), serta kumite (perkelahian). Nantinya, dewan guru menilai aksi setiap karateka. Bila berhasil, tentu mereka berhak memperoleh kenaikan sabuk. Begitu pula sebaliknya, harus mengulangnya kembali.

Ellong menuturkan bahwa perkembangan ilmu beladiri Inkanas di Sumbar sangat mengembirakan. Khusus regional Sumatera ini, hanya Sumut saingan terdekat Sumbar. Bahkan dua mantan gubernurnya menyabet DAN IV. Selain Irwan Prayitno, juga Gamawan Fauzi yang juga mantan Mendagri. Merujuk pada alasan inilah, Sumbar ditunjuk menjadi lokasi ujian kenaikan tingkat regional Sumatera.

Di sisi lain, Kabid Binas Prestasi Inkanas Sumbar, Mukhtar menuturkan bahwa sebelum ini pihaknya juga sudah melaksanakan ujian kenaikan sabuk, mulai sabuk putih sampai cokelat. Dalam ujian yang dilaksanakan masing-masing pengurus cabang pada Maret 2015 itu, diikuti 1.300 karateka. Sedangkan secara keseluruhan jumlah anggota Inkanas Sumbar sekitar 3.000 karateka.

Di samping ujian kenaikan tingkat, pihaknya juga rutin menggelar kompetisi salah satunya kejuaraan daerah (kejurda) biasanya dilaksanakan awal Februari. “Beberapa kejuaraan lainnya juga kerap kita gelar,” ujar Mukhtar. Sejauh ini, terdapat 17 pengurus cabang (pengcab) Inkanas di Sumbar minus Kepulauan Mentawai dan Sawahlunto. Di kedua daerah ini, belum ada karateka menyandang sabuk DAN. (rdo)

 

Padek, 24 Agustus 2015

Tanpa Cuti Sabtu Minggu Tetap Kerja (Padek 22 Agus 2015)

Tanpa Cuti, Sabtu-Minggu Tetap Kerja

Komitmen mantan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno membangun Sumbar, jelas tak bisa ditanyakan lagi. Selama lima tahun memimpin Sumbar, hari-harinya diisi dengan banyak pekerjaan. Bapak 10 anak ini seakan tak mengenal waktu. Baginya, tak ada tanggal merah. Sabtu dan Minggu tetap kerja guna memberikan yang terbaik bagi rakyat Sumbar.

Malahan, Sabtu dan Minggu menjadi jadwal padat baginya. Di samping meninjau perkembangan pekerjaan yang didanai APBD Provinsi di daerah, Irwan juga kerap diminta menjadi saksi nikah, khotbah nikah, atau menghadiri pesta pernikahan. Namun untuk yang terakhir, dilakukan di sela-sela kegiatannya meninjau atau menghadiri acara kedaerahan.

Saking padatnya kegiatan Sabtu dan Minggu, bila kita ingin bertemu dengan beliau di kedua hari itu, mesti menghubungi beliau sebelumnya. Bila tidak, bukan tak mungkin tidak ketemu akibat Irwan sudah memiliki agenda. Apakah menghadiri acara atau melakukan kunjungan ke daerah atau kegiatan lainnya yang biasanya memakan waktu.

“Ya, bagi beliau seakan tak ada waktu libur. Setelah dihadapkan pada padatnya jadwal di hari kerja, biasanya berlanjut di hari-hari libur Sabtu dan Minggu plus tanggal merah. Bahkan bila ada kejadian yang menyita perhatian publik seperti longsor, gempa atau lainnya, biasanya kegiatan beliau lebih padat lagi,” sebut teman dekat Irwan, Rinaldi.

Keseriusan Irwan membangun daerah juga dibuktikan dengan tidak pernah mengambil cuti selama lima tahun terakhir. Keputusannya ini diamini sejumlah pejabat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Ali Musri misalnya. Kepala Dinas Pengelolaan Sumberdaya Air (PSDA) Sumbar ini, mengakui bahwa mantan atasannya itu tidak pernah mengambil cuti selama lima tahun terakhir.

“Beliau selalu energik, termasuk meninjau pengerjaan proyek-proyek infrastruktur air di daerah. Beliau seakan tak ingin proyek infrastruktur yang didanai melalui uang rakyat terbengkalai atau tak sesuai ketentuan. Setiap kali kunjungan ke lapangan, pastilah beliau mengingatkan pihak terkait bekerja sesuai ketentuan, sehingga hasil kerjanya bisa bermanfaat lebih bagi masyarakat,” sebut rang Padangpariaman ini.

Teman dekat Irwan, Yongki Salmeno menilai, pola kerja Irwan seperti bola salju. Makin lama makin cepat, makin besar dan sulit dihentikan. Ada dua sopir dan dua ajudan yang mendampingi Irwan sehari-hari. Namun, tak ada ada yang sanggup mendampingi dan mengikuti perjalanan Irwan full seminggu penuh.

Meski beraktivitas rutin dari subuh hingga larut malam, tidak pernah sekali pun dirinya melihat Irwan pulang ke rumah untuk istirahat tidur siang. “Juga, belum pernah satu hari pun istirahat karena sakit. Sementara kami yang mendampingi, meski dengan sistem gantian, sudah bergiliran sakit dan terpaksa beristirahat total,” terangnya.

Lantas apa yang membuat Irwan seperti itu? Menurut suami Nevi Irwan Prayitno itu, kuncinya cuma satu, ikhlas. Dengan keikhlasan, dirinya bisa merasa enjoy (santai, red) menjalani semua tugas dan tanggung jawabnya sebagai kepala daerah. “Dengan ikhlas, saya tidak pernah menganggap semuanya jadi beban,” ujar rang Kuranji Padang itu.

Kini Irwan berpasangan dengan Nasrul Abit maju sebagai calon gubernur/wakil gubernur periode 2016-2021, ingin mewujudkan impian masyarakat Sumbar yang sejahtera di masa mendatang.

Sekian banyak perkampungan pelosok yang dikunjunginya, tentu belum semuanya dapat dituntaskan pembangunannya dalam waktu lima tahun. Apalagi di awal kepemimpinannya dihadapkan musibah, berkat kerja keras dan kuatnya jaringan sebagai mantan anggota parlemen tiga periode, sehingga rumah masyarakat yang terkena dampak bencana gempa bumi tuntas dibangun, gedung-gedung pemerintahan berdiri mega lagi dan sejumlah mega proyek sudah diletakan pondasi di akhir masa jabatannya. (*)

 

Padang Ekspres, 22 Agustus 2015

Tanpa Teks Pidato (Padek 21 Agus 2015)

Tanpa Teks Pidato, Biasa Tampil di Pentas Dunia

Melakoni aktivitas begitu padat semasa menjadi gubernur Sumbar, bisa jadi Irwan Prayitno bakal keteteran, terutama dalam membuat pidato di setiap kegiatan. Selain pidatonya bisa monoton dan tanpa gereget, juga membuat Irwan akan kehabisan kreativitas dan inovasi dalam setiap pidatonya.

Namun, ternyata Irwan tidaklah seperti itu. Setiap pidatonya yang dikemukakannya, bernas, mengandung pesan yang kuat, dan penuh kebaruan. Amat jarang setiap Irwan berpidato, memancing kebosanan bagi orang yang mendengarnya. Seakan bapak 10 anaknya ini bisa membaca psikologis pendengarnya.

Setidaknya diakui Kadis Prasarana Jalan dan Tata Permukiman (Prasjal Tarkim) Sumbar Suprapto. Pria yang kerap mendampingi Irwan sejak lima tahun belakangan ini, terkadang dibuat terheran-heran mendengar pidato yang disampaikan mantan pimpinannya tersebut dalam berbagai kesempatan.

“Beliau bahkan mengerti sampai kepada hal-hal teknis dalam suatu proyek. Padahal, kita mengetahui bahwa beliau bukanlah berlatar berlakang ilmu keteknikan. Terkadang saya sering bertanya-tanya pula, darimana beliau bisa mengetahui semua itu,” sebut Suprapto.

Makanya, tambah Suprapto, ketika melakukan peninjauan terhadap suatu pekerjaan, dirinya pun harus menyiapkan data lebih lengkap terhadap pekerjaan itu. Sehingga ketika di lapangan, dia pun bisa menjelaskan pekerjaan itu secara lebih detail. “Kalau tidak, tentu saja saya bisa kerepotan pertanyaan beliau nantinya di lapangan,” akunya.

Padang Ekspres sudah berulang kali mengikuti kegiatan beliau, juga merasakan sendiri bagaimana seorang Irwan berpidato. Biarpun terdapat dua atau tiga kegiatan yang mengharuskannya membuka acara itu, ternyata isi pidatonya berbeda-beda. Tentu saja pesan-pesan yang disampaikannya mengena dan sesuai topic pembahasan di setiap pembahasan tersebut.

Menariknya, pidato Irwan mengalir begitu saja. Artinya, beliau tanpa dibekali dengan naskah pidato yang biasanya disiapkan staf seorang kepala daerah. “Kalau saya mengandalkan teks pidato dari staf, jelas saya akan kerepotan nantinya. Terlebih lagi, terdapat beberapa kegiatan yang hampir berdekatan dengan persoalan yang akan dibahas berbeda pula,” tutur Irwan dalam salah satu kesempatan.

Lalu bagaimana dia menyikapinya? Ternyata kepiawaiannya berpidato sudah berlangsung lama. Artinya, tidak berlangsung instan. Selain kegemarannya membaca sejak duduk di bangku sekolah dulu, Irwan termasuk pribadi yang selalu ingin mengetahui sesuatu hal.

Sewaktu dia menjadi Ketua Komisi VIII DPR RI selama lima tahun, dia pernah diundang sebagai narasumber soal pertambangan dan energi di berbagai pentas internasional. Tidak terhitung banyaknya. Hingga puluhan kali. Negara yang mengundangnya sebagai pembicara juga tidak tanggung-tanggung. Semuanya negara maju. Seperti, Amerika, Inggris, Jepang, Australia dan Jerman.

Dia pernah tampil sebagai narasumber pada kegiatan seminar Houston Energy Dialogue, Houston, tahun 2001 silam. Saat itu, Irwan tampil sebagai pembicara menyampaikan makalah berbahasa Inggris yang berjudul, Legislative Role of the Indonsian House of Representatives in Indonesia’s Legal Reform.

Irwan juga tampil sebagai pembicara, pada seminar yang berlangsung 4 Mei 2001 di Singapura. Saat itu, Irwan menyampaikan makalah berjudul Visions for Indonesian Future, Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS). Irwan Prayitno juga pernah menjadi utusan anggota delegasi Indonesia saat 117th OPEC Konference, Vienna Austria, 26 September 2001.

Selain Amerika Serikat dan Singapura, Irwan juga tampil sebagai pembicara pada seminar internasional di kota-kota besar negara maju lainnya, seperti Fukushima Jepang, New Zealand, Inggris dan Jerman.

Di hadapan pemerintah negara-negara maju dan investor Irwan bicara tentang pemanfaatan potensi energi panas bumi sebagai upaya kemandirian penyediaan energi. Terutama, melalui pembangkit listrik.

“Bila dia sudah ingin mengetahui sesuatu, biasanya dia langsung mempelajarinya secara otodidak, termasuk menanyakan kepada orang yang lebih mengerti terhadap persoalan tersebut. Bahkan, terkadang dia belajar sampai larut hanya untuk mengetahui hal tersebut,” sebut teman dekat Irwan, Yongki Salmeno. (*)

Padang Ekspres, 21 Agustus 2015

 

Jadi Gubernur Langsung Mundur Dari Partai (Padek 20 Agus 2015)

JADI GUBERNUR, LANGSUNG MUNDUR DARI PARTAI

Mengemban jabatan selaku kepala daerah, jelas tak mudah. Selain dihadapkan pada beban tugas tak sedikit sehingga harus menguras tenaga, waktu dan pikiran. Namun, juga kritikan atau pun tudingan yang dilontarkan sejumlah kalangan. Mau tak mau kepala daerah harus fokus menjalankan tugasnya. Bukan malah terbelah mengurus persoalan lain, seperti menjadi pengurus partai.

Nah, tantangan ini sudah dipahami mantan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno jauh sebelum dirinya dilantik menjadi gubernur Sumbar pada 15 Agustus 2010 lalu. Itu pulalah sebab, Irwan harus melepas jabatan yang melekat pada dirinya, tak terkecuali menjadi pengurus di DPW PKS Sumbar. Dia tidak mau direcoki dengan urusan parpol selama menjadi gubernur Sumbar.

Mujurnya, keinginan Irwan ini sejalan dengan kebijakan PKS selaku partai pengusungnya. Sesuai kebijakan PKS, setiap kader terpilih menjadi pejabat publik/termasuk eksekutif, mau tak mau harus mengundurkan diri dari jabatannya di partai. Garisan partai ini berlaku mutlak bagi seluruh kader PKS di mana pun berada.

Selain Irwan yang harus mundur dari jabatannya selaku Ketua Majelis Pertimbangan DPW PKS Sumbar, juga terdapat beberapa kader PKS mundur seusai menjadi pejabat publik. Mulai dari mantan Menkominfo Tifatul Sembiring mundur dari jabatannya di DPP PKS, Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail juga mundur dari jabatannya di partai, dan lainnya.

Ketua DPW PKS Sumbar Trinda Farhan Satria mengakui adanya kebijakan partai tersebut. “Itu semua sesuai dengan garisan DPP PKS dan berlaku mutlak bagi seluruh kader. Mau tak mau kader harus mengikutinya,” sebut anggota DPRD Sumbar yang kini juga mencalonkan diri jadi bakal calon wakil bupati Kabupaten Agam itu.

Nah, keputusan bapak 10 anak ini mundur dari jabatannya di DPW PKS seusai dipastikan memenangkan pemilihan gubenur (Pilgub) Sumbar tahun 2010 lalu, juga didukung mantan Ketua Majelis Syuro DPP PKS Hilmi Aminuddin. “Kita sudah mewakafkan kader terbaik kepada masyarakat Sumbar,” sebut Hilmi tak lama seusai Irwan dilantik jadi gubernur.

Boleh jadi kepala daerah lain menyayangkan adanya kebijakan ini. Soalnya, bagi mereka pengaruh partai sangat berperan bagi kelancaran dan kelanjutan jalannya roda pemerintahan. Tak jarang kepala daerah mati-matian mempertahankan jabatannya selaku ketua partai, biarpun dirinya sudah terpilih dan dilantik menjadi kepala daerah.

Namun tak begitu bagi Irwan. Dia pun mantap melepaskan jabatannya di partai. “Sejak awal, saya sudah berkomitmen ingin menjadi pemimpin bagi rakyat Sumbar, bukan partai. Salah satunya caranya, ya harus melepaskan jabatan di partai. Saya tak ingin mencampur-baurkan urusan partai dengan jabatan saya selaku gubernur Sumbar,” sebut suami Nevi Irwan Prayitno itu.

Ya, begitu lah Irwan. Bila sudah memutuskan dan semuanya sudah sesuai ketentuan, pastilah dia konsisten menjalankannya. Wajarlah kiranya selama menjadi gubernur, Irwan leluasa menjalankan tugasnya selaku gubernur Sumbar. Rata-rata sehari bisa 7 sampai 10 acara yang diikutinya. Tak jarang lokasi acara tersebut saling berjauhan, yang satu di Bukittinggi, satunya lagi di Batusangkar atau bahkan di Dharmasraya, atau waktunya sangat berdekatan, sehingga harus berburu waktu. Soal ini, dia berprinsip lebih baik datang duluan daripada terlambat. Jangan sampai masyarakat kecewa, prinsip itu yang selalu ia jaga.

Boleh dikata, tak ada lagi pelosok Sumbar yang belum dikunjungi Irwan. Sebut saja daerah-daerah terisolir seperti Mentawai, Pasaman, Dharmasraya, Sijunjung atau Solok Selatan. Jika tak bisa dikunjungi dengan kendaraan roda empat, maka daerah itu ia kunjungi menggunakan sepeda motor trail. (*)

Padang Ekspres, 20 Agustus 2015

Nikmati Peran Ayah (Padek 19 Agus 2015)

Nikmati Peran Ayah, Irwan Antar Anak ke Sekolah

Mulai kemarin (18/8), Irwan Prayitno mulai menjalankan hari-hari sebagai manusia biasa. Biarpun begitu, mantan gubernur Sumbar ini terlihat tetap menjalankan segudang aktivitas. Tentunya, bukan aktivitas seorang pejabat daerah. Namun, seorang ayah bagi anak-anaknya, suami bagi istrinya, mamak bagi kemenakannya dan lainnya.

Tak ubahnya seperti seorang ayah kebanyakan, kemarin Irwan memulai harinya dengan mengantarkan anak-anaknya ke sekolah. Dengan mengendarai mobil sendiri, Irwan mengantarkan kedua putrinya yang tengah menuntut ilmu di SMAN 1 Padang. Tepatnya, sekitar pukul 06.00. Terlihat keceriaan terpancar di wajah kedua putrinya tersebut.

Selama dalam perjalanan, Irwan terlihat berbincang-bincang hangat dengan kedua putrinya itu. Sesuatu pemandangan yang teramat mahal didapatkan keduanya, terutama selama ayahnya menjadi gubernur Sumbar sejak lima tahun terakhir. Seorang ayah yang mau tak mau, harus terlebih dahulu mengedepankan kepentingan rakyat ketimbangan pribadi dan keluarga.

Nah, selepas ayahnya sudah menyelesaikan amanahnya selaku orang nomor satu di Sumbar, barulah kesabaran keduanya terbayar. Ya, salah satunya mereka bisa lebih dekat dengan sang ayah. Tak hanya pergi ke sekolah, namun juga pergi jalan-jalan, bersenda gurau, atau lainnya.

Tak hanya kedua sang putrinya, Irwan pun tampak menikmati hari-harinya. Menggunakan kaos oblong berwarna putih, Irwan terlihat rileks dan santai. “Momen-momen seperti ini, jelas tak bisa secara leluasa saya lakukan sewaktu jadi gubernur. Inilah salah satu cara saya membayar kesabaran mereka selama lima tahun terakhir,” sebut putra Kuranji Padang itu.

Satu kejadian tak terduga terjadi ketika Irwan sampai di depan gerbang SMAN 1 Padang. Sewaktu Irwan menunggu kesempatan berputar haluan akibat macet, tak disangka sosoknya diketahui oleh sang satpam. Tanpa babibu, sang satpam membantu Irwan memutar haluan mobilnya. Padahal di lokasi tersebut, sebetulnya kurang diperkenankan berputar.

Merasa tak mau diistimewakan, Irwan pun menolaknya. Karena dia tahu, posisinya sekarang sama dengan orangtua siswa lainnya. Artinya, kalau tidak boleh berputar di lokasi itu, mau tak mau dia juga harus mengikuti aturan. Namun entah mengapa, sang satpam tetap ngotot. Irwan pun tak punya pilihan dan mengikuti arahan sang satpam.

Kejadian tak disangka itu, juga diketahui orangtua siswa lainnya. Beberapa orangtua pun terlihat menyapa hangat sang mantan gubernur. Tak ingin keberadaannya kian memperparah kemacetan, Irwan pun tahu diri. Setelah bertegur sapa dengan beberapa orangtua siswa, Irwan pun memilih berlalu dari lokasi. “Kalau saya berlama-lama di situ, tentu bisa merugikan orang lain,” tutur suami Nevi Irwan Prayitno itu.

Selepas itu, agenda Irwan berlanjut dengan silaturahmi bersama jajaran kepolisian. Selama menjadi gubernur, Irwan mengakui betapa pentingnya peran jajaran kepolisian ini. Selain menjaga keamanan dan ketertiban di Sumbar, juga turut memperlancar dan memudahkan dirinya dalam menjalankan tugas-tugas selaku gubernur. Terlebih lagi, salah seorang ajudannya berasal dari kepolisian.

Sesudah itu, Irwan pun melakukan sejumlah pertemuan guna mempererat silaturahmi, termasuk bersilaturahmi dengan beberapa wartawan di Sumbar. Tadi malam, Irwan pun melakukan pisah sambut dengan penjabat gubernur Sumbar Reydonnyzar Moenek di Auditorium Gubernuran Sumbar. Intinya, jadwal Irwan tetap padat kendati tak lagi menjadi gubernur Sumbar. (*)

Padang Ekspres, 19 Agustus 2015

 

Jarang Pakai Benggo (Padek 18 Agus 2015)

Jarang Pakai Benggo, Abaikan Simbol-simbol

BOLEH jadi bagi sebagian kepala daerah memakai benggo menjadi sebuah kebanggaan. Saking bangganya terhadap simbol kepala daerah itu, tak sedikit kepala daerah mengubah ukuran benggo itu tak sesuai ketentuan. Atau malah selalu memakainya ke mana pun pergi, siang ataupun malam.

Namun, tak begitu bagi Irwan Prayitno selama menjadi gubernur Sumbar. Boleh dikatakan, bapak 10 anak ini teramat jarang memakai benggo tersebut. Baginya apalah arti sebuah simbol, bila semua itu malah membuat dirinya berjarak dengan masyarakat.

“Bila simbol-simbol itu membuat saya menjauh dari masyarakat yang saya pimpin, tentu lebih baik simbol-simbol itu dilepas,” sebut pria yang baru saja melepas jabatan gubernurnya itu dalam salah satu kesempatan. Kini, dia bersama keluarganya tinggal di rumah istrinya di kawasan Kotolalang, Lubukkilangan, Padang.

Bukan tanpa tantangan bagi Irwan membuat keputusan seperti itu. Beberapa kalangan yang mengagungkan simbol, kerap mengkritiknya. Ada yang menyebut Irwan tak mengerti aturan, kurang tertiblah atau lainnya. Namun begitulah Irwan, bila itu dinilainya sudah benar dan sesuai ketentuan, pastilah Irwan komit menjalankannya.

Ternyata keputusan Irwan, ternyata tidaklah salah. Putra Kuranji Padang ini terlihat lebih leluasa menjalankan tugasnya, terutama bertemu masyarakat. Tanpa disemati simbol-simbol, masyarakat pun leluasa berdekatan dengan Irwan. Tak hanya menyapa, namun tak sedikit pula berfoto-foto selfie dan lainnya.

Tak jarang dalam kunjungannya, Irwan leluasa berbincang-bincang dengan masyarakat, menggendong bayi atau lainnya. Ini pulalah yang membuatnya banyak mendapat simpati dari masyarakat. Seakan tak ada batas antara kepala daerah dengan masyarakatnya.

“Memang seperti inilah gubernur seharusnya. Tak banyak aturan dan berbaur dengan masyarakat,” sebut seorang warga dalam salah satu kunjungan Irwan ke daerah. Menanggapi itu, Irwan hanya tersenyum. “Tarimo kasih amak-amak dan apak-amak sadonyo, yo saperti ikolah ambo biasonyo (Terima kasih ibu-ibu dan bapak-bapak semuanya, ya seperti inilah saya biasanya),” sebuat Irwan.

Menariknya, dalam kunjungan ke lapangan, Irwan juga biasa berbaur dengan para staf. Ketika hendak beristirahat makan, Irwan tak memandang tempat makan itu mesti berkelas. Ia bisa makan di warung sederhana. Ketika makan, ia biasa mengajak pengawal, staf, serta warga duduk semeja. Irwan pun biasa makan nasi bungkus di lapangan.

Yongki Salmeno, teman dekat Irwan, mengakui bahwa kedekatan Irwan dengan masyarakat tidaklah dibuat-buat. Itu semua, menurut Yongki, tak terlepas dari gaya Irwan dari dulu-dulunya yang tidak mengagung-agungkan simbol. Itu jugalah yang membuat sahabat-sahabatnya dekat dengan dirinya.

“Bagi beliau persahabatan dan tali silaturahmi sesuatu yang teramat mahal, ketimbang sebuah simbol. Kepribadian seperti ini bukanlah dibuat-buatnya, tapi sudah ada jauh sebelum dirinya menjadi gubernur,” aku Yongki.

Pernah seseorang meminta Irwan mengubah gayanya, namun Irwan punya jawaban sendiri. “Jangan paksa saya mengubah gaya hidup saya, karena bagi saya fasilitas jabatan apa pun adalah sunah, kewenangan justru suatu kewajiban bagi saya,” katanya.

Tak jarang Irwan menggunakan mobil pribadinya untuk melaksanakn tugas. Bahkan, untuk menjemput tamu Pemprov Sumbar dari Jakarta, Irwan masih menggunakan mobil pribadinya, bukan mobil dinas. Kondisi itu juga berlaku dengan sang istri Nevi Irwan Prayitno.

Padang Ekspres, 18 Agustus 2015

Gubernur yang Juga Orang Biasa (Padek 14 Agus 2015)

Gubernur yang Juga Orang Biasa

Boleh jadi banyak orang kesal terhadap ulah kepala daerah yang berubah 180 derajat seusai menjadi kepala daerah. Misalnya saja dulu sebelum jadi kepala daerah “ngemis-ngemis” minta dukungan, namun sekarang seakan “haram” mengangkat telepon. Kalau ponselnya mati, atau paling banter harus berhubungan dengan ajudan terlebih dahulu.

Namun anggapan ini tidak berlaku bagi Gubernur Sumbar Irwan Prayitno. Seakan tak ada perubahan mencolok yang terjadi dalam diri suami Nevi Irwan Prayitno pascadilantik jadi gubernur pada 15 Agustus 2010 lalu. Malahan, sejak awal Irwan seakan sudah “memproklamirkan” antiprotokoler. Kalaupun tetap ada protokoler, biasanya bila sedang menghadiri acara resmi atau mengikuti rapat di Istana Negara.

Bagi Irwan jabatan gubernur hanyalah amanah yang nantinya harus dipertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan. Jadi, bukan menjadi penghalangnya untuk senantiasa dekat dengan masyarakat. Bukan juga membuat dirinya jauh dari orang-orang yang dikenalnya sebelum jadi gubernur. Sebaliknya, dia seakan lebih leluasa menjaga dan membina hubungan silaturahmi dengan masyarakat.

Contoh paling ringan, ketika beliau dihubungi lewat ponselnya. Bila tak diangkat, boleh jadi Irwan sedang mengikuti acara dan tidak bisa diganggu. Makanya, cukup dikirim pesan pendek saja kepada beliau. Tak lama setelah acara, biasanya dia menelepon ulang. Berbeda bila dirinya tak sibuk, pastilah dia mengangkat ponselnya.

Agaknya itulah dirasakan Arfan, wartawan Posmetro Padang. “Jarang kepala daerah yang kooperatif seperti beliau. Biasanya baru saja setelah dilantik, mulai dari situlah terlihat perubahan dalam diri seorang kepala daerah. Bila dulunya gampang dihubungi, sekarang jangan harap seperti itu. Kalau tidak ponselnya mati, atau tidak bakalan diangkat-angkatnya. Bila ngotot juga, harus berhubungan dulu dengan ajudan atau humas,” tuturnya.

Bila sama bapak 10 anak ini, Arfan mengaku sangat leluasa. Bila tak lagi sibuk, pastilah diangkat oleh orang nomor satu di Sumbar itu. Bila tidak, beberapa saat setelah itu, biasanya dihubungi lagi. “Kadang kita segan pula menghubungi beliau malam-malam, namun karena ada yang harus dikonfirmasikan kepada beliau, mau tak mau kita pun menghubunginya. Ternyata, beliau tetap antusias dan bersemangat,” ujarnya.

Menariknya, tambah Arfan, selama menjabat lima tahun terakhir, nyaris tidak ada intervensi dilakukan Irwan terhadap media. Kalaupun ada yang ingin diklarifikasinya, pastilah terlebih dahulu dikonfirmasikannya kepada pimpinan media bersangkutan. “Baginya, apa pun yang diberitakan yang menyangkut dirinya, tak jadi masalah. Cuma saja, harus didukung data yang kuat,” jelas Arfan.

Biasa Naik Pesawat Ekonomi

Dalam berpergian, Irwan sudah terbiasa naik pesawat kelas ekonomi. “Saya sebenarnya tak mau terlalu jauh membahas soal itu (penerbangan di kelas ekonomi). Karena memang tidak ada maksud apa-apa, dan saya juga sudah terbiasa seperti ini. Duduk di kelas ekonomi itulah saya. Nikmatnya naik pesawat itu adalah saat take off tertidur dan ketika landing terbangun,” akunya.
Itulah sebabnya, selama menjadi gubernur, sudah tak menghitung lagi berapa ratus kali dia naik pesawat. Dan selama itu pulalah, dirinya mencatatkan diri sebagai ‘penumpang setia’ di kelas ekonomi. Tanpa harus merasa risih dan canggung ketika berbaur dengan ratusan penumpang pesawat lainnya dari kalangan rakyat biasa.

“Walaupun sebenarnya ada jatah di kelas bisnis. Namun, bagi saya kelas ekonomi atau bisnis itu sama saja, tak ada bedanya. Justru di kelas ekonomi jauh lebih baik, karena saya bisa berkomunikasi dengan masyarakat,” ujar pria yang sudah menghasilkan ratusan artikel itu.

Hal menarik lainnya, selama menjadi gubernur sejak dilantik 2010, dirinya juga baru menikmati fasilitas berupa mobil dinas (mobnas) baru persis di tahun ke-4 kepemimpinannya. Sebelumnya, dia justru lebih sering menggunakan mobil pribadi yang disulapnya menjadi kendaraan operasional kedinasan. Kebijakan pemakaian mobil pribadi ini, juga diberlakukan untuk kepentingan istri dan anak-anaknya. “Dulu pada awal menjabat, masukan untuk pembelian mobil dinas baru, saya tolak. Karena buat apa beli yang baru, toh mobil yang lama masih bisa jalan,” ujarnya.

Dalam kesehariannya, Irwan di berbagai kesempatan juga terlihat tak pernah mengenakan atribut gubernur. “Jangan paksa saya mengubah style hidup saya. Bagi saya, tampil sederhana tanpa atribut dan minim protokoler adalah simbol kedekatan dan tidak adanya pembatas antara pemimpin dengan rakyat. Protokoler dan atribut hanya akan menjauhkan pemimpin dengan rakyatnya. Sungguh, saya tak ingin begitu, karena saya juga manusia biasa,” ujar putra Kuranji Padang itu. (*)

Padang Ekspres, 14 Agustus 2015

 

Bangun Dulu Rumah Rakyat (Padek 13 Agus 2015)

Bangun Dulu Rumah Rakyat, Baru Kantor Gubernur

Bila melaju di ruas Jalan Sudirman Padang tepatnya depan kantor Gubernur Sumbar, pastilah banyak orang bertanya-tanya kenapa belum juga rumah bagonjong itu diperbaiki. Tentu orang yang paling disorot jelaslah mengarah pada Gubernur Sumbar Irwan Prayitno. Terlebih lagi, orang nomor satu ini bakal mengakhir jabatannya selaku gubernur periode 2010-2015.

Sebetulnya, sah-sah saja orang berargumen terhadap kenyataan tersebut. Kenapa gedung itu tak juga direnovasi? Apakah gedung itu tak penting lagi? Atau, pertanyaan lainnya yang bernada negatif terhadap kinerja gubernur yang tengah menjabat.

Namun jelas sedikit orang yang tahu, kenapa itu terjadi. Ya, semuanya tak terlepas dari komitmen Irwan yang lebih mendahulukan membangun/memperbaiki rumah korban gempa dan membangun kantor yang berhubungan langsung dengan pelayanan publik. Bila itu sudah selesai, barulah paling terakhir dibangun/diperbaiki kantor gubernur.

Bapak 10 anak ini bukannya tak menganggap penting perbaikan kantor gubernur. Namun hati kecilnya tak tega ketika dia bisa duduk di ruangan ber-AC dan berfasilitas lengkap, di sisi lain rakyatnya tinggal di tenda-tenda pengungsian. Atau, kinerja satuan kerja perangkat daerah (SKPD)-nya tak berjalan maksimal memberikan pelayanan kepada masyarakat, akibat gedungnya tak representatif.

Itulah sebabnya, Irwan mengurungkan niatnya memperbaiki kantor Gubernur. “Kalau saya mau, bisa saja yang dibangun duluan itu kantor gubernur. Tapi, bagi saya, pembangunan rumah masyarakat dan infrastruktur publik jauh lebih urgent dibandingkan membangun kantor pemerintahan. Sehingga, banyak SKPD yang berkantor di bedeng-bedeng, di rumah-rumah, serta bertumpuk-tumpuk pada satu ruangan pascagempa tersebut,” ujar suami Nevi Irwan Prayitno itu.

Beranjak dari komitmen inilah, Irwan sampai menjelang berakhir jabatannya selaku gubernur periode 2010-2015, berkantor di rumah dinas. Itulah sebabnya, segala aktivitas pemerintahan lebih banyak dijalankan Irwan dari rumah dinasnya. Mulai urusan surat menyurat, menerima tamu, rapat-rapat dan agenda-agenda penting lainnya.

Irwan sendiri mengaku enjoy-enjoy saja berkantor di rumah dinasnya. Biarpun begitu, dia sempat tertegun pula mendengar pertanyaan anaknya yang mempertanyakan di mana sebenarnya kantor ayahnya. Soalnya, sehari-hari mulai bangun tidur, beraktivitas (bila tak ada kunjungan ke luar, red), Irwan lebih banyak di rumah dinas tersebut

“Waktu itu, dia baru saja bertemu dengan wali kota Padang di ruang kerjanya. Dia melihat, kantor sang wali kota begitu bagus termasuk asesoris di dalamnya. Sedangkan ayahnya hanya berkantor di rumah. Namun setelah saya jelaskan, barulah dia memahami,” aku pria yang sudah menghasilkan 40-an buku dari berbagai bidang itu.

Sebetulnya, Irwan bukannya tak pernah ditawari kantor baru tepatnya di escape building (samping kantor gubenur, red). Malahan, waktu itu jajarannya sudah mempersiapkan ruang kantor plus segala perlengkapannya. Namun pas dirinya akan pindah ke ruangan itu, tanpa sengaja dia masuk ke aula di belakang kantor gubernur. Waktu itulah, dia melihat pemandangan tak biasa. Di sana masih banyak biro berkantor. Akibatnya, ruangan itu tak nyaman dijadikan kantor.

“Melihat kejadian itu, saya pun terenyuh dan mengurungkan niat berkantor di escape building. Hari itu juga, saya perintahkan staf untuk merenovasi ulang ruangan yang sejatinya dijadikan ruang kerja tadi, untuk digunakan sebagai tempat biro yang berkantor di aula pindah ke sana. Itulah sebabnya, sampai sekarang saya berkantor di rumah dinas,” ujarnya.

Kepala Dinas Prasarana Jalan dan Tata Permukiman (Prasjal Tarkim) Suprapto mengamini alasan atasannya itu. “Beliaulah minta untuk mendahulukan pembangunan rumah masyarakat dan infrastruktur publik terlebih dahulu. Sebetulnya bisa saja beliau minta kantor gubernur dibangun lebih dahulu, apalagi anggaran yang digelontorkan pascagempa itu memungkinkan untuk itu. Tapi, beliau tak ingin didahulukan,” sebutnya.

Kini menjelang berakhirnya masa jabatannya, barulah perbaikan kantor gubernur dimulai. Kini, gedung bersejarah itu tengah diretrofit (penguatan, red). Bila tak ada aral melintang, gubernur periode mendatang sudah bisa berkantor di rumah bagonjong tersebut. Siapa dia, tentu semuanya ditentukan masyarakat pada 9 Desember mendatang. (*)

Padang Ekspres, 13 Agustus 2015

 

Pantang Menolak Permintaan Tulisan (Padek 12 Agus 2015)

Pantang Menolak Permintaan Tulisan

Menjadi kepala daerah (gubernur, bupati/wali kota, red), pastilah bakal dihadapkan pada aktivitas nan padat. Itu pulalah yang dirasakan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno. Mulai pukul 04.00 sampai 00.00, bapak 10 anak ini sudah dijejali agenda berjubel. Menariknya sesibuk apa pun liau, rang Kuranji Padang ini pantang menolak permintaan tulisan untuk diterbitkan di media massa. Bagaimana bisa?

Jelang berakhirnya Ramadhan 1436 Hijriah lalu, Padang Ekspres meng-order menulis tulisan di kolom Teras Utama. Saat itu, waktunya memang sangat mepet akibat redaksi ditargetkan cetak cepat. Paling lambat tulisan masuk pukul 16.30, sedangkan saat itu jam sudah menunjukkan pukul 14.30. Sebetulnya memang riskan pula meminta beliau menulis dalam waktu mepet itu, terlebih lagi agenda beliau padat pula hari itu.

Dengan sedikit keberanian takut beliau menolak, Padang Ekspres pun menghubungi suami dari Nevi Irwan Prayitno itu lewat ponselnya. Tak lama, beliau pun mengangkat ponselnya. Setelah mengutarakan tujuan menghubungi beliau, ternyata gubernur yang sudah menulis lebih 40 buah buku itu, memberi jawaban yang melegakan.

“Sebetulnya agenda saya memang padat sekarang ini. Ini bersama Kapolda Sumbar Brigjen Pol Bambang Sri Herwanto mau meninjau aktivitas arus mudik di Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Tapi karena Padang Ekspres meminta, saya pun tentu tak bisa menolaknya. Nanti saya kirimkan setelah peninjauan ini,” sahut Irwan di balik ponselnya.

Sempat ketar-ketir, namun mendekati deadline Irwan pun kembali menghubungi guna mengabarkan bahwa tulisan tadi sudah selesai. “Sesuai permintaan, tulisan bertema peranan perantau membangun kampung sudah selesai. Sebentar saya emailkan dulu,” ucap pria pendiri Yayasan Pendidikan Islam Adzkia Padang itu.

Ya, begitulah sosok Irwan Prayitno. Sesibuk apa pun dirinya, bila ada permintaan untuk menulis tulisan di media massa, pastilah dia pantang menolak. Baginya, selama tulisan itu memuat pesan untuk kebaikan bagi masyarakat Sumbar, Irwan bakal meluangkan waktunya. Ini pulalah salah satu kelebihan Irwan selaku gubernur, bisa menulis biarpun waktunya serba mepet.

Menariknya, tulisan yang dihasilkannya itu menggunakan bahwa sederhana yang mudah dimengerti. Bahkan, isi tulisan itu nyaris tak ada mengkritik atau menyinggung perasaan orang lain. Kalau tetap mengkritik, biasanya hanya mengkritik kondisi lingkungan yang dialaminya dengan bahasa yang santun dan tidak menghakimi.

Selain itu, bahasa yang digunakan lebih aplikatif, membumi dan tidak teoritis. Semua ini tak terlepas dari ide penulisan itu lebih banyak berdasarkan pada realita sebenarnya yang dilihat, dirasakan dan dialaminya. Jadi, jangan harap tulisan yang dihasilkannya membuat persoalan baru pula di tengah masyarakat.
Kendati banyak orang menyinggung program-programnya dalam sejumlah tulisan yang dimuat di media massa, tak membuat Irwan terpancing. Kalaupun tetap mau ditanggapi, Irwan biasanya membuat tulisan pula yang isinya lebih banyak menjelaskan bagaimana sebetulnya program tersebut, termasuk landasan dasar, manfaat, dan lainnya.

Kepiawaian Irwan menulis seperti sekarang, ternyata tak terlepas dari kegemarannya menulis sejak duduk di bangku SMA 3 Padang. Waktu masih SMA, dirinya sering menulis apa pun tentang kehidupan yang dijalaninya sehari-hari. Termasuk, hal-hal baru yang ditemukannya. “Seperti saat saya pulang jalan-jalan waktu SMA, saya tulis apa saja pengalaman saya waktu jalan-jalan. Kadang-kadang karya tulisan yang dibuat saya tempel di majalah dinding sekolah,” ujar Irwan.

Ternyata, kebiasaan tersebut berlanjut hingga sekarang. Tidak hanya menulis artikel, dirinya juga membuat berbagai karya buku. Irwan mengaku, ada kepuasan bathin yang dirasakannya setelah menulis. Kepuasan bathin tersebut memunculkan sebuah perasaan bahagia dalam dirinya. “Bathin saya puas setelah menulis. Ada kebahagiaan yang muncul dalam diri, ketika melihat hasil karya saya,” terang Irwan.

Khusus menulis buku, menurut Irwan, dirinya pertama kali menulis buku saat menyelesaikan kuliah S-1 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1982-1988). Buku karya pertamanya berjudul “Anakku, Penyejuk Hatiku”. Buku tersebut memuat tentang ilmu bagaimana mendidik anak dari perspektif ilmu psikologi. Ide lahirnya buku itu berangkat dari pengalamannya sudah memiliki anak.

Lalu, memuat bagaimana pendidikan anak di PAUD. Buku karya pertamanya tersebut, setebal 700 halaman. Irwan tidak menyangka buku karya pertamanya yang dicetak tahun 1990 tersebut, laris manis. Bahkan, sudah lima kali cetakan dan habis terjual.

Selain buku Anakku, Penyejuk Hatiku, juga ada beberapa judul buku psikologi anak lainnya yang ditulis Irwan. Yakni, buku “Ajaklah Anak Bicara”, “ Ketika Anak Marah”, “ 24 Jam Bersama Anak”, “Membangun Potensi Anak” dan “Tips Bergaul dengan Anak”. Tidak hanya menulis buku psikologi anak, Irwan juga menulis beberapa buku tentang pendidikan Islam, pendidikan masyarakat dan managemen SDM.

Hingga sekarang ini, tercatat sudah 40-an buku dihasilkan Irwan. Kalau tulisan/artikel, sejauh ini sudah mencapai 500 lebih karya. Hampir seluruh karya artikelnya telah dimuat di berbagai media cetak. “Mungkin sehabis menjadi gubernur Sumbar, saya bakal menulis buku juga. Tapi, tentu bukan dalam waktu dekat,” ujarnya. (*)

Padang Ekspres, 12 Agustus 2015

 

Bangun Camp Nou Nya Sumbar (Padek 11 Agus 2015)

Bangun “Camp Nou”-nya Sumbar

Bagaimana bila stadion sekaliber Camp Nou, Catalan, Spanyol, Old Trafford, Manchester, Inggris, atau Santiago Bernabéu, Madrid, Spanyol, berdiri di Ranah Minang ini. Jelas membuat opini publik daerah ini terbelah, ada yang mencibir, geleng-geleng kepala, atau malah menyebut pencentus ide kurang waras.

Namun tak begitu bagi seorang Irwan Prayitno, Gubernur Sumbar. Pria yang memiliki perhatian serius dalam pengembangan olahraga di Sumbar ini, jauh-jauh hari juga mengidamkan berdirinya stadion megah berkapasitas besar berdiri di daerah ini.
Kendati sudah tercetus di awal-awal dirinya dilantik tepatnya 15 Agustus 2010 lalu, namun Irwan harus memendam mimpi besarnya tersebut. Irwan tahu benar, bukanlah saatnya merealisasi keinginan waktu itu. Apalagi kalau bukan, saat itu Sumbar masih berduka pasca-dihoyak gempa 30 September 2009 lalu.

Lindu itu bukan hanya merobohkan ribuan rumah rakyat, namun fasilitas publik seperti kantor pemerintahan dan lainnya, tak terkecuali kantor Gubernur Sumbar sendiri. Bisa saja saat itu dirinya ngotot mengapungkan gagasan besar itu, namun Irwan tak ingin membuat hati rakyat terluka.

Terlebih lagi, persoalannya juga tak semudah dibayangkan. Waktu itu, alokasi APBD Sumbar banyak tersedot pada proyek multiyears (tahun jamak, red) dari gubernur terdahulu. Mau tak mau, Irwan pun harus bersabar sampai masa berlakunya proyek multiyears tuntas.

“Bisa saja saya memaksakan pembangunan stadion megah berstandar internasional itu dibangun di awal-awal pemerintahan. Namun, hati kecil saya terenyuh menyaksikan masih banyak fasilitas publik yang perlu dibangun. Jadinya, ide besar itu saya pendam dulu sampai momennya pas,” ujar putra Kuranji Padang itu.

Nah, Kamis (6/8) momen bersejarah di dunia olahraga Sumbar mulai memperlihatkan titik terang. Ya, hari inilah impian masyarakat Sumbar memiliki megah dan berstandar internasional dimulai. Ini seiring dilakukannya ground breaking (peletakan batu pertama, red) pembangunan stadion yang diimpi-impikan tersebut.
Ya, stadion utama Sumbar berlokasi di Sikabu, Kabupaten Padangpariaman, bakal berdiri di atas tanah seluas 38,5 hektare dari 50 hektare yang ditargetkan. Segala hal teknis menyangkut pembangunan, menurut bapak 10 anak ini, sudah tidak ada masalah lagi. Soalnya, sudah ditentukan pemenang tendernya.

Seiring berdirinya stadion ini nantinya, kian melapangkan jalan menjadikan Sumbar menjadi tuan rumah pekan olahraga nasional (PON) 2024 mendatang. Untuk persoalan ini, pemerintah sudah menyiapkannya sejak tahun 2013 lalu. Bahkan Irwan pun sudah meneken MoU dengan bupati/wali kota se-Sumbar guna mempersiapkan venue-nya nantinya. “Stadion Sikabu, jadi stadion utama nantinya,” jelas Irwan.

Sekadar diketahui, pria satu ini tak asing lagi dengan dunia olahraga. Irwan termasuk kepala daerah yang rutin menggeluti dunia olahraga, sebut saja karate, trabas, badminton, dan lainnya. Semua itu dilakukannya bukan hanya sekadar menjalankan hobi, namun Irwan melihat bila olahraga Sumbar maju, pastilah bakal mengangkat harga diri dan kebanggaan Sumbar di pentas nasional maupun internasional.

Khusus karate, siapa pun kudu berhati-hati. Dia bukanlah orang “kemarin sore” dalam bela diri ini. Irwan tercatat memegang DAN IV. Biasanya, seseorang pemegang DAN IV ini boleh dibilang sudah “putuih kaji”.

Khusus trabas, Irwan sudah menunjukkan kehebatannya. Saking maniaknya, Irwan membuat race semipermanen di halaman belakang Gubernuran. Yongki Salmeno, salah seorang sahabat dekatnya, mengakui kemahiran Irwan menunggangi kuda besi itu. “Jatuh dari motor sudah biasa ketika trabas,” terang Yongki.

Lalu bagaimana dengan badminton, tak sepenuhnya terencana. Bila ada waktu lowong selepas menunaikan pekerjaan selaku kepala pemerintahan, Irwan biasanya menggunakan pesan singkat atau BlackBerry Messenger (BBM) janjian bermain badminton.

“Seperti inilah, selepas pekerjaan selesai kita saling ber-SMS dan BBM-an janjian main badminton. Ya, sekadar mengeluarkan peluh,” kata pria bergelar Datuk Rajo Bandaro Basa itu.

Selama melakoni badminton, Irwan mengaku jarang kalah. “Saya tak tahu juga, bila bermain ganda, bisanya salah satu lawan kurang hebat. Jadi, jarang pulalah saya kalah. Atau paling kurang rubber set,” kata Irwan.

Padang Ekspres, 11 Agustus 2015

 

Ciptakan Enam Lagu (padek 10 Feb 2014)

Ciptakan Enam Lagu, Tahu Detail Aktivitas Anak

Sisi Lain Kehidupan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno

“Terbenam” dalam urusan protokoler, seakan nyaris membuat Gubernur Sumbar Irwan Prayitno kehilangan sisi humornya. Namun siapa sangka, putra Kuranji Kota Padang itu, ternyata pandai “mencuri” waktu guna menikmati hidup sebagai orang kebanyakan.

Sambil memetik gitar, pria berkacamata itu terlihat enjoy melantunkan lagu bergenre religius. Sesekali tatapan matanya tertuju pada sesosok perempuan berkerudung biru di sampingnya. Senyum mengembang, tak mau lepas di wajah perempuan berjilbab itu.

Tak ada yang menonjol dalam video klip yang diupload di Youtube pertengahan tahun lalu itu.

Selain sangat sederhana, suasana romantis yang harusnya bisa dijual dalam klip itu, nyaris tak terlihat. Malah terkesan kaku, dan terlalu dipaksakan.

Namun, bukan itu sebetulnya yang menjadi nilai jual video klip berlatar gedung Gubernuran Sumbar itu. Tapi, kedua sosok yang tampil dalam video klip tersebut. Keduanya bukan orang biasa. Bukan artis, bukan pula penyanyi berkelas.

Ya, itulah Gubernur Sumbar Irwan Prayitno bersama istrinya, Hj Nevi. Lagu “Kau Istriku” memang secara khusus diciptakan Irwan buat sang istri. Itulah luapan kerinduan Irwan ketika dibunuh sepi, ditinggalkan istrinya ketika menjalani ibadah umrah ke Mekkah pertengahan tahun lalu.

Di awal – awal kemunculan klip lagu itu, sempat mencuri perhatian masyarakat Sumbar. Kendati begitu sederhana, namun di situlah orang tahu bahwa orang nomor satu di sumbar itu, memiliki jiwa seni. Bukan sekadar menyanyikan lagu orang lain, namun lagu ciptaan sendiri.

“Klip lagu itu memang tak digarap secara serius. Serba mendadak. Idenya muncul selepas santap sahur Ramadhan tahun lalu. Waktu itu, Aris (eksekutif produser padang TV) mengusulkan bagus juga dibikin klip lagu “Kau Istriku”. Tanpa banyak pertimbangan, ya muncullah klip itu,” papar pria yang sudah menulis 40-an judul buku itu.

Awalnya, klip video yang direkam menggunakan video kamera digital biasa itu, hanya untuk konsumsi terbatas. Namun atas inisiatif Aris, klip lagu itu di upload ke youtube. Hanya melalui informasi mulut ke mulut, lagu itu banyak diklik berbagai kalangan. Sejak diupload, tercatat sudah 11 ribu-an orang mengklik lagu itu.

“Ini (lagu Kau Istriku,red) adalah penghargaan pada istri saya, dan begitu pula hendaknya bagi para suami. Selama ini lagu-lagu dari segi cinta, janda dan selingkuhan lebih banyak. Makanya, saya khusus menciptakan lagu untuk istri saya,” kata Irwan.

Lagu Kau Istriku bukanlah lagu pertama dan terakhir yang diciptakan bapak 10 orang anak itu. Paling kurang sudah enam lagu berhasil diciptakannya. Selain Kau Istriku, suami Nevi Zuairina juga menciptakan lagu Kepada Mu, Anakku Penyejuk Hatiku, Ayahku, Allah Taala, dan Rasul Teladanku.

“Semuanya bergenre lagu religi,” aku Irwan yang di tengah kesibukannya masih menyempatkan diri berbagi ilmu dengan mengajar di Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta. Setiap semester (enam bulan, red), Irwan mengajar 12 kali, biasanya setiap Sabtu.

Sebetulnya, tak ada darah seni mengalir dalam diri pria kelahiran 20 Desember 1963 ini, baik dari sang bapak maupun ibunya. Boleh dibilang, Irwan “terpaksa” bersentuhan dengan dunia seni. Bila boleh dibilang, sebuah “kecelakaan”.

Ya, semua itu terjadi sejak Irwan menjadi gubernur. Boleh jadi Irwan “terperangkap” dalam ungkapan “belum bisa menjadi pejabat, bila tak bisa menyanyi”. Biasanya, setiap ada acara, pastilah Irwan diminta membawakan lagu.

“Saya menyukai musik sejak tahun 2012. Setelah menjadi gubernur. Karena, setiap acara, gubernur sering diminta untuk nyanyi. Akhirnya (terpaksa) belajar nyanyi dan juga belajar main drum,” tutur penyuka olahraga ekstrim itu.

Sudah menjadi karakternya, professor ini tak mau setengah-setengah menggeluti sesuatu. Bila sesuatu sudah diputuskannya, sosok Irwan bersungguh-sungguh mencapai keinginan itu. “Sampai pukul 00.00 pun, pastilah akan saya pelajari. Alhamdulillah, akhirnya bisa,” kata Irwan menjelaskan perjuangannya sampai bisa bermain musik dan melagu.

Rinaldi, salah seorang sahabat dekat Irwan, mengakui seperti itulah (bersungguh-sungguh,red) seorang Irwan. “Beliau tak akan pernah berhenti, bila keinginannya belum tercapai. Begitu juga dalam belajar nyanyi atau main drum. Selepas seluruh pekerjaannya selesai, dia terus belajar sampai berhasil,” aku Rinaldi.

Nah, berkat kerja kerasnya belajar menyanyi dan bemain music, kini Irwan bertambah percaya diri. Bahkan, pada penutupan Pameran Teknologi Tepat Guna di GOR H agus Salim, Irwan berkolaborasi dengan grup band GiGi menyanyikan lagu “Akhirnya”. Jumat (7/2) lalu, Irwan disaksikan seribu pasang mata tampil membawakan lagu “kau Istriku” diiringi orchestra di Institut Seni Indonesia Padang Panjang (ISI).

Karate, Badminton, Trabas

Bermain musik, ternyata bukanlah satu – satunya hobi pria asal Taratakpaneh, Kuranji itu. Ketika Padang Ekspres menyambangi rumah dinas Gubernur, Selasa (11/2) petang, si tuan rumah sedang bersiap bermain badminton ba’da Maghrib. Paginya (Rabu, 12/2) berlatih karate.

Ya, berbeda dengan musik, Irwan memang penyuka badminton dan karate. Untuk badminton, tak sepenuhnya terencana. Bila ada waktu lowong selepas menunaikan pekerjaan selaku kepala pemerintahan, Irwan biasanya menggunakan pesan singkat atau Blackberry messenger (BBM) janjian bermain badminton.

“Seperti inilah, selepas pekerjaan selesai kita saling ber SMS dan BBM-an janjian main badminton. Ya, sekadar mengeluarkan peluh,” kata pria bergelar Datuk Rajo Bandaro Basa itu. Selama melakoni badminton, Irwan mengaku jarang kalah.

“Saya tak tahu juga, bila bermain ganda, biasanya salah satu lawan kurang hebat. Jadi, jarang pulalah saya kalah. Atau paling kurang rubber set,” kata pria yang rutin puasa Senin – Kamis. Satu –satunya yang membuat dirinya “terpaksa” berbuka, bila menjamu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Khusus karate, siapa pun kudu berhati – hati. Dia bukanlah orang “kemarin sore” dalam bela diri ini. Irwan tercatat memgang DAN IV. Biasanya, seseorang pemegang DAN IV ini boleh dibilang sudah “putuih kaji”.

Khusus trabas, Irwan sudah menunjukkan kehebatannya. Saking maniaknya, Irwan membuat race semipermanen di halaman belakang Gubernuran.

Yongki Salmeno, salah seorang sahabat dekatnya, mengakui kemahiran Irwan menunggangi kuda besi itu. “Jatuh dari motor sudah biasa ketika trabas,” terang Yongki.

Sayang Keluarga

Sesibuk apapun, namanya keluarga tetap tak luput dari pikirannya. Suwirman, sahabat dekat Irwan, merasakan sendiri bagaimana perhatian Irwan pada keluarganya. Bahkan, Irwan tak segan langsung mendaftarkan anaknya masuk sekolah. “Menyangkut pendidikan anak, beliau tak segan turun tangan. Mendaftarkan sekolah, atau mengambil rapor anak,” sebut Komisaris Utama Askrida itu.

Sampai hal – hal kecil seperti membeli pensil pun, tambah Suwirman, Irwan mengetahuinya. Begitu pula ketika si sulung Jundi Fadhlillah, yang tengah berkuliah di Southern New Hampshire University, Amerika, terbentur persoalan visa. “Beliau langsung menghubungi Kedubes setempat. Hanya butuh waktu singkat, visa abnk selesai,” sebut Suwirman.

Rinaldi juga memiliki pengalaman sendiri pada sosok satu ini. “Biasanya, sesibuk apa pun beliau, selalu Shalat Maghrib berjamaah kalau sedang di rumah,” kata Rinaldi yang juga ketua PPNSI Sumbar itu.

Irwan mengakui sendiri betapa kuatnya dukungan keluarga dalam karirnya. Itulah sebabnya, Irwan benar – benar senantiasa menjaga keharmonisan keluarganya. Termasuk, berkomunikasi dengan istri dan anaknya.

“Paling kurang sekali 4-5 jam, pastilah saya atau istri saling menelpon. Ya, sekadar mengetahui keberadaan dan kabarnya. Begitu juga dengan anak-anak, biasanya kita menggunakan grup BBM berbagi komunikasi. Bila kangen betul, kita biasanya menggunakan Skype berbincang dengan anak-anak yang berada di luar negeri,” aku Irwan.

Bila komunikasi harmonis, Irwan mengaku lebih lapang dalam bekerja.

Padang Ekspres, 10 Februari 2014

 

Menyanyi atau Main Band (Padek 10 Agus 2015)

Menyanyi atau Main Band, Semuanya jadi Sarana Dakwah

SAMBIL memetik gitar, pria berkacamata itu terlihat enjoy melantunkan lagu bergenre religius. Sesekali tatapan matanya tertuju pada sosok perempuan berkerudung biru di sampingnya. Senyum mengembang, tak mau lepas di wajah perempuan berjilbab itu.

Ya, itulah cuplikan video klip “Kau Istriku” yang diciptakan sekaligus dinyanyikan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno melibatkan istrinya, Hj Nevi. Lagu “Kau Istriku” memang khusus diciptakan Irwan buat sang istri, sebagai luapan kerinduannya terhadap sang istri yang tengah umrah ke Mekkah pertengahan tahun 2013 lalu.

Di awal-awal kemunculan klip lagu itu, sempat mencuri perhatian masyarakat Sumbar. Kendati begitu sederhana, namun di situlah orang tahu bahwa orang nomor satu di Sumbar itu memiliki jiwa seni. Bukan sekadar menyanyikan lagu orang lain, namun lagu ciptaan sendiri.

“Klip lagu itu memang tak digarap secara serius. Serba mendadak. Idenya muncul selepas santap sahur Ramadhan 2013 lalu,” papar pria yang sudah menulis 40-an judul buku itu.

Awalnya, klip video yang direkam menggunakan video kamera digital biasa itu, hanya untuk konsumsi terbatas. Namun atas berbagai pertimbangan, klip lagu itu di-upload ke Youtube. Hanya melalui informasi mulut ke mulut, lagu itu banyak diklik berbagai kalangan. Sejak di-upload, tercatat sudah 22.157 orang mengklik lagu itu.

“Ini (lagu Kau Istriku, red) adalah penghargaan pada istri saya, dan begitu pula hendaknya bagi para suami. Selama ini lagu-lagu dari segi cinta, janda dan selingkuhan lebih banyak. Makanya, saya khusus menciptakan lagu untuk istri saya,” kata Irwan.

Lagu “Kau Istriku” bukanlah lagu pertama dan terakhir yang diciptakan bapak 10 orang anak itu. Ternyata, Irwan sudah banyak menciptakan lagu. Tercatat, sudah buah album dihasilkan putra Kuranji Padang itu. Selain album “Kau Istriku”, baru-baru ini Irwan juga me-launching album “Cinta Sesama”.

Peluncuran album lagu-lagu religi karya cipta Irwan Prayitno tersebut, dilaksanakan di Theater Terbuka Taman Budaya Padang, Sabtu (27/6). Lagu religi ini mengandung pesan mendalam. Yakni, setiap manusia harus bisa saling mencintai sesama manusia.

Karya ini lahir, menurut Irwan, berawal dari keinginannya untuk memanfaatkan media seni musik sebagai media dakwah dalam memberikan informasi dan mengajak masyarakat untuk hidup lebih baik secara Islami. Selain itu, juga memberikan inspirasi dan motivasi bagi kalangan generasi muda untuk maju dan kreatif dalam mengembangkan potensi diri.

Ada 10 lagu dalam album religi tersebut, yakni “Santuni Fakir Miskin”, “Takdir Illahi”, “Kawan Sejati”, “Memuliakan Anak”, “Sayangi Anak Yatim”, “Kau Istriku”. Lalu, “Ayahku”, “Kepada-Mu”, “Anakku Penyejuk Hatiku”, dan terakhir berjudul “Allah Ta’alla”.

Sebetulnya, tak ada darah seni mengalir dalam diri pria kelahiran 20 Desember 1963 ini, baik dari sang bapak maupun ibunya. “Saya menyukai musik sejak tahun 2012. Setelah menjadi gubernur. Karena, setiap acara gubernur sering diminta untuk nyanyi . Akhirnya, saya pun belajar nyanyi dan juga belajar main drum,” tutur penyuka olahraga ekstrem itu.

Sudah menjadi karakternya, profesor satu ini tak mau setengah-setengah menggeluti sesuatu. Bila sesuatu sudah diputuskannya, sosok Irwan bersungguh-sungguh mencapai keinginannya itu. “Sampai pukul 00.00 pun, pastilah akan saya pelajari. Alhamdulillah, akhirnya bisa,” kata Irwan menjelaskan perjuangannya sampai bisa bermain musik dan melagu.

Rinaldi, salah seorang sahabat dekat Irwan, mengakui seperti itulah (bersungguh-sungguh, red) seorang Irwan. “Beliau tak akan pernah berhenti, bila keinginannya belum tercapai. Begitu juga dalam belajar nyanyi atau main drum. Selepas seluruh pekerjaannya selesai, dia terus belajar sampai berhasil,” aku Rinaldi.

Nah, berkat kerja kerasnya belajar menyanyi dan bermain musik, kini Irwan bertambah percaya diri. Bahkan, pada penutupan Teknologi Tepat Guna di GOR H Agus Salim 2014 lalu, Irwan berkolaborasi dengan grup band Gigi menyanyikan lagu “Akhirnya”. Lalu, pada sebuah orkestra di Institut Seni Indonesia Padangpanjang (ISI).

Namun soal hobi menyanyi atau main band ini, bukanlah ditujukan Irwan sebagai ajang gagah-gagahan atau mencari popularitas. Lebih daripada itu, Irwan ingin memanfaatkannya guna menjadi sarana berdakwah. Itulah sebabnya, masyarakat bisa memperolehnya secara cuma-cuma.

Padang Ekspres, 10 Agustus 2015

 

Gunakan Motor Trabas (Padek 7 Agus 2015)

Gunakan Motor Trabas, Tembus Daerah Terisolir

Bagi sebagian orang melakoni olahraga ekstrem semisal trabas, jelas bukanlah sebuah pilihan yang menarik. Di samping harus bernyali besar, namun juga harus siap-siap dihadapkan pada risiko besar. Namun tak begitu bagi seorang Irwan Prayitno, gubernur Sumbar. Baginya olahraga satu ini bukanlah sekadar hobi, namun menjadi sarana menjangkau daerah pinggiran yang sulit ditembus kendaraan roda empat.

Berpakaian bak seorang pebalap motocross, rombongan tim Sumbar I dan Motrap plus tim trabas Solok mulai memanaskan mesinnya di halaman Kantor Camat Tigonagari, Kecamatan Solok. Hanya dalam hitungan menit, rombongan yang dipimpin Irwan Prayitno ini pun mulai menyusuri jalan guna menerobos Nagari Garabakdata, satu-satunya nagari terisolir di Kabupaten Solok.
Awalnya (dua jam pertama, red) rombongan begitu menikmati pemandangan alam yang tersaji di hadapan. Namun, memasuki bagian dalam kawasan tersebut kondisi ruas jalan semakin berat. Jalan berlumpur dan kubangan terpampang di hadapan. Belum lagi tantangan licinnya jalan, dan samping kiri-kanannya terhampar jurang menganga. Kondisi ini kian memacu andrenalin rombongan.
Bahkan, mobil patrol polisi milik Polres Solok yang bertugas mengawal Wakil Bupati Solok Desra Ediwan yang turut mengawal rombongan, terjebak lumpur. Upaya mengeluarkan mobil menggunakan winch, tak berhasil. Winch putus. Namun, berkat kerja sama melibatkan rombongan pengawal lainnya, akhirnya mobil berhasil dikeluarkan.

Ya, begitulah tantangan yang harus dilewati Irwan dan rombongan guna mendatangi nagari berpenduduk 963 Kepala Keluarga (KK) atau 2.556 jiwa itu. Tak ada penerangan listrik atau pun sinyal handphone. Bahkan, kuda beban masih menjadi sarana angkutan primadona masyarakat setempat membawa hasil pertanian atau pun barang belanjaan.

Setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam, barulah Irwan dan rombongan sampai di lokasi. Sambutan penuh keharuan dan keramahan masyarakat terhadap orang nomor satu di Sumbar itu, membuat Irwan dan rombongan ikut terenyuh. Masyarakat setempat berharap kedatangan rang Kuranji Padang bersama pejabat satuan kerja perangkat daerah (SKPD), bisa membawa perubahan terhadap kampungnya.

Setelah menghimpun aspirasi masyarakat, Irwan pun menyerahkan bantuan kepada masyarakat setempat, termasuk berjanji memperbaiki jalan menuju nagari tersebut. “Kita tak ingin masyarakat Garabakdata merasa terpinggirkan dan terisolasi lagi,” ujar Irwan. Dia pun berjanji merealisasikan harapan masyarakat setempat.

Bagi Irwan menggunakan motor trabas bukanlah untuk sekadar gagah-gagahan. Namun banyak hal yang didapatnya bila menggunakan motor trabas ini. “Ambo maraso do trabas iko ambo bisa manyapo dan manjapuik aspirasi masyarakaik langsung ka tampeknyo. Ambo pun bisa marasoan denyut pembangun dan keinginan langsung dari masyarakaik,” kata suami Nevi Zuarina itu.
Itulah sebabnya, sudah berulang kali Irwan blusukan menggunakan motor trabas ini. Sebut saja menelusuri Kapur IX Limapuluh Kota, Sungai Lolo Pasaman, Nagari Ampiang Parak, Jorong Gadang Pesisir Selatan, termasuk melintasi kawasan pinggiran di Solok Selatan.

Bagi Irwan, ada kepuasan tersendiri yang dirasakannya ketika bertemu langsung dengan masyarakatnya. Terlebih, masyarakat yang belum tersentuh pembangunan. “Kita bisa mengetahui bahwa masih banyak daerah di Sumbar belum memiliki jalan yang baik. Ini terlihat pada daerah terisolir,” ujarnya.

Sebetulnya, menunggangi motor trabas merupakan hobi Irwan sejak SMA dulu. Dia biasa berlatih di belakang rumahnya orangtuanya di Taratakpaneh Kuranji Padang. “Dulu di belakangan rumah itu ada tanah lapang milik keluarga, di sanalah saya memulai menekuni motor trabas ini sampai sekarang,” ujar bapak 10 anak ini.

Nah kepiawaiannya menunggangi motor trabas ini, kini dia manfaatkannya menjadi sarana mendatangi masyarakat di daerah terisolir. Kendati menguras tenaga ekstra plus keberanian dan keahlian, namun tak membuat nyali Irwan ciut. Malahan, dia semakin tertantangan untuk mengunjungi seluruh daerah terisolir di Sumbar.

Yang membuat banyak orang takjub, energi Irwan seakan tak habis-habisnya. Ambil contoh ketika menembus Garabakdata. Kendati memakan waktu delapan jam pulang-pergi, tapi semangatnya seakan tak pernah redup. “Entah apa yang membuat beliau seperti itu. Yang pasti, beliau selalu bersemangat dan seakan tak pernah sakitnya,” ujar wartawan Padang Ekspres Revdi Iwan Syahputra yang turut mendampingi Irwan ke Garabakdata.

Irwan boleh dikata sosok spesial yang berbeda dari kebiasaan pemimpin daerah lainnya. Sosok penuh dedikasi dan dihormati warga Sumbar ini. Menelusuri jalan terjal, tikungan tajam, dan penurunan sempit, sudah menjadi hal biasa baginya. Padahal, bahaya bisa mengancam dirinya kapan saja. Namun itulah Irwan, pemimpin yang ingin selalu dekat dengan masyarakatnya. (*)

Padang Ekspres, 7 Agustus 2015

 

Ketika Gubernur Berkunjung ke Mentawai (Padek 6 Des 2012)

Ketika Gubernur Berkunjung ke Mentawai

Pakai Sandal Jepit, Sulit Dikenali Warga

Padang Ekspres • Selasa, 06/12/2011 14:42 WIB • Iswanto Ja — Mentawai •

Poom…poom…poom. Suara bel KM Ambu-Ambu yang membawa rombongan Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno itu langsung disambut pagar betis dari tim gabungan keamanan Polres dan Kodim Mentawai. Kedatangan orang nomor satu di Sumbar itu sudah pasti membawa misi untuk melantik orang nomor satu di Bumi Sikerei.
Sekitar pukul 06.00 WIB, KM Ambu-Ambu mendarat di Dermaga Tuapejat Mentawai, Senin (5/12). Perlahan, pintu kapal dibuka dan langsung berhamburan keluar penumpang kapal yang sesak padat.
Sementara itu, panitia pelantikan sudah siap menyambut gubernur. Namun, sosok Irwan Prayitno sulit dikenali begitu keluar dari pintu kapal. Sebab, penampilan mantan anggota DPR itu tak ubahnya penumpang kapal lainnya.
Celana jins hitam dengan kaos oblong abu-abu dengan jaket kulit hitamnya, membuat warga Bumi Sikerei dan jajaran SKPD tidak mengenal gubernurnya. Keluar dari kapal, Irwan Prayitno bersama istri berjalan santai sambil senyum ramah di belakang seorang pekerja angkat barang kapal.
“Mana pak gubernur, kok tukang angkat karung yang keluar,” tanya seorang warga yang berdiri persis di samping Padang Ekspres karena tidak sabar melihat gubernurnya.
Bukan hanya warga, beberapa PNS dan polisi yang menjaga keamanan sepanjang jalan di Dermaga Tuapejat juga hampir tidak mengenal sosok gubenur. Sampai di loket tiket kapal, baru Irwan Prayitno bersama istri masuk ke dalam mobil yang dikawal mobil patroli dari Polres Mentawai.
“Lho, pak gubernur sudah naik mobil, kok tidak kelihatan keluar dari kapal ya,” kata seorang warga yang belum sempat melihat gubernurnya datang. Maklum, kedatangan Irwan Prayitno di dermaga tidak disambut dengan berbagai tarian adat atau kalung kerangka bunga layaknya kebiasaan kedatangan pejabat tinggi.
Di kedai lontong, seorang polisi yang sedang sarapan pun menceritakan kecemasannya terhadap keamanan gubernur Sumbar. Sebab protap standar VVIP yang sudah disusun justru kurang maksimal dalam menyambut Irwan Prayitno.
“Biasanya pejabat itu pakai baju safari atau batik dan diberi jalan khusus. Tapi ini tidak, pakaian gubernur seperti gaya cover boy, dan berjalan sama dengan kerumunan penumpang lainnya. Tentu tidak kelihatan dengan petugas keamanan. Padahal, Irwan Prayitno itu di samping gubernur juga ustad, tapi penampilannya sangat berbeda jauh,” katanya dengan cemas sambil terus melahap sarapan lontongnya.
Di sebelah kiri depan kantor bupati, masyarakat pendukung Yudas-Rijel sudah duduk rapi menghadap TV LCD berukuran 32 inchi. Sementara panas matahari mulai mengusik konsentrasi. Namun, masyarakat tidak menghiraukan dan tetap menunggu hasil keputusan surat sakti dari Mendagri yang akan dibacakan gubernur itu.
Setelah SK dibacakan, tepuk tangan meriah pun bergemuruh. Hebohnya lagi, ketika Yudas-Rijel selesai dilantik, suara teriakan dukungan dari massanya pun terdengar lantang. “Maju terus moncong putih. Bangkit perjuangan,” kata pendukung Yudas. (***)

Padang Ekspres, 6 December , 2011

Demi Pendidikan (Padek 6 Agus 2015)

Demi Pendidikan, Irwan Langsung Daftarkan Anak

Kesuksesan seorang pemimpin, pastilah tercermin dari keluarganya. Agaknya ungkapan itu pantas dilekatkan pada sosok Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno. Keberhasilannya memimpin Sumbar sejak lima tahun terakhir, juga tercermin dari kepiawaiannya dalam memenej keluarganya bersama Nevi Zuairina Irwan Prayitno, sang istri. Keduanya bahu-membahu memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya.

Pagi itu, aktivitas penerimaan siswa baru SMAN 1 Padang, tiba-tiba dikejutkan dengah kehadiran orang nomor satu di Sumbar. Guru, karyawan, siswa dan lainnya, termasuk orangtua siswa yang hadir waktu itu, terkejut bukan kepalang. Terlebih lagi, kedatangan rang Kuranji Padang itu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Bahkan, pihak sekolah mengaku tak pernah melayangkan undangan untuk menghadirkan bapak 10 anak itu.
Namun setelah diselidik, barulah diketahui bahwa kedatangan pria kelahiran 20 Desember 1963 itu, tak lain untuk mendaftarkan anak ketujuhnya Shohwatul Islah (sekarang kelas II, red), ke salah satu sekolah terbaik di Sumbar itu. Seakan tak mau diistimewakan, Irwan pun mengikuti segala proses pendaftaran seperti orangtua lainnya.

Biarpun begitu, kehadiran tamu spesial tanpa pengawalan itu, tetap saja membuat buncah aktivitas di SMA 1 Padang saat itu. Beberapa guru, karyawan, orangtua serta siswa, berlarian mendekati Irwan, sekadar bersalaman, selfie atau lainnya. Seakan tak mau membuat masyarakatnya kecewa, Irwan pun melayani setiap permintaan yang diutarakan kepadanya.

Beberapa orangtua yang ditemui koran ini, terkagum-kagum melihat Irwan langsung mendaftarkan anaknya. Memang tak ada yang aneh, namun yang membuat orang takjub, orang nomor satu di Sumbar itu turun langsung mendaftarkan anaknya. Tak seperti orangtua lainnya, cenderung lebih suka melepaskan tanggung jawab pendidikan anaknya pada guru atau pihak lainnya.

“Bagi saya, sesibuk apa pun saya, namanya keluarga tetap menjadi nomor satu. Termasuk, memperhatikan pendidikan bagi anak-anak. Kendati saya di sini, namun saya tahu sedang apa dan bagaimana aktivitas anak-anak saya sekarang ini,” ujar alumni SMA 3 Padang itu yang juga mantan ketua Komisi X DPR.

Irwan menuturkan bahwa pendidikan bagi anak-anak merupakan hal penting dalam menentukan masa depan anak. Itulah sebabnya, dia selalu memberikan masukan dan saran pilihan pendidikan yang terbaik buat anak-anaknya. “Untuk pendidikan anak-anak, saya selalu memberikan masukan pilihan ilmu dan pendidikan yang sesuai potensi anak,” jelas Irwan.

Pria berkaca mata ini juga mengaku dalam berkomunikasi, dirinya selalu rutin menanyakan bagaimana perkembangan sekolah anak-anaknya. Tugas itu rutin dilakukannya bergantian bersama istri tercintanya. Bahkan tidak jarang, Irwan rela mendatangi sekolah tempat anaknya menuntut ilmu. Menanyakan kepada guru-gurunya, bagaimana perkembangan anak-anaknya di sekolah. “Saya pernah ke sekolah langsung menanyakan bagaimana anak-anak saya di sekolah,” ujarnya.

Tidak hanya pendidikan formal, Irwan juga selalu memperhatikan pendidikan agama anak-anaknya. Nilai-nilai agama ditanamkan melalui pendidikan dasar dengan menyekolahkan anak-anaknya ke pesantren dan sekolah agama. Irwan juga selalu rutin menanyakan kepada anak-anaknya apa sudah shalat atau belum. Juga, mengajak keluarganya selalu rutin berjamaah shalat Maghrib dan Subuh. Selain itu, juga rutin itikaf bersama keluarga di akhir Ramadhan.

Khusus itikaf ini, memang sudah dibiasa Irwan setiap 10 hari akhir Ramadhan. Seluruh anak-anaknya, termasuk menantu dan cucunya, sudah terbiasa ikut itikaf di mushala di Kompleks Gubernuran. Bahkan, Irwan yang biasanya memiliki jadwal padat waktu itu, tetap menghadiri itikaf tersebut.

Salah seorang rekan Irwan, Rinaldi mengamini kebiasaan Irwan ini. “Biarpun beliau banyak mengisi kegiatan di 10 hari terakhir Ramadhan, beliau tetap ikut itikaf bersama keluarga besarnya. Kebersamaan dan kehangatan sangat terlihat dalam keluarga ini,” sebut Rinaldi.

Lebih mengherankan Rinaldi, selama beraktivitas bersama Irwan, dia tak pernah melihat anak-anak Irwan bertengkar. “Saya kan hampir setiap hari bersama beliau, tak pernah saya dengar anaknya bertengkar. Mungkin inilah keberkahan yang diberikan tuhan kepada beliau,” ujar Rinaldi yang tak habis pikir kenapa itu terjadi.

Berkat keikhlasannya dan kerja keras mendidik anak, Irwan bersama istrinya, berhasil membuat anak-anaknya mendapat pendidikan terbaik. Anak-anaknya mampu kuliah di perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia dan luar negeri. Anak pertama Irwan Prayitno, Jundi Fadhlillah yang telah menikah Aisyah Ramadhani, berhasil menamatkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas Jurusan Manajemen dan Southern New Hampshire University, Amerika Serikat.

Berikutnya, anak kedua Irwan Prayitno, Waviatul Ahdi yang menikah dengan Irfan Aulia Saiful menamatkan kuliah di FKG Universitas Indonesia (UI). Kemudian, Dhiya’u Syahidah yang menikah dengan Fallery, menamatkan kuliah di SBM ITB dan Westminster University. Anwar Jundi, kuliah di Fakultas Perikanan dan lmu Kelautan Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, IPB dan Atika saat ini kuliah di FE UI, Ibrahim (kuliah di Jurusan Teknik Kimia UI).

Sementara, Shohwatul Islah, sekolah di SMA 1 Padang, Farhana (SMA 1 Padang, Laili Tanzila (SDIT Adzkia) dan si bungsu Taqiya Mafaza (SDIT Adzkia). Bagaimana bisa seorang Irwan Prayitno bersama Istri Nevi Zuairina berhasil memberikan pendidikan yang terbaik buat anak-anaknya.

Tak hanya pendidikan, Irwan juga berusaha semaksimal mungkin membuat anak-anaknya nyaman. Bahkan untuk urusan pulsa saja, Irwan setiap waktu menyuplainya. Kondisi ini sudah berlangsung sejak lama. “Ketika pulsa mereka habis, pastilah mereka mengasih tahu kepada saya,” ujar Irwan yang setiap waktu memantau aktivitas anak-anaknya. (*)

Padang Ekspres, 6 Agustus 2015

 

Gubernur Irwan jadi Petugas Pajak (padek 5 Nov 2012)

Gubernur Irwan jadi Petugas Pajak

KETIKA ada undangan ke­pada sejumlah/100 pem­bayar pajak terbesar dari Ke­pala Kantor Wilayah Direk­torat Jenderal Pajak (DJP) Su­ma­tera Barat dan Jambi Mu­ha­mad Ismiransyah M Zain—yang baru diangkat/dilantik oleh Menteri Keuangan Agus Martowardojo pada jabatannya sejak Agustus 2012 lalu, Cucu Magek Dirih mengusahakan diri untuk hadir—lagi pula undangan dengan men­ye­but­kan nama/ada kesan supaya ja­ngan diwakilkan. Juga, ikut ha­dir dalam acara itu Gu­ber­nur Sumatera Barat Prof. Dr. H. Irwan Prayitno Dt. Rajo Ban­daro Basa Psi. M.Sc. Di an­tara sesama pembayar pajak di Padang, Cucu Magek Dirih me­ngenal sejumlah hadirin, khu­sus­nya dunsanak pengusaha dari kawasan Pondok (sebutan po­puler untuk China Town/pe­cinaan untuk kota Padang Su­ma­tera Barat)—salah dari satu berkah yang dirasakan Cucu Magek Dirih menghadiri acara.

Yang sangat menarik, selain Cucu Magek Dirih juga ber­kenalan dengan Kepala Kanwil DJP Sumatera Barat dan Jambi yang baru—yang rupanya adalah orang Padang, adalah penam­pilan Gubernur Irwan Prayitno yang seakan sekaligus men­yam­pai­kan sosialisasi perpajakan kepada hadirin. Sungguh luar biasa, Gubernur Irwan tidak hanya menekankan penting/strategis pengetahuan tentang peranan pajak dalam kehidupan pe­merintahan dan pem­ba­ngu­nan, apalagi kesadaran untuk membayar pajak. Baik pajak pusat maupun pajak daerah. Ter­lebih lagi, walaupun berbicara tanpa teks, Gubernur Irwan ter­nya­ta menguasai materi yang disampaikannya prihal per­pa­jakan tersebut. Panjang lebar Gu­bernur Irwan bicara, sudah me­ng­ambilalih materi presentasi/sosialisasi yang sebelumnya su­dah disiapkan Kepala Kanwil DJP Muhamad Ismiransyah M Zain.

Gubernur Irwan Payitno, menguraikan besaran target penerimaan pajak pusat dan pajak daerah tahun 2012 dan rencana penerimaan tahun 2013 berikut angka-angkanya secara mendetail—secara skala nasional dan wilayah Provinsi Sumatera Barat. Yang bagi Cucu Magek Dirih amat menarik, gaya/cara dan pembahasaan penyampaian sosialisasi pengetahuan tentang ke­beradaan/peranan pe­ne­ri­maan perpajakan membiayai pembangunan dan kesadaran wajib pajak dalam membayar kewajiban pajaknya. Lunak, lem­but, tapi, tegas. Lunak dan lembut karena bagian dari upaya me­ngajak/membangun kesa­daran, dan tegas karena penting/stra­tegis penerimaan pajak mem­biayai kegiatan pemerintahan dan program pembangunan de­ngan menyebut sejumlah con­toh—yang dikemukakannya ada­lah pembangunan di Provinsi Suma­tera Barat sendiri.

 

Secara bergurau—sebe­tulnya justru serius, Kanwil DJP Sumatera Barat dan Jambi/M Ismiransyah M Zain sendiri se­bagai kepala Kanwil, justru me­nurut Cucu Magek Dirih lebih baik ”bukan orang pajak” semata yang menyampaikan sosialisasi, yang membagi informasi/pe­nge­tahuan tentang keberadaan/peranan perpajakan dalam pembangunan, dan membangun kesadaran membayar pajak/mengajak para pembayar pajak memenuhi kewajiban membayar pajak—termasuk mengetuk kesadaran pembayar pajak/calon pembayar pajak membayar pajak dengan jujur. Justru bilamana pihak DJP/Kanwil DJP mampu melibatkan prominent figures/tokoh populer yang terpandang dan dihormati untuk ikut mela­kukan misi yang sama, hasilnya kemungkinan lebih efektif/ber­hasil? Sebagaimana halnya Gu­bernur Irwan Prayitno me­la­ku­kan/menjadi petugas pajak ma­lam itu.

MEMANG, paling tidak da­lam pemahaman/perspektif Cu­cu Magek Dirih, tingkat ke­sa­daran dan kepatuhan pembayar pajak—juga calon pembayar pajak—barulah sampai sebatas ”kewajiban” (tanda petik untuk memberikan aksentuasi), dan belum dalam perspektif ”ke­sa­daran” tentang keberadaan/peran penerimaan pajak dalam penyelengaraan kegiatan pe­me­rintahan/pembangunan!? Arti­nya, penyampaian informasi/pengetahuan tentang pajak masih belum maksimal/belum efektif/mungkin belum sepenuh tepat—sebagaimana yang sudah diu­payakan/diusahakan Kanwil dan cabang DJP sejauh ini. Seti­daknya belum lagi maksimal dalam melibatkan local prominent figures dalam/ikut berperan menyampaikan informasi/pe­nge­tahuan tentang keberadaan/peranan penerimaan pajak dalam membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan program pem­bangunan.

Saat berbicara langsung de­ngan Kepala Kanwil DJP Su­matera Barat dan Jambi M Is­miransyah M Zain/jajaran, Cucu Magek Dirih memperjelas keberadaan/peranan, cara/pen­dekatan, dan langkah Gubernur Irwan membagi informasi/pe­ngetahuan tentang pajak/pe­nerimaan pajak. Yaitu dalam analogi mengaitkan besar nilai pajak yang diterima cabang/Kanwil DJP dengan nilai ang­garan pembangunan—sungguh amat cerdas dan menyentak. Memang, realisasi pencapaian target penerimaan pajak DJP Sumatera Barat Jambi pada po­sisi 17 dari 31 DJP—itu sudah ter­masuk tertinggi secara nasional. Target penerimaan pajak PPN dan PPh Kanwil DJP Sumatera Barat Jambi Rp 5,362 triliun. Sumatera Barat Rp 2,78 triliun dan Jambi Rp 2,58 triliun. Rea­lisasi pencapaian penerimaan pajak Sumatera Barat Jambi 2010 dan 2011, 97 persen, dan untuk tahun 2012 diharapkan 100 persen. Sampai September 73 persen dari taget p 5,362 triliun. Tahun 2013, target DJP Sumatera Barat Jambi naik 22 persen, menjadi Rp 6,542 triliun.

Secara nasional, sampai 15 Oktober 2012, realisasi pe­ne­rimaan pajak tahun 2012 baru 70,52 persen, atau baru Rp 624,­164 triliun dari target. Realisasi penghasilan dari minyak/gas Rp 66,43 triliun dari target Rp 67,91 triliun. Realisasi dari penerimaan pajak penghasilan nonmigas mencapai 68,82 pesen dari target Rp 445,733 triliun. Dan realisasi penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN) dan barang mewah sedikit lebih baik dibanding penerimaan PPh nonmigas. Pe­nerimaan PPN dan PPn BM se­besar Rp 241,04 triliun atau 71,73 persen dari target PBNP 2012, Rp 336,05 triliun. Perkembangan kinerja penerimaan pajak tahun 2012 tersebut cukup membuat gamang Menteri Keuangan Agus Martowardojo. Walau realisasi tahun 2012 demikian, taget tahun 2013 pula, justru naik signifikan.

Menurut Rancangan Ang­garan Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2013, pe­me­rintah menargetkan pen­dapatan negara Rp 1.529,67 triliun naik 12,6 persen dari APBNP 2012. Belanja tahun 2013 naik 8,7 persen menjadi Rp 1.683,01 triliun. Peningkatan sumber pendapatan dan pengeluaran negara menyebabkan ada defisit anggaran 2013 Rp 153,34 triliun (1,65 persen) dari product domestic bruto (PDB) dibandingkan (2,23 ­persen) dari PDB pada APBNP 2012. Dari nilai APBN 2013, target pendapatan pajak Rp 1.193 triliun atau naik 17,4 persen diban­dingkan penerimaan pajak tahun 2012, Rp 1.016,2 triliun. Pen­da­patan PPh ditargetkan Rp 548,8 triliun, naik 13,9 pesen dibanding tahun 2012. Dalam kondisi dan perkembangan global, khusus krisis keuangan di Eropa, dan kinerja perkembangan pene­rimaan tahun 2012, target pe­ne­rimaan Indonesia dalam APBN 2013 itu relatif berat.

Untuk Provinsi Sumatera Barat sendiri, penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (PKB-BBNKB), untuk tahun 2012 ditargetkan Rp 661,2 miliar, dan sampai akhir Agustus 2012 realisasi tercapai Rp 395,2 miliar, atau baru 59 persen—seharusnya sampai Juli sudah 66 persen. Sebetulnya sampai Agustus 2012 ditargetkan 19.954 unit pajak kendaraan bermotor baru yang terealisasi hanya 10.576 unit. Potensi penerimaan ditargetkan Rp 6,55 miliar yang terealisasi hanya Rp 4,17 miliar atau 63,63 persen. Dan, BBNKB kendaraan baru ditargetkan 19.954 unit, yang terealisasi 10.576 unit ken­da­raan. Realisasi penerimaan Rp 27,6 miliar dari target Rp 41,4 miliar. Jika dilihat target Januari-Agustus 2012 dari dua jenis penerimaan, senilai Rp 520,5 miliar yang terealisasi sebesar Rp 290,2 miliar, 55,75 persen.

KARENA itu, apa disam­pai­kan Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno Dt Rajo Bandaro Basa ketika berbicara pada per­temuan dan ramah-tamah 100 pembayar pajak terbesar di Hotel Pangeran Padang lalu, sama hal kegamangan Menteri Ke­ua­ngan Agus Martowardojo, ke­mu­ngkinan berangkat dari concern beliau tehadap kinerja pe­ne­ri­maan pajak daerah Su­matera Barat sendiri. Kelihatannya, Gu­ber­nur Irwan amat bersungguh-sungguh untuk mengajak semua pihak di sini menyadari keter­kaitan langsung antara wajib pajak dan penerimaan pajak serta penyelenggaraan pemerintahan/program pembangunan. Bahkan tak hanya masalah penerimaan pajak daerah, juga penerimaan pajak pusat. Sebab, Sumatera Barat termasuk provinsi—ber­sama 19 kabupaten/kota, me­ne­rima dana APBN yang lebih besar daripada nilai pajak yang dibe­rikan sebagai penerimaan APBN.

 

Karena itu pula, ketika ber­bicara dengan Kepala Kanwil DJP Sumatera Barat Jambi M Is­miransyah M Zain, Cucu Magek Dirih menyampaikan ke­mu­ng­kinan kalaborasi Kanwil DJP Sumatera Barat Jambi de­ngan pemda provinsi dan pemda ka­bu­paten/kota se-Provinsi Sumatera Barat semakin diperjelas for­mulanya. Misalnya, pihak Kanwil DJP Sumatera Barat dan Jambi mem-break down target pene­rimaan pajak tidak hanya me­nurut skala provinsi, tapi, juga skala kabupaten/kota—bahkan skala kecamatan. Berapa nilai semua pendapatan pajak satu kecamatan dan atau tiap ka­bupaten/kota, misalnya, dan pemerintah daerah dapat mem­buat analogi berapa pula nilai dari anggaran pembangunan periode tahun berjalan yang sama untuk kecamatan dan atau untuk kabupaten/kota yang berang­kutan: apa lebih besar pen­da­patan pajak atau lebih besar dana pembangunan?

Dalam perspektif/rencana strategis demikian, Kanwil DJP dan juga Badan Pengelola Keu­a­ngan Daerah provinsi dan ka­bupaten/kota se-Provinsi Su­matera Barat bekerja sama de­ngan mengajak pula sejumlah potensi ketokohan di tingkat bawah (kecamatan dan nagari/kelurahan): seperti alim-ulama/ninik-mamak/cadiak-pandai/bundolanduang dan potensi pro­minent figures lainnya untuk membagi informasi/pe­nge­ta­huan tentang pajak, posisi/pe­ranan penerimaan pajak dalam membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pem­ba­ngu­nan, dan dalam mem­bangun kesadaran tentang membayar pajak. Dalam keberadaan posisi/peranan penerimaan pajak dalam APBN dan juga APBD provinsi/kabupaten/kota, maka kondisi maksimal demikian mutlak di­bangun/dikondisikan/dilak­sa­na­kan. Dalam hal demikian, me­nurut Cucu Magek Dirih, Gu­bernur Irwan Prayitno men­jadi pioneer! (*)

  1. Sutan Zaili Asril
    Wartawan Senior

Padang Ekspres 5 November 2012

 

Gubernur Irwan jadi Petugas Pajak (padek 5 Nov 2012)

Gubernur Irwan jadi Petugas Pajak

KETIKA ada undangan ke­pada sejumlah/100 pem­bayar pajak terbesar dari Ke­pala Kantor Wilayah Direk­torat Jenderal Pajak (DJP) Su­ma­tera Barat dan Jambi Mu­ha­mad Ismiransyah M Zain—yang baru diangkat/dilantik oleh Menteri Keuangan Agus Martowardojo pada jabatannya sejak Agustus 2012 lalu, Cucu Magek Dirih mengusahakan diri untuk hadir—lagi pula undangan dengan men­ye­but­kan nama/ada kesan supaya ja­ngan diwakilkan. Juga, ikut ha­dir dalam acara itu Gu­ber­nur Sumatera Barat Prof. Dr. H. Irwan Prayitno Dt. Rajo Ban­daro Basa Psi. M.Sc. Di an­tara sesama pembayar pajak di Padang, Cucu Magek Dirih me­ngenal sejumlah hadirin, khu­sus­nya dunsanak pengusaha dari kawasan Pondok (sebutan po­puler untuk China Town/pe­cinaan untuk kota Padang Su­ma­tera Barat)—salah dari satu berkah yang dirasakan Cucu Magek Dirih menghadiri acara.

Yang sangat menarik, selain Cucu Magek Dirih juga ber­kenalan dengan Kepala Kanwil DJP Sumatera Barat dan Jambi yang baru—yang rupanya adalah orang Padang, adalah penam­pilan Gubernur Irwan Prayitno yang seakan sekaligus men­yam­pai­kan sosialisasi perpajakan kepada hadirin. Sungguh luar biasa, Gubernur Irwan tidak hanya menekankan penting/strategis pengetahuan tentang peranan pajak dalam kehidupan pe­merintahan dan pem­ba­ngu­nan, apalagi kesadaran untuk membayar pajak. Baik pajak pusat maupun pajak daerah. Ter­lebih lagi, walaupun berbicara tanpa teks, Gubernur Irwan ter­nya­ta menguasai materi yang disampaikannya prihal per­pa­jakan tersebut. Panjang lebar Gu­bernur Irwan bicara, sudah me­ng­ambilalih materi presentasi/sosialisasi yang sebelumnya su­dah disiapkan Kepala Kanwil DJP Muhamad Ismiransyah M Zain.

Gubernur Irwan Payitno, menguraikan besaran target penerimaan pajak pusat dan pajak daerah tahun 2012 dan rencana penerimaan tahun 2013 berikut angka-angkanya secara mendetail—secara skala nasional dan wilayah Provinsi Sumatera Barat. Yang bagi Cucu Magek Dirih amat menarik, gaya/cara dan pembahasaan penyampaian sosialisasi pengetahuan tentang ke­beradaan/peranan pe­ne­ri­maan perpajakan membiayai pembangunan dan kesadaran wajib pajak dalam membayar kewajiban pajaknya. Lunak, lem­but, tapi, tegas. Lunak dan lembut karena bagian dari upaya me­ngajak/membangun kesa­daran, dan tegas karena penting/stra­tegis penerimaan pajak mem­biayai kegiatan pemerintahan dan program pembangunan de­ngan menyebut sejumlah con­toh—yang dikemukakannya ada­lah pembangunan di Provinsi Suma­tera Barat sendiri.

 

Secara bergurau—sebe­tulnya justru serius, Kanwil DJP Sumatera Barat dan Jambi/M Ismiransyah M Zain sendiri se­bagai kepala Kanwil, justru me­nurut Cucu Magek Dirih lebih baik ”bukan orang pajak” semata yang menyampaikan sosialisasi, yang membagi informasi/pe­nge­tahuan tentang keberadaan/peranan perpajakan dalam pembangunan, dan membangun kesadaran membayar pajak/mengajak para pembayar pajak memenuhi kewajiban membayar pajak—termasuk mengetuk kesadaran pembayar pajak/calon pembayar pajak membayar pajak dengan jujur. Justru bilamana pihak DJP/Kanwil DJP mampu melibatkan prominent figures/tokoh populer yang terpandang dan dihormati untuk ikut mela­kukan misi yang sama, hasilnya kemungkinan lebih efektif/ber­hasil? Sebagaimana halnya Gu­bernur Irwan Prayitno me­la­ku­kan/menjadi petugas pajak ma­lam itu.

MEMANG, paling tidak da­lam pemahaman/perspektif Cu­cu Magek Dirih, tingkat ke­sa­daran dan kepatuhan pembayar pajak—juga calon pembayar pajak—barulah sampai sebatas ”kewajiban” (tanda petik untuk memberikan aksentuasi), dan belum dalam perspektif ”ke­sa­daran” tentang keberadaan/peran penerimaan pajak dalam penyelengaraan kegiatan pe­me­rintahan/pembangunan!? Arti­nya, penyampaian informasi/pengetahuan tentang pajak masih belum maksimal/belum efektif/mungkin belum sepenuh tepat—sebagaimana yang sudah diu­payakan/diusahakan Kanwil dan cabang DJP sejauh ini. Seti­daknya belum lagi maksimal dalam melibatkan local prominent figures dalam/ikut berperan menyampaikan informasi/pe­nge­tahuan tentang keberadaan/peranan penerimaan pajak dalam membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan program pem­bangunan.

Saat berbicara langsung de­ngan Kepala Kanwil DJP Su­matera Barat dan Jambi M Is­miransyah M Zain/jajaran, Cucu Magek Dirih memperjelas keberadaan/peranan, cara/pen­dekatan, dan langkah Gubernur Irwan membagi informasi/pe­ngetahuan tentang pajak/pe­nerimaan pajak. Yaitu dalam analogi mengaitkan besar nilai pajak yang diterima cabang/Kanwil DJP dengan nilai ang­garan pembangunan—sungguh amat cerdas dan menyentak. Memang, realisasi pencapaian target penerimaan pajak DJP Sumatera Barat Jambi pada po­sisi 17 dari 31 DJP—itu sudah ter­masuk tertinggi secara nasional. Target penerimaan pajak PPN dan PPh Kanwil DJP Sumatera Barat Jambi Rp 5,362 triliun. Sumatera Barat Rp 2,78 triliun dan Jambi Rp 2,58 triliun. Rea­lisasi pencapaian penerimaan pajak Sumatera Barat Jambi 2010 dan 2011, 97 persen, dan untuk tahun 2012 diharapkan 100 persen. Sampai September 73 persen dari taget p 5,362 triliun. Tahun 2013, target DJP Sumatera Barat Jambi naik 22 persen, menjadi Rp 6,542 triliun.

Secara nasional, sampai 15 Oktober 2012, realisasi pe­ne­rimaan pajak tahun 2012 baru 70,52 persen, atau baru Rp 624,­164 triliun dari target. Realisasi penghasilan dari minyak/gas Rp 66,43 triliun dari target Rp 67,91 triliun. Realisasi dari penerimaan pajak penghasilan nonmigas mencapai 68,82 pesen dari target Rp 445,733 triliun. Dan realisasi penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN) dan barang mewah sedikit lebih baik dibanding penerimaan PPh nonmigas. Pe­nerimaan PPN dan PPn BM se­besar Rp 241,04 triliun atau 71,73 persen dari target PBNP 2012, Rp 336,05 triliun. Perkembangan kinerja penerimaan pajak tahun 2012 tersebut cukup membuat gamang Menteri Keuangan Agus Martowardojo. Walau realisasi tahun 2012 demikian, taget tahun 2013 pula, justru naik signifikan.

Menurut Rancangan Ang­garan Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2013, pe­me­rintah menargetkan pen­dapatan negara Rp 1.529,67 triliun naik 12,6 persen dari APBNP 2012. Belanja tahun 2013 naik 8,7 persen menjadi Rp 1.683,01 triliun. Peningkatan sumber pendapatan dan pengeluaran negara menyebabkan ada defisit anggaran 2013 Rp 153,34 triliun (1,65 persen) dari product domestic bruto (PDB) dibandingkan (2,23 ­persen) dari PDB pada APBNP 2012. Dari nilai APBN 2013, target pendapatan pajak Rp 1.193 triliun atau naik 17,4 persen diban­dingkan penerimaan pajak tahun 2012, Rp 1.016,2 triliun. Pen­da­patan PPh ditargetkan Rp 548,8 triliun, naik 13,9 pesen dibanding tahun 2012. Dalam kondisi dan perkembangan global, khusus krisis keuangan di Eropa, dan kinerja perkembangan pene­rimaan tahun 2012, target pe­ne­rimaan Indonesia dalam APBN 2013 itu relatif berat.

Untuk Provinsi Sumatera Barat sendiri, penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (PKB-BBNKB), untuk tahun 2012 ditargetkan Rp 661,2 miliar, dan sampai akhir Agustus 2012 realisasi tercapai Rp 395,2 miliar, atau baru 59 persen—seharusnya sampai Juli sudah 66 persen. Sebetulnya sampai Agustus 2012 ditargetkan 19.954 unit pajak kendaraan bermotor baru yang terealisasi hanya 10.576 unit. Potensi penerimaan ditargetkan Rp 6,55 miliar yang terealisasi hanya Rp 4,17 miliar atau 63,63 persen. Dan, BBNKB kendaraan baru ditargetkan 19.954 unit, yang terealisasi 10.576 unit ken­da­raan. Realisasi penerimaan Rp 27,6 miliar dari target Rp 41,4 miliar. Jika dilihat target Januari-Agustus 2012 dari dua jenis penerimaan, senilai Rp 520,5 miliar yang terealisasi sebesar Rp 290,2 miliar, 55,75 persen.

KARENA itu, apa disam­pai­kan Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno Dt Rajo Bandaro Basa ketika berbicara pada per­temuan dan ramah-tamah 100 pembayar pajak terbesar di Hotel Pangeran Padang lalu, sama hal kegamangan Menteri Ke­ua­ngan Agus Martowardojo, ke­mu­ngkinan berangkat dari concern beliau tehadap kinerja pe­ne­ri­maan pajak daerah Su­matera Barat sendiri. Kelihatannya, Gu­ber­nur Irwan amat bersungguh-sungguh untuk mengajak semua pihak di sini menyadari keter­kaitan langsung antara wajib pajak dan penerimaan pajak serta penyelenggaraan pemerintahan/program pembangunan. Bahkan tak hanya masalah penerimaan pajak daerah, juga penerimaan pajak pusat. Sebab, Sumatera Barat termasuk provinsi—ber­sama 19 kabupaten/kota, me­ne­rima dana APBN yang lebih besar daripada nilai pajak yang dibe­rikan sebagai penerimaan APBN.

 

Karena itu pula, ketika ber­bicara dengan Kepala Kanwil DJP Sumatera Barat Jambi M Is­miransyah M Zain, Cucu Magek Dirih menyampaikan ke­mu­ng­kinan kalaborasi Kanwil DJP Sumatera Barat Jambi de­ngan pemda provinsi dan pemda ka­bu­paten/kota se-Provinsi Sumatera Barat semakin diperjelas for­mulanya. Misalnya, pihak Kanwil DJP Sumatera Barat dan Jambi mem-break down target pene­rimaan pajak tidak hanya me­nurut skala provinsi, tapi, juga skala kabupaten/kota—bahkan skala kecamatan. Berapa nilai semua pendapatan pajak satu kecamatan dan atau tiap ka­bupaten/kota, misalnya, dan pemerintah daerah dapat mem­buat analogi berapa pula nilai dari anggaran pembangunan periode tahun berjalan yang sama untuk kecamatan dan atau untuk kabupaten/kota yang berang­kutan: apa lebih besar pen­da­patan pajak atau lebih besar dana pembangunan?

Dalam perspektif/rencana strategis demikian, Kanwil DJP dan juga Badan Pengelola Keu­a­ngan Daerah provinsi dan ka­bupaten/kota se-Provinsi Su­matera Barat bekerja sama de­ngan mengajak pula sejumlah potensi ketokohan di tingkat bawah (kecamatan dan nagari/kelurahan): seperti alim-ulama/ninik-mamak/cadiak-pandai/bundolanduang dan potensi pro­minent figures lainnya untuk membagi informasi/pe­nge­ta­huan tentang pajak, posisi/pe­ranan penerimaan pajak dalam membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pem­ba­ngu­nan, dan dalam mem­bangun kesadaran tentang membayar pajak. Dalam keberadaan posisi/peranan penerimaan pajak dalam APBN dan juga APBD provinsi/kabupaten/kota, maka kondisi maksimal demikian mutlak di­bangun/dikondisikan/dilak­sa­na­kan. Dalam hal demikian, me­nurut Cucu Magek Dirih, Gu­bernur Irwan Prayitno men­jadi pioneer! (*)

  1. Sutan Zaili Asril
    Wartawan Senior

Padang Ekspres 5 November 2012

 

Tidur Pukul 24 (Padek 5 Agus 2015)

Tidur Pukul 24.00, Bangun 04.00

Seusai dilantik menjadi gubernur Sumbar pada 15 Agustus 2010 lalu, Irwan Prayitno pun langsung berkomitmen “mewakafkan” dirinya untuk kepentingan masyarakat Sumbar. Baginya amanah menjadi pemimpin bukanlah sebuah kegembiraan. Namun, menjadi tanggung jawab yang harus dipikul dan dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, serta kepada Allah SWT.

Tak sekadar berkomitmen, Irwan mewujudkannya dalam perbuatan. Salah satu yang sudah dibiasakannya dan juga sudah menjadi semacam standar operasional prosedur (SOP) baginya, yakni tidur pukul 24.00 dan bangun pukul 04.00. Di luar jam itu, energi putra Kuranji Padang ini seakan tak habis-habisnya.
Ritme kerja Irwan seakan seperti bola yang bergulir, terus bergerak makin lama makin cepat. Beliau terus menjaga gerakan itu terus makin cepat dan makin cepat, tak boleh berhenti. Sesuai teori kelembaman, jika benda bergerak berhenti, maka dia akan sulit untuk mulai bergerak lagi.

“Bagi saya, tidur sekitar empat jam sehari, sudah terasa cukup. Alhamdulillah, itu berjalan sampai sekarang,” sebut Irwan ketika dihubungi Padang Ekspres, kemarin (4/8). Baginya, tidur tak perlu lama-lama. Asal pulas dan nyenyak, sudah cukup baginya.
Selepas itu, dia pun kembali menjalankan aktivitas yang padat.

Sebetulnya, bukanlah sekarang saja Irwan menjalankan kebiasaan satu ini. Namun, jauh sebelum dia menjadi gubernur, kebiasaan ini sudah dijalaninya. Terlebih lagi, setelah dia memutuskan menikahi Nevi Zuairina pada usia 22 tahun pada 1985. Waktu itu, dia baru semester V di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, sedangkan Nevi juga mahasiswa UI semester III.

Sejak saat itu, pria kelahiran 20 Desember 1963 itu, berazam dengan ibundanya hidup mandiri setelah nikah. Selain atas pertimbangan adanya tanggung jawab terhadap keluarga baru dan keluarga besarnya, dia juga ingin beribadah untuk meraih surga. Tepatnya, menuju hidup sukses paripurna, sukses dunia dan akhirat.

Mulai sejak itu, Irwan bersama istrinya harus pandai-pandai membagi waktu antara kuliah, mencari nafkah, serta terpenting berdakwah, serta aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyaratan. Mulai sejak itulah Irwan sudah terbiasa tidur larut malam sekitar pukul 00.00 dan bangun pukul 04.00. Setelah menjadi gubernur, kebiasaannya tidak berubah sampai sekarang.

Yongki Salmeno yang juga teman karibnya, melihat sendiri bagaimana jam tidur alumni SMAN 3 Padang ini. “Sebelum pukul 00.00, kalau masih ada pekerjaan, pastilah diselesaikan. Baginya, tak ada surat yang “menginap” semalam untuk ditandatangani. Begitu pula rapat atau pertemuan lainnya. Bila masih ada waktu, semalam-malam hari tetap dilaksanakan,” sebut Yongki.

Setiap ada hambatan yang tak mampu beliau selesaikan, menurut Yongki, pastilah beliau akan menyerahkannya pada Tuhan. Tuhan akan memberikan jalan-jalan keluar (subula) bagi orang yang bertakwa. “Beliau sangat yakin itu dan telah banyak buktinya,” aku Yongki yang sering mengikuti aktivitas Irwan.

Surat Wal Ashr dan Asy Syarh juga menginspirasi beliau tentang cara memanfaatkan waktu dan cara bekerja. Jika engkau telah selesai mengerjakan sesuatu, maka tetaplah bekerja untuk urusan yang lain. “Selagi bisa diselesaikan hari ini, kenapa harus ditunda sampai besok,” sebut Irwan perihal komitmennya menjaga waktu.
Seiring banyaknya waktu beraktivitas beliau, mulai pukul 04.00 sampai 00.00 (20 jam, red), membuat Irwan leluasa menjalankan kegiatannya. Rata-rata sehari bisa 7 sampai 10 acara yang diikutinya. Tak jarang lokasi acara tersebut saling berjauhan, yang satu di Bukittinggi, satunya lagi di Batusangkar atau bahkan di Dharmasraya, atau waktunya sangat berdekatan, sehingga harus berburu waktu. Soal ini, dia berprinsip lebih baik datang duluan daripada terlambat. Jangan sampai masyarakat kecewa, prinsip itu yang selalu ia jaga.

Boleh dikata, tak ada lagi pelosok Sumbar yang belum dikunjungi Irwan. Sebut saja daerah-daerah terisolir seperti Mentawai, Pasaman, Dharmasraya, Sijunjung atau Solok Selatan. Jika tak bisa dikunjungi dengan kendaraan roda empat, maka daerah itu ia kunjungi menggunakan sepeda motor trail.

Lantas bagaimana Irwan menjaga kondisi fisiknya? Nah untuk satu ini, Irwan punya trik sendiri. Pertama, dia biasanya makan/sarapan teratur, baik pagi, siang dan malam. Bila tak puasa, setiap berkunjung ke daerah, pastilah dia berhenti untuk makan bila waktunya sudah tiba. “Terpenting, makan berimbang dan teratur, sehingga fisik tetap terjaga,” katanya.

Di samping itu, Irwan juga biasa berolahraga minimal sekali seminggu. Tak kalah pentingnya, dia juga mencuri waktu untuk tidur selama perjalanan bila mengunjungi daerah. “Selama saya mendampingi beliau, beliau memang kerap “mencuri” waktu tidur selama dalam perjalanan,” ucap Kepala Dinas Prasarana Jalan dan Tata Permukiman Sumbar, Suprapto.

Namun dari semua itu, keikhlasan menjadi faktor terpenting bagi Irwan. “Bila kita ikhlas menjalankan apa pun kegiatan, pastilah hati ini terasa lapang. Kelelahan pun seakan tak terasa,” sebut Irwan. (*)

Padang Ekspres, 5 Agustus 2015

 

Tak Lelah Urus Masyarakat Sumbar (Padek 4 Agus 2015)

Tak Lelah Urus Masyarakat Sumbar

Ketika bakal calon (balon) kepala daerah lain kian gencar menggalang kekuatan menghadapi pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 9 Desember mendatang, namun tak begitu bagi Gubernur Sumbar Irwan Prayitno yang juga menjadi balon gubernur Sumbar. Dia malah bertambah sibuk mengurus masyarakat Sumbar.

Saat ditemui di Pantai Padang akhir, pekan lalu, senyum sumringah selalu terlihat di wajah rang Kuranji Padang itu. Ketika beliau ditanyai soal persiapan Pilgub Sumbar, Irwan malah tertarik membahas bagaimana aktivitas dirinya mengurus rakyat yang belakangan makin padat saja.

Selaku gubernur, dirinya mengaku masih tetap rutin menelusuri daerah-daerah pelosok dengan motor trail. Menggunakan trail, dirinya bisa lebih gampang melihat kondisi riil pembangunan yang tidak terjangkau alat transportasi. Masukan masyarakat yang diterimanya di lapangan, menjadi acuan baginya untuk membuat program pembangunan.

Pria berkaca mata ini, juga rutin memberikan tausyiah kepada masyarakat di mana pun berada, memberikan motivasi kepada masyarakat, untuk berpartisipasi dalam pembangunan.

Irwan juga giat menyampaikan dakwah agama dengan cara berbeda, yakni bermain band dan menyanyikan tembang Islami karyanya sendiri pada iven tertentu. Dia juga bersemangat menghadiri berbagai program dan kegiatan pembangunan di daerah. Seminar dan rapat dengan SKPD dan pemerintah pusat membahas evaluasi berbagai program pembangunan, meninjau hasil pembangunan di lapangan, tetap dilakukan Irwan tanpa kenal lelah.

Salah kegiatan yang baru saja dibukanya adalah Pariaman Expo dan Pameran Pembangunan Kota Pariaman. Bagi Irwan, Pariaman Expo dan Pameran Pembangunan Kota Pariaman merupakan hal yang sangat penting. Melalui iven ini, diharapkan dapat memajukan ekonomi masyarakat. Selain itu, juga dapat memajukan dunia pariwisata Sumbar.

Tidak terhenti saja bicara soal Pariaman Expo, Irwan bercerita soal agenda kegiatannya yang lain di hari itu. Irwan bercerita soal kegiatan memberikan taushiyah pendidik dan tenaga kependidikan Kota Padang di Masjid Raya Sumbar. Tausyiah tersebut dianggap penting, untuk memotivasi tenaga pendidik, agar tetap bersemangat memberikan ilmu kepada generasi muda, demi terciptanya masyarakat Sumbar cerdas.

Selepas itu, Irwan dengan kekuatan fisiknya, tidak pernah berhenti bekerja mengurus masyarakat. Dirinya, terus bergerak menuntaskan jadwal yang telah ditetapkan. Irwan kemudian bersilaturahim dengan PWRI dan pamong senior. Hadir Prof Fachri Achmad (mantan Wagub), para mantan Sekprov seperti Rusdi Lubis dan tokoh lainnya. Pertemuan ini sangat penting, terutama menerima masukan, kritik dan saran terhadap hasil pembangunan Sumbar yang telah dilaksanakan selama kepemimpinannya. “Saya tadi juga menghadiri kegiatan sosialisasi pemberdayaan masyarakat,” terang Irwan.

Melalui salah satu media elektronik, Irwan menyebutkan, dirinya mensosialisasikan pentingnya pemberdayaan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan dan mengatasi kemiskinan, serta pengangguran. “Pemberdayaan tepat untuk Sumbar, karena rakyat Sumbar punya potensi untuk mandiri dan independen di bidang ekonomi,” terang Irwan.

Apakah berhenti sampai di situ? Tidak. Irwan melanjutkan kerjanya. Dia menghadiri diskusi bagaimana upaya pemerintah membantu petani dengan menempatkan tanaman yang sesuai kondisi tanah. Dalam diskusi tersebut, Prof Dr Ir Zulman H U MP, Rektor Universitas Taman Siswa memberikan buku kepada Irwan Prayitno yang menjelaskan budidaya padi pada lahan marjinal. Irwan menilai, buku tersebut sangat bermanfaat untuk dituangkan dalam program kerja Pemprov Sumbar untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

 

Kendati dijejali kegiatan begitu padat siang hari, bukan berarti kegiatan malam hari tak ada. Irwan mengatakan, kerjanya bahkan tidak mengenal waktu. Hingga malam hari, dirinya masih bekerja. Dia mencontohnya aktivitas pada Jumat malam (31/8). Dia menghadiri napak tilas perjuangan Bagindo Aziz Chan. Irwan memberikan arahan dan melepas peserta napak tilas Perjuangan Pahlawan Nasional Bagindo Aziz Chan di halaman Kantor Gubernur. Turut hadir wali kota Padang dan keluarga almarhum Bagindo Aziz Chan malam itu

Ketika ditanya berapa agenda kegiatannya dalam satu hari. Irwan justru menjawab dengan tertawa lebar. “Kalau ditanya berapa, tidak terhitung. Karena cukup banyak,” terang Irwan.

Bagaimana dengan hari libur, seperti Minggu. Irwan Prayitno ternyata masih bekerja mengurus rakyat. “Seperti, Minggu (2/8), saya berkesempatan meepas atlet olimpiade olahraga siswa nasional (OSN) Sumbar untuk bertarung mewakili utusan Sumbar di Makassar,” terang Irwa

Irwan juga menghadiri silahturahim masyarakat Solok Saiyo Sakato Cabang Belimbing, dan silaturahmi dengan warga Agam Nagari Gadut dan Kototangah.

Berbagai agenda dan kegiatan tanpa mengenal lelah siang dan malam, terus dilakukan Irwan Prayitno setiap hari. Irwan mengaku, kerja keras yang dilakukannya selama ini demi masyarakat dan untuk pembangunan Sumbar. Semua tidak terlepas dari rasa tanggung jawabnya sebagai gubernur Sumbar yang diberi amanah untuk membangun Sumbar yang lebih baik.

“Hingga akhir jabatan saya, saya akan tetap melaksanakan amanah tersebut. Alhamdulillah, selama lima tahun bekerja, saya selalu dalam keadaan sehat. Ini merupakan rahmat Allah SWT, saya diberi kenikmatan kesehatan. Kuncinya keikhlasan,” aku Irwan. (*)

Padang Ekspres, 4 Agustus 2015

Kau Istriku (Singgalang 22 Agustus 2013)

Kau Istriku, Lagu karya Gubernur Sumbar Sudah Bisa Dinikmati di Youtube

Padang, Singgalang

Setelah ditakdirkan dalam hidupku

Setelah menjadi penyejuk hatiku

Kau hangatkan di setiap malam bagiku

Kau istriku engkau istriku

Kau diciptakan untukku

Kau adalah pendamping hidupku

Kau ibu anakku

Kau diciptakan untukku

Kau adalah pendamping hidupku

Wahai engkau istriku

Lirik di atas merupakan lagu gubahan Gubernur Irwan Prayitno dengan judul ‘Kau Istriku’. Lagu dengan genre religius itu diciptakannya kala ditinggal pergi istrinya menjalani umrah ke tanah suci.

Lagu ini dapat dilihat di situ Youtube. Di sana akan terlihat video klip sederhana dengan latar gubernuran. Irwan bernyanyi sembari bermain gitar, di sebelahnya ada Hj. Nevi. Istrinya sendiri selaku bintang video klip. Hj. Nevi juga tidak banyak bergerak, hanya mengayunkan badannya ke kiri ke kanan dibumbui sedikit senyum.

“Ini adalah penghargaan pada istri saya, dan begitu pula hendaknya bagi para suami. Selama ini lagu-lagu dari segi cinta, janda dan selingkuhan lebih banyak. Makanya, saya khusus menciptakan lagu untuk istri saya,” sebut Irwan di sela-sela mendaftarkan hak cipta lagunya di Kanwil Menkumham Sumbar, Senin (19/8).

Irwan selama ini memang dikenal lebih serius dalam penampilan. Kurang senyum dan lebih banyak bicara pas-pasan. Kecuali di atas sedang menjadi narasumber atau memberi tausiyah, tak pernah habis yang akan dikatakannya. Selain posisinya sebagai pengurus partai politik PKS, juga lebih banyak menonjolkan dirinya yang religius.

Namun sebenarnya, putra Kalumbuk, Kota Padang ini juga memiliki hobi layaknya manusia lain. Rasa seni dan olahraga yang memacu adrenalin juga meletup-letup dalam dirinya. Tak jarang di sela-sela waktunya mengurus Sumbar, Irwan mengembara dengan motor trail. Di lain waktu, dia juga seperti orang ‘kesurupan’ menabuh drum.

Menunggangi trail dilakukannya di Lubuk Minturun, Koto Tangah. Sedangkan main gitar dan menabuh dram di gubernuran ada. Tak jarang juga dia tampil di sejumlah stasiun televisi lokal.

“Saya hanya ingin menampilkan rasa seni saya, jangan katakan saya jadi gubernur kerjanya hanya menyanyi saja,” sebut Irwan.

Kedua hobinya itu memang paling sering digeluti sejak masih duduk di bangku SMA 3 Padang. Bahkan, pernah pula dia menggeber motor hingga mengeluarkan suara bising di sekolah. Itu masa lalu.

Namun ketika dirinya sibuk kuliah dan meniti karir politik hingga duduk di DPR RI, kedua hobinya kurang tersalur maksimal. Sekarangpun sebenarnya juga kurang waktu baginya. Karena sudah berada di kampung halaman sendiri, dia masih bisa menyempatkan diri untuk menggelutinya.

Tak jarang sore selesai melaksanakan tugas sebagai pelayan masyarakat, Irwan menabuh dram di gubernuran. Dan bermain gitar. Akhirnya dia melahirkan dua lagu, pertama dengan judul ‘Kau Istriku” dibuat pada hari ke sembilan Ramadhan.

Kemudian lagu ‘KepadaMu’. Lagu ini justru lahir ketika dirinya serasa mendapat ilham usai shalat Subuh di awal Ramadhan. Dengan niat bagaimana doa itu tersosialisasi, makanya dia menggubahnya menjadi lagu. Kini kedua lagu sudah dapat dinikmati melalui situs Youtube. “Bagi yang berminat silahkan nikmati,” ujarnya yang tidak berniat rekaman.

Hak Cipta

Dengan lahirnya dua lagu tersebut, Irwan juga memberikan pemahaman hukum pada masyarakat. Bagi yang memiliki karya harus didaftarkan pada Kementerian Hukum dan HAM. Agar karya tersebut diakui dan dilindungi secara hukum formal.

“Sekarang banyak masyarakat memiliki karya, namun dibiarkan saja, kemudian diambil orang lain menuntut. Jika sudah didaftarkan sebagai hak cipta, maka jika ada yang memanfaatkan bisa dituntut,” ujarnya.

Irwan sendiri sudah mendaftarkan kedua lagunya sebagai hak ciptanya sendiri di Kanwil Kemenkum HAM Sumbar. Selain itu, katanya, pendaftaran itu juga sebagai bagian dari sosialisasi agar masyarakat jangan menggunakan lagu bajakan.

Hal yang sama dikatakan Ketua DPD (PAPPRI) persatuan artis penyanyi, pencipta lagu, dan penata musik rekaman Indonesia, Novrial Anas. Novrial yang ikut mendampingi Irwan mendaftarkan hak ciptanya mengaku, penegak hukum harus ikut membantu seniman untuk melindungi haknya.

Apalagi belakangan ini banyak sekali kaset bajakan yang beredar dibandingkan dengan kopian asli. Sehingga kondisi itu merugikan para seniman dan pencipta lagu. “Nilai lagu itu tidak mahal, buktinya di Sumbar ini ada 80 persen penyanyi dan pencipta lagu hidup berada di bawah garis kemiskinan,” ujarnya.

Kepala Kanwil Kemenkumham Sumbar, H. Sudirman D. Hury mendukung langkah Gubernur Irwan Prayitno dalam mendaftarkan hakciptanya. Karena itu bagian dari sosialisasi hukum pada masyarakat, sehingga masyarakat tahu dengan haknya sendiri. ‘Dengan begini, masyarakat akan mau dan paham akan haknya di hadapan hukum,” ujarnya.

Singgalang 22 Agustus 2013

 

Selalu Jaga Silaturahim (Singgalang 21 Agus 2015)

SELALU JAGA SILATURAHIM

PADANG-Kalau tak lagi berkuasa, seorang pejabat biasanya ditinggalkan. Yang dekat mengambil jarak, yang berjarak menjauh, yang menjauh mulai menghilang. Tidak dengan Irwan Prayitno. Tak lagi menjadi Gubernur Sumbar, orang-orang yang bertamu kepadanya tak bekurang. Tiap sebentar orang datang. Mereka di antaranya karena memang ada suatu keperluan, tapi banyak juga yang sekadar bertegur sapa, memanfaatkan kesempatan emas untuk berjumpa. Maklum, ketika masih menjadi gubernur, dengan kegiatan yang sangat padat, tak gampang bisa berjumpa dengan Irwan.

Kemarin, pagi menjelang siang, Irwan kedatangan tamu dari lain benua. Ia dikunjungi tokoh Minang asal Pariaman yang berdomisili di Washington, Amerika Serikat. Dalam suasana cair, mereka berbincang-bincang tentang bagaimana memaksimal peran perantau membantu anak-kemenakan di Ranah Minang. Ini bukan tamu satu-satunya Irwan pada Kamis (20/8). Masih banyak yang lain. Irwan tak kan berhenti berjumpa dengan banyak orang hingga malam menjelang.

Sehari sebelumnya, Rabu (19/8), Irwan bertemu dengan pedagang pasar di kediamannya di Kuranji. Sebelumnya, ia bersilaturrahmi dengan panitia seribu sapu lidi yang mengadakan gerakan kebersihan di Pantai Padang. Dua hari setelah melepaskan jabatan gubernur, Irwan berkunjung ke Komplek Perguruan Islam Adzkia yang didirikannya di Taratak Paneh. Di sana, ia seperti kembali ke habitat aslinya sebagai pendidik.

Di Komplek Perguruan Islam Adzkia, Irwan sempat shalat Zuhur berjamaah. Uniknya, usai shalat, ia diserbu ratusan siswa yang hendak bersalaman. Irwan dengan senang hati membalas setiap jabatan tangan anak-anak itu. Giliran anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar hendak bersalaman, mereka tak hanya menjulurkan tangan, tapi juga menyodorkan buku catatan dan pena. Ya, mereka minta tanda tangan.

Lama Irwan melayani permintaan tanda tangan. Pengajar di Adzkia mencoba melerai anak-anak yang hendak meminta tanda tangan, karena pada waktu bersamaan Irwan ditunggu oleh sejumlah tamu, seperti perwakilan guru daerah terpencil dan pemuda Lubuk Begalung yang hendak mempersiapkan kegiatan perayaan 17 Agustusan. Ketika sedang berbincang-bincang santai dengan para tamunya di dangau yang ada di Komplek Perguruan Islam Adzkia, sejumlah anak terus menantinya dengan buku catatan dan pena. Melihat gelagat anak-anak itu yang terus mencuri padang, Irwan memanggil agar mendekat. Buku catatan disodorkan, tanda tangan pun dibubuhi. Dengan berkelakar, Irwan bertanya kepada anak-anak itu. “Ini tanda tangannya untuk apa sih?”

Dengan percaya diri, seorang anak menjawab: “Buat kenang-kenangan…” Rupa-rupanya, anak-anak itu tetaplah mengenal Irwan sebagai gubernur. Kesempatan langka bertemu dengan gubernur tak ingin mereka sia-siakan.

Anak-anak tetap mengenal Irwan, walaupun tak lagi menjadi gubernur. Hal itu karena kedekatan. Kedekatan itu karena pribadi Irwan yang selalu menjaga silaturrahmi. Ketika ditanya tentang apa saja kegiatannya setelah tak lagi menjadi gubernur, Irwan menjawab: “Bertemu dengan tokoh-tokoh, terima tamu, bertemu dengan masyarakat, lebih banyak silaturrahmi,” ujar Irwan.

Ketika masih menjadi gubernur, Irwan sangat menjaga silaturrahmi. Baru saja dilantik, ia langsung mengunjungi sejumlah mantan gubernur Sumbar. Irwan menjenguk almarhum mantan gubernur Zainal Bakar yang ketika itu sedang terbaring sakit. Mantan gubernur Sumbar yang berdomisili di Pulau Jawa juga dikunjungi. Irwan juga rutin bersilaturrahmi dengan tokoh-tokoh masyarakat Minang, baik di kampung halaman maupun di rantau. Yang tak terlewatkannya adalah bersilaturrahmi dengan masyarakat Sumbar. Hampir seluruh nagari-nagari terpencil di daerah ini dikunjungi Irwan. Soal bersiltarrahmi dengan masyarakat ini, Irwan berprinsip tak ingin mengecewakan.

Sederhana saja bagi masyarakat untuk mengundang Irwan. Cukup SMS saja, ia akan datang. Tak mengherankan, setiap hari itu Irwan memiliki seambrek kegiatan bertemu dengan masyarakat. “Dari satu tempat, terus ke tempat lain. Saya bukan orang yang tergesa-gesa, tapi memang banyak yang mesti dikunjungi. Saya selalu ingin datang lebih cepat agar masyarakat tak lama-lama menunggu,” ungkap Irwan yang tak ingin mengecewakan masyarakat yang telah mengundangnya.

Silaturrahim itu memperpanjang umur, memperluas rezki, meningkatkan iman. Tak mengherankan, ketika dipersandingkan dengan Nasrul Abit dalam Pilgub mendatang, Irwan langsung menyusun agenda kegiatan bersama, agenda utamanya yaitu bersilaturrahmi. Irwan menapik, agenda silaturrahmi itu hanya untuk berbasa-basi, apalagi ada maksud lain. “Saya bersama Pak Nasrul Abit sudah menyusun agenda silaturrahmi. Tapi, tak ada soal dukung-mendukung,” tegas Irwan. 007

Singgalang, 21 Agustus 2015

 

Sepenuhnya Mengurus Sumatera Barat (Singgalang 20 Agus 2015)

SEPENUHNYA MENGURUS SUMATERA BARAT

PADANG-“Ketika jadi gubernur, saya sudah wakafkan diri untuk Sumatera Barat.”

Kata-kata itu diucapkan Irwan Prayitno lima tahun yang lalu. Rentang waktu tersebut, ia membuktikan ucapannya. Dua periode duduk di DPR-RI, menjadi Ketua Komisi, karir politik Irwan mengkilap di pentas nasional, bahkan internasional. Ia menjadi anak muda Minang yang disegani di jagad politik. Panggilan dari kampung halaman menjadikan Irwan gubernur. Ia pun meninggalkan semua jabatan dan aktivitas politiknya. Ia sibuk mengurus Sumatera Barat.

Di awal-awal jabatannya sebagai gubernur, Irwan dihadapi tantangan yang teramat berat. Tantangan itu disebabkan bencana gempa yang melanda Sumbar tahun 2009. Tak hanya menelan seribu lebih korban jiwa, gempa menghancurkan infrastruktur daerah, membuat ribuan orang kehilangan rumah. Irwan berpacu dengan waktu. Tanggap darurat berjalan dengan baik. Penanganan dampak bencana menjadi prioritasnya. “Kita mendahulan membangun rumah masyarakat yang hancur. Alhamdulillah, semua terlaksana dengan baik. Barulah sekarang kita memperbaiki kantor pemerintahan. Memperbaiki kantor gubernur, biarlah belakangan,” ujar Irwan menekankan komitmennya dalam membangun Sumbar.

Fasilitas yang terbatas karena bencana tak menghalangi tugas Irwan dalam mengurus masyarakat. Ia memilih berkantor di rumah dinas. Ketika escape bulding di kantor gubernur selesai dibangun, ia justru menyerahkan gedung yang representatif itu sebagai kantor para pegawai di sekretariat provinsi. Merekalah ujung tombak pelayanan masyarakat. Karena itu Irwan memberikan tempat kerja yang lebih baik kepada mereka, sementara ia memilih tetap berkantor di rumah dinas.

Hari-hari sebagai gubernur dihabiskan untuk mengurus masyarakat. Irwan dikenal sosok pekerja keras. Selain pekerja keras, Irwan adalah sosok yang efisien. Selesai satu pekerjaan, ia langsung beralih ke pekerjaan yang lain. Kadang, langkah sigap Irwan ini membuat para staf dan kepala-kepala SKPD yang menyertainya keteteran. Contoh sederhana, ketika menghadiri kegiatan di luar kota, sejumlah staf dan kepala SKPD yang mesti menyertai selalu meminta untuk tidak ikut iringan kendaraan Irwan. Mereka memilih datang lebih dahulu atau belakangan. Kalau ikut iringan kendaraan gubernur, bisa-bisa ketinggalan karena lajunya sangat kencang sekali.

Irwan punya alasan mengapa mesti melaju kencang. Ia mesti menyelesaikan banyak pekerjaan setiap hari. Apalagi, itu terkait dengan menghadiri kegiatan yang dihelat masyarakat, Irwan ingin datang lebih awal dan tak mengecewakan orang-orang yang telah menantinya. “Sehari itu bisa 15 kegiatan. Harus mengejar waktu, dari satu tempat mesti segera ke tempat lain,” ujar Irwan.

Setiap hari, ia memulai kerja ketika matahari belum muncul. Pekerjaannya mengurus masyarakat belum juga berhenti ketika mentari sudah duduk di peraduannya. Kesibukkan mengurus daerah itu memaksa Irwan mesti mengorbankan kebersamaan dengan keluarga. Tapi, Irwan sudah terbiasa pandai membagi waktu dan kebersamaan dengan keluarga. Perhatian terhadap anak-anaknya tak berkurang. Komunikasi dibangun dengan baik, sehingga ia selalu dekat dengan anak-anak. Kebersamaan itu membuat 10 anak-anaknya berhasil dalam karir, pendidikan dan menjadi anak-anak yang memiliki karakter kuat. Untuk urusan membangun karakter anak-anaknya, Irwan selalu menanamkan nilai-nilai keislaman.

Sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat kepada manusia lain. Prinsip itu yang mendorong Irwan bekerja tanpa lelah untuk masyarakat. “Lima tahun saya jadi gubernur, saya sibuk mengurus masyarakat. Tak ada mengurus yang lain, tak pernah mengurus partai,” ujar Irwan beberapa waktu lalu.

Banyak pekerjaan mengurus masyarakat yang dilakukan Irwan setiap hari, pekerjaan yang tanpa henti. Banyak pula kegiatan yang dihadirinya setiap hari, tak juga henti-henti. Sabtu atau Minggu, ia pun masih menghadiri berbagai kegiatan yang dilaksanakan masyarakat. Tak ada waktu libur baginya.

Irwan selalu menyampaikan berbagai kegiatannya setiap hari melalui media sosial yang dimilikinya. Apa saja kegiatannya permenit itu terlihat dengan jelas. “Siapa saja bisa melihat kegiatan saya di media sosial. Banyak kegiatan, banyak acara setiap hari. Coba lihat, berapa banyak kegiatan itu berhubungan dengan partai?” ujar Irwan dengan nada bertanya. 007

Singgalang, 20 Agustus 2015

Antar Anak Sekolah (Singgalang 19 Agus 2015)

Antar Anak Sekolah, Bantu Istri di Rumah

PADANG-Pagi baru menyingsing. Sesosok laki-laki sudah bersiap-siap di belakang stir yang parkir di teras rumah. Ia sedang menunggu dua perempuan belia. Setelah yang ditunggu duduk manis, mobil melaju dengan kecepatan sedang. Dari sebuah rumah di Lubuk Kilangan, Padang, mobil itu menuju pusat kota. Perjalanan laki-laki itu berhenti di sebuah sekolah negeri.

Dua hari lalu, ia masih Gubernur Sumatera Barat. Selasa pagi (18/8), Irwan Prayitno seperti warga biasa lainnya. Sebagai seorang ayah, itulah pekerjaannya pagi itu. Irwan mengantar sendiri putrinya ke sekolah. “Setelah kesibukan sebagai gubernur berakhir, saya akan kembali melakukan itu,” ujar Irwan suatu kesempatan ketika masih menjadi Gubernur Sumbar bercerita tentang kecintaannya kepada keluarga.

Kesibukkan yang sangat padat memaksa Irwan menyerahkan urusan anak-anak kepada sang istri, Nevi Zuairina. Dengan 10 orang anak, tentu bukan pekerjaan yang gampang. Tapi syukurnya, anak-anak Irwan sekarang sudah besar-besar. Di antaranya sudah berkeluarga. Dari pernikahan anak-anaknya itu, ia dikaruniai tiga cucu. Anak-anaknya itu sudah jadi orang berhasil, memiliki penghidupan yang mapan dari kerja kerasnya sendiri.

Keberhasilan anak-anak Irwan terlihat dari pencapaian pendidikan mereka. Semua anak-anaknya yang sudah dewasa, kuliah di universitas negeri ternama di Indonesia. Ada juga yang menamatkan sarjana di luar negeri dan mendapatkan pekerjaan yang baik di Jakarta. Enam anak Irwan kini berada di ibukota, empat lainnya di Padang. Keberhasilan anak-anaknya itu tak terlepas dari komitmen Irwan yang kuat sebagai kepala keluarga. Di tengah kesibukkannya, mengurus anak-anak tetap menjadi yang utama.

Irwan biasa mengantar anak-anak ke sekolah. Bahkan, untuk urusan menjemput rapor, ia sendiri yang melakukan. Bagi Irwan, kesempatan itu digunakan untuk lebih mengetahui bagaimana perkembangan anak-anaknya di sekolah. “Saya selalu bertanya kepada guru anak-anak di sekolah, bagaimana perkembangan pendidikan mereka. Sesibuk apa pun, saya selalu berkomunikasi dengan anak-anak, menanyakan kabar mereka, apakah sudah shalat dan sebagainya,” terang Irwan.

Ketika menjadi gubernur, Irwan tak punya banyak waktu untuk mengantar anak-anak ke sekolah. Paling, yang bisa dilakukan adalah melepas anak-anak di rumah untuk berangkat ke sekolah sendiri. Irwan memang sejak dini mengajarkan kemandirian kepada anak-anaknya.

Kebiasaan mengantar anak ke sekolah bukan untuk memanjakan, tapi itulah caranya agar bisa lebih dekat dan berkomunikasi dengan anak. Sambil berada di dalam mobil, anak-anak terasa semakin dekat. Dengan demikian, Irwan bisa leluasa menyelami isi hati anak-anaknya. “Kadang, kalau di telpon, anak-anak itu tak tahu mesti ngomong apa. Tapi, kalau sedang bersama-sama, mereka akan cerita apa saja. Dari sana, saya jadi tahu bagaimana kondisi anak-anak,” ungkap Irwan yang memang seorang pendidik ini.

Kini, Irwan bisa kembali mengantar anak-anak sekolah. Untuk urusan itu, ia tak menyuruh sopir. Irwan sendiri yang menyetir mobil. Ketika bertemu dengan para orang tua lainnya yang mengantar anaknya ke sekolah, Irwan mengaku tak ada rasa yang berbeda ketika ia tak lagi menjadi Gubernur Sumbar. Sebagian orang masih menyapanya sebagai Pak Gubernur. Seperti ketika sedang mengantar sang putri ke sekolah, di jalan yang macet memasuki gerbang SMAN 1 Padang, Irwan diteriaki oleh para orang tua siswa. “Saya diteriaki Pak Gub, Pak Gub! Eh, ternyata satpam sekolah juga mengenal saya…” ujar Irwan menceritakan kejadian unik yang dialaminya.

Sehari setelah tak lagi menjadi gubernur, aktivitas Irwan sebenarnya tak banyak berkurang. Misalnya kemarin, pas Hari Kemerdekaan, Irwan punya seambrek kegiatan bersama masyarakat. Mulai dari menghadiri perayaan 17 Agustusan bersama warga Padang Timur, Irwan juga menyempatkan diri melayat ke rumah warga yang tertimpa musibah. Sepanjang hari, Irwan juga melayani dialog dan memberikan tausiah di sejumlah stasiun radio, seperti di Radio Pronews dan Arbes FM. Silaturrahim dan bertemu dengan masyarakat juga tetap padat. Bahkan, agendanya tak berhenti hingga malam menjelang. Aktivitas Irwan untuk masyarakat memang tak pernah berhenti.

Walau kegiatannya tetap banyak, tapi sekarang waktu Irwan sedikit lebih longgar. Hal itu dimanfaatkannya untuk keluarga. “Biasa, kalau di rumah, beres-beres bantu istri,” celutuk Irwan.

Pekerjaan rumah tangga tak tabu bagi Irwan. Lihat saja, ketika meninggalkan rumah dinas di gubernuran, Irwan tak sungkan mengepak barang-barang pribadinya. Kardus-kardus di angkat sendiri ke mobil box yang sengaja disewa. Apalagi kalau sedang bersama sang cucu, Irwan tak segan membelikan susu.

Kepada anak-anaknya yang sudah berkeluarga, Irwan tetaplah sebagai ayah yang tak luput perhatiannya. Tapi, perhatian itu sedikit terbagi untuk sang cucu. “Anak-anak sering juga nelpon minta dibelikan susu. Ya, dikasih. Namanya juga untuk cucu,” ujar Irwan tersenyum lebar.

Singgalang, 19 Agustus 2015

 

Tanpa Teks (Singgalang 18 Agus 2015)

Tanpa Teks, Sambutan Selalu Mengena

PADANG-Di awal-awal masa jabatannya ketika masih menjadi Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno biasa menghadiri banyak kegiatan. Di setiap kegiatan, ia selalu didaulat untuk menyampaikan kata sambutan. Pernah, ketika memberikan kata sambutan dalam peresmian penanaman padi sebatang kelompok tani di Payakumbuh, ada kejadian unik.

Irwan memberikan sambutan dalam suasana berbaur dengan para petani di sebuah dangau di tengah sawah. Saat itu, hadir Walikota Payakumbuh, Riza Palevi. Para petani sudah akrab dengan sang walikota karena memang sering melihatnya. Giliran Irwan menyampaikan kata sambutan, ia langsung berbicara tentang pertanian. Irwan sangat fasih berbicara tentang pertanian. Seluk-beluk padi dikupasnya. Tak hanya soal bagaimana meningkatkan produksi, bagaimana pertanian dikelola dengan baik untuk meningkatkan kesejahteraan petani dengan lihai dikupasnya. Selesai menyampaikan kata sambutan, seorang petani bercelutuk. “Yang tadi kepala dinas ya?”

Celutuk petani itu didengar oleh seorang staf yang kebetulan berada di dekatnya. “Itu Pak Gubernur. Kepala dinasnya, bapak yang kurus-kurus itu,” ujar staf sambil menunjuk Ir. Djoni yang duduk dekat Irwan.

Protokol sebenarnya telah memperkenalkan Irwan sebagai gubernur. Tapi, petani tadi masih terheran-heran. Keherannya sangat beralasan. Biasanya, hal-hal yang teknis menjadi makanannya kepala dinas untuk menjelaskan. Seorang gubernur cukup mengetahui yang umum-umum saja. Irwan bukannya hendak mengambil kata sambutan kepala dinas, tapi begitulah ia selalu ingin mengetahui segala hal dengan detail.

Usai acara peresmian penanaman padi sebatang, sejumlah pejabat yang menyertai sempat pula berkelakar dengan Irwan sambil berjalan di pematang sawah. “Pak Gubernur ini sebenarnya profesornya di bidang pertanian ya?” celutuk seorang pejabat.
Dengan nada santai, Irwan menjawab. “Tidak, saya profesor di bidang sumber daya manusia,” balas Irwan.

Begitulah Irwan Prayitno. Di setiap kegiatan, ia selalu menyampaikan kata sambutan tanpa teks. Bukan karena tak ada staf untuk membuatkan teks pidato, Irwan bahkan bisa membuat teks pidatonyo sendiri dengan baik. Ia dikenal sebagai penulis handal. Irwan gemar menulis artikel yang dipublikasinya di banyak media. Selain itu, ia telah menulis puluhan buku dengan beragam tema, mulai dari pengembangan sumber daya manusia yang memang keahlian utamanya, juga tema-tema psikologi, keluarga, pendidikan, hingga tema-tema agama. Tapi, kalau menunggu membacakan teks pidato dalam sambutannya, bisa-bisa acara yang dihadiri Irwan jadi berantakan. Setiap hari, ia mesti menghadiri banyak acara. Tak cukup satu-dua, bahkan bisa belasan sehari. Bayangkan, berapa teks pidato yang harus disiapkan.

Walaupun tanpa teks, pidato Irwan tak pernah biasa-biasa saja. Ia mampu dengan baik menjelaskan segala hal terkait dengan tema di setiap acara. Kalau itu acara bidang kesehatan, ia mampu menjelaskan persoalan kesehatan dengan baik, kalau bidang pendidikan, itu memang makanannya Irwan. Demikian juga dengan bidang-bidang lainnya. Hal itu menandakan kemampuan intelektual Irwan setara dengan gelar profesor yang disandangnya, sekaligus memperlihatkan bagaimana komitmennya untuk membenahi segala persoalan terkait dengan kebutuhan masyarakat banyak. Seorang kepala daerah tentunya mesti memahami dengan baik segala persoalan, tidak hanya mengandalkan para staf atau kepala dinasnya. Dengan demikian, ia mampu membuat kebijakan yang bisa menjawab akar permasalahan yang dihadapai masyarakat banyak.

Irwan menyebutkan, tak ada keengganannya membacakan teks dalam menyampaikan kata sambutan. Tapi, karena banyaknya kegiatan yang dihadiri membuatnya tak bisa mengandalkan teks pidato. Ia pun tak punya banyak waktu untuk menyiapkan sendiri teks pidatonya. “Saya terbiasa menyampaikan segala sesuatu secara terstruktur,” terang Irwan.

Kemampuan Irwan berbicara di podium memang tak diragukan lagi. Ia biasanya menyampaikan ide-idenya dengan baik di hadapan khalayak. Irwan adalah seorang dosen. Ia sudah terbiasa berbicara secara terstruktur dengan dalil-dalil yang bisa dipertanggungjawabkan. Irwan juga seorang trainer, dai, penceramah, kemampuan berbicaranya di depan publik memang sudah terasah.

Dengan berjibun kegiatan setiap hari yang menuntutnya untuk selalu memberikan kata sambutan, bagaimana Irwan menyiapkan bahan untuk sambutannya? Irwan biasanya menyiapkan materi sambutannya beberapa saat kegiatan di mulai. Hal itu dilakukan di dalam mobil yang mengantarnya menuju lokasi acara. Waktu-waktu yang masif di dalam mobil itulah Irwan menyiapkan materi sambutannya.

Di dalam mobil, Irwan hanya ditemani sopir dan seorang staf yang biasa membantu keperluannya yang lain. Tak ada staf khusus bersamanya untuk menyiapkan materi pidato. Jadi, Irwan menyiapkan sendiri bahan pidatonya. Kalau ada hal-hal yang kurang dipahami dan hal-hal yang belum diketahuinya, Irwan tak segan-segan bertanya kepada staf atau kepala dinas terkait. Dengan kemampuan intelektual dan wawasannya yang luas, Irwan tak segan-segan bertanya hal-hal yang mesti diketahuinya. Begitulah kerendahan hati seorang Irwan Prayitno.

Kemampuan memahami dan menyampaikan pokok pikiran tak hanya ditentukan oleh kemampuan intelektual. Irwan adalah sosok yang mau mendengarkan. Ia tak hanya menerima informasi dari kepala dinas, staf kecil pun didengarkannya. Bahkan, tak peduli informasi itu disampaikan oleh seseorang yang biasa-biasa saja, Irwan malah meminta orang untuk menjelaskan panjang
lebar. Misalnya, ketika meresmikan produk kopi asli Sumatera Barat dalam sebuah kegiatan, Irwan meminta seorang peracik kopi menjelaskan seluk-beluk kopi. “Ini kopinya tak pakai gula?” ujar Irwan bertanya.

Peracik kopi itu menjelaskan, kalau memakai gula, aroma asli kopi jadi tak terasa. Inti dari menikmati kopi adalah merasakan aromanya. “Baru tahu saya minum kopi itu tak pakai gula. Itu kan lebih sehat,” ujar Irwan lagi.
Tak hanya suka mendengarkan, Irwan juga sosok yang gigih untuk mempelajari banyak hal. Kegigihannya itu didukung oleh kebiasaannya yang suka membaca. Karena itulah, setiap yang disampaikan Irwan dalam kata sambutannya selalu mengena. 007

Singgalang, 18 Agustus 2015

 

Tak Tahu Maka Tak Kenal (Singgalang 16 Juni 2015)

Tak Tahu Maka Tak Kenal

Oleh Yongki Salmeno

Kata-kata bijak di atas sudah lama sekali kita kenal. Meski kuno, namun kata-kata bijak tersebut masih mangkus untuk menggambarkan realita dalam kehidupan sehari-hari.

Dari berbagai diskusi baik formal maupun informal, menurut pengamatan saya, hal itulah yang sedang terjadi. Sejumlah masyarakat memberikan apresiasi positif terhadap kinerja Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno (IP), namun ada juga sebagian masyarakat yang memberikan apresiasi negatif.

Dulu pernah IP dicap sebagai sosok yang tidak disiplin, tidak menghargai waktu. Tuduhan yang dihembuskan itu sempat berkembang di masyarakat. Saya hanya bisa tersenyum miris ketika isu itu dihembuskan, karena tahu persis bagaimana cara IP mengelola waktu. Kenyataan sebenarnya sangat bertolak belakang, beliau justru sangat jelimet dengan urusan waktu.

Seiring dengan perjalanan waktu, tuduhan tersebut berangsur-angsur lenyap dan sirna seperti kabut pagi yang dihalau sinar mentari. Masyarakat melihat sendiri bagaimana sesungguhnya IP sangat menghargai waktu. Kini umumnya masyarakat sudah tahu jika mengundang Gubernur untuk sebuah acara jam 8 pagi misalnya, maka beliau selalu akan datang seperempat jam sebelum acara dimulai.

Pengundang atau pembuat acara sering malu karena Gubernur sudah datang, tetapi pengundang sendiri belum siap dan undangan yang lain juga belum datang. Menurut mereka pejabat biasanya datang molor dari waktu yang ditetapkan, namun Irwan Prayitno selalu datang tepat waktu, malah lebih awal. Jika ada kendala datang tidak tepat waktu, maka sedari dini beliau mengkomukasikannya dengan panitia. Beliau sangat memperhatikan masalah waktu dan sangat jelimet menyusun jadwal. Rata-rata setiap hari ada 8 sampai 15 acara dan undangan, jadwal tersebut beliau atur secara serius sehingga tidak ada yang berdempet, telat datang tanpa konfirmasi atau terlewatkan.

Baru-baru ini ada lagi dihembuskan tuduhan bahwa Irwan Prayitno kurang ambisius. Haha…., sekali lagi saya tertawa mendengar tuduhan itu. Sekali lagi tudingan itu sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang sebenarnya.

Dulu ketika melanjutkan studi S2 dan S3 di Malaysia, profesor di sana meragukan IP mampu menyelesaikan studinya. Kemampuannya diragukan karena beban kerjanya sangat berat; kuliah, mengurus rumah tangga, istri beserta 5 orang anak, sekaligus mencari nafkah untuk keluarga.

Tapi bagi penggemar olah raga trabas dan karate ini justru kesulitan itulah yang membuat adrenalinnya terpacu. Ia berhasil menyelesaikan studi S2 dan S3 tersebut tepat waktu dengan nilai cemerlang. Untuk S3 ia berhasil lulus dengan prediket cum laude dengan IPK 3,97. Itu artinya semua nilai mata kuliah adalah A, hanya satu mata kuliah dengan nilai A minus. Kuliah tuntas tepat waktu, kewajiban mengurus keluarga dan mencari nafkah tak pernah ia abaikan. Peristiwa itu sebetulnya bukan hal aneh, karena IP memang langganan juara umum saat sekolah di SMAN 3 Padang dulu.

IP berhasil menyelsaikan studi S1 di Universitas Indonesia (UI), lalu S2 dan S3 di Universiti Putra Malaysia. Padahal di tahun-tahun yang sama IP juga sedang bekerja keras bersama kawan-kawan mendirikan Partai Keadilan (PK). Ia juga bergerilya menghimpun dukungan masyarakat, menghimpun suara untuk PK, sekaligus untuk dirinya karena ia ditunjuk menjadi calon anggota DPR RI untuk Dapil Sumbar I. Saat yang sama IP bersama kawan-kawan juga sedang berjuang mendirikan Yayasan Pendidikan Adzkia. Dengan motto bekerja keras dan bersungguh-sungguh, semua upaya itu berujung sukses.

Jika dulu lembaga pendidikan favorit dan terkenal di Sumbar adalah Don Bosco atau Maria, berkat perjuangan IP, Lembaga Pendidikan Adzkia menjelma menjadi lembaga pendidikan terbaik dan favorit pertama di Sumatera Barat yang berbasis Islam, mulai dari tingkat PAUD hingga perguruan tinggi. Kini murid Adzkia mencapai ribuan orang, setiap tahun jumlah yang mendaftar rata-rata 5 kali lipat dari jumlah siswa yang bisa diterima.

Meski sibuk di karir politik, namun IP juga tidak melupakan tugasnya sebagai akademisi. Ia menulis lebih dari 40 buah buku, tulisan ilmiah dan berbagai riset. Atas karyanya tersebut ia dinyatakan berhak menyandang gelar guru besar pada tahun 2006 di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Gelar profesor berhak ia sandang saat berumur relatif muda, yaitu 43 tahun.

Di bidang politik, kerja kerasnya dan kawan-kawan ternyata juga membuahkan hasil, ia terpilih menjadi anggota DPR RI dalam usia 36 tahun. Meski berusia muda, cara kerja, disiplin dan pemikirannya membuat ia selalu terpilih menjadi ketua komisi. Berikutnya IP terpilih lagi menjadi Anggota DPR RI selama 3 kali berturut-turut. Pada tahun 2010, melalui persaingan yang ketat, IP dipilih menjadi Gubernur Sumatera Barat.

Keberhasilannya dan keseriusannya membina keluarga juga bisa dilihat prestasi 10 anaknya yang semua juga jadi pemuncak di sekolah masing-masing. Merka lalu melanjutkan studi di perguruan-perguruan tinggi terbaik dan favorit di Indonesia. Putra pertama Jundi Fadhlillah menyelesaikan kuliah di FE Univ. Andalas dan Jurusan Manajemen, Southern New Hampshire University, anak ke 2. Waviatul Ahdi lulus FKG UI, anak ke 3 Dhiya’u Syahidah lulusan SBM ITB dan Westminster University, UK, putra ke 4. Anwar Jundi masih kuliah di Fakultas Perikanan dan lmu Kelautan Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan IPB 5. Atika masih kuliah di FEUI, 6. Ibrahim masih kuliah di Jurusan Teknik Kimia UI, anak ke 7 dan 8 Shohwatul Islah dan Farhana sekolah di SMA 1 Padang, 9 dan ke 10 Laili dan Taqiya Mafaza sekolah di SDIT Adzkia. Banyak orang sukses di karir, tetapi tidak sukses membina keluarga. Tapi ayah 10 anak dan tiga cucu ini, sukses membangun karir, tetapi juga sukses membina keluarga.

Irwan Prayitno dilantik menjadi Gubernur Sumatera Barat oleh Mendagri Gamawan Fauzi atas nama Presiden RI tanggal 16 Agustus 2010 di garasi kantor DPRD Sumbar. Kantor DPRD saat itu sedang mengalami rusak berat dan tidak bisa digunakan akibat gempa September 2009. Sekitar 20.000 rumah penduduk dan ratusan fasilitas umum di Sumatera Barat saat itu rusak total. Sumbar nyaris lumpuh total. Banyak masyarakat, termasuk investor eksodus, lari menyelamatkan diri ke luar Sumatera Barat.

Pemerintah Sumatera Barat di bawah pimpinan Gubernur Irwan Prayitno, Pemerintah Pusat, Pemerintah Kota dan Kabupaten, swasta, perantau, masyarakat Internasional bekerja keras bahu membahu menyelesaikan masalah ini dan berbagai dampak lain yang ditimbulkan. Tata kerja yang baik, transparan dan akutabel dalam pengelolaan bencana membuat Sumatera Barat mendapat 3 penghargaan sekaligus dari BNPB. Sumbar makin dipercaya, prestasi itu pulalah yang menyebabkan BNPB memberikan perhatian khusus dan dana makin banyak dikucurkan ke daerah ini.

Menjadi Gubernur Sumatera Barat yang dalam keadaan porak-poranda pasca gempa tahun 2009 tentulah tidak mudah. Tantangan makin bertambah akibat kondisi ekonomi global yang sedang morat-marit, kriminalitas makin meningkat, dekadensi moral dimana-mana dan masih ditambah lagi dengan gelombang euforia reformasi.

Bagi Irwan Prayitno semua tantangan tersebut tidak membuat ia mundur, tapi malah membuat adrenalinnya terpacu untuk bekerja keras dan bekerja cerdas. Sebagai profesor pakar Sumber Daya Manusia (SDM) ia segera melakukan pembenahan dan pemetaan potensi terhadap SDM yang ada di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Tim independen dari Universitas Indonesia diminta untuk menilai dan memetakan potensi SDM yang ada. Mereka yang berpotensi, memenuhi persyaratan penilaian, psikotest dan juga sesuai dengan aturan serta penilaian Baperjakat akan ditempatkan sebagai pimpinan di eselon 2, 3 maupun 4. Semua kepala SKPD wajib mengaktifkan HP 7 x 24 jam, artinya siap menerima tugas dan ditugaskan kapanpun, termasuk di hari libur. Juga baru kali ini dalam sejarah, selama Gubernur IP, rapat-rapat dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu (hari libur) agar tidak menyita jam kerja rutin.

Pemetaan potensi, menempatkan orang sesuai pada tempatnya, memberikan reward dan punishment, membuat satuan kerja di lingkungan Pemprov Sumbar makin solid dan lebih efektif. Situasi inilah yang kemudian membuat prestasi Pemprov Sumbar makin mencuat ke permukaan. Bekerja keras dan bekerja cerdas merupakan ciri Irwan Prayitno. Rata-rata setiap hari jam 4 subuh aktifitas sudah dimulainya dengan shalat tahajjud, berzikir, shalat subuh berjamaah, membaca Al Quran dan berkumpul dengan semua anggota keluarga. Setelah sarapan, kegiatan dilanjutkan dengan menerima Kepala SKPD, membahas pekerjaan, menganalisa masalah yang muncul lalu memutuskan tindakan yang harus dilakukan saat itu juga. Tak ada pekerjaan yang boleh ditunda, waktu detik demi detik dimanfaatkan secara efisien.

Selama 5 tahun setiap hari mendampingi IP, belum pernah saya mendengar beliau mengeluh capek dan ingin istirahat atau libur. Saya melihat pola kerja IP seperti bola salju yang bergulir dari puncak gunung, makin lama makin cepat, makin besar dan sulit dihentikan. Ada dua sopir dan dua ajudan yang secara aplusan mendampingi IP sehari-hari. Tak ada ada yang sanggup mendampingi dan mengikuti perjalanan beliau full seminggu penuh. Selama 5 tahun belakangan, meski beraktifitas rutin dari subuh hingga larut malam, tidak pernah sekalipun saya lihat IP pulang ke rumah untuk istirahat tidur siang. Juga alhamdulillah belum pernah satu haripun IP istirahat karena sakit, sementara kami yang mendampingi, meski dengan sistem aplusan, sudah bergiliran sakit dan terpaksa beristirahat total (bed rest).

Sistem kerja yang terstruktur dan terencana dan dikerjakan dengan bersungguh-sungguh terbukti membuahkan hasil. Banyak pekerjaan dan masalah yang bisa diselesaikan secara baik. Atas prestasi tersebut sekitar 200 penghargaan diberikan oleh Pemerintah Pusat, Lembaga Swasta dan Internasional atas prestasi yang diraih Pemprov Sumbar. Baru kali ini dalam sejarah Pemprov Sumbar meraih ratusan penghargaan.

Ada juga yang memfitnah bahwa penghargaan itu diperoleh dengan menyuap. Saya rasa tuduhan itu terlalu dipaksakan, jika yang diperoleh hanya satu atau dua penghargaan memang ada peluang diperoleh dengan proses suap. Namun jika ratusan jumlahnya, bagaimana mungkin hal itu bisa dilakukan?

Dulu saya juga berfikir bagaimana bisa IP yang usianya tak terpaut jauh dari saya karirnya bisa melejit luar biasa. Namun setelah melihat langsung bagaimana cara ia bekerja, cara ia memanfaatkan waktu, cara beribadah, cara ia bergaul, barulah saya faham. Setelah saya hitung-hitung ternyata IP bekerja 5 kali lebih keras dibanding saya, ia memanfaatkan waktunya 5 kali lebih efektif dibanding saya, beribadah, mengelola keluarga, dan sebagainya 5 kali lebih baik, saya tak lagi heran jika prestasinya melejit 5 kali lipat lebih cepat.

Jika tak melihat langsung mungkin orang tak percaya bahwa IP bisa mengikuti 10 sampai 15 acara yang topiknya berbeda-beda setiap hari dan ditempat yang berbeda-beda pula. Lalu beliau memberikan pidato atau sambutan pada acara tersebut tanpa teks, namun isi pidato tersebut tetap pas dengan tema acara. IP sangat cepat mempelajari sesuatu. Jika tak paham masalah peternakan misalnya, ia akan mengajak Kepala Dinas Peternakan ikut di mobil bersamanya dalam perjalanan menuju lokasi acara, lalu berdiskusi di mobil selama dalam perjalanan. Sesampai di lokasi acara IP sudah paham masalah peternakan dan menyampaikan pidato tentang peternakan seolah-olah ia pernah kuliah di Fakultas Peternakan. Begitu juga untuk bidang lain.

Dalam bermain musik dan menyanyi juga demikian. Hanya tiga kali belajar bermain drum ia langsung bisa, begitu juga menyanyi. Hanya berapa kali berlatih, langsung bisa. Begitu juga bersepeda motor trabas dalam rangka kunjungan kerja ke daerah-daerah terpencil. Setahu saya tak sampai sehitungan dua jari tangan beliau melakukan trabas, namun kemampuannya mendekati pembalap profesional. Jadi tak benar juga jika ada yang mengisukan gara-gara trabas dan bermain drum, IP meninggalkan pekerjaannya. Aktifitas tersebut selalu dilakukan di hari libur dan di luar jam dinas. Di bidang seni IP telah mengeluarkan 2 album lagu-lagu religi ciptaannya sendiri. Sebagai ustadz ia telah merekam lebih 150 judul ceramah agama yang dikemas ke dalam 6 album CD. Dalam waktu yang terbatas, karena dilakukan dengan bersungguh-sungguh, IP mampu melakukan banyak pekerjaan dan prestasi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ambisius adalah berkeinginan keras mencapai sesuatu (harapan, cita-cita). Mengamati perjalanan karir dan apa yang telah dikerjakan Irwan Prayitno seperti diatas apakah masih pantas kita mengatakan bahwa ia kurang ambisius dan tidak bekerja keras, tidak menghargai waktu?

Persoalannya menurut saya seperti kata-kata bijak tadi, tak tahu maka tak sayang. Masih ada sekelompok masyarakat yang tak tahu bagaimana cara kerja IP dan karakter IP sebenarnya. Sejak memulai karir sebagai wartawan Singgalang pada tahun 1987, lalu di Majalah Editor dan Kompas, saya juga banyak berinteraksi dengan pejabat dan pimpinan daerah. Masing-masing punya kelebihan dan kelemahan tersendiri. Jika kenal dengan IP lebih mendalam, jika anda jujur, bukan karena alasan persaingan politik dan kepentingan, pasti anda akan menemukan lebih banyak kelebihan yang ia miliki. Tak tahu maka tak kenal, tak kenal maka tak cinta, tak cinta maka tak sayang. ***

Singgalang 16 Juni 2015

 

Irwan Mampu Hentikan Tangis Warga Kasai (Singgalang 15 Des 2010)

Irwan Mampu Hentikan Tangis Warga Kasai

Pejabat Pertama yang Ikut ‘Berendam’ Bersama Warga

Kasang-Cuaca mendung, apalagi hujan lebat, adalah hal yang amat menakutkan bagi warga komplek perumahan Bumi Kasai Permai, Kanagarian Kasang, kecamatan Batang Anai, Padang pariaman.

Sebab komoplek perumahan yang dibangun tahun 1996 itu sangat rawan banjir. Air bah datang tiap bulan dan nyaris tiap minggu, terutama di musim penghujan.

Suasana yang membuat rusuh hati warga tersebut seakan berhenti total seiring terpilihnya Irwan Prayitno menjadi Gubernur Sumbar menggantikan Marlis Rahman lewat Pilkada serentak di ranah Minang.

Bahkan Irwan tercatat sebagai gubernur atau pejabat pertama yang rela ’berenang/berendam’ bersama warga membagikan ransum ketika banjir bandang melanda komplek itu, Minggu (26/9) silam.

”Pak Irwan adalah pejabat pertama yang mampu maantok-an (menghentikan) tangis warga Bumi Kasai yang sudah amat menderita akibat banjir sejak tahun 1997 silam”, ujar dua tokoh pemuda setempat, Zainal Aleks dan Edi Nur. ”Irwan tidak menebar janji seperti pejabat lainnya, tapi memberi bukti. Sayab salut dengan beliau”, tambah Endang dan Syafrizal Oyong.

Tingginya respon gubernur pilihan rakyat itu terhadap rakyat badarai, terlihat ketika warga Bumi Kasai Permai dilanda banjir bandang, Minggu, (26/9). Malam itu juga Irwan meluncur ke lokasi musibah. Kedatangannya ditunggu oleh Kapolsek Batang Anai, Walinagari Kasang, M. Tasir Koto, Camat Batang Anai, Syofrion dan Syamsawir Dauang (tokoh masyarakat) serta sejumlah tokoh pemuda.

Dengan menaiki perahu karet bersama Kabiro Humas Kantor Gubernur, Surya Budhi, gubernur berkeliling komplek, utamanya di Jln Jawa/RT 03. Kesempatan itu dimanfaatkan Irwan untuk menyerap aspirasi warga terhadap masalah banjir.

Menanggapi seabrek keluhan masyarakat, kepada Singgalang, Irwan menegaskan, ”Bagaimanapun juga, Bumi Kasai tak boleh banjir lagi. Kita akan upayakan penanggulangannya secepat mungkin, agar derita dunsanak-dunsanak kita ini cepat berakhir”, ujar Irwan di tengah hujan gerimis.

Ternyata Irwan tidak sekadar berjanji. Beberapa hari kemudian atau menjelang terbang ke Jepang, gubernur mendrop sebuah alat berat eskavator untuk melakukan pembersihan drainase dan gorong-gorong hingga ke Korong Kasai.

Kasai tak banjir lagi. Kalau pun air bandar sempat dua kali naik ke jalan, itu lebih karena ada penyumbatan polong di Korong Kasai. ”Jika masyarakat melakukan pembersihan sekaligus tidak membuang sampah ke bandar, Insya Allah warga bakal bebas dari banjir”, ujar Rasminedi, Ketua RT 03 beberapa waktu lalu.

Terima Kasih
Sementara itu, Walinagari Kasang, M. Tasir Koto yang dimintai tanggapannya soal penanganan banjir di Bumi Kasai, mengucapkan terima kasih banyak pada Gubernur Irwan. ”Atas nama warga Nagari Kasang, saya minta terima kasih kepada pak Irwan. Beliau telah mampu maantok-an tangih warga”, ujar Tasir.

Kendati demikian, tambah Tasir, agar komplek perumahan benar-benar bebas dari banjir, perlu upaya lanjutan dari Pemprov Sumbar dengan membuat pengendalian banjir yang permanen.

Singgalang 15 Desember 2010

 

Menengok Gubernur di Penghujung Ramadhan (Singgalang 14 Juli 2015)

Menengok Gubernur di Penghujung Ramadhan: Itikaf, Sahur Bareng Anak Cucu di Mushalla

Suara merdu melantun di mushalla kecil di belakang rumah dinas Gubernur Sumbar di Jalan Sudirman. Suara itu milik sang Gubernur, Irwan Prayitno. Tapi, IP, panggilan akrab Irwan tidak sedang berdendang. Album keduanya sudah di-launching beberapa pekan lalu. IP sedang mengaji. Ya, itulah aktivitas rutinnya di penghujung Ramadhan.

Seperti Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, IP menghabiskan malam-malam di penghujung bulan suci dengan beritikaf. “Ya, sejak malam ke-20 Ramadhan. Sesuai yang dianjurkan Rasulullah saw untuk mengisi malam-malam di penghujung Ramadhan dengan memperbanyak ibadah,” ujar IP.

IP tak sendiri beritikaf. Ia membawa serta anak, istri dan anggota keluarga lainnya. Jadi, setiap malam aktivitas keluarga gubernur itu berpindah dari rumah dinas ke mushala kecil di sebelahnya. Kebersamaan mereka larut dalam lantunan asma-asma Allah SWT.

Kegiatan itikaf dimulai setelah salat Tarawih. Sepanjang malam, mushala kecil di rumah dinas gubernur atau yang lebih dikenal sebagai gubernuran itu penuh dengan aktivitas ibadah. Ada salat malam, zikir terutama sekali qira’ah Quran. Aktivitas ibadah di malam Ramadhan itu berakhir setelah ceramah subuh.

Dipilihnya mushala kecil di rumah dinas gubernur itu sebagai tempat itikaf tak terlepas dari alasan efektivitas. Tempat itu yang terdekat dari keluarga IP. Biasanya, sebelum jadi gubernur, IP dan keluarga beritikaf di masjid yang ada dalam lingkungan Perguruan Islam Adzkia di Taratak Paneh, Paang. Itu kalau kebetulan IP berada di Padang dekat dengan rumah orang tuanya yang bersebelahan dengan komplek Adzkia. Ketika masih menjadi anggota DPR, ia lebih banyak beraktivitas di Jakarta, termasuk menjalani ibadah Ramadhan di sana.

Itikaf adalah aktivitas yang dianjurkan di penghujung Ramadhan. Irwan sendiri berharap Ramadhan kali ini setiap kaum muslimin mendapatkan rahmat, ampunan dari Allah dan predikat takwa. “Semoga Ramadhan kali ini kita mendapatkan maghfiroh, rahmat dan berkah takwa,” ujar Irwan.

Ketika menjadi gubernur, kebiasaan IP beritikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan tetap berlanjut. Sepanjang malam dihabiskan beritikaf di mushala, besoknya IP tetap melaksanakan kegiatan sebagai gubernur seperti biasanya.

“Masih di perjalanan, sedang di Lembah Anai. Barusan dari Padangpanjang,” ujar IP suatu ketika mengabarkan keberadaannya.

Tak ada gurat lelah di wajahnya. Dalam keadaan berpuasa dan sebelumnya beritikaf semalaman, langkah IP tetap agresif. Tak ada aktivitasnya berkurang.

Dalam sehari, ia bisa melaksanakan kegiatan di banyak tempat. Tak hanya kegiatan rutin pemerintahan, IP juga rajin memenuhi undangan masyarakat. Dari undangan organisasi, pengurus masjid, hingga undangan sekolah pun dipenuhi.

“Kalau sedang mendampingi Pak IP mesti siapkan fisik yang prima,” ujar salah seorang staf yang biasa mendampingi Irwan. (*)

Singgalang 14 Juli 2015

 

Gubernur Duduk di Kelas Ekonomi (Singgalang 14 Desember 2010)

Gubernur Duduk di Kelas Ekonomi

Kesaksian Taufiq Ismail

Pesawat Garuda GA 162 dari Padang, mendarat mulus di Bandara Soekarno Hatta, Senin (13/12). Saya dan istri ada di pesawat yang sama. Kami yang duduk di bagian ekonomi, tak tahu persis siapa saja gerangan yang duduk di kelas eksekutif.

Perjalanan 90 menit setelah selesai, kami harus bergegas untuk urusan masing-masing. Di antara yang bergegas itu, ada Gubernur Sumbar, Prof. Irwan Prayitno.
Para penumpang kelas eksekutif dijemput dengan mobil khusus, namun karena Irwan duduk di kelas ekonomi, maka naik buslah ia bersama-sama kami. Bergelantungan. Apa adanya.

Menurut saya ada gubernur di Indonesia yang duduk di kelas ekonomi dalam sebuah penerbangan adalah istimewa. Mungkin bagi orang lain tidak. Kabarnya Gamawan Fauzi juga begitu ketika ia jadi gubernur. Pemilik Singgalang, Basril Djabar, juga begitu, meski ia sudah jadi komisaris PT Semen Padang.

Gubernur Irwan terlihat oleh istri saya melangkah ke ruang ekonomi. Di sini rakyat badarai memilih tempat duduk, sesuai kemampuan keuangan masing-masing. Tidak seorang pun di antara kami yang akan berkecil hati, jika Irwan Prayitno, duduk di eksekutif, sebab ia gubernur. Kami bangga kalau gubernur duduk di kursi yang nyaman.

Namun saya tak percaya, kenapa ia melangkah ke ruang rakyat ini. Saya dan istri duduk di kursi 5 AB, Gubernur Irwan justru lebih ke belakang lagi, 12 C. Kami berbasa-basi sejenak, lantas Irwan meluncur ke belakang, tenggelam di kursinya.

Saya sudah lama juga hidup, sering naik pesawat bersama banyak orang dari pejabat tinggi hingga orang biasa. Bagi saya ada gubernur rendah hati seperti ini, menjadi obat. Ia tak berjarak dengan rakyat. Ia tampil apa adanya.

Begitulah ketika Garuda mendarat di Cengkareng, kami tak bisa pakai pintu garbarata, sehingga harus dijemput pakai bus besar. Semua penumpang kelas ekonomi naik ke sana. Juga Gubernur Sumbar.

Bersama kami, ia berdesak-desakan dan bergelentungan. Bagi saya ini memang luar biasa, ketika para pejabat kita merasa risih duduk di kelas ekonomi. Bagi saya ini juga sebuah keteladanan, ketika di banyak bandara, ada lahan parkir khusus untuk pejabat, persis di mulut pintu kedatangan.

Naik train
Jika di Indonesia, para menteri, kepala daerah menggunakan jasa transportasi umum dapat dinilai sebagai hal yang luar biasa. Tidak demikian halnya di negara-negara maju di Eropa, seperti Belanda, Inggris dan Jerman.

Dalam keseharian, belakangan ini, pemandangan seperti itu di negara-negara yang disebutkan tadi bukanlah pemandangan yang aneh. Bahkan, mereka menggunakan transportasi umum tanpa pengawalan.

Di Eropa sana, menteri, gubernur maupun walikota sudah terbiasa naik train, bus. Sedangkan mobil dinas mereka diperlukan sewaktu-waktu untuk mengangkut dokumen-dokumen sang mentri maupun kepala daerah.

Menurut Willy Laurens, 61, pengusaha nasional Belanda, yang merupakan indo Belanda Depok, belakangan ini pemerintah setempat menganjurkan para menteri untuk menggunakan transportasi umum, hal itu dilakukan untuk mengurangi defisit anggaran. Belanda tahun ini mengalami defisit anggaran untuk bidang militer. Sedangkan Jerman dan Inggris melakukan pengurangan defisit anggaran hingga 40 persen untuk periode 2010-2014, sebagai bagian dari upaya konsolidasi fiskal.
(Taufiq Ismail seperti dituturkan pada Susilo Abadi Piliang)

Singgalang, 14 Desember 2010

Irwan Prayitno Meluruskan Isu (Singgalang 14 Agus 2015)

IRWAN PRAYITNO MELURUSKAN ISU
“Saya Tak Berjanggut”

PADANG-SINGGALANG
Dua hari menjelang masa jabatannya berakhir, Gubernur Irwan Prayitno membeberkan berbagai isu yang sengaja dibuat untuk mengepungnya. Mulai dari isu orang PKS di sekelilingnya, gila trabas ke trabas saja, bahkan ada yang menyebut ia Islam eksklu sif.

“Dibilang kalau saya jadi gubernur harus pelihara janggut (jeng got, red). Saya saja tidak berjanggut,” katanya di hadapan para wartawan dan sejumlah pejabat pemprov di Bukit Lampu, Bungus, saat memperkenalkan akan dibangun convention center di kawasan itu, Kamis (13/8).

“Sarawa indak lo senteang,” ulas wartawan dengan tawa berderai.

“Siapa pejabat yang dari PKS? Coba lihat! Bapak-bapak pejabat ini semua kan sudah bekerja sejak Gubernur Pak Zainal, Pak Gamawan, Pak Marlis. Tidak juga ada istilah like and dislike bagi saya,” kata Irwan di hadapan para pejabat itu.

Singgalang melihat di antara pejabat itu ada anak tokoh partai lain. “Jika disebut di sekeliling saya yang non PNS adalah PKS, siapa? Saya memang membawa satu staf dan itu saya gaji dengan uang pribadi, gubernur sebelumnya juga membawa staf kepercayaannya. Itu karena saya orang partai politik, sehingga tugas-tugas yang berhubungan dengan partai politik dikerjakan oleh staf itu, sehingga tidak bercampur dengan tugas kepemerintahan,” kata dia.

Isu dia mengaji ke mengaji saja, disebar pula, termasuk isu ‘Islam sesat’ segala. Irwan juga curhat soal trabas, itu mobil yang masuk semak keluar semak atau lembah. “Itupun saya diisukan,” kata dia.

Trabas itu kata Irwan pada Singgalang, gunanya untuk menemui rakyat di kawasan yang sulit dilalui kendaraan. Selain soal trabas, main band dan nyanyi juga digunjingkan. “Sudah selonggar ini saya, digunjingkan juga,” katanya terkekeh.

Gunjing soal PKS di sekeliling Irwan adalah hal yang paling sering disebut. Kepada Singgalang sebelumnya ia menyebut, tak ada orang PKS yang ia bawa. “Kalau Dirut BUMD yang disebut, sudah tidak orang PKS lagi dan mereka profesional di bidangnya. Di BUMD lain juga ada orang partai lain dan sampai sekarang masih aktif di partai dan saya tak mempermasalahkan,” katanya.

Menurut catatan Singgalang memang ada dua orang partai lain di BUMD. Menurut Irwan, jangan sorot hanya pada PKS saja dihadapkan, lihat pula bagian lain.

Pembangunan
Menurut pengakuannya, ia masuk ke Sumbar sehabis gempa. Pada Agustus 2010, ketika ia mulai jadi gubernur, belum ada dana rehab rekon bagi 280 unit rumah warga. Yang ada baru dana tanggap darurat.

“Begitu pasangan IP-MK dinyatakan menang oleh Mahkamah Konstitusi, saya langsung menemui kepala BNPB Pak Syamsul Maarif,” katanya.

Seketika itu disetujui dana rehab rekon Rp4,2 triliun. “Saya janjikan dua bulan selesai, memang selesai dibagikan kepada korban yang rumahnya direhab,” kata Irwan.

“Itu koran KJ ( Singgalang -Red) yang buat headline,” katanya sambil melihat pada Pemred Singgalang, Khairul Jasmi.

Irwan juga heran ada yang memberitakan, ia hanya akan jadi gubernur sekali. “Lama saya pikir, rupanya ada saat melantik pejabat di aula, saya bercerita soal betapa beratnya amanah, saya waktu itu tertegun, eee ditulis menangis oleh KJ, ” kata Irwan sambil tersenyum.

Ia juga meluruskan anggapan, jadi gubernur sekali saja. “Tak pernah bilang cukup sekali jadi gubernur, saya lupa media apa yang menulis, kalau ada rekamannya, perdengarkan pada saya,” kata dia.

Penghargaan
Karena cepat melakukan rehab rekon, BNPB memberikan penghargaan rehab rekon tercepat kepadanya. Dana yang masuk semuanya diberikan kepada rakyat, sementara kantor SKPD dibangun kemudian. “Kita bangun kantor Kejati, kantor Polda dan lain-lain. Sementara kantor-kantor SKPD masih berserakan, numpang sana-sini. Bahkan, kantor Dinas Peternakan di bedeng-bedeng. Kantor gubernur paling akhir karena saya harus mendahulukan rakyat,” katanya pula mengenang kejadian 2009.

Selain itu, APBD dari Rp1,7 triliun melonjak di atas Rp5 triliun.
Semua infstruktur dibangun.

“Saya janji pada Pak Gubernur sampai 2014,” kata Kepala Dinas PU Praswil Tarkim, Suprapto.

Selama itu pula diperbaiki semua jalan yang rusak akibat gempa dan akibat dipakai. “Sekarang sudah mulus semua, Padang-Solok-Dharmasraya, Padang-Painan, Padang Bukittinggi, Sincincin-Malalak, Bukittinggi-Payakumbuh dan seterusnya, beres,” kata dia.

Selama menjadi gubernur, kata Irwan ia meneruskan proyek-proyek besar yang belum selesai oleh pendahulunya. “Program saya sendiri saya abaikan,” kata dia.

Tapi program gubernur diam-diam dikerjakan juga oleh kedua SKPD PU. Antara lain stadion utama, jalan Padang-Solok, Duku-Sicincin yang sedang dikerjakan, pusat budaya Sumbar dan sebagainya.

Di kesempatan itu, Gubernur Irwan berpamitan kepada seluruh SKPD dan pers. Ia juga meminta maaf atas segala tindakan dan perbuatan yang kurang pada tempatnya. “Jika ada yang kurang mengenakkan, telepon tidak terjawab, SMS tidak terbalas akibat kesibukan, saya mohon maaf. Ketahuilah saya telah bekerja maksimal. Tidak ada istrahat. Maka setelah tanggal 15 nanti saya ingin menjadi orang normal, bisa istirahat dan bisa pula bantu istri di dapur,” katanya.

Singgalang, 14 Agustus 2015

 

Dekat dengan Ayah yang Orang Simabur (Singgalang 14 Agus 2015)

Dekat dengan Ayah yang Orang Simabur

PADANG-Mohon doa bapak dan ibu dunsanak FB (facebook) untuk kesembuhan Ayahanda. Ya Robbannas Izhibil Ba,sa Waasyfi Wa Anta Syaafi Fa Innahu La Syifaa a illa Syifaa uka. Syifaa un La Yughodiru Sakoma. Aamiin…

Dua penggal kalimat itu dituliskan Irwan Prayitno pada 8 Juni 2015 di laman akun facebooknya. Kalimat itu bukan sekadar status mengumbar kedekatannya dengan ayahanda, namun bentuk kegelisahannya ketika sang ayah harus dirawat melawan sakit di Rumah Sakit Sitirahmah, Padang.

Kontan saja status itu mendapatkan komentar yang banyak, pada umumnya ikut mendoakan sang ayah yang sedang dirawat. ” Kami berdoa sekeluarga, semoga Ayahanda cepat sembuh.. aamiin..” Komentar salah satu akun dengan nama Pepy Septriana. Kemudian status itu disukai oleh 444 netizen.

Wajar, kegundahannya akan sang ayah dirawat di posting di laman facebook. Ayahnya Djmrul Djamal baru saja dirawat. Djamrul Djamal adalah putra Simabur, Kabupaten Tanah Datar. Simabur merupakan salah satu nagari yang termasuk ke dalam wilayah kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar.
Irwan Prayitno adalah anak pertama, memiliki tiga adik, dari orangtua yang sama-sama dosen. Lahir di Yogyakarta pada 20 Desember 1963, ia mewarisi darah Minangkabau dari ayah Djamrul Djamal dan ibu Sudarni Sayuti. Ayahnya datang dari Simabur, Tanah Datar dan ibunya adalah kelahiran Pauh IX (Sambilan), secara administratif masuk ke Kecamatan Kuranji, Padang. Mereka sama-sama lulusan PTAIN Yogyakarta dan dosen IAIN Imam Bonjol. Sebelum tinggal di Padang, keluarga ini sempat menetap di Semarang sampai Irwan berusia tiga tahun, dan pindah ke Cirebon saat Irwan memasuki usia sekolah dasar.
“Ayah saya itu urang Sangka, saya anak pisang urang Tanah Datar,”sebut Irwan pada Singgalang di Jakarta.

Anak pisang adalah hubungan kekerabatan dalam Minangkabau. Hubungan kekerabatan itu salah satu yang terdekat dalam hubungan keluarga. Sebutan itu jika dilihat dari pihak keluarga orang tua laki-lakinya. Sementara sebaliknya, bagi Irwan keluarga dari Tanah Datar adalah bako.

Istilah bako adalah hubungan kerabat anak dengan adik atau kemanakan kontan dari orang tua laki-laki. Sedangkan istilah anak pisang adalah sebutan ke anak dari saudara laki-laki ibu oleh kemenakannya, kedua hubungan tersebut disebut dengan babako baanak pisang. Hubungan ini sangat erat sekali, dan merupakan prioritas untuk pasangan perkawinan, anak mamak untuak kamanakan. Dahulunya, muda mudi di Minangkabau tidak bebas jalan dua-duaan, kecuali mereka adik beradik atau babako ba anak pisang.

Setiap anak pisang datang ke bako-nya, sang bako wajib memberikan sesuatu kepada anak pisangnya, apakah dalam bentuk uang ataupun hasil pertanian, ini dengan alasan sebagai jasa sang ayah dulu waktu udanya berjasa dalam menanam palawija di rumah bako. Kalau sudah besar, bila anak pisang sukses dalam usaha dan pekerjaan, maka bako boleh-boleh saja meminta uang atau bantuan kepada anak pisang dan sebaliknya. Secara basuku, anak berbako keseluruh orang yang memiliki suku bapaknya.

Bahkan, di Pauh Sambilan (IX), jika ada anak pisang meninggal dunia, maka sebelum bako-nya tiba menjenguk jenazah belum bisa dimandikan. Begitu benarlah kedekatan bako dengan anak pisangnya. Sekarang kata bako dan anak pisang memang sudah diperluas artinya. Bukan hanya sekadar kedua keluarga saja, jika kedua keluarganya orang tuanya berbeda daerah, maka bisa saja menyebut daerah sebagai bako dan anak pisang.

“Jadi saya ini anak pisang urang Tanah Datar,”ulasnya.
Apalagi sekarang Irwan mendapatkan kepercayaan masyarakat Suku Tanjung sebagai penghulu Nagari Pauah IX dengan menyematkan gelar Datuk Rajo Bandaro Basa pada 13 Februari 2005.

Irwan sendiri menjalani pendidikan menengah di Padang dan mulai berkecimpung di organisasi sejak SMA, menjalani dua kali kepengurusan OSIS pada tahun kedua dan ketiga di SMA Negeri 3 Padang. Selama di SMA, ia meraih juara pertama di kelasnya dan selalu dipercayakan sebagai ketua kelas.Irwan sempat berkeinginan melanjutkan kuliah ke ITB bersama dengan teman-temannya.

Namun, karena mempunyai masalah mata, ia mengalihkan pilihan ke Universitas Indonesia. Setelah tamat pada 1982, ia mendaftar ke Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Selama kuliah, selain menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan kemahasiswaan, ia banyak menghabiskan waktu di luar kampus untuk berdakwah, mengajar di beberapa SMA swasta, dan menjadi konselor di bimbingan belajar Nurul Fikri. Ini mengakibatkan kuliahnya tidak lancar. Namun, menurutnya yang ia cari dalam pendidikan bukanlah nilai semata, tetapi pengembangan diri.

Kini Irwan menikahi Nevi Zuairina, mahasiswi UI yang ditemuinya saat menjalani kuliah semester tiga. Nevi memiliki keluarga dari Pesisir Selatan. Dengan begitu, anak-anak Irwan bisa dikatakan orang Pesisir Selatan, sesuai dengan garis keturunan Minangkabau pada ibu. Sedangkan keluarga Irwan adalah bako bagi anak-anaknya.

Irwan Prayitno bersama istrinya Nevi Zuairina, dikarunia 10 anak. Masing-masing, Jundi Fadhlillah, Waviatul Ahdi, Dhiya’u Syahidah, Anwar Jundi, Atika, Ibrahim, Shohwatul Islah, Farhana, Laili Tanzila dan Taqiya Mafaza.

Kebahagiaan Irwan Prayitno terasa lengkap. Karena selain 10 anak, Irwan Prayitno juga dikarunia tiga cucu, yakni Hawnan Aulia, Hasna Labiqa Raisya, Syakira Aulia.

Kedekatan Irwan dengan kampung sang ayah teramatlah kuat. Lihat saja, di Pasar Simabur Tanah Datar, gambar Irwan dipasang di atas baliho besar. Tentu saja ia sebagai Gubernur Sumatera Barat. Anak pisang-nya menjadi gubernur, besarlah kebanggaan orang Simabur. 104/007

Singgalang 14 Agustus 2015

 

Sibuk Tugas Pemerintahan (Singgalang 13 Agus 2015)

Sibuk Tugas Pemerintahan, Abai Kampanyekan Diri

Padang, Singgalang
Sekitar Maret 2015, pagi itu rombongan Gubernur Irwan Prayitno menuju Kabupaten Solok, rombongan diikuti sejumlah kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Hari itu Irwan diagendakan untuk meresmikan empat jembatan sekaligus.

Rombongan berjalan dengan iring-iringan yang dikomandoi satu mobil voreijer. Setiba di Solok, Irwan hadir sebelum masyarakat banyak menunggu. Bahkan, Irwan sudah ada di lokasi acara sebelum acara benar-benar di mulai.

Angin darek menyapu Nagari Koto Baru, Solok dengan lembut. Tenda yang disediakan panitia mulai dipenuhi masyarakat untuk menyaksikan peresmian empat jembatan. Kehadiran masyarakat itu bentuk rasa syukur akses ke daerah mereka yang selama ini sulit ditempuh kendaraan menjadi lancar.

Proses acara dimulai, satu-satu persatu tahapan dilaksanakan. Mulai dari panitia hingga kesempatan bagi Irwan Praytino diberikan. semua mata tertuju pada dirinya, karena sebuah kesempatan langka juga bagi masyarakat mendengar langsung paparannya.

Namun, ketika salah satu tokoh masyarakat diberikan kesempatan untuk menyampaikan keinginannya, sempat menyerempet di luar agenda panitia. Disampaikannya, masyarakat memintanya untuk maju kembali menjadi calon Gubernur Sumbar. Harapan masyarakat itu juga diamini oleh sejumlah masyarakat yang hadir. Anehnya, sikap tokoh masyarakat itu tidak begitu direspon oleh Irwan Prayitno yang duduk di kursi paling depan.

Kemudian, giliran Irwan menyampaikan apa saja tujuan pembangunan di Sumbar. Bagaimana dirinya selaku Gubernur sumbar mengupayakan pembangunan merata, serta memperjuangkan anggaran ke Pemerintah Pusat untuk infrastruktur di Sumbar.

Semuanya disampaikan Irwan, disampaikannya, sekuat apapun perjuangan pemerintah untuk mewujudkan pembangunan, jika tidak didukung masyarakat pembangunan akan sulit diujudkan. Untuk itu Irwan berharap segala pembangunan harus mendapatkan dukungan masyarakat.

“Saya berharap masyarakat juga ikut mendukung semua tahapan pembangunan di Sumbar,”kata Irwan.

Setelah meresmikan jembatan, Irwan justru tak menyinggung sedikitpun tentang harapan masyarakat untuk maju tadi. Irwan juga tak tertarik sedikitpun membahas rencana maju atau tidak pada pilgub Hingga pidatonya ditutup tak satu katapun keluar dari mulutnya tentang pilkada.

Mendapati kondisi seperti itu, kemudian tokoh masyarakat tadi mendekati Irwan usai acara. Kemudian menanyakan langsung pada Irwan, kenapa dirinya tidak merespon didepan umum terkait pilihan dan harapan masyarakat.

Setelah empat mata, Irwan menjelaskan dirinya tidak akan mencapur adukan antara agenda pilkada dengan kegiatan pemerintah. Untuk itu dia berharap masyarakat jangan salah tanggap dengan keaktifannya hadir di masyarakat.

“Saya hadir sebagai Gubernur Sumbar untuk masyarakat, bukan untuk tujuan pilkada atau dukung mendukung. Karena saya harus membedakan antara suksesi dengan agenda pemerintah,” ujarnya.

Meski begitu, Irwan memaklumi keinginan masyarakat Solok terhadap dirinya. Sehingga kejadian itu dianggap sebagai keingintahuan yang tinggi masyarakat terhadap Pilkada. “Masyarakat juga tidak salah, itu artinya masyarakat aktif dengan keingintahuan pilkada,” ujarnya.

Kejadian serupa tak sekali dua kali terjadi, begitu juga dengan ke Kabpaten Sijunjung, saat menyerahkan bibit bantuan dari Dinas Pertanian dan Hortikultura bagi masyaraka Sijunjung, Irwan juga mendapatkan suasa yang sama. Irwan tetap, dia tidak meresponnya. Kemudian di Pesisir Selatan, ada teriakan dari panggung meminta Irwan maju lagi. Namun putra asli Kuranji Kota Padang ini kembali tidak meresponnya.

Irwan memang konsisten dengan kapasitas kehadiran dirinya. Jika dia hadir sebagai Gubernur Sumbar, maka dia akan bicara sebagai gubernur. Begitu juga hadir sebagai pembicara pada diskusi atau penceramah di masjid dan mushalla. Dalam kesempatan itu Irwan tak akan bicara pilkada, atau dukung-mendukung.

Bahkan, karena seringnya mendapatkan kata dukung-mendukung dari masyarakat saat menghadiri kegiatan di kabupaten/kota Irwan memberikan pesan pada protokoler, agar nanti ketika acara dimulai tidak ada kata-kata tentang dukung-mendukung. “Memang bapak pernah pesan ke kami, jika ada acara di kabupaten/kota jangan sampai masyarakat bicara calon-calon, karena acara itu adalah kegiatan pemerintah, bukan kampanye,”sebutnya salah seorang petugas ptotoker kantor Gubernur Sumbar pada Singgalang.

Menjelang penetapan calon gubernur dan wakil Gubernur Sumbar periode 2015-2020 suasa politik di Sumbar sudah memanas sebelum waktunya. Hiruk pikuk politik, pada pelaksanaan pemilihan kepala daerah 2015, para calon kepala daerah tengah sibuk menggalang kekuatan berbagai kelompok masyarakat untuk mensosialisasikan diri dan meraih dukungan.

Namun, tidak demikian halnya dengan Irwan Prayitno. Sebagai Gubernur Sumbar, di sisa-sisa pengabdian jelang masa jabatannya habis, Irwan Prayitno justru semakin sibuk mengurus rakyatnya, masyarakat Sumbar.

Hingga tiga hari akan mengakhiri masa jabatannya, Irwan Prayitno masih tetap rutin semangat untuk menghadiri berbagai program dan kegiatan pembangunan di daerah. Seminar dan rapat dengan SKPD dan pemerintah pusat membahas evaluasi berbagai program pembangunan, meninjau hasil pembangunan di lapangan, dilakukan Irwan Prayitno tanpa kenal lelah. 104/007

Singgalang, 13 Agustus 2015

 

Pemegang Sabuk Hitam (Singgalang 12 Agus 2015)

Pemegang Sabuk Hitam, Suka Motor Trial

PADANG-Gubernur Irwan Prayitno di antara teman dekatnya terkenal suka makan. Ia makan tak berpantangan. Di usia yang terus bertambah, orang-orang biasanya takut makan makanan tertentu, seperti gulai kambing, gajebo dan sejenisnya. Tapi, bagi IP, kalau dihidangkan gulai kambing, ia bisa makan batambuah. Melihat selera IP itu, teman-temannya kerap bertanya-tanya, kenapa sang gubernur tubuhnya tak gemuk-gemuk juga. Di sanalah rahasia bugarnya.

Asupan makanan yang banyak, sebanding dengan seambrek aktivitas yang dilakoni Irwan setiap hari. Ia mulai bekerja sebelum matahari terbit dan belum berhenti setelah matahari tenggelam. Tak ada raut lelah di wajahnya. Tubuhnya terlihat selalu bertenaga. Rahasia bugar Irwan ternyata karena kecintaannya dengan olahraga.

Irwan pemegang sabuk hitam karate dari Inkanas Sumbar. Setiap ada kesempatan, ia selalu melatih terjangan kaki dan kepalan tangannya. Kadang berlatih bersama-sama di halaman kantor gubernur, sering juga latihan yang lebih kecil di teras rumah dinasnya di gubernuran. “Saya suka olahraga karate. Selain untuk bela diri, ini sangat baik untuk kebugaran,” ujar Irwan.

Kecintaan terhadap olahraga bela diri ditularkan Irwan kepada staf. Ia pernah membawa anggota Satpol PP dan PNS di lingkungan rumah bagonjong berlatih karate. Bela diri tentu sangat penting bagi anggota Satpol PP. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi bagi Irwan, aparat penegak Perda itu mesti selalu sehat dan bugar. Tubuh sehat dengan berolahraga. Kalau sudah bugar, maka pekerjaan untuk melayani masyarakat bisa semakin maksimal ditunaikan.

Satu lagi olahraga yang sering dilakoni Irwan adalah badminton. Ia selalu bermain badminton setiap pekan. Olahraga ini sempat terhenti selama Ramadhan kemarin. Usai Ramadhan, Irwan kembali menjajal raketnya.

Sepakbola dan futsal adalah olahraga lain yang juga dilakoni Irwan. Ia sering terlibat dalam kesebelasan dan tim futsal dalam laga persahabatan. Pertandingan-pertandingan seperti ini sangat penting untuk menjalin kebersamaan dengan berbagai pihak. “Dengan olahraga, silaturrahim itu menjadi semakin cair. Ini penting dalam upaya menuntaskan pekerjaan-pekerjaan besar untuk masyarakat. Dengan tim yang solid, pekerjaan besar akan bisa terselesaikan,” ujar Irwan lagi.

Irwan memang tak sering terlihat bermain bola. Tapi, untuk urusan menunggangi motor trial, orang-orang pasti sudah mengenalnya. Warga di pedalaman Nagari Garabak Data, Kabupaten Solok, misalnya, terheran-heran ketika seorang laki-laki datang menunggangi motor trial. Entah angin apa, tiba-tiba nagari yang sulit ditempuh dengan akses jalan yang terbatas itu dijadikan arena motor trial. Tapi, keheranan warga Garabak Data terjawab dengan hati berbunga-bunga. Rupanya, lelaki yang bermotor trial adalah Gubernur Irwan Prayitno yang sengaja mengunjungi warganya di daerah pedalaman.

Irwan memang pecinta olahraga motor trial. Tapi, kecintaan itu bukan untuk ngebut-ngebutan dan gagah-gagahan di jalanan terjal. Irwan memacu motor trial-nya untuk mengunjungi daerah-daerah pedalaman yang tak bisa ditembus kendaraan. “Saya telah mengunjungi daerah-daerah pedalaman. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah provinsi dan kabupaten agar daerah-daerah terisolir ini bisa bangkit dan berkembang,” ujar Irwan menerangkan esensi dari berbagai kegiatannya menembus daerah pedalaman.

Lewat kecintaannya dengan olahraga motor trial, tak ada penghalang baginya untuk mengunjungi daerah-daerah terisolir di Sumatera Barat. Kalau mobil dinasnya tak mampu menembus hutan-belantara, Irwan siap dengan motor trial-nya.

Kecintaan terhadap olahraga tercermin dalam kebijakan yang dibuat Gubernur Irwan Prayitno dalam membangun dunia olahraga di Sumatera Barat. Ia sangat mendukung berbagai organisasi yang menaungi para atlet dan olahragawan. Atlet-atlet pun dimotivasi dan disokong untuk menggapai prestasi tertinggi demi mengharumkan nama Sumatera Barat.

Sebagai seorang profesor di bidang sumber daya manusia, Irwan paham, olahraga bukan hanya sekadar prestasi. Ada ensensi untuk membangun generasi berkualitas yang sehat secara rohani dan sehat secara jasmani. Kemajuan dunia olahraga diharapkan berdampak langsung dalam peningkatan sumber daya manusia, terutama anak-anak muda Sumatera Barat. Dengan olahraga, anak-anak itu mempunya media positif, bisa memaksimalkan kemampuan, potensi dan pengembangan diri mereka.

Komitmen Irwan membangun dunia olahraga di Sumatera Barat semakin tegas dengan peletakan batu pertama pembangunan stadion utama Sumatera Barat di kawasan Lubuk Alung, Padangpariaman. Stadion ini nantinya tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Sumbar, menjadi sarana pengembangan atlek-atlet daerah, tapi juga akan menjadi sejarah bagi Sumbar sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional. “Dengan selesainya pembangunan stadion ini, Sumbar siap menjadi tuan rumah PON,” ujar Irwan. 007

Singgalang, 12 Agustus 2015

 

Hidup Sederhana Dahulukan Kebutuhan Warga (Singgalang 11 Agustus 2015)

Hidup Sederhana, Dahulukan Kebutuhan Warga

Padang, Singgalang
Pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng. Sesampai di landasan parkir, penumpang turun dari dua pintu yang disediakan. Dari landasan parkir ke terminal penumpang cukup jauh. Pihak bandara menyediakan bus untuk mengantarkan penumpang. Penumpang berjubel berdiri karena bus tak menyediakan banyak tempat duduk. Di antara mereka yang berdiri itu, ada sosok Irwan Prayitno.

Gubernur Sumbar itu tak segan bergabung dengan penumpang pesawat lainnya menaiki bus bandara. Demikian pun di atas pesawat, ia membaur dengan penumbang kebanyakan, di kelas ekonomi. Padahal, sebagai pejabat negara, Irwan bisa mendapatkan fasilitas VIP. Tapi, ia tak ingin dimanjakan dengan semua itu. “Saya biasa pakai kelas ekonomi, bersama penumpang-penumpang lainnya,” ujar Irwan.

Ketika berangkat dari Bandara Internasional Minangkabau, Irwan pun tak ingin diperlakukan berlebihan sebagai orang nomor satu di Sumatera Barat. Misalnya, sore itu. Hujan baru saja reda, jarum jam menunjukan pukul 16.00 WIB. Suara sirine voreijer meraung-raung menuju BIM, diikuti satu unit sedan Toyota jenis Camry. Sedan itu menepi di areal keberangkatan, seorang pria dengan tubuh kecil bergegas turun. Tanpa arahan protokel yang formal, ia membopong tas bawaannya sendiri. Kemudian berbaur dalam penumpang pesawat lainnya menuju Jakarta.

Irwan saat itu ia bergegas ke Jakarta ada urusan dengan Kementrian Kehutanan dalam proses pembebasan sejumlah lahan untuk pembangunan di Sumbar. Irwan tidak naik pesawat pada kelas bisnis, namun hanya menggunakan kelas ekonomi. Sehingga dia persis berada bersama dengan masyarakat Sumbar yang terbang Padang-Jakarta. Begitu juga dengan kendaraan yang ditumpangi tadi, ternyata bukan kendaraan baru. Hanya bekas peninggalan dari mantan Wakil Gubernur Sumbar, H. Marlis Rahman. Meski telah empat tahun memimpin Sumbar, Irwan tidak pernah meminta mobil dinas baru.

Irwan meminta siapa pun untuk tidak memaksa dirinya berubah sesuai ketentuan protokoler.”Jangan paksa saya mengubah gaya hidup saya, karena bagi saya fasilitas jabatan apa pun adalah sunnah, kewenangan justru suatu kewajiban bagi saya,” katanya.
Ketimbang menggunakan anggaran yang tersedia, Irwan mengoptimalkan penggunaan fasilitas yang telah ada. Tak jarang Irwan menggunakan mobil pribadinya untuk melaksanakn tugas. Bahkan, untuk menjemput tamu Pemprov Sumbar dari Jakarta, Irwan masih menggunakan mobil pribadinya, bukan mobil dinas. Ketika disodori alasan menutup malu kepada menteri atau pejabat negara lainnya yang datang berkunjung, Irwan lebih memilih menggunakan mobil pribadinya untuk dijadikan mobil pelat merah.
Kondisi itu juga berlaku dengan sang istri Hj. Nevi Irwan Prayitno. Istrinya tidak mendapatkan mobil dinas, Hj. Nevi Irwan Prayitno hanya menggunakan mobil pribadi untuk kegiatan sebagai Ketua PKK. Hebatnya, sejak dilantik menjadi Gubernur Sumbar, Irwan menerapkan kesederhanaan bagi seluruh keluarganya. Hingga sekarang anak-anaknya tidak pernah menikmati fasilitas Pemprov Sumbar. “Karena memang anak-anak saya itu sudah terbiasa hidup mandiri,”ujarnya.

Kesederhanaan itu ternyata tidak dibuat-buat Irwan. Sikapnya itu datang sendiri dari dalam dirinya. Bukan dirinya tidak tahu cara menggunakan fasilitas, namun hanya ingin lebih hemat terhadap keuangan negara.

“Jika saya menggunakan uang pribadi saya kadang juga bisa naik Alphard, tapi jika saya gunakan uang negara saya harus berhemat. Karena itu uang rakyat, makanya untuk sekadar terbang ke Jakarta mengapa saya harus naik kelas bisnis dengan kelas ekonomi juga bisa sampai,”sebut Irwan ketika ditanyakan tabiatnya yang suka naik kelas ekonomi.

Kebiasaannya itu juga bukan hal baru dilakukannya, Irwan begitu dilantik pada Agustus 2010 lalu mendapatkan Sumbar dalam keadaan porak poranda akibat gempa bumi 2009. Rata-rata fasilitas Pemerintah Provinsi Sumbar rusak akibat gempa. Parahnya, ribuan rumah warga masyarakat Sumbar bersujud ke tanah, tak sedikit pula yang rata.

Masyarakat hidup dengan kecemasan, sebagian tinggal di tenda darurat. Sebagian lagi menumpang pada gedung-gedung yang masih bisa digunakan. Begitu juga dengan pusat perkantoran di kantor Gubernur Sumbar. Sejumlah gedung runtuh, termasuk gedung empat lantai Kantor Gubernur, meski tak runtuh namun dindingnya mengkawatirkan.

Dengan kondisi itu Irwan tidak lagi memikirkan fasilitas apa yang bisa didapatnya sebagai gubernur, namun bagaimana bisa membangun Sumbar kembali untuk bangkit. Sehingga dia menolak mengadakan mobil dinas baru, termasuk membangun kantor baru untuknya. Irwan memutuskan untuk bekerja di rumah dinas. Sampai semuanya rumah masyarakat mendapatkan rehabilitasi dan rekontruski. Termasuk perbaikan gedung pemerintah yang rusak.

“Untuk apa saya minta kantor baru, sementara rumah masyarakat saja banyak yang rusak. Saya pikir lebih baik dana itu dialokasikan untuk membantu masyarakat,”ujarnya.

Akhirnya hingga sekarang Irwan masih saja menempati rumah dinasnya untuk menyelesaikan pekerjaan. Semua dilakukan di rumah. Kondisi itu juga mempermudah dirinya untuk melayani masyarakat. Karena tanpa harus bolak-balik ke kantor, dirinya juga dapat menyelesaikan pekerjaan. “Ada baiknya juga, sebagai pelayan masyarakat, pekerjaan jadi cepat selesai,”kelakarnya.

Dalam kunjungan ke lapangan, Irwan biasa berbaur dengan masyarakat dan para staf. Ketika hendak beristirahat makan, Irwan tak memandang tempat makan itu mesti berkelas. Ia bisa makan di warung sederhana. Ketika makan, ia biasa mengajak pengawal, staf dan warga duduk semeja. Irwan pun biasa makan nasi bungkus di lapangan.

Kesederhanaan Irwan tetap terjaga dengan baik. Pernah, Penyair Taufiq Ismail, mendapati Irwan satu pesawat di kelas ekonomi, menilainya sebagai hal istimewa dan sebuah keteladanan. Terkait penampilannya yang sederhana, tanpa atribut dan minim protokoler, Irwan mengatakan ia tak ingin ada pembatas antara dirinya dan masyarakat.
Tepat Waktu
Meski dengan fasilitas yang sederhana, Irwan tetap menghargai waktu. Irwan yang ingin serba cepat dan tepat waktu. Setiap melakukan kunjungan ke daerah, rombongan gubernur nyaris melaju dengan kecepatan tinggi. Kondisi itu membuat SKPD berusaha mengelak ikut iring-iringan kendaraan gubernur karena tak siap nyali. Irwan berprinsip, lebih baik ia datang duluan daripada terlambat.

Contoh saja usai Lebaran kemarin. Irwan menghadiri acara halal bi halal masyarakat dan perantau di Nagari Kapau, Kabupaten Agam. Acara dijadwalkan pagi. Tapi, yang namanya pagi untuk urusan masyarakat di kampung bisa berarti di atas pukul 10.,00 WIB. Sementara, Irwan sudah tiba pagi-bagi sekali. Hal itu membuat masyarakat di sana terheran-heran.

Kalau ke luar kota memakai mobil pengawalan untuk mempercepat waktu, di dalam kota, Irwan menolak menggunakan mobil pengawalan, kecuali dalam keadaan mendesak. Seringkali pemilik acara masih menunggu-nunggu kedatangan gubernur dengan menyimak raungan sirene mobil pengawalan. Ternyata sirine itu tak pernah terdengar, Irwan sudah datang tepat waktu tanpa pengawalan dan malah sudah duduk bersama mereka. Menjaga agar tidak ada jarak dirinya dengan masyarakat, atribut gubernur yang biasa dipasang di dada kiri oleh gubernur atau pejabat pada umumnya nyaris tak pernah dipakainya.104/007

Singgalang, 11 Agustus 2015

 

Berdakwah Dengan Lagu (Singgalang 10 Agus 2015)

Berdakwah dengan Lagu

PADANG-Laki-laki itu berjalan bergegas. Ia seperti tak ingin melewatkan penampilan di pentas gedung teater utama Taman Budaya Sumatera Barat. Padahal, kursi penonton masih terlihat lengang. Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno lebih dahulu datang. Lelaki itu memang mempunyai minat yang besar terhadap seni dan budaya.

Rabu malam, (5/8) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat melaksanakan acara pelepasan kontingen untuk mengikuti Festival Seni Nasional di Jakarta yang dilaksanakan Kementrian Pendidikan. Dua kontingen yang dikirim mewakili Sumbar, yaitu grup musik tradisional Sandiko dan Teater Noktah pimpinan Syuhendri. Sebelum dilepas, kedua grup itu unjuk kebolehan.

Sandiko menampilkan pergelaran berjudul “Coga”. Alunan musik, lagu, bercampur gerak pencak silat terkomposisi dengan apik. Penonton bertepuk tangan, termasuk Irwan Prayitno. Ketika menyampaikan kata sambutan, Irwan ternyata sudah hafal dengan Sandiko. “Saya sudah melihat dua kali. Bagus, tak banyak yang harus diperbaiki,” ujar Irwan.

Giliran Teater Noktah yang tampil. Syuhendri membawa anak-anak Purus menampilkan lakon yang berjudul “Lari ke Bulan”. Walaupun anak-anak pantai yang baru mengenal teater, lakon anak-anak Purus begitu memukau. Dengarkan dialog mereka: “Pantai kita dikuasai hantu. Di mana-mana dikuasai hantu. Warung dikuasai hantu, di sekolah ada hantu, hantu IPA, bahasa Inggris hantu…” Dialog itu spontan membuat penonton tergelak tawa.

Penampilan anak-anak Noktah membuat Irwan terpesona. Anak-anak yang dibesarkan dalam kehidupan pantai yang terkenal keras itu justru mampu menampilkan sisi-sisi estetis dari dalam dirinya. “Ini hal yang positif untuk anak-anak kita. Seni dan budaya memberi nilai positif bagi anak, mengisi ruang dalam diri mereka, membangun rasa, kreativitas dan menyempurnakan fungsi otak kiri dan kanan,” ujar Irwan menyambut penampilan anak-anak Noktah.

Irwan memahami betul filosofis berkesenian. Baginya, berkesenian itu untuk mencerahkan diri dan masyarakat. Karena itu, ia tak menuntut utusan kesenian Sumbar ini mesti menang di festival. “Juara bukan hal yang utama. Yang terpenting berusaha untuk membawa hasil yang maksimal demi nama baik Sumatera Barat,” pesan Irwan.

Dunia berkesenian memang tak terpisahkan dari sosok Irwan Prayitno. Darah seni mengalir kental di dalam dirinya. Irwan pandai menabuh drum. Ia punya grup band sendiri bernama IPe Band. Tak hanya itu, Irwan juga pandai bernyanyi. Sudah dua album dibuatnya.

Bagi Irwan, berkesenian bukan hanya sekadar bernyanyi atau menabuh drum. “Seni itu untuk berdakwah,” ujarnya menjelaskan filosofinya dalam berkesenian.

Irwan mengaku, dirinya adalah tipe orang yang selalu ingin melakukan perbaikan untuk masyarakat. Dari dulu ia sudah berdakwah, terutama di masa-masa menjadi mahasiswa. Untuk tujuan dakwah itu, ia mendirikan Perguruan Islam Adzkia ketika baru tamat kuliah. Pendidikan adalah dakwahnya untuk memperbaiki generasi bangsa. Irwan juga menjadi penceramah, motivator dan penulis buku sebagai bentuk dakwahnya yang lain.

Sekarang, Irwan berdakwah dengan masuk ke dunia seni. “Lagu-lagu yang saya ciptakan bertema religi. Dari sana saya menyampaikan pesan kebaikan untuk anak-anak, para istri, ayah, masyarakat semuanya,” ujar Irwan.

Irwan sudah membuat dua album religi. Album kedua di-launching pada bulan Ramadhan lalu. Album kedua itu berjudul Cinta Sesama. Cinta sesama bergenre pop religi. Lagu-lagu dalam album ini bercerita tentang banyak hal, mulai dari mengagungkan Tuhan, menyantuni fakir miskin, kehidupan dalam keluarga hingga hubungan bermasyarakat. Lihat saja judul-judul lagu dalam album Cinta Sesama ini. Ada lagu Santuni Fakir Miskin, Takdir Illahi, Kawan Sejati, Muliakan Anak, Sayangi Anak Yatim, Kau Istriku, Ayahku, Kepada-Mu, Anakku Penyejuk Hatiku dan Allah Ta’alla.

Syair-syair lagu yang diciptakan Irwan sungguh menyentuh kalbu. Kawan sejati, tempat curahan hati, kawan sejati, tempat menggapai sukses, Allah merahmati dan menyayangi, Allah menyatukan dan menguatkan… Ini kutipan lagu “Kawan Sejati”.

Hei anak kau masih kanak-kanak, kau punya banyak kelemahan, masih kecil dan belum mandiri, fisik lemah dan belum matang… Kalau ini, penggalan lagu “Muliakanlah Anak”. Lagu ini dicipta Irwan sebagai tanda kasih untuk putra-putrinya. Lagu yang memberi inspirasi bagi para orang tua, bagaimana membesarkan anak-anak. Anak adalah curahan kasih sayang, begitu Irwan berpesan dalam lagunya.

Di antara lagu-lagu Irwan, yang paling terkenal adalah “Kau Istriku”. Lagu ini jadi hits dalam album perdana yang berjudul Cinta Sejati. Dibuat sendiri oleh Irwan, lagu “Kau Istriku” adalah kata-kata romantis untuk sang istri, Hj. Nevi Zuairina. Ketika itu, sang istri sedang pergi umroh ke Tanah Suci. Galau hati Irwan ditinggal pergi. Sebagai pelipur rindu, maka dikarangnyalah lagu.

Irwan lewat lagu juga bercerita tentang kecintaan kepada ayah. Sosok sang ayah yang sangat berpengaruh kepada dirinya. Selain itu, Irwan sendiri adalah ayah dari sepuluh anak. Ia menjadi sosok terbaik untuk anak-anaknya. Kisah ini diharapkan bisa menginspirasi ayah-ayah lainya.

Irwan berkisah tentang kecintaan kepada anak-anak, kepada ibu, dan kepada sesama. Di atas semuanya, cinta kepada Allah yang paling utama. Allah Ta’alla, begitu lagu ciptaan Irwan yang mengambarkan kecintaan kepada Allah, Sang Maha Pencipta segala cinta.

Irwan menyebutkan, karya yang diciptakannya ini lahir dari keinginan untuk memanfaatkan seni musik sebagai media dakwah dalam memberikan informasi dan mengajak masyarakat untuk hidup lebih baik secara islami. Selain itu, karya-karyanya ini juga untuk memberikan inspirasi dan motivasi bagi kalangan generasi muda untuk berpikir maju dan kreatif dalam mengembangkan potensi diri. “Selagi kita berusaha dengan sungguh-sungguh semua keinginan insyaallah berhasil. Manjadda Wajadda ,” ujar Irwan.

Kecintaan Irwan terhadap dunia seni terimplementasi dalam kebijakannya memimpin Sumatera Barat. Komitmennya dalam membangun dunia seni dan budaya sangatlah besar. Hal itu salah satunya diwujudkan dengan membangun gedung pusat kebudayaan yang segera terealisasi. Irwan juga mendukung berbagai kegiatan berkesenian dan berkebudayaan. Tak sekadar mendukung, ia terlibat langsung dalam kegiatan seni dan kebudayaan itu.

Kalau ada kesempatan, Irwan pasti akan menyaksikan pergelaran seni dan budaya. Tak puas sekadar menyaksikan, Irwan siap menyumbangkan bakat seninya. Seperti, malam itu, ketika grup Sandiko dan Teater Noktah selesai dengan penampilannya. Pengunjung bercelutuk mengharapkan sang gubernur untuk menyumbangkan suara emas dengan diiringi musik gendang dan talempong. “Nanti, saya masih ada acara…” sapa Irwan. Kebetulan malam itu agendanya sangat padat. 007

Singgalang, 10 Agustus 2015

 

Duduk Di Lapau Sambil Maota (Singgalang 8 Sep 2015)

Duduk di Lapau Sambil Maota

Laporan: A.R. Rizal

Wartawan Utama

BANUHAMPU-Malam semakin larut di Padang Lua, Banuhampu. Irwan Prayitno dan anggota DPRD Sumbar, Rafdinal hendak bertakziah kepada salah seorang kerabat di sana. Kedatangan kedua tokoh Sumbar itu diketahui sekelompok pemuda setempat. Mereka mencegat. Tapi, bukan untuk macam-macam, pemuda meminta IP duduk-duduk di lapau.

Pesan pemuda sampai kepada IP. Selesai menjenguk ke rumah Pak Zal di pinggir Kota Bukittinggi, Irwan langsung bergerak ke lapau yang terletak di kaki Gunung Marapi. Jadilan Irwan duduk-duduk maota di lapau Harmen, Sabtu malam kemarin.

Ternyata, kunjungan ke lapau Harmen di Jorong Parik Lintang Kenagarian Ladang Laweh Kecamatan Banuhampu itu merupakan yang kedua kalinya bagi Irwan. Penghulu suku Tanjung di Kanagarian Pauh Sambilan itu memang sering menyempatkan diri duduk-duduk di lapau. Pertama, karena kegemarannya memesan teh susu. Selain itu, karena kebiasaannya tak putus-putus membangun silaturrahim. “Di lapau tak sekadar duduk maota. Di sana, masyarakat dari berbagai usia berkumpul, berdiskusi, berbagai informasi untuk kemajuan nagari,” ujar Irwan.

Malam itu, di lapau Harmen, Irwan memesan teh susu. Kebetulan, udara dingin begitu menusuk di kaki Gunung Marapi. Teh susu menjadi minuman yang bisa menghangatkan badan. Suasana di lapau Harmen malam itu terasa hangat, penuh keakraban. Sejumlah warga dan pemuda yang duduk-duduk di lapau itu pun tak canggung-canggung berbagi informasi.

Informasi hangat di Kanagarian Ladang Laweh saat ini adalah soal demam batu akik. Industri kerajinan batu akik sedang booming di Ladang Laweh. Sebagian warga di sini yang berprofesi sebagai pedagang mengalihkan dagangannya dengan menjual batu akik. Tak hanya menjual batu akik, orang Banuhampu yang terkenal sebagai pengrajin ulung ternyata juga mahir mengolah batu akik. “Batu akik dari sini kita jual ke mana-mana. Ke Jawa, bahkan ke negara tetangga,” ujar Uncu, salah seorang warga.

Ladang Laweh memang tak menghasilkan batu akik. Tapi, nagari ini pandai mengolah batu akik. Batu akik yang diolah di sini berasal dari daerah lain di Sumbar, seperti batu akik jenis lumuik suliki, lumuik sungai dareh dan sebagainya.

Saat ini, demam batu akik mulai meredup. Tapi, menurut Uncu hal itu lebih disebabkan karena masalah prioritas kebutuhan ekonomi masyarakat saat ini. Menurutnya, beberapa waktu lalu masyarakat lebih mengutamakan memenuhi kebutuhan Lebaran dan sekarang kebutuhan pendidikan anak-anak karena sudah masuk tahun ajaran baru. “Batu akik kan bukan kebutuhan primer. Saat ini, masyarakat lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan untuk Idul Adha. Setelah lebaran kurban, pasar batu akik akan kembali cerah,” ujar Uncu lagi optimis.

Informasi tentang batu akik tersebut disimak secara antusias oleh Irwan. Ia mengungkapkan, itulah esensinya tradisi lapau di Minangkabau. Menurutnya, lapau tidak hanya tempat maota, duduk-duduk sambil menyumut kopi, tapi di lapau masyarakat berbagai informasi, sehingga bisa terlihat bagaimana kondisi ekonomi dan sosial yang dihadapi masyarakat itu sebenarnya. “Batu akik itu kan industri kreatif. Jadi, sangat dibutuhkan inovasi pengrajin untuk menghasilkan produk terbaik sekaligus memasarkannya,” ujar Irwan.

Irwan mengaku takjub dengan keberanian masyarakat untuk terjun ke industri kreatif. Menurutnya, industri kreatif inilah yang menjadi keunggulan Sumbar. Sumber daya alam daerah ini sangat terbatas, tapi masyarakatnya punya daya kreativitas yang luar biasa, sehingga bisa memanfaatkan potensi yang ada, menjadikannya produk berkualitas.

Lama Irwan duduk maota di lapau Harmen Kanagarian Ladang Laweh. Tak terasa, malam sudah berganti dini hari. Dalam dinginnya kabut di kaki Gunung Marapi, anak-anak muda Nagari Ladang Laweh menemukan kehangatan dalam kebersamaan dengan Irwan Prayitno. “Beginilah sosok pemimpin yang dirindukan masyarakat,” celutuk seorang pemuda.*

 

Singgalang, 8 September 2015

 

 

 

 

Datuak Rajo Bandaro Basa IP Di Goyang (Singgalang 7 Sep 2015)

DATUK RAJO BANDARO BASA IP DIGOYANG
Padang, Singgalang

Irwan Prayitno kembali digoyang. Setelah kasus pelantikan pejabat RSUD Pariaman, kini gelar Datuk Rajo Bandaro Basa yang disandangnya yang digugat. Sejumlah orang yang menyebut diri dari suku Tanjung Kenagarian Pauh Sambilan Kecamatan Kuranji mengaku gelar Datuk Rajo Bandaro Basa yang disandang IP hanyalah gelar pinjaman. Ini bukan gugatan yang pertama. Hal serupa pernah terjadi tahun 2010 lalu, persis pula di musim Pilkada sedang berlangsung.

Isu tak sedap ini kemudian dijawab oleh pemuka suku Tanjung Kenagarian Pauh Sambilan Kecamatan Kuranji, Padang. Zulhendri Ismed Rajo Bungsu selaku Kapalo Paruik Penghulu Suku Tanjung, kemarin menyebutkan, pengangkatan Irwan Prayitno sebagai penghulu Suku Tanjung dengan gelar Datuk Rajo Bandaro Basa merupakan kesepakatan paruik-paruik di Suku Tanjung dan disetujui nagari. Ada empat paruik di Suku Tanjung, yaitu paruik penghulu, paruik rang tuo, paruik pandito dan paruik rang basako. Dalam paruik penghulu, ada paruik manti, puti dan dubalang. “Paruik-paruik suku Tanjung sudah sepakat, sampai ke manti, puti dan dubalang. Disetujui pula oleh nagari, sehingga Datuk Rajo Bandaro Basa dilewakan,” ujar Zulhendri yang merupakan Sekretaris KAN Pauh Sambilan.

IP dilewakan sebagai datuk pada 2003. Menurut Zulhendri, sejak 1983, suku Tanjung di Kenagarian Pauh Sambilan tak memiliki penghulu. Setiap anak kemenakan suku Tanjung berhak menjadi penghulu. Upaya untuk mengangkat penghulu pernah dilakukan, tapi belum ada kesepakatan untuk mengangkat sosok yang pantas. “Saya juga diusulkan jadi penghulu. Tapi, saya masih muda, ada yang lebih pantas,” ungkap Zulhendri lagi.

Zulhendri menapik kalau gelar Datuk Rajo Bandaro Basa yang disandang IP adalah gelar pinjaman. Menurutnya, IP membawa gelarnya sendiri. IP adalah paruik suku Tanjung Kenagarian Pauh Sambilan. Ibunya Hj. Sudarni Sayuti bersuku Tanjung di Kenagarian Pauh Sambilan. Gelar Datuk Rajo Bandaro Basa pernah disandang kakeknya, Saumar yang menjadi penghulu pada tahun 1950-an.

Sejak Saumar Datuk Rajo Bandaro Basa, penghulu suku Tanjung Kenagarian Pauh Sambilan mengalami pergantian beberapa kali. Tahun 1961-an dipegang Jamar Datuk Tan Basa. Setelah itu, tahun 1983 dipegang Firdaus Dt. Rangkayo Basa. Sejak 1983, tak ada lagi penghulu suku Tanjung di Kenagarian Pauh Sambilan, hingga disepakatilah IP menjadi penghulu dan dilewakan tahun 2003. “Karena lama tak ada, maka kita sepakat untuk mengangkat pemimpin kita di nagari,” tambah Zulhendri.

Khairul Rajo Lenggang selaku paruik rang tuo suku Tanjung membenarkan silsilah suku Tanjung di Kenagarian Pauh Sambilan. Menurutnya, IP adalah paruik suku Tanjung Kenagarian Pauh Sambilan. Setiap paruik berhak jadi penghulu, tapi tentu ada aturannya. “Rajo Bandaro Basa itu sudah menjadi kesepakatan kaum dan nagari,” ujar Khairul Rajo Lenggang.

Hal senada diungkapkan Darmansyah Rajo Pangkeh selaku cadiak pandai suku Tanjung di Kenagarian Pauh Sambilan. Ia menegaskan, IP memakai gelarnya sendiri Datuk Rajo Bandaro Basa. “Gelar itu bukan jabatan. Irwan sudah dijamuan. Bajamuan itu hukum nagari. Ia jadi ninik mamak seluruh anak nagari di Pauh Sambilan,” tegas Darmansyah.

Darmansyah mengingatkan agar anak-kemenakan suku Tanjung di Kenagarian Pauh Sambilan jangan mau diadu-domba. Menurutnya, tak sekali ini saja isu tentang gelar datuk yang disandang IP ini dipersoalkan. Anehnya, hal itu dipersoalkan setiap Pilkada muncul. “Kalau ada yang hendak dibicarakan, mari duduk bersama. Tak ada kusut yang tak selesai,” tambah Darmansyah. 007

Singgalang, 7 September 2015

 

Dirikan Perguruan Islam, Cetak Generasi Berkarakter (Singgalang 7 Agus 2015)

Dirikan Perguruan Islam, Cetak Generasi Berkarakter

Padang, Singgalang
Dengan fasih, anak-anak itu melantunkan ayat-ayat suci Al-qur’an. Mereka membaca beberapa ayat pendek. Kalau tak terbatas waktu, di antaranya bisa membaca ayat yang lebih panjang. Bahkan, ada yang sudah hafal juz 30. Padahal, anak-anak itu baru duduk di bangku sekolah PAUD. Mereka, anak-anak PAUD/TKIT Adzkia yang diwisuda beberapa waktu lalu.

Adzkia adalah perguruan Islam yang ternama di Kota Padang. Lembaga pendidikan ini mengelola sekolah dari tingkat PAUD sampai perguruan tinggi. Kampus utama di kawasan Taratak Paneh Kuranji, Padang. Beberapa sekolahnya juga tersebar di sejumlah daerah di Sumbar. Prestasi lembaga pendidikan ini sudah menasional. Beberapa waktu lalu, SDIT Adzkia mendapat penghargaan Adiwiyata Mandiri dari Presiden Joko Widodo.

Besarnya Adzkia seperti saat ini tidak terjadi sertamerta. Di baliknya, ada Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno yang merintis berdirinya perguruan Islam ini. Irwan mendirikan Adzkia dengan sebuah idealisme membangun pendidikan modern berbasis Islam untuk melahirkan generasi Qur’ani yang berahklak mulia. Berbekal idealisme itu, Irwan membangun Adzkia dengan perjuangan keras tanpa kenal lelah. “Adzkia saya dirikan dengan uang Rp15 ribu, waktu itu saya dapat mencetak brosur sebanyak satu rim, kemudian dibagikan ke sekolah-sekolah yang ada di Kota Padang,”kenang Irwan mengingat perjuangannya membesarkan Adzkia.

Setelah susah-payah menamatkan kuliah di Universitas Indonesia (UI), Irwan langsung pulang kampung. Di Padang Irwan mendirikan bimbingan belajar yang kemudian menjelma menjadi Yayasan Pendidikan Islam Adzkia dengan aset Rp70 miliar saat ini. Sebenarnya, sesampai di Padang, Irwan bisa langsung masuk zona nyaman. Sebuah BUMN besar di Padang siap menerimanya memulai karir sebagai karyawan. Tapi, Irwan memilih jalan lain. Ia pejuang, merintis impiannya membangun dunia pendidikan di kampung halaman.

Jiwa pejuang itu sudah tumbuh di dalam diri Irwan sejak dini. Semasa kuliah, ia terlibat dalam banyak kegiatan. Mulai mengajar, berdakwah, berdiskusi, serta mencari nafkah untuk menghidupi keluarga yang baru dibina bersama Hj. Nevi Zuairina tahun 1985 dengan tanpa modal apa-apa. Karena seambrek kegiatan itu, Irwan mesti menamatkan pendidikan S1-nya lebih lama, yaitu enam tahun, sejak 1982 hingga 1988.

Begitu lulus sarjana psikologi UI yang terngiang di pikirannya justru ingin berdakwah. Keyakinan untuk terus berdakwah, menurutnya, bila dilandasi dengan nawaaitu demi menggapai Islam kaffah akan menjadi besar. Semangatnya bersama teman-teman lalu terdorong untuk membangun lembaga pendidikan Adzkia (yang artinya kecerdasan) untuk dakwah pendidikan, serta Yayasan Al-Madani untuk mengurusi dakwah sosial. Hidup Irwan kemudian dipenuhi warna-warni Adzkia.
Brosur telah disebar ke sekolah-sekolah di Kota Padang, Irwan berhasil mendapatkan murid dua lokal. Sebanyak 80 siswa yang mengikuti bimbingan belajar dengan Adzkia. Tidak memiliki gedung sendiri, Adzkia menyewa gedung PGAI, dengan syarat uang sewanya dibayarkan bulan berikutnya setelah siswa didapatkan.”Awalnya cuma empat jurusan, setelah itu terus berkembang, banyak peminat, saya memilih untuk mendirikan Taman Kanak-Kanak,”ujarnya.

Langkah itu berjalan lancar, siswa didapat, sewa gedung juga sudah dibayarkan. Ada empat jurusan yang dibuka, Fisika, Matematika, Biologi dan Kimia. Sementara tenaga pengajarnya juga hanya empat orang, diantaranya, Prof Syukri Arief, Mahyeldi Ansharullah yang sekarang menjabat Walikota Padang. Mereka pada umumnya berasal dari perguruan tinggi ternama seperti, IPB, UGM, Unand dan dirinya dari UI.

Tempat belajar juga menjadi berpindah-pindah. Pertama di PGAI pindah ke jalan Raden Saleh, Jalan Diponegoro, pindah lagi ke Belakang Olo, Simpang Dhamar. Setelah itu Irwan mendapatkan tanah wakaf dari ibunya di Taratak Paneh, Kuranji. Secara perlahan gedung sekolah dibangun. Kemudian membeli tanah disekitarnya untuk mendirikan sekolah lainnya.

Secara perlahan tapi pasti, Yayasan Pendidikan Islam Adzkia terus tumbuh seiring tingginya kesadaran masyarakat di Kota Padang pentingnya akan pendidikan. Tahun 1990 Adzkia membuka Taman Kanak-Kanak Adzkia yang sampai sekarang berkembang menjadi 7 cabang yang tersebar di kota Padang, Bukittinggi dan Payakumbuh. Kemudian Yayasan Adzkia mendirikan SD, SMP, SMA dan SMK. Kemudian juga melanjutkan dengan mendirikan perguruan tinggi.”Sekarang kita juga sudah membuka di Medan, Sumatera Utara,”sebutnya.

Melihat kebutuhan masyarakat terhadap ketersediaan guru TK yang profesional, maka YPIC Adzkia pada tahun 1994 membuka Program Diploma I PGTK Adzkia, yang kemudian berkembang menjadi program Diploma 2 PGTK/RA dan PGSD/MI dibawah Naungan Akademi Kependidikan Islam Adzkia (AKIA). Tahun 2003 status Akademi berubah kearah yang lebih positif yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah yang dinaungi oleh Departemen Agama Republik Indonesia.

Sudah sangat banyak lulusan yang telah dihasilkan oleh AKIA/STIT Adzkia. Lulusan STIT Adzkia bahkan sudah banyak yang diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil baik di Propinsi Sumatera Barat, maupun di luar propinsi Sumatera Barat. Bahkan keberadaan para alumni AKIA/STIT Adzkia ini tidak hanya menduduki jabatan sebagai guru melainkan juga sebagai kepala sekolah terutama lulusan jurusan PGTK Adzkia. Tahun 2005 Program Diploma 2 tidak diizinkan lagi untuk dibuka sehingga tahun 2007-2008 perguruan tinggi Adzkia fakum. Alhamdulillah tahun 2009, Adzkia diberikan izin penyelenggaraan STKIP Adzkia program S1 PG-PAUD & PGSD dibawah Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.

Di saat Adzkia mulai menapak maju, Irwan tahun 1995 justru terdampar ke negeri jiran, Malaysia untuk melanjutkan pendidikan S-2. Awalnya, banyak universitas yang menolak mengingat IP-nya rendah 2,02 sebelum akhirnya Universitas Putra Malaysia (UPM) di Serdang, Kuala Lumpur mau menampung dengan status percobaan satu semester. Namun, Irwan malah menantang Prof. Hasyim Hamzah, Pembantu Rektor UPM, bahwa dirinya bisa menyelesaikan studi tiga semester atau satu setengah tahun dari waktu normal enam semester atau tiga tahun. Tantangan itu terbukti dan memberinya hak menyandang gelar MSc bidang Human Resources Development. Kuliah S-3 pun di kampus sama dicapainya dengan gemilang. Irwan lulus S-2 dan S-3 bidang Training Management kali ini dengan nilai A semua, kecuali mata kuliah mengenai hukum perempuan. Itupun hanya akibat berbeda pendapat dengan dosennya.

Yang menarik, selama pergulatannya di Negeri Jiran Irwan Prayitno harus bekerja keras untuk menghidupi istri dan lima anak, saat itu, yang ikut diboyongnya. Dibutuhkan minimal 2.000 hingga 3.000 ringgit Malaysia perbulan, 10 hingga 20 persen diantaranya untuk kuliah. Sumber pendapatan tak lain dari berdakwah dan berceramah sampai ke London sekalipun. Pesawat terbang atau kereta api adalah tempat biasa untuk mengerjakan tugas-tugas perkuliahan. Itupun masih belum melepaskannya dari pekerjaan rutin di rumah mencuci pakaiannya, istri, dan anak-anak.

Kini, Adzkia telah bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas di Kota Padang, Sumbar umumnya. Dengan Adzkia Irwan telah menyumbangkan sebuah perjuangan membangun pendidikan di Sumbar. “Bagi saya Adzkia bukanlah untuk mengejar sebuah bisnis provit, namun bagaimana dapat berperan aktif membangun manusia perpendidikan dan berkarakter di Sumbar,”ujarnya.

Pengalaman membesarkan Adzkia menginspirasi Irwan sebagai Gubernur Sumbar untuk membangun pendidikan di daerah ini. Dalam berbagai kesempatan, Irwan selalu mengatakan agar sistem pendidikan di berbagai perguruan Islam yang mentransformasikan pendidikan modern dan agama untuk membentuk generasi berkarakter dintegrasikan dalam pendidikan umum di sekolah-sekolah. Irwan pun terus mendorong tumbuhnya perguruan-perguruan Islam di Sumatera Barat. Saat ini, perguruan-perguruan Islam, mulai dari TKIT, SDIT dan SMPIT berkembang pesat di berbagai daerah di Sumbar. 104/007

Singgalang, 7 Agustus 2015

 

Keluarga Surga Kebahagiaan (Singgalang 6 Agus 2015)

Keluarga Surga Kebahagiaan

PADANG-”Keluarga itu surga tempat kebahagiaan…” Kata-kata itu meluncur begitu saja ketika Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno diwawancarai wartawan sambil berjalan menuju kendaraan usai peringatan Hari Keluarga Nasional di Masjid Raya Sumatera Barat, Selasa (4/8). Bukan dari teks pidato yang sengaja dikarang. Kata-kata Irwan itu mengambarkan bagaimana harmonisasi hidup berkeluarga yang dijalaninya.

IP, begitu ia akrab disapa memiliki keluarga yang besar. Menikah dengan Nevi Zuairina, keduanya dikaruniai 10 anak. IP pun sudah berminantu. Kehadiran tiga cucu melengkapi kebahagiaan keluarga besar mereka. Keberhasilan karirnya di dunia politik dan memimpin Sumatera Barat tak menghilangkan keberhasilannya mendidik anak-anak. “Alhamdulillah, anak-anak saya kuliah di Perguruan Tinggi Negeri,” ujar Irwan.

Di tengah kesibukkannya yang seolah tak pernah putus-putus, IP tak sedikit pun mengurangi perhatian kepada keluarga. Bagi IP, keluarga adalah segala-galanya. Kalau ada setitik surga dijatuhkan ke bumi. Surga itu terletak dalam rumah yang dinaungi harmonisasi, diisi oleh anak-anak yang penuh dengan keceriaan.

Sebagai profesor di bidang sumber daya manusia dan mendirikan lembaga pendidikan berbasis keislaman, IP paham betul bagaimana membangun keluarga yang bahagia. Keluarga sebagai surga kebahagian mestilah dibangun di atas pondasi yang kuat. Keluarga yang bahagian itu adalah yang sakinah mawadah wa rahmah. Untuk mewujudkan keluarga sakinah mawadah wa rahmah perlu dibangun hablumminannas (hubungan sesama manusia yang baik) dengan taaruf (silaturrahmi, tafahum (saling memahami), taawun (tolong menolong) dan takaful (saling menjamin). Pondasi yang tak kalah penting adalah hablumminallah (hubungan dengan Allah) dengan meningkatkan ibadah.

Di tengah kegiatan memimpin daerah dan melayani masyarakat, bagaimana IP tetap bisa memberikan perhatian kepada keluarga? Menurut IP, kuncinya adalah pandai-pandai membagi waktu. Baginya, sesibuk apapun sebagai kepala daerah, soal anak-anak tak pernah dilupakannya. “Sesibuk apa pun, jangan sampai melupakan anak-anak. Jangan karena kesibukkan itu, anak-anak justru menjauh,” ujar Irwan.

Sebagai seorang gubernur, Irwan tetaplah seorang ayah. Bersama istri, ia selalu menyempatkan diri berkomunikasi dengan anak-anak. Mulai dari sekadar menanyakan kegiatan mereka sehari-hari, terutama menanyakan perkembangan mereka di sekolah. Tak jarang, Irwan datang langsung ke sekolah anaknya untuk berkomunikasi dengan guru tentang perkembangan pendidikan anak-anaknya. Untuk urusan menjemput rapor anak, IP selalu menyempatkan diri melakukannya sendiri. Dua anaknya, yang paling bungsu, Taqiya Mafaza dan Laili Tanzila masih duduk di bangku sekolah dasar. Kepada anak-anak yang termuda itu, Irwan tetap melaksanakan kebiasaan mengantarkan anak-anak ke sekolah. “Karena kesibukkan, sekraang tak selalu sering. Kalau ada kesempatan, saya selalu mengantar,” ujar Irwan.

Kebiasaan IP dengan anak-anak yang terus dilaksanakan adalah membelikan anak pulsa. Menurutnya, sebagian besar kebutuhan anak diurus sang istri. Tapi, ada beberapa kebutuhan anak yang tetap ditanganinya. Untuk urusan membeli pulsa, menurut Irwan hal itu tak hanya soal kebutuhan saja, tapi hal itu juga dijadikan kesempatan untuk berkomunikasi dengan anak. Demikian pun untuk urusan jajan, Irwan mengirimkan sendiri kepada anak-anaknya. Hal ini dilakukan untuk memberikan kepercayaan kepada sang anak untuk bisa bertanggung jawab dengan kebutuhannya sendiri, sekaligus ini cara IP untuk bisa selalu memantau keadaan anak-anak dan berkomunikasi dengan mereka. “Kadang, kalau ditelpon langsung, anak-anak diam, tak tahu mau ngomong apa juga. Tapi, pas minta pulsa atau jajan, saya bisa bertanya keadaannya, sekolahnya dan lain-lain.”

Saat ini, anak-anak Irwan berada di Jakarta dan Padang. Enam di Jakarta, termasuk anaknya yang sudah bekeluarga dan empat di Padang. Kepada anak-anaknya yang sudah berkeluarga, Irwan tetaplah ayah bagi mereka seperti dahulu. Kalau dahulu mereka minta pulsa dan jajan, sekarang berbeda, minta dibelikan susu. Kalau mendengar susu untuk sang cucu, kakek mana yang tak tergerak hatinya. Semua permintaan itu menurut Irwan bukan soal kebutuhan saja, tapi itulah momentum baginya untuk selalu berkomunikasi dengan keluarga di tengah kesibukkan yang padat mengurus daerah dan masyarakat.

Setiap hari, Irwan memiliki agenda ke luar daerah, baik di luar Kota Padang maupun di luar Sumatera Barat, bahkan ke luar negeri. Setiap jauh dari keluarga itu, ia tak melupakan anak-anak. Ada kebiasaan kecil IP setiap kali berkunjung ke luar kota, ia selalu membawa buah tangan untuk orang-orang di rumah. Buah tangan itu bukanlah barang-barang berharga, tapi hanyalah makanan atau benda-benda kegemaran anak-anaknya. Misalnya, Rabu siang (5/8), Irwan dalam perjalanan menuju Jakarta. Untuk anak dan cucunya di Jakarta, ia telah membawa buah tangan. “Ini, saya bawa rendang dan sipadeh. Anak-anak suka,” ujar Irwan dari balik telpon selularnya.

Irwan paham betul makanan kesukaan anak-anaknya. Anak-anaknya yang paling kecil, seperti anak-anak kebanyakan, suka makanan yang digemari banyak orang. Karena itu, selain selalu membawakan buah tangan makanan kesukaan, Irwan sering juga mengajak anak-anak makan bersama di luar. Irwan juga tahu hobi dan kegemaran anak-anaknya. Contohnya, untuk putranya Ibrahim, Irwan membelikan gitar karena anaknya itu memiliki hobi yang sama dengan dirinya di bidang musik.

Sebagai pendiri lembaga pendidikan berbasis Islam, kehidupan religius keluarga sangat menjadi perhatian bagi Irwan. Untuk menanamkan nilai-nilai agama sejak dini, semua anak-anaknya disekolahkan di lembaga pendidikan berbasis Islam dan pesantren. Di rumah, Irwan secara rutin selalu menanyakan kepada anak-anaknya apakah sudah shalat apa belum. Irwan selalu mengajak keluarga shalat berjamaah, terutama shalat Magrib dan Subuh. Tak itu saja, ia selalu memantau apakah anak-anak ada membaca dan menghafal ayat Al-quran. Kebiasaan puasa Senin-Kamis juga ditularkan kepada anak-anak. “Ya, kita selalu sahur bersama di rumah,” ungkap Irwan.

Di bulan suci Ramadhan, Irwan bersama keluarga menyempatkan diri memperbanyak ibadah. Bersama keluarga, ia biasa mengisi 10 hari di penghujung Ramadhan dengan beritikaf. Sebelum menjadi gubernur, itikaf biasanya dilakukan di masjid dalam komplek Perguruan Islam Adzkia yang dekat dengan kediaman orang tua IP di Padang. Sejak jadi gubernur, kegiatan itu dilaksanakan di mushalla dalam komplek gubernuran Sumbar. Kalau Ramadhan-Ramadhan sebelumnya, IP membawa serta anak-anak beritikaf, kini kegiatan itu lebih berkesan, karena sesekali bisa membawa serta cucu-cucunya.

Selain komunikasi yang intens, kebersamaan bersama anak-anak dan istri juga menjadi hal penting bagi Irwan. Ketika ada waktu luang, Irwan mengaku memanfaatkannya untuk bercengkrama bersama keluarga. “Ketika dengan dengan keluarga, di sana indah terasa,” ujar Irwan sambil tersenyum. 007

Singgalang, 6 Agustus 2015

Tak Pernah Lelah (Singgalang 5 Agus 2015)

Tak Pernah Lelah, Tetap Beribadah

PADANG – Dengan kesibukan mengemban amanah sebagai Gubernur Sumbar, Irwan Prayinto tidak pernah melalaikan kewajibannya mendekatkan diri pada Allah SWT. Ibadahnya tidak pernah abai, meski mencuri waktu disela agenda melayani masyarakat yang sangat padat.

Sebenarnya kegiatan ibadahnya Irwan sudah dijalaninya sejak lama, tidak serta merta ketika telah menjabat Gubernur Sumbar, keinginan itu lahir dalam dirinya untuk membentuk hidup lebih baik. Panutannya beribadah hanya satu, Rasullullah Muhammad SAW.

“Saya memang sudah berniat ibadahnya saya tidak terabaikan dengan rutinitas yang begitu padat, meski melayani masyarakat juga ibadah, namun ibadah saya langsung dengan Allah tetap utama,” ujar Irwan, Selasa (4/8).

Selama ini Irwan memang dikenal orang yang taat beribadah. Tidak hanya hanya menjalankan yang wajib, yang sunnah selalu dilaksanakan. Apalagi selama ini Irwan selalu memberikan ceramah agama dan tausyiah pada kegiatan-kegiatan pertemuan masyarakat. Termasuk agenda wirid rutin di Masjid Raya Sumatera Barat.

Ibadah yang selalu dijalaninya berupa, memulai hari dengan zikir matsyuroh, zikir setelah shalat subuh tersebut tidak pernah tinggal olehnya. Karena dengan mengamalkan zikir tersebut, dirinya mendapatkan perlindungan dari Allah SWT. “Zikir ini juga dapat menjauhkan kita dari niat buruk orang terhadap kita,”sebutnya.

Kemudian puasa sunat Senin dan Kamis, ibadahnya yang satu ini juga tidak pernah ditinggalkannya. Meski harus menerima tamu pemerintahan, atau menjamu tamu Pemprov Sumbar pada makan siang, Irwan tetap melaksanakan ibadah puasa sunat, tamu pun maklum. Meski berat, karena puasa sudah menjadi kebiasaannya, sehingga semuanya dijalaninya dengan baik.

“Kalau kita niat ibadah iklas, pasti akan dilancar Allah, karena saya meniatkannya puasa itu karena Allah, jadi walau ada orang makan didepan kita, memberikan sambutan dalam acara yang panasnya terik, InsyaAllah puasa tetap jalan,”ujarnya.

Setiap Senin dan Kamis, Irwan menjalani tantangan yang sama. Seperti perjalanannya ke Kepulauan Mentawai membuka pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Dengan goncangan gelombang yang kuat, melintasi lautan lebih dari tiga jam ditengah laut, dirinya tetap menjalankan ibadah puasa.

“Bahkan kemarin Senin, (3/8) saya selesai melantik penjabat Bupati Solok, langsung berangkat ke Solok Selatan, saya tetap puasa,”ujarnya.

Ibadah lainnya yang selalu dijalankan Irwan, menyempatkan shalat dhuha ketika aktifitasnya telah dimulai di pagi hari. Terkadang, ketika ada perjalanan ke luar daerah, Irwan meminta sopirnya berhenti di jalan guna menunaikan shalat dhuha. Sehingga ibadahnya yang satu itu tetap dapat dijalankannya.

“Kalau shalat dhuha saya juga selalu laksanakan, bahkan sering saya minta sopir untuk singgah di jalan agar saya dapat menjalankan ibadah dhuha,”sebutnya.

Di samping shalat lima waktu, Irwan juga rutin menggelar shalat malam (tahajud), dengan shalat tahajud menjadi media baginya mengadu pada Allah. Pada keheningan malam, semakin mendekatkannya dengan Allah. setelah melewati rutinitas siang yang padat, hiruk pikuk kehidupan siang Irwan selalu menyediakan waktu untuk shalat malam sebelum istirahat untuk memulai aktifitas diesok hari.

Begitu juga membaca Alquran, Irwan tidak alfa dengan membaca Alquran. Mebaca Alquran disiasatinya dengan meluangkan waktu dijeda pekerjaan. Selain itu juga pada kegiatan-kegiatan memberikan ceramah agama pada masyarakat.

Dengan berbagai aktivitas ibadah pribadinya itu, Irwan tetap menunaikan seambrek kegiatan pemerintahan, terutama melayani masyarakat. Contoh saja, ketika malam sudah datang di Ampalu Pauh Duo Kabupaten Solok Selatan, Irwan dengan wajah tanpa lelah setelah melewati perjalanan panjang meresmikan Restoran dan Penginapan Zaytun di Ampalu Pauh Duo Kabupaten Solok Selatan.

“Sampai nanti malam masih ada kegiatan dengan masyarakat,” ujar Irwan melalui pesan singkat ketika ditanya agenda kegiatannya sepanjang Selasa (4/8). Ketika itu, pagi baru menjelang. Irwan sudah bergegas dengan berbagai agenda kegiatan. Di antara agenda Irwan hari itu adalah menerima Kabiro Aset Pemprov Sumbar untuk menandatangani surat-surat dan mendiskusikan pengelolaan aset di ruang kerja gubernur yang juga sekaligus ruang tamu kediaman gubernur. Berlanjut menerima pengurus STAIPQ, menandatangani surat untuk Dubes-Dubes di Timur Tengah. Ada pertemuan dengan OJK. Belum cukup, sampai malam masih ada kegiatan melepas rombongan kesenian di Taman Budaya.

Irwan terbiasa beraktivitas dari malam ke malam. Artinya, ia sudah memulai aktivitas ketika matahari belum muncul. Dan aktivitasnya itu belum berakhir ketika matahari sudah tenggelam. Sosok yang selalu enerjik ini memang tak mengenal waktu. “Aktivitas untuk masyarakat itu tak mengenal waktu. Banyak hal yang harus dilakukan. Kita harus memastikan masyarakat mendapatkan hal yang terbaik dari pemerintah,” ujar Irwan lagi.

Sejumlah aktivitas Irwan sepanjang hari kemarin sangat berhubungan dengan kepentingan masyarakat banyak. Misalnya, pertemuan dengan STAIPQ. Dengan latar profesor di bidang sumber daya manusia dan merintis lembaga pendidikan berbasis Islam di Padang, Irwan memang mempunyai perhatian khusus terhadap pendidikan berbasis agama. Pendidikan adalah tulang punggung perbaikan dan kemajuan masyarakat. Irwan sangat antusias memajukan pendidikan berbasis Islam di Sumbar dengan mendorong lembaga-lembaga pendidikan tersebut menjadi lembaga-lembaga pendidikan terbaik.

Irwan juga menaruh perhatian terhadap pembangunan bidang seni dan budaya. Tak mengherankan, walau malam sudah menjelang, Irwan tetap melaksanakan agenda melepas rombongan kesenian di Taman Budaya. Darah seni memang mengalir pada dirinya. Selain pandai menabuh drum, Irwan juga pandai menyanyi dan mencipta lagu. Sudah dua album dibuatnya. Lagu-lagunya semuanya bernuasa religi, mengangkatkan tema-tema yang menggugah hati. Sebagai bentuk perhatian Irwan terhadap dunia budaya, ia pun berkomitmen membangun Taman Budaya sebagai cultural centre yang pembangunannya sudah dimulai tahun ini. 104/007

Singgalang 5 Agustus 2015

 

Gubernur Irwan Mengalah (Singgalang 1 Maret 2011)

Gubernur Irwan Mengalah

Gedung Megah Untuk Anak Buah

Padang-Jalan-jalanlah ke kantor gubernur Sumbar di Jalan Sudirman nomor 51, Padang. Persis di sebelah kiri bangunan utama kantor gubernur, kini sudah berdiri sebuah gedung megah berlantai dua. Gedung itu, dari awal diplot untuk ruangan kerja gubernur dan wagub Sumbar.

Gubernur Irwan Prayitno dan Wagub Muslim Kasim pun siap-siap pula pindah ke sana dari ruangan kerja sederhana yang ditempati sejak 15 Agustus 2010. Ya, ruangan darmawanita yang berada di sisi kanan bangunan kantor gubernur, disulap jadi ruangan kerja. Kendati hanya “kelas melati” baik Irwan maupun Muslim enjoy bekerja sebagai pelayan masyarakat.

“Kami berdua sepakat untuk tidak pindah dulu ke gedung mewah itu. Biarlah di sini saja. Untuk sementara waktu, gedung tersebut, dimanfaatkan oleh PNS rumah bagonjong. Lihatlah sejak gempa dahsyat 30 September 2009, mereka bekerja di aula. Bersempit-sempit. Pasti tak nyaman,” ujar Gubernur Irwan baru-baru di Padang.

Pernyataan Gubernur itu, mengejutkan hadirin yang kebanyakan CPNS. Tak disangka dan tak diduga. Mau mengalah kepada staf yang tak lain adalah anak buah sendiri. Gedung itu, juga sudah dirancang sebagai ruangan kerja gubernur dan wagub.

Sebenarnya, usai dilantik sebagai kepala daerah, mantan anggota DPR RI tiga periode ini berpikir demikian. Apa bisa bekerja nyaman dengan kondisi aula yang disulap seperti ruangan kerja. Berpadat-padat, bertumpuk-tumpuk. Ibarat sebuah pasar. Bercampur dan hiruk pikuk.

Padahal pekerjaan yang dilakoni butuh ketenangan, kenyamanan. Segala surat-surat baik dari pusat maupun dari nagari, termasuk yang urgen, semua diproses di kantor gubernur. PNS itulah yang bekerja.

”Salah seorang PNS yang bekerja di aula mendatangi saya. Dia curhat soal lingkungan kerja di aula yang penuh sesak itu. Dia menyampaikan aspirasi soal kerja di aula yang tidak nyaman dan mengganggu. PNS itu tidak bereselon, hanya staf biasa. Tapi apa yang dia aspirasikan itu memang menjadi pikiran pula bagi kami berdua. Mereka tak nyaman bekerja,” ujar Irwan.

Ditanyakan kepada pegawai lain. Juga menyatakan hal yang sama. Kondisi lingkungan yang begitu akan mengganggu kinerja. Alhasil, gubernur pun membicarakan dengan wagub perihal tersebut. Apalagi pembangunan kantor gubernur, pengganti yang rusak belum jelas kapan selesainya. Gubernur dan wagub sepakat, gedung megah yang diperuntukan bagi gubernur dan wagub dimanfaatkan oleh PNS di aula.

Langkah bijak dari gubernur pilihan rakyat itu, spontan membuat PNS yang selama ini bertumpuk-tumpuk bekerja di aula, gembira dan senang. ”Tampak benar kepemimpinan pasangan Irwan-MK. Mengalah demi anak buah. Rasanya kami berdosa kalau tak bekerja sungguh-sungguh,” ujar seorang PNS.

Kabiro Humas dan Protokol Setdaprov Surya Budhi mengaku kebijakan gubernur itu, mendapat respon luar biasa dari kalangan PNS. ”Pemimpin bijak dan arif. Tak rela staf bekerja tak nyaman. Itu terus yang diucapkan. Ini sekaligus cambuk bagi kami sebagai staf untuk bekerja lebih maksimal,” singkatnya.

Gedung megah itu nanti sebut Budhi akan ditempati oleh PNS di jajaran Biro Hukum, Biro Organisasi dan Biro Administrasi Pembangunan dan Kerjasama Rantau.

Dengan demikian di aula, tinggal dihuni oleh tiga biro lagi. Biro Perekonomian, Biro Bina Sospora dan Biro Pemerintahan dan Kependudukan. Sehingga tak bertumpuk-tumpuk lagi. Sudah bisa diatur dengan suasana lebih nyaman dan tentram.

Singgalang, 1 Maret 2011

 

Tidak Biasa Melihat Orang Lain Susah (Posmetro 23 Agus 2015)

Tidak Biasa Melihat Orang Lain Susah

Rendah hati dan peduli terhadap lingkungan sosial merupakan karakter yang melekat pada diri seorang Irwan Prayitno. Meskipun dirinya telah meraih berbagai kesuksesan dalam karir dan keluarga, namun tidak membuat Rang Kuranji itu menjadi kacang lupa pada kulit. Irwan Prayitno sadar, semua yang diraih dalam hidupnya sekarang tidak terlepas dari pahit getir perjuangan hidup yang pernah dijalaninya. Karena itu, Irwan Prayitno menjadi orang yang tidak biasa melihat orang lain susah.

SWARI ARFAN—Padang

Salah satu kepedulian Irwan Prayitno terhadap lingkungan sosialnya adalah, selalu rutin mengeluarkan zakat untuk masyarakat yang kurang mampu. Irwan Prayitno juga dikenal sebagai sosok yang selalu membantu di saat temannya mengalami kesusahan.

Seperti apa kepedulian sosial suami Nevi Zuairina itu di mata teman-temannya. Rinaldi, salah seorang teman dekat Irwan Prayitno menuturkan, Irwan Prayitno pernah membantu membiayai resepsi pernikahan temannya. “Pernah ada temannya yang kekurangan biaya untuk menikah. Irwan Prayitno spontan saja membantu biayanya,” terang Rinaldi, kepada POSMETRO, Sabtu (22/8).

Rinaldi menambahkan, selain membantu membiayai pernikahan temannya. Irwan Prayitno bahkan pernah membantu temannya membiayai rumah kontrakan. Saat duduk di DPR-RI, Irwan Prayitno juga pernah membantu membiayai mahasiswa yang pernah mengadu kepadanya karena tidak memiliki biaya kuliah. Rinaldi mengaku, pernah menanyakan, kenapa Irwan Prayitno membantunya. Jawab Irwan Prayitno sederhana, karena dirinya teringat perjuangan menyelesaikan S1 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI).

Saat kuliah dulu, dirinya yang sudah menikah dengan Nevi Zuairina, selain berjibaku menyelesaikan kuliah, juga harus berjuang menafkahi keluarganya.

Selama menjadi Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno juga tidak pernah meninggalkan kebiasaanya, menolong mereka yang mengalami kesusahan. Tidak dipungkirinya, ibadah puasa Senin-Kamis yang rutin dilakukannya, menjadi salah satu faktor yang membentuk karakter dirinya menjadi orang yang rendah hati dan selalu menolong.“Dengan puasa Senin-Kamis, saya ikut merasakan bagaimana menahan lapar, di saat orang lain enak-enak makan,” ungkapnya.

Kepedulian terhadap lingkungan sosial masyarakatnya, membuat Irwan Prayitno saat menjadi Gubernur Sumbar lebih sering menghabiskan waktunya mengunjungi dan melihat langsung kondisi riil masyarakatnya. Seluruh nagari di Sumbar sudah dikunjunginya selama menjadi Gubernur Sumbar.Tidak jarang dirinya menggunakan motor trail menerabas daerah-darah pelosok di Sumbar, demi melihat langsung kondisi masyarakatnya di daerah terpencil.

Dengan mengetahui kondisi riil masyarakatnya, Irwan Prayitno merasakan kesulitan hidup masyarakatnya. Karena keinginan untuk membantu masyarakatnya yang dikunjunginya cukup besar, Irwan Prayitno lalu menuangkan dalam program bantuan pemerintah.

Irwan Prayitno mencontohkan program yang dilaksanakannya, yakni meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan. Irwan Prayitno mencetus program Gerakan Pensejahteraan Petani. (GPP). Tujuan program ini, meningkatkan jam kerja efektif petani. Dari yang biasanya hanya bekerja 3,5 jam per hari menjadi 8 jam per hari dengan minimal tiga jenis usaha.

Sasaran pemberdayaan 37.200 rumah tangga petani (RTP) dengan melibatkan 1.860 kelompok tani dan 930 nagari/kelurahan/desa ( seluruh nagari). Program ini cukup berhasil dilaksanakan. Data Bappeda Sumbar mencatat, realisasi sampai tahun 2014 adalah 248 nagari, 496 kelompok tani dan 9.992 RTP.

Selain GPP, Irwan Prayitno juga mencetus program Pensejahteraan Ekonomi Masyarakat Pesisir (GEPEMP). Program ini bertujuan meningkatkan usaha kelautan perikanan dan pengembangan mata pencaharian alternatif di luar bidang kelautan dan perikanan. Sasaran GEPEMP pemberdayaan 5.680 KK masyarakat pesisir/nelayan miskin yang tersebar pada tujuh kabupaten kota, 42 kecamatan dan 89 nagari/desa/ kelurahan.

Program ini juga sukses dilaksanakan dan berdampak terhadap peningkatan ekonomi nelayan. Realisasi GEPEMP sampai 2014 berhasil menyentuh sebanyak 4.405 KK di tujuh kabupaten kota. Tujuh kabupaten kota itu meliputi Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Agam, Mentawai, Pasaman Barat, Padangpariaman, Pariaman.

Kemudian juga ada program Gerakan Pensejahteraan UMKM (GPUMKM). Program ini bertujuan meningkatkan kemampuan pelaku UMKM dalam pengelolaan usaha akses ke lembaga keuangan, pemasaran dan peningkatan peranan koperasi. Sasarannya adalah peningkatan kemampuan kelompok pelaku UMKM. Realisasi KUR Rp4,1 triliun untuk 226 ribu nasabah (penduduk Sumbar 4,9 juta dan BUMD Jamkrida).

Program lainnya, yakni program Gerakan Pensejahteraan Fakir Miskin (GPFAKIN). Program ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan fakir miskin untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sasaran GPFAKIN melalui kegiatan program bantuan usaha ekonomi produktif (KUBE), program PNPM Mandiri (pedesaan/perkotaan), Penyaluran hibah bansos bagi keluarga miskin, bantuan beasiswa miskin, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan kesehatan daerah, pengadaan beras raskin dan bantuan untuk panti asuhan swasta. ”Semua program bantuan tersebut lahir, tidak terlepas dari keinginan untuk berbuat terhadap mereka yang kurang mampu,” terang Irwan Prayitno. (**)

Posmetro Padang, 23 Agustus 2015

 

Mengenal Irwan Prayitno (Posmetro 23 Agus 2015)

Mengenal Irwan Prayitno

Selama dua minggu terakhir, media cetak di Sumbar memuat informasi tentang sisi lain kehidupan seorang Irwan Prayitno. Termasuk POSMETRO Padang, yang juga menyajikan informasi tentang sosok Mantan Gubernur Sumbar itu. Informasi tersebut digali melalui wawancara dari orang-orang terdekat di sekeliling Irwan Prayitno, mengamati aktivitas Irwan Prayitno sehari-hari dan berbagai literature tentang Irwan Prayitno.

Hadirnya informasi tentang sosok Irwan Prayitno itu, karena selama ini cukup banyak kehidupan pribadinya yang belum terungkap ke publik. Hal ini dikarenakan selama menjabat sebagai Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno selalu disibukan dengan jadwal kegiatannya yang begitu padat. Ketertarikan POSMETRO mengungkap sisi lain kehidupan Irwan Prayitno, karena Mantan Gubernur Sumbar tersebut tergolong unik. Irwan Prayitno seorang kepala daerah yang multi talenta atau serba bisa.

Di bidang seni, Irwan Prayitno memiliki skill bermain drum dan pandai bernyanyi. Irwan Prayitno juga seorang yang bernyali dengan memilih olahraga yang menantang maut mengendari motor trail. Dia juga seorang atlet karate sabuk hitam. Tidak hanya itu, seorang Irwan Prayitno saat taat beribadah, pandai berceramah dan berdakwah. Selain itu, juga sangat cerdas karena telah menyelesaikan kuliha hingga program S3 di Negeri Jiran.

Dari sekian banyak sisi lain kehidupan Irwan Prayitno yang terungkap melalui informasi Sosok IP yang disajikan setiap. Kali ini POSMETRO mengulas rangkuman perjalanan hidupnya.

Irwan Prayitno lahir 20 Desember 1963, merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya bernama Djamrul Djamal yang berasal dari Simabua Kabupaten Tanahdatar. Ibunya Sudarni berasal dari Pauh IX, Kecamatan Kuranji Kota Padang. Kedua orangtua Irwan Prayitno, lulusan PTAIN Yogyakarta dan berprofesi sebagai dosen IAIN Imam Bonjol. Sebelum tinggal di Padang, keluarga Djamrul Djamal menetap di Semarang, hingga Irwan Prayitno berusia tiga tahun. Kemudian pindah ke Cirebon saat Irwan Prayitno memasuki usia sekolah dasar.

Tahun 1970 hingga 1976, Irwan Prayitno menjalani pendidikan di SDN 4, Kebon Baru, Cirebon. Setelah tamat SD, Irwan Prayitno pulang ke Padang dan menjalani pendidikan di SMP 1 Padang, tahun 1976 – 1979.Setelah tamat SMP, Irwan Prayitno melanjutkan sekolahnya ke SMA 3 Padang. Selama belajar di SMA 3 Padang inilah, Irwan Prayitno mulai aktif dalam kegiatan organisasi sekolah. Dirinya menjalani dua kali kepengurusan OSIS.

Selain aktif di organisasi sekolah. Irwan Prayitno juga termasuk salah seorang siswa yang cerdas. Pada tahun kedua dan ketiga, dirinya berhasil meraih juara pertama di kelasnya. Jiwa dan bakat kepemimpinan yang terdapat dalam dirinya sudah terlihat sejak sekolah. Dirinya selalu dipercaya oleh teman-teman sekelasnya untuk menjadi ketua kelas.

Setelah tamat SMA tahun 1982, Irwan Prayitno melanjutkan pendidikan kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI). Selama kuliah, dirinya mulai melakukan pengembangan potensi diri dengan aktif dalam diskusi-diskusi, dakwah dan berbagai kegiatan kemahasiswaan. Dirinya bergabung dan aktif dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jakarta “Semua aktivitas saya ikuti, demi ingin mengembangan diri saya. Saya aktif dalam kegiatan diskusi, dakwah dan ikut bergabung dalam organisasi HMI,” terang Irwan Prayitno.

Bahkan pada pada 1984, Irwan Prayitno diangkat menjadi Ketua HMI Komisariat Fakultas Psikologi UI. Irwan Prayitno juga aktif dalam pergerakan Islam, beralih ke masjid di kampus-kampus lewat kelompok-kelompok tarbiah yang lebih berorientasi pada pembinaan aqidah dan akhlak. Aktivitas tarbiah berpusat di masjid-masjid kampus.

Saat masih kuliah, di usianya yang ke- 22 tahun, Irwan Prayitno menikah dengan Nevi Zuairina, mahasiswi UI yang ditemuinya saat menjalani kuliah semester tiga. Selama menjadi mahasiswa, Irwan Prayitno bahkan sudah dikarunia dua orang anak, hasil pernikahannya.

Cukup berat perjuangan Irwan Prayitno untuk dapat menyelesaikan kuliahnya. Selain aktif dalam kegiatan kemahasiswaan dan dakwah. Irwan Prayitno harus bakureh dengan mengajar di beberapa SMA swasta, dan menjadi konselor di bimbingan belajar Nurul Fikri. Kerja kerasnya mencari nafkah dilakukan untuk dapat membiayai uang kuliah, menghidupi dirinya bersama istri dan dua anaknya.

Meskipun cukup berat perjuangan yang dilaluinya. Namun, Irwan Prayitno berhasil menamatkan kuliahnya. Meskipun dirinya cukup lama menyelesaikannya, yakni enam tahun dan dengan IPK rendah 2,02. Tamat kuliah, aktivitas dakwah Irwan Prayitno berlanjut dengan mengembangkan kegiatan dakwah di kampus Universitas Andalas dan IKIP Padang (sekarang Universitas Negeri Padang).

Karena IPK rendah, Irwan Prayitno memutuskan pulang ke Padang untuk berdakwah dan melanjutkan mengajar kursus. Irwan Prayitno memilih jalan yang berbeda dari mereka yang lebih memilih mulai berjuang mencari kerja setelah tamat kuliah. Hal ini dibuktikannya dengan menolak tawaran kerja sebagai karyawan di PT Semen Padang. “Semen Padang waktu itu membutuhkan tenaga psikologi. Karena tamatan psikologi langka waktu itu. Saya menolak,” terang Irwan Prayitno.

Dirikan Yayasan Pendidikan Adzkia

Irwan Prayitno justru memilih mendirikan bimbingan belajar. Walaupun dengan hanya Rp15 ribu. Cukup nekad dan berani memang. Namun, Irwan Prayitno justru melihat sebuah peluang besar dari kenekatannya itu. “Di Kota Padang, saat itu tidak banyak bimbingan belajar berdiri. Kecenderungan masyarakat masih menempuh pendidikan formal. Saya melihat peluang itu,” terang Irwan Prayitno.

Dengan modal pas-pasan Rp15 ribu yang dimilikinya, Irwan Prayitno mulai mencetak brosur, yang memuat pengumuman penerimaan siswa baru untuk bimbingan belajar. “Brosur tersebut saya cetak satu rim. Kemudian saya pergi ke sekolah-sekolah. Di depan gerbang sekolah saya bagikan satu per satu kepada siswa yang lewat,” terang Irwan Prayitno.

Untuk menjalankan rencananya mendirikan lembaga bimbingan belajar tersebut, Irwan Prayitno mengajak kawan-kawannya yang dapat bekerjasama. Semangatnya bersama teman-teman, lalu akhirnya terdorong untuk membangun lembaga pendidikan Adzkia (yang artinya kecerdasan) untuk dakwah pendidikan, serta Yayasan Al-Madani untuk mengurusi dakwah sosial.

Brosur telah disebar ke sekolah-sekolah di Kota Padang, Irwan Prayitno berhasil mendapatkan murid dua lokal. Sebanyak 80 siswa yang mengikuti bimbingan belajar Adzkia. Tidak memiliki gedung sendiri, Adzkia menyewa gedung PGAI, dengan syarat uang sewanya dibayarkan bulan berikutnya setelah siswa didapatkan. “Awalnya cuma empat jurusan, setelah itu terus berkembang, banyak peminat, saya memilih untuk mendirikan Taman Kanak-Kanak,” ujarnya.

Langkah itu berjalan lancar, siswa didapat, sewa gedung juga sudah dibayarkan. Ada empat jurusan yang dibuka, Fisika, Matematika, Biologi dan Kimia. Sementara tenaga pengajarnya juga hanya empat orang, diantaranya, Prof Syukri Arief. Mereka umumnya berasal dari perguruan tinggi ternama seperti, IPB, UGM, Unand dan dirinya dari UI.

Perjuangan untuk membuat Adzkia tetap eksis cukup berat. Bahkan tidak jarang, tempat belajar juga menjadi berpindah-pindah. Pertama, di PGAI pindah ke Jalan Raden Saleh, kemudian ke Jalan Diponegoro. Selanjutnya pindah lagi ke Jalan Belakang Olo, Simpang Damar. Setelah sering berpindah-pindah, Irwan Prayitno akhirnya mendapatkan tanah wakaf dari ibunya di Taratak Paneh, Kecamatan Kuranji. Secara perlahan gedung sekolah mulai dibangun. Kemudian membeli tanah di sekitarnya untuk mendirikan sekolah lainnya.

Secara perlahan tapi pasti, Yayasan Pendidikan Islam Adzkia terus tumbuh seiring tingginya kesadaran masyarakat di Kota Padang pentingnya pendidikan. Tahun 1990 Adzkia membuka Taman Kanak-Kanak Adzkia yang sampai sekarang berkembang menjadi tujuh cabang yang tersebar di Kota Padang, Bukittinggi dan Payakumbuh. Kemudian Yayasan Adzkia mendirikan SDIT, SMPIT, SMAIT dan SMK. Kemudian juga melanjutkan dengan mendirikan perguruan tinggi. “Sekarang kita juga sudah membuka di Medan, Sumatera Utara,” sebutnya.

Tuntaskan Pendidikan hingga S3

Seiring berkembangnya Yayasan Pendidikan Adzkia, kehidupan Irwan Prayitno mulai mapan. Namun, kesuksesan dirinya mengembangkan Yayasan Pendidikan Adzkia, tidak membuat dirinya lupa akan arti penting ilmu pengetahuan. Dirinya melanjutkan pendidikan dengan mengambil program S-2 di Universiti Putra Malaysia, Selangor. Irwan Prayitno mengambil program Pendidikan Bidang Human Resource Development Untuk mengambil kuliah S2 di Negeri Jiran itu bukan tanpa cobaan. Irwan Prayitno yang membawa serta istri dan anaknya ke Malaysia.

Namun, karena IPK rendah, lamarannya untuk mengambil S2 sempat beberapa kali ditolak. Irwan Prayitno kemudian bertemu dengan Pembantu Rektor UPM. Kepada Prof. Hasyim Hamzah. Irwan Prayitno menyatakan kesanggupan menyelesaikan studi dalam tiga semester. Irwan Prayitno berhasil membuktikan janjinya. Dirinya tamat satu setengah tahun lebih awal dari waktu normal, tiga tahun pada 1996.

Tidak puas hanya menyelesaikan S2, Irwan Prayitno melanjutkan kuliah S-3 di kampus yang sama. Selama di Selangor, selain kuliah, Irwan Prayitno harus bekerja keras mengurus keluarga. Saat itu, ia telah memiliki lima anak. Dirinya hanya mengalokasikan sekitar 10 sampal 20 persen untuk kuliah. Kegiatan dakwahnya tetap berlanjut. Bahkan, ia menunaikan dakwah sampai ke Eropa dan harus mengerjakan tugas-tugas perkuliahan dalam perjalanan di dalam mobil, pesawat, atau kereta api.

Di tengah kesibukannya tersebut, Irwan Prayitno kemudian terjun ke dunia politik. Dirinya dicalonkan oleh Partai Keadilan sebagai anggota legislatif DPR. Padahal saat itu Irwan Prayitno tengah mempersiapkan ujian akhir S-3. Dirinya dapat merampungkan kuliahnya untuk gelar PhD dengan IPK cumlaude 3,97 pada tahun 2000. Dirinya kemudian kembali ke Indonesia, ia berbagi tugas di legislative sebagai anggota DPR-RI dan kegiatannya di bidang akademisi.

Sejak tahun 2003, ia mengajar program pasca-sarjana di Universitas Muhammadiyah Jakarta dan dikukuhkan sebagai guru besar pada 1 September 2008. Pada tahun 2010, Irwan Prayitno bertarung pada pelaksanaan Pemilihan Gubernur Sumbar. Dirinya berhasil memenagkan pertarungan tersebut dan menjadi Gubernur Sumbar sejak dilantik 15 Agustus 2010 hingga 15 Agustus 2015.

Hobi Menulis

Irwan Prayitno memiliki hobi suka menulis. Dalam perjalanan hidupnya, Irwan Prayitno mampu menghasilkan sekitar 500 lebih karya artikel. Hampir seluruh karya artikelnya telah dimuat di berbagai media cetak. Tidak hanya artikel, Irwan Prayitno juga telah menghasilkan karya 34 buku.

Walau pun sedang banyak menghadiri kegiatan selama menjadi gubernur, di sela-sela kegiatan dirinya menyempatkan mengetik artikel melalui handphone miliknya. “Kadang ketika di sela-sela acara itu, muncul sebuah ide pemikiran. Saya tuangkan saja ide itu dengan mengetik di handphone saya,” terangnya.

Setelah ketikan selesai, Irwan Prayitno meminta sekretaris pribadinya untuk menuangkan ketikan ke atas kertas. “Ya, hasilnya seperti kertas artikel ini. Saya baca lagi, saya edit. Kemudian saya minta anggota saya mengirim ke media,” ungkapnya.

Diungkapkan Irwan Prayitno, kebiasaannya menulis sudah dilakoninya sejak duduk di bangku SMA 3 Padang. Waktu masih SMA, dirinya sering menulis apapun tentang kehidupan yang dijalaninya sehari-hari. Termasuk hal-hal baru yang ditemukannya. “Seperti saat saya pulang jalan-jalan waktu SMA, saya tulis apa saja pengalaman saya waktu jalan-jalan. Kadang-kadang karya tulisan yang dibuat saya tempel di majalah dinding sekolah,” terang Irwan Prayitno.

Kebiasaan tersebut, menurutnya berlanjut hingga sekarang. Tidak hanya menulis artikel, dirinya juga membuat berbagai karya buku. Irwan Prayitno mengakui, ada kepuasan bathin yang dirasakannya setelah menulis. Kepuasan bathin tersebut memunculkan sebuah perasaan bahagia dalam dirinya. “Bathin saya puas setelah menulis. Ada kebahagiaan yang muncul dalam diri, ketika melihat hasil karya saya,” terang Irwan Prayitno.

Irwan Prayitno mengungkapkan, dirinya pertama kali menulis buku, saat menyelesaikan kuliah S-1 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1982-1988). Buku karya pertamanya berjudul “Anakku, Penyejuk Hatiku”. Buku tersebut memuat tentang ilmu bagaimana mendidik anak dari perspektif ilmu psikologi. Ide lahirnya buku itu berangkat dari pengalaman Irwan Prayitno yang sudah memiliki anak.

Selain itu, juga memuat tentang bagaimana pendidikan anak di PAUD. Buku karya pertamanya tersebut, setebal 700 halaman. Irwan Prayitno tidak menyangka, buku karya pertamanya yang dicetak tahun 1990 tersebut, laris manis. Bahkan, sudah lima kali cetakan, sudah habis terjual.

Selain buku berjudul Anakku, Penyejuk Hatiku, ada beberapa judul buku psikologi anak lainnya yang ditulis Irwan Prayitno, yakni buku berjudul “Ajaklah Anak Bicara”, “Ketika Anak Marah”, ”24 Jam Bersama Anak”, “Membangun Potensi Anak” dan “Tips Bergaul dengan Anak”. Tidak hanya menulis buku tentang psikologi anak, Irwan Prayitno juga menulis beberapa buku tentang pendidikan Islam, pendidikan masyarakat dan management SDM.

Irwan Prayitno menulis buku, sesuai dengan apa saja kegiatan dan lingkungan yang dihadapinya. Dia mencontohkan, saat dirinya melaksanakan kegiatan sosial dan dakwah, maka dirinya membuat buku tentang dakwah dan pendidikan Islam. Saat dirinya sedang mengikuti pendidikan untuk meraih gelar doctor bidang SDM, maka dirinya membuat buku tentang SDM. Begitu juga ketika dirinya mulai memasuki dunia politik, maka dirinya akan membuat buku tentang politik.

Namun, diakui Irwan Prayitno, selama dirinya menjabat sebagai Gubernur Sumbar, belum satupun karya buku yang dilahirkannya. Kondisi ini terjadi karena dirinya cukup sibuk dengan pekerjaan melaksanakan program dan kegiatan pembangunan Sumbar. Irwan Prayitno berniat suatu saat nanti akan membuat sebuah buku tentang pengalamannya menjadi Gubernur Sumbar. “Mungkin nanti. Saya akan menulis buku tentang pengalaman saya menjadi Gubernur Sumbar,” harapnya.

Dikarunia 10 Anak

Irwan Prayitno bersama istrinya Nevi Zuairina, dikarunia 10 anak. Masing-masing, Jundi Fadhlillah, Waviatul Ahdi, Dhiya’u Syahidah, Anwar Jundi, Atika, Ibrahim, Shohwatul Islah, Farhana, Laili Tanzila dan Taqiya Mafaza. Kebahagiaan Irwan Prayitno terasa lengkap. Karena selain 10 anak, Irwan Prayitno juga dikarunia tiga cucu, yakni Hawnan Aulia, Hasna Labiqa Raisya, Syakira Aulia.

Sebuah keluarga besar memang. Sebagai kepala keluarga, Irwan Prayitno memiliki tanggungjawab besar membesarkan dan mendidik 10 anak-anaknya, khususnya pendidikan dan membimbing menjadi anak yang sholeh.

Tidak dipungkirinya, dirinya harus bekerja ekstra keras, membagi waktu melaksanakan tanggungjawabnya sebagai kepala daerah dalam melaksanakan program dan kegiatan pembangunan Sumbar, di sisi lain dirinya harus mencurahkan perhatian untuk anak-anaknya.

Namun, Irwan Prayitno berhasil melaksanakan amanah itu dengan memberikan pendidikan yang terbaik buat anak-anaknya. Anak-anaknya mampu kuliah di perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia dan luar negeri. Anak pertama Irwan Prayitno, Jundi Fadhlillah yang telah menikah Aisyah Ramadhani, berhasil menamatkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas Jurusan Manajemen dan Southern New Hampshire University, Amerika Serikat.

Berikutnya, anak kedua Irwan Prayitno, Waviatul Ahdi yang menikah dengan Irfan Aulia Saiful menamatkan kuliah di FKG Universitas Indonesia (UI). Kemudian, Dhiya’u Syahidah yang menikah dengan Fallery, menamatkan kuliah di SBM ITB dan Westminster University. Anwar Jundi, kuliah di Fakultas Perikanan dan lmu Kelautan Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, IPB dan Atika saat ini kuliah di FE UI, Ibrahim (kuliah di Jurusan Teknik Kimia UI).

Sementara, Shohwatul Islah, sekolah di SMA 1 Padang, Farhana (SMA 1 Padang, Laili Tanzila (SDIT Adzkia) dan si bungsu Taqiya Mafaza (SDIT Adzkia). Bagaimana bisa seorang Irwan Prayitno bersama Istri Nevi Zuairina berhasil memberikan pendidikan yang terbaik buat anak-anaknya.

Kepada POSMETRO, Irwan Prayitno menuturkan, rahasianya, selalu membangun komunikasi. Irwan Prayitno mengakui, dirinya selalu memantau perkembangan 10 anaknya. “Detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, saya selalu memantau perkembangan anak-anak saya,” terang Irwan Prayitno.

Manjada Wa Jadda

Semua kesuksesan Irwan Prayitno baik dalam karirnya tidak terlepas dari nasehat orang tuanya. “Almarhumah waktu saya kecil berpesan, apo se nan di karajoan harus basungguah-sungguah. Kato Nabi jo di dalam Al Quran, kalau basungguah-sungguah, pasti dapek hasilnyo. Manjada Wa Jadda” ungkap Irwan Prayitno, mengenang pesan Almarhumah Ibundanya Sudarni Sayuti.

Kesungguh-sungguhan itulah kuncinya. Serta tidak lupa selalu bersyukur dan banyak beribadah. Irwan Prayitno mengungkapkan, selama ini dirinya selalu ruitn melaksanakan badah puasa Senin dan Kamis. Pria yang pernah mengikuti Kursus Singkat Angkatan (KSA) XIII, Lemhannas RI itu. Puasa tersebut sudah menjadi kebiasaannya, sehingga semuanya dijalaninya dengan baik.

Selain puasa, Irwan Prayitno menyebutkan, di pagi hari, setelah melaksanakan sholat subuh, dirinya memulai aktivitas dengan zikir ma’tsurat. Zikir setelah shalat subuh tersebut, tidak pernah ditinggalkannya. “Dengan mengamalkan zikir tersebut, saya mendapatkan perlindungan dari Allah SWT. Zikir ini juga dapat menjauhkan kita dari niat buruk orang terhadap kita,” sebutnya.

Tidak hanya zikir ma’tsurat. Masih banyak ibadah lainnya. Salah satunya shalat dhuha. Di tengah kesibukannya melaksanakan berbagai kegiatan pembangunan Sumbar. Irwan Prayitno tidak pernah melalaikan kewajibannya menunaikan shalat dhuha, demi mendekatkan diri pada Allah SWT. Meski tidak jarang kadang mencuri waktu di sela agenda kerjanya yang sangat padat saat jadi gubernur.

Shalat dhuha dilaksanakannya ketika aktivitasnya telah dimulai di pagi hari. Terkadang, ketika ada perjalanan ke luar daerah, Irwan Prayitno meminta sopirnya berhenti di jalan guna menunaikan shalat dhuha. Sehingga ibadahnya yang satu itu tetap dapat dijalankannya. “Kalau shalat dhuha saya juga selalu laksanakan. Bahkan sering saya minta sopir untuk singgah di jalan agar saya dapat menjalankan ibadah dhuha,”sebutnya.

Irwan Prayitno juga rutin menggelar shalat malam (tahajud). Shalat tahajud menjadi media baginya mengadu pada Allah SWT. Pada keheningan malam, semakin mendekatkannya dengan Allah SWT. Setelah melewati rutinitas siang yang padat, hiruk pikuk kehidupan siang Irwan Prayitno selalu menyediakan waktu untuk shalat malam sebelum istirahat, untuk memulai aktivitas di esok hari.

Irwan Prayitno juga selalu meluangkan waktu membaca Al Quran. Membaca Al Quran disiasatinya dengan meluangkan waktu dijeda pekerjaan. Selain itu, juga pada kegiatan-kegiatan memberikan ceramah agama pada masyarakat.

Sebenarnya kegiatan ibadahnya Irwan Prayitno sudah dijalaninya sejak lama. Tidak hanya ketika telah menjabat Gubernur Sumbar, keinginan itu lahir dalam dirinya untuk membentuk hidup lebih baik. Panutannya beribadah hanya satu, Rasullullah Muhammad SAW. “Saya memang sudah berniat ibadahnya saya tidak terabaikan dengan rutinitas yang begitu padat. Meski melayani masyarakat juga ibadah. Namun ibadah saya langsung dengan Allah SWT tetap utama,” ungkap Irwan Prayitno.

Dari seluruh perjuangan dan perjalanan hidup yang dilaluinya, baik itu melalui pendidikan, dakwah, aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan politik, Irwan Prayitno mengungkapkan semuanya demi keinginannya membawa perubahan yang lebih baik bagi masyarakat. “Jika saya jadi PNS maka saya tidak akan bisa berbuat untuk perubahan. Namun, dengan pilihan hidup yang saya jalani saat ini, saya hanya ingin berbuat untuk perubahan agar masyarakat kita lebih baik,” terang Irwan Prayitno.(*)

Posmetro Padang, 23 Agustus 2015

 

Lebih Baik Datang Duluan (Posmetro 22 Agus 2015)

Lebih Baik Datang Duluan

Tidak dipungkiri, banyak kegiatan yang menghadirkan kepala daerah atau pejabat pemerintahan sering molor. Ini terjadi karena kurang disiplin waktu orang-orang penting yang diberikan kesempatan memberikan sambutan dan membuka acara. Bagi undangan yang hadir, kondisi tersebut menjengkelkan. Waktu terbuang, karena jadwal ditunda demi menunggu satu orang yang terlambat. Namun, bagi seorang Irwan Prayitno sangat menyadari arti pentingnya disiplin waktu.

SWARI ARFAN—Padang

Selama menjadi Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno sangat jarang datang terlambat menghadiri berbagai kegiatan. Mulai dari kegiatan rapat, menghadiri kegiatan peresmian, berkunjung ke tengah masyarakat maupun undangan dari berbagai elemen masyarakat.

Selain cepat datang, Irwan Prayitno pun paling cepat meninggalkan kegiatan. Ini dilakukannya karena dirinya ingin memenuhi seluruh jadwal agendanya dalam satu hari tepat waktu. Dirinya tidak ingin membuat undangan yang hadir resah dan gelisah hanya demi menunggu dirinya seorang.

“Lebih baik datang duluan daripada terlambat. Jangan sampai masyarakat kecewa, prinsip itu yang selalu saya jaga,” tegas pria berkacamata itu, kepada POSMETRO, Jumat (21/8).

Bahkan karena gerak cepatnya datang dan pergi dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain, dari daerah satu ke daerah lain, membuat banyak SKPD di lingkungan Pemprov Sumbar yang ikut kegiatan dan wartawan yang ingin meliput, kewalahan dan tidak sanggup mengiringi gerak langkahnya.

Hal tersebut diakui Mul, salah seorang wartawan media cetak yang mangkal di Kantor Gubernur Sumbar. “Tidak sanggup saya mengiringi kegiatannya. Banyak sekali. Gerakannya sangat cepat pergi dari satu kegiatan ke kegiatan lain. Kita yang rutin bekerja bertarung dengan waktu, justru sering kalah mengikuti langkah Irwan Prayitno,” terang pria yang cukup energik ini.

Kecemasan Irwan Prayitno datang terlambat bertemu masyarakat dalam berbagai kegiatan, membuat dirinya sering meminta mobil yang membawanya dengan pengawalan mobil polisi harus injak gas kencang-kencang.

Bahkan ada sejumlah kepala SKPD yang berusaha mengelak ikut iring-iringan kendaraan gubernur jika melakukan kunjungan ke daerah. Ada juga yang minta keluar dari rombongan dan minta izin berpisah di tengah perjalanan. Tidak semua SKPD siap nyali mengikuti rombongan gubernur yang nyaris selalu melaju dengan kecepatan tinggi.

Karakter Irwan Prayitno memang seperti itu. Ingin serba cepat. Segala sesuatu dilakukan secara serius dan cepat. Jika ada masalah, maka akan diselesaikan dengan cepat saat itu juga, tanpa menunda-nunda. “Jika tidak langsung diselesaikan saat itu juga, nanti akan datang lagi kegiatan baru dan seterusnya. Akhirnya menumpuk dan seluruh jadwal berantakan,” ungkap Pendiri Yayasan Pendidikan Adzkia itu.

Alasan kedua, rata-rata ada banyak acara yang harus dihadiri pada hari yang sama, sehari bisa tujuh sampai 10 acara. Tak jarang lokasi acara tersebut saling berjauhan. Misalnya yang satu di Bukittinggi, satunya lagi di Kabupaten Tanahdatar atau bahkan di Kabupaten Dharmasraya. Waktunya juga sangat berdekatan, sehingga harus berburu waktu.

Karena prinsip tepat waktu dan disiplin yang yang dipegang teguhnya, boleh dikata, selama menjadi Gubernur Sumbar, tak ada lagi pelosok Sumbar yang belum dikunjungi Irwan Prayitno. Sebut saja daerah-daerah jauh seperti Kabupaten Kepulauan Mentawai, Pasaman, Dharmasraya, Sijunjung atau Solok Selatan. Jika tak bisa dikunjungi dengan kendaraan roda empat, maka daerah itu ia kunjungi menggunakan sepeda motor trail. (*)

Posmetro Padang, 22 Agustus 2015

Di SMS Warga pun Datang (Posmetro 21 Agus 2015)

DI SMS WARGA PUN DATANG

Tidak gampang bagi masyarakat saat melaksanakan kegiatan mengundang kepala daerah. Harus melalui birokrasi yang ketat dengan mengirimkan surat undangan secara resmi. Karena kehadiran seorang kepala daerah dalam suatu kegiatan masyarakat, harus disesuaikan dengan jadwal yang diatur oleh protokoler. Namun, lain halnya dengan Irwan Prayitno. Jika dirinya diundang untuk menghadiri kegiatan masyarakat, dirinya rela melabrak aturan protokoler tersebut.

SWARI ARFAN—Padang

Saat menjabat sebagai Gubernur Sumbar maupun tidak lagi menjabat sebagai gubernur, Irwan Prayitno merupakan salah satu kepala daerah yang gampang diundang untuk hadir di tengah masyarakat.

Pengalaman menarik pernah diungkapkan oleh Bakhri, salah seorang warga Jalan Parak Ka­ra­kah RT02 RW07 Kubu Da­lam Parak Karakah, Ke­ca­­matan Padang Timur, saat perayaan HUT ke-70 RI, 17 Agustus lalu di lingkungan tempat tinggalnya.

Sehari hari sebelum perayaan HUT RI, pada malam harinya, Bakhri bersama warga sedang berkumpul membahas persiapan acara. Salah seorang warga, At, menawarkan untuk mengundang Irwan Prayitno menghadiri acara HUT RI tersebut. Bakhri merasa tidak yakin, Irwan Prayitno hadir. Karena acara yang diadakan sangat sederhana.

Namun, At berusaha meyakinkan warga, karena kebetulan dirinya punya teman yang akses komunikasi dengan Irwan Prayitno. Malam itu, At mencoba meminta temannya, menghubungi Irwan Prayitno melalui handphone, untuk mengundang Irwan Prayitno hadir. Saat itu, Irwan Prayitno mengangkat telepon dan menjawab bersedia hadir.

Seluruh warga yang hadir malam itu kaget seakan tidak percaya. Mereka lalu bersiap menyusun rencana besok hari untuk menyambut kedatangan Irwan Prayitno. Ketidakpercayaan warga tersebut mengular besok harinya. Banyak perangkat lurah dan tokoh masyarakat Parak Karakah masih saja tidak percaya Irwan Prayitno hadir. Apalagi Irwan Prayitno baru saja habis masa jabatannya sebagai Gubernur Sumbar. Tentu dirinya sibuk dengan agenda perpisahan dengan pejabat penting. Apalagi 17 Agustus ada upacara resmi kenegaraan di Kantor Gubernur Sumbar.

Namun, keraguan warga terjawab hari itu. Tepat pukul 11.00
WIB, mobil Irwan Prayitno datang. Pria berkacamata itu hadir dan menemui warga yang ramai menanti siang itu. Acara pun berlangsung meriah. Ba­khri, sebagai panitia penyelenggara HUT­ RI tidak me­nyang­ka acara yang dibuatnya bersama warga dihadiri Irwan Pra­yitno. “Kami sung­guh bang­ga. Seorang Irwan Prayitno datang pada aca­ra kami yang kecil. Luar biasa,” terangnya.

Apa yang dialami Bahkri dan warga Karak Karakah tersebut membuktikan, tidak sulit untuk mengundang seorang Irwan Prayitno untuk hadir di tengah-tengah warga. Cukup dengan menghubungi melalui telepon, sms, facebook, WhatApps atau media komunikasi lainnya, Irwan Prayitno Insya Allah datang.

Kepada POSMETRO, Kamis (20/8) Irwan Prayitno mengakui cukup banyak warga yang sering mengundangnya melalui sms dan telepon. Undangan acaranya pun beragam. Mulai dari undangan memberikan ceramah, menghadiri acara kesenian dan budaya, dialog, acara silahturahmi, olahraga, hingga jadi saksi pernikahan. Yang mengundang pun beragam, mulai dari sekolah, majelis taklim, pengurus mesjid, organisasi masyarakat. Dirinya bersedia menghadiri undangan tersebut.

Rinaldi, salah seorang teman dekat Irwan Prayitno yang selalu mendampingi Alumni SMA 3 Padang itu dalam berbagai kegiatan mengungkapkan, karena Irwan Prayitno sewaktu jadi gubernur sering diundang oleh masyarakat secara langsung melalui sms dan telepon, tidak jarang membuat bupati, wali kota dan perangkat pemerintahan kabupaten kota sering terkecoh, kelabakan dan kaget akan kehadiran Irwan Prayitno di daerahnya.

Rinaldi menceritakan, pernah ada pengurus mesjid suatu daerah mengundang langsung Irwan Prayitno sewaktu jadi gubernur, hadir di mesjidnya untuk memberikan ceramah. Irwan Prayitno datang. Informasi kedatangan suami Nevi Zuairina itu yang sebelumnya tidak diketahui oleh kepala daerah, akhirnya diketahui juga. “Ya kepala daerahnya kaget dan menanyakan kepada seluruh staf-nya apa ada undangan resminya. Tidak ada satupun yang tahu. Akhirnya kepala daerah itu bergegas datang ke mesjid tersebut,” ungkap Rinaldi.

Bagi Irwan Prayitno, jika dibutuhkan untuk hadir di tengah masyarakat, dirinya tidak ingin masyarakat ribet menghabiskan waktu menghadapi birokrasi yang cukup ketat. “Yang penting acara yang diselenggarakan masyarakat dapat berjalan lancar. Saya hanya ingin mempermudah masyarakat untuk dapat bertemu dengan saya. Tidak perlu harus melalui surat undangan resmi dan harus melalui protokoler. Yang penting saya tahu informasinya. Lewat sms atau telepon saja kan lebih mudah,” terang Pendiri Yayasan Pendidikan Adzkia itu.

Lain halnya dengan kegiatan yang sifatnya resmi dan menyangkut urusan pemerintahan, seperti surat menyurat, administrasi pemerintahan dan undangan resmi pemerintahan. Kegiatan tersebut menurutnya, memang harus melalui birokrasi yang cukup ketat.

Rang Kuranji itu mengakui, selama jadi gubernur, dirinya pernah mendapat undangan acara masyarakat tiga hingga empat kali sehari. Undangan tersebut selalu dipenuhinya. Karena bagi Irwan Prayitno dirinya memang suka berbaur dengan masyarakat. “Saya hanya ingin menyatu dengan masyarakat. Berkumpul dengan mereka, saya mendengarkan cerita mereka tentang persoalan pembangunan di daerah mereka. Sehingga menjadi catatan bagi saya untuk meneyelesaikan persoalan pembangunan yang mereka hadapi,” ungkap Irwan Prayitno. (*)

Posmetro Padang, 21 Agustus 2015

Karakter Yang Merakyat (Posmetro 20 Agus 2015)

KARAKTER YANG MERAKYAT

Selama menjadi Gubernur Sumbar, penampilan Irwan Prayitno terlihat tidak mencolok layaknya seorang pejabat penting. Tampil apa adanya, dengan ciri khas baju kemeja lengan pendek dan celana dasar. Sangat jarang memakai jas, kemeja lengan panjang dan dasi. Kini, Irwan Prayitno tidak lagi menjadi gubernur. Penampilannya tetap sama. Menggambarkan kepribadiannya yang sederhana dan merakyat.

SWARI ARFAN—Padang

Empat hari setelah tidak lagi menjabat sebagai Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno benar-benar menikmati hidup seperti orang biasa. Rabu (19/8) siang Irwan Prayitno terlihat santai di Komplek GOR H Agus Salim Padang. Seperti biasanya, hari itu, Irwan Prayitno tampil dengan ciri khas baju kemeja lengan pendek berwarna putih dan celana dasar.

Dirinya hendak berencana pergi ke KPU Sumbar, untuk memenuhi undangan menghadiri kegiatan sosialisasi tahapan Pilkada Sumbar. Sebelum berangkat, pria berkacamata itu menyempatkan makan siang di sebuah restoran di Komplek GOR H Agus Salim.

Mantan Gubernur Sumbar itu bertahan dengan kebiasaan lamanya, makan dengan menggunakan tangan kanan. Sendok dan garpu yang disediakan karyawan restoran di atas mejanya tidak disentuh. Irwan Prayitno terlihat makan cukup lahap siang itu. Menu sambal gulai sapadeh daging, dadar dan ikan balado dengan sup sayur toge di-santuang-nya, hingga tidak bersisa.

Pria tamatan S3 di Universiti Putra Malaysia (UPM) itu makan ditemani teman akrabnya Suwirman, Rinaldi dan Datuak. Sambil makan mereka bercerita tentang kenangan keakraban yang terjalin selama ini. “Masih ingat tidak Pak Suwirman. Kita saat di Jakarta, pergi ke Jalan Rawamangun. Makan di warteg. Setiap ke Jakarta, kita sering makan di sana. Padahal wartegnya di pinggir jalan, di belakang warteg ada drainase dan ada bak sampah di sampingnya,” ungkap Irwan Prayitno, kepada Suwirman.

“Iya pak. Kita sering juga ya makan di sana. Kenapa ya kita suka makan di sana?. Waktu sudah jadi gubernur, Pak Irwan masih juga sempat makan di warteg itu,” ungkap Suwirman lagi.

“Ya karena waktu kuliah dulu saya sering mampir di warteg itu makan. Teringat masa kuliah saja,” jawab Alumni Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) itu sambil tertawa.

Suwirman juga mengingatkan kembali memori Irwan Prayitno. Tidak hanya di warteg Rawamangun itu saja. Menurut Suwirman, bersama Irwan Prayitno juga sering makan di kedai nasi di bawah jembatan di Jalan Kramat Raya Jakarta, dan di dalam Pasar Benhil.

Tidak dipungkiri, salah satu kebiasaan seorang Irwan Prayitno suka makan di pinggir jalan. Tidak peduli, di kedai makanan manapun. Kebiasaan Pendiri Yayasan Pendidikan Adzkia itu, berlanjut hingga menjadi Gubernur Sumbar. Di Padang, Irwan Prayitno sering makan dan nongkrong di kedai makanan di Jalan Simpang Damar dan kedai-kedai makanan lainnya. Boleh dikatakan hampir seluruh kedai makanan di Kota Padang ini hampir dikunjunginya.

Selain di Padang, kebiasaan suami Nevi Zuairina itu, makan di kedai di pinggir jalan juga berlanjut saat berkunjung ke daerah, melaksanakan berbagai kegiatan dan program pemerintah. “Ya kalau lapar dan waktunya makan datang tidak bisa ditahan-tahan lagi. Di mana ada kedai nasi di pinggir jalan, ya mobil saya berhenti. Langsung singgah dan makan,” terang Irwan Prayitno.

Rinaldi yang selalu setia menemani berbagai kegiatan Irwan Prayitno saat menjadi gubernur mengungkapkan, cukup banyak pemilik kedai makanan yang disinggahi terkaget-kaget, saat Irwan Prayitno datang. “Saking tidak percayanya mereka, menanyakan, Bapak yang Gubernur itu ya? Tidak jarang juga banyak yang bersalaman, minta photo bareng,” ungkap Rinaldi.

Irwan Prayitno dengan kerendahan hatinya bersedia melayani mereka yang ingin bersalaman dan berphoto bareng. Selain kebiasaan singgah di kedai makanan di pinggir jalan. Kebiasaan Irwan Prayitno lainnya, baik sebelum dan saat menjabat sebagai Gubernur Sumbar, sering tidur di mesjid. Tidak sekedar tidur. Irwan Prayitno sering menghabiskan waktunya menunaikan iftikaf di mesjid.

Di Padang, Irwan Prayitno sering tidur di mesjid di rumah dinasnya. Bersama istri dan anaknya, melaksanakan itikaf setahun sekali waktu bulan ramadhan di mesjid itu. Selain itu, Irwan Prayitno juga sering menhabiskan malam mesjid yang berada di Taratak Paneh.

Kebiasaan Irwan Prayitno ini terus berlanjut saat dirinya melaksanakan tugas berkunjung ke daerah-daerah. Irwan Prayitno kadang lebih memilih menginap di mesjid kalau kemalaman. Dirinya pernah nginap di mesjid yang berada di Aur Birugo Bukittinggi, mesjid yang berada di Solok dan lainnya. “Ya, kalau kemalaman, tanggung rasanya nginap di hotel. Habis-habisin uang rakyat saja. Mending tidur di mesjid. Ya, saya ajak saja rombongan tidur di mesjid,” terang Irwan Prayitno.

Suwirman mengungkapkan, dirinya minimal sekali setahun sering diajak Irwan Prayitno iftikaf di mesjid. Karena sudah rutin, akhirnya jadi kebiasaan. “Kalau sudah kemalaman ikut rombongan gubernur. Kita sudah tahu rutenya. Pasti ke mesjid,” terang Suwirman.

Irwan Prayitno mengakui, kebiasaan yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari memang sudah menjadi karakter dan kepribadiannya yang tidak bisa dirubah. “Ya, bagaimana lagi. Sudah terbiasa seperti ini,” jawabnya singkat mengakhiri pembicaraan siang itu. (*)

Posmetro Padang, 20 Agustus 2015

Irwan Prayitno Sosok Gubernur Teladan (Posmetro 19 April 2015)

Irwan Prayitno, Sosok Gubernur Teladan

Prof. Dr. Irwan Prayitno, Psi, MSc lahir 20 Desember 1963 adalah seorang akademisi pendidikan dan politisi Indonesia. Ia memulai jabatan sebagai Gubernur Sumatera Barat pada 15 Agustus 2010. Sebelumnya, ia duduk di Dewan Perwakilan Rakyat tiga periode sejak 1999 dari Partai Keadilan Sejahtera. Irwan dikenal sebagai pendiri Yayasan Pendidikan Adzkia, tetap mengajar dan menunaikan dakwah sepanjang karirnya.

Datang dari keluarga Minangkabau, Irwan menjalani pendidikan menengah di Padang. Ia mengenal tarbiyah dan terjun sebagai aktivis dakwah saat berkampus di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia pada 1982. Setelah meninggalkan status mahasiswa pada 1988, ia kembali ke Padang mendirikan Yayasan Pendidikan Adzkia. Sebelum mengambil kuliah di Universiti Putra Malaysia pada 1995, ia mengambil pekerjaan paruh waktu di bagian HRD (Human Resource Development) berbagai perusahaan pemerintah dan dosen psikologi industri. Seiring pengukuhan Partai Keadilan pada 20 Juli 1998, Irwan membentuk dan mengetuai perwakilan PK di Malaysia. PK Mengantar Irwan duduk di Parlemen hasil pemilihan umum 1999; Irwan terus terpilih untuk dua periode berikutnya. Setelah menyelesaikan pendidikan doktor, ia berbagi tugas sebagai guru besar bidang pengembangan SDM dan tetap berdakwah.

Sosok Irwan Prayitno Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) sejak dulu terkenal dengan kesederhanaan. Dengan kesederhanaannya itu, sosok Irwan menjadi fenomenal serta layak lebih diapresiasi dan dibanggakan masyarakat Sumbar.

Selaku kepala daerah, ia mendapat sejumlah penghargaan dari negara. Empat tahun kepemimpinan Irwan ditandai dengan sedikitnya 137 penghargaan dari pemerintah yang diraih Sumatera Barat. Selama duduk di parlemen , ia mecurahkan pandangannya dalam penyusunan sejumlah RUU, termasuk penggunaan sumber energi alternatif panas bumi. Ia dicatat karena kemampuan melobi dan pernah menolak permintaan untuk menjadi menteri.

Gaya kepemimpinannya yang khas dan meakyat sangat tepatlah menempatkan dirinya sebagai gubernur teladan. Dalam setiap kesempatan, dia meminta siapa pun untuk tidak memaksa dirinya berubah sesuai ketentuan protokoler. “Jangan paksa saya mengubah style hidup saya , karena bagi saya fasilitas jabatan apa pun adalah sunah, kewenangan justru suatu kewajiban bagi saya,” katanya.

Ketimbang menggunakan anggaran yang tersedia, Irwan mengoptimalkan penggunaan fasilitas yang telah ada. Ia menolak masukan untuk membeli mobil dinas baru dan masih menempati rumah dinas lama. Ketika disodori alasan menutup malu kepada menteri atau pejabat negara lainnya yang datang berkunjung, Irwan lebih memilih menggunakan mobil pribadinya untuk dijadikan mobil pelat merah. Saat rekonstruksi kantor pemerintahan yang rusak akibat gempa bumi 30 September 2009, sempat dianggarkan pembangunan kantor baru untuk gubernur. Namun, Irwan mengalihkan penggunaannya untuk tiga SKPD yang kantornya rusak, memilih berkantor menempati rumah dinas lama di Jalan Sudirman.

Dalam melakukan perjalanan keluar provinsi, Irwan tak pernah memilih maskapai penerbangan. Ia selalu memilih dan merasa nyaman duduk di kelas ekonomi. Penyair Taufiq Ismail, yang pernah mendapati Irwan satu pesawat di kelas ekonomi, menilainya sebagai hal istiewa dan sebuah keteladanan. Terkait penampilannya yang sederhana, tanpa atribut dan minim protokoler, Irwan mengatakan ia tak ingin ada pembatas antara dirinya dan masyarakat.

Irwan tetap menunaikan dakwah selama menjabat sebagai gubernur. Dua kali sebulan setiap jumat pagi, ia mengisi wirid mingguan yang diikuti jajaran pegawai Pemprov Sumatera Barat. Kegiatan wirid dipusatkan di Masjid Raya Sumatera Barat sejak awal tahun 2012, meskipun saat itu penggunaan masjid belum diresmikan. Selama Juni dan bulan Ramadhan 2014, ia mengisi tausiah dalam kunjungan ke instansi-instansi pemerintah.

Irwan juga memanfaatkan sisa waktunya untuk keluarga dan olahraga. Irwan adalah penyuka olahraga badminton, karate dan trabas. Waktu senggangnya kadang ia manfaatkan untuk bermain musik. Ia mengaku bisa bernyanyi sejak tahun 2012. “Karena sebagai gubernur sering ditodong untuk menyanyi, akhirnya saya belajar menyanyi. Melihat metode kepemimpinan dirinya yang telah berhasil memimpin Sumbar, sudah sepatutnya pula masyarakat Minangkabau mendaulat Irwan lagi sebagai Gubernur Sumbar. Sumbar memang masih butuh sosok Irwan untuk melanjutkan pembangunan Sumbar secara menyeluruh. (sumber: wikipedia.org)

Posmetro Padang 19 April 2015

Wakafkan Diri untuk Sumbar (Posmetro 19 Agus 2015)

Wakafkan Diri untuk Sumbar

Nama Irwan Prayitno cukup berpengaruh di Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Karena dirinya tidak hanya menjabat sebagai Ketua MPP PKS tetapi juga sebagai Majelis Dewan Syuro PKS. Namun, selama lima tahun menjabat sebagai Gubernur Sumbar, jabatan Irwan Prayitno justru dicopot sebagai Ketua MPP PKS. Dirinya sama sekali tidak lagi mengurus partai. Setiap detik, menit, jam dan hari-hari yang dilaluinya sebagai gubernur, lebih banyak dihabiskan untuk melaksanakan program pembangunan Sumbar.

SWARI ARFAN—Padang

“Seluruh wartawan di Kantor Gubernur selalu rutin mengikuti aktifitas saya sebagai Gubernur Sumbar. Bahkan, aktifitas selama ini saya posting ke facebook. Kapan waktu yang saya jalani pernah saya manfaatkan untuk mengurus partai. Saya tegaskan tidak pernah,” ungkap Irwan Prayitno, kepada wartawan, Selasa (18/8).

Apa yang diungkapkan pria kelahiran 20 Desember 1963 itu, meluruskan berbagai tudingan miring terhadap dirinya selama ini. Informasi yang berkembang itu, dirinya selama menjabat sebagai Gubernur Sumbar lebih banyak menghabiskan waktunya mengurus partai.

Pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Komisi VIII DPR-RI selama lima tahun itu menegaskan, salah seorang kader PKS yang juga merupakan Majelis Dewan Syuro Hilmi Aminuddi pernah menyatakan, PKS siap mewakafkan kepada masyarakat, siapa pun kadernya yang menjadi kepala daerah atau menteri.

Karena itu, setiap kader PKS yang menjadi kepala daerah, jangan lagi waktunya digunakan untuk mengurus partai, tetapi dirinya harus fokus untuk melaksanakan program pembangunan dan mengurus kepentingan masyarakat.

Apa yang disampaikan Majelis Dewan Syuro PKS itu, menurut Irwan Prayitno dilaksanakan seluruh kader PKS di seluruh Indonesia. Termasuk dirinya. Irwan Prayitno mencontohkan, Hidayat Nur Wahid, saat menjabat Ketua MPR langsung mengundurkan diri sebagai Presiden PKS.

Begitu juga, Presiden PKS lainnya, Tifatul Sembiring. Saat itu, Tifatul Sembiring menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika, di era pemerintahan SBY, juga harus meninggalkan jabatannya sebagai Presiden PKS waktu itu. Juga ada kader PKS Ahmad Heryawan yang telah menjadi Gubernur Jawa Barat (Jabar), tidak lagi menjabat sebagai Ketua DPW PKS Jabar.

Sebagai orang yang berasal kader PKS, apakah Irwan Prayitno juga memanfaatkan jabatannya sebagai Gubernur Sumbar, mendudukan kader-kader atau orang-orang dekat PKS pada jabatan strategis tertentu di lingkungan Pemprov Sumbar?.

Suami Nevi Zuairina itu mengakui, dirinya memang pernah mendengar tudingan tersebut. Namun, Irwan Prayitno menegaskan, dirinya sama sekali tidak pernah mengganti beberapa SKPD di Pemprov Sumbar dengan orang-orang kader-kader PKS atau dekat dengan PKS. “Silahkan sebutkan, siapa saja nama Kepala SKPD yang saya isi dengan kader PKS. Tidak ada sama sekali,” tegas Irwan Prayitno.

Pendiri Yayasan Pendidikan Adzkia itu menegaskan, dirinya hanya menempatkan orang-orang yang betul-betul bekerja dengan optimal di pemerintahan yang dipimpinnya. Semuanya diukur berdasarkan kinerja. Sebagai orang yang pakar dalam ilmu psikologi dan SDM, Irwan Prayitno tahu benar siapa yang pantas ditempatkan pada posisinya sebagai pejabat, berdasarkan potensi SDM yang dimilikinya.

Bahkan, selama lima tahun menjabat sebagai Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno justru mempertahankan pejabat-pejabat yang menjabat di era kepemimpinan gubernur sebelumnya. Hal ini dilakukan demi sebuah kekompakan dan semangat kebersamaan dalam bekerja melaksanakan program dan kegiatan pembangunan.

Begitu juga dalam melaksanakan berbagai program dan kegiatan pembangunan. Banyak yang menuding dirinya, hanya melaksanakan program dan kegiatan untuk kepentingan PKS saja. Lagi lagi, Irwan Prayitno menantang, siapapun untuk silahkan melihat ke lapangan. “Apakah pernah program-program pembangunan yang dilaksanakannya hanya diperuntukan untuk kader-kader PKS. Silahkan buktikan. Sampai sekarang tudingan itu belum terbukti,” terangnya.

Meskipun banyak tudingan negative terhadap dirinya, Irwan Prayitno justru menjadi seorang yang pemaaf dan nyaris tidak pernah marah. Tidak dipungkirinya, sebagai Gubernur Sumbar banyak sekali ujian dan hambatan. Banyak hal-hal dan kejadian yang sebenarnya memancing emosi. Namun beliau tetap tenang. “Marah bukanlah solusi, apakah dengan marah-marah persoalan jadi selesai, apa bukan sebaliknya?” ungkap Ayah 10 anak dan Kakek tiga cucu itu.(**)

Posmetro Padang, 19 Agustus 2015

 

Tampil di Pentas Internasional di Usia Muda (Posmetro 18 Agus 2015)

Tampil di Pentas Internasional di Usia Muda

Irwan Prayitno salah seorang tokoh politik muda yang cukup disegani di skala nasional dan internasional. Sewaktu menduduki jabatan Ketua Komisi VIII Bidang Energi, Sumber Daya Mineral, Riset, Tekhnologi dan Lingkungan Hidup DPR-RI selama lima tahun, sejak tahun 1999, dirinya sudah melanglang buana ke beberapa negara. Rang Kuranji itu diundang sebagai pembicara terkait energi pertambangan dalam berbagai forum internasional. Padahal usianya waktu itu baru 36 tahun.

SWARI ARFAN—Padang

Menduduki Ketua Komisi VIII DPR-RI selama lima tahun, merupakan sebuah prestasi yang membanggakan Irwan Prayitno sebagai putra Minang. Apalagi waktu itu, usianya tergolong masih muda. Ini membuktikan, bahwa sebagai politisi asal Minang, dirinya cukup disegani di parlemen pusat.

Selama menduduki Ketua Komisi VIII DPR-RI waktu itu, Irwan Prayitno sangat menguasai ilmu tentang energi dan pertambangan. Berkat kemampuannya itu, dirinya diundang sebagai narasumber tentang pertambangan dan energi di berbagai pentas internasional.

 

Tidak terhitung banyaknya. Hingga puluhan kali. Negara yang mengundangnya sebagai pembicara juga tidak tanggung-tanggung. Semuanya negara maju. Seperti, Amerika, Inggris, Jepang, Australia dan Jerman.

Kepada POSMETRO, Senin (17/8) Irwan Prayitno mengatakan, dirinya pernah tampil sebagai narasumber pada kegiatan seminar Houston Energy Dialogue, Houston, tahun 2001 silam. Saat itu, Irwan Prayitno tampil sebagai pembicara menyampaikan makalah berbahasa Inggris yang berjudul, Legislative Role of the Indonsian House of Representatives in Indonesia’s Legal Reform.

Irwan Prayitno juga tampil sebagai pembicara, pada seminar yang berlangsung 4 Mei 2001 di Singapura. Saat itu, Irwan Prayitno menyampaikan makalah berjudul Visions for Indonesian Future, Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS). Irwan Prayitno juga pernah menjadi utusan anggota delegasi Indonesia saat 117th OPEC Konference, Vienna Austria, 26 September 2001.

Selain Amerika Serikat dan Singapura, Irwan Prayitno juga tampil sebagai pembicara pada seminar internasional di kota-kota besar Negara maju lainnya, seperti Fukushima Jepang, New Zealand, Inggris dan Jerman.

 

Di hadapan pemerintah negara-negara maju dan investor Irwan Prayitno bicara tentang pemanfaatan potensi energi panas bumi sebagai upaya kemandirian penyediaan energy. Terutama melalui pembangkit listrik.

Dengan pengalamannya bicara dan tampil di forum internasional, selama menjadi Gubernur Sumbar, 15 Agustus 2010 hingga 15 Agustus 2015, Irwan Prayitno menjemput bola, menarik kembali investor-investor di negara-negara maju tersebut untuk dapat datang ke Sumbar.

 

Selama menjadi Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno menjajaki kerjasama di bidang energi dan pertambangan dengan beberapa investor dari beberapa negara, yakni Jepang, Jerman, Amerika Serikat, Turki dan beberapa negara di Benua Eropa lainnya. Irwan Prayitno menyadari, Provinsi Sumbar merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi energi panas bumi yang cukup besar, namun belum tergarap optimal.

Perjuangan Irwan Prayitno tersebut membuahkan hasil. Selama menjabat sebagai Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno berhasil merealisasikan berbagai investasi potensi panas bumi di Sumbar. Sebanyak lima titik potensi panas bumi di Kabupaten Solok Selatan sudah digarap oleh investor Supreme Energy dan Hitay Energy. “Sudah banyak yang terealsiasi. Tahun 2018 sudah mulai produksi,” terangnya.

Di Sumbar terdapat 20 titik potensi panas bumi. Selain di Solok Selatan potensi lainnya terdapat di Kabupaten Pasaman. Sebanyak lima negara, yakni Hungaria, Bulgaria, Qatar, Slovakia dan Finlandia juga tertarik dan antri untuk berinvestasi untuk menggarap energi panas bumi di Sumbar.

Dengan pengalaman dan kelihaian Irwan Prayitno berkomunikasi di dunia internasional, suami dari Nevi Zuairina itu, telah membuka mata dunia, terhadap potensi yang ada Sumbar. Provinsi yang sejak dulunya termasuk dinilai miskin SDM kini menjadi sorotan beberapa negara maju di dunia.

Karena Irwan Prayitno berhasil mengungkap sebuah potensi yang cukup besar di miliki Sumbar. Bahwa Sumbar termasuk salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki potensi energi panas bumi yang cukup besar. (*)

Posmetro Padang, 18 Agustus 2015

1

 

Sudah Biasa dengan Hidup Sederhana (Posmetro 14 Agus 2015)

Sudah Biasa dengan Hidup Sederhana

Sebagai seorang yang diberi amanah memimpin Sumbar, Irwan Prayitno diberikan peluang menggunakan fasilitas negara sepuas-puasnya untuk menunjang aktivitasnya sehari-hari. Mulai dari rumah dinas, mobil dinas, fasilitas tiket pesawat kelas eksekutif. Namun, bagi seorang Irwan Prayitno sangat takut menggunakan fasilitas tersebut.

Swari Arfan—Padang

Irwan Prayitno lebih memilih berhemat menggunakannya. Sikap hemat tersebut dilakukan, karena Irwan Prayitno menyadari seluruh fasilitas tersebut dibiayai APBD yang berasal dari uang rakyat. Sikap hemat tersebut sebenarnya sudah lama menjadi gaya hidup Irwan Prayitno sejak dulu, sebelum dirinya menjabat sebagai Gubernur Sumbar. Satu kebiasaan Irwan Prayitno saat bepergian melaksanakan aktivitas, lebih suka memilih naik bus angkutan umum.

Bahkan tak jarang dirinya berdiri bergelantungan di atas bus, karena tidak mendapat kursi duduk. Kebiasaan ini sudah dilakukannya sejak dulu, sewaktu muda, hingga sekarang.

Diakuinya, selama sering naik bus, banyak yang tidak mengetahui dirinya seorang Gubernur Sumbar. Dalam situasi yang berdesak-desakan, Irwan Prayitno tidak pernah minder dan selalu rileks bergelantungan dalam sebuah bus.

Kesederhanaan Irwan Prayitno juga terlihat dengan lebih memilih penerbangan kelas ekonomi ke manapun pergi. Pengalaman Irwan Prayitno yang menarik saat berangkat dengan penerbangan kelas ekonomi Garuda GA 162 tujuan Padang-Jakarta. Dirinya, saat itu bertemu dengan sastrawan dan budayawan Taufik Ismail.

“Saya benar-benar tak percaya. Mungkin bagi orang lain tidak, namun menurut saya ada gubernur yang duduk di kelas ekonomi dalam sebuah penerbangan, ini adalah istimewa. Sangat istimewa,” ujar Taufik Ismail menuturkan kisahnya pada pertemuan tak sengaja dengan Irwan Prayitno dikutip dari laman http:// pks-jakarta.or.id/ kesaksian-taufik-isma il-tentang-gubernur- sumbar-irwan-prayitn o/ dan laman http://­www.portalsumut.com/ 2014/05/ beredar-foto-gubernur -sumbar-irwan.html.

Diceritakan Taufik, ketidakpercayaannya itu bermula ketika ia melihat Irwan Prayitno melangkah ke ruang di kelas ekonomi penerbangan itu. Ruang di mana rakyat badarai memilih tempat duduk, sesuai kemampuan keuangan masing-masing. Sebagai seorang gubernur, tentu tidak satu penumpangpun yang akan berkecil hati, jika Irwan Prayitno duduk di eksekutif atau business class yang nyaman.

“Saya sudah lama juga hidup, sering naik pesawat bersama banyak orang, mulai dari pejabat tinggi hingga orang biasa. Bagi saya, ada gubernur rendah hati seperti ini, adalah obat. Ia tak berjarak dengan rakyat. Ia tampil apa adanya. Bagi saya, ini adalah sebuah keteladanan,” katanya.

Irwan Prayitno tidak mau terlalu jauh membahas soal seringnya dirinya berangkat dengan penerbangan di kelas ekonomi. Karena memang tidak ada maksud apapun, tetapi hanya karena sudah terbiasa saja. “Duduk di pesawat itu bukan karena duduk di kelas ekonomi atau eksekutif. Tetapi nikmatnya naik pesawat itu adalah saat take off tertidur dan ketika landing terbangun,” ujarnya sambil tertawa.

Sikap hidup hemat lainnya Irwan Prayitno dengan tidak pernah menggunakan mobil dinas baru selama empat tahun menjabat sebagai Gubernur Sumbar. Dirinya justru lebih memilih menggunakan mobil dinas yang lama dan sudah bekas. “Jika ada mobil dinas yang lama yang masih bagus dan bisa digunakan, kenapa harus gunakan mobil baru, yang dibeli dengan menggunakan uang rakyat,” terangnya.

Irwan Prayitno juga lebih banyak menggunakan mobil pribadinya untuk bepergian melaksanakan tugas sebagai gubernur. Begitu juga saat dalam perjalanan kunjungan ke daerah. Irwan Prayitno tidak terlalu patuh dengan aturan protokoler saat menentukan rumah makan yang layak untuknya istirahat. Irwan bahkan lebih sering singgah ke warung biasa, saat istirahat untuk makan dan shalat. (*)

 

Posmetro Padang, 14 Agustus 2015

 

Berceramah Tidak Mau Dibayar (Posmetro 13 Agus 2015)

Berceramah Tidak Mau Dibayar

Tidak hanya sebagai Gubernur Sumbar yang sibuk mengurus urusan pemerintahan, pembangunan dan mengurus masyarakat. Irwan Prayitno juga dikenal sebagai salah seorang ustad yang handal berdakwah memberikan ceramah agama. Tidak terhitung banyaknya lokasi dan acara yang dikunjunginya untuk berceramah agama.

SWARI ARFAN—Padang

Pengetahuan Irwan Prayitno tentang agama melebihi syarat sebagai seorang dai. Banyak ayat-ayat yang mampu dihafalnya di luar kepala sebagai referensi untuk menjelaskan masalah-masalah agama dan kehidupan sehari-hari saat berdakwah. Analisa dan ceramahnya tentang masalah agama dan kehidupan sehari-hari sederhana, masuk di akal dan menyejukkan.

Kebiasaan Suami Nevi Zuairina membaca Al Quran telah dimulai sejak kecil. Dulu, alumni SMA 3 Padang ini bahkan tidak bisa tidur kalau belum membaca atau dibacakan Al Quran. Kebiasaan itu tak berubah hingga kini.

Namun, kecintaan Irwan Prayitno terhadap dunia dakwah tersebut bukan tanpa cobaan. Irwan Prayitno tidak memungkiri, banyak yang menuding dirinya banyak menerima amplop dari bayaran berceramah di setiap undangan acara yang dihadirinya. Pendiri Yayasan Pendidikan Adzkia ini menegaskan, dirinya sama sekali tidak dibayar untuk berceramah. Semua ceramah yang dilakukannya gratis.

Diakuinya, selama menjadi Gubernur Sumbar, hampir seluruh mesjid dan surau di pelosok Sumbar sudah dikunjunginya untuk memberikan ceramah agama. Mulai dari mesjid terbesar di Sumbar, yakni Mesjid Raya Sumbar, hingga ke surau-surau di nagari terpencil hingga daerah perbatasan Sumbar.

Menurutnya, dirinya datang berkunjung ke mesjid dan surau berceramah, jika diundang oleh masyarakat. Undangan berceramah tersebut sangat banyak datang kepada dirinya, saat peringatan hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra’ dan Mira’, Idul Fitri, Idul Adha dan peringatan Tahun Baru Islam. Namun yang rutin dilakukannya dalam tiap Minggu, yakni ceramah saat menjadi Khatib Sholat Jumat. “Jika diundang berceramah, InsyaAllah saya datang,” jelas Rang Kuranji Padang itu, kepada POSMETRO, Rabu (12/8).

Selain bertujuan ingin menyampaikan dakwah agama, dengan berceramah ke mesjid dan surau, dirinya dapat bertemu langsung dan mengetahui kondisi masyarakatnya serta pembangunan yang dilaksanakan di seluruh pelosok Sumbar.

Tidak hanya ke mesjid dan surau berceramah, Irwan Prayitno bahkan mengaku dirinya, juga banyak diundang oleh instansi pemerintah, swasta dan perbankan untuk memberikan ceramah dan tausiah. Irwan Prayitno sangat menghargai undangan tersebut. Karena itu dirinya tidak bisa menolak. “Semuanya demi dakwah dan syiarnya Agama Islam,” ungkapnya.

Ditanya sudah berapa kali ceramah, Irwan Prayitno mengaku tidak bisa ingat lagi, karena begitu banyaknya. Namun, dalam seminggu, Irwan prayitno mengaku dirinya dua hingga tiga kali berceramah. Irwan Prayitno mengaku, dirinya sudah membuat CD album rekamannya berceramah di berbagai acara. Sudah ada 200 judul ceramah dengan rekaman 8 volume.

Aktivitas berceramah menurutnya, sudah dilakoninya sejak masih menjadi mahasiswa di Fakultas Psikologi di UI. Aktivitas tersebut semakin meningkat sejak dirinya bergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Dirinya, sewaktu kuliah, beralih ke masjid di kampus-kampus lewat kelompok-kelompok tarbiah yang lebih berorientasi pada pembinaan aqidah dan akhlaq. Aktivitas tarbiah berpusat di masjid-masjid kampus.

Kebiasaannya berceramah dan berdakwah berlanjut hingga Irwan Prayitno mengambil kuliah S-2 dan S-3 di Universitas Putra Malaysia (UPM), Selangor. Bahkan waktu kuliah di Malaysia, Irwan Prayitno pergi menunaikan dakwah hingga sampai ke London, Inggris.

Tidak hanya saat diundang khusus saja berceramah. Irwan Prayitno mengaku, selama menjadi Gubernur Sumbar, saat menghadiri dan membuka berbagai kegiatan undangan lainnya, dirinya juga berkesempatan menyelipkan sedikit pesan-pesan yang terkandung dalam ayat-ayat Al Quran dan Hadist. Dalam rapatnya dengan jajaran Pemprov Sumbar pun, Irwan Prayitno mengaku dirinya juga menyelipkan pesan agama kepada peserta rapat yang hadir waktu itu. “Pokoknya di manapun berada dakwah perlu disampaikan,” terang Irwan Prayitno.(**)

Posmetro Padang, 13 Agustus 2015

 

Berceramah Tidak Mau Dibayar

Tidak hanya sebagai Gubernur Sumbar yang sibuk mengurus urusan pemerintahan, pembangunan dan mengurus masyarakat. Irwan Prayitno juga dikenal sebagai salah seorang ustad yang handal berdakwah memberikan ceramah agama. Tidak terhitung banyaknya lokasi dan acara yang dikunjunginya untuk berceramah agama.

SWARI ARFAN—Padang

Pengetahuan Irwan Prayitno tentang agama melebihi syarat sebagai seorang dai. Banyak ayat-ayat yang mampu dihafalnya di luar kepala sebagai referensi untuk menjelaskan masalah-masalah agama dan kehidupan sehari-hari saat berdakwah. Analisa dan ceramahnya tentang masalah agama dan kehidupan sehari-hari sederhana, masuk di akal dan menyejukkan.

Kebiasaan Suami Nevi Zuairina membaca Al Quran telah dimulai sejak kecil. Dulu, alumni SMA 3 Padang ini bahkan tidak bisa tidur kalau belum membaca atau dibacakan Al Quran. Kebiasaan itu tak berubah hingga kini.

Namun, kecintaan Irwan Prayitno terhadap dunia dakwah tersebut bukan tanpa cobaan. Irwan Prayitno tidak memungkiri, banyak yang menuding dirinya banyak menerima amplop dari bayaran berceramah di setiap undangan acara yang dihadirinya. Pendiri Yayasan Pendidikan Adzkia ini menegaskan, dirinya sama sekali tidak dibayar untuk berceramah. Semua ceramah yang dilakukannya gratis.

Diakuinya, selama menjadi Gubernur Sumbar, hampir seluruh mesjid dan surau di pelosok Sumbar sudah dikunjunginya untuk memberikan ceramah agama. Mulai dari mesjid terbesar di Sumbar, yakni Mesjid Raya Sumbar, hingga ke surau-surau di nagari terpencil hingga daerah perbatasan Sumbar.

Menurutnya, dirinya datang berkunjung ke mesjid dan surau berceramah, jika diundang oleh masyarakat. Undangan berceramah tersebut sangat banyak datang kepada dirinya, saat peringatan hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra’ dan Mira’, Idul Fitri, Idul Adha dan peringatan Tahun Baru Islam. Namun yang rutin dilakukannya dalam tiap Minggu, yakni ceramah saat menjadi Khatib Sholat Jumat. “Jika diundang berceramah, InsyaAllah saya datang,” jelas Rang Kuranji Padang itu, kepada POSMETRO, Rabu (12/8).

Selain bertujuan ingin menyampaikan dakwah agama, dengan berceramah ke mesjid dan surau, dirinya dapat bertemu langsung dan mengetahui kondisi masyarakatnya serta pembangunan yang dilaksanakan di seluruh pelosok Sumbar.

Tidak hanya ke mesjid dan surau berceramah, Irwan Prayitno bahkan mengaku dirinya, juga banyak diundang oleh instansi pemerintah, swasta dan perbankan untuk memberikan ceramah dan tausiah. Irwan Prayitno sangat menghargai undangan tersebut. Karena itu dirinya tidak bisa menolak. “Semuanya demi dakwah dan syiarnya Agama Islam,” ungkapnya.

Ditanya sudah berapa kali ceramah, Irwan Prayitno mengaku tidak bisa ingat lagi, karena begitu banyaknya. Namun, dalam seminggu, Irwan prayitno mengaku dirinya dua hingga tiga kali berceramah. Irwan Prayitno mengaku, dirinya sudah membuat CD album rekamannya berceramah di berbagai acara. Sudah ada 200 judul ceramah dengan rekaman 8 volume.

Aktivitas berceramah menurutnya, sudah dilakoninya sejak masih menjadi mahasiswa di Fakultas Psikologi di UI. Aktivitas tersebut semakin meningkat sejak dirinya bergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Dirinya, sewaktu kuliah, beralih ke masjid di kampus-kampus lewat kelompok-kelompok tarbiah yang lebih berorientasi pada pembinaan aqidah dan akhlaq. Aktivitas tarbiah berpusat di masjid-masjid kampus.

Kebiasaannya berceramah dan berdakwah berlanjut hingga Irwan Prayitno mengambil kuliah S-2 dan S-3 di Universitas Putra Malaysia (UPM), Selangor. Bahkan waktu kuliah di Malaysia, Irwan Prayitno pergi menunaikan dakwah hingga sampai ke London, Inggris.

Tidak hanya saat diundang khusus saja berceramah. Irwan Prayitno mengaku, selama menjadi Gubernur Sumbar, saat menghadiri dan membuka berbagai kegiatan undangan lainnya, dirinya juga berkesempatan menyelipkan sedikit pesan-pesan yang terkandung dalam ayat-ayat Al Quran dan Hadist. Dalam rapatnya dengan jajaran Pemprov Sumbar pun, Irwan Prayitno mengaku dirinya juga menyelipkan pesan agama kepada peserta rapat yang hadir waktu itu. “Pokoknya di manapun berada dakwah perlu disampaikan,” terang Irwan Prayitno.(**)

Posmetro Padang, 13 Agustus 2015

 

Man Jadda Wajada (Posmetro 12 Agus 2015)

Man Jadda Wajada

“Manjada Wa Jadda”. Kalimat berbahasa Arab itu mengandung makna “Barang Siapa Bersungguh-sungguh, Maka Pasti akan Dapat”. Kalimat tersebut tidak akan pernah dilupakan Irwan Prayitno dalam menjalani kehidupannya mulai dari kecil hingga sekarang ini. Betapa tidak, kalimat itu merupakan pesan langsung dari Almarhumah Ibundanya Sudarni Sayuti, saat dirinya masih kecil.

SWARI ARFAN—Padang

“Almarhumah waktu saya kecil berpesan, apo se nan di karajoan harus basungguah-sungguah. Kato Nabi jo di dalam Al Quran, kalau basungguah-sungguah, pasti dapek hasilnyo,” ungkap Irwan Prayitno, mengenang pesan Almarhumah Ibundanya Sudarni Sayuti, kepada POSMETRO, Selasa (11/8).

Pesan tersebut, diakui Irwan Prayitno membentuk karakter dalam dirinya dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. Diakui Irwan Prayitno, cukup banyak hasil yang didapatnya, kalau melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh.

Irwan Prayitno mencontohkan dari pengalamannya yang sangat sederhana. Saat dirinya ingin berdakwah melalui seni. Dirinya bisa membuat album lagu religi, bernyanyi dan main drumd. Berkat kesungguhan, dirinya bias mewujudkan mimpi itu.

Begitu juga saat dirinya ingin menerobos daerah terisolir di Sumbar dengan menggunakan motor. Berkat kesungguhan dirinya bisa melacak motor trail menempuh medan berat di daerah terisolir. Begitu juga dirinya ingin menguasai beladiri. Alhamdulillah dirinya bisa bela diri karate. “Dari keinginan yang kecil jika dengan kesungguhan, maka pasti akan didapat hasilnya,” terang Irwan Prayitno.

Di dunia pendidikan. Begitu banyak hasil yang didapat dari kesungguhannya. Irwan Prayitno mencontohkan, saat dirinya ingin menyelesaikan pendidikan hingga S3. Alhamdulillah, berkat kesungguhan, dirinya dapat mewujudkan keinginannya itu.

Bahkan, dirinya berhasil menamatkan S3 di Universiti Putra Malaysia (UPM) dengan waktu lebih cepat dari masa normal, dan nilainya di atas rata-rata. Gelar PhD Pendidikan Bidang Training Management, berhasil diraihnya dengan prediket Cumlaude dan IPK 3,97.

Begitu juga keinginannya untuk mendirikan lembaga pendidikan. Berkat kesungguhan dirinya berhasil mengembangkan Yayasan Pendidikan Adzkia menjadi besar seperti saat ini.

Keberhasilan Irwan Prayitno juga merambah di dunia politik. Dirinya menjadi anggota DPR-RI. Dirinya menjadi lima tahun sejak 2010 menjadi Gubernur Sumbar. Semua keberhasilan dalam hidup yang dilaluinya menurut pengakuan Irwan Prayitno tidak terlepas dari kesungguh-sungguhan.

Bagaimana dengan kesungguhan Irwan Prayitno mengurus rakyatnya masyarakat Sumbar. Diakui Irwan Prayitno, sebagai Gubernur Sumbar, dirinya membuktikan kesungguhan menjaga amanah rakyat, dengan rela mengorbankan seluruh waktunya untuk bekerja untuk masyarakat.

Dirinya banyak melakukan hal-hal yang di luar batas kemampuan fisiknya. Seperti, mengadakan rapat tidak hanya siang hari. Tetapi juga setiap malam mulai pukul 20.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB.
Rapat yang dilakukan malam hari ini, bertujuan untuk mengevaluasi seluruh program dan kegiatan pembangunan yang dilakukan. Rapat, menurutnya juga dilakukan pada Sabtu dan Minggu. Bahkan dirinya, dalam satu hari siang dan malam juga harus pulang balik ke Jakarta, untuk menjemput program pemerintah pusat agar dapat direalisasikan di Sumbar.

Kesungguhan Irwan Prayitno dalam mengurus masyarakat Sumbar juga dibuktikan dengan menginstruksikan seluruh jajaran SKPD di lingkungan Pemprov Sumbar agar mengaktifkan handphonenya, tujuh hari 24 jam.

Perintah ini dilakukannya, karena Irwan Prayitno ingin, apapun informasi keluhan, pengaduan yang diperolehnya melalui masyarakat terkait pembangunan dan pelayanan publik, baik siang dan malam, langsung ditindaklanjuti oleh SKPD terkait secepatnya.

Tidak hanya itu, Irwan Prayitno juga komitmen jangan ada surat-surat tertumpuk di meja kerjanya. Apapun urusan surat-menyurat dan administrasi yang membutuhkan persetujuan dan tandatangannya, hanya boleh terletak di mejanya, cukup dalam waktu semalam saja.

Bagi Irwan Prayitno tidak ada istilah hari libur. Dalam satu hari saja, dirinya menghabiskan waktu bahkan sampai 15 kegiatan. Dirinya, juga rutin berkunjung ke kabupaten kota, ke nagari-nagari menelusuri daerah-daerah pelosok. Melihat langsung kondisi pembangunan di tengah masyarakatnya.

Data yang berhasil dihimpun POSMETRO, dalam satu tahun saja Irwan Prayitno sebanyak 150 kali mengunjungi kabupaten kota. Selama lima tahun menjabat sebagai Gubernur Sumbar dirinya telah berhasil mengunjungi seluruh nagari di Sumbar. Apa yang dilakukan Irwan Prayitno, diakuinya karena ingin bersungguh-sungguh melaksanakan amanah yang diberikan masyarakat kepadanya.

Kesungguhan Irwan Prayitno dalam bekerja sebagai Gubernur Sumbar ternyata membuahkan hasil dalam lima tahun ini. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan Pemprov Sumbar meriah 200 penghargaan dan prestasi nasional dan internasional. Selain itu, dalam pengelolaan keuangan daerah, Pemprov Sumbar yang dulunya hanya meraih opini disclaimer sekarang berhasil meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

Irwan Prayitno sukses dalam melaksanakan program-programnya meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan. Contohnya, Irwan Prayitno mencetus program Gerakan Pensejahteraan Petani. (GPP). Tujuan dilaksanakannya program ini, meningkatkan jam kerja efektif petani. Dari yang biasanya hanya bekerja 3,5 jam per hari menjadi 8 jam per hari dengan minimal tiga jenis usaha.

Sasaran pemberdayaan 37.200 rumah tangga petani (RTP) dengan melibatkan 1.860 kelompok tani dan 930 nagari/kelurahan/desa ( seluruh nagari). Program ini cukup berhasil dilaksanakan. Data Bappeda Sumbar mencatat, realisasi sampai tahun 2014 adalah 248 nagari, 496 kelompok tani dan 9.992 RTP.

Selain GPP, Irwan Prayitno juga mencetus program Pensejahteraan Ekonomi Masyarakat Pesisir (GEPEMP). Program ini bertujuan meningkatkan usaha kelautan perikanan dan pengembangan mata pencaharian alternatif di luar bidang kelautan dan perikanan. Sasaran GEPEMP pemberdayaan 5.680 KK masyarakat pesisir/nelayan miskin yang tersebar pada tujuh kabupaten kota, 42 kecamatan dan 89 nagari/desa/ kelurahan.

Program ini juga sukses dilaksanakan dan berdampak terhadap peningkatan ekonomi nelayan. Realisasi GEPEMP sampai 2014 berhasil menyentuh sebanyak 4.405 KK di tujuh kabupaten kota. Tujuh kabupaten kota itu meliputi Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Agam, Mentawai, Pasaman Barat, Padangpariaman, Pariaman.

Kemudian juga ada program Gerakan Pensejahteraan UMKM (GPUMKM). Program ini bertujuan meningkatkan kemampuan pelaku UMKM dalam pengelolaan usaha akses ke lembaga keuangan, pemasaran dan peningkatan peranan koperasi. Sasarannya adalah peningkatan kemampuan kelompok pelaku UMKM. Realisasi KUR Rp4,1 triliun untuk 226 ribu nasabah (penduduk Sumbar 4,9 juta dan BUMD Jamkrida).

Program lainnya, yakni program Gerakan Pensejahteraan Fakir Miskin (GPFAKIN). Program ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan fakir miskin untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sasaran GPFAKIN melalui kegiatan program bantuan usaha ekonomi produktif (KUBE), program PNPM Mandiri (pedesaan/perkotaan), Penyaluran hibah bansos bagi keluarga miskin, bantuan beasiswa miskin, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan kesehatan daerah, pengadaan beras raskin dan bantuan untuk panti asuhan swasta.

Contoh kesungguhan Irwan Prayitno tersebut dalam bekerja, akhirnya diikuti oleh jajaran SKPD di lingkungan Pemprov Sumbar. Kepala Dinas Sosial Abdul Gafar mengakui, dirinya menyadari Irwan Prayitno sebagai Gubernur Sumbar memberikan pelajaran yang berarti bagi dirinya, tentang apa artinya sebuah kesungguhan dalam mengurus masyarakat. Abdul Gafar mencontohkan, setiap meninjau daerah terisolir, dirinya bersama SKPD lainnya wajib hadir bersama gubernur. Melalui hasil peninjauan di lapangan tersebut, gubernur menurutnya langsung menindaklanjuti kepada seluruh SKPD yang hadir, dengan menggelar rapat koordinasi dan evaluasi.

Rapat tersebut bertujuan untuk melaksanakan berbagai program dan kegiatan yang dibutuhkan untuk pembangunan di daerah yang dikunjunginya itu. “Tidak hanya sekedar rapat. Hasilnya terus dievaluasi per hari bahkan per minggu. Bagi SKPD yang tidak bekerja dan programnya tidak jalan bahkan diberi peringatan keras,” terang Abdul Gafar.

Dari program dan kegiatan yang telah dilaksanakan tersebut, juga hasilnya dievaluasi oleh Irwan Prayitno. Abdul Gafar mengungkapkan, kesungguhan yang dilakukan dalam bekerja juga membuahkan hasil. Abdul Gafar mencontohkan, dengan program lintas SKPD yang dilakukan, ternyata berdampak angka kemiskinan berkurang setiap tahun. Jika dulunya angka kemiskinan di Sumbar mencapai 10,7 persen, sekarang hanya menjadi 6,96 persen.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Dinas PSDA Sumbar Ali Musri. Diakuinya, dalam bekerja dirinya sering diikutkan gubernur ke daerah-daerah pelosok. Dirinya langsung diminta langsung oleh gubernur untuk segera menindaklanjuti temuan di lapangan. Ali Musri mencontohkan, saat ada temuan irigasi yang ruysak dan butuh diperbaiki. Dirinya langsung mendapat perintah untuk segera memperbaiki.

Apa yang diperintahkan oleh gubernur kepada dirinya diakui Ali Musri, terus dievaluasi, siang dan malam. Bahkan tak jarang dirinya kerap mendapat sms malam hari, untuk memerintahkan dirinya agar segera menindaklanjuti informasi apapun keluhan dari masyarakat.

Ali Musri menilai, nilai yang bisa diperoleh dari kesungguhan yang dilakukan seorang Irwan prayitno adalah, keikhlasan. “Gubernur Irwan Prayitno tidak pernah menilai apa yang dilakukannya sebuah beban. Dia benar-benar ikhlas,” terang Ali Musri. (*)

Posmetro Padang, 12 Agustus 2015

 

Alhamdulillah Lima Tahun Tidak Pernah Sakit (Posmetro 11 Agus 2015)

Alhamdulillah, Lima Tahun Tidak Pernah Sakit

Satu hal kecil yang luput dari sisi lain seorang Irwan Prayitno. Tanpa di sadari, belum pernah kita mendengar informasi, Rang Kuranji itu menderita sakit, selama lima tahun memimpin Sumbar. Dengan rutinitas yang padat sebagai Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno diberi rahmat kesehatan oleh Allah SWT.

SWARI ARFAN—Padang

Tidak dipungkiri, tugas seorang kepala daerah cukup berat. Apalagi sebagai seorang Gubernur Sumbar. Hampir seluruh waktunya diluangkan untuk mengurus masyarakat. Seorang Gubernur Sumbar juga harus siap tempur. Mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk membangun Sumbar.

Gubernur dalam melaksanakan tugasnya siang dan malam, harus bepergian dari satu daerah ke daerah lain. Bertemu dan melihat kondisi masyarakatnya, meninjau, melaksanakan dan mengevaluasi berbagai program pembangunan di daerah. Gubernur juga harus siap sedia menghadiri undangan acara dan kegiatan berbagai elemen masyarakat.

Tidak jarang, seorang gubernur juga harus pulang balik ke pemerintah pusat, melobi dan menjemput berbagai program pembangunan pemerintah pusat, untuk dapat direalisasikan di daerah.

Dengan tugas yang cukup berat tersebut, kepala daerah rentan menderita kelelahan dan bahkan sampai sakit. Namun, tidak demikian halnya yang dialami Gubernur Sumbar Irwan Prayitno. POSMETRO menelusuri dan mengorek informasi pengakuan orang-orang terdekat Irwan Prayitno. Dan ternyata benar, Irwan Prayitno tidak pernah menderita sakit, selama lima tahun memimpin Sumbar.

Yongky Salmeno, salah seorang teman akrab Irwan Prayitno yang juga pernah membuat sebuah artikelnya berjudul “Tak Tahu Maka Tak Kenal” dan dimuat di media lokal mengakui, selama lima tahun dirinya setiap hari mendampingi Irwan Prayitno, belum pernah mendengar temannya itu mengeluh capek dan ingin istirahat atau libur.

Dirinya menilai pola kerja Irwan Prayitno seperti bola salju. Makin lama makin cepat, makin besar dan sulit dihentikan. Ada dua sopir dan dua ajudan yang secara aplusan mendampingi Irwan Prayitno sehari-hari. Tak ada ada yang sanggup mendampingi dan mengikuti perjalanan Irwan Prayitno full seminggu penuh.

Selama lima tahun belakangan, meski beraktivitas rutin dari subuh hingga larut malam, tidak pernah sekalipun dirinya melihat Irwan Prayitno pulang ke rumah untuk istirahat tidur siang. Juga, Alhamdulillah belum pernah satu haripun istirahat karena sakit. Sementara kami yang mendampingi, meski dengan sistem aplusan, sudah bergiliran sakit dan terpaksa beristirahat total (bed rest),” terangnya.

Tidak percaya begitu saja, POSMETRO mengkonfirmasi informasi tersebut dengan menghubungi Irwan Prayitno, Senin (10/8). Irwan Prayitno mengatakan, Alhamdulillah dirinya belum pernah sakit selama lima tahun ini. Bagaimana bisa seorang Irwan Prayitno bisa menjaga kesehatannya hingga tidak pernah sakit, dengan aktivitasnya yang super sibuk?

Pendiri Lembaga Pendidikan Adzkia itu menjawab singkat, kuncinya cuma satu, yakni ikhlas. Dengan keikhlasan, dirinya justru merasa enjoy (santai-red) menjalani semua tugas dan tanggungjawabnya sebagai kepala daerah. “Dengan ikhlas, saya tidak pernah menganggap semuanya jadi beban,” terang Irwan Prayitno.

Dirinya juga tidak memungkiri, ada kiat-kiat khusus untuk menjaga kesehatannya, agar tidak kelelahan dan menderita sakit. Pria yang pernah menyandang gelar guru besar pada tahun 2008 di Universitas Muhammadiyah Jakarta itu mengungkapkan, dalam menjalankan aktivitas sebagai kepala daerah, dirinya memanfaatkan tidur di rumah, hanya pada malam hari. Lamanya kurang lebih empat jam, mulai dari pukul 24.00 WIB hingga pukul 04.00 WIB.

Sementara, kalau siang hari, dirinya sama sekali tidak pernah menggunakan waktu untuk tidur di rumah. Waktu untuk istirahat siang hanya digunakan sewaktu dalam perjalanan ke daerah tertentu atau ke pemerintah pusat.

Suami dari Nevi Zuairina itu mencontohkan, saat dirinya bepergian dengan pesawat ke pemerintah pusat di Jakarta. Dirinya, menggunakan waktu di atas pesawat untuk istirahat tidur. Begitu juga saat dirinya berkunjung ke daerah. Seperti hendak bepergian ke Bukittinggi, dirinya kadang tidur istirahat sejenak di atas mobil, sebelum sampai ke Bukittinggi.

Tidak hanya menjaga waktu tidur. Irwan Prayitno juga menjaga kesehatannya dengan makan yang cukup. Tidak dipungkirinya, jika tiba waktu makan, dirinya makan cukup banyak dan lahap. Namun, anehnya, Irwan Prayitno tidak pernah sedikit pun memperhatikan menu makanan yang dimakannya, apakah berdampak baik atau buruk bagi kesehatannya. “Makan memang mesti teratur. Apo yang lamak, dilahap. Tidak ada pantangan sama sekali,” ungkap Irwan Prayitno sambil tertawa.

Selain makan teratur, Irwan Prayitno juga rajin berolahraga. Olahraga yang rutin digelutinya, karate, tarabas, badminton dan jogging. Untuk olahraga karate, rutin dilakukannya Selasa dan Rabu, pukul 06.00 WIB. Sementara, tarabas, khusus olahraga yang menantang adrenaline yang satu ini, dilakukannya kadang tiga bulan sekali. “Tergantung ada yang ngajak. Trabas saya lakukan untuk menunjang kerja, menelusuri daerah-daerah yang terisolir dan tidak memiliki akses transportasi,” terangnya.

Sementara, olahraga badminton dilakukannya pada malam hari. Biasanya satu kali dalam seminggu. Sedangkan jogging dilakukannya pada pagi hari rutin Sabtu dan Minggu.

Selain rutin berolahraga, Irwan Prayitno mengakui dirinya juga sering melakukan pemeriksaan kesehatan ke dokter, satu kali dalam enam bulan. “Check up (pemeriksaan kesehatan) juga rutin saya lakukan satu kali enam bulan,” terang Irwan Prayitno.(**)
Posmetro Padang, 11 Agustus 2015

 

Sang Profesor itu Tuntaskan S3 dengan Prediket Cumlaude (Posmetro 10 Agus 2015)

Sang Profesor itu Tuntaskan S3 dengan Prediket Cumlaude

Prof DR Irwan Prayitno, Psi, Msc, memiliki kemampuan kecerdasan di atas rata-rata. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilannya menyelesaikan pendidikannya hingga S3 di Universiti Putra Malaysia (UPM) dengan waktu lebih cepat dari masa normal, dan nilainya di atas rata-rata. Gelar PhD Pendidikan Bidang Training Management, berhasil diraihnya dengan prediket Cumlaude dan IPK 3,97.

SWARI ARFAN—Padang

Irwan Prayitno merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya bernama Djamrul Djamal yang berasal dari Simabua Kabupaten Tanahdatar. Ibunya Sudarni berasal dari Pauh IX, Kecamatan Kuranji Kota Padang.

Dalam literature yang POSMETRO baca melalui Wikipedia.org, terungkap kedua orangtua Irwan Prayitno, lulusan PTAIN Yogyakarta dan berprofesi sebagai dosen IAIN Imam Bonjol. Sebelum tinggal di Padang, keluarga Djamrul Djamal menetap di Semarang, hingga Irwan Prayitno berusia tiga tahun. Kemudian pindah ke Cirebon saat Irwan Prayitno memasuki usia sekolah dasar.

Tahun 1970 hingga 1976, Irwan Prayitno menjalani pendidikan sekolah dasar di SDN 4, Kebon Baru, Cirebon. Setelah tamat sekolah dasar, Irwan Prayitno pulang ke Padang dan menjalani pendidikan di SMP 1 Padang, tahun 1976 – 1979.

Setelah tamat SMP, Irwan Prayitno melanjutkan sekolahnya ke SMA 3 Padang. Selama belajar di SMA 3 Padang inilah, Irwan Prayitno mulai aktif dalam kegiatan organisasi sekolah. Irwan Prayitno menjalani dua kali kepengurusan OSIS.

Selain aktif di organisasi sekolah. Irwan Prayitno juga termasuk salah seorang siswa yang cerdas. Pada tahun kedua dan ketiga, dirinya berhasil meraih juara pertama di kelasnya. Jiwa dan bakat kepemimpinan yang terdapat dalam dirinya sudah terlihat sejak sekolah. Dirinya selalu dipercaya oleh teman-teman sekelasnya untuk menjadi ketua kelas.

 

Setelah tamat SMA pada tahun 1982, Irwan Prayitno melanjutkan pendidikan kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI). Selama kuliah Irwan Prayitno mulai melakukan pengembangan potensi diri dengan aktif dalam diskusi-diskusi, dakwah dan berbagai kegiatan kemahasiswaan.

 

Dirinya bergabung dan aktif dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jakarta “Semua aktivitas saya ikuti, demi ingin mengembangan diri saya. Saya aktif dalam kegiatan diskusi, dakwah dan ikut bergabung dalam organisasi HMI,” terang Irwan Prayitno kepada POSMETRO, Minggu (9/8).

Bahkan pada pada 1984, Irwan Prayitno diangkat menjadi Ketua HMI Komisariat Fakultas Psikologi UI. Irwan Prayitno juga aktif dalam pergerakan Islam, beralih ke masjid di kampus-kampus lewat kelompok-kelompok tarbiah yang lebih berorientasi pada pembinaan aqidah dan akhlaq. Aktivitas tarbiah berpusat di masjid-masjid kampus.

 

Saat masih kuliah, di usianya yang ke- 22 tahun, Irwan Prayitno menikah dengan Nevi Zuairina, mahasiswi UI yang ditemuinya saat menjalani kuliah semester tiga. Selama menjadi mahasiswa, Irwan Prayitno bahkan sudah dikarunia dua orang anak, hasil pernikahannya denganNevi Zuairina.

Cukup berat perjuangan Irwan Prayitno untuk dapat menyelesaikan kuliahnya. Selain aktif dalam kegiatan kemahasiswaan dan dakwah. Irwan Prayitno harus bakureh dengan mengajar di beberapa SMA swasta, dan menjadi konselor di bimbingan belajar Nurul Fikri. Kerja kerasnya mencari nafkah dilakukan untuk dapat membiayai uang kuliah, menghidupi dirinya bersama istri dan dua anaknya.

Meskipun cukup berat perjuangan yang dilaluinya. Namun, Irwan Prayitno berhasil menamatkan kuliahnya. Meskipun dirinya cukup lama menyelesaikan kuliahnya, yakni enam tahun dan dengan IPK rendah 2,02. Tamat kuliah, aktivitas dakwah Irwan Prayitno berlanjut dengan mengembangkan kegiatan dakwah di kampus Universitas Andalas dan IKIP Padang (sekarang Universitas Negeri Padang).

 

Karena IPK rendah, Irwan Prayitno memutuskan pulang ke Padang untuk berdakwah dan melanjutkan mengajar kursus. Dirinya lalu merintis yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Irwan mendirikan kursus bimbingan belajar Adzkia. Kemudian membentuk Yayasan Pendidikan Adzkia yang mewadahi pendidikan taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.Secara bertahap sejak 1994, Adzkia berkembang cukup pesat membuka jenjang perguruan tinggi, selain taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, dan sekolah kejuruan.

Seiring berkembangnya Yayasan Pendidikan Adzkia, kehidupan Irwan Prayitno mulai mapan. Namun, kesuksesan dirinya mengembangkan Yayasan Pendidikan Adzkia, tidak membuat dirinya lupa akan arti penting ilmu pengetahuan. Dirinya melanjutkan pendidikan dengan mengambil program S-2 di Universiti Putra Malaysia, Selangor. Irwan Prayitno mengambil program Pendidikan Bidang Human Resource Development

 

Untuk mengambil kuliah S2 di Negeri Jiran itu bukan tanpa cobaan. Irwan Prayitno yang membawa serta istri dan anaknya ke Malaysia. Namun, karena IPK rendah, lamarannya untuk mengambil S2 sempat beberapa kali ditolak. Irwan Prayitno kemudian bertemu dengan Pembantu Rektor UPM. Kepada Prof. Hasyim Hamzah. Irwan Prayitno menyatakan kesanggupan menyelesaikan studi dalam tiga semester. Irwan Prayitno berhasil membuktikan janjinya. Dirinya tamat satu setengah tahun lebih awal dari waktu normal, tiga tahun pada 1996.

Tidak puas hanya menyelesaikan S2, Irwan Prayitno melanjutkan kuliah S-3 di kampus yang sama.

Selama di Selangor, selain kuliah, Irwan Prayitno harus bekerja keras mengurus keluarga. Saat itu, ia telah memiliki lima anak. Dirinya hanya mengalokasikan sekitar 10 sampal 20 persen untuk kuliah. Kegiatan dakwahnya tetap berlanjut. Bahkan, ia menunaikan dakwah sampai ke Eropa dan harus mengerjakan tugas-tugas perkuliahan dalam perjalanan di dalam mobil, pesawat, atau kereta api.

Di tengah kesibukannya tersebut, Irwan Prayitno kemudian terjun ke dunia politik. Dirinya dicalonkan oleh Partai Keadilan sebagai anggota legislatif DPR. Padahal saat itu Irwan Prayitno tengah mempersiapkan ujian akhir S-3. Dirinya dapat merampungkan kuliahnya untuk gelar PhD dengan IPK cumlaude 3,97 pada tahun 2000.

 

Dirinya kemudian kembali ke Indonesia, ia berbagi tugas di legislative sebagai anggota DPR-RI dan kegiatannya di bidang akademisi. Sejak tahun 2003, ia mengajar program pasca-sarjana di Universitas Muhammadiyah Jakarta dan dikukuhkan sebagai guru besar pada 1 September 2008.

Dari seluruh perjuangan dan perjalanan hidup yang dilaluinya, baik itu melalui pendidikan, dakwah, aktif dalam kegiatan social kemasyarakatan dan politik, Irwan Prayitno mengungkapkan semuanya demi keinginannya membawa perubahan yang lebih baik bagi masyarakat. “Jika saya jadi PNS maka saya tidak akan bisa berbuat untuk perubahan. Namun, dengan pilihan hidup yang saya jalani saat ini, saya hanya ingin berbuat untuk perubahan agar masyarakat kita lebih baik,” terang Irwan prayitno singkat.(**)

Posmetro Padang, 10 Agustus 2015

 

Berkarya Lahirkan 500 Artikel dan 34 Buku (Posmetro 7 Agus 2015)

Berkarya Lahirkan 500 Artikel dan 34 Buku

Berangkat dari hobinya yang suka menulis sejak SMA, Irwan Prayitno mampu menghasilkan sekitar 500 lebih karya artikel. Hampir seluruh karya artikelnya telah dimuat di berbagai media cetak. Tidak hanya artikel, Irwan Prayitno juga telah menghasilkan karya 34 buku. Seperti apa Irwan Prayitno menggeluti hobinya yang satu ini?

SWARI ARFAN—Padang

POSMETRO menyambangi Rumah Dinas Irwan Prayitno di Jalan Sudirman, Kamis (6/8) pukul 13.00 WIB. Kedatangan POSMETRO untuk mengungkap sisi lain kehidupan Irwan Prayitno sebagai seorang penulis.

Di dalam rumah dinas tersebut, terlihat Irwan Prayitno dengan berpakaian safari hitam sedang duduk di kursi belakang meja kerjanya. Mengetahui kehadiran POSMETRO, Irwan Prayitno mempersilahkan duduk di kursi tamu depan mejanya. “Sebentar ya. Saya lagi baca artikel,” ucap Irwan Prayitno.

Sekitar 10 menit Irwan Prayitno terlihat serius membaca beberapa lembar kertas di tangannya. Sesekali keningnya mengernyit. “Sudah oke” ungkap Irwan Prayitno spontan. POSMETRO mencoba mengintip judul besar di bagian atas tulisan yang di ketik di atas kertas itu. Terlihat kalimat berjudul “Karakter dan Model Investasi di Sumbar” .

Penulis bertanya “Artikel siapa itu Pak? Irwan Prayitno sambil tersenyum menjawab “Ini artikel saya. Rencananya saya mau kirim ke media cetak di Sumbar untuk dimuat,” terang Irwan Prayitno.

Irwan Prayitno mengatakan, artikel tersebut baru saja dibuatnya setengah jam lalu. Menurutnya, artikel tersebut sangat penting disampaikan ke masyarakat luas, melalui media, karena merupakan gambaran secara utuh dunia investasi di Sumbar dari hasil pengamatannya selama ini. Diakuinya, selama menjabat sebagai Gubernur Sumbar, dalam satu bulan dirinya berhasil melahirkan dua hingga tiga karya artikel.

Sulit bagi POSMETRO untuk mengerti. Di tengah kesibukannya sebagai kepala daerah, Irwan Prayitno mampu menyelesaikan sebuah artikel dengan membutuhkan waktu hanya setengah jam. Irwan Prayitno mengatakan, walau pun sedang banyak menghadiri kegiatan, di sela-sela kegiatan dirinya menyempatkan mengetik artikel melalui handphone miliknya. “Kadang ketika di sela-sela acara itu, muncul sebuah ide pemikiran. Saya tuangkan saja ide itu dengan mengetik di handphone saya,” terangnya.

Setelah ketikan selesai, Irwan Prayitno meminta sekretaris pribadinya untuk menuangkan ketikan ke atas kertas. “Ya, hasilnya seperti kertas artikel ini. Saya baca lagi, saya edit. Kemudian saya minta anggota saya mengirim ke media,” ungkapnya.

Diungkapkan Irwan Prayitno, kebiasaannya menulis sudah dilakoninya sejak duduk di bangku SMA 3 Padang. Waktu masih SMA, dirinya sering menulis apapun tentang kehidupan yang dijalaninya sehari-hari. Termasuk hal-hal baru yang ditemukannya. “Seperti saat saya pulang jalan-jalan waktu SMA, saya tulis apa saja pengalaman saya waktu jalan-jalan. Kadang-kadang karya tulisan yang dibuat saya tempel di majalah dinding sekolah,” terang Irwan Prayitno.

Kebiasaan tersebut, menurutnya berlanjut hingga sekarang. Tidak hanya menulis artikel, dirinya juga membuat berbagai karya buku. Irwan Prayitno mengakui, ada kepuasan bathin yang dirasakannya setelah menulis. Kepuasan bathin tersebut memunculkan sebuah perasaan bahagia dalam dirinya. “Bathin saya puas setelah menulis. Ada kebahagiaan yang muncul dalam diri, ketika melihat hasil karya saya,” terang Irwan Prayitno.

Irwan Prayitno mengungkapkan, dirinya pertama kali menulis buku, saat menyelesaikan kuliah S-1 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1982-1988). Buku karya pertamanya berjudul “Anakku, Penyejuk Hatiku”. Buku tersebut memuat tentang ilmu bagaimana mendidik anak dari perspektif ilmu psikologi. Ide lahirnya buku itu berangkat dari pengalaman Irwan Prayitno yang sudah memiliki anak.

Selain itu, juga memuat tentang bagaimana pendidikan anak di PAUD. Buku karya pertamanya tersebut, setebal 700 halaman. Irwan Prayitno tidak menyangka, buku karya pertamanya yang dicetak tahun 1990 tersebut, laris manis. Bahkan, sudah lima kali cetakan, sudah habis terjual.

Selain buku berjudul Anakku, Penyejuk Hatiku, ada beberapa judul buku psikologi anak lainnya yang ditulis Irwan Prayitno, yakni buku berjudul “ Ajaklah Anak Bicara”, “ Ketika Anak Marah”, ” 24 Jam Bersama Anak”, “Membangun Potensi Anak” dan “Tips Bergaul dengan Anak”. Tidak hanya menulis buku tentang psikologi anak, Irwan Prayitno juga menulis beberapa buku tentang pendidikan Islam, pendidikan masyarakat dan management SDM.

Ada yang beda dari penulisan buku Irwan Prayitno dibandingkan tokoh-tokoh penulis lainnya. Perbedaan tersebut terletak pada gaya bahasanya yang sangat sederhana, mudah dimengerti dan mengandung nilai-nilai normatif. Irwan Prayitno mengungkapkan, dalam menulis buku, tidak pernah menggunakan bahasa mengkritik dan menyinggung perasaan orang lain. Namun, lebih kepada kritik kepada kondisi lingkungan yang dialaminya dengan bahasa yang santun.

Selain itu, bahasa yang digunakan lebih aplikatif, membumi dan tidak teoritis. Hal ini dikarenakan tulisannya lebih berdasarkan pada realita sebenarnya yang dilihat, dirasakan dan dialami oleh Irwan Prayitno.

Irwan Prayitno mengungkapkan, dirinya menulis buku, sesuai dengan apa saja kegiatan dan lingkungan yang dihadapinya. Dia mencontohkan, saat dirinya melaksanakan kegiatan sosial dan dakwah, maka dirinya membuat buku tentang dakwah dan pendidikan Islam. Saat dirinya sedang mengikuti pendidikan untuk meraih gelar doctor bidang SDM, maka dirinya membuat buku tentang SDM. Begitu juga ketika dirinya mulai memasuki dunia politik, maka dirinya akan membuat buku tentang politik.

Namun, diakui Irwan Prayitno, selama dirinya menjabat sebagai Gubernur Sumbar, belum satupun karya buku yang dilahirkannya. Kondisi ini terjadi karena dirinya cukup sibuk dengan pekerjaan melaksanakan program dan kegiatan pembangunan Sumbar. Irwan Prayitno berniat suatu saat nanti akan membuat sebuah buku tentang pengalamannya menjadi Gubernur Sumbar. “Mungkin nanti. Saya akan menulis buku tentang pengalaman saya menjadi Gubernur Sumbar,” harapnya. (*)

Posmetro Padang, 7 Agustus 2015

Dirikan Adzkia dengan Modal Rp15 Ribu (Posmetro 6 Agus 2015)

Dirikan Adzkia dengan Modal Rp15 Ribu

Antrian kendaraan terlihat ramai, Rabu (5/8) sekitar pukul 16.00 WIB di Taratak Paneh, Kecamatan Kuranji. Antrian mulai dari gerbang utama sebuah komplek sekolah—yang berada di tengah bangunan cukup besar dan pekarangannya cukup luas—hingga jalur keluar komplek tersebut. Serentak saja, ratusan anak-anak yang memakai seragam berbeda, bertuliskan TKIT dan SDIT serta SMPIT, keluar dari ruangan kelas sekolah itu. Mereka mendatangi orang tua mereka yang sabar menanti menjemput mereka pulang dengan kendaraan masing-masing.

SWARI ARFAN—Padang

Suasana tersebut rutin terlihat sore hari di Komplek Yayasan Pendidikan Adzkia di Taratak Paneh. Yayasan Pendidikan Adzkia mengalami perkembangan yang cukup pesat dan menjadi salah satu lembaga pendidikan swasta favorit di Sumbar. Namun, siapa sangka, yayasan dengan aset mencapai Rp70 miliar saat ini, didirikan oleh Irwan Prayitno hanya dengan bermodalkan Rp15 ribu. Kenapa bisa?

POSMETRO berkesempatan mewawancarai Irwan Prayitno untuk mengorek cerita perjuangannya membesarkan Yayasan Pendidikan Adzkia. Kepada POSMETRO, Irwan Prayitno mengungkapkan, berawal setelah tamat kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) tahun 1988, dirinya pulang kampung ke Padang. Di Padang Irwan Prayitno mulai menanamkan niat untuk dapat berbuat lebih banyak untuk mencerdaskan masyarakat di kampung halamannya.

Irwan Prayino memilih jalan yang berbeda dari mereka yang lebih memilih mulai berjuang mencari kerja setelah tamat kuliah. Hal ini dibuktikannya dengan menolak tawaran kerja sebagai karyawan di PT Semen Padang. “Semen Padang waktu itu membutuhkan tenaga psikologi. Karena tamatan psikologi langka waktu itu. Saya menolak,” terang Irwan Prayitno.

Irwan Prayitno justru memilih mendirikan bimbingan belajar. Walaupun dengan hanya Rp15 ribu. Cukup nekad dan berani memang. Namun, Irwan Prayitno justru melihat sebuah peluang besar dari kenekatannya itu. “Di Kota Padang, saat itu tidak banyak bimbingan belajar berdiri. Kecenderungan masyarakat masih menempuh pendidikan formal. Saya melihat peluang itu,” terang Irwan Prayitno.

Dengan modal pas-pasan Rp15 ribu yang dimilikinya, Irwan Prayitno mulai mencetak brosur, yang memuat pengumuman penerimaan siswa baru untuk bimbingan belajar. “Brosur tersebut saya cetak satu rim. Kemudian saya pergi ke sekolah-sekolah. Di depan gerbang sekolah saya bagikan satu per satu kepada siswa yang lewat,” terang Irwan Prayitno.

Untuk menjalankan rencananya mendirikan lembaga bimbingan belajar tersebut, Irwan Prayitno mengajak kawan-kawannya yang dapat bekerjasama. Semangatnya bersama teman-teman, lalu akhirnya terdorong untuk membangun lembaga pendidikan Adzkia (yang artinya kecerdasan) untuk dakwah pendidikan, serta Yayasan Al-Madani untuk mengurusi dakwah sosial.

Brosur telah disebar ke sekolah-sekolah di Kota Padang, Irwan Prayitno berhasil mendapatkan murid dua lokal. Sebanyak 80 siswa yang mengikuti bimbingan belajar Adzkia. Tidak memiliki gedung sendiri, Adzkia menyewa gedung PGAI, dengan syarat uang sewanya dibayarkan bulan berikutnya setelah siswa didapatkan. “Awalnya cuma empat jurusan, setelah itu terus berkembang, banyak peminat, saya memilih untuk mendirikan Taman Kanak-Kanak,” ujarnya.

Langkah itu berjalan lancar, siswa didapat, sewa gedung juga sudah dibayarkan. Ada empat jurusan yang dibuka, Fisika, Matematika, Biologi dan Kimia. Sementara tenaga pengajarnya juga hanya empat orang, diantaranya, Prof Syukri Arief. Mereka umumnya berasal dari perguruan tinggi ternama seperti, IPB, UGM, Unand dan dirinya dari UI.

Perjuangan untuk membuat Adzkia tetap eksis cukup berat. Bahkan tidak jarang, tempat belajar juga menjadi berpindah-pindah. Pertama, di PGAI pindah ke Jalan Raden Saleh, kemudian ke Jalan Diponegoro. Selanjutnya pindah lagi ke Jalan Belakang Olo, Simpang Damar.

Setelah sering berpindah-pindah, Irwan Prayitno akhirnya mendapatkan tanah wakaf dari ibunya di Taratak Paneh, Kecamatan Kuranji. Secara perlahan gedung sekolah mulai dibangun. Kemudian membeli tanah di sekitarnya untuk mendirikan sekolah lainnya.

Secara perlahan tapi pasti, Yayasan Pendidikan Islam Adzkia terus tumbuh seiring tingginya kesadaran masyarakat di Kota Padang pentingnya pendidikan. Tahun 1990 Adzkia membuka Taman Kanak-Kanak Adzkia yang sampai sekarang berkembang menjadi tujuh cabang yang tersebar di Kota Padang, Bukittinggi dan Payakumbuh.
Kemudian Yayasan Adzkia mendirikan SDIT, SMPIT, SMAIT dan SMK. Kemudian juga melanjutkan dengan mendirikan perguruan tinggi. “Sekarang kita juga sudah membuka di Medan, Sumatera Utara,” sebutnya.

Melihat kebutuhan masyarakat terhadap ketersediaan guru TK yang profesional, maka YPIC Adzkia pada tahun 1994 membuka Program Diploma I PGTK Adzkia. Kemudian berkembang menjadi program Diploma 2 PGTK/RA dan PGSD/MI di bawah Naungan Akademi Kependidikan Islam Adzkia (AKIA). Tahun 2003 status Akademi berubah kearah yang lebih positif yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah yang dinaungi oleh Departemen Agama RI (sekarang Kemenag RI).

Sudah sangat banyak lulusan yang telah dihasilkan oleh AKIA/STIT Adzkia. Lulusan STIT Adzkia bahkan sudah banyak yang diterima sebagai PNS baik di Provinsi Sumbar, maupun di luar provinsi. Bahkan keberadaan para alumni AKIA/STIT Adzkia ini tidak hanya menduduki jabatan sebagai guru, melainkan juga sebagai kepala sekolah terutama lulusan jurusan PGTK Adzkia.

Tahun 2005, Program Diploma II tidak diizinkan lagi untuk dibuka. Sehingga, tahun 2007-2008 perguruan tinggi Adzkia mengalami kekosongan. Tahun 2009, Adzkia diberikan izin penyelenggaraan STKIP Adzkia program S1 PG-PAUD dan PGSD di bawah Kementerian Pendidikan Nasional dengan Nomor Izin 111/D/O/2009.

Kini, Adzkia telah bertransformasi menjadi salah satu lembaga pendidikan yang berkualitas, elit dan terbesar di Kota Padang dan Sumbar umumnya. Dengan Adzkia Irwan Prayitno telah menyumbangkan sebuah perjuangan membangun pendidikan di Sumbar. “Bagi saya, Adzkia diharapkan dapat berperan aktif membangun manusia perpendidikan dan berkarakter di Sumbar,” ujarnya. (**)

Posmetro Padang, 6 Agustus 2015

 

Rutinitas Padat. (Posmetro 5 Agus 2015)

Rutinitas Padat, Ibadah Jalan Terus

Langit terlihat mulai gelap. Siang akan berganti malam. Seketika saja, iring-iringan mobil rombongan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, yang berada di Danau di Ateh Alahan Panjang Kabupaten Solok, dalam perjalanan menuju Kabupaten Solok Selatan (Solsel), berhenti di sebuah kedai makanan, Senin (3/8).

SWARI ARFAN—Padang

Suara adzan magrib menggema di seluruh mesjid. Irwan Prayitno yang duduk santai di kedai itu, sebelum menunaikan shalat magrib, menengadahkan tangan membaca doa. Kemudian langsung minum air putih dan memesan semangkuk soto kepada pemilik kedai. Hari itu, Irwan Prayitno berbuka puasa, setelah selesai menunaikan ibadah puasa Senin dan Kamis.

Ibadah puasa Senin dan Kamis tidak pernah ditinggalkan pria yang pernah mengikuti Kursus Singkat Angkatan (KSA) XIII, Lemhannas RI itu. Puasa tersebut sudah menjadi kebiasaannya, sehingga semuanya dijalaninya dengan baik.

Tidak dipungkiri, saat menjalankan ibadah puasa Senin dan Kamis, dirinya juga sering menjalani tantangan yang sama seperti di Solok. Irwan Prayitno menceritakan, bagaimana beratnya perjalanannya ke Kabupaten Kepulauan Mentawai membuka pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Dengan goncangan gelombang yang kuat, melintasi lautan lebih dari tiga jam di tengah laut, dirinya tetap menjalankan ibadah puasa.

Tantangan lainnya, saat dirinya harus menerima tamu pemerintahan, atau menjamu tamu Pemprov Sumbar pada makan siang. Namun, Irwan Prayitno tetap melaksanakan ibadah puasa sunat tersebut, sehingga tamu pun maklum. “Kalau kita niat ibadah ikhlas, pasti akan dilancarkan Allah SWT, karena saya meniatkannya puasa itu karena Allah SWT. Jadi walau ada orang makan di depan kita, memberikan sambutan dalam acara yang panasnya terik, Insya Allah puasa tetap jalan,” ujarnya.

POSMETRO begitu penasaran. Selain puasa Senin dan Kamis. Apa saja ibadah sunat lain yang dilakukan suami Hj. Nevi Zuairina itu. Irwan Prayitno menyebutkan, di pagi hari, setelah melaksanakan sholat subuh, dirinya memulai aktivitas dengan zikir ma’tsurat. Zikir setelah shalat subuh tersebut, tidak pernah ditinggalkannya.

“Dengan mengamalkan zikir tersebut, saya mendapatkan perlindungan dari Allah SWT. Zikir ini juga dapat menjauhkan kita dari niat buruk orang terhadap kita,” sebut pria yang pernah menjadi Dosen Program Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Jakarta (MM UMJ) itu.

Tidak hanya zikir ma’tsurat. Masih banyak ibadah lainnya. Salah satunya shalat dhuha. Di tengah kesibukannya melaksanakan berbagai kegiatan pembangunan Sumbar. Irwan Prayitno tidak pernah melalaikan kewajibannya menunaikan shalat dhuha, demi mendekatkan diri pada Allah SWT. Meski tidak jarang kadang mencuri waktu di sela agenda kerjanya mengurus masyarakat Sumbar yang sangat padat.

Shalat dhuha dilaksanakannya ketika aktivitasnya telah dimulai di pagi hari. Terkadang, ketika ada perjalanan ke luar daerah, Irwan Prayitno meminta sopirnya berhenti di jalan guna menunaikan shalat dhuha. Sehingga ibadahnya yang satu itu tetap dapat dijalankannya. “Kalau shalat dhuha saya juga selalu laksanakan. Bahkan sering saya minta sopir untuk singgah di jalan agar saya dapat menjalankan ibadah dhuha,”sebut pria tamatan S-3 Universiti Putra Malaysia, PhD Pendidikan Bidang Training Management itu.

Irwan Prayitno juga rutin menggelar shalat malam (tahajud). Shalat tahajud menjadi media baginya mengadu pada Allah SWT. Pada keheningan malam, semakin mendekatkannya dengan Allah SWT. Setelah melewati rutinitas siang yang padat, hiruk pikuk kehidupan siang Irwan Prayitno selalu menyediakan waktu untuk shalat malam sebelum istirahat, untuk memulai aktivitas di esok hari.

Irwan Prayitno juga selalu meluangkan waktu membaca Al Quran. Membaca Al Quran disiasatinya dengan meluangkan waktu dijeda pekerjaan. Selain itu, juga pada kegiatan-kegiatan memberikan ceramah agama pada masyarakat.

Sebenarnya kegiatan ibadahnya Irwan Prayitno sudah dijalaninya sejak lama. Tidak hanya ketika telah menjabat Gubernur Sumbar, keinginan itu lahir dalam dirinya untuk membentuk hidup lebih baik. Panutannya beribadah hanya satu, Rasullullah Muhammad SAW. “Saya memang sudah berniat ibadahnya saya tidak terabaikan dengan rutinitas yang begitu padat. Meski melayani masyarakat juga ibadah. Namun ibadah saya langsung dengan Allah SWT tetap utama,” ungkap Irwan Prayitno.

Diakui Irwan Prayitno, selama lima tahun menjadi gubernur, begitu besar manfaat yang diperolehnya. Ibadah yang dilakukannya selama ini, membuat dirinya mampu mengendalikan diri. “Dengan ibadah yang saya lakukan, saya mengontrol emosi. Bathin saya terasa tenang dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul dalam bekerja,” terangnya.(**)

Posmetro Padang 5 Agustus 2015

 

Semua Anak Kuliah di PTN (Posmetro 4 Agus 2015)

Semua Anak Kuliah di PTN
“Saya teringat nasehat salah seorang tokoh masyarakat Minang. Dia berkata, di tengah kesibukan sebagai kepala daerah, jangan pernah melupakan anak. Jangan sampai karena semua kesibukan mengurus negara dan pemerintah, justru anak kita menjauh”
SWARI ARFAN—Padang
Sepenggal kalimat itu, diungkapkan Irwan Prayitno, saat dihubungi POSMETRO, Senin (3/8). Nasehat dari salah seorang tokoh Minang itu tidak akan pernah dilupakannya. Irwan Prayitno menyadari, anak adalah segala-galanya. Karena itu, Irwan Prayitno, sekuat tenaga selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Irwan Prayitno bersama istrinya Nevi Zuairina, dikarunia 10 anak. Masing-masing, Jundi Fadhlillah, Waviatul Ahdi, Dhiya’u Syahidah, Anwar Jundi, Atika, Ibrahim, Shohwatul Islah, Farhana, Laili Tanzila dan Taqiya Mafaza.
Kebahagiaan Irwan Prayitno terasa lengkap. Karena selain 10 anak, Irwan Prayitno juga dikarunia tiga cucu, yakni Hawnan Aulia, Hasna Labiqa Raisya, Syakira Aulia.
Sebuah keluarga besar memang. Sebagai kepala keluarga, Irwan Prayitno memiliki tanggungjawab besar membesarkan dan mendidik 10 anak-anaknya, khususnya pendidikan dan membimbing menjadi anak yang sholeh.
Tidak dipungkirinya, dirinya harus bekerja ekstra keras, membagi waktu melaksanakan tanggungjawabnya sebagai kepala daerah dalam melaksanakan program dan kegiatan pembangunan Sumbar, di sisi lain dirinya harus mencurahkan perhatian untuk anak-anaknya.
Namun, pria kelahiran 20 Desember 1963 itu berhasil melaksanakan amanah itu dengan memberikan pendidikan yang terbaik buat anak-anaknya. Anak-anaknya mampu kuliah di perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia dan luar negeri. Anak pertama Irwan Prayitno, Jundi Fadhlillah yang telah menikah Aisyah Ramadhani, berhasil menamatkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas Jurusan Manajemen dan Southern New Hampshire University, Amerika Serikat.
Berikutnya, anak kedua Irwan Prayitno, Waviatul Ahdi yang menikah dengan Irfan Aulia Saiful menamatkan kuliah di FKG Universitas Indonesia (UI). Kemudian, Dhiya’u Syahidah yang menikah dengan Fallery, menamatkan kuliah di SBM ITB dan Westminster University. Anwar Jundi, kuliah di Fakultas Perikanan dan lmu Kelautan Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, IPB dan Atika saat ini kuliah di FE UI, Ibrahim (kuliah di Jurusan Teknik Kimia UI).
Sementara, Shohwatul Islah, sekolah di SMA 1 Padang, Farhana (SMA 1 Padang, Laili Tanzila (SDIT Adzkia) dan si bungsu Taqiya Mafaza (SDIT Adzkia). Bagaimana bisa seorang Irwan Prayitno bersama Istri Nevi Zuairina berhasil memberikan pendidikan yang terbaik buat anak-anaknya.
Kepada POSMETRO, Irwan Prayitno menuturkan, rahasianya, selalu membangun komunikasi. Irwan Prayitno mengakui, dirinya selalu memantau perkembangan 10 anaknya. “Detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, saya selalu memantau perkembangan anak-anak saya,” terang Irwan Prayitno.
Bagaimana bisa. Bukannya seluruh waktu Irwan Prayitno selalu dihabiskan untuk bekerja dengan jadwal yang cukup padat. Mengunjungi satu daerah ke daerah lain. Bahkan tidak jarang Irwan Prayitno harus pulang balik ke pemerintah pusat untuk kepentingan pembangunan Sumbar.
Pria yang pernah menjadi Guru Besar Bidang HRD Universitas Muhammadiyah Jakarta itu menilai, jarak bukanlah sebuah masalah dalam membangun komunikasi dengan anak. Irwan Prayitno mengatakan, peran tekhnologi informasi sangat membantu dalam membangun komunikasi dengan anak. Irwan Prayitno menyadari, dengan kesibukannya, dirinya tidak ingin anak-anaknya dekat dengan ibunya saja. Tetapi juga dengan dirinya. Karena itu, dirinya tidak ingin, komunikasi dengan anak-anaknya terputus. Bahkan, untuk menjaga komunikasi tidak terputus, Irwan Prayitno kadang membelikan pulsa untuk anaknya. “Komunikasi saya lakukan melalui sms, telepon, chating lewat facebook, WhatsApp, dan tekhnologi lainnya. Dalam berkomunikasi saya selalu memantau perkembangan anak-anak,” terang Irwan Prayitno.
Pria dengan ciri khas berkacamata itu menuturkan, pendidikan bagi anak-anak merupakan hal penting dalam menentukan masa depan anak. Irwan Prayitno selalu memberikan masukan dan saran pilihan pendidikan yang terbaik buat anak-anaknya. “Untuk pendidikan anak-anak, saya selalu memberikan masukan pilihan ilmu dan pendidikan yang sesuai dengan potensi anak. Saya juga rela mengantarkan anak saat mendaftar ke sekolah barunya,” terang Irwan Prayitno.
Irwan Prayitno juga mengaku dalam berkomunikasi, dirinya selalu rutin menanyakan bagaimana perkembangan sekolah anak-anaknya. Tugas itu rutin dilakukannya bergantian bersama istri tercintanya. Bahkan tidak jarang, Irwan Prayitno rela mendatangi sekolah tempat anaknya menuntut ilmu. Menanyakan kepada guru-gurunya, bagaimana perkembangan anak-anaknya di sekolah. “Saya pernah ke sekolah langsung menanyakan bagaimana anak-anak saya di sekolah,” tegasnya.
Tidak hanya pendidikan formal. Irwan Prayitno juga selalu memperhatikan pendidikan agama anak-anaknya. Nilai-nilai agama ditanamkan melalui pendidikan dasar dengan menyekolahkan anak-anaknya ke pesantren dan sekolah agama. Irwan Prayitno juga selalu rutin menanykan kepada anak-anaknya apa sudah sholat atau belum. Irwan Prayitno juga mengajak keluarganya selalu rutin berjamaah sholat Magrib dan Subuh. Selain itu, juga rutin iftikaf bersama keluarga di akhir ramadhan.
Untuk menjalin kebersamaan, Irwan Prayitno mengaku, dirinya juga selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk berkumpul bersama keluarga. “Waktu berkumpul yang sering itu, seperti makan malam bersama keluarga. Terasa indah rasanya,” terang Irwan Prayitno. (*)
Posmetro Padang 4 Agustus 2015

Di Tengah Hiruk Pikuk Pilkada Justru Sibuk Mengurus Rakyat (Posmetro 3 Agus 2015)

Di Tengah Hiruk Pikuk Pilkada, Justru Sibuk Mengurus Rakyat
Di tengah hiruk pikuk politik, padDi Tengah Hiruk Pikuk Pilkada, Justru Sibuk Mengurus Rakyata pelaksanaan pemilihan kepala daerah 2015, para calon kepala daerah tengah sibuk menggalang kekuatan berbagai kelompok masyarakat untuk mensosialisasikan diri dan meraih dukungan. Namun, tidak demikian halnya dengan Irwan Prayitno. Sebagai Gubernur Sumbar, di sisa-sisa pengabdian jelang masa jabatannya habis, Irwan Prayitno justru semakin sibuk mengurus rakyatnya, masyarakat Sumbar.
SWARI ARFAN—PADANG
Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumbar tinggal hitungan bulan. Namun, ada yang beda dilakukan Irwan Prayitno. Dirinya justru fokus dan sibuk memenuhi agenda dan jadwal kegiatannya sebagai Gubernur Sumbar.
POSMETRO berkesempatan mewawancarai, Sabtu (1/8) di Pantai Padang. Saat ditemui, tidak ada raut wajah letih di wajahnya. Meskipun, garis hitam terlihat jelas di bawah kelopak matanya. Menandakan dirinya kurang tidur. Senyum sumringah selalu terlihat di sela-sela percakapan. POSMETRO sudah membayangkan akan ada pembicaraan soal peta politik jelang pilgub nanti dalam pertemuan malam itu. Namun, kenyataan berbeda, bukan soal politik yang dibicarakannya. Justru tentang agendanya mengurus masyarakat Sumbar yang begitu padat.
Irwan Prayitno mengaku, masih tetap rutin menelusuri daerah-daerah pelosok dengan motor trail. Irwan Prayitno menilai, dengan menggunakan motor trail, dirinya dapat melihat langsung kondisi real pembangunan di tengah masyarakat yang tidak terjangkau alat transportasi. Dengan informasi yang diperolehnya dengan bertemu langsung dengan masyarakat di lapangan, menjadi masukan bagi Irwan Prayitno untuk melaksanakan berbagai program pembangunan.
Selain itu, pria dengan ciri khas berkacamata ini juga rutin memberikan tausyiah kepada masyarakat di mana pun berada, memberikan motivasi kepada masyarakat, untuk berpartisipasi dalam pembangunan.

Irwan Prayitno juga giat menyampaikan dakwah agama dengan cara yang berbeda, yakni bermain band dan menyanyikan tembang Islami karyanya sendiri, pada ivent tertentu. Irwan Prayitno juga semangat untuk menghadiri berbagai program dan kegiatan pembangunan di daerah. Seminar dan rapat dengan SKPD dan pemerintah pusat membahas evaluasi berbagai program pembangunan, meninjau hasil pembangunan di lapangan, dilakukan Irwan Prayitno tanpa kenal lelah.
“Hari ini cukup banyak agenda kegiatan yang saya lakukan. Baru saja saya membuka Pariaman Expo dan Pameran Pembangunan Kota Pariaman,” ungkap Irwan Prayitno dengan wajah begitu semangat.

Bagi Irwan Prayitno, Pariaman Expo dan Pameran Pembangunan Kota Pariaman merupakan hal yang sangat penting. Karena melalui Pariaman Expo dan Pameran Pembangunan Kota Pariaman diharapkan dapat memajukan ekonomi masyarakat. Selain itu, juga dapat memajukan dunia pariwisata Sumbar.
Tidak terhenti saja bicara Pariaman Expo. Irwan Prayitno justru menyambung ceritanya, dengan agenda kegiatannya yang lain, siang itu. Irwan Prayitno bercerita, tentang kegiatannya memberikan taushiyah pendidik dan tenaga kependidikan Kota Padang di Mesjid Raya Sumbar. Tausyiah tersebut dianggap penting, untuk memotivasi tenaga pendidik, agar tetap semangat memberikan ilmu kepada generasi muda, demi terciptanya masyarakat Sumbar yang cerdas.

Lagi dan lagi. Irwan Prayitno dengan kekuatan fisiknya, tidak pernah berhenti bekerja mengurus masyarakat. Dirinya, terus bergerak menuntaskan jadwal yang telah ditetapkan. Irwan Prayitno kemudian bersilaturahim dengan PWRI dan Pamong Senior. Hadir Prof. Fahri Achmad (Mantan Wagub), para mantan Sekda seperti Rusdi Lubis dan tokoh lainnya. Pertemuan ini sangat penting, terutama menerima masukan, kritik dan saran terhadap hasil pembangunan Sumbar yang telah dilaksanakan selama kepemimpinannya.
Irwan Prayitno terus saja bercerita tentang kegiatannya hari itu. “Saya tadi juga menghadiri kegiatan sosialisasi pemberdayaan masyarakat,” terang Irwan Prayitno.

Melalui salah satu media elektronik, Irwan Prayitno menyebutkan, dirinya mensosialisasikan pentingnya pemberdayaan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan dan mengatasi kemiskinan serta pengangguran. “Pemberdayaan tepat untuk Sumbar karena rakyat Sumbar punya potensi untuk mandiri dan independen di bidang ekonomi,” terang Irwan Prayitno.

Apakah berhenti sampai di situ. Tidak. Irwan Prayitno melanjutkan kerjanya. Dirinya menghadiri diskusi tentang bagaimana upaya pemerintah membantu petani dengan menempatkan tanaman yang sesuai dengan kondisi tanah. Dalam diskusi tersebut, Prof Dr Ir Zulman H U. MP, Rektor Universitas Taman Siswa memberikan buku kepada Irwan Prayitno yang menjelaskan budidaya padi pada lahan marjinal. Irwan Prayitno menilai, buku tersebut sangat bermanfaat untuk dituangkan dalam program kerja Pemprov Sumbar untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
POSMETRO berpikir, dengan kegiatannya yang begitu padat siang hari. Irwan Prayitno tentu akan menggunakan waktu malamnya untuk beristirahat di rumah. Ternyata tidak demikian kenyataannya. Irwan Prayitno mengatakan, kerjanya bahkan tidak mengenal waktu. Hingga malam hari, dirinya masih bekerja.
Irwan Prayitno mencontohkan, dirinya, Jumat malam (31/8), menghadiri kegiatan napak tilas perjuangan Bagindo Aziz Chan. Irwan Prayitno memberikan arahan dan melepas peserta napak tilas Perjuangan Pahlawan Nasional Bagindo Aziz Chan di halaman Kantor Gubernur. Turut hadir Wali Kota Padang dan keluarga Almarhum Bagindo Aziz Chan malam itu.
Ketika ditanya berapa agenda kegiatannya dalam satu hari. Irwan Prayitno justru menjawab dengan tertawa lebar. “Kalau ditanya berapa, tidak terhitung. Karena cukup banyak,” terang Irwan Prayitno.
Bagaimana dengan hari libur, seperti Minggu. Irwan Prayitno ternyata masih bekerja mengurus rakyat. “Seperti, Minggu (2/8), saya berkesempatan melepas atlet olimpiade olahraga siswa nasional (OSN) Sumbar untuk bertarung mewakili utusan Sumbar di Makasar,” terang Irwan Prayitno.
Irwan Prayitno juga menghadiri silahturahim masyarakat Solok Saiyo Sakato Cabang Belimbing, dan silahturahmi dengan warga Agam Nagari Gadut dan Koto Tangah.

Berbagai agenda dan kegiatan tanpa mengenal lelah siang dan malam, terus dilakukan Irwan Prayitno setiap hari. Irwan Prayitno mengaku, kerja keras yang dilakukannya selama ini demi masyarakat dan untuk pembangunan Sumbar. Semua tidak terlepas dari rasa tanggungjawabnya sebagai Gubernur Sumbar yang diberi amanah untuk membangun Sumbar yang lebih baik.

“Hingga akhir jabatan saya, saya akan tetap melaksanakan amanah tersebut. Alhamdulillah, selama lima tahun bekerja, saya selalu dalam keadaan sehat. Ini merupakan rahmat Allah SWT, saya diberi kenikmatan kesehatan. Kuncinya keikhlasan,” terang Irwan Prayitno mengakhiri percakapan malam itu. (**)

Posmetro Padang 3 Agustus 2015

Irwan Prayitno – Sukses Membangun Lembaga Pendidikan Adzkia

Selama Menjadi Gubernur, Enam Restoran Bakso Ditutup

Selama Menjadi Gubernur, Enam Restoran Bakso Ditutup

SEJAK dilantik menjadi Gubernur Sumatera Barat pada tanggal 15 Agustus 2010, Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa fokus membenahi Sumatera Barat pasca gempa 30 September 2009. Tidak mudah memulihkan kondisi daerah yang luluh-lantak akibat gempa tersebut, apatah lagi kondisi keuangan daerah yang minus.

Namun Irwan Prayitno ternyata mampu membangun kembali Sumatera Barat, di tengah-tengah sinisme beberapa pihak kepadanya. Rumah-rumah yang rusak ringan, rusak sedang, dan rusak berat tuntas direhabilitasi. Irwan Prayitno berhasil menyelesaikan rehab rekon sebanyak 197.636 rumah warga. Secara bertahap dimulai pembangunan sarana publik dan kantor pemerintah yang rusak akibat gempa. Sudah puluhan gedung pemerintah yang dibangun ulang, retrofit (penguatan struktur), dan direhab dalam rentang waktu 2011-2015.

Kini pemandangan seperti 3 atau 4 tahun lalu itu tak nampak lagi, bahkan nyaris tak berbekas. Kantor-kantor yang dulu rubuh telah dibangun lagi dan diganti dengan yang lebih baik dan lebih kokoh. Begitu juga rumah masyarakat dan fasilitas-fasilitas umum yang dulu luluh-lantak telah dibangun lagi dan kembali berfungsi normal. Hotel-hotel dan aktifitas ekonomi lainnya kembali menggeliat. Suasana mencekam, kini tak terlihat lagi bahkan nyaris terlupakan.

Berbagai upaya dilakukan untuk meyakinkan investor bahwa Sumbar sudah aman dan menguntungkan untuk berinvestasi. Kini investor telah berdatangan ke Sumatera Barat. Belasan hotel yang rusak telah direnovasi dan kembali beroperasi. Belasan lainnya merupakan hotel yang baru dibangun. Sungguh sebuah rahmat, justru terjadi penambahan lebih 2.000 kamar hotel pascagempa.

“Katakanlah: “Siapakah yang menyelamatkan kamu dari bencana-bencana di darat dan di laut? (Ketika) kamu berdoa merayu kepadaNya dengan merendah diri (secara terbuka) dan secara bersembunyi, (dengan berkata): “Demi sesungguhnya jika Allah selamatkan kami dari bencana ini niscaya menjadilah kami dari orang-orang yang bersyukur.” (QS. Al An’aam: 63).
Sebagai Gubernur Sumatera Barat pada waktu itu, Irwan Prayitno paham benar dengan tugas dan amanah jabatan yang dia sandang. Baginya, amanah tersebut harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Dirinya harus fokus membawa Sumatera Barat yang hancur bangkit kembali seperti sedia kala. Dirinya harus full menata kembali Sumatera Barat, makanya selama menjabat gubernur, Irwan Prayitno tidak pernah mengambil cuti. Siang malam dirinya bekerja, tiada mengenal hari libur.

Tak hanya Irwan Prayitno, istrinya Hj. Nevi Zuairina fokus mendampingi sang suami. Perannya sebagai istri gubernur merupakan amanah tersendiri yang tidak boleh dilalaikan. Sejak mendampingi suaminya bertugas di Sumatera Barat, berbagai jabatan dipercayakan kepadanya, yaitu Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sumatra Barat, Ketua Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial Provinsi Sumbar, Ketua Dekranasda Provinsi Sumatra Barat, Ketua Forum PAUD Provinsi Sumatra Barat, Ketua P2TP2A Provinsi Sumatra Barat, Ketua FORIKAN Provinsi Sumatra Barat, Ketua Forum Silaturahmi Majelis Taklim Provinsi Sumatra Barat, Ketua Yayasan Kanker Indonesia Cabang Provinsi Sumatra Barat dan Ketua Persatuan Istri Pemprov dan Muspida Provinsi Sumbar.

Kesibukan membantu tugas suami dan melaksanakan amanah jabatan di organisasi yang dipercayakan kepadanya, membuat Hj. Nevi Zuairina tidak lagi fokus mengelola bisnis restoran bakso yang dirintisnya bersama suami tercinta. Keenam restoran bakso yang dikelolanya tutup satu persatu. Pada tahun pertama jabatan Irwan Prayitno sebagai gubernur, dua restoran bakso ditutup, tahun ketiga tutup lagi tiga restoran bakso, dan tahun keempat semuanya tutup.

Enam restoran bakso yang dikelola Hj. Nevi Zuairina terdapat di Blok M Square, Melawai, Mangga Dua, Mall Artha Gading, dan Pasar Senen Jakarta. Dan satu lagi adalah restoran bakso di Sawahan Padang. Pada keenam restoran bakso tersebut, Hj. Nevi Zuairina bertindak sebagai manajer, sedangkan Irwan Prayitno hanya mengawasi.

Anda bayangkan, satu restoran bakso tersebut beromset Rp100 juta perbulannya. Untuk satu restoran bakso keuntungan rata-rata yang diperoleh adalah Rp20 juta per bulan. Keenam restoran bakso itu setidaknya memberikan keuntungan Rp120 juta per bulan. Untuk mengurus keenam restoran bakso tersebut, Hj. Nevi Zuairina harus bangun subuh-subuh sekali, dan baru pulang ke rumah sekitar pukul 23.00 Wib.

Suatu pengorbanan yang cukup besar, demi amanah mendampingi suami bertugas sebagai gubernur, Hj. Nevi Zuairina harus rela usaha yang dirintisnya dari awal bersama sang suami harus tutup. Namun, bagi Irwan Prayitno dan Hj. Nevi Zuairina itu tidak menjadi persoalan, sebab mereka sepakat untuk fokus membangun Sumatera Barat pasca gempa dan mengabdikan diri di kampung halaman dengan meninggalkan usaha yang mereka rintis dan besarkan. Bagi mereka, Sumbar harus bangkit dan kembali menjadi daerah yang diperhitungkan di Indonesia.

 

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat jahil (bodoh).” (QS. Al Ahzab: 72). “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahuinya.” (QS. Al Anfaal: 27).
Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang

 

Bentengsumbar.com, 22 Oktober 2015

Rekaman Ceramah Agama Hampir 200 Judul

Rekaman Ceramah Agama Hampir 200 Judul

SEJAK kecil, Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, Psi, MSc, Datuk Rajo Bandaro Basa sudah dididik ilmu agama oleh kedua orang tuanya, Djamrul Djamal dan Sudarni Sayuti. Kedua orang tuanya merupakan dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang. Ayahnya Djamrul Djamal merupakan dosen Fakultas Syariah, dan ibunya Sudarni Sayuti adalah dosen Fakultas Tarbiyah.

Irwan Prayitno tidak pernah menempuh pendidikan formal di pesantren atau madrasah. Ilmu agama yang dia peroleh murni dari kedua orang tuanya. Orang tuanya menanamkan aqidah sejak kecil, Irwan Prayitno diperkenalkan dengan ritual Islam, seperti sholat, puasa, membaca Al Quran, zakat, dan ibadah sunnah. Irwan Prayitno pun dibiasakan untuk melaksanakan sholat dhuha dan tahajud.

Usai melaksanakan sholat maghrib berjamaah, orang tuanya mengajarkan Irwan Prayitno ilmu agama. Mulai dari soal-soal fiqih sampai kepada sejarah perjuangan Islam. Sebelum tidur, Irwan Prayitno pun diwajibkan membaca Al Quran, minimal satu halaman. Buku-buku agama pun dipasok orang tuanya untuk Irwan Prayitno. Orang tuanya sering membelikan Irwan Prayitno buku-buku agama untuk dipelajari.

Dalam pengasuhan kedua orang tuanya, Irwan Prayitno dibesarkan dengan memperkenalkan ajaran Islam. Walau tidak pernah belajar agama secara formal, Irwan Prayitno mampu mengembangkan ilmu agama yang dibekali orang tuanya sejak kecil. Memasuki bangku SMP dan SMA, Irwan Prayitno sudah bisa memberikan kuliah tujuh menit (kultum) di mushalla sekolah.

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bershabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) adalah bagi orang yang bertaqwa. (QS. Thaahaa: 132). Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Suruhlah anak-anakmu melaksanakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat itu jika berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud)
Pada saat kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, selain menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan kemahasiswaan, Irwan Prayitno banyak menghabiskan waktu di luar kampus untuk berdakwah. Irwan Prayitno aktif dalam diskusi-diskusi dakwah dan perhimpunan mahasiswa. Ia pernah bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jakarta. Selama keterlibatannya dengan HMI, ia merasakan gaya represif pemerintahan Soeharto terhadap pergerakan Islam. Pada 1984, ia naik sebagai Ketua HMI Komisariat Fakultas Psikologi UI.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104). “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An Nahl: 125).
Ketika menjabat Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno tetap melakoni aktivitas dakwahnya. Masyarakat sering mengundangnya untuk memberikan ceramah, baik itu ceramah Ramadhan, Khatib Jumat maupun Khatib Idul Fitri dan Idul Adha. Irwan Prayitno juga aktif memberikan ceramah kepada Aparatur Sipil Negera (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.

Selama menjadi Gubernur Sumbar, hampir seluruh mesjid dan surau di pelosok Sumbar sudah dikunjunginya untuk memberikan ceramah agama. Mulai dari masjid terbesar di Sumbar, yakni Masjid Raya Sumbar, hingga ke surau-surau di nagari terpencil hingga daerah perbatasan Sumbar. Selain bertujuan ingin menyampaikan dakwah agama, dengan berceramah ke mesjid dan surau, dirinya dapat bertemu langsung dan mengetahui kondisi masyarakatnya serta pembangunan yang dilaksanakan di seluruh pelosok Sumbar.

Tidak hanya ke masjid dan surau berceramah, Irwan Prayitno bahkan mengaku dirinya, juga banyak diundang oleh instansi pemerintah, swasta dan perbankan untuk memberikan ceramah dan tausiyah. Irwan Prayitno sangat menghargai undangan tersebut. Karena itu dirinya tidak bisa menolak. Semuanya demi dakwah dan syiarnya Agama Islam.

Dalam seminggu, Irwan prayitno mengaku dirinya dua hingga tiga kali berceramah. Ceramah-ceramah Irwan Prayitno sudah direkam dan kemudian di-CD-kan album rekamannya berceramah di berbagai acara. Sudah ada 200 judul ceramah dengan rekaman 8 volume. Sebagian juga sudah tersebar di Youtube.

Judul ceramahnya yang telah di-CD-kan di antaranya: Berbuat Baik, Sabar Sebagai Benteng Kehidupan, Nikmatnya Bersyukur, Pengendalian Diri Hikmah Puasa, Takwa Bekal Hidup Kami, Indahnya Kebersamaan, Keluarga Samara Idaman, Ridho Kepada Allah, Ketenangan Jiwa, Allah Segalanya, Puasa Melawan Hawa Nafsu, Belajar Seumur Hidup, Ramadhan Berkarakter, Berkah Berzakat, Pendidikan Anak, Islam Rahmatal Lil Alamin, Kesertaan Allah, Problema Umat, Keseimbangan Hidup, Saling Memaafkan, Ibadah Sepanjang Masa, Ilmu Allah swt, Islam Agama Sempurna, dan Nabi Muhammad Model Kehidupan, dan lainnya.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33). “Siapa saja yang melihat kemungkaran hendaknya ia mengubah dengan tangannya. Jika dengan tangan tidak mampu, hendaklah ia ubah dengan lisannya; dan jika dengan lisan tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya; dan ini adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).
Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang

 

Bentengsumbar.com, 21 Oktober 2015

Tudingan Ijazah Palsu, Penzaliman Kepada Pasangan IP-NA Terus Dilakukan

Tudingan Ijazah Palsu, Penzaliman Kepada Pasangan IP-NA Terus Dilakukan

AGAKNYA, black campaign (kampanye hitam) sudah menjadi budaya dalam pesta demokrasi di negeri ini. Tak hanya dalam proses Pemilihan Presiden (Pilres) tahun lalu, tetapi juga dalam alek demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), tak terkecuali Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Sumatera Barat yang akan digelar tanggal 9 Desember 2015.

Black campaign adalah bagian dari pendapat yang tanpa didasari fakta yang sesungguhnya dan bertujuan untuk menyerang dan menjatuhkan tokoh tertentu atau lawan politiknya. Black campaign erat kaitannya dengan informasi palsu atau berasal dari sumber yang tidak jelas (gosip) yang digunakan untuk menjelek-jelekkan, mempermalukan atau mendiskreditkan lawan politik. Biasanya informasi atau isu yang dimainkan terkait dengan isu yang menyangkut suku, agama atau ras, dan lain-lain.

Black campaign biasanya hanya tuduhan tidak berdasarkan fakta dan merupakan fitnah. Kondisi sebagian masyarakat yang masih mudah terprovokasi dianggap menjadi alasan mengapa black campaign masih ada. Di samping rendahnya kualitas moral dan pemahaman komunikasi politik si penyebar black campaign tersebut. Black campaign, selain merupakan ancaman bagi perkembangan demokrasi, tentu saja berbahaya bagi bangsa.

Alangkah elegannya kalau masing-masing pihak yang berkompetisi dalam meraih kursi kekuasaan melakukannya dengan cara-cara yang fair. Boleh jadi hal itu dilakukan dengan mengemukakan visi dan misi pro rakyat yang cukup realistis. Tentu saja, di samping semua itu, sosok yang berintegritas, cerdas, dan berjiwa melayani lebih dikedepankan.

 

“Dan Barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. An Nisa: 112).
Jika sebelumnya pembunuhan karakter Calon Gubernur (Cagub) Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, Psi, MSc, Datuk Rajo Bandaro Basa yang dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya melalui buku “kaleng” yang berjudul “Fakta Bukan Fitnah, Sumatera Barat di bawah Irwan Prayitno Tanpa Kemajuan”, kali ini pembunuhan karakter dan fitnah dilakukan terhadap Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Drs. H. Nasrul Abit dengan tuduhan ijazah palsu.

Dalam sebuah kesempatan, Irwan Prayitno pernah menjelaskan kepada penulis, tuduhan ijazah palsu yang dialamatkan kepada pasangannya Nasrul Abit dilakukan oleh orang-orang yang tidak ingin Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat berjalan dengan baik dan menghasilkan pemimpin yang baik dan barokah. Orang-orang tersebut menginginkan Pilkada Gubernur/Wakil Gubernur Sumatera Barat gagal dilaksanakan, karena tidak ingin dirinya kembali berkuasa sebagai Gubernur Sumatera Barat untuk periode kedua.

Berbagai upaya ditempuh mereka untuk menggagalkan Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat. Mulai dari menyebarkan isu dan fitnah tanda bukti yang jelas, rekening kampanye, mengadu pasangan calon ke Bawaslu, mengadu ke DPRD Provinsi Sumatera Barat, mengadukan KPU dan Bawaslu ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI, dan upaya lainnya. Padahal, Pilkada merupakan amanat konstitusi yang secara regulasi, peluang menggagalkan pilkada tersebut sangat kecil. Karena sejumlah aturan telah mengikat para calon, sebab semuanya sudah diatur sesuai dengan Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah Nomor 8 tahun 2015.

Bagi Irwan Prayitno, tuduhan ijazah palsu kepada Nasrul Abit tersebut hanyalah isapan jempol dan fitnah belaka. Bagian dari bentuk penzaliman yang dilakukan terhadap pasangan IP-NA. Sebab, tuduhan tersebut sudah berkali-kali dialamatkan kepada Nasrul Abit dan tidak pernah terbukti selama berkali. Apatah lagi, ijazah yang dipakai Nasrul Abit juga telah mengantarkan yang bersangkutan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), Wakil Bupati Pesisir Selatan, dan Bupati Pesisir Selatan dua kali periode.

Irwan Prayitno menegaskan, dalam mengikuti proses Pilkada 2015 ini, dirinya bersama Nasrul Abit berupaya mengikuti aturan yang ada. Tidak ada niat sedikit pun untuk menggunakan cara-cara yang melanggar undang-undang, termasuk tidak membalas semua fitnah dan black campaign. Dirinya hanya berusaha meluruskan setiap fitnah dan black campaign tersebut dengan penuh kesabaran. Namun, jika sudah melampaui batas, maka jalur hukum akan ditempuh.

Irwan Prayitno menyayangkan pihak-pihak yang berusaha menjegal pasangan IP-NA. Entah apa alasan mereka, namun yang pasti mereka tidak ingin pasangan IP-NA memimpin Sumatera Barat. Cara-cara keji yang mereka tempuh sudah kelewat batas, bahkan sudah masuk ke ranah pencemaran nama baik, black campaign, dan penghasutan. Dari sekian fitnah yang dialamatkan kepada pasangan IP-NA, baru kasus buku “kaleng” yang berjudul “Fakta Bukan Fitnah, Sumatera Barat di bawah Irwan Prayitno Tanpa Kemajuan” yang dilaporkan ke Polda Sumatera Barat, Kamis (15/10/15).

 

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa ifki (berita bohong) adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu.Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya, dan barangsiapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya adzab yang besar”. (An Nur: 11)
Rabu pagi (21/10/2015), Nasrul Abit bersama penasehat hukumnya dan tim pemenangan IP-NA melakukan jumpa pers menjelaskan dua persoalan, yaitu dugaan penggunaan ijazah palsu dan rekening kampanye. Pada kesempatan tersebut Nasrul Abit menegaskan, dirinya bukan pemegang ijazah palsu dan punya ijazah palsu. Dirinya menamatkan pendidikan di SD Air Haji tahun 1969, ST Balai Selasa tahun 1972, STM Kondya Padang tahun 1975, Diploma II AAN Bandar Lampung tahun 1986, dan Sarjana Universitas Bandar Lampung tahun 1988. Pada jumpa pers tersebut Nasrul Abit juga memperlihatkan semua ijazah asli yang dimilikinya kepada wartawan.

Persoalan muncul pada ijazah SD dan ST, di mana nama orang tua Nasrul Abit pada kedua ijazah tersebut berbeda. Menurut Nasrul Abit, nama orang tua aslinya adalah Abit, sebagaimana tercantum pada ijazah SD. Adapun nama Ali Umar yang tercantum pada ijazah ST merupakan pamannya yang bertindak sebagai Wali Murid ketika dirinya menempuh pendidikan di ST Balai Selasa. Pamannya inilah yang pada waktu itu membiayainya sekolah, dan Nasrul Abit mengaku tidak tahu atas perubahan nama wali murid yang tercantum pada ijazah ST tersebut. Nama Ali Umar tetap dipakai sebagai Wali Murid pada ijazah STM Kodya Padang. Untuk mengembalikan nama orang tuanya pada ijazah ST dan STM dari Ali Umar ke Abit, dirinya telah mengurus ke Pengadilan Negeri Painan dan telah keluar aktanya dari pengadilan bersangkutan dengan nomor 681/PDT.P/2012/PN.Pin pada tahun 2012.

Menurut Nasrul Abit, yang namanya pemakai ijazah palsu itu jika seseorang mendapat ijazah, tetapi tidak sekolah. Sedangkan dirinya sekolah dengan susah payah, karena kondisi keuangan keluarganya saat itu dalam masa sulit. Sampai saat ini, gedung tempat dia sekolah masih ada, cuma ST Balai Selasa yang berganti nama menjadi SMP Balai Selasa. Teman-teman sekolahnya juga masih ada, dan Akmaludin, Kepala Sekolah STM Kodya Padang ketika dia menuntut ilmu di sekolah tersebut juga masih ada. Dirinya juga masuk dalam kepengurusan Ikatan Alumni STM Kondya Padang. Walau dirinya sekolah di STM Kodya Padang, ijazah pada waktu itu dikeluarkan oleh STM Negeri 2 Padang.

Setelah diterima sebagai PNS pada Kanwil Depkes Provinsi Bandar Lampung, dirinya kuliah Diploma II di AAN Bandar Lampung tamat tahun 1986 dengan gelar Bachelor of Bussiness Administration (BBA). Kemudian Nasrul Abit melanjutkan pendidikan sarjana di Universitas Bandar Lampung tahun 1988. Untuk mendapatkan gelar S1, Nasrul Abit menempuh pendidikan selama dua tahun di Universitas Bandar Lampung. Dia memperoleh ijazah lokal, karena universitas swasta hanya boleh mengeluarkan ijazah lokal. Pada tahun 1989, baru dia memperoleh ijazah negara dari Kopertis.

Ijazah STM digunakan untuk masuk pegawai negeri sipil. Setelah menamatkan jenjang pendidikan S1, ijazah tersebut kemudian digunakan selanjutnya, termasuk ketika maju sebagai calon Wakil Bupati dan Bupati Pesisir Selatan. Berkali-kali Bawaslu menyelidiki laporan terkait ijazah tersebut, baik ketika maju sebagai Wakil Bupati dan Bupati Pessel, maupun ketika maju saat ini sebagai Cawagub Sumbar berpasangan dengan Irwan Prayitno sebagai Cagub. Dan Bawaslu pun sudah pula menyatakan semua ijazah yang dimiliki Nasrul Abit adalah sah, tidak ada persoalan sedikit pun. Makanya, jika masih ada pihak-pihak yang ingin mempersoalkannya, Nasrul Abit berniat menempuh jalur hukum dengan melaporkan yang bersangkutan kepada pihak Kepolisian, karena sudah termasuk pencemaran nama baik.

Menurut Nasrul Abit, darinya dari Pesisir Selatan masuk ke Provinsi Sumatera Barat melalui Pilkada Sumbar 2015 ini. Untuk itu dirinya tidak mungkin mengorbankan Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, Psi, MSc, seorang guru besar yang sudah diakui keilmuannya dan melahirkan banyak buku yang menjadi referensi banyak orang. Dirinya bukan tukang tipu ijazah, ijazah yang dimilikinya adalah sah. Bahkan Nasrul Abit menegaskan, silahkan dirinya diperiksa, jika dirinya terbukti memakai ijazah palsu, maka dia siap untuk dicoret sebagai Cawagub Sumbar. Ijazah yang dimilikinya didapat dengan susah payah sekolah dari jenjang SD sampai sarjana.

“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (QS. An Nur: 12).
Mengenai rekening kampanye, jelas Nasrul Abit, awalnya dibuat atas nama Irwan Prayitno dan Nasrul Abit. Namun setelah disampaikan kepada pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU), secara lisan KPU mengatakan harus atas nama tim sukses. Kemudian dibuat lagi rekening atas nama tim sukses, tetapi KPU menyatakan itu salah, dan harus atas nama pasangan calon. Pasangan IP-NA pun kembali memakai rekaning awal, jadi tidak ada masalah lagi.

Nasrul Abit menghimbau seluruh masyarakat Sumbar dan pendukung serta simpatisan pasangan calon IP-NA, supaya untuk tidak terpengaruh terhadap isu dan aksi demo yang semakin gencar dilakukan pihak lain menjelang waktu pencoblosan pada 9 Desember 2015. Selama ini memang dirinya hanya berdiam dalam menerima penzaliman ini, namun kali ini dirinya tidak dapat menerima tuduhan tersebut.

Robbanaa aatinaa min ladunka rohmatan wa hayyi lanaa min amrinaa rosyadaa. Laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadz dzolimin. Ya Allah, berilah rahmat pada kami dan beri kami petunjuk yang lurus serta sempurna. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zholim. Wallahu A’alam Bishawab.

Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang

 

Bentengsumbar.com, 21 Oktober 2015

Sabar Dalam Menghadapi Fitnah

Sabar Dalam Menghadapi Fitnah

KITA sering mendengar istilah “Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan”. Lantas, apa sih fitnah itu, sehingga sampai-sampai dikatakan lebih kejam dari pembunuhan? Dalam kamus Al-Munawwir fitnah adalah bermakna memikat, menggoda, membujuk, menyesatkan, membakar, menghalang-halangi, membelokkan, menyeleweng, menyimpang, dan gila. Bentuk jamak dari kata fitnah adalah Al-Fitan. Fitnah dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai suatu perkataan bohong atau tanpa dasar kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang, seperti menodai nama baik, kehormatan dan lain-lain.

Fitnah merupakan komunikasi kepada satu orang atau lebih yang bertujuan untuk memberikan stigma atas suatu peristiwa yang dilakukan oleh pihak lain berdasarkan atas fakta palsu yang dapat memengaruhi penghormatan, wibawa, atau reputasi seseorang. Hal terkait fitnah adalah pengumuman fakta yang bersifat pribadi kepada publik, yang muncul ketika seseorang mengungkapkan informasi yang bukan masalah umum, dan hal tersebut bersifat menyerang pribadi yang bersangkutan.

Dalam bahasa Al Quran, fitnah itu memiliki beragam makna: Azab (QS. Adz Dzariyat: 14), Siksaan (QS. An Nahl: 110), Kufur (QS. Al Baqarah: 217), Membakar dan Siksaan (QS. Al Buruj: 10), Cobaan dan Ujian (QS Al Ankabut: 2-3), Pembunuhan dan Kerusakan (QS. An Nisa: 101), Memalingkan dari Jalan Lurus (QS. Al Isra’: 73), Tipu Daya dan Kesesatan (QS. Ash Shaffat: 162), Dalih dan Penyebab (QS. Al An’am: 23), Gila dan Kelalaian (QS. Al Qalam: 6).

“Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.” (QS. Al Baqarah: 217). “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (QS. Al Buruj: 10). “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al Ankabut: 2-3).
Dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sumatera Barat 2015 ini, berbagai fitnah dan black campaign (kampanye hitam) kembali dialamatkan kepada sosok Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, Psi, MSc, Datuk Rajo Bandaro Basa. Fitnah dan black campaign tersebut tentu saja bertujuan untuk membunuh karakter Calon Gubernur (Cagub) yang berpasangan dengan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Nasrul Abit ini. Namun, apakah Irwan Prayitno marah? Tidak.

Irwan Prayitno bukanlah tipikal pemimpin yang suka marah. Sebab, marah dalam menghadapi persoalan sangat berdampak buruk kepada seseorang, terutama kepada kesehatan fisik dan mental. Menurut pakar psikologi ini, marah dapat menyebabkan stres dan ketidakbahagiaan, menyebabkan tekanan darah tinggi, membuat badan rentan terhadap peradangan dan nyeri otot, cepat letih, susah tidur, melemahkan kekebalan tubuh, menyebabkan isolasi sosial, menyebabkan detak jantung lebih cepat, meningkatkan hormon stres, mengakibatkan stroke, sakit kepala, masalah pernapasan, sering sakit, serangan cemas, depresi, dan gangguan pencernaan.

Orang yang suka marah besar kemungkinan memiliki kecenderungan lebih stres dan jauh dari rasa bahagia dibandingkan dengan orang lain. Dari stres akibat rasa marah, hal tersebut dapat menimbulkan tekanan darah tinggi, tekanan mental dan emosi yang semakin tidak terkendali. Saat marah, sebenarnya seketika tekanan darah meningkat dan irama napas menjadi cepat. Pada beberapa kasus, tekanan darah tinggi dapat menyebabkan sakit kepala mendadak.

Dalam ilmu kedokteran, pelepasan hormon yang disebut kortisol selama kemarahan diketahui menyebabkan otot untuk melenturkan dan menerima serangan energi dalam beberapa detik. Sehingga pada akhirnya, pelepasan berulang Kortisol memiliki efek negatif seperti membuat tubuh rentan terhadap nyeri otot dalam jangka panjang. Ekspresi kemarahan tentu membutuhkan energi. Dalam proses itu, hormon stres akan meningkat dan pada akhirnya akan menguras habis energi tubuh.

Pikiran negatif yang menguasai otak pastinya akan membuat si pemarah sulit untuk mendapatkan tidur yang berkualitas. Kerugian ini akan menyebabkan seseorang untuk lebih mudah terserang sakit kepala. Stroke otak terjadi ketika satu atau lebih pembuluh darah di otak pecah. Hal ini dapat terjadi ketika kemarahan membuat tekanan darah naik sangat tinggi. Stroke otak dapat membunuh atau melumpuhkan seketika.

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200). “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushshilat: 35).
Ini pulalah kuncinya, kenapa selama lima tahun memimpin Sumatera Barat, Irwan Prayitno tidak pernah sakit dan cuti. Dalam menghadapi persoalan yang muncul, termasuk fitnah kepada dirinya, Irwan Prayitno lebih memilih sikap sabar. Kesabaran bisa menjadi penolong yang akan menyelamatkan seseorang dari bahaya, baik bahaya dunia terlebih lagi bahaya akhirat. Sikap sabar akan mendatangkan keberuntungan bagi seseorang, apakah itu kesehatan, disukai orang, dan terutama mendapat pertolongan Allah swt dalam setiap persoalan yang dihadapi.

Menurut Irwan Prayitno, tak ada yang perlu diragukan dari janji Allah swt, karena Allah tak pernah dan tak akan pernah mengingkari janji-Nya. Tak ada yang perlu dibimbangkan lagi dari keberuntungan bagi orang-orang beriman yang sabar dan bertakwa, keberuntungan itu pasti datang, pasti akan mereka terima, baik di dunia maupun di akhirat. Kalau tidak di dunia, pasti di akhirat, asal mereka benar-benar beriman dan benar-benar sabar.

Para ulama mengungkapkan, bahwa setiap ujian dan cobaan pasti disertai dengan reward, rahmat dan pahala yang besar bagi orang yang bersabar, kuat dan bersyukur. Jika seseorang sabar dan ikhlas, semua tuduhan dan fitnahan ini dapat mengurangi atau menghapus dosa, menambah pahala, dan meningkatkan derajatnya di sisi Allah swt.

Imam Al-Ghazali mengatakan bahawa tukang fitnah tidak dapat dipercayai kata-katanya dan tidak diterima sedekahnya. Sesungguhnya fitnah ditegakkan di atas kedustaan, kedengkian dan kemunafikan. Kesemua sifat ini adalah tungku dapur kehinaan. Fakhr al-Din al-Razi dalam Mafatih al-Gaib mengatakan, fitnah yang berasal dari Allah di dalamnya mengandung hikmah, seperti anak-anak dan harta, sementara yang berasal dari manusia, mengandung malapetaka. Oleh karena itu Allah membenci manusia dengan berbagai fitnah yang dibuatnya, seperti pembunuhan, peperangan dan lain-lain.

Adalah kerugian besar bagi orang yang suka memfitnah, melakukan kezaliman, mencaci-maki, menuduh-nuduh dan perbuatan aniaya. Perilaku tersebut akan dapat membangkrutkan seseorang, karena semua pahalanya habis diambil untuk menebus perbuatan aniaya tadi, dan jika belum cukup, dosa-dosa orang yang dianiaya tadi ditimpakan kepadanya, sehingga dia menjadi orang yang bangkrut di akherat kelak.

“Telah berkata kepada kami Qutaibah bin Sa’id dan Ali bin Hujr, mereka berdua berkata: Telah berkata kepada kami Isma’il (yaitu Ibnu Ja’far), dari Al ‘Ala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Tahukah kalian siapa orang yang pailit (bangkrut)? Para sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta.” Nabi berkata: “Sesungguhnya orang yang bangkrut di umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala) shalat, puasa, dan zakat; akan tetapi dia datang (dengan membawa dosa) telah mencaci si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini, dan memukul si itu; maka si ini (orang yang terzhalimi) akan diberikan (pahala) kebaikannya si ini (pelaku kezhaliman), dan si ini (orang yang terzhalimi lainnya) akan diberikan kebaikannya si ini (pelaku kezhaliman). Jika kebaikannya telah habis sebelum dituntaskan dosanya, maka (dosa) kesalahan mereka diambil lalu dilemparkan kepadanya kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Muslim No. 2581). Dalam hadis lain, Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan masuk syurga pembawa fitnah.” (HR. Bukhari-Muslim).
Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang

 

Bentengsumbar.com, 20 Oktober 2015

Inspirasi “Irwan Prayitno” untuk Negeri Dibedah Dr. Asrinaldi

Inspirasi “Irwan Prayitno” untuk Negeri Dibedah Dr. Asrinaldi

SENIN siang (19/10/2015), Toko Buku Sari Anggrek mengadakan bedah buku “Inspirasi Untuk Negeri”. Buku setebal 445 halaman tersebut merupakan karya Prof. Dr. H Irwan Prayitno, Psi, MSc, Datuk Rajo Bandaro Basa, mantan Gubernur Sumatera Barat periode 2010-2015. Kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan, di antaranya insan pers, tokoh masyarakat, mahasiswa, dan tokoh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di daerah ini. Bertindak sebagai narasumber bedah buku tersebut adalah Dr. Asrinaldi, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Andalas (Unand), dan moderator Miko Kamal.

 

“Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis.” (QS. Al Qalam: 1). “Tuhan yang mengajari manusia menulis dengan pena.” (QS. Al ‘Alaq: 4). “Dia memberikan Al hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi karunia yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran selain orang-orang yang berakal.” (QS. Al Baqarah: 269).
Sebagai pembedah buku, Asrinaldi mengaku tidak mau menyentuh aspek politik. Sebab, akan terlalu jauh kalau dirinya masuk dalam konteks politik. Asrinaldi menegaskan, posisinya hanya dalam konteks akademik. Menurutnya, secara konteks akademik, apa yang ditawarkan Irwan Prayitno dalam bukunya sangat menarik karena tidak hanya mengungkapkan persoalan, tetapi sekaligus menawarkan solusi terhadap berbagai persoalan yang ada dan dihadapi Sumatera Barat.

Menarik untuk dicermati, jelas Asrinaldi, buku ini merupakan kumpulan artikel Irwan Prayitno yang dipublikasi di pelbagai media massa tahun 2011-2013 (beberapa artikel ditambahkan di edisi ke-2 tahun 2014). Satu hal yang penting disampaikan bahwa buku ini secara umum menggambarkan bagaimana “kegelisahan” seorang pemimpin dalam melihat negeri yang dipimpinnya agar bisa keluar dari setiap masalah yang dihadapi.

Oleh karena buku ini ditulis ketika beliau menjabat sebagai Gubernur yang pada saat itu sedang menghadapi masalah yang cukup berat. Gempa besar yang terjadi tanggal 30 September 2009 telah meluluhlantakan semua infrastruktur dan sarana publik. Tentu bukanlah hal yang mudah membangun negeri bagi pemimpin baru ketika menghadapi kondisi ini. Realita telah membuktikan bahwa negeri yang sedang dihadapi bencana memang membutuhkan pemimpin yang kuat dan visioner untuk membangun kembali negerinya.

 

Secara implisit, sebenarnya buku ini bercerita tentang seorang pemimpin dengan kepemimpinanya dalam melaksanakan tugas yang dilaksanakan karena tanggung jawabnya sebagai kepala daerah. Banyak contoh bagaimana gagasan dan pemikiran Irwan Prayitno pada akhirnya menjadi kebijakan yang dilaksanakannya secara konsisten sehingga menjadi keberhasilan yang dapat dinikmati oleh masyarakat Sumatera Barat.
Berbagai usaha dilakukan oleh Irwan Prayitno sebagai gubernur untuk membangun kembali Sumatera Barat pasca gempa berkekuatan 7,9 skala Richter tersebut. Berbagai bantuan mengalir datang ke Sumatera Barat termasuk dari pemerintah pusat yang mengucurkan dana sebesar Rp2,7 triliun lebih di tambah dengan bantuan asing untuk rehab dan rekon. Tentu bukanlah hal yang mudah menyusun skala prioritas ke mana uang tersebut harus dialokasikan. Belum lagi persoalan di lapangan yang masih penuh dengan ketidakmenentuan karena ketakutan terjadinya gempa susulan.

Di sinilah dibutuhkan kepemimpinan yang kuat dari seorang gubernur yang baru terpilih untuk menenangkan warganya dan memberi harapan baru untuk Sumatera Barat yang lebih baik. Tanpa disadari dalam jangka waktu lima tahun sejak dilantik, Sumatera Barat berhasil keluar dari “keterpurukan” sehingga menjadi provinsi yang tetap disegani di Indonesia. Ini dapat dibuktikan dengan berbagai keberhasilan yang dicapai oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten di tingkat nasional.

Khusus untuk keberhasilan provinsi Sumatera Barat paling tidak dibuktikan dengan penghargaan terhadap kinerja di bidang tertentu dari pemerintah pusat yang telah mencapai 206 buah. Berbagai bukti ini secara umum sudah dijelaskan khusus dalam Bab Sumbar Bangkit, terutama pencapaian dalam bidang ivestasi, pertumbuhan ekonomi yang stabil, pengentasan kemiskinan dan lain sebagainya. Hal lain yang juga mendapat perhatian adalah peningkatan kualitas SDM di Sumatera Barat.

Jamak diketahui, dalam penyelenggaraan pemerintahan yang sedang dihadapi masalah, seorang pemimpin dituntut tanggap dan leluasa bertindak untuk segera menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakatnya. Inilah yang dilakukan oleh Irwan Prayitno selama menjadi Gubernur Sumatera Barat.

 

“Menurut saya, apa yang ditulis dalam buku ini sesungguhnya menggambarkan dua hal yang penting untuk dipahami. Pertama, bahwa semua tindakan Irwan Prayitno sebagai kepala daerah justru berdasarkan pada pemikiran dan pemahaman yang mendalam terhadap realita masalah yang dihadapinya. Kedua, tulisan yang ada dalam buku ini juga menjadi dasar pijakan awal kebijakan Irwan Prayitno untuk direncanakan dan dikembangkan oleh SKPD sehingga menjadi tindakan nyata,” ungkap Asrinaldi.
Kedua dimensi di atas dapat dilihat dari tulisan Irwan Prayitno, misalnya, bagaimana meningkatkan kesejahteraan petani yang menjadi basis membangun ekonomi masyarakat yang terpuruk akibat gempa 30 September 2009 tersebut. Dalam buku ini Irwan Prayitno menyadari bahwa hampir 50 persen masyarakat di Sumatera Barat hidup dari sektor pertanian. Karenanya membangkitkan ekonomi haruslah dari apa yang menjadi pekerjaan pokok masyarakat Sumatera Barat pada umumnya (hal 72-76).

Satu hal yang patut disampaikan bahwa buku ini memang berisi tulisan yang inspiratif bagi pembacanya untuk bisa berbuat lebih baik lagi untuk dirinya dan lingkungan sekitarnya. Tentu dengan mencontoh pada perumpamaan dan gagasan yang ditulis Irwan Prayitno dalam beberapa bagian dalam buku ini.

Apalagi buku ini secara tidak langsung juga menegaskan pencapaian yang sudah dilakukan Irwan Prayitno selama menjadi Gubernur Sumatera Barat periode 2010-2015. Ini juga dapat menjadi inspirasi bagi pembacanya. Walaupun tidak cukup ruang untuk menjelaskan semua pencapaian tersebut, paling tidak dengan membaca buku ini, orang semakin paham bagaimana sesungguhnya Sumatera Barat ini di bawah kepemimpinan Irwan Prayitno. Begitu juga, buku ini sebenarnya juga merefleksikan bagaimana Sumatera Barat ini ke depan, terutama dalam menghadapi tantangan yang semakin berat, jelas Asrinaldi.

Pada kesempatan bedah buku tersebut, Irwan Prayitno menegaskan, buku “Inspirasi Untuk Negeri” tidak bertujuan untuk membantah buku yang berjudul “Fakta Bukan Fitnah, Sumatera Barat di Bawah Irwan Prayitno Tanpa Kemajuan” yang dituding berisi fitnah terhadap dirinya. Sebab, buku “Inspirasi Untuk Negeri” diterbitkan terpisah. Buku “Inspirasi untuk Negeri” ditulis Irwan Prayitno semasa masih menjabat sebagai Gubernur Sumbar dan diterbitkan pada tahun 2013.
Hanya kebetulan saja bedah bukunya dilakukan saat ini yang diinisiatori oleh pengelola Sari Anggrek, Miko Kamal. Tetapi Irwan Prayitno mengakui kumpulan artikel dalam buku tersebut memang menggambarkan kinerja dan karya nyatanya selama lima menjabat Gubernur Sumatera Barat.

Dalam buku “Inspirasi Untuk Negeri” tersebut ada berbagai topik dan isu yang ditulis Irwan Prayitno, di antaranya politik, ekonomi, pendidikan, agama, sosial budaya, olahraga dan lingkungan hidup. Kalau buku tersebut dianggap menjawab pertanyaan masyarakat tentang apa yang telah dirinya kerjakan selama memerintah, itu adalah hak orang untuk menafsirkan demikian.

Sementara itu, Direktur Eksekutif LSM Mamak Ranah Minang, Syahrial Aziz mengatakan, walau buku “Inspirasi Untuk Negeri” bukan bertujuan untuk membantah buku “Fakta Bukan Fitnah, Sumatera Barat di Bawah Irwan Prayitno Tanpa Kemajuan” yang ditulis oleh orang yang tidak bertanggungjawab dan pengecut karena tidak berani mencantumkan namanya sebagai penulis, tetapi buku tersebut bisa sebagai jawaban atas pertanyaan masyarakat terhadap kinerja dan karya nyata Irwan Prayitno selama lima tahun menjadi Gubernur Sumatera Barat.

Apatah lagi, buku-buku tersebut berisi artikel yang berbobot, tak hanya mengungkapkan permasalahan yang dihadapi dalam membangun Sumatera Barat, tetapi juga berisi jawaban terhadap permasalahan tersebut. Bagi masyarakat Sumatera Barat yang ingin mengetahui kinerja dan karya nyata Irwan Prayitno selama menjabat Gubernur Sumatera Barat dapat membaca buku tersebut.

Syahrial Aziz menganjurkan publik Sumatera Barat untuk membaca buku tersebut jika ingin informasi yang berimbang terhadap fitnah yang dilontarkan pihak-pihak tak bertanggungjawab dan pengecut terhadap Irwan Prayitno. Selaku Pemimpin Redaksi Tabloid Bijak dan TabloidBijak.com, Syahrial Aziz sendiri mengaku akan melaporkan penulis buku tersebut ke Polda Sumatera Barat karena telah mencatut berita di medianya tanpa izin dan dipenggal sedemikian rupa, sehingga membuat orang salah tafsir terhadap maksud berita tersebut.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6). “…dan barangsiapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya adzab yang besar.” (QS. An Nur: 11).
Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang

 

Bentengsumbar.com, 19 Oktober 2015

 

Irwan Prayitno Sering Diminta Jadi Saksi Nikah

Irwan Prayitno Sering Diminta Jadi Saksi Nikah

ISLAM sebagai ajaran yang sesuai dengan fitrah, telah mensyariatkan adanya pernikahan bagi setiap manusia. Dengan pernikahan seseorang dapat memenuhi kebutuhan fitrah insaniyahnya (kemanusiaannya) dengan cara yang benar sebagai suami isteri, lebih jauh lagi mereka akan memperoleh pahala disebabkan telah melaksanakan amal ibadah yang sesuai dengan syariat Allah swt.

Pernikahan dalam pandangan Islam, bukan hanya sekedar formalisasi hubungan suami isteri, pergantian status, serta upaya pemenuhan kebutuhan fitrah manusia. Pernikahan bukan hanya sekedar upacara sakral yang merupakan bagian dari daur kehidupan manusia. Pernikahan merupakan ibadah yang disyariatkan oleh Allah swt melalui Rasul-Nya, maka tidak diragukan lagi pernikahan adalah bukti ketundukan seseorang kepada kekuasaan Allah swt.

 

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar Rum: 21). “Allah menjadikan bagi kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri dan menjadikan bagi kalian dari istri-istri kalian itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?” (QS. An Nahl: 72).
Sebagaimana kebutuhan lainnya dalam kehidupan ini, kebutuhan biologis sebenarnya juga harus dipenuhi. Agama Islam juga telah menetapkan bahwa satu-satunya jalan untuk memenuhi kebutuhan biologis manusia adalah hanya dengan pernikahan, pernikahan merupakan satu hal yang sangat menarik jika kita lebih mencermati kandungan makna tentang masalah pernikahan ini.

Pernikahan merupakan sunnatullah dalam setiap makhluk dan semua makhluk pasti melakukan hubungan perkawinan, baik manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Pernikahan adalah aturan Allah swt dan jalan terbaik untuk melestarikan kehidupan serta untuk memperoleh keturunan sehingga tatanan kehidupan tetap eksis dan berkelanjutan.

Di dalam Al Quran telah dijelaskan bahwa pernikahan ternyata juga dapat membawa kedamaian dalam hidup seseorang. Ini berarti pernikahan sesungguhnya bukan hanya sekedar sebagai sarana penyaluran kebutuhan seks namun lebih dari itu pernikahan juga menjanjikan perdamaian hidup bagi manusia di mana setiap manusia dapat membangun surga dunia di dalamnya. Semua hal itu akan terjadi apabila pernikahan tersebut benar-benar di jalani dengan cara yang sesuai dengan jalur yang sudah ditetapkan Islam.

Sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk berusaha menyempurnakan ibadahnya semaksimal mungkin, tak terkecuali dengan sebuah proses dan kegiatan pernikahan. Kesemuanya itu dilakukan agar hikmah dan berkah ibadah dari ibadah itu dapat dirahmati oleh Allah swt. Islam mengajarkan bagaimana mewujudkan sebuah pesta pernikahan yang meriah, namun tetap mendapatkan berkah dan tidak melanggar tuntunan sunnah Rasulullah saw, begitu pula dengan pernikahan yang sederhana namun tetap penuh dengan pesona.

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya, dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak…” (QS. An Nisa: 1). “Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqan: 74).
Adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi kedua mempelai dan orang tua mereka, jika dalam prosesi pernikahan disaksikan oleh orang-orang yang mereka anggap istimewa. Di samping oleh sanak keluarga, biasanya untuk menjadi saksi nikah mereka meminta khusus orang-orang tertentu, semisal Ketua RT, Ketua RW, Lurah, Camat, Bupati/Walikota/Gubernur atau tokoh masyarakat lainnya.

Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa seringkali diminta menjadi saksi pernikahan, baik ketika menjadi anggota DPR RI, dan Gubernur Sumatera Barat, maupun setelah tidak lagi menjabat gubernur. Jumat kemaren (16/10/2015), Irwan Prayitno kembali diminta menjadi saksi pernikahan dr. Irfan Deliandra dan dr. Syifa Mardhatilah Syafitri. Kehadiran Irwan Prayitno sebagai saksi pernikahan mereka memiliki arti dan makna tersendiri bagi kedua mempelai dan keluarga besar mereka.

Tak hanya menjadi saksi nikah, Irwan Prayitno juga didaulat memberikan khotbah nikah. Dalam khotbah nikahnya, Irwan Prayitno mengingatkan kedua mempelai agar meledani kehidupan rumah tanggal Rasulullah saw. Sebagai seorang muslim sudah selayaknya menjadikan Rasulullah sebagai panutan dalam berbagai hal termasuk dalam berumah tangga. Dengan berharap bisa menjadi suami atau ayah yang baik terhadap istri dan anaknya, maka sudah seharusnya meneladani prilaku Rasulullah saw terhadap keluarganya.

Sebuah pepatah untuk para suami mengatakan, “Jika kamu ingin istrimu menjadi seperti Khadijah, maka jadilah kamu seperti Muhammad untuknya!” Rasulullah memang merupakan teladan ideal tentang bagaimana seharusnya seorang suami memperlakukan istrinya. Sesungguhnya, untuk keluar dari kemelut rumah-tangga, untuk terbebas dari belitan disharmoni suami-istri, hanya satu solusi yang tersedia, yaitu meneladani sunnah Rasulullah saw dalam mengelola dan menakhodai kehidupan rumah-tangganya. Ucapan, tindakan, serta sikap Rasulullah dalam membina dan mengelola rumah-tangganya merupakan contoh terbaik bagi para suami, kapan dan di mana pun.

“Sebaik-baik di antara kamu adalah yang terbaik kepada keluarganya, dan aku adalah sebaik-baik di antara kamu terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi). “Aku diberi rezeki berupa rasa cinta kepada istriku.” (HR Muslim). “Suatu saat Shafiyah safar bersama Rasulullah, saat itu adalah hari gilirannya. Dia ketinggalan (rombongan) karena untanya berjalan lambat, lalu menangis. Maka Rasulullah datang mengusapkan air mata dengan kedua tangannya kemudian berusaha membuat Shafiyah berhenti menangis.” (HR. Nasa’i). “Bahkan suapan yang kamu angkat ke mulut istrimu, itu bernilai sedekah untukmu.” (HR Bukhari).
Menurut Irwan Prayitno, sungguh sempurna keteladanan yang dicontohkan Rasulullah saw. Sungguh indah apa yang diperagakan Sang Nabi. Sungguh mengagumkan apa yang beliau teladankan untuk umatnya. Pribadi agung dan mulia itu tidak canggung menunjukkan cinta dan kemesraannya terhadap para istrinya. Dalam rangka memupuk romantisme dan harmoni rumah tangga, Rasulullah saw kerap mengecup kening istrinya.

Tujuan utama pernikahan adalah membina rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah, seorang suami harus mampu memberikan ketenangan kepada istrinya. Suami mampu memberikan kasih sayang yang sempurna dan ketenangan bagi istri jika dia berada di luar rumah. Untuk mewujudkan rumah tangga yang mawaddah, seorang istri harus mampu memberikan cinta yang tulus dan ikhlas kepada suaminya. Kesetiaan seorang istri merupakan jaminan yang dibutuhkan seorang suami, sehingga dia mampu menjadi suami dan ayah yang baik bagi istri dan anaknya. Jika sakinah dan mawaddah sudah tercipta dengan baik, maka rahmat Allah akan turun di tengah-tengah keluarga tersebut. Apakah itu berupa keturunan yang sholeh dan sholehah atau berupa harta yang melimpah dan serba berkecukupan atau yang lainnya, sebab rahmat Allah itu Maha Luas.

Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang/Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Bentengsumbar.com, 19 Oktober 2015

Selama Menjabat Gubernur 5 Tahun Tidak Pernah Tidur Siang

Selama Menjabat Gubernur 5 Tahun Tidak Pernah Tidur Siang

MENJADI Gubernur Sumatera Barat yang dalam keadaan porak-poranda pasca gempa tahun 2009 tentulah tidak mudah. Tantangan makin bertambah akibat kondisi ekonomi global yang sedang morat-marit, kriminalitas makin meningkat, dekadensi moral di mana-mana dan masih ditambah lagi dengan gelombang euforia reformasi.

Irwan Prayitno dilantik menjadi Gubernur Sumatera Barat oleh Mendagri Gamawan Fauzi atas nama Presiden RI tanggal 15 Agustus 2010 di garasi kantor DPRD Sumbar. Kantor DPRD saat itu sedang mengalami rusak berat dan tidak bisa digunakan akibat gempa September 2009. Sekitar 20.000 rumah penduduk dan ratusan fasilitas umum di Sumatera Barat saat itu rusak total. Sumbar nyaris lumpuh total. Banyak masyarakat, termasuk investor eksodus, lari menyelamatkan diri ke luar Sumatera Barat.

Pemerintah Sumatera Barat di bawah pimpinan Gubernur Irwan Prayitno, Pemerintah Pusat, Pemerintah Kota dan Kabupaten, swasta, perantau, masyarakat Internasional bekerja keras bahu membahu menyelesaikan masalah ini dan berbagai dampak lain yang ditimbulkan. Tata kerja yang baik, transparan dan akuntabel dalam pengelolaan bencana membuat Sumatera Barat mendapat 3 penghargaan sekaligus dari BNPB. Sumbar makin dipercaya, prestasi itu pulalah yang menyebabkan BNPB memberikan perhatian khusus dan dana makin banyak dikucurkan ke daerah ini.

Bagi Irwan Prayitno semua tantangan tersebut tidak membuat ia mundur, tapi malah membuat adrenalinnya terpacu untuk bekerja keras dan bekerja cerdas. Semua kepala SKPD wajib mengaktifkan HP 7 x 24 jam, artinya siap menerima tugas dan ditugaskan kapanpun, termasuk di hari libur. Juga baru kali ini dalam sejarah, selama Gubernur IP, rapat-rapat dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu (hari libur) agar tidak menyita jam kerja rutin.

Seluruh jiwa dan raganya dibaktikan untuk masyarakat Sumbar. Komitmennya untuk masyarakat Sumbar, diwujudkannya dengan kerja keras. Sebagai pribadi yang sudah ‘mewakafkan’ dirinya untuk masyarakat Sumbar, waktu kerja yang ditetapkan pemerintah lima hari tidak cukup. Irwan Prayitno tetap bekerja hari Sabtu dan Minggu demi melayani masyakakat. Bahkan dalam lima tahun menjabat Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno tidak pernah mengambil cuti.

Tak hanya itu, selama menjabat Gubernur Sumatera Barat selama lima tahun, Irwan Prayitno tidak pernah tidur siang. Sebagaimana diungkapkan Asben Hendri, Kepala Biro Umum Setdaprov Sumatera Barat, selama bergaul dengan Irwan Prayitno dirinya tidak pernah melihat Irwan Prayitno tidur siang. Bahkan Asben Hendri tidak tahu kapan Irwan Prayitno tidur, sebab jam satu malam pun, Irwan Prayitno masih siap melayani siapa pun yang berurusan dengannya.

“Entah kapan beliau tidur. Selama bergaul dengan beliau, saya tidak pernah melihat beliau tidur siang. Jam satu malam pun, jika saya ada urusan, beliau masih siap melayani. Subuh-subuh pun, beliau terlihat sudah bangun. Kemungkinan beliau tidur dan istrirahat sekitar pukul 02.00-04.00 WIB,” ungkap Asben Hendri.
Hal senada juga diakui oleh Zardi Syahrir. Kepala Bagian Penerangan Biro Humas Setdaprov Sumatera Barat ini menceritakan, selama bergaul dengan Irwan Prayitno di Pemprov Sumatera Barat, dia tidak pernah melihat sang Datuk tidur siang. Paling banter, Irwan Prayitno tidur siang dalam perjalanan menuju atau sekembali dari daerah kunjungan.

Tahun pertama menjadi gubernur Sumbar merupakan ujian paling berat bagi Irwan. Dalam keadaan daerah yang porak-poranda pascagempa plus suasana transisi pasca reformasi. Dari pagi hingga larut malam silih berganti tamu yang datang, baik dari unsur pemerintahan maupun non pemerintah. Semua membawa dan menyampaikan masalah, datang satu, lalu datang satu lagi, begitu terus silih berganti dari pagi hingga larut malam. Semua mengadu dan menceritakan masalah. Kacau balau sekali kelihatannya.

Namun dengan kepala dingin, seperti mengurai benang kusut, satu per satu dibenahi oleh Irwan Prayitno. Tim pemprov diberi motivasi, sistem dibenahi dan dibuat. Sebagai profesor bidang SDM, Irwan melakukan tes pemetaan potensi untuk mengetahui kualitas semua pegawai pemprov serta mengetahui posisi mana yang tepat untuk mereka masing-masing. Kepala SKPD diminta untuk berfikir out of the box (di luar kebiasaan), agar bisa menyelesaikan masalah-masalah dan tantangan yang super berat saat itu. Rekrutmen pegawai dilakukan dengan serius tanpa tedeng aling-aling. Sistem dibuat agar pekerjaan berjalan baik lancar dan efisien.

Ternyata kondisi yang dalam serba transisi itu bisa berubah, masalah demi masalah bisa diurai dan diselesaikan, sistem mulai berjalan. Sumatera Barat berhasil bangkit kembali. Mungkin Tuhan punya rencana sendiri, pertumbuhan ekonomi Sumatera barat pascagempa malah semakin meningkat, justru jauh lebih tinggi dibanding sebelum gempa, Sumatera Barat makin mendapat perhatian baik nasional maupun internasional.

Dalam lima tahun masa jabatan Irwan, pemerintah Sumatera Barat mendapat apresiasi, memperoleh 204 lebih penghargaan tingkat nasional maupun internasional. Itu artinya pemprov Sumbar mendapat penghargaan setiap seminggu sekali. Semua SKPD berlomba-lomba untuk mengukir prestasi. Status WTP (wajar tanpa pengecualian), penilaian paling bergengsi di bidang keuangan dan anggaran, berhasil diperoleh untuk pertamanya pada tahun 2013. Kemudian berlanjut pada tahun 2014, dan 2015.

Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang/Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Bentengsumbar.com, 17 Oktober 2015

Surat Hanya Semalam di Meja Gubernur

Surat Hanya Semalam di Meja Gubernur

SELAMA menjabat Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa selalu memberi kemudahan bagi staf kantor gubernur dalam berurusan dengannya. Tak seperti kebanyakan pejabat lainnya, Irwan Prayitno tidak suka menunda-nunda pekerjaan demi jalannya roda pemerintahan. Di mana pun, asalkan telah memenuhi syarat secara administrasi, maka Irwan Prayitno akan menandatangani surat yang disodorkan kepadanya.

Kebanyakan kepala daerah atau pejabat di negeri ini, sering menunda-nunda pekerjaan, terutama dalam administrasi pemerintahan. Jangankan rakyat kecil, stafnya pun sering jengkel diakibatkan surat yang dia urus tak kunjung ditandatangani pejabat yang bersangkutan. Pernah ada cerita di suatu daerah, pejabat yang ditunjuk sementara menjadi kepala daerah dan tinggal di Jakarta, surat menyurat administrasi pemerintahan terkendala di tangannya.

Parahnya lagi, surat yang diantarkan langsung oleh staf ke Jakarta untuk ditandatangani, tidak semuanya dia tandatangani dengan alasan harus dia baca seluruhnya satu persatu. Alamat staf pulang dengan penuh kekecewaan, dan proses administrasi pemerintahan terkendala yang berdampak terganggunya kegiatan yang berkenaan dengan surat tersebut.

 

Dari Abdur Rahman bin Auf, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Menunda-nunda (pekerjaan) itu adalah pancaran setan yang disisipkan ke dalam hati orang-orang mukmin.” (HR. Dailami)
Tapi berbeda dengan Irwan Prayitno. Tokoh yang sedang kita bicarakan ini, ketika menjabat Gubernur Sumatera Barat tidak pernah mempersulit urusan surat menyurat anak buahnya. Semua surat yang masuk kepadanya diproses dengan cepat, asalkan persyaratannya sudah lengkap dan sesuai prosedur tetap (protap) lalu lintas surat tersebut, yaitu paraf dan tandatangan pejabat yang bersangkutan telah dibubuhkan pada surat tersebut.

Zardi Syahrir, Kepala Bagian penerangan Biro Humas Setdaprov Sumatera Barat menceritakan pengalamannya kepada penulis. Selama menjadi Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno tidak pernah mempersulit bawahannya dalam berurusan. Menurutnya, Irwan Prayitno tidak pernah memperlambat pekerjaan. Semua urusan dipermudah, termasuk dalam hal surat menyurat sekali pun. Kapan saja akan ditandatangani Irwan Prayitno, asalkan suratnya jelas dan telah sesuai dengan aturan yang berlaku.

Senada dengan itu, Asben Hendri, Kepala Biro Umum Setdaprov Sumatera Barat mengaku, setiap surat yang dia ajukan kepada Irwan Prayitno selaku gubernur diproses dengan cepat. Tidak pernah surat bermalam-malam di meja gubernur, paling lama hanya semalam, besok paginya langsung keluar dan diantar petugas kepada Asben Hendri. Prosesnya pun tidak berbelit-belit, praktis dan cepat.

Begitulah karakter Irwan Prayitno, segala sesuatu dilakukan secara serius dan cepat. Jika ada masalah, maka akan diselesaikan dengan cepat saat itu juga, tanpa menunda-nunda. Tidak ada surat yang tertunda di meja kerja beliau, satu hari selesai dan bisa ditandatangani dimana saja, kapan saja.
Jika tidak langsung diselesaikan saat itu juga, nanti akan datang lagi pekerjaan baru dan seterusnya. Akhirnya pekerjaan itu menumpuk, makin lama makin menggunung. Karena itu Irwan tak mau menunda-nunda pekerjaaan dan tak pernah ada surat yang terunda dan menumpuk di mejanya. Satu kali karena banyaknya kegiatan, pernah Irwan menandatangani surat dan membuat disposisi di mobil dalam perjalanan dinas ke daerah. Lalu surat tersebut dititipkan di mapolsek terdekat di dalam perjalanan, untuk dijemput segera oleh staf.

Sebagai orang yang paham ajaran agamanya dengan baik, Irwan Prayitno mengetahui Islam mencela orang yang suka mengulur-ulur atau menunda pekerjaan yang dapat dikerjakan dengan segera karena sifat seperti ini merupakan bagian dari perbuatan setan. Sebaliknya, Islam menyukai seorang muslim yang segera melaksanakan pekerjaannya sehingga ia terlepas dari jeratan setan yang membisikkan kemalasan kepada dirinya. Makanya, Irwan Prayitno tidak suka menunda-nunda pekerjaan yang menjadi beban tugasnya selaku pemimpin.

Irwan Prayitno bukanlah sosok pejabat yang suka dilayani, bak raja dilayani budaknya. Irwan Prayitno lebih suka bergaul dengan pejabat di bawahnya tanpa ada batas, namun tetap menjaga kepatutan. Irwan Prayitno bahkan sering mengajak Kepala Satuan Perangkat Daerah (SKPD) makan siang bersama di rumah dinas, dan bencengkarama dengan mereka terhadap berbagai persoalan, termasuk tugas kerja yang akan, sedang dan sudah dilaksanakan.

 

Kepala Dinas Sosial Sumatera Barat H. Abdul Gafar pernah bercerita kepada penulis, dalam keseharian Irwan Prayitno lebih banyak tampil apa adanya, tanpa ada aturan protokoler yang mengikat secara ketat. Gafar termasuk salah seorang Kepala SKPD yang sering diajak Irwan Prayitno makan di rumah dinas dan membicarakan persoalan pekerjaan dalam suasana santai. Tak jarang, Irwan Prayitno bertanya kepada Gafar terhadap suatu persoalan yang belum dia pahami dengan baik dan dengan senang hati Gafar pun menjelaskannya secara rinci.
Namun, bukan berarti Irwan Prayitno tidak serius dalam menangani pekerjaan. Dia tipikal pejabat yang tidak suka menunda-nunda pekerjaan. Sedekat apa pun dia dengan bawahannya, kalau menyangkut pekerjaan, dia akan tetap serius dan memberikan arahan agar pekerjaan itu dapat dilaksanakan dengan baik, tanpa menimbulkan persoalan dikemudian hari.

Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang/Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Bentengsumbar.com, 17 Oktober 2015s

Syarat Pemimpin: Quwwatul Amin, Hafizul Alim, dan Raufun Rahim

Syarat Pemimpin: Quwwatul Amin, Hafizul Alim, dan Raufun Rahim

IRWAN Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa, Ninik Mamak Nagari Pauh IX Kecamatan Kuranji Kota Padang mengajak Anak Nagari Pauh IX untuk tetap menjaga kekompakan, walau berbeda pilihan dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sumatera Barat tanggal 9 Desember 2015 mendatang. Menurutnya, berbeda pilihan dalam berdemokrasi merupakan suatu kewajaran, karena banyak alasan dalam menentukan pilihan, misalnya karena faktor sekampung, gaya kepemimpinan, umur, ketegasan, dan segala macamnya.

Hal itu disampaikan Irwan Prayitno ketika menghadiri Silaturahmi Masyarakat Pauh Kuranji, Kamis (15/10/2015) di Ketaping Kelurahan Pasar Ambacang Kecamatan Kuranji Kota Padang. Menurutnya, dalam menentukan pilihan pada Pilkada tanggal 9 Desember 2015, sebaiknya dilihat rekam jejak calon pemimpin tersebut, sehingga masyarakat tak asal pilih yang menyebabkan kekecewaan nantinya.

 

“Harapan kita berkumpul malam ini adalah untuk bersilaturahmi. Ini sesuai dengan anjuran agama kita. Saya mengajak kekompakan Anak Nagari perlu dijaga, walau pilihan kita berbeda. Dalam menentukan pilihan, tentu kita melihat karakteristik seorang pemimpin, sehingga kita bisa menumpangkan harapan kita kepadanya,” ungkap Irwan Prayitno.
Pada kesempatan tersebut, Irwan Prayitno memberikan pencerdasan politik kepada Anak Nagari Pauh IX dalam memilih pemimpin. Menurutnya, ada beberapa syarat pemimpin menurut ajaran agama, yaitu: Quwwatul Amin, Hafizul Alim, dan Raufun Rahim. Ketiga syarat ini berangkat dari gaya kepemimpinan Rasulullah saw dan Khulafaur Rasyidin.

Seorang pemimpin haruslah Quwwatul Amin. Dia harus memiliki kekuatan dalam menjalankan amanah jabatan yang disandangnya. Kekuatan secara fisik mestilah lahir dari pemimpin yang muda dan energik, sehingga amanah kepemimpinan tidak menjadi beban baginya secara fisik pula. Untuk itu, jangan serahkan amanah kepemimpinan itu kepada orang yang tidak mampu melaksanakannya, kepada orang yang tidak amanah dan kuat secara fisik.

Selain itu, untuk menjadi seorang pemimpin, seseorang haruslah Hafizul Alim. Maksudnya, seseorang itu harus memiliki kapasitas dalam mengemban amanah kepemimpinan itu. Dia memiliki ilmu dan pemahaman terhadap amanah kepemimpinan itu. Jika kepemimpinan itu diberikan kepada orang yang tidak berilmu, maka tunggulah kehancuran. Karena orang yang tidak berilmu, pasti lalai dengan amanah kepemimpinan yang disandangnya. Untuk itu, jangan sembarangan memilih pemimpin, harus dilihat kapasitasnya.

Tak hanya itu, seorang pemimpin juga harus seorang yang Raufun Rahim. Raufun Rahim berarti pengasih dan penyayang. Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Nabi Muhammad SAW adalah juga pengasih dan penyayang. Orang-orang beriman wajib meneruskan kasih sayang Allah dan Rasul itu dengan mencintai dan mengasihi umat manusia. Kasih sayang (rahmah) adalah pangkal kebaikan. Tanpa kasih sayang, sulit dibayangkan seseorang bisa berbuat baik. Kata Nabi, “Orang yang tak memiliki kasih sayang, tak bisa diharap kebaikan darinya.”

Seseorang yang Raufun Rahim tidak akan pernah berkata-kata kotor, tetapi dia akan selalu berkata sopan, termasuk kepada bawahannya sendiri. Dia bukanlah tipikal pemimpin yang pemarah, sebab pada dirinya ada sifat penyayang (rahim). Dia akan mengayomi bawahannya dengan sebaik-baiknya, sehingga bawahannya tersebut akan meraih kesuksesan dalam mengemban tugas yang dilaksanakannya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam: 96). Rasulullah saw bersabda, “Orang yang tidak memiliki kasih sayang tidak akan dikasih sayangi.” (HR. Bukhari-Muslim). “Sesungguhnya aku diutus bukan sebagai pelaknat, namun aku diutus sebagai rahmat (pembawa kasih sayang).” (HR. Muslim).
Dalam fikih politik Islam, moral yang menjadi dasar kebijakan dan tindakan pemimpin adalah kemaslahatan bangsa. Dikatakan tasharruf al-imam ala al-ra`iyyah manuthun bi al-mashlahah (tindakan pemimpin atas rakyat terikat oleh kepentingan atau kemaslahatan umum). Jika seorang pemimpin telah melaksanakan amanah kepemimpinan sesuai dengan moral Islam tersebut, maka Rasulullah saw memerintahkan kaum muslimin untuk taat kepada mereka.

“Barang siapa yang taat padaku (Nabi) maka ia taat pada Allah. Barangsiapa yang tidak patuh padaku maka ia tidak taat pada Allah. Barangsiapa yang taat kepada Amir (pemimpin) maka sesungguhnya ia taat padaku. Dan barangsiapa yang tidak taat pada Amir maka ia tidak taat padaku.” (HR. Muslim).

Ditulis Oleh :
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang/Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Bentengsumbar.com, 17 Oktober 2015

Lagi, Irwan Prayitno Dizalimi Melalui Buku “Kaleng”

Lagi, Irwan Prayitno Dizalimi Melalui Buku “Kaleng”

TAK henti-hentinya fitnah dilontarkan orang-orang yang tak bertanggungjawab kepada calon Gubernur Sumatera Barat Prof. Dr. H. Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa yang bertarung dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat tahun 2015 ini. Kali ini, fitnah dilontarkan melalui buku yang berjudul “Fakta Bukan Fitnah, Sumatera Barat di bawah Irwan Prayitno Tanpa Kemajuan”. Pada cover buku tersebut juga mengatasnamakan Forum Pemuda Penyelamat Sumbar dengan penerbit Pelita Pelajar.

Dalam buku yang tidak disebutkan nama pengarang dan penulisnya itu berisikan komentar, analisa, fakta dan bukti, yang tidak sesuai dengan kenyataan. Walau tulisan dalam buku tersebut mengutip beberapa berita dari media, tapi judulnya diganti, tidak berimbang serta tidak menggambarkan sikap profesional seorang penulis, dan kata-kata yang ada dalam tulisan tersebut banyak mengandung unsur fitnah yang dialamatkan kepada badan diri Irwan Prayitno.

 

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6). “Barangsiapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya adzab yang besar.” (QS. AnNur: 11). “(Ingatlah) ketika kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu soal besar.” (QS. An Nur: 15).
Menanggapi fitnah yang terus-terusan dilontarkan kepadanya, Irwan Prayitno terus bersikap sabar, tidak membalas fitnah tersebut. Dirinya lebih banyak meluruskan dalam berbagai kesempatan dan mendoakan agar pembuat fitnah beserta penyebarnya diberi hidayah oleh Allah swt, sehingga segera bertobat. Namun bukan berarti dia tidak boleh menggunakan haknya sebagai warga negara yang dijamin Undang-Undang. Sebagai warga negara, Irwan Prayitno punya hak untuk melaporkan kepada pihak kepolisian orang-orang yang telah memfitnahnya dengan tidak bertanggung jawab.

Kamis (15/10/2015), Irwan Prayitno bersama kuasa hukumnya melaporkan dugaan fitnah dan pencemaran nama baik yang dilontarkan kepadanya dengan nomor laporan LP/354/X/2015-SPKT SBr. Laporan tersebut diterima langsung oleh Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT), Kompol Budi Prayitno. Dalam laporan tersebut, Irwan Prayitno melaporkan bahwa telah ada pencemaran nama baik sesuai dengan pasal 310 KUHP dengan barang bukti satu buah buku yang berjudul “Fakta Bukan Fitnah, Sumatera Barat di bawah Irwan Prayitno Tanpa Kemajuan”.

Menurut Irwan Prayitno, sebagai warga negara yang baik, dirinya mengadukan pencemaran nama baik dan fitnah ke Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Barat. Barang buktinya berupa sebuah buku yang isinya adalah pencemaran nama baik, fitnah dan ada juga black campaign (kampanye hitam, red). Selain itu, buku tersebut juga mengarah kepada penghasutan. Isi buku tersebut menggambarkan komentar-komentar, analisa-analisa, fakta-fakta dan bukti-bukti yang tidak sesuai dengan kenyataan, walau pun mengutip beberapa media, tapi judulnya diganti atau diambil sepenggal-sepanggal, tidak berimbang sebagaimana profesionalisme wartawan.

Buku tersebut juga berisi komentar dan analisa yang sengaja dibuat untuk mencemarkan nama baik. Irwan Prayitno mengungkapkan, dirinya mengadukan hal tersebut dengan tujuan agar pilkada di Sumatera Barat dapat berjalan dengan bersih, tanpa black campaign, tanpa fitnah, tanpa adanya pelanggaran-pelanggaran aturan dan sebagainya, sehingga terdorong dari keinginan dan harapannya, sebagai pasangan calon dan rakyat Sumatera Barat untuk berjalannya pilkada ini dengan bagus, mulus, sesuai dengan aturan dan menghasilkan sebuah kepemimpinan yang juga menurut hati nurani dan pikiran masyarakat yang dicerdaskan dengan informasi-informasi, bukan berdasarkan black campaign.

 

“Tentunya ini harapan kita semua, sehingga pilkada yang berdunsanak ini menjadikan suatu harapan menghasilkan kepemimpinan yang berkah, karena proses yang juga jujur. Untuk itu, kami juga menghimbau kepada simpatisan dan tim relawan kami, tidak boleh sama sekali melakukan fitnah, tidak boleh sama sekali melanggar aturan, menjelek-jelekan, apalagi black campaign. Karena itu semuanya, tidak hanya melanggar aturan, tetapi juga membuat usaha dan proses kita tidak bernilai ibadah, dan tidak menghasilkan keberkahan nantinya. Dan itulah yang harus kita cegah bersama. Oleh karena itu, kami hadir ke sini (melaporkan kasus pencemaran nama baik dan fitnah ke Polda Sumbar, red),” ungkap Irwan lagi.
Buku tersebut, jelas Irwan Prayitno, sudah beredar di beberapa tempat dan dimana-mana. Sebagai contoh di Kota Padang, ada beberapa tempat yang pihaknya mendapat laporan, seperti di salah satu warung di Padang Baru. Selain itu, pihaknya juga mendapati buku tersebut beredar di Padang Pariaman. Namun, yang dilaporkan ke Kepolisian hanya satu laporan yang diterima Irwan. Laporan-laporan lainnya yang diterima tim relawan IP-NA masih banyak. Bahkan, Irwan sudah siap dengan barang bukti dan saksi. Saksi tidak hanya dari tim IP-NA, tetapi juga ada dari tim pihak lain.

Irwan Prayitno berharap, dengan laporan tersebut, pihak Polda Sumbar agar dapat mengusut tuntas siapa pelaku yang mendanai pembuatan buku, mencetak dan menulis serta menyebarkan buku tersebut. Dan segera dapat melakukan proses hukum dan menghentikan penyebaran buku itu yang diduga kini telah beredar luas di tengah masyarakat. Mereka, sesuai dengan Undang-Undang Pidana Umum, yang merupakan pelaku pencemaran nama baik dan fitnah, akan dikenakan sanksi pidana dan ganti rugi.

Ironisnya, ungkap Irwan Prayitno, dalam buku tersebut mencatut bebeberapa berita media yang judulnya sudah diganti dan beritanya dipenggal-penggal, tanpa memuat klarifikasi dari dirinya. Tak hanya itu, buku tersebut juga memuat informasi yang ditambah-tambahkan oleh pengarang dan penulis. Irwan mengajak wartawan dan penulis yang namanya dicatut untuk juga melaporkan kasus ini. Irwan yakin, wartawan dan penulis yang dicatut tidak ada sedikit pun berniat mencemarkan nama baiknya, tetapi berita dan tulisan dari wartawan dan penulis yang dicatut sengaja diambil dan dipenggal sesuai dengan tujuan pelaku.

Faktanya, sebagaimana diketahui oleh wartawan yang setiap hari meliput di gubernuran, Irwan Prayitno selama lima tahun menjadi gubernur tidak pernah tidur siang dalam melaksanakan tugas sebagai gubernur. Sabtu-Minggu dirinya bekerja, tanpa mengenal libur, rapat siang malam, dan malam harinya juga melayani tamu. Hasilnya, di bawah kepemimpinan Irwan Prayitno, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memperoleh 204 penghargaan yang disumbangkan oleh masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Namun dengan buku “kaleng” yang tak jelas penulisnya tersebut, semuanya seakan sirna, dengan ungkapan kata “Di bawah Irwan Prayitno Tidak Ada Kemajuan”.

Irwan Prayitno menyerahkan proses hukum kasus ini kepada kepolisian dan membiarkan polisi yang bekerja. Irwan Prayitno juga menegaskan kalau dirinya telah dizalimi. Tak hanya dirinya, penzaliman itu juga dialami oleh Nasrul Abit, karena pada hari yang bersamaan juga ada demo yang mempermasalahkan ijazah Nasrul Abit. Selain itu, berkali-kali Irwan Prayitno dipanggil Bawaslu terkait laporan, namun semuanya dibatalkan Bawaslu. Laporan juga dilayangkan ke PTUN, dan DPRD Sumbar, sehingga Irwan Prayitno berkesimpulan pihaknya dizalimi dan tidak leluasa sebagai manusia normal sebagai warga negara yang juga punya hak dan kewajiban. Tentu dengan upaya hukum ke kepolisian ini merupakan upaya terakhir yang ditempuh Irwan. Sebab, sebagian besar tim sukses dan beberapa pihak meminta Irwan melaporkan kasus tersebut ke polisi.

Menurut Irwan, dari segi isi buku tersebut bisa didefenisikan sebagai upaya black campaign, karena kampanye hitam itu adalah mengada-ada sesuatu yang tidak ada. Namun pihaknya tidak akan menuduh pesaingnya dalam pilgub kali ini, sebab bisa saja buku tersebut dibuat oleh pihak ketiga atau pihak mana pun yang menghendaki cacat dan ternodanya pilkada di Sumatera Barat. Isi buku tersebut sengaja memutarbalikan pemberitaan yang dibuat wartawan dari beberapa media cetak dan media online.

 

“Saya tidak akan menggugat wartawan yang menulis berita yang dicatut dalam buku ini. Karena berita di media kami terima dengan benar dan sudah mengikuti kode etik jurnalistik profesional. Yang kami adukan adalah penulis yang mengada-ada, yang menambah-nambah komentar yang tidak betul. Saya juga tak akan membuat buku bantahan, cuma dalam waktu dekat akan ada buku tentang sosok saya yang ditulis oleh wartawan media cetak dan media online. Ibarat jual, ya, yang dijual adalah dagangan kita saja, ibarat lilin, lampu kita saja yang kita nyalakan. Jangan padamkan pula lampu orang, biar tercipta pilkada badunsanak. Pilkada ini hanya sampai desember, persaudaraan kita seumur-umur. Berbeda pilihan, silahkan. Alangkah cantiknya, jika dalam pilkada itu kita tidak dinodai black campaign dan fitnah. Siapa pun yang akan jadi gubernur sudah ada di Lauhul Mahfuzh, apakah saya atau pak MK, tentu masyarakat yang akan menilai,” ujarnya.

Ditulis Oleh :
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang/Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Bentengsumbar.com, 16 Oktober 2015

Irwan Prayitno dan Khalil, Si Manusia Unik

Irwan Prayitno dan Khalil, Si Manusia Unik

SEBAGAI Anak Nagari Pauh Basa Si XIV yang dilahirkan dan dibesarkan di rantau, Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa mengaku kurang fasih berbahasa Pauh Basa SI XIV Kota Padang. Walau berbahasa Minangkabau sekali pun, logat bicaranya lebih mirip dengan orang yang baru pandai bahasa Minang.

Dan mungkin karena ini pulalah, dalam setiap kesempatan, orang sering bertanya, apa benar Irwan Prayitno orang Minangkabau? Pertanyaan itu sering penulis dengar, dan terakhir ketika kami buka puasa bersama di Rumah Makan Gulai Kambing Mandiri Bypass, Senin (12/10/2015). Salah seorang pengunjung rumah makan yang mengaku berasal dari Bukittinggi bertanya, “Nama bapak mirip orang Jawa, Irwan Prayitno, apa benar bapak orang Minangkabau?” Dengan senyum Irwan menjawab, “Ini kampung halaman saya, dan saya asli Kuranji.” Jawaban Irwan ditimpali oleh Zal Muslim, pemilik rumah makan, “Beliau (Irwan Prayitno, red) adalah datuk di kaum kami, asli orang Kuranji.”

 

Si penanya baru merasa yakin, kalau Irwan adalah orang Minangkabau, setelah mendengar jawaban Irwan dan Zal Muslim. Dia pun mengucapkan selamat, karena sepanjang pantauan di lapangan, Irwan termasuk kandidat gubernur yang disukai rakyat Sumatera Barat. “In Sha Allah bapak terpilih lagi. Kami sekeluarga termasuk yang akan memilih bapak pada Pilgub kali ini. Doa kami bersama bapak. Kami bertanya hanya sekedar menyakinkan diri,” ujarnya.
Lantas apakah Irwan malu mengatakan, kalau dirinya kurang fasih berbahasa Kuranji? Tidak. Irwan mengakui kalau dirinya kurang fasih berbahasa Kuranji. Setidaknya, itulah jawaban yang diberikan Irwan ketika ditanya oleh Holy Adib, wartawan Haluan ketika berkunjung ke posko BOM, Senin malam (12/10/2015). Pertanyaan itu tak hanya muncul dari Holy Adib, tetapi beberapa mahasiswa yang turut hadir dalam acara diskusi di posko BOM tersebut. Banyak hal yang mereka pertanyakan, salah satunya tentang hal tersebut, termasuk kenapa orang tua Irwan memberikan nama Irwan Prayitno ke badan dirinya?

“Saya memang kurang fasih berbahasa Minangkabau, terutama dengan logat Kuranji Pauh Basa Si XIV. Saya dilahirkan di Jawa dan dibesarkan di Jawa. Jadi harap maklum, logat saya kejawa-jawaan. Kalau mau mendengar bahasa Kuranji asli, ada pada Khalil Chaniago, dia ini manusia unik menurut saya, logatnya masih medog betul, jelas khas Kuranjinya. Langka, ada Anak Nagari Pauh IX dengan bahasa Kuranji yang medog seperti dia,” ungkap Irwan sembari merujuk kepada Khalil Chaniago yang duduk di sampingnya.

Khalil Chaniago yang dimaksud Irwan Prayitno merupakan Anak Nagari Pauh IX Kecamatan Kuranji. Dia adalah salah seorang pengurus Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX. Dia lahir dan dibesarkan di Sungai Sapih, salah satu Tapian yang ada di Nagari Pauh IX. Logat bahasanya, baik lisan maupun tulisan memang terlihat khas mencirikan logat bahasa Minang ala Kuranji.

Dan penulis, yang hampir setiap hari berkomunikasi dengan Khalil, baik di dunia nyata, dunia maya, maupun via telepon selular, sering menikmati logat bahasanya tersebut. Bagi orang yang sudah terbiasa bertutur dengan bahasa Minang kebanyakan, logat Khalil memang terasa aneh dan langka. Dan itu tidak dia buat-buat, tapi mengalir begitu saja.

 

Syukur masih ada Khalil Chaniago, sehingga kalau ada yang bertanya logat bahasa Kuranji asli, kami biasanya merujuk kepadanya. Dan bagi kami Anak Nagari Pauh IX, logat bahasa tersebut merupakan keistimewaan yang dimiliki Khalil Chaniago, sehingga dirinya disukai semua orang. Khalil Chaniago bukannya tak pandai berbahasa Indonesia, bahkan dalam beberapa kesempatan penulis lihat dia juga fasih berbahasa Indonesia, tapi dalam bertutur sehari-hari, dia lebih enjoy berbahasa Kuranji.
Mengenai pertanyaan, kenapa Irwan diberi nama “Irwan Prayitno” oleh orang tuanya? Irwan menjelaskan, Ayahnya, Djamrul Djamal merupakan orang Simabur, Tanah Datar. Ibunya, Sudarni Sayuti merupakan orang Pauh IX Kecamatan Kuranji Kota Padang. Ketika ayahnya Drs H. Djamrul Djamal SH (dosen Ilmu Hukum dan Ketua Jurusan Jinayah Siyasah penulis ketika menuntut ilmu di Fakultas Syariah IAIN Imam Bonjol Padang, red) mengambil program tugas belajar sebagai pengajar ke PTAIN di Yogyakarta, Ia memboyong serta istrinya Dra Hj. Sudarni Sayuti. Di Yogyakarta, Sudarni hamil dan melahirkan. Dan salah seorang sahabat Djamrul Djamal yang kebetulan bangsawan Kesultanan Jogjakarta memberikan nama itu.

Djamarul Djamal pun menerima nama pemberian sahabatnya itu. Apatah lagi, setelah peristiwa PRRI pada tahun 1958, kebanyakan orang Minang sering memberi nama anaknya dengan akhiran “O”. Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi nasional, Djamrul Djamal pun menjelaskan kenapa dia menerima nama pemberian sahabatnya itu untuk anaknya. Salah satu alasannya adalah agar anaknya mudah masuk PNS. Selain itu, Irwan sendiri memiliki arti perasaan pada keadilan dan Prayitno memiliki arti bijaksana. Jadi, kalau digabung memiliki arti perasaan pada keadilan dan kebijaksanaan.

Arti itu tak lebih tak kurang, juga pernah penulis dengar langsung dari kerabat dari pihak ayah Irwan Prayitno ketika berkunjung ke Batu Sangkar. Irwan Prayitno memanggil beliau dengan sebutan pak Uwo. Nah, pak Uwo ini menjelaskan kalau nama Irwan Prayino itu memiliki arti seorang lelaki yang memiliki rasa keadilan dan kebijaksanaan. Menilik artinya, nama Irwan Prayitno memiliki makna yang bagus. Dan mungkin itulah doa kedua orang tuanya. Si Buyung harus menjadi lelaki yang memiliki perasaan keadilan dan penuh kebijaksanaan. Dan kini, Irwan Prayitno telah menjadi pemimpin dan pembesar negeri. Dengan itu ia diharapkan mampu menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana, tak hanya bagi orang-orang yang dekat dengannya, tetapi tentu bagi semua golongan.

Secara adat, Irwan Prayitno merupakan salah seorang bangsawan di Minangkabau. Dia merupakan penghulu suku Tanjuang Tapian Ampang Kanagarian Pauh IX Kecamatan Kuranji Kota Padang. Dia bergelar Datuk Rajo Bandaro Basa. Diangkatnya Irwan Prayitno Rajo Bandaro menjadi penghulu suku Tanjung dengan gelar Datuk Rajo Bandaro Basa dilakukan pada tahun 2004. Gala dilewakan, jamuan adat digelar. Dan Irwan Prayitno lah satu-satunya datuk yang dilewakan sekaligus menggelar pajamuan. Makanya, Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa bukan hanya sebatas penghulu suku Tanjung, tetapi juga Ninik Mamak Nagari.

“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka…” (QS. Al Ahzab: 5). “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian.” (HR. Abu Dawud, Ad Daarimiy dan Al Baihaqi).
Ditulis Oleh :
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang/Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Bentengsumbar.com, 15 Oktober 2015

Irwan Prayitno di BOM

Irwan Prayitno di BOM

SEJAK didirikan setahun lalu, Bara Online Media (BOM) menjadi perhatian banyak pihak. Betapa tidak, tujuan didirikannya BOM adalah berupaya memenuhi ketersediaan informasi publik tentang Ranah Bingkuang (Kota Padang, red), dan Ranah Minang secara keseluruhan. Kenapa Ranah Bingkuang? Karena pusat informasi suatu daerah terletak di ibukota daerah tersebut. Kota Padang adalah ibukota Provinsi Sumatera Barat.

Lagian, informasi tentang Kota Padang selama ini dirasakan oleh para pendiri BOM masih minim dari segi pemberitaan di media online. Kebanyakan berita-berita tentang daerah ini hanya dimuat di media cetak, baik itu harian maupun mingguan. Apatah lagi, pendiri BOM itu sendiri merupakan putra-putra Pauh Basa Ampek Baleh Kota Padang yang berkiprah di berbagai media, tak hanya media online, termasuk juga media cetak. Mereka adalah Syahrial Aziz (Tabloid Bijak), Zamri Yahya (BentengSumbar.com), Nofrianto Lublin (SumbarZone.com), Jhon Edward Rhony (SuaraPadang.com), dan Tafrizal Chaniago (PadangPos.com). SumbarZone.com dan SuaraPadang.com tidak tayang lagi, karena kesibukan Jhon Edward Rhony dan Nofrianto Lublin bekerja di harian Metro Andalas.

Di samping lima media online tersebut, keberadaan BOM disokong oleh LSM Mamak Ranah Minang. LSM ini didirikan oleh Drs Syahrial Aziz, dan Djamalus Datuk Rajo Balai Gadang bertindak sebagai Koordinator Investigasi. LSM ini bergerak di bidang sosial budaya, investigasi, politik, dan lain sebagainya. Hasil-hasil investigasi dari LSM Mamak Ranah Minang banyak yang dipublikasikan melalui media online yang tergabung dalam BOM.

Selain bertujuan sebagai penyedia informasi, BOM juga mendorong lahirnya wartawan-wartawan handal di daerah ini. Tak terhitung jumlahnya BOM memberikan pelatihan jurnalistik gratis di berbagai tempat, baik di posko BOM yang terletak di jalan Siak No. 4 Rimbo Kaluang Padang maupun tempat yang disediakan pihak ketiga. Seperti pelatihan jurnalistik bagi pemuda dan perangkat Nagari Koto Laweh Kabupaten Dharmasraya dan pelatihan jurnalistik bagi mahasiswa di beberapa perguruan tinggi yang ada di Sumatera Barat. Kegiatan BOM lainnya adalah mengadakan Lomba Menulis Cepat, Tepat dan Akurat, seperti yang diadakan pada tanggal 2 Februari 2015 bekerjasama dengan Pemerintah Kota Padang.
Tak hanya itu, posko BOM juga dijadikan Lapau Politik Rang Padang. Setiap saat, diskusi dengan berbagai tema dilakukan oleh berbagai kalangan yang berkunjung ke Sekber BOM. Temanya mulai dari persoalan budaya, agama, politik, hukum, korupsi dan lain sebagainya. Di antara pembesar negeri yang telah berkunjung ke posko BOM, yaitu Frengki Willianto (saat itu Camat Kuranji dan sekarang menjabat Kepala Bidang Promosi Pariwisata Dinas Periwisata dan Kebudayaan Provinsi Kepri), Tuanku Sutan Andre Algamar Datuk Singguno Dirajo (saat itu menjabat Kepala Satpol PP Kota Padang), Salman K. Memet (saat ini menjabat Kanwil Kemenag Sumbar), dan pembesar negeri lainnya.

Terakhir markas BOM mendapat kehormatan dikunjugi mantan Gubernur Sumatera Barat Prof. Dr. H. Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa, Senin malam (12/10/2015). Sebenarnya, Irwan sudah lama ingin berkunjung dan berdiskusi di posko BOM, namun karena kesibukan sebagai calon Gubernur Sumatera Barat dalam Pilkada 2015, niat tersebut tak kunjung kesampaian. Dalam kunjungan pertamanya itu, Irwan berkesempatan berdiskusi dengan pimpinan BOM, mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi, ninik mamak dari Pauh V, Anak Nagari Pesisir Selatan, Anak Nagari Pauh IX Kuranji Kota Padang, beberapa wartawan dari berbagai media massa, Tim Relawan IP-NA, dan warga yang berdomisili di sekitar posko BOM.

Salah satu pertanyaan yang dilontarkan peserta diskusi kepada Irwan adalah kehadirannya saat peletakan batu pertama pembangunan Super Blok Lippo Group di kawasan Khatib Sulaiman. Irwan mengatakan, sehari sebelum peletakan batu pertama tersebut dirinya mendapat undangan untuk menghadiri peresmian rumah sakit. Irwan pun bingung, rumah sakit mana yang mau diresmikan, sebab setahu dirinya tidak ada pembangunan rumah sakit baru. Setelah dia cek kepada Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Rosnini Savitri, baru ketahuan bahwa acara tersebut di Padang berupa peletakan batu pertama pembangunan rumah sakit Siloam.

Dikatakan Irwan, dalam undangan tersebut dikatakan kalau acara tersebut dihadiri oleh Menko Kesra Agung Lakosono, Ketua DPD RI Irman Gusman, dan Kepala BNPB Syamsul Maarif. Berdasarkan aturan protokoler, jelas Irwan, maka dirinya sebagai gubernur waktu itu harus menyambut kedatangan Menko Kesra, Ketua DPD, dan Kepala BNPB di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) dan mendampingi mereka selama berada di Sumatera Barat. Tapi yang perlu diketahui publik, ungkap Irwan, proses perizinan pembangunan rumah sakit Siloam tersebut tidak terletak di tangannya sebagai gubernur waktu itu. Sebab, pengurusan izin semacam itu tidak terletak di pemprov, tetapi Bupati/Wali Kota, dalam hal ini adalah Wali Kota Padang saat itu, misalnya pengurusan AMDAL dan IMB.

Lucunya, di satu sisi Irwan dianggap merestui pembangunan rumah sakit Siloam, tetapi di sisi lain dianggap menolak pembangunan rumah sakit Siloam. Bahkan dirinya sempat dicaci maki oleh Wali Kota Padang saat itu karena dianggap berada di balik demo warga Minangkabau yang menolak Siloam. Namun, walau sudah dicaci maki, Irwan telah memaafkan Wali Kota Padang tersebut. Menurut Irwan, sebagai gubernur saat itu, dirinya tidak mungkin menolak investasi yang masuk ke daerah ini. Tetapi soal investasi Lippo Super Block Siloam, Irwan menegaskan tidak ikut campur. Dia menyerahkan sepenuhnya pembangunan itu pada pemangku kepentingan asal sesuai dengan mekanisme berlaku.

Irwan pun menjelaskan, di saat pendemo menduduki kantor gubernur, dirinya tidak berada di tempat. Seperti biasanya, pada setiap tanggal 17 diadakan upacara bendera di halaman kantor gubernur. Saat kejadian itu, upacara bendera dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Ali Asmar. Usai upacara bendera, pendemo memasuki halaman kantor gubernur dan memanfaatkan alat pengeras suara yang masih berada di lapangan upacara untuk berorasi. Jadi tidak benar pemprov memfasilitasi pendemo, tetapi pendemo masuk ke halaman kantor gubernur dan berorasi dengan menggunakan alat pengeras suara yang masih berada di lapangan, karena belum dibongkar usai apel.

Mengenai mobil yang dipakai pendemo ada stiker PKS, Irwan menjelaskan, pada saat demo terjadi, di Kota Padang sedang berlangsung pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Beberapa mobil angkot memang memasang stiker PKS sebagai media sosialisasi pasangan Mahyeldi-Emzalmi. Kebetulan, mobil tersebut juga disewa pendemo, sehingga dianggap mobil milik kader PKS. Apatah lagi, pada saat demo, mereka parkir di depan kantor Tim Pemenangan Mahyeldi-Emzalmi. Padahal, tidak ada sangkut pautnya dengan PKS.

Pada kesempatan tersebut, Irwan mengajak pendukungnya berkampanye santun. Dalam menghadapi pesta demokrasi Pilkada serentak ini, hendaknya disikapi secara arif dan bijaksana oleh semua pihak. Tidak perlu ada gontok-gontokan atau saling hujat dan fitnah antar pendukung Paslon. Silaturrahmi harus tetap dijaga karena Pilkada ini sifatnya cuma sesaat. Sebab, yang akan menjadi pemimpin itu sudah ditetapkan oleh Allah SWT, manusia hanya tinggal menjalani saja.
Diskusi berlangsung dari pukul 21.00 – 23.50 WIB. Semua peserta diskusi bersemangat mendengarkan penjelasan Irwan Prayitno. Usai diskusi, mereka meminta kesediaan Irwan untuk berselfie dengan salam dua jari. Irwan menyanggupinya. Sebelum pamit meninggalkan posko BOM, Irwan menyatakan kesediaannya untuk menghadiri acara balanjuang yang kedua yang akan digelar pada Sabtu tanggal 17 Agustus 2015 pukul 20.00 WIB.

Ditulis Oleh :
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang/Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Bentengsumbar.com, 14 Oktober 2015

Hijrah dari Sumbar Bangkit Menuju Sumbar Sejahtera

Hijrah dari Sumbar Bangkit Menuju Sumbar Sejahtera

KATA hijrah berasal dari Bahasa Arab, yang berarti meninggalkan, menjauhkan dri dan berpindah tempat. Dalam konteks sejarah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw bersama para sahabat beliau dari Mekah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syariat Islam. Dengan melakukan hijrah Nabi Muhammad saw telah membuka ufuk baru dalam sejarah manusia secara umum dan sejarah dakwah Islam secara khusus. Hijrah adalah permulaan bentuk sebuah negara dan semakin jelas kekuatan kaum muslimin.

 

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. At Taubah: 20). “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 218).
Hijrah sebagai salah satu prinsip hidup, harus senantiasa dimaknai dengan benar. Secara bahasa hijrah berarti meninggalkan. Seseorang dikatakan hijrah jika telah memenuhi dua syarat, yaitu; Pertama, ada sesuatu yang ditinggalkan. Kedua, ada sesuatu yang dituju (tujuan). Kedua-duanya harus dipenuhi oleh seorang yang berhijrah. Meninggalkan segala hal yang buruk, negatif, maksiat, kondisi yang tidak kondisif, menju keadaan yang lebih yang lebih baik, positif dan kondisi yang kondusif untuk menegakkan ajaran Islam.

Dalam realitas sejarah hijrah senantiasa dikaitkan dengan meninggalkan suatu tempat, yaitu adanya peristiwa hijrah Nabi dan para sahabat meninggalkan tepat yang tidak kondisuf untuk berdakwah. Bahkan peristiwa hijrah itulah yang dijadikan dasar umat Islam sebagai permulaan tahun Hijriyah. Tahun Hiriyah, ditetapkan pertama kali oleh Khalifah Umar bin Khatab ra, sebagai jawaban atau surat Wali Abu Musa Al-As’ari. Khalifah Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu. Mereka adalah Utsman bin Affan r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Sa’ad bin Abi Waqqas r.a., Zubair bin Awwam r.a., dan Thalhan bin Ubaidillah r.a. Mereka bermusyawarah mengenai kalender Islam.

Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah saw. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad saw menjadi Rasul. Dan yang diterima adalah usul dari Ali bin Abi Thalib r.a. yaitu berdasarkan momentum hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Yastrib (Madinah). Maka semuanya setuju dengan usulan Ali r.a. dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah saw. Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriyah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku pada masa itu di wilayah Arab.

Menurut Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa, Baginda Nabi Muhammad saw adalah sosok pendobrak kebatilan sekaligus pembawa perubahan umat, banyak sejarah dan peristiwa yang telah digoreskan. Di antara goresan sejarah yang sangat monumental dalam perjalanan hidup Rasulullah saw adalah peristiwa hijrah dari kota Mekkah ke kota Madinah. Perjalanan yang amat berat, penuh perjuangan dan tantangan.

 

Baginda Nabi Muhammad saw., berkata ketika hendak meninggalkan kota Mekkah, “Aku cinta kepadamu hai Kota Mekkah, tempat aku dilahirkan. Namun apalah hendak dikata, aku diusir oleh penduduk negerimu sendiri”. Perpindahan yang sengaja dilakukan secara sembunyi-sembunyi, agar terhindar dari kejaran pasukan Quraisy, dan terpaksa bermalam di Gua Tsur. Rasulullah saat itu pun sempat berkata, “Laa takhaf wa laa tahzan innallaha ma’ana” (jangan takut dan jangan bersedih hati, sesungguhnya Allah berserta kita).
Dari kisah yang tragis dan mengandung makna mendalam tersebutlah, maka ditetapkan Muharram sebagai bulan pertama tahun penanggalan Islam oleh khalifah Umar ibnu Al Khattab atas saran dari menantu Rasulullah saw, Imam Ali bin Abi Thalib. Muharram adalah salah satu dari empat bulan yang dimuliakan (Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Muharram), di dalamnya dilarang melakukan peperangan dan tindak kekerasan lainnya.

Bagi Irwan, hijrah dalam pengertian lahir berarti beranjak dari satu tempat ke tempat lain, sedangkan hijrah yang batin (dan maknawi) adalah adanya perubahan sikap dan perilaku (takhali, tahali dan tadzali). Takhali adalah mengosongkan atau pengosongan, membuang sikap dan perilaku yang lalu, kemudian tahali yang artinya mengganti dengan sikap yang baru (yang bernilai lebih baik, tinggi, dan mulia, dst), dan tadzali merasakan nikmatnya (akibat), sebagai misal, berkat pemurah kita dilindungi orang, berkat suka menolong kita banyak memiliki teman dan beberapa kenikmatan yang diberikan Allah SWT kepada kita.

Semangat hijrah, dijadikan Irwan Prayitno sebagai landasan dalam memimpin Sumatera Barat lima tahun kemaren. Pada saat dilantik sebagai Gubernur Sumatera Barat tanggal 15 Agustus 2010, Irwan mendapatkan daerah yang dipimpinnya porak poranda akibat gempa bumi 30 September 2009. Pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur dilakukan secara darurat di sebuah bangunan yang biasanya digunakan sebagai gudang/garase di kantor DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Sumbar. Kepadatan peserta sidang dan tamu undangan memenuhi gudang yang secara darurat disulap menjadi gedung pertemuan, membuat suasana makin terasa sempit, sumpek, dan panas. Kantor DPRD Sumbar saat itu mengalami rusak berat sehingga untuk sementara tak bisa digunakan.

Kantor Gubernur Sumbar juga tak jauh berbeda. Kantor berlantai empat yang biasa disebut rumah bagonjong ini juga mengalami rusak berat. Ratusan karyawan terpaksa berkantor darurat di bangunan yang sebelumnya adalah gedung pertemuan (aula). Di instansi lain, kebanyakan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) terpaksa membangun barak-barak darurat sebagai kantor tempat bekerja. Gubernur dan Wakil Gubernur terpaksa berkantor darurat di rumah dan bangunan bekas kantor PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga). Sekitar 200.000 rumah penduduk rusak, sekolah, rumah ibadah, jalan dan berbagai fasilitas umum lainnya lumpuh.

Persoalan yang dihadapi tidak hanya masalah bangunan fisik dan berbagai infrastruktur yang porak-poranda, tetapi juga masalah non fisik. Peristiwa dahsyat ini tidak hanya menghancurkan bangunan fisik, tetapi juga memukul mental masyarakat. Peristiwa ini menimbulkan trauma dan ketakutan yang mendalam, banyak masyarakat yang eksodus meninggalkan Sumatera Barat, termasuk pengusaha dan investor. Banyak yang meramalkan saat itu, kota-kota yang terletak di kawasan pantai akan menjadi kota mati ditinggal penduduknya untuk menghindari amukan gempa dan tsunami.
Kondisi Ranah Minang yang hancur, baik secara fisik dan mental masyarakatnya pasca gempa, harus dibawa hijrah oleh Irwan ke arah yang lebih baik, yaitu Sumbar bangkit. Sumbar harus bangkit dari keterpurukan, Sumbar harus dipulihkan. Alhamdulillah kerja keras, keseriusan serta doa yang dipanjatkan kehadirat Ilahi tidak sia-sia. Upaya serius, kerja keras dan doa tersebut membuat berbagai pihak bersimpati turun tangan membantu. Dengan dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) dan dana masyarakat Sumatera Barat sendiri semua kerusakan itu tak mungkin bisa dipulihkan. Pemerintah Pusat mengucurkan dana sebesar Rp 2,7 triliun lebih untuk rehab rekon Sumatera Barat. Para perantau tak kurang mengucurkan pula dana untuk kampungnya, begitu juga pihak lain, negara sahabat, perusahaan, donatur dan berbagai pihak yang tak mungkin disebutkan satu per satu.

Kini pemandangan seperti tiga atau empat tahun lalu itu tak nampak lagi, bahkan nyaris tak berbekas. Kantor-kantor yang dulu rubuh telah dibangun lagi dan diganti dengan yang lebih baik dan lebih kokoh. Begitu juga rumah masyarakat dan fasilitas-fasilitas umum yang dulu luluh lantak telah dibangun lagi dan kembali berfungsi normal. Hotel-hotel dan aktifitas ekonomi lainnya kembali menggeliat. Suasana mencekam, kini tak terlihat lagi bahkan nyaris terlupakan. Sejumlah escape building telah dibangun. Berbagai upaya dilakukan untuk meyakinkan investor bahwa Sumbar sudah aman dan menguntungkan untuk berinvestasi. Kini investor telah berdatangan ke Sumatera Barat. Belasan hotel yang rusak telah direnovasi dan kembali beroperasi. Belasan lainnya merupakan hotel yang baru dibangun. Sungguh sebuah rahmat, justru terjadi penambahan lebih 2.000 kamar hotel pascagempa.

Harus diakui, Irwan berhasil membawa Sumatera Barat hijrah dari kehancuran menuju Sumbar Bangkit. Namun tentunya, publik Sumatera Barat bisa menilai, bahwa kebangkitan pasca gempa merupakan momentum awal menuju Sumbar Sejahtera yang diinginkan bersama. Untuk mewujudkan Sumbar Sejahtera itu pun tidak mudah, diperlukan pemimpin yang betul-betul amanah, tulus ikhlas dalam membangun negeri ini. Apatah lagi Sumatera Barat dikenal sebagai daerah supermarket bencana. Banjir, longsor, letusan gunung merapi, abrasi pantai, galodo, gempa bumi, tsunami, angin puting beliung, kemarau panjang, kabut asap pernah terjadi. Karena itu penanganan pembangunan di Sumatera Barat perlu mempertimbangkan situasi dan kondisi kebencanaan tersebut.

Banyak orang yang lantah menginginkan “Sumbar Maju.” Padahal, untuk menuju “Sumbar Maju” harus melalui “Sumbar Sejahtera” terlebih dahulu. Tak mungkin suatu daerah akan maju, jika masyarakatnya jauh dari kesejahteraan. Makanya, pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur/Wakil Gubernur Sumatera Barat 2015 ini, Irwan Prayitno yang maju untuk periode kedua berpasangan dengan Nasrul Abit, bertekad mewujudkan Sumbar Sejahtera terlebih dahulu. Menjadi sejahtera itu tidak hanya sekedar mencatatkan angka-angka statistik pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Tidak pula karena negeri ini kaya, maju dalam bidang teknologi dan tingginya tingkat industrialisasi dan modernisasi.

Dalam kacamata yang berdimensi lebih luas, Irwan mendefinisikan “kesejahteraan” tidak hanya sekedar capaian yang melampaui dari ukuran-ukuran angka pertumbuhan ekonomi semata. Bagi Irwan, kesejahteraan berarti semakin terbukanya kesempatan dan kemampuan (capability) untuk mendapatkan hak-hak dasar sebagai seorang manusia. Sebut saja cukup dan terpenuhinya kebutuhan pangan, mendapatkan pendidikan dasar yang memadai, bebas dari buta huruf, selalu dalam keadaan sehat, terhindar dari kematian (avoiding escapable morbidity), atau berupa kondisi abstrak semisal menjadi bahagia, dihormati, bebas dari rasa takut, bebas dari ancaman penghilangan secara paksa, bebas mengemukakan pendapat, serta bisa berpartisipasi dalam kehidupan sosial bermasyarakat.
Irwan lebih melihat kesejahteraan itu dari dua sisi. Yang pertama dari sisi psikis atau moril yang meliputi sosial, agama, budaya dan lainnya, serta dari sisi fisik atau materil. Jadi, pendekatannya lebih kepada pemberdayaan dan pengembangan sumber daya manusia, atau yang lebih dikenal dengan Human Development Index (HDI). Jika bagi kebanyakan orang, HDI kerap dikaitkan dengan sekedar urusan pengembangan sumber daya manusia, atau pengembangan SDM dalam arti sempit. Namun bagi Irwan, HDI sesungguhnya akan mampu membawa paradigma baru yang akan menjungkirbalikkan cara pandang tentang pembangunan, tentang apa yang harus dicapai, ke arah mana pembangunan harus dilakukan, serta siapa-siapa yang harus disentuh oleh pembangunan itu sendiri.

Khusus di Sumatera Barat, sesuai dengan kultur masyarakatnya, mewujudkan daerah dan masyarakat sejahtera itu harus dilakukan melalui tiga pola pendekatan, yakni geografis, budaya dan prilaku. Apatah lagi, karakter masyarakat Minang bukanlah tipe yang dipekerjakan, melainkan harus diberdayakan. Irwan yakin, pola ini akan mampu dalam mengurai kemiskinan dan menjadi langkah paling bernas untuk meraih kesejahteraan.

Budaya dan kebiasaan orang Minang, sebut Irwan lagi, memperlihatkan program pemberdayaan masyarakat sangat baik dan memberikan dampak positif bagi kemajuan daerah, terutama dalam upaya menuntaskan kemiskinan dan mengurangi pengangguran. Jika di provinsi lain dapat melakukan program dengan pengembangan bidang industri, dan program usaha yang membutuhkan banyak tenaga kerja, di Sumatera Barat justru sebaliknya.

Tipe masyarakat Sumatera Barat tidak memiliki bakat sebagai buruh atau pekerja harian. Mereka lebih suka menyandang status sebagai wirausaha, walaupun sebagai usahawan kecil dan menengah. Nah, inilah yang harus diberdayakan. Jadi, tidak usah dulu terlalu jauh untuk berfikir maju (punya gedung-gedung bertingkat, punya banyak pabrik, industri, dll). Karena jelas, indikator sejahtera tidak hanya sebatas itu. Untuk bisa maju, semua harus sejahtera dulu.

 

“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al A’raf: 56). “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi.” (QS. Al A’raf: 156-157). “Orang-orang yang penyayang, maka Allah akan menyayangi mereka (memberikan rahmat kepada mereka), sayangilah dan kasihilah penduduk bumi, nescaya penduduk langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi)
Ditulis Oleh :
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang/Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Bentengsumbar.com, 14 Oktober 2015

Mengenal Makanan Favorit Irwan Prayitno

Mengenal Makanan Favorit Irwan Prayitno

MENARIK untuk mengetahui jenis makanan yang menjadi kesukaan pembesar negeri. Sebagai figur publik, mereka tentu saja menjadi contoh teladan bagi pengemar dan pengagumnya. Apatah lagi jika figur tersebut memiliki pengikut yang banyak dan disukai banyak orang. Salah satunya adalah sosok Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa, penghulu Suku Tanjuang Kenagarian Pauh IX Kota Padang.

Politisi senior Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini tentu saja memiliki banyak idola di antara kader PKS. Apalagi, Irwan terbilang sukses dalam meniti karir politiknya. Putra Kuranji Kenagarian Pauh IX Kota Padang ini tercatat tiga kali periode menjadi wakil rakyat di DPR RI. Selain itu, Irwan juga pernah menjadi Gubernur Sumatera Barat periode 2010-2015 dan mencalonkan diri lagi pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur Sumatera Barat 2015 ini untuk kedua kalinya.

 

Lantas, apa makanan kesukaan Irwan Prayitno? Menurut istrinya, Hj. Nevi Zuarina bernuansa gulai, rendang dan bercitarasa pedas. Sebagai istri yang selalu setia mendampingi suami tercinta, Hj Nevi Zuarina selalu menyajikan makanan kesukaan suaminya ini. Terkadang, Irwan memesan khusus makanan tersebut, dan dengan senang hati Nevi Zuarina membuatkannya.
Penulis pernah bertanya langsung kepada Irwan Prayitno soal makanan kesukaannya ini. Dengan senyum Irwan menjawab bahwa dirinya termasuk penyuka semua makanan. Berbeda dengan sebagian orang yang seleranya sudah berpantang, apalagi kalau sudah memasuki usia senja alias lansia, Irwan mengaku tak ada pantangan untuk melahap makanan apa saja yang dia suka.

Penulis pun masih ingat, acara tabligh akbar sekaligus syukuran atas terpilihnya Irwan Prayitno sebagai Gubernur Sumatera Barat periode 2010-2015 yang diadakan masyarakat Kuranji Kenagarian Pauh IX di mesjid Kuranji. Ketua panitia acara waktu itu adalah Arbain Rajo Indo Lawik, Sekretaris Letkol. Anwar P, dan Bendahara Evi Yandri Rajo Budiman.

Acara tersebut dihelat cukup meriah. Malam harinya dilakukan pemotongan sapi yang akan dimasak dan disajikan pada acara tersebut. Pemotongan dilakukan secara adat oleh salah seorang ninik mamak. Daging sapi bersama cubadak (cempedak, red) digulai khas masakan Pauh Basa Si Ampek Baleh. Masakan yang mengundang selera semua orang, sebab kaya bumbu dan rempah-rempah alami.

 

Usai tabligh akbar, Irwan Prayitno dan semua undangan dipersilahkan masuk masjid untuk makan bajamba. Semua hidangan pun disantap oleh yang hadir, termasuk Irwan Prayitno. Namun, yang menariknya adalah setelah makan bajamba, Irwan berbisik kepada panitia, “gulai cubadaknyo lamak bana.” Panitia pun kemudian menyiapan sebuah rantang dan memasukan gulai cubadak tersebut ke dalam rantang, dan dititip ke ajudan agar diberikan kepada Irwan.
Selain menyukai semua masakan, ternyata ada masakan favorit yang disukai Irwan. Sore kemaren, Senin (12/10/2015), baru penulis tahu, setelah sekian lama kami bergaul dan berkomunikasi. Sore itu, kami mendiskusikan beberapa persoalan. Selain kami berdua, juga ada Noa Rang Kuranji, dan Rinaldi. Usai berdiskusi, Irwan mengajak kami buka puasa bersama. Noa Rang Kuranji minta izin tidak bisa ikut, karena harus masuk kantor dan dikejar deadline berita.

Irwan bertanya kepada penulis, masakan gulai kambing yang paling enak di rumah makan mana, sebab banyak rumah makan di sekitar Bypass yang menyajikan gulai kambing. Penulis pun merujuk salah satu rumah makan, yaitu Rumah Makan Gulai Kambing Mandiri Bypass, milik Zal Muslim. Irwan setuju, kami pun buka puasa di rumah makan tersebut. Di sela-sela makan, Irwan mengaku kalau makanan favoritnya adalah daging kambing, tarmasuk gulai kambing. Dan penulis melihat, Irwan memang sangat menikmati sekali gulai kambing, masakan Zal Muslim tersebut.

 

“Peliharalah oleh kalian kambing karena di dalamnya terdapat barokah.” (HR. Ahmad). “Makanan terbaik penduduk dunia dan penghuni syurga adalah daging. (HR Ibnu Majah). Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Barangsiapa selama 40 hari tidak makan daging, maka akhlaknya akan berubah (memburuk).”
Dalam beberapa riwayat diceritakan, daging kambing merupakan makanan favorit Rasulullah saw. Imam Ahmad meriwayatkan dari Aisyah ra bahwa Rasulullah saw memakan sup kaki kambing yang dikirimkan Abu Bakar ra, ayahnya. Tapi Rasulullah saw pernah menolak memakan daging kambing yang dibakar. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra sebagaimana termaktub dalam At-Targhib Wat-Tarhib. “Pernah Rasulullah mendatangi suatu kaum yang sedang makan daging bakar, mereka mengajak beliau makan sama, tapi beliau menolak dan tidak makan. Anas bin Malik ra berkata, “Rasulullah tidak menyukai makanan bakar dan makanan panas.”

Manfaat daging kambing yang tidak dapat kita pungkiri adalah sumber energi yang cukup besar untuk beraktivitas sehari hari. Kandungan kalori, lemak dan protein akan menjaga tubuh tetap fit selama mengkonsumsi daging ini. Dan ini pulalah salah satu alasan Irwan Prayitno suka makan daging kambing, disamping alasan mengikuti Sunnah Rasulullah saw.

Penelitian dari American Heart Association menyatakan, daging kambing baik untuk mereka yang memiliki masalah terkait jantung . Ini karena daging tersebut tinggi kwalitas proteinnya dengan rasio kandungan lemak yang sehat. Struktur molekul daging kambing yang berbeda membuat daging kambing lebih mudah dicerna. Ia juga sangat cocok untuk mereka yang menjaga kesehatan.

 

Tidak hanya itu saja, bahkan jika dibandingkan daging kambing mengandung zat besi dan kandungan potasium yang rendah kandungan mineralnya. Dagingnya lebih padat dan lebih rendah kalori daripada daging sapi dan ayam tanpa kulit. Semua asam amino yang diperlukan ada di dalam daging kambing.
Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang/Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Bentengsumbar.com, 14 Oktober 2015

Lelaki Tua Ini Bikin Irwan Prayitno Meneteskan Air Mata

Lelaki Tua Ini Bikin Irwan Prayitno Meneteskan Air Mata

SENIN sore (12/10/2015), penulis diundang Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa. Awalnya penulis menyangka, pertemuan dilakukan di rumah orang tuanya, seperti biasanya. Penulis pun memarkir mobil, di seberang jalan, dan bergegas menuju rumah tersebut. Sebelum masuk rumah, ada seorang lelaki tua berbaju batik, usianya kira-kira 60 tahunan, yang rupanya juga menunggu kedatangan Irwan. Kami sempat bertegur sapa, namun tidak sempat berbincang-bincang.

Penjaga rumah mengatakan, kalau Irwan tidak ada di rumah, tetapi berada di kantornya yang terletak di lantai II Gedung Perpustakaan Perguruan Adzkia. Penulis pun segera menuju kantor yang dimaksud. Di dalam ruangan ternyata sudah ada beberapa orang, salah satunya adalah kolega penulis di Bara Online Media (BOM), Noa Rang Kuranji. Usai pertemuan, kami pun sepakat buka puasa bersama di salah satu rumah makan gulai Kambing di seputaran Bypass.

Di saat asyik menyantap makanan, Irwan ditelepon seseorang yang memberitahukan bahwa di rumah orang tuanya ada tamu yang menunggunya sejak sore tadi. Usai makan, Irwan pun segera meluncur ke rumah orang tuanya. Dan tamu yang menunggu tersebut adalah lelaki tua berbaju batik yang bertegur sapa dengan penulis tadi dan beberapa orang tamu dari Paguyuban Keluarga Nusa Tenggara Barat yang berdomisili di Payakumbuh. Irwan pun minta maaf, karena sudah membuat beberapa orang tamu tersebut menunggu lama.
Sekilas terlihat wajah lelaki tua itu terlihat gembira bertemu dengan Irwan Prayitno, bukannya wajah kekesalan karena lama menunggu kedatangan Sang Datuk. Lelaki tua itu pun memperkenalkan diri kepada Irwan. Namanya Rusli, berasal dari Padang Japang Kabupaten 50 Kota. Dia datang ke Padang sengaja menemui Irwan hanya sekedar untuk bersilaturahim dan meminta atribut kartu nama, sebagai media sosialisasi Irwan.

 

“Saya sengaja diutus warga menemui datuk. Kedatangan saya ke Padang pun sepenuhnya dibiayai warga. Ongkos travel dan biaya makan dijalan ditanggung warga. Kami telah sepakat, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur Sumatera Barat 2015, kami mendukung dan memilih datuk. Kami tidak mengharap datuk memberikan bantuan uang segala macam, kami hanya minta kartu nama datuk. Kami ingin mensosialisasikan datuk kepada karib kerabat kami,” ujarnya.
Mendengar ungkapan polos tersebut, Irwan Prayitno terlihat haru. Sambil menyeka air mata yang menetes dipipinya, Irwan Prayitno menyanggupi permintaan Rusli. Dia pun memberikan beberapa ikat kartu nama kepada Rusli. Bagi Irwan, ini merupakan dukungan tulus yang diberikan warga kepadanya. Dukungan yang datang dari pelosok Sumatera Barat, Padang Japang, yang jauh dari Kota Padang.

“Saya berterimakasih kepada pak Rusli yang jauh-jauh datang dari Padang Japang untuk menemui saya. Dukungan ini sangat berharga bagi saya, dan tolong sampaikan salam saya kepada warga Padang Japang,” ungkap penghulu Suku Tanjuang Ampang Kenagarian Pauh IX Kota Padang ini.

Menurut Rusli, dirinya bersama warga lainnya dengan ikhlas mendukung Irwan Prayitno karena sosok politisi PKS ini sederhana dan bersahaja. Irwan juga dikenal sebagai sosok yang agamis, yang sering memberikan ceramah kian kemari. Bagi Rusli dan warga Padang Japang lainnya, Sumbar butuh sosok pemimpin seperti Irwan, seorang anak muda yang agamis, seorang profesor, pendidik, dan suka blusukan ke daerah terisolir.

Karena Irwan masih banyak tamu, Rusli pun mohon diri kepada Irwan. Namun karena hari sudah malam, dirinya terpaksa menginap di Padang. Ketika ditanya Irwan menginap di mana, dengan polos Rusli mengatakan akan menginap di mesjid. Mendengar itu, Irwan terkejut dan meminta stafnya Rinaldi menyiapkan bekal untuk Rusli. Awalnya Rusli menolak, namun karena didesak Irwan, akhirnya dia menerima bekal tersebut.

 

“Sebaik-baiknya pemimpin kalian ialah orang-orang yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian, juga yang kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian. Sedangkan seburuk-buruk pemimpin kalian ialah orang-orang yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga yang kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (HR. Muslim).
Tamu lainnya yang merasa terharu melihat Rusli memintanya bersedia di antar ke Padang Japang, karena kebetulan searah. Dan Rusli pun menyanggupi permintaan tersebut.

Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang/Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Irwan Prayitno di Mata Datuk Gadang

Irwan Prayitno di Mata Datuk Gadang

BANYAK kenangan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat selama dipimpin Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa. Sebagai Gubernur Sumatera Barat, Irwan dianggap sebagai pemimpin yang mampu memberikan kenyamanan dalam bekerja bagi ASN Pemprov Sumbar. Irwan Prayitno merupakan pemimpin yang profesional, berintegritas, berkompetensi, dan amanah.

Tidak ada permintaan yang “macam-macam” dari Irwan. Mereka hanya diminta bekerja dengan profesional sesuai tupoksi tugas yang harus mereka kerjakan dengan baik. Disamping menjaga profesionalitas, Irwan selalu menekankan agar ASN berintegritas, berkompetensi dan menjaga amanah yang diberikan pimpinan.

 

Rasulullah saw bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; “bagaimana maksud amanat disia-siakan?” Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR Bukhari)
Sebagaimana diakui oleh Jaya Isman Arifin Datuk Gadang, selama menjabat kepala Samsat yang sekarang berubah nama menjadi UPTD-P3 di Padang, dirinya tidak pernah dimintai “macam-macam” oleh Irwan Prayitno selaku Gubernur Sumatera Barat. Irwan hanya meminta Samsat bekerja dengan profesional, meningkatkan pelayanan dan melakukan inovasi, sehingga pemasukan dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dapat ditingkatkan.

Berdasarkan instruksi Irwan waktu itu, Samsat berupaya melakukan berbagai inovasi. Diantaranya adalah meluncurkan program layanan unggulan Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat). Sistem unggulan tersebut berupa Samsat Drive Thru, info pajak melalui SMS, info pajak melalui kios dan info pajak kendaraan bermotor melalui website.

Pada saat meresmikan program layanan unggulan Samsat di halaman kantor Samsat Kota Padang pada tanggal 22 September 2014, Irwan mengatakan produk pelayanan yang diluncurkan oleh Samsat sudah sangat membantu masyarakat dalam hal membayar pajak kendaraan bermotor. Namun hal itu tidak menjadi alasan bagi Samsat untuk menghentikan inovasi dalam memunculkan produk-produk layanan kepada masyarakat. Sebab, banyak kemungkinan yang bisa dilakukan dengan adanya dukungan tekhnologi informasi yang baik.

Menurut Jaya Isman Arifin, saat ini Samsat Kota Padang menjadi penyumbang terbesar Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Sumatera Barat. Jika diprosentasekan sekitar 65 persen. Namun, berbagai inovasi akan terus dia lakukan, sehingga PKB terus dapat digenjot. Bahkan Samsat Padang kembali menerima sertifikat ISO 9001:2008 untuk kali kedua.

 

Irwan pun mengapresiasi keberhasilan Samsat Padang menerima sertifikat ISO 9001:2008 tersebut. Pada tahun 2008, Samsat Padang mendapatkan sertifikat ISO, artinya dari 2008 sampai saat ini pelayanan yang diberikan sangat memuaskan. Irwan pun berharap pelayanan yang baik ini bisa terus ditingkatkan.
Tak hanya itu, di mata Jaya Isman Arifin Datuk Gadang yang juga Ninik Mamak Nagari Lubuk Alung ini, Irwan adalah sosok ustadz dan pendidik. Sebagai seorang ustadz, Irwan selalu memberikan pencerahan rohani kepada ASN Pemprov Sumatera Barat, terutama terkait amanah jabatan. Irwan selalu mengingatkan agar ASN Pemprov Sumbar selalu menjaga amanah jabatan tersebut, sehingga pekerjaan yang dilaksanakan tak hanya berjalan dengan baik alias berhasil, tetapi juga mendapat pahala dari Allah swt. Sebab, apapun pekerjaan seseorang mukmin, bertujuan mencari ridho Allah swt.

Sebagai seorang pendidik, apatah lagi Irwan adalah seorang Guru Besar Bidang HRD Universitas Muhammadiyah Jakarta, ia selalu mndorong ASN Pemerov Sumbar bekerja profesional, memiliki integritas dalam bekerja, dan meningkatkan kompetensi yang dimiliki. Dalam mengangkat pejabat pun, Irwan mengutamakan kinerja, profesionalitas, integritas, dan kompetensi seseorang, bukan faktor kedekatan, suka atau tidak suka, dan penilaian subjektif lainnya.

Mungkin karena sosok seorang Irwan yang ustadz dan pendidik tersebut, ungkap Jaya Isman lagi, selama menjabat Gubernur Sumatera Barat Irwan tidak pernah melakukan permitaan yang “macam-macam”. Sebagai Kepala Samsat Padang, dirinya belum pernah sekali pun diminta Irwan memberikan “setoran” atau sumbangan tertentu.

Menurut Jaya Isman, Irwan adalah pemimpin yang baik, jujur, dan bersih yang pernah dia kenal. Walau Irwan seorang gubernur waktu itu, Irwan tidak sombong. Buktinya, ketika Regita Wijayani, putri pertama Jaya Isman menikah, Irwan bersedia menjadi saksi nikahnya. Dalam berpenampilan pun, ulas Jaya Isman, Irwan termasuk pemimpin yang tampil apa adanya dan tidak suka menyusahkan orang lain.
Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Waki Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang/Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Bentengsumbar.com, 13 Oktober 2015

 

Tegas Bukan Berarti Harus Pemarah

Tegas Bukan Berarti Harus Pemarah

BANYAK yang menyangka, pemimpin yang tegas itu adalah pemimpin yang suka marah-marah kepada anak buahnya. Pemimpin yang suka mengatakan anak buahnya dengan kata kasar atau caci maki lainnya. Padahal, itu bukanlah bentuk ketegasan, tetapi tak lebih dari pada pemimpin pemarah yang menganggap anak buahnya tak lebih dari seorang budak. Dia memposisikan diri bak raja, dan anak buah harus tunduk serendah-rendahnya padanya.

Menurut Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) RI, tegas memang tidak identik dengan muka yang merah, mata yang melotot, dengan suara yang berteriak-teriak apa lagi dengan melemparkan benda-benda lain yang ada di sekitarnya kepada siapa saja yang tidak berdaya. Sosok seperti itu bukanlah pemimpin yang tegas, bahkan ia sama sekali bukan sosok pemimpin.

Ketegasan memang tidak lahir dari tampilan orang yang sangar. Ia lebih banyak lahir dari pemimpin yang sederhana, lembut, dan penuh kasih sayang. Contoh yang tidak terbantahkan; lihat dan teladanilah Jenderal Sudirman. Beliau begitu sederhana namun sangat tegas ketika bersikap non kompromi dalam bentuk apapun terhadap penjajah.

Dia pun berpendapat, ketegasannya juga dapat dilihat saat menolak semua deal-deal politik transaksional untuk bagi-bagi kekuasaan. Baginya, lebih baik membangun koalisi kecil, tapi solid dan hanya berorientasi pada kerja keras membangun masa depan bangsa yang lebih baik, daripada koalisi besar yang berorientasi bagi-bagi kekuasaan. Kalau itu terjadi hampir mustahil pemerintah bisa berbuat untuk bangsa. (Pendapat Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan dapat Anda baca di tribunnews.com dan beritasatu.com).

 

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekeliling mu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159).
Sebagaimana pilpres, ketegasan kembali menjadi isu hangat pada pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) Sumatera Barat 2015 ini. Kelemah lembutan, tidak pemarah, tidak suka berkata kotor, pemaaf dan penyabarnya Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa menyebabkan dia dituding sebagai pemimpin yang tidak tegas. Lawan-lawan politiknya mencoba membangun persepsi negatif dengan mengatakan Irwan Prayitno bukanlah sosok pemimpin yang tegas dalam mengambil kebijakan.

Padahal, kalau disimak rekam jejak Irwan Prayitno selama menjabat Gubernur Sumatera Barat periode 2010-2015, justru dia termasuk sosok pemimpin yang tegas. Dalam mengangkat dan memberhentikan pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Irwan Prayitno menegaskan sikapnya hanya akan mengangkat dan memberhentikan pejabat melalui mekanisme yang jelas dan berdasarkan pertimbangan objektif. Bukan berdasarkan pertimbangan orang dekat, tim sukses, teman sekampung, ataupun karena membayar uang setoran.

Pengangkatan pejabat eselon di semua SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah) dilakukan sesuai mekanisme dan aturan yang berlaku. Dalam hal ini, proses fit and proper test dan uji kemampuan seseorang dalam memangku jabatan. Namun, dalam penilaian tersebut, Irwan juga memperhatikan nilai kinerja, loyalitas dan kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah sebagai pelaksanaan visi dan misi gubernur. Di luar faktor-faktor di atas, Irwan juga menolak keras adanya uang setoran dalam setiap pengusulan pejabat.

Dikatakan Irwan Prayitno, ketegasan itu harus sesuai aturan. Jika tidak, maka akan berdampak buruk kepada organisasi pemerintahan. Jika seorang pejabat menjadi penyebab terhalangnya reaslisasi bantuan pemerintah pusat karena tidak mau menandatangani surat sebagai syarat pencairan bantuan tersebut, maka sikap tegas harus diambil seorang pemimpin terhadap pejabat yang bersangkutan. Ketegasan harus dilakukan, pada saat kondisi yang diperlukan yaitu pada saat dimana suatu kondisi sudah mulai labil atau tidak stabil (Process and Human Approach), disini seorang pemimpin harus mampu mengambil keputusan untuk mengembalikan kondisi menjadi normal kembali. Jika tidak, maka kondisi akan bertambah buruk sejalan dengan lamanya tindakan yang diambil.

Bagi Irwan Prayitno, lembut ada tempatnya dan tegas ada saatnya. Kelembutan harus dikedepankan dan diutamakan, sedang ketegasan merupakan solusi akhir jika kelembutan tak mampu menyelesaikan persoalan. Tegas bukan berarti otoriter, tapi tegas maksudnya adalah yang benar katakan benar dan yang salah katakan salah serta mengambil kebijakan sesuai aturan yang ada. Tegas bukan berarti marah, dan marah bukan suatu ketegasan, keduanya sangatlah diperlukan dalam memimpin. Tetapi pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tegas bukan yang pemarah. Ini merupakan sikap seorang pemimpin yang selalu di idam-idamkan oleh rakyatnya.

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, dan Ia menyukai kelembutan dalam segala urusan.” (HR Bukhari) “Mohonlah pertolongan Allah. Campurlah sikap keras dengan segenggam kelembutan, lembutlah ketika kelembutan itu yang terbaik. Dan mantapkan kekerasan saat engkau tidak lagi mendapatkan cara kecuali kekerasan.” (Imam Ali ra)
Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang/Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Bentengsumbar.com, 12 Oktober 2015

 

Tidak Pemarah dan Berkata

Tidak Pemarah dan Berkata Kotor

RASA marah yang timbul akibat perasaan yang tersakiti sudah terlalu sering terjadi pada setiap orang. Hal tersebut sangat manusiawi terjadi. Bahkan orang yang sangat sabar pun bisa merasakan marah dan emosi ketika sudah tidak tertahankan lagi. Marah yang memuncak dan emosi yang tinggi akan menutupi pikiran seseorang dan kesadarannya, sehingga akan membuat seseorang secara tidak sadar mengucapkan atau melontarkan kata-kata kasar yang menyakitkan hati lawan bicaranya.

Hanya dengan sepenggal kata-kata yang menyakitkan, sebuah hubungan bisa hancur dan berantakan. Dalam sebuah hubungan, entah itu hubungan pertemanan atau hubungan atasan dan bawahan tentu saja tidak terlepas dari yang namanya pertengkaran. Bahkan, semesra apa pun atau seromantis apa pun hubungan pasangan suami istri, pasti pernah mengalami pertengkaran atau percekcokan. Dalam keadaan yang sangat marah, seseorang akan berpikiran negatif dan untuk mengekspresikannya dia akan mengucapkan kata-kata yang negatif juga, karena sangat sulit untuk berpikiran positif pada saat itu.

 

“… dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134) Rasulullah saw bersabda, “Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Bagi mereka yang mengenal sosok Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa secara baik, mereka pasti tahu kalau Irwan bukanlah tipe orang pemarah, apatah lagi sampai mengeluarkan kata-kata kurang sopan, seperti “bacaruik” segala macam. Kalau Irwan tidak suka terhadap ucapan atau tingkah laku seseorang, dia akan menasehati orang tersebut. Jika tidak bisa dinasehati dia akan diam atau meninggalkan orang itu.

Irwan juga terkenal sebagai orang yang pemaaf dan nyaris tak pernah marah. Di awal jabatan beliau sebagai gubernur Sumatera Barat banyak sekali ujian dan hambatan. Banyak hal-hal dan kejadian yang sebenarnya memancing emosi. Namun beliau tetap tenang. “Marah bukanlah solusi, apakah dengan marah-marah persoalan jadi selesai, apa bukan sebaliknya?” ujarnya memberi alasan.

Irwan dilantik sebagai Gubernur Sumatera Barat pada tanggal 15 Agustus 2015. Pelantikan dilakukan di garasi mobil, sebab gedung DPRD Sumbar rusak akibat gempa 30 September 2009. Gempa besar tersebut yang meluluh lantakkan hampir separuh Sumatera Barat. Masyarakat Sumatera Barat saat itu dalam keadaan nyaris putus asa.

Banyak serangan, tudingan bernada miring ditujukan kepada beliau bahkan fitnah secara nyata-nyata. Kerabat dan kawan-kawan geram dan meledak emosinya menanggapi tudingan, black campaign dan fitnah itu dan ingin menyerang balik penyebar fitnah. Namun Irwan mencegah mereka. “Jika kejahatan dibalas dengan kejahatan, bukankah itu berarti kita sama jahatnya dengan mereka?” ujarnya. Beliau menyarankan agar bersabar, biarkan Allah yang membalasnya , karena Allah Maha Tahu dan Maha Adil.

Banyak teman-temannya tidak puas dan tidak setuju dengan dalil yang dikemukakan Irwan, namun Irwan tetap kukuh dan yakin dengan pendiriannya. Akhirnya teman-temannya diam saja. Namun kemudian terbukti apa yang diyakini Irwan adalah benar. Perlahan namun pasti fitnah itu justru berbalik kepada penyebar fitnah. Karena Irwan selalu bertindak benar, fitnah itu makin tidak terbukti, justru Irwan makin dipercaya dan penyebar fitnah makin ketahuan belangnya. Memang benar, ternyata Tuhan telah memberikan hukuman yang lebih berat kepada mereka.

Menurut Irwan, kesalahan, baik disengaja maupun tidak disegaja bisa menimbulkan amarah, dendam dan sakit hati. Amarah, dendam dan sakit hati jika disimpan akan menjadi beban dalam pikiran. Makin lama makin banyak dan terus bertumpuk-tumpuk. Seperti virus dalam komputer,virus tersebut terus bertambah banyak dan bertambah. Akibatnya suatu saat komputer tersebut error, tak mampu lagi berkerja. Pada manusia hal yang hampir sama juga terjadi. Jika beban pikiran terus menumpuk, maka suatu saat bisa menimbulkan stres.
Untuk mengatasi hal tersebut, pada komputer diatasi dengan antivirus. Antivirus akan mendelete (menghapus) virus-virus yang mengganggu sistem kerja komputer. Pada manusia antivirusnya adalah “memaafkan”. Memaafkan akan menghapus (mendelete) semua beban pikiran berupa amarah, dendam dan sakit hati.

Bagaimana cara Irwan melatih dirinya menjadi orang pemaaf, tidak pemarah dan tidak berkata-kata kurang sopan? Untuk melatih menahan nafsu amarah, salah satunya adalah dengan berpuasa. Dan Irwan selalu melaksanakan puasa sunnah, disamping puasa wajib di bulan Ramadhan. Irwan selalu puasa Senin-Kamis. Puasa melatih Irwan untuk menjaga sikap dan perbuatan serta perkataan agar melakukan hal-hal yang baik.

Sikap dan perbuatan yang baik tentu memberikan nilai tambah yang baik bagi orang lain. Menjaga ucapan dan perkataan yang baik tentu saja menyenangkan bagi orang lain, tidak menimbulkan sakit hati dan merugikan orang lain. Sebaliknya, sikap tersebut menimbulkan simpati kepada pelakunya.

Tidak ada manusia yang tak memiliki sifat amarah berapapun kadarnya. Hanya saja, seberapa jauh, setiap orang memiliki kemampuan menahan dan mengendalikan sifat amarah dalam dirinya. Sebagian orang mengatakan marah adalah manusiawi, karena marah adalah bagian dari kehidupan. Tapi alangkah baiknya jika bisa menjadi pribadi yang bisa menahan marah dan kalaupun marah, maka marahnya tidak berlebihan, apatah lagi sampai mengeluarkan kata-kata kurang sopan.

“Barangsiapa tidak marah, maka ia lemah dari melatih diri. Yang baik adalah, mereka yang marah namun bisa menahan dirinya.” (Imam Al Ghazali, dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin).
Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Waki Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang/Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Bentengsumbar.com, 11 Oktober 2015

 

Antri Jemput Buku Rapor Anak di Sekolah

Antri Jemput Buku Rapor Anak di Sekolah

SOSOK yang satu ini adalah pemimpin yang selalu dekat dengan anak-anaknya. Walau setiap harinya sibuk menghadiri undangan masyarakat dengan waktu yang terbatas, namun komunikasi dengan 10 orang anak-anaknya tetap berjalan dengan baik. Apatah lagi, di zaman yang serba gadget canggih ini, komunikasi dapat dilakukan melalui smartphone berupa Short Message Service (SMS), WhatsApp (WA), BBM, dan segela macamnya.

Adalah Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa, mantan Gubernur Sumatera Barat periode 2010-2015, sangat memperhatikan perkembangan anak-anaknya, terutama dari segi pendidikan. Irwan menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah, yang tidak hanya pintar dari segi keilmuan, tetapi juga memahami agama dengan baik dan benar, sesuai tuntunan Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw.

 

“Apabila seorang telah meninggal dunia, maka seluruh amalnya terputus kecuali tiga, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim) “Sesunguhnya Allah ta’ala akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Kemudian dia akan berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku?” Maka Allah menjawab, “Hal itu dikarenakan doa yang dipanjatkan anakmu agar kesalahanmu diampuni.” (HR. Ahmad)
Sabtu (10/10/2015), sebagaimana diceritakan Zulhefi Sikumbang pada postingannya di akun jejaring sosial facebook miliknya, Irwan Prayitno antri, seperti wali murid kebanyakan. Walau Yayasan Adzkia adalah miliknya, tetapi dia tetap antri menjemput baku rapor sekolah anaknya yang duduk di kelas 9 C Adzkia, yang terletak di Taratak Paneh, Kuranji Kota Padang.

Bagi Irwan Prayitno hal tersebut sudah menjadi kebiasaan. Dirinya tak canggung antri bersama orang tua lainnya ketika mendaftarkan anak sekolah, demikian juga ketika menjemput buku rapor anak di sekolah. Seperti warga biasa lainnya, sebagai seorang ayah, pekerjaannya setiap pagi adalah mengantar sendiri putrinya ke sekolah, terkecuali dirinya tidak berada di Padang, baru pekerjaan tersebut diambil alih istrinya Hj. Nevi Zuairina.

Terkadang memang, karena faktor kesibukan dan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, memaksa Irwan menyerahkan urusan anak-anak kepada sang istri, Nevi Zuairina. Dengan 10 orang anak, tentu bukan pekerjaan yang gampang. Tapi syukurnya, anak-anak Irwan sekarang sudah besar-besar. Di antaranya sudah berkeluarga. Dari pernikahan anak-anaknya itu, ia dikaruniai tiga cucu. Anak-anaknya itu sudah jadi orang berhasil, memiliki penghidupan yang mapan dari kerja kerasnya sendiri.

 

Keberhasilan anak-anak Irwan terlihat dari pencapaian pendidikan mereka. Semua anak-anaknya yang sudah dewasa, kuliah di universitas negeri ternama di Indonesia. Ada juga yang menamatkan sarjana di luar negeri dan mendapatkan pekerjaan yang baik di Jakarta. Enam anak Irwan kini berada di ibukota, empat lainnya di Padang. Keberhasilan anak-anaknya itu tak terlepas dari komitmen Irwan yang kuat sebagai kepala keluarga. Di tengah kesibukkannya, mengurus anak-anak tetap menjadi yang utama.
Irwan biasa mengantar anak-anak ke sekolah. Bahkan, untuk urusan menjemput rapor, ia sendiri yang melakukan. Bagi Irwan, kesempatan itu digunakan untuk lebih mengetahui bagaimana perkembangan anak-anaknya di sekolah. Dirinya selalu bertanya kepada guru anak-anak di sekolah, bagaimana perkembangan pendidikan mereka. Sesibuk apa pun, Irwan selalu berkomunikasi dengan anak-anak, menanyakan kabar mereka, apakah sudah shalat dan sebagainya.

Kebiasaan mengantar anak ke sekolah bukan untuk memanjakan, tapi itulah caranya agar bisa lebih dekat dan berkomunikasi dengan anak. Sambil berada di dalam mobil, anak-anak terasa semakin dekat. Dengan demikian, Irwan bisa leluasa menyelami isi hati anak-anaknya. Sebab, jika hanya melalui telpon, anak-anak itu tak tahu mesti ngomong apa. Tapi, kalau sedang bersama-sama, mereka akan cerita apa saja. Dari sana, Irwan jadi tahu bagaimana kondisi anak-anak.

Bahkan, ketika mengantar anak-anak ke sekolah, Irwan sendiri yang menyetir mobil. Ketika bertemu dengan para orang tua lainnya yang mengantar anaknya ke sekolah, Irwan mengaku tak ada rasa yang berbeda ketika ia tak lagi menjadi Gubernur Sumbar. Sebagian orang masih menyapanya sebagai Pak Gubernur. Seperti ketika sedang mengantar sang putri ke sekolah, di jalan yang macet memasuki gerbang SMAN 1 Padang, Irwan diteriaki oleh para orang tua siswa dengan panggilan Pak Gub.

 

“Secara pribadi, saya sangat mengagumi teman saya Irwan Prayitno. Walau sesibuk apa pun, dirinya tetap mengutamakan anak-anaknya. Perhatian kepada anak-anaknya tidak pernah berkurang. Jadi tidak salah, kalau anak-anaknya berhasil dalam menempuh pendidikan. Sebagai orang tua, Irwan layak kita jadikan contoh, sebab tak mudah mengurus anak-anak sebanyak itu, apatah lagi memberikan perhatian setiap saat,” ungkap Zulhefi Sikumbang, teman sesama SMA yang selalu dekat dengan Irwan Prayitno.
Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Waki Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang/Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Bentengsumbar.com, 10 Oktober 2015

 

Irwan Prayitno dan Tour de Singkarak

Irwan Prayitno dan Tour de Singkarak

TOUR de Singkarak diselenggarakan untuk pertama kali oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia pada tahun 2009. Dipandang sukses dari segi peyelenggaraan, menjadikan ajang balap sepeda ini sebagai salah satu kejuaraan balap sepeda resmi Persatuan Balap Sepeda Internasional di kelas 2.2 Asia Tour. Sehingga selain didukung oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, Tour de Singkarak juga diperkuat dengan dukungan APBD provinsi dan kabupaten atau kota yang daerahnya dilalui oleh peserta.

Hal ini disebabkan setiap daerah yang menjadi bagian dari tahapan perlombaan balap sepeda Tour de Singkarak mempunyai peran cukup besar dalam mengenalkan daerahnya. Sehingga jumlah kabupaten dan kota yang menjadi jalur lintasan Tour de Singkarak dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Tour de Singkarak adalah kejuaraan balap sepeda resmi dari Persatuan Balap Sepeda Internasional (Union Cycliste International) yang diselenggarakan setiap tahun di Sumatera Barat.

 

Kejuaraan ini merupakan balapan jalan raya jarak jauh yang umumnya diadakan sekitar bulan April hingga Juni dan berlangsung selama seminggu. Namun, pada tahun ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2015. Kejuaraan ini telah menjalin kerjasama dengan Amaury Sport Organisation yang menjadi penyelenggara Tour de France di Perancis. Sesuai dengan namanya, Singkarak yang merupakan danau terbesar di Sumatera Barat menjadi bagian dari jalur lintasan Tour de Singkarak. Selain itu, beberapa kawasan wisata lain juga menjadi bagian dari jalur lintasan, termasuk Lembah Harau, Danau Maninjau, Kelok 44, Danau Di atas, dan Danau Di bawah.
Dalam tiga kali penyelenggaraan Tour de Singkarak, kota Padang selalu menjadi titik start pelombaan dengan titik finish di dermaga danau Singkarak. Namun pada Tour de Singkarak 2012, titik start lomba dipindahkan ke kota Sawahlunto. Sedangkan titik finish dipindahkan ke kota Padang sebagai ibu kota Sumatera Barat. Pada tahun ini, TdS mengambil start di Pantai Carocok, Kabupaten Pesisir Selatan pada tanggal 3 Oktober 2015 dan finish di kota Padang tanggal 10 Oktober 2015. Ini menjadi hal baru untuk Tour de Singkarak mengingat biasanya ajang dimulai di Sumatera Barat bagian Utara.

Tour de Singkarak memperebutkan hadiah total senilai 2,5 miliar rupiah tahun ini. Ada 24 tim dari 36 negara akan ikut serta dalam ajang ini. Satu tim yang menonjol adalah Track Team Astana dari Kazakhstan, yang pernah mengikuti Tour de France. Ajang balap sepeda internasional ini menempuh jarak sejauh 1.343,1 kilometer yang terbagi dalam sembilan etape serta melalui 18 kabupaten/kota di Sumatera Barat. Etape 1: Sabtu (3/10/2015): Pesisir Selatan-Pariaman (136 km), Etape 2: Minggu (4/10/2015): Padang Pariaman-Kab. Solok (120 km), Etape 3: Senin (5/10/2015): Sijunjung-Dharmasraya (157 km), Etape 4: Selasa (6/10/2015): Solok Selatan-Sawahlunto (160 km), Etape 5: Rabu (7/10/2015): Bukittinggi-Tanah Datar (145 km), Etape 6: Kamis (8/10/2015): Payakumbuh-Limapuluh Kota (135 km), Etape 7: Jumat (9/10/2015): Pasaman-Pasaman Barat (98 km), Etape 8: Sabtu (10/10/2015): Pasaman Barat-Agam (121 km), dan Etape 9: Minggu (11/10/2015): Padang Panjang-Padang (110 km).

 

Bagi Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa, mantan Gubernur Sumbar periode 2010-2015, mengaku puas dengan pelaksaaan TdS. Bahkan, ajang ini diakuinya menjadi media promosi yang bagus untuk Sumatera Barat. TdS semakin memantapkan posisi dan citra Sumbar sebagai destinasi pariwisata yang diperhitungkan dalam skala internasional. Menurutnya, TdS merupakan penghargaan bagi Sumbar. Pascagempa, orang takut ke Sumbar. Tapi sekarang jumlah kunjungan meningkat yang ditandai dengan pesawat selalu full booking, begitu juga hotel.
Dengan pariwisata ini, Irwan berharap, perekonomian masyarakat dan daerah bisa tumbuh positif. Ajang ini, menjadi promosi luar biasa, karena semua mata dunia tertuju ke daerah ini. Sumatra Barat makin dikenal dan dicintai. Jumlah negara yang menjadi peserta TdS terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Di samping banyaknya kunjungan wisata ke Ranah Minang, TdS telah memotivasi masyarakat Sumbar gemar bersepeda.

TdS berakhir di Kota Padang hari ini, Sabtu (10/10/2015). Fakta membuktikan, jelas Irwan lagi, walau di tengah bencana kabut asap yang melanda, masyarakat Sumatra Barat mampu menjadi tuan rumah alek gadang tersebut untuk kesekian kalinya. Acara yang menjadi sorotan masyarakat internasional tersebut berlangsung dengan sangat baik dan terus makin membaik dari tahun ke tahun. Masyarakat luas bahkan dunia telah tahu dan kenal Sumatra Barat, kita tentu ingin mereka cinta dan rajin berkunjung ke sini, agar peluang ekonomi itu makin terbuka. Karena itu tugas kita adalah memberikan yang terbaik dan memberikan kesan yang baik kepada mereka.

 

“Jika menawarkan jasa kuliner, berikanlah kuliner yang terbaik. Begitu juga jika menawarkan souvenir, berikanlah souvenir terbaik dan berkualitas. Jangan kecewakan mereka, buktikan, orang Minang adalah masyarakat yang berbudaya tinggi, jangan buat mereka kapok untuk datang lagi. Jangan berikan kesan yang jelek yang membuat mereka memberikan penilaian negatif tentang Sumatra Barat. Mari bersama-sama menyukseskan TdS, mari saling bahu-membahu untuk membuka peluang perbaikan ekonomi bagi ranah yang indah dan kita cintai ini,” ujar putra Kuranji ini.
Jika ditanya untuk apa TdS diadakan, menurut Irwan jawaban utamanya cuma satu: meningkatkan ekonomi masyarakat.
Setelah TdS sukses dilaksanakan, setelah wisatawan datang berkunjung ke Sumatra Barat, sesuai dengan tujuan penyelenggaraan TdS, maka misi selanjutnya, bagaimana kunjungan wisatawan tersebut berdampak positif terhadap ekonomi masyarakat. Kita semua sudah tahu dan dunia pun telah mengakui Sumatra Barat memiliki potensi alam yang luar biasa. Sumatera Barat punya budaya dan seni yang spesifik, kita juga punya kekayaan kuliner yang diakui kelezatannya di mana-mana.

Peluang itu makin terbuka, karena Sumatra Barat bisa dijadikan tujuan wisata alternatif karena bagaimanapun, wisatawan selalu mencari sesuatu yang baru dan menarik untuk dikunjungi. Wisatawan pasti akan merasa monoton jika hanya mengunjungi lokasi wisata yang sama dari tahun ke tahun seperti Bali, Yogja, Malaysia atau Singapura. Bagaimanapun jika cuma itu ke itu saja pasti jenuh, harus ada destinasi alternatif. Tujuan wisata alternatif itu Sumatra Barat, daerah ini sangat potensial. Kota Bukittinggi atau Sawahlunto telah membuktikan bahwa pariwisata telah mampu membuat ekonomi daerah ini berdenyut.

 

Efek berganda dari pertumbuhan wisata telah membuat ekonomi masyarakat tumbuh secara nyata. Itulah keistimewaan industri pariwisata dibandingkan industri lain, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kelompok tertentu, tetapi berdampak langsung terhadap masyarakat secara luas. Dengan demikian berarti tugas selanjutnya, adalah mempersiapkan Sumatra Barat menjadi tempat wisata yang layak. Kebersihan, keindahan dan kenyamanan menjadi kata-kata kunci agar wisatawan berkunjung dan betah membelanjakan uangnya di sini.
Namun hampir di semua objek wisata kita, ungkap Irwan, bertebaran sampah di mana-mana. Kondisi ini harus segera diubah, kebiasaan membuang sampah di sembarang tempat harus segera dihapus. Saya menyaksikan sendiri, peserta atau panitia TdS dari negara lain selalu memasukkan dan menyimpan sampah mereka dalam kantong-kantong untuk kemudian dibuang di tempat sampah. Tapi justru masyarakat kita membuang sampah sembarangan dimana saja mereka suka.

Tentu saja kebiasaan ini harus segera kita ubah. Banyak wisatawan yang memilih tinggal di rumah penduduk (home stay), bukan hotel berbintang asal rumah tersebut bersih dan nyaman. Hal ini tentu akan berdampak terhadap ekonomi masyarakat. Satu lagi yang perlu kita ubah adalah sikap melayani wisatawan. Kalau ditanya kenapa wisatawan memilih Bali, Jogyakarta atau Bandung, jawabannya adalah keramahan masyarakat setempat, sikap profesional mereka melayani wisatawan. Di bandara di daerah tersebut tidak akan kita temui pengemudi taksi rebut-rebutan penumpang, apalagi sambil menarik-narik tas mereka. Premanisme di objek wisata juga paling banyak dikeluhkan wisatawan sehingga mereka kapok berkunjung ke daerah itu.

 

Usai TdS juga diharapkan berdampak terhadap animo masyarakat masyarakat Sumbar untuk berolahraga sepeda, bahkan diharapkan ke depan akan uncul pembalap sepeda yang bakal menjuarai Tour de Singkarak, sekaligus menjadi pembalap nasional. Tentu saja infrastuktur pendukung harus terus ditingkatkan. Biasanya jika peluang bisnis terbuka, kondisi dan masyarakat setempat mendukung, otomatis investor akan turun turun menanamkan modal untuk menyiapkan fasilitas. Pemerintah kota dan kabupaten tentu juga akan menfasilitasi agar semua itu bisa terwujud, tinggal menunggu komitment kita bersama, ujarnya.

Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Waki Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang/Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Bentengsumbar.com, 10 Oktober 2015

Seimbang Antara Kesalahen Personal dan Sosial

Seimbang Antara Kesalahen Personal dan Sosial

BAGI seseorang, sangat sulit memadukan kedua hal ini: kesalehan personal dan sosial. Biasanya, orang yang saleh secara personal, belum tentu mampu menjaga kesalehan sosialnya dengan baik, begitu pula sebaliknya. Orang yang saleh personal dan sosial sering terjerat kepada perbuatan riya dalam melakukan aktivitas yang digelutinya.

Misalnya, seseorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mendadak rajin puasa sunah Senin-Kamis, padahal sebelumnya dia jarang melakukannya. Selidik punya selidik, lantaran induk semangnya rajin puasa sunnah Senin-Kamis. Ada pula orang yang mendadak menjadi ustad menjelang pelaksanaan pemilihan umum. Dia rajin masuk mesjid ke luar mesjid, tujuannya bukan memberikan pencerahan ke umat, tetapi untuk meraih simpati umat sehingga memperoleh suara yang diinginkan. Ini bentuk kesalehan pribadi yang dibuat-buat, ada maunya dari manusia, bukan mengharap ridho Ilahi.

 

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian semua adalah syirik kecil.’ Para sahabat bertanya, ‘apa yang dimaksud dengan syirik kecil wahai Rasulullah?’ beliau bersabda, ‘riya’. Di hari kiamat kelak, manusia diberi pahala, Allah berfirman kepada mereka, ‘Pergilah kalian kepada mereka yang pernah kamu riya’ ketika di dunia dan perhatikanlah apakah di sisi mereka ada pahala untuk kalian.” (HR. Ahmad)
Contoh lainnya, banyak orang yang mendadak menjadi dermawan. Bukan karena dia ingin berbagi untuk sesama, kebetulan dia lagi mencalonkan diri sebagai anggota legislatif atau kepala daerah. Hal ini secara terang benderang diketahui orang, tetapi kebanyakan mereka diam, dan tetap menerima sumbangan dari caleg atau cakada (calon kepala daerah) tersebut. Penilaian dilakukan di dalam hati mereka masing-masing dengan menimbang baik buruknya.

Dalam kenyataannya, kita juga melihat masih terdapat ketimpangan yang tajam antara kesalehan personal dan kesalehan sosial. Banyak orang yang saleh secara personal, namun tidak atau kurang saleh secara sosial. Kesalehan personal kadang disebut juga dengan kesalehan ritual, kenapa? Karena lebih menekankan dan mementingkan pelaksanaan ibadah ritual, seperti shalat, puasa, zakat, haji, zikir, dan sebagainya. Disebut kesalehan personal karena hanya mementingkan ibadah yang semata-mata berhubungan dengan Tuhan dan kepentingan diri sendiri. Sementara pada saat yang sama mereka tidak memiliki kepekaan sosial, dan kurang menerapkan nilai-nilai Islami dalam kehidupan bermasyarakat. Pendek kata, kesalehan jenis ini ditentukan berdasarkan ukuran serba formal, yang hanya hanya mementingkan hablum minallah, tidak disertai hablum minan nas.

Sedangkan “Kesalehan Sosial” menunjuk pada perilaku orang-orang yang sangat peduli dengan nilai-nilai Islami, yang bersifat sosial. Bersikap santun pada orang lain, suka menolong, sangat concern terhadap masalah-masalah ummat, memperhatikan dan menghargai hak sesama; mampu berpikir berdasarkan perspektif orang lain, mampu berempati, artinya mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan seterusnya. Kesalehan sosial dengan demikian adalah suatu bentuk kesalehan yang tak cuma ditandai oleh rukuk dan sujud, puasa, haji melainkan juga ditandai oleh seberapa besar seseorang memiliki kepekaan sosial dan berbuat kebaikan untuk orang-orang di sekitarnya. Sehingga orang merasa nyaman, damai, dan tentram berinteraksi dan bekerjasama dan bergaul dengannya.

“Barangsiapa bangun di waktu pagi dan berniat menolong orang yang teraniaya dan memenuhi keperluan orang Islam, baginya ganjaran seperti Haji Mabrur. Hamba yang paling dicintai Allah ialah yang paling bermanfaat bagi manusia, dan amal yang paling utama ialah memasukkan rasa bahagia pada hati orang yang beriman, menutup rasa lapar, membebaskan dari kesulitan, atau membayarkan utang.” (HR. Ibnu Hajar Al-Asqolani)
Menarik untuk mencermati pemilihan Gubernur Sumatera Barat kali ini. Ada orang yang memaksakan diri agar terlihat saleh secara personal dan sosial demi meraih simpati rakyat. Namun tidak bagi Irwan Prayitno. Pada dirinya, kesalehan personal dan sosial tidak dibuat-buat. Orang-orang yang mengenali Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa dengan baik, maka mereka akan tahu, bahwa kesalehan personal dan sosial yang terbentuk pada sosok yang satu ini bukan dibuat-buat menjelang pemilihan anggota DPR RI atau Gubernur Sumatera Barat saja.

Kesalehan personal dan sosial Irwan terbentuk berkat didikan kedua orang tuanya, Djamrul Djamal dan Sudarni Sayuti. Keduanya merupakan lulusan PTAIN Yogyakarta dan dosen IAIN Imam Bonjol. Irwan dididik ilmu agama oleh kedua orang tuanya sendiri sedari kecil. Dalam kehidupan sehari-hari, Irwan sudah terbiasa mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam. Irwan sudah terbiasa puasa sunnah Senin-Kamis, sudah terbiasa sholat dhuha, sudah terbiasa sholat malam, iktikaf di mesjid, membaca Al Quran dan ibadah yang bersifat ritual lainnya. Irwan pun sudah terbiasa memberikan tausiyah kepada umat sejak muda. Dia dikenal sebagai ustad panggilan yang dipanggil ceramah dari surau ke surau, dan dari mesjid ke mesjid. Dia juga mentarbiyah anak-anak muda, sehingga mereka mengenal agamanya dengan baik.

Dalam membina rumah tangga pun, Irwan Prayitno mencari pasangan yang sekufu dengannya. Adalah Nevi Zuairina, seorang wanita yang tangguh yang selalu setia mendampingi penghulu Suku Tanjuang Kenagarian Pauh IX Kota Padang ini. Menikah dalam usia muda, ketika masih menuntut ilmu di Universitas Indonesia (UI). Bersama Nevi Zuairina, Irwan Prayitno membina rumah tangganya. Mereka bertekad menjadi keluarga dakwah. Anak-anak Irwan Prayitno pun dididik dengan nilai-nilai keislaman yang kental dalam rumah tangga. Kesalehan personal dan sosial dikenalkan kepada mereka sejak dini oleh Irwan dan Nevi.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)
Ya, hobi Irwan Prayitno memang berdakwah. Di mana berada, dengan siapa pun lawan bicara, kata-kata dakwah pasti terselip dari ucapannya. Selain sebagai penceramah agama, dia juga kerap diundang menjadi khatib Jumat dan dua sholat Id. Kesalehan personal ini tertanam kuat pada dirinya. Kesalehan personal ini pun berujung pada kesalehan sosial, karena ritual ibadah dalam Islam sarat makna sosial. Semisal sholat, puasa, zakat, haji, sedekah, dan lain sebagainya.

Bagi Irwan, ibadah ritual dalam Islam erat kaitannya dengan perilaku sosial seseorang. Puasa misalnya, menurut Irwan dapat menjadi terapi mencegah perilaku korupsi. Sebab, misi utama ibadah puasa adalah mengendalikan hawa nafsu. Puasa mengajarkan umat Islam untuk menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, merasakan penderitaan orang lain yang kelaparan serta mendekatkan diri kepada Allah swt. Jika ibadah puasa dilakukan dengan baik dan benar, Insya Allah akan mampu mencegah seseorang dari tindakan korupsi. Dan selama memimpin Sumatera Barat sejak tanggal 15 Agustus 2010-15 Agustus 2015, publik Sumatera Barat belum pernah mendengar Irwan Prayitno tersangkut kasus korupsi.

Suatu hal yang menarik bagi penulis sejak mengenal Irwan. Sosok yang satu ini paling tidak suka namanya disebut-sebut jika memberikan sumbangan. Dia akan berpesan kepada penerima sumbangan, cukup disebut hamba Allah saja, tak usah disebut namanya. Tujuannya adalah untuk menghindari riya, sebab perilaku riya akan membakar amal ibadah seseorang. Dalam suasana pemilihan Gubernur Sumatera Barat 2015 ini pun, Irwan tidak mau disebutkan namanya jika memberikan sumbangan. Padahal, biasanya seorang calon kepala daerah paling suka namanya disebut-sebut jika memberikan sumbangan.

“Sesungguhnya, orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan, apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dalam salat) di hadapan manusia. Dan, tidaklah mereka menyebut Allah, kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisa: 142).
Dengan demikian, Islam bukan agama individual. Ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad adalah agama yang dimaksudkan sebagai rahmat bagi semesta alam (Rahmatan lil alamin). Agama yang tidak hanya untuk kepentingan penyembahan dan pengabdian diri pada Allah semata tetapi juga menjadi rahmat bagi semesta alam. Karena itu, dalam Al Quran kita jumpai fungsi manusia itu bersifat ganda, bukan hanya sebagai abdi Allah tetapi juga sebagai khalifatullah. Khalifatullah berarti memegang amanah untuk memelihara, memanfaatkan, melestarikan dan memakmurkan alam semesta ini, karena itu mengandung makna hablum minan nas wa Hablum minal alam.

Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Waki Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang/Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Bentengsumbar.com, 9 Oktober 2015

 

Pemimpin Muda Nan Ganteng dan Agamis

Pemimpin Muda Nan Ganteng dan Agamis

MALAM ini, Kamis (8/10/2015), beberapa orang mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Sumbar mendatangi Sekretariat Bersama Bara Online Media (Sekber BOM) di jalan Siak No. 4 Kelurahan Rimbo Kaluang Kecamatan Padang Barat Kota Padang. Maksud kedatangan mereka adalah untuk bersilaturahmi dengan jajaran pimpinan BOM dan ingin menimba ilmu jurnalistik dari wartawan gaek Syahrial Aziz.

Selain itu, kedatangan mereka juga bertujuan menyampaikan aspirasi bahwa mereka juga memberikan dukungan kepada calon Gubernur Irwan Prayitno yang berpasangan dengan calon Wakil Gubernur H. Nasrul Abit yang akan berlaga pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sumbar tanggal 9 Desember 2015. Alasan mereka mengapa harus mendukung Irwan Prayitno ternyata simple dan sesuai fakta yang ada.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR. Bukhari)
Menurut mereka, di antara dua pasang calon gubernur yang akan berlaga, Irwan Prayitno merupakan sosok pemimpin muda nan ganteng dan agamis. Irwan Prayitno kelahiran tahun 1963 dan sekarang baru berusia 52 tahun.

Zianul Haq, mahasiswa STKIP PGRI Sumbar asal Pasaman Barat mengatakan, Sumatera Barat butuh sosok pemuda yang memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) dan penuh dengan inovasi dalam membangun daerah ini. Dan itu terdapat pada sosok Irwan Prayitno, seorang pemuda yang gigih dan ulet, sehingga tidak saja berhasil memimpin rumah tangganya, tetapi telah berhasil membawa masyarakat Sumatera Barat keluar dari musibah gempa 30 September 2009.

Di mata Zianul Haq, Irwan Prayitno berhasil menuntaskan rehab rekon sebanyak 197.636 rumah masyarakat yang rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan akibat gempa bumu 30 September 2009 yang menelan dana sebesar Rp 2,714 triliun dengan tepat waktu. Termasuk dalam membenahi sarana prasarana publik yang rusak akibat gempa bumi dahsyat tersebut, seperti jalan, jembatan, irigasi, sarana kesehatan, pasar, dan sarana pendidikan. Keberhasilan ini patut diapresiasi, tak hanya oleh pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tetapi juga oleh masyarakat Sumbar secara keseluruhan.

 

Apresiasi dari Pemerintah Pusat dalam bentuk pemberian empat penghargaan sekaligus: Terbaik I Nasional dalam Pelaksanaan Tanggap Darurat,Terbaik I Nasional dalam Pelaksanaan Rehab Rekon Pascabencana, Terbaik II Kategori Akuntabilitas Bidang Kebencanaan dan Terbaik III Bidang Mitigasi. Penghargaan ini diterima pada tahun 2011. Pada tahun 2013 diperoleh lagi penghargaan Rehab Rekon Tercepat.
Disamping itu, menurut Zianul Haq, Irwan Prayitno adalah sosok pemimpin yang agamis. Irwan dikenal sebagai ustadz tidak hanya setelah menjadi Gubernur Sumatera Barat, tetapi jauh sebelum itu. Dia telah berdakwah sejak muda, berdakwah dari kampus ke kampus, dari surau ke surau dan dari mesjid ke mesjid. Berbeda dengan kebanyakan pemimpin lainnya, yang mendadak menjadi ustadz menjelang pemilu saja yang bertujuan untuk meraih simpati rakyat dan meraup suara mereka.

Zianul Haq berharap, Irwan terpilih kembali menjadi Gubernur Sumatera Barat dan melanjutkan pembangunan yang telah dia lakukan. Jika terpilih nanti, Zianul Haq meminta Irwan serius membenahi pendidikan di daerah ini. Kampus-kampus yang ada perlu pembenahan dan perhatian lebih dari pemerintah daerah, tak hanya dari segi fisik, tetapi peningkatan kualitas SDM-nya. Mahasiswa yang menuntut ilmu di berbagai kampus juga butuh perhatian, terutama mereka yang berasal dari keluarga yang kurang mampu.

 

“Secara pribadi, saya belum pernah bertemu Irwan Prayitno. Saya mendapat informasi tentang dirinya dari media sosial, media online, koran, dan dosen-dosen di kampus. Saya ingin sekali bertemu beliau, dan mengundangnya pada kegiatan seminar yang kami adakan. Dulu beliau pernah memberikan materi seminar di kampus kami, dan sejak itu kami tertarik dengannya,” ungkap Zianul Haq, mahasiswa jurusan pendidikan sejarah STKIP PGRI Sumbar ini.
Senada dengan itu, Naldi, mahasiswa STKIP PGRI Sumbar lainnya berharap, jika terpilih lagi, Irwan Prayitno harus fokus membenahi SDM di daerah ini. Kejayaan Sumatera Barat sebagai daerah industri otak harus dikembalikan. Untuk itu, pembenahan pada sektor pendidikan perlu dilakukan secara serius dengan perencanaan yang matang. Sekolah-sekolah yang rusak harus diperbaiki, kesejahteraan tenaga pendidik juga harus mendapat perhatian tersendiri dari pemerintah daerah. Apatah lagi, Irwan Prayitno merupakan seorang pendidik dan pernah menjadi Ketua Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan.

Naldi juga mengharapkan Irwan membuka lapangan kerja. Sebab, bantuan tunai langsung yang diberikan kepada masyarakat selama ini oleh pemerintah ternyata tidak tepat sasaran dan lebih cenderung konsumtif. Demikian juga pemberian bantuan lainnya, juga cenderung tak tepat sasaran. Makanya, solusi yang tepat untuk mengatasi kemiskinan adalah dengan membuka lapangan kerja, bukan memberikan bantuan seperti itu.

Irwan juga diharapkan mampu menstabilkan harga produksi perkebunan dan pertanian yang saat ini cenderung mengalami penurunan. Seperti harga sawit, ikan, dan lainnya. Sebab, jika harga produksi perkebunan dan pertanian terus-terusan menurun akan berdampak pada kesejahteraan petani. Tentunya Irwan harus memikirkan langkah jitu untuk mengatasi penurunan haraga sawit dan hasil pertanian ini jika terpilih lagi menjadi gubernur.
Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Waki Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang/Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Bentengsumbar.com, 9 Oktober 2015

Sosok Irwan Prayitno dan Nevi Zuairina di Mata Anak-Anak Mereka

Sosok Irwan Prayitno dan Nevi Zuairina di Mata Anak-Anak Mereka

BERAGAM komentar pembaca terhadap artikel penulis yang berjudul “Memiliki Satu Istri Tangguh Dengan 10 Orang Anak”. Artikel tersebut penulis posting di Portal Berita BentengSumbar.com pada tanggal 6 Oktober 2015. Sampai saat ini, pembacanya sudah mencapai ratusan orang.

Tulisan tersebut juga penulis posting ke akun jejaring sosial facebook milik penulis dan beberapa grup diskusi di media sosial facebook. Tak hanya penulis, tulisan itu tercatat juga diposting ulang oleh beberapa orang dikronologi akun jejaring sosial facebook, twitter, dan WhatsApp milik mereka.

Namun dari sekian banyak komentar, yang paling menarik adalah komentar yang diberikan oleh beberapa orang anak pasangan Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa dan Hj. Nevi Zuairina. Mereka pun memberikan ulasan terhadap tulisan tersebut dengan mendorong kedua orang tua mereka agar tetap bersemangat dalam membina rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Jundy Fadhlillah, anak pertama Irwan dalam komentarnya mengatakan, di balik sebuah kesuksesan laki-laki terdapat sosok wanita hebat yang senantiasa memberikan support dan doanya. Seorang istri yang tak kenal lelah mendoakan kesuksesan bagi suaminya, baik di dunia dan di akhirat. Allah menjadikan istri dan anak-anak sebagai amanah, jika istri dan anak-anaknya tidak beriman kepada Allah SWT, bisa menjadikan lelaki tersebut orang yang dimurkai Allah. Sebaliknya, jika memiliki istri dan anak-anak yang taat kepada Allah, maka mereka akan mengingatkan lelaki tersebut jika berbuat hal yang tidak disukai Allah.
Menurut Jundy, suami istri mempunyai hak dan kewajiban, tanggung jawab kepemimpinan yang diemban suami yang menjadi hak bagi istri membimbing menuju kebaikan dan menjauhkan dari keburukan. Peran dan posisi seorang ibu, adalah peran yang sangat strategis, peran yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun, dalam membangun umat dan peradaban.

Irwan dan Nevi, jelas Jundy lagi, merupakan contoh pasangan yang menikah muda, sibuk berdakwah tetapi tidak lupa mengejar kesuksesan hidup, terbukti dari berhasilnya anak-anak mereka masuk perguruan tinggi dan juga bisnis yang dikelola. Irwan Prayitno memiliki istri dan anak yang terbilang banyak, di sinilah peran Nevi Zuarina sebagai istrinya sangat penting dalam membesarkan anak-anak mereka. Meskipun aktivitas dakwah dan sosialnya banyak, tetapi ia tetap mengutamakan pendidikan anak-anak mereka, bersama Irwan membesarkan anak-anaknya agar menjadi anak yang sholeh dan sholehah.

Suami dari Aisyah Ramadhani menegaskan, tugas istrinya yang begitu banyak dan melelahkan menjadi inspirasi Irwan untuk menulis lagu terlebih saat itu tengah ditinggal umroh ke tanah suci. Anak-anak yang banyak pun tidak dianggap sebagai suatu penghalang atau merepotkan, melainkan menjadi penyemangat dan pelepas lelah dari semua aktivitas. Hal yang paling penting diajarkan kepada anak-anak adalah jangan sampai mereka mempersekutukan Allah. Karena hal ini akan mempengaruhi segala tindakan dari hidup yang dijalaninya. Ketika iman di dalam hatinya sudah tertancap kuat, secara tidak langsung akan memperbaiki akhlaknya.

Tak kalah hebatnya adalah komentar Waviyatul Ahdi, anak kedua pasangan Irwan dan Nevi. Menurutnya, dalam berkeluarga, baik suami maupun istri sama-sama memerankan peran penting masing-masing dan harus ada kerjasama di antara keduanya. Jika kedua pasang orang tua ini tidak kompak, maka sulit menghasilkan keluarga yang harmonis dan sesuai dengan visi-misi keluarga.

 

Kesuksesan suami juga tidak terlepas dari peran istri dan dukungan anak-anak. Namun, istri dan anak-anak bisa menjadi kelalaian dan cobaan bagi sang ayah. Oleh karena itu, dalam mengelola keluarga perlu didasari tuntutan agama dan meneladani sifat Rasulullah SAW, serta harus didasari oleh sikap ikhlas dalam berkeluarga.

Selain itu, terang dokter gigi tamatan Universitas Indonesia ini, perlu dipahami juga, bahwa pemimpin yang sukses duniawi dan ukhrowi umumnya lahir dari rahim ibu yang sholehah dan lingkungan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Oleh sebab itu, keluarga yang sakinah mawaddah warahmah juga perlu diciptakan untuk terbinanya generasi rabbani yang sholeh dan taat kepada Allah SWT dan mengikuti Al Quran dan sunnah.

“Tidak ada artinya sukses di dunia jika keluarga yang kita miliki adalah keluarga yang rusak dan durhaka kepada Allah SWT dan Rasulnya. Dalam berkeluarga sendiri juga harus saling mengingatkan sesama saudara dan orang orang terdekat kita untuk terciptanya keluarga idaman ini, sehingga tercipta peradaban muslim yang tangguh. Semoga keluarga yang kita bina, terhindar dari api neraka dan menjadi generasi yang sholeh sholehah dan tangguh,” ungkap istri dari Irfan Aulia Saiful ini.
Dhiya’u Syahidah, anak ketiga Irwan dan Nevi dalam komentarnya mengatakan, seorang istri memiliki peran yang sangat strategis nan vital dalam membangun suatu kehidupan yang lebih baik dan bermartabat, mulai dari keluarga hingga urusan berbangsa dan bernegara. Hal ini merupakan suatu aksioma karena seorang pemimpin manapun pasti lah memiliki seorang yang sangat dekat pada pemimpin itu secara emosional, dan tentunya istri adalah sosok yang memiliki ikatan emosional terkuat bagi seorang pemimpin (suami). Jika kondisi seorang istri tidak sehat secara lahir atau pun batin, pasti hal ini akan mempengaruhi kondisi psikis sang pemimpin itu sendiri yang akan berefek pada orang-orang yang dipimpinnya.

“Bila kita berbicara tentang cinta antara suami dan istri, sesungguhnya cinta ideal menurut Islam adalah cinta yang berbanding lurus dengan cinta mereka kepadaNya. Sehingga, semakin keduanya mencinta semakin besar semangat di dada mereka untuk beribadah kepadaNya. Maka, jika salah memilih istri atau pendamping tentulah cinta itu akan membawa kepada kehancuran bagi sang pemimpin. Sudah tidak asing lagi kita melihat banyak orang-orang yang menempuh cara-cara haram untuk mengejar kepentingan duniawi. Tentunya hal ini tidak akan terjadi jika sang istri senantia‎sa memotivasi dan mengingatkan suami untuk mencari rezeki-Nya yang halal,” tegas istri dari Fallery.

Jundy Fadhlillah, Waviyatul Ahdi dan Dhiya’u Syahidah sudah pula berumahtangga, sehingga paham betul peran mereka sebagai suami atau istri. Didikan ayah dan ibu mereka menjadi bekal pula dalam membina rumah tangga mereka, sehingga menjadi rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Dalam membina rumah tangga, mereka meneladani ayah dan ibu mereka. Dari komentar-komentar yang mereka berikan, sangat kental sekali nuansa agamanya. Tentu ini adalah modal utama yang diberikan Irwan dan Nevi kepada mereka sedari kecil sampai mereka berumahtangga pula.

Sekarang, mari kita lihat pula komentar anak-anak Irwan dan Nevi yang masih lajang. Anwar Jundi mengatakan, intinya bahwa di balik segala kesuksesan, walaupun Ayah Ibu masih muda, maka di belakang tersebut ada yang berperan menjadi panutan serta pendukung untuk sukses, yaitu seorang istri dan anak-anak yang selalu mendorongnya. Di dunia ini segala macam aktivitas telah diatur oleh Allah, Allah telah memberi rezeki yang banyak kepada kedua orang tua ini, rezeki itulah yang telah membuat kedua orang tua ini taat kepada allah.

Dikatakannya, ayah telah dilahirkan dari keluarga bercukupan, ibu juga sama telah lahir di keluarga bercukupan. Yang membuat Allah suka karena mereka setiap hari selalu beribadah kepada Allah, itulah yang paling disukai oleh Allah sehingga mereka menjadi suri tauladan bagi anak-anaknya. Tapi apabila ada kekurangan pada anaknya dan ketika anak yang satu bermasalah maka saudaranya pun akan mengikutinya.

Salah satu kunci kesuksesan seseorang dalam memimpin organisasi adalah dukungan dari istri dan anak-anaknya. Orang bijak sering mengatakan, “Di balik lelaki sukses, ada wanita hebat di belakangnya.” Jika ada lelaki yang menjadi pemimpin besar, motivator hebat, tokoh ternama dan pengusaha sukses, maka pasti ada peran besar di belakangnya yaitu istrinya.

Anak kelima Irwan dan Nevi, Atika memberikan ulasan, kesuksesan seorang suami dalam karirnya bukan hanya berasal dari kecerdasan semata, kesuksesan tersebut memiliki kunci yang sangat mudah untuk didapatkan, yaitu seorang istri. Istri merupakan sosok yang menjadi fungsi kontrol bagi suami untuk tetap berada di jalur Allah SWT. Istri juga merupakan motivator paling handal bagi sang suami, istri yang baik mampu meringankan beban suami ketika mencari nafkah.

Hal tersebut, jelas mahasiswa Fakultas Ekonomi UI ini, dapat dilakukan melalui hal-hal yang sepele. Dari cara sang istri menyambut suami ketika pulang, menyiapkan makanan untuk suami, dan selalu berada di sisi suami dalam keadaan susah maupun senang. Dengan begitu, sang istri mampu mendamaikan mata dan jiwa suami, sehingga masalah-masalah seperti terjerat kasus hukum, korupsi, dan lain halnya dapat terjauhi dari suami. Suami dan istri yang memiliki cinta berlandaskan cinta karena Allah SWT dan Rasul-Nya pastinya akan memiliki kerjasama yang positif dalam membangun rumah tangganya.

“Suami dan istri mampu membina anak-anaknya untuk berada di jalan Allah SWT, mengantarkan anak-anaknya untuk menjalani kehidupan dunia, dan membantu anak-anaknya dalam mempersiapkan diri untuk kehidupan di akhirat. Maka dari itu, keluarga sakinah mawaddah wa rahmah harus mampu diwujudkan untuk tiap keluarga. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa kebahagiaan keluarga itu berasal dari seorang suami dan istri yang sholeh dan sholehah, serta anak-anaknya yang berbakti,” ujarnya.
Sementara itu, menurut Ibrahim, anak keenam Irwan Prayitno dan Nevi Zuairina, salah satu kunci kesuksesan seseorang dalam pemimpin adalah dukungan dari istri dan anak-anaknya yang memberikan peran besar. Tentu para suami tidak bisa mengabaikan pentingnya dukungan keluarga bagi tercapainya suatu keberhasilan. Ayah adalah sosok pemimpin yang beruntung memiliki seorang istri yang tangguh (ibu), yang mampu mendorong Ayah di titik sekarang.

Itulah komentar dari anak-anak Irwan Prayitno dan Hj. Nevi Zuairina. Komentar yang berlandaskan kecintaan kepada kedua orang tua mereka. Tak lupa pula, dengan penuh kekaguman kepada sosok ayah dan ibu mereka, mereka terus memberikan semangat agar kedua orang tua mereka tetap menjalankan aktivitas sosial politik dan amanah yang diberikan sesuai dengan ketentuan Ilahi.

Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang/Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Bentengsumbar.com, 8 Oktober 2015

 

Memiliki Satu Istri Tangguh dengan 10 Orang Anak

Memiliki Satu Istri Tangguh dengan 10 Orang Anak

SALAH satu kunci kesuksesan seseorang dalam memimpin organisasi adalah dukungan dari istri dan anak-anaknya. Orang bijak sering mengatakan, “Di balik lelaki sukses, ada wanita hebat dibelakangnya.” Jika ada lelaki yang menjadi pemimpin besar, motivator hebat, tokoh ternama dan pengusaha sukses, maka pasti ada peran besar di belakangnya.

Apatah lagi, jika bicara mengenai langkah dan kebiasaan para istri dalam mendorong suami mereka untuk meraih keberhasilan hidup, maka tentu tidak bisa mengabaikan pentingnya dukungan keluarga bagi tercapainya keberhasilan itu sendiri. Tidak akan mungkin seorang suami mampu mewujudkan cita-cita dan membaguskan kinerjanya, ketika keluarganya dalam kondisi kacau.

 

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka). Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At Taghaabun: 14-15)
Menurut Wahbah az-Zuhaili, seorang fuqaha Suriah kenamaan, yang dimaksud musuh di sini adalah permusuhan dalam urusan akhirat, terkait sesuatu yang tidak bermanfaat bagi kalian. Mereka menyibukkan seorang laki-laki dari kebaikan dan amal saleh yang berguna bagi kalian di akhirat. Maka waspadalah agar cinta dan kasih sayang sebagai seorang suami dan ayah kepada mereka tidak mempengaruhi ketaatan kepada Allah SWT. Kemudian Allah menganjurkan untuk memberi maaf kepada mereka.

Bagi kebanyakan suami, istri dan anak adalah musuh bagi mereka. Sebab, anak dan istri telah menyita banyak waktu mereka, sehingga lalai terhadap kewajibannya kepada Allah swt. Tak terelakan, kadang-kadang untuk memenuhi kehendak istri dan anak, seseorang sering menghalalkan segala cara. Mereka terpaksa korupsi, merampok, menipu, dan segala macam perbuatan yang dilarang Allah swt mereka lakukan, demi memenuhi kehendak istri dan anak.

Terkadang tak tahu malu, badan sudah uzur, usia sudah tergolong lansia, tetapi masih juga menyibukan diri dengan urusan dunia. Tujuannya semata-mata untuk memenuhi kehendak istri yang masih ‘tagok’ dan terbuai dunia sosialita. Seharusnya, di usia senja, seseorang lebih banyak menghabiskan waktu mengingat Allah swt, tafakur dan iktikaf di rumah Allah, usai subuh lari pagi untuk menjaga kesehatan badan, sorenya bercanda ria dengan cucu. Bukan malah terpedaya tipuan dunia, sehingga sibuk keluar kampung masuk kampung untuk mewujudkan keinginan dan ego pribadi demi si istri dan anak-anaknya.

 

Beruntunglah Irwan Prayitno memiliki seorang istri yang tangguh. Ini terbukti, istrinya mampu mendorongnya untuk sukses di bidang yang digelutinya. Berbeda dengan aktivis kebanyakan yang cenderung terlambat menikah, Irwan menikah di usia muda dengan sesama aktivis dalam rangka mempercepat dakwah Islam. Kedewasaan, dinamika kehidupan dan kesamaan pemikiran membentuk pasangan muda ini menjadi keluarga yang harmonis dan bahagia.
Sang istri, Hj Nevi Zuairina yang lahir pada 20 September 1965. Ayahya H. Zulchair Narun, dari Suku Jambak, merupakan Pensiunan Departemen Perindustrian. Ia Berasal dari daerah Salido, Pesisir Selatan. Sementara Ibunya Hj. Elbiza Rose, suku Sepanjang, berasal dari Indarung, Nagari Lubuk Kilangan Kota Padang.

Aktivitas keseharian anak pisang orang Pesisir Selatan ini adalah sebagai Pengurus dan Pendiri TK Anak Bangsa di Komplek DPR RI, Sekretaris Ranting Aisyiah Kalibata dan Pengurus Yayasan Tazkiyatun Nafs. Disamping itu, Hj Nevi juga tercatat sebagai pengusaha kuliner yang terbilang sukses. Sampai sekrang, aktivitas tersebut masih dijalaninya di tengah-tengah kesibukan mendampingi istri.

Irwan dan Nevi memiliki 10 orang anak, yaitu: Jundy Fadhlillah, Waviyatul Ahdi, Dhiya’u Syahidah, Anwar Jundi, Atika, Ibrahim, Shohwatul Ishlah, Farhana, Laili Tanzila dan si bungsu Taqiya Mafaza. Kesepuluh anaknya memiliki prestasi tersendiri. Di antaranya ada yang menjadi juara umum di sekolahnya. Anak-anak Irwan juga hafiz Al Quran, dan didik sesuai ajaran agama, sehingga terbentuklah keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Sakinah, karena Irwan sebagai suami mampu memberikan ketenangan bagi keluarganya, mawaddah karena istri setia mendampinginya, dan Allah swt pun memberikan rahmat-Nya dengan keturunan yang banyak dan harta melimpah.

 

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6). Ketika menafsirkan ayat ini, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, “kepada mereka adab dan tanamkanlah pada diri mereka kebaikan.”
Terkadang orang iri melihat keluarga Irwan yang harmonis dan memiliki banyak anak, bahkan orang sempat heran, bagaimana mengurus anak sebanyak itu. Banyaknya anak Irwan dan Nevi, sering dijadikan black campaign, terutama di saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur Sumbar 2015 ini. Penulis masih ingat, pada pilkada 2005 dan 2010, banyaknya anak Irwan ini juga sempat dijadikan isu panas yang bertujuan untuk menjatuhkan dan membunuh karakternya.

Padahal, Irwan dan istri tidak pernah merasa repot dengan anak mereka yang banyak, hanya lawan-lawan politiknya saja yang keusilan. Irwan dan Nevi ikhlas dalam menjalani kehidupan sehingga tidak dipusingkan dengan anak banyak. Kuncinya, menurut Irwan adalah mengelola rumah tangga dengan tuntunan agama, meneladani Rasulullah saw.

Dalam mendidik anak, mereka banyak terinspirasi dari model keluarga Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sebagai seorang Nabi yang punya tanggung jawab kepada umatnya, Baginda Nabi Muhammad saw., tak lantas mengabaikan pendidikan anak dalam keluarga. Dalam hadis disebutkan, seorang bapak yang punya anak perempuan tiga orang saja, kemudian mendidiknya dengan baik sehingga salehah. Maka itu, semua menjadi penghalangnya dari neraka.Maka tak dapat dipungkiri, selain kepiawaian Irwan sebagai imam bagi istri dan anak-anaknya, peran Hj Nevi Zuairina yang lebih dominan dalam membentuk dan mengarahkan keluarga, sejalan dengan tujuan bersama yang hendak dicapai. Setiap istri memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung kesuksesan suami. Ada banyak sikap hebat yang harus dibiasakan oleh seorang istri, agar kesuksesan bisa diraih oleh sang suami tercinta dan tentunya anak-anak mereka.

Di tengah kesibukan suami, dan kesibukannya mengurus aktivitas sosial dan usaha, ia tak ingin kehilangan peran dalam mendidik anak. Ia ingin anak-anak nya mendapatkan pendidikan langsung darinya. Sesibuk apa pun dia dan suami berkarier di ruang publik, mereka adalah orang tua yang juga punya amanah mendidik dan membesarkan anak-anak mereka. Ia ingin ada kerja sama yang solid antara dia dan suami dalam mendidik anak. Apalagi pada zaman globalisasi saat ini yang membuat kenakalan remaja semakin meningkat. Kehadiran orang tua yang ber peran mendampingi anak- anaknya sangat penting. Ia mengaku, tanpa peran suami, ia tak akan mungkin me nangani pendidikan anak seorang diri.
Hj. Nevi Zuairina adalah wanita tangguh yang sukses mendorong Irwan menjadi seorang politisi dan pemimpin yang disegani, dan sukses mengantarkan anak-anaknya menempuh pendidikan. Putra pertama mereka Jundy Fadhlillah telah menyelesaikan studi MBA di Boston Amerika, dan telah bekerja di perusahaan energi di Jakarta. Putri ke 2 Waviyatul Ahdi telah menyelesaikan studinya di Fakultas Kedokteran Gigi UI, putri ke 3 Dhiya’u Syahidah telah menyelesaikan studinya di Institut Teknologi Bandung dan sekarang menyelesaikan S2 di Westminster University – UK. Putra ke empat mereka Anwar Jundi kuliah di Institut Pertanian Bogor, Atika, putri ke 5 kuliah di FE UI, Ibrahim kuliah di Jurusan Teknik Kimia UI, Shohwah dan Farhana di SMA 1 Padang. Dua orang lainnya masih sekolah di SMP dan SD. Namun semua memperlihatkan prestasi yang gemilang.

Pantas Irwan Prayitno mencintainya sengan setulus hati. Sampai saat ini, sebagaimana diketahui banyak orang, Irwan Prayitno hanya memiliki seorang istri. Kecintaan Irwan kepada sang istri diungkapkan dalam lagu “Kau Istriku”. Lagu tersebut terinspirasi dari keberangkatan istrinya ke tanah suci melaksanakan ibadah umrah pada awal Ramadhan lalu. Proses lahirnya terjadi di hari ke-9 bulan Ramadhan tahun 2013. Setelah menunaikan shalat Ashar dan membaca Al Quran, terbetik di hati Gubernur untuk menuliskan suatu lirik lagu tentang istrinya di mana saat itu sang istri sudah 10 hari umrah ke tanah suci.

Irwan pun menciptkan lagu “Anakku Penyejuk Hatiku.” Lagu ini menggambarkan betapa anak-anaknya merupakan obat pelepas lelah dalam menjalani kehidupan yang keras sebagai seorang politisi. Anak-anaknya menjadi daya dorong sendiri, sehingga Irwan ikhlas dalam menjalankan amanah jabatan yang dipikulnya dan amanah sebagai kepala rumah tangga. Anak-anak yang baik, anak-anak yang sukses menempuh pendidikan mereka, dan menjadi penyejuk hati orang tua.

 

Sebuah keluarga yang sempurna di bawah ridho Ilahi, rahmat dan kasih sayang Allah swt mereka dapati, alamat badan selamat menempuh kerasnya hidup ini. “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang/Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Bentengsumbar.com, 6 Oktober 2015

 

Irwan Prayitno dan Opini WTP

Irwan Prayitno dan Opini WTP

SALAH satu prestasi Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa yang tak terbantahkan selama menjadi Gubernur Sumatera Barat adalah keberhasilannya membawa Pemerintah Provinsi Sumatera Barat meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) RI. Sebanyak tiga kali berturut-turut, Pemprov Sumbar berhasil meraih WTP, yaitu pada tahun 2013, 2014, dan 2015.
Catatan Pemprov Sumbar, pada 2009, pengelolaan keuangan Pemprov Sumbar mendapat penilaian disclaimer dari BPK RI. Namun setelah dibenahi secara bertahap, hasilnya semakin baik terbukti tahun 2010 dan 2011 Sumbar mendapat opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP).

 

“Sesungguhnya manusia terbaik yang anda tunjuk untuk bekerja adalah orang yang kuat dan amanah.” (QS. Al Qashas: 26). “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat kami.” (QS. As Sajadah: 24).
Opini BPK RI merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada empat kriteria yakni kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan, kecukupan pengungkapan (adequate disclosures), kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, dan efektivitas sistem pengendalian intern.

Opini WTP adalah opini audit yang akan diterbitkan jika laporan keuangan dianggap memberikan informasi yang bebas dari salah saji material. Jika laporan keuangan diberikan opini jenis ini, artinya auditor meyakini berdasarkan bukti-bukti audit yang dikumpulkan, pemerintah dianggap telah menyelenggarakan prinsip akuntansi yang berlaku umum dengan baik, dan kalaupun ada kesalahan, kesalahannya dianggap tidak material dan tidak berpengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan.

 

Di tangan Irwan, Pemprov Sumbar mencatat sejarah baru, yaitu memperoleh opini WTP dari BPK RI pada tahun 2013. BPK-RI memberikan WTP atas LKPD tahun 2012 atas dasar pertimbangan; peningkatan nilai aset lain-lain secara signifikan; melakukan inventarisasi; dan penilaian ulang atas aset tetap. Aset tidak dapat diklasifikasi sebagai aset tetap, seperti aset tidak bermanfaat, aset dalam penelusuran, dan aset dimanfaatkan pihak lain direklasifikasi ke aset lain-lain. Sesuai rencana aksi penyelesaian pengelolaan aset lain-lain, gubernur Sumbar sudah berkomitmen menyelesaikan permasalahan aset lain-lain tidak bermanfaat dalam penelusuran, dan aset dimanfaatkan pihak lain tersebut.
Prestasi ini menjadi momentum dalam mendorong terciptanya akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan daerah, sehingga menjadi kebanggaan bersama yang patut dipertahankan dan ditingkatkan. Menurut Irwan, keberhasilan Pemprov Sumbar meraih opini WTP tersebut, merupakan kerja keras semua unit kerja, serta dukungan dan dorongan dari mitra kerja.

Pengawasan terhadap pelaksanaan APBD, menurut Irwan, sudah lengkap dilakukan inspektorat sesuai PP No. 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. Lalu, dilakukan pengawasan internal secara berkala kepada seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di lingkungan pemprov. Selain itu, di bawah kepemimpinan Irwan, Pemprov Sumbar terus melakukan inventarisasi aset tetap dan aset lainnya sesuai standar akuntansi pemerintah PP No.17/2010. Lalu, menindaklanjuti temuan hasil pemeriksaan BPK-RI tahun 2012 dan tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan sumberdaya manusia (SDM) profesional bidang keuangan daerah, dan rapat-rapat koordinasi rutin di SKPD secara intensif. Opini WTP yang terima, menjadi titik awal menuju pengelolaan keuangan benar-benar sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pada tahun 2014, Pemprov Sumbar kembali meraih opini WTP. Ini untuk kedua kalinya Sumbar meraih penghargaan bergengsi di bidang pelaporan keuangan daerah tersebut. Menurut Irwan, Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Provinsi Sumatera Barat Tahun 2013 sebagaimana diharuskan oleh Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, Pasal 33 Ayat (3), telah dilaksanakan Review oleh Inspektorat Provinsi Sumatera Barat sebelum diserahkan ke BPK-RI. Dari Tim Pemeriksa BPK Perwakilan Provinsi Sumatera Barat telah melakukan pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2013, berdasarkan Surat Tugas tanggal 26 April 2014.

 

Sepanjang tahun 2013, Pemprov Sumbar berusaha mempertahankan predikat opini WTP dengan mematuhi ketentuan yang ada, menyajikan laporan keuangan menurut standar akuntansi pemerintah serta menindaklanjuti temuan tahun sebelumnya. Paragraf penjelasan dalam opini BPK tahun lalu adalah mengenai aset lain-lain senilai satu trilyun empat puluh dua milyar rupiah lebih. Selama tahun 2013 Pemprov Sumbar menyelesaikan permasalahan tersebut secara bertahap dan telah berhasil mengurangi senilai empat ratus dua puluh sembilan milyar rupiah lebih, berupa: penghapusan aset, penghapusan pencatatan ganda, hibah kepada pihak ketiga dan reklasifikasi aset. Penyelesaian masalah tersebut dilakukan sebagai implemenatasi rencana aksi penyelesaian tindak lanjut temuan BPK termasuk dengan melaksanakan sensus barang, dengan demikian Opini WTP kembali dapat peroleh.
Pada tahun 2015, Pemprov Sumbar kembali meraih opini WTP. Ini adalah penilaian opini WTP yang kali ketiga diterima Pemprov Sumbar. Opini kali ini untuk kedua kalinya dalam bentuk WTP penuh. Dimulai pada penilaian LKPD 2012 Sumbar menerima WTP dengan catatan, kemudian LKPD 2013 dan LKPD 2014 Pemprov Sumbar menerima WTP penuh. Kebijakan pengelolaan keuangan daerah ini terlaksana dengan baik sebagaimana yang tergambar dalam LKPJ akhir masa jabatan gubernur Sumbar Irwan Prayitno.

Opini yang diberikan BPK tersebut berdasarkan laporan keuangan Pemprov Sumbar tahun 2014 untuk diaudit. Sesuai dengan yang diamanatkan dalam Undang-Undang nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah telah diubah dengan Perppu Nomor 2 tahun 2015 tentang perubahan atas undang-undang 23 tahun 2014.

Pelaporan keuangan tersebut juga berpedoman kepada Undang-undang Nomor 15 tahun 2004 tentang pemerikasaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Bahan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) untuk BPK RI tersebut di antaranya, buku laporan keuangan pemerintah Provinsi Sumbar tahun 2014 yang berisi laporan realisasi anggaran, neraca, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan. Kemudian, buku rancangan peraturan daerah tentang pertanggung jawaban pelaksanaan APBD 2014 beserta lampirannya. Selanjutnya, buku rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran pelaksanaan APBD 2014 berserta lampirannya.

 

Pada saat penyerahan opini WTP tersebut pada tanggal 12 Maret 2015, Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat Hendra Irwan Rahim memuji kepemimpinan Irwan Prayitno. Menurutnya, Irwan Prayitno perlu diberikan penghargaan sebagai gubernur. Sebab, dengan diraihnya opini WTP merupakan bukti, selama masa jabatannya sebagai gubernur, Irwan Prayitno telah melaksanakannya dengan baik dari tahun 2010 hingga 2015. Hendra pun mengatakan, terhadap capaian yang diperoleh tersebut, juga perlu diberikan penghargaan kepada seluruh jajaran dalam melaksanakan pengelolaan keuangan daerah sesuai dengan prinsip. Prinsip yang telah dilaksanakan tersebut di antaranya prinsip efektabilitas, efisiensi, akuntabel dan transparan.
Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Waki Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang dan salah seorang pimpinan di Bara Online Media (BOM)

 

Bentengsumbar.com, 6 Oktober 2015

 

Irwan Prayitno dan Harapan Rang Piaman

Irwan Prayitno dan Harapan Rang Piaman

SABTU siang (3/10/2015), penulis diajak oleh Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kecamatan Kuranji Kota Padang, Evi Yandri Rajo Budiman ke Korong Kampung Kalawi Nagari Pasie Laweh Kecamatan Lubuk Alung. Agaknya, Evi Yandri ingin mengenang masa kecilnya sebagai orang Piaman Laweh. Sebagai anak muda yang lahir pada tahun 1975, tentu Evi Yandri masih bagian dari rang Piaman Laweh. Sebab, baru pada tahun 1980-an Nagari Pauh IX bergabung ke dalam wilayah Kota Padang. Anak Nagari Pauh IX yang lahir di atas tahun 1980-an, bolehlah merasa sebagai orang Padang.

 

Perjalanan menuju Nagari Pasie Laweh kami tempuh sekitar 2 jam lebih. Di samping macet, jalanan yang kami tempuh dari Pasar Lubuk Alung ke Nagari Koto Laweh kondisinya sangat parah. Banyak lobang yang menganga, dan mobil kecil yang kami tumpang bisa terjebak di lubang tersebut, jika tidak hati-hati. Untung saja hari tidak hujan, jika hujan tentulah becek sekali.
Kedatangan kami disambut oleh Wali Nagari Pasie Laweh, Adnan beserta perangkat dan kepala jorong di salah satu lapau. Selain mengundang kami, ternyata Wali Nagari Pasie Laweh juga mengundang Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa, mantan Gubernur Sumatera Barat periode 2010-2015. Sesuai jadwal, Irwan datang tepat pukul 17.00 WIB. Di lapau tersebut, terjadilah dialog antara kami, Irwan dan tokoh masyarakat Nagari Koto Laweh.

Adnan selaku Wali Nagari mengaku senang dikunjungi saudara-saudaranya dari Nagari Pauh IX Kecamatan Kuranji Kota Padang. Bagaimana pun, rasa persaudaraan sebagai bagian Piaman Laweh tetap terjalin walau kini harus dipisahkan oleh administrasi pemerintahan. Namun sampai saat ini, di Nagari Pauh IX Kecamatan Kuranji masih berlaku adat Piaman Laweh, semisal uang jemputan untuk mempelai pria dari keluarga mempelai wanita. Anak Nagari Pauh IX sendiri banyak juga yang menjadi urang sumando Piaman, termasuk kakak sepupu penulis sendiri yang berumah ke Sungai Garinggiang, dan salah seorang pengurus FKAN Pauh IX Khalil Chaniago juga tercatat sebagai urang sumando Parit Malintang.

 

Dalam dialog tersebut banyak hal yang mengemuka. Di antaranya permintaan masyarakat Nagari Pasie Laweh, jika Irwan terpilih lagi menjadi Gubernur Sumatera Barat, diharapkan dapat mendorong pembangunan di Nagari Pasie Laweh. Jalan-jalan masih banyak perlu diaspal, jembatan perlu dibangun, sungai-sungai perlu di normalisasi, dan pembangunan ekonomi kerakyatan. Apatah lagi, masyarakat Nagari Pasie Laweh mendengar informasi Irwan selama menjadi Gubernur Sumatera Barat sering mengunjungi daerah terpencil dan mengutamakan pembangunan di daerah-daerah tersebut.
Dialog tersebut berlangsung dengan penuh kehangatan. Irwan pun mengatakan, selama menjabat Gubernur Sumbar 2010-2015, dirinya memang mengarahkan pembangunan ke Padang Pariaman. Beberapa pembangunan fisik di Padang Pariaman sudah pula diresmikan, semisal Jembatan Buayan, Jembatan Koto Bu­ruak, Jembatan Pasie Laweh, dan Jembatan Kapalo Hila­lang, semua jembatan tersebut pengerjaannya dimulai pada tahun 2014 dan selesai pada tahun 2015. Dibangunnya jembatan tersebut, akan mampu menghubungkan beberapa daerah, sehingga akan mempermudah transportasi dan juga akan mempercepat peningkatan perekonomian masyarakat. Selain itu, Irwan juga meresmikan Jembatan Batang Piaman Nagari Lareh Nan Panjang Kec. VII Koto pada tanggal 20 Maret 2015.

Irwan pun mengatakan, pada tahun 2014, dirinya selaku Gubernur Sumatera Barat pada waktu itu juga meresmikan pembangunan empat jembatan penunjang jalur cepat (Highgrade Highway) Duku – Sicincin. Jembatan tersebut nantinya menjadi penghubung jalur alternatif Padang – Bukittinggi. Keempat jembatan itu yakni, Jembatan Buayan sepanjang 75 meter, Jembatan Batang Anai 180 meter, Jembatan Irigasi sepanjang 30 meter, dan Jembatan Ulakan sepanjang 50 meter. Pembangunannya membutuhkan anggaran Rp87 miliar, selesai dibangun pada 2014 lalu, dimulai pada 2013 dengan tahun jamak.

 

Dalam kesempatan itu Irwan juga menyampaikan sejumlah rencana pembangunan yang akan berjalan di Padang Pariaman. Di antaranya, Stadion Utama Sumbar, Islamic Center, MAN Cendikia, dan Jalur Kereta Api Duku-Bandara Internasional Minangkabau. Belakangan juga sudah diajukan pembangunan kota industri di wilayah Timur Padang Pariaman, Techno Park dan Science Park. Rencana tersebut merupakan target dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), anggarannya akan ditanggung APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Pengerjaan jalan sepanjang 17 Km yang menghubungkan Jembatan Koto Buruak hingga Sicincin dalam proses pengerjaan. Sementara pengerjaan dari Jembatan Koto Buruak hingga Buayan sepanjang 10 Km sedang proses pembebasan.
Pembangunan asrama haji dan Islamic Center bertaraf Internasional juga membuat orang Piaman bangga. Asrama haji seluas 10 hektar akan memakan biaya sebesar 800 milyar terletak di Sungai Buluh, Kec. Batang Anai dan berjarak hanya 2,5 kilometer dari Bandara Internasional Minangkabau. Pembangunan MAN Insan Cendikia yang ke-14 di Indonesia menelan biaya Rp60 Milyar di atas lahan 10 hektar di Kec. Sintuk Toboh Gadang. Saat ini telah selesai gedung asrama dan ruang kelas. MAN Insan Cendikia ini nantinya merupakan yang terluas dan termegah di Indonesia.

Tak hanya itu, di daerah ini juga dibangun Badan Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) di Tiram, Kec. Ulakan Tapakis seluas 35 hektar yang merupakan termegah di Indonesia. BP2IP tersebut dibangun dengan dana APBN sebesar 1,5 Trilyun secara multiyears. Ketika Bupati Ali Mukhni mendatangi Irwan meminta bantuan dana APBD Propinsi dan Irwan pun menyanggupi.

Selain itu, juga ada pembangunan jalur kereta api Duku-BIM yang telah dimulai tahun 2014 dan dilanjutkan pada tahun 2015 dan kemudian Pembangunan Main Stadium sebagai persiapan Sumbar menjadi Tuan Rumah Pekan Olahraga Propinsi 2024. Main stadium seluas 50 hektar akan memakan biaya Rp1,6 trilyun yang terletak di Nagari Sikabu, Kec. Lubuk Alung. Untuk tahun 2015 ini telah dianggarkan sebesar Rp25 milyar. Lokasi tersebut sangatlah strategis karena berjarak 20 menit dari Bandara Internasional Minangkabau. Sehingga bila nantinya PON digelar di Sumbar, para atlit yang berasal dari luar daerah tidak perlu waktu lama untuk sampai ke stadion.

Menurut Irwan, Padang Pariaman secara geografis sangat diuntungkan karena berada dekat dari ibu kota Provinsi. Apakagi didukung dengan keberadaan Bandara Internasional Minangkabau (BIM) sebagai pintu gerbang Ranah Minang. Karena itulah Padang Pariaman sangat berpotensi terhadap pengembangan wilayah Provinsi Sumatera Barat di masa depan. Saat ini telah banyak investasi infrastruktur yang sedang dibangun berkat sinergitas antara Pemerintah Provinsi dan Kabupaten.

 

Adanya pembangunan infrastruktur Stadion di wilayah Padang, Lubuk Alung dan Pariaman dapat menjadi cikal bakal lahirnya Kota Metropolitan Palapa (Padang-Lubuk Alung-Pariaman). Dengan demikian nantinya pusat pemerintahan, perdagangan, pariwisata hingga sosial kemasyarakatan Sumbar akan berpusat di ketiga wilayah tersebut. Untuk itu, Irwan meminta doa dan dukungan dari segenap masyarakat Padang Pariaman, termasuk masyarakat Nagari Koto Laweh, agar dirinya dapat melanjutkan program pembangunan yang telah dia rencanakan tersebut untuk kesejahteraan masyarakat Padang Pariaman.
Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang

Bentengsumbar.com, 4 Oktober 2015

 

Pencipta Lagu, Penyanyi, dan Musisi

Pencipta Lagu, Penyanyi, dan Musisi

TAK hanya pandai berdakwah di atas mimbar, ternyata Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa juga pintar berdakwah melalui jalur seni. Sebagai seorang pemimpin yang kesehariannya terlihat serius dalam menjalankan amanah jabatan sebagai Gubernur Sumatera Barat pada waktu itu, Irwan masih sempat menyalurkan hobinya di bidang tarik suara dan musik. Irwan termasuk pemimpin yang multi talenta, sosok pemimpin yang langka, dan sulit ditemukan hari ini.

Jiwa seni yang dimiliki Irwan mulai tumbuh sejak bersekolah di SMA Negeri 3 Padang. Namun, setelah kuliah dan menjadi anggota DPR RI tiga kali periode, hobinya di bidang seni kurang tersalurkan dengan baik. Ini disebabkan kesibukannya dalam menyelesaikan kuliah dari S1 sampai S3 dan menjalankan tugas negara selaku anggota DPR RI.

Dunia berkesenian memang tak terpisahkan dari sosok Irwan Prayitno. Darah seni mengalir kental di dalam dirinya. Irwan pandai menabuh drum. Ia punya grup band sendiri bernama IPe Band. Irwan memahami betul filosofis berkesenian. Berkesenian itu untuk mencerahkan diri dan masyarakat. Bagi Irwan, berkesenian bukan hanya sekadar bernyanyi atau menabuh drum. “Seni itu untuk berdakwah,” ujarnya menjelaskan filosofinya dalam berkesenian.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (QS. Al Maidah: 87)
Sejak menjabat Gubernur Sumatera Barat, Irwan kembali mengasah hobinya tersebut. Tak jarang sore selesai melaksanakan tugas sebagai pelayan masyarakat, Irwan menabuh drum di gubernuran dan bermain gitar. Dia juga melahirkan beberapa lagu, di antaranya dengan judul “Kau Istriku” dibuat pada hari ke sembilan Ramadhan.

Menurut Irwan, lagu “Kau Istriku” terinspirasi dari keberangkatan istrinya ke tanah suci melaksanakan ibadah umrah pada awal Ramadhan 2013. Proses lahirnya terjadi di hari ke-9 bulan Ramadhan, setelah menunaikan shalat Ashar dan membaca Al Quran, terbetik di hatinya untuk menuliskan suatu lirik lagu tentang istrinya di mana saat itu sang istri sudah 10 hari umrah ke tanah suci. Kemudian lagu “Kepada Mu”. Lagu ini justru lahir ketika dirinya serasa mendapat ilham usai shalat Subuh di awal Ramadhan. Dengan niat bagaimana doa itu tersosialisasi, makanya dia menggubahnya menjadi lagu.

Album pertama Irwan dengan judul “Cinta Sejati” telah dilaunching pada tahun 2014 lalu. Album religi berisi 12 lagu tersebut dilaunching pada 20 Juni 2014 di Rolling Stone Cafe, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dan kemudian dilaunching di Sumbar pada 22 Juni. 12 lagu dalam album religi “Cinta Sejati” ini berisi lagu-lagu berjudul Kau Istriku, Ayahku, Satu Rindu, Anakku Penyejuk Hatiku, Allah Ta’Ala, Ya Rasullah, Kau Istriku (Acoustic Version), InsyaAllah, Sepohon Kayu, Kepada-Mu, Akhirnya dan Kau Istriku.

Album kedua Irwan dengan judul “Cinta Sesama Manusia” dilaunching pada 27 Juni 2015 di Arena Galanggang Medan Nan Ba Paneh, Taman Budaya Padang. Kini lagu-lagu tersebut sudah dapat dinikmati melalui situs Youtube. Penulis pun sudah pula mendownload lagu-lagu tersebut dan setiap hari penulis putar, sekedar menemani saat menyetir mobil.

 

Istri dan anak penulis pun sempat terkejut ketika melihat Irwan bernyanyi dan tampil di layar tv kecil mobil penulis. “Datuk pencipta lagu dan penyanyi juga ya Abi?,” tanya istri dan anak penulis. Sebab, selama ini mereka tahunya Irwan hanya seorang ustadz dan gubernur Sumatera Barat. “Tak hanya menciptakan lagu dan bernyanyi, Datuk itu juga pintar menabuh drum. Pernah satu kali Abi menyanyikan lagu “Undangan Palsu” dan Datuk mengiringi lagu itu dengan menabuh dram,” ujar penulis kepada istri dan anak.
Sebagai pencipta lagu religi, Irwan pun mendaftarkan lagu ciptaannya ke Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM) melalui Kantor Wilayah Kemenkum HAM Sumatera Barat. Hal ini tentu sangat positif dalam mendorong pendaftaran hak cipta dan hak kekayaan intelektual bagi para pencipta lagu dan musisi atas hasil karyanya. Selama ini memang sudah ribuan karya para pencipta lagu dan musisi di Sumatera Barat namun belum banyak yang mendaftarkan hak ciptanya.

Hal ini mungkin dikarenakan ketidaktahuan tentang hak cipta dan hak kekayaan intelektual, tidak tahu prosedur atau rumitnya prosedur, atau bisa jadi karena biaya pendaftaran yang dirasa mahal bagi para pencipta lagu lokal. Padahal hal ini sangat berguna karena mereka akan mendapatkan perlindungan hukum dari pembajakan dan tindakan lainnya jika telah mendaftarkan ciptaanya ke Kementerian Hukum dan HAM.

Menurut Irwan, karya tersebut lahir dari keinginan untuk memanfaatkan media seni musik sebagai media dakwah dalam memberikan informasi dan mengajak kepada masyarakat untuk hidup lebih baik secara Islami. Selain itu, juga memberikan inspirasi dan motivasi bagi kalangan generasi muda untuk berpikir maju dan kreatif dalam mengembangkan potensi diri.

 

Ruba’i Binti Mu’awwidz Bin Afra berkata: Nabi Saw mendatangi pesta perkawinanku, lalu beliau duduk di atas dipan seperti dudukmu denganku, lalu mulailah beberapa orang hamba perempuan kami memukul gendang dan mereka menyanyi dengan memuji orang yang mati syahid pada perang Badar. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka berkata: “Di antara kita ada Nabi Saw yang mengetahui apa yang akan terjadi kemudian.” Maka Nabi Saw bersabda: “Tinggalkan omongan itu. Teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi.” (HR. Bukhari, dalam Fâth al-Bârî, juz. III, hal. 113, dari Aisyah ra).
Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang

 

Bentengsumbar.com, 5 Oktober 2015

 

Irwan Prayitno dan Si Anak Mudik

Irwan Prayitno dan Si Anak Mudik

SORE itu penulis dikontak oleh salah seorang murid penulis. Namanya Lisa Marjohan. Anaknya pintar, berkacamata, dan terbilang cantik. Ketika menjadi santri penulis di Surau Cangkeh, dia memang sudah terlihat lebih dari teman-temannya. Penulis terkejut juga ketika dikontaknya, sebab kami sudah lama tidak berkomunikasi. Terakhir kami bertemu ketika dia duduk di bangku SMP, dan sekarang dia sudah menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Dia mengutarakan maksudnya, yaitu ingin mengundang Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa untuk memotivasi pemuda dan anak-anak di kampungnya yang juga kampung penulis. Penulis pun bertanya kepadanya, kenapa harus Irwan Prayitno? Kenapa tidak seorang motivator saja?

 

“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar Ra’d: 11).
Dia pun mengemukakan alasannya. Pertama, Irwan Prayitno adalah anak Kuranji yang terbilang sukses dalam menempuh karir politiknya. Dia pernah menjadi anggota DPR RI tiga kali periode dan menjadi Ketua Komisi, sebelum menjadi Gubernur Sumatera Barat. Dengan mengundangnya, maka akan dapat menjadi contoh oleh anak-anak dan pemuda Surau Cangkeh Tampat Durian, bahwa seorang anak kampung pun bisa menjadi orang hebat asal serius dalam menuntut ilmu dan pekerjaan.

Kedua, Irwan Prayitno adalah sosok pemimpin ideal. Dia tak hanya sukses memimpin Sumatera Barat, tetapi juga sukses memimpin keluarganya. Walau memiliki 10 orang anak, Irwan mampu mendidik anak-anaknya dengan baik. Anak-anaknya hafiz Al Quran, dan berhasil dalam menempuh pendidikan mereka. Harapannya, orang tua yang ada di kampung itu termotivasi untuk menididik anak-anak mereka dengan baik, baik dari segi pendidikan agama maupun pendidikan umum.

Ketiga, Irwan Prayitno memiliki hobi mengunjungi daerah terpencil. Kampung Surau Cangkeh Tampat Durian Kelurahan Koronggadang Kecamatan Kuranji memang termasuk kampung yang masih terisolir. Jalan-jalan di kampung tersebut masih perlu pembenahan, termasuk rencana membangun jalan tembus ke Perumnas Belimbing. Sebagai Ninik Mamak Nagari Pauh IX Kuranji, Irwan Prayitno tentu memiliki pengaruh besar, apatah lagi Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah adalah teman separtainya, dan Wakil Walikota Emzalmi adalah orang kampungnya. Dia tentu mampu mendesak Pemerintah Kota Padang menganggarkan dana untuk pembangunan jalan dan jembatan.

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)
Itulah beberapa alasan yang menyebabkan Lisa menjatuhkan pilihannya untuk mengundang Irwan Prayitno, disamping dia sendiri memang mengidolakan tokoh yang satu ini. Penulis pun bersedia memfasilitasi pertemuan antara Lisa dan Irwan Prayitno. Kami pun sepakat untuk bertemu di Adzkia, di rumah orang tua Irwan Prayitno. Kedatangan penulis dan Lisa disambut hangat oleh pria berkacamata ini. Singkat cerita, Irwan bersedia hadir pada acara tersebut karena jadwal pada Sabtu malam tanggal 3 Oktober 2015 masih kosong. Dan undangan kami adalah undangan ke-15 yang harus dihadiri Irwan pada hari itu, karena pada hari bersamaan dia juga harus menghadiri beberapa undangan masyarakat di Bukittinggi dan Padangpariaman.

Kehadiran Irwan Prayitno pada acara tersebut membuat Lisa terharu. Acara yang dia gagas dengan beberapa orang temannya sukses menghadirkan Irwan Prayitno dan Wakil Walikota Padang H Emzalmi, dan Novermal Yuska dari Partai Gerindra Sumbar. Sebelumnya, penulis pun minta bantu kepada Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kuranji Evi Yandri Rajo Budiman untuk menghadirkan Wakil Wali Kota H. Emzalmi dan Evi Yandri pun menyanggupinya. Kehadiran Irwan dan Emzalmi disambut oleh Ketua RW Amril, ST, Ketua RT Anton, dan segenap tokoh masyarakat lainnya. Tak ketinggalan, anak-anak dan ibu-ibu pun antusias menyambut kehadiran kedua tokoh ini.

Urang sumando dan pemuda terpaksa berdiri di jalan, karena tempat duduk terbatas, hanya untuk anak-anak dan ibu-ibu, karena sasaran kegiatan Lisa memang memotivasi dan membuka mata mereka, bahwa anak mudik yang dianggap kampungan pun sebenarnya bisa sukses dan berprestasi. Dulu itu adalah tugas berat yang penulis, dan sekarang diambil alih Lisa. Pak RW dan pak RT pun mengungkapkan kebanggannya kepada Lisa, karena setelah penulis pergi merantau ke kampung istri penulis di Pauh, ternyata tugas itu dilanjutkan murid penulis, yaitu Lisa. Srikandi yang menjadi kebanggaan di kampung kecil itu yang terisolir tersebut. Lisa pun diharapkan warga mampu mengambil peran yang penulis mainkan dulu.

Pada saat memberikan kata sambutan, Irwan Prayitno pun menceritakan perjalanan hidupnya semasa sekolah sampai sukses seperti sekarang. Ketika sekolah ke Padang – sebelum tahun 80-an, Kuranji merupakan bagian dari Kabupaten Padangpariaman – dirinya sering mendapat ejekan sebagai anak mudik yang dipandang sebelah mata. Namun dengan semangat yang membaja, dirinya tetap sekolah dengan rajin, walau setiap hari mendapat ejekan sebagai anak mudik. Ejekan tersebut dijadikan Irwan sebagai motivasi untuk meraih sukses, dan dia pun membuktikan, kini anak mudik itu sudah pernah menjadi anggota DPR RI dan Gubernur Sumatera Barat.

Untuk itu, kata Irwan lagi, anak-anak Kuranji harus bangkit. Mereka harus bersekolah setinggi-tingginya. Banyak jalan untuk itu, apatah lagi saat ini beasiswa berserakan, tinggal dijuluk saja. Ditambah lagi, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) memiliki program untuk itu. Tidak ada alasan bagi anak kurang mampu untuk tidak bersekolah. Pemprov Sumatera Barat pun menganggarkan dana yang cukup tinggi di bidang pendidikan.

 

“Sebagai anak mudik, kita harus bangkit. Kita harus melawan ejekan itu dengan pembuktian diri, bahwa kita juga mampu berprestasi. Walau kita anak mudik, tapi kita juga mampu menjadi anggota DPR RI tiga kali berturut-turut, bahkan ketua komisi. Anak mudik ternyata juga bisa menjadi gubernur, memimpin daerah ini. Saatnya kita bangkit, tinggalkan kebiasaan bermalas-malasan. Mari kita tuntut ilmu setinggi mungkin,” ujar Irwan memotivasi.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Padang H. Emzalmi meminta masyarakat untuk mengajukan sepucuk surat untuk pengaspalan jalan tersebut. Dirinya akan memfasilitasi agar jalan di kampung Surau Cangkeh tersebut segera diaspal kembali. Pak RW dan pak RT pun akan memusyawarahkan dengan warga, sehingga prosesnya lahir atas kesepakatan bersama, sehingga jalan segera bisa diaspal.

Ditulis Oleh :
Zamri Yahya
Waki Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang

 

Bentengsumbar.com, 4 Oktober 2015

 

Irwan Prayitno dan Sumbar Bangkit

Irwan Prayitno dan Sumbar Bangkit

MASING-MASING periode kepemimpinan di Sumatera Barat berhasil menorehkan prestasinya. Gubernur legendaris Harun Zain (1966-1977) yang menggantikan Gubernur Kaharudin Datuk Rangkayo Basa (1958-1965) dianggap berhasil mengembalikan kepercayaan diri dan harga diri orang Minang yang redup pasca pergolakan PRRI yang ditumpas pemerintah pusat dengan operasi militer. Selama 11 tahun menjadi gubernur, Harun Zain berhasil mengubah Sumatera Barat dari negeri yang porak-poranda akibat perang saudara menjadi salah satu provinsi termaju di Indonesia.

Gubernur Azwar Anas (1977-1987) yang menggantikan Harun Zain tak kalah kharismatik. Dia berhasil memimpin “Ranah Minang” dengan meraih penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha, diserahkan langsung oleh Presiden Soeharto di Istana Negara pada 22 Agustus 1984. Azwar Anas lantas dipromosikan menjadi Menteri Perhubungan pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993). Parasamya Purnakarya Nugraha adalah penghargaan negara tertinggi yang diberikan kepada daerah yang dinilai berhasil melaksanakan pembangunan dalam skala nasional.

Sedangkan, Gubernur Hasan Basri Durin (1987-1997) memperkenalkan konsepsi pembangunan pedesaan pada masa jabatan yang pertama, serta merancang dan melaksanakan konsep outward looking (menoleh keluar) untuk masa jabatan lima tahun kedua. Mendorong investasi dan membuka kesempatan kerja secara signifikan. Di bawah kepemimpinan HBD Sumatera Barat kembali meraih prestasi terbaik nasional: Prayojana Krya Pata Parasamya Purnakarya Nugraha Pelita V (1994). Satu-satunya pula provinsi di luar Jawa yang meraih bukti keberhasilan ini.
Gubernur Zainal Bakar (2000-2005) yang menggantikan Gubernur Muchlis Ibrahim (1997-1999), walaupun hanya menjabat satu periode, cukup banyak juga lekat tangannya. Di antaranya, menuntaskan pembangunan Bandara Ketaping (kini Bandara Internasional Minangkabau), memulai pembangunan fly over Kelok Sembilan, mambangun jalan dua jalur Tabing – Duku, dan sejumlah proyek lainnya.

Sementara itu, Gamawan Fauzi (2005-2009), Gubernur Sumatera Barat pertama yang dipilih langsung oleh rakyat. Ia berhasil menjadikan Sumatera Barat sebagai embarkasi haji, merintis pembangunan Masjid Raya, membuka jalur alternatif Padang – Bukittinggi dengan membuka jalur Sicincin – Malalak, meneruskan pembangunan Kelok Sembilan, serta menyelesaikan fly over Padang By Pass ke BIM. Gamawan Fauzi kemudian digantikan oleh Gubernur Marlis Rahman (2009-2010) karena diangkat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Menteri Dalam Negeri.

Untuk periode 2010-2015, Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa terpilih sebagai Gubernur Sumatera Barat mengalahkan Marlis Rahman dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2010. Irwan dilantik pada tanggal 15 Agustus 2010 dan resmi menjadi gubernur ke sembilan Sumatera Barat. Suasana pelantikan Irwan berlangsung sederhana, bertempat di garasi mobil gedung DPRD Sumatera Barat. Ia diambil sumpahnya sebagai gubernur oleh Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi di saat Sumatera Barat berada dalam kondisi hancur akibat gempa bumi 30 September 2009.

Tentunya kita dapat membayangkan, tugas berat yang dipikul Irwan Prayitno. Di tengah kondisi APBD Sumbar yang minus, Sang Datuk dari Pauh IX Kuranji tersebut harus memulihkan kondisi Ranah Minang yang hancur akibat gempa bumi 30 September 2009. Padahal, gempa 2007 masih dirasakan dampaknya oleh warga Sumatera Barat yang tinggal dikawasan “darek”. Apatah lagi, tragedi gempa 30 September 2009 tidak dinyatakan sebagai bencana nasional. Alamat bantuan dana APBN akan sulit dikucurkan untuk memulihkan kondisi yang porak poranda tersebut.
Kerugian akibat gempa bumi 30 September tahun 2009 adalah Rp21 triliun, sebagaimana disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan korban tewas 1.117 jiwa. Korban luka berat mencapai 1.214 orang, luka ringan 1.688 orang, korban hilang 1 orang. Sekitar 279.432 penduduk mengalami kerusakan, di mana 135.448 rumah rusak berat, 65.380 rumah rusak sedang, dan 78.604 rumah rusak ringan. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar menyebutkan, fasilitas perkantoran yang rusak terdapat 442 unit, sarana prasarana pendidikan 4.748 unit, kesehatan 153 unit, jembatan 68 unit, pasar 58 unit, dan tempat ibadah 2.851 unit.

Sumbar tak hanya hancur secara fisik, tetapi mental masyarakat pun down. Ini dibuktikan banyaknya warga yang eksodus ke luar Sumatera Barat, terutama warga Tionghoa keturunan di Pondok, Padang. Warga yang tinggal di tepi pantai pun eksodus ke dataran tinggi, misalnya yang tinggal sepenjang pantai Padang banyak yang pindah Kuranji, Pauh, dan daerah lainnya. Aset-aset warga yang bermukim di kawasan pantai dan dibangun miliaran rupiah jatuh harganya.

Ketakutan warga untuk bermukim di tepi pantai semakin bertambah dengan adanya isu tsunami megathrust yang akan menenggelamkan pemukiman di sepanjang pantai barat Sumatera. Warga pun menjual aset mereka dengan harga yang rendah dan membangun kehidupan yang baru di kawasan yang lebih tinggi. Sebaliknya, warga yang cerdas membeli aset di kawasan pantai dan kemudian membangunnya kembali pasca gempa 30 September 2009. Kebanyakan yang membeli adalah warga keturunan Tionghoa. Saat ini, gedung-gedung megah, hotel, dan perkantoran sudah berdiri berjejeran, tak jauh dari kawasan pantai.

Kondisi perekonomian Sumatera Barat terpuruk, banyak pengangguran dan kemiskinan bertambah banyak. Hotel-hotel banyak yang rusak, dunia pariwisata hancur, tingkat kunjungan turis merosot. Jalur penerbangan dari Singapura putus, jumlah penerbangan pun menukik tajam. Apalagi Sumatera Barat dikenal sebagai daerah supermarket bencana. Banjir, longsor, letusan gunung merapi, abrasi pantai, galodo, gempa bumi, tsunami, angin puting beliung, kemarau panjang, kabut asap pernah terjadi. Kondisi ini diperparah dengan gempa dan tsunami Mentawai yang terjadi pada 25 Oktober 2010 dengan 7,7 skala richter. Karena itu penanganan pembangunan di Sumatera Barat perlu mempertimbangkan situasi dan kondisi kebencanaan tersebut.
Irwan Prayitno membawa Sumbar bangkit dari keterpurukan tersebut. Di tengah minusnya APBD Sumatera Barat pada tahun 2010, ditambah belum adanya rehab rekon gempa 30 September 200 dan baru pada bulan Oktober 2010 rehab rekon dilakukan. Usai membangun kembali 197.751 rumah masyarakat yang luluhlantak akibat gempa, secara bertahap dimulai pembangunan sarana publik dan kantor pemerintah yang rusak akibat gempa. Sudah puluhan gedung pemerintah yang dibangun ulang, retrofit (penguatan struktur), dan direhab dalam rentang waktu 2011-2015.

Sejak Oktober 2010 sampai Desember 2014, tercatat 18 gedung telah selesai dibangun dengan anggaran Rp584,97 miliar. Di antaranya adalah pembangunan escape building Rp59,36 miliar, kantor Bappeda Rp24,12 miliar, Pasar Raya Padang Rp65,94 miliar, RSUP M Djamil Padang Rp75,36 miliar, gedung Mapolda Sumbar Rp147,36 miliar, Kejati Rp49,37 miliar, gedung Badan Perpustakaan dan Arsip Rp31,10 miliar, Dinas Peternakan Rp18,80 miliar, Dinas Prasjaltarkim Rp82,62 miliar, dan gedung LKAAM Rp11,06 miliar. Sedangkan rehab gedung dilakukan pada 36 gedung dengan biaya Rp71,24 miliar.

Dari periode Agustus 2010 – Desember 2014, mulai dari kantor DPD KNPI Sumbar, gedung wanita Rohana Kudus, kantor Inspektorat Sumbar, terakhir retrofit tiga gedung senilai Rp66,02 miliar, masing-masing terhadap kantor Gubernur Sumbar dengan biaya Rp26,24 miliar, lalu gedung Diklat Sumbar dengan biaya Rp4,612 miliar dan kantor DPRD Sumbar menelan biaya Rp35,17 miliar. Setelah hampir seluruh gedung pemerintahan dibangun, terhitung mulai tahun 2015 ini, Pemprov Sumbar mulai membangun gedung-gedung baru sesuai program pembangunan jangka menengah (RPJMD).

Kerja keras dan profesional, serta saling bahu membahu multi stake holders ini mendapat apresiasi dari Pemerintah Pusat yaitu mendapat empat penghargaan sekaligus: Terbaik I Nasional dalam Pelaksanaan Tanggap Darurat,Terbaik I Nasional dalam Pelaksanaan Rehab Rekon Pascabencana, Terbaik II Kategori Akuntabilitas Bidang Kebencanaan dan Terbaik III Bidang Mitigasi. Penghargaan ini diterima pada tahun 2011. Pada tahun 2013 diperoleh lagi penghargaan Rehab Rekon Tercepat. Sumbar berhasil menyelesaikan rehab rekon sebanyak 197.636 rumah masyarakat yang menelan dana sebesar Rp 2,714 triliun dengan tepat waktu.
Dalam sambutannya, berkali-kali Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Syamsul Maarif mengatakan bahwa Sumatera Barat patut dijadikan contoh bagi daerah lain dalam pelaksanaan penanganan pascabencana. Beliau juga mengatakan Pemerintah Pusat tidak ragu-ragu mengucurkan dana dalam jumlah besar ke Sumatera Barat, karena yakin dana tersebut pasti dimanfaatkan sebagaimana mestinya dan bisa dipertanggung jawabkan.

Kini pemandangan seperti 3 atau 4 tahun lalu itu tak nampak lagi, bahkan nyaris tak berbekas. Kantor-kantor yang dulu rubuh telah dibangun lagi dan diganti dengan yang lebih baik dan lebih kokoh. Begitu juga rumah masyarakat dan fasilitas-fasilitas umum yang dulu luluh lantak telah dibangun lagi dan kembali berfungsi normal. Hotel-hotel dan aktifitas ekonomi lainnya kembali menggeliat. Suasana mencekam, kini tak terlihat lagi bahkan nyaris terlupakan. Sejumlah escape building telah dibangun. Berbagai upaya dilakukan untuk meyakinkan investor bahwa Sumbar sudah aman dan menguntungkan untuk berinvestasi. Kini investor telah berdatangan ke Sumatera Barat. Belasan hotel yang rusak telah direnovasi dan kembali beroperasi. Belasan lainnya merupakan hotel yang baru dibangun. Sungguh sebuah rahmat, justru terjadi penambahan lebih 2.000 kamar hotel pascagempa.

“Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34) “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman: 25).
Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Waki Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang

 

Bentengsumbar.com, 2 Oktober 2015

 

Gubernur yang Dilantik di Garasi Mobil Dewan

Gubernur yang Dilantik di Garasi Mobil Dewan

SEBAGAI Sekretaris Tim Relawan Anak Nagari IP-MK waktu itu, penulis memang cukup dekat dengan Irwan Prayitno. Administrasi Tim Relawan Anak Nagari memang berada di tangan penulis dan Kepala Sekretariat Tim Zulhendri Ismet Rajo Bungsu. Ketua Tim Relawan Anak Nagari dipercayakan kepada Arbain Rajo Indo Lawik.

Dan kami memang disibukkan dengan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk mensukseskan IP-MK sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat periode 2010-2015. Termasuk mengawal sampai proses pelantikan selesai dilaksanakan. Salah satu tugas utama kami dalam proses pelantikan adalah mendistribusikan undangan pelantikan gubernur yang diserahkan panitia pelantikan kepada Irwan Prayitno.

Penulis masih ingat, suatu pagi penulis diminta oleh Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa untuk menanti kedatangan Protokoler Pemerintah Provinsi Sumatera Barat yang dipimpin langsung oleh Kepala Biro Humas dan Protokoler Surya Budhi di rumah orang tuanya yang terletak di Taratak Paneh. Maksud kedatangan mereka adalah menjemput Irwan untuk mengikuti prosesi pelantikan sebagai Gubernur Sumatera Barat. Penulis pun mempersilahkan Surya Budhi untuk menunggu beberapa saat, sebab Irwan masih berpakaian.

Sebelum berangkat menuju DPRD Sumbar, Irwan Prayitno masih sempat berpesan kepada penulis. “Pilkada sudah usai, hari ini saya dilantik sebagai gubernur. Tugas Anda dan teman-teman lainnya adalah merangkul semua elemen Anak Nagari yang bergesekan pada saat pilkada berlangsung. Kekompakan antara kita sesama Anak Nagari harus dirajut kembali. Saya tidak menyalahkan mereka yang tidak mendukung saya pada saat pilkada kemaren, karena dalam proses berdemokrasi, perbedaan itu sah-sah saja, namun jangan sampai tercipta perpecahan karena perbedaan dukungan dan pilihan.”
Pelantikan Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa sebagai Gubernur Sumatera Barat terbilang unik. Betapa tidak, ia dilantik pada tanggal 15 Agustus 2010 di bekas ruangan garasi mobil DPRD Sumatera Barat karena gedung utama rusak berat akibat gempa 30 September 2009. Sebagaimana diketahui, gempa bumi berkekuatan 7,6 Skala Richter di lepas pantai Sumatera Barat pada pukul 17:16:10 WIB tanggal 30 September 2009, telah meluluhlantakan Sumatera Barat.

Kota Padang sebagai ibukota Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu daerah terparah yang merasakan akibat hantaman gempa bumi tersebut. Banyak gedung pemerintahan, baik milik Pemerintah Kota Padang maupun Pemerintah Provinsi Sumatera Barat yang rusak parah. Rumah-rumah penduduk, hotel-hotel, rumah sakit, sekolah, jalan dan jembatan banyak yang rusak. Termasuk gedung DPRD Provinsi Sumatera Barat, sehingga ketika pelantikan gubernur, ruangan utama pada gedung tersebut tidak bisa dipakai. Terpaksalah garasi mobil dewan disulap menjadi lokasi acara prosesi pelantikan.

Walau pelantikan dilakukan di garasi mobil dewan, namun pelantikan berlangsung khidmat yang dipimpin Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mewakili Presiden RI pada waktu itu. Undangan yang hadir pun terlihat antusias mengikuti jalannya pelantikan tersebut. Pelantikan tidak hanya dihadiri oleh anggota dewan, pejabat, keluarga, tamu dari pusat, dan undangan penting lainnya, namun juga dihadiri oleh teman-teman Irwan Prayitno dari Malaysia dan negara lainnya. Mereka khusus datang untuk menyaksikan pelantikan Anak Nagari Kuranji Pauh Basa Si Ampek Baleh tersebut sebagai gubernur. Pelantikan tersebut dianggap sakral, karena sejak saat itu Irwan Prayitno resmi diberi amanah untuk memimpin Ranah Minang.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58). “Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. Al Qhashash: 27). “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al Anfaal: 27).
Amanah jabatan pertama yang dilaksanakan Irwan Prayitno usai dilantik adalah memulihkan kondisi Sumatera Barat pasca gempa bumi 30 September 2010. Gempa bumi menyebabkan kerusakan parah di beberapa wilayah di Sumatera Barat seperti Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Agam, Kota Solok, dan Kabupaten Pasaman Barat.

Menurut data Satkorlak PB, sebanyak 1.117 orang tewas akibat gempa ini yang tersebar di 3 kota dan 4 kabupaten di Sumatera Barat, korban luka berat mencapai 1.214 orang, luka ringan 1.688 orang, korban hilang 1 orang. Sedangkan 135.448 rumah rusak berat, 65.380 rumah rusak sedang, dan 78.604 rumah rusak ringan. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar menyebutkan, fasilitas perkantoran yang rusak terdapat 442 unit, sarana prasarana pendidikan 4.748 unit, kesehatan 153 unit, jembatan 68 unit, pasar 58 unit, dan tempat ibadah 2.851 unit.

Langkah pertama yang dilakukan Irwan adalah melakukan rehab rumah warga yang rusak berat, rusak sedang dan rusak ringan. Sekitar 279.432 warga harus segera direhab. Seiring dengan itu, sarana prasarana publik pun harus juga direhab, seperti jalan dan jembatan, rumah sakit, pasar, sarana ibadah dan sarana publik penting lainnya. Bagi Irwan, rumah warga dan sarana publik yang rusak terkena gempa harus segara direhab. Dia tidak mengutamakan rehab kantor pemerintah dan kantor gubernur.

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh.” (QS. Al Ahzab: 72).

Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Waki Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang

Bentengsumbar.com, 2 Oktober 2015

Irwan Prayitno Seorang yang Berkepribadian Tawadhu

Irwan Prayitno Seorang yang Berkepribadian Tawadhu

SAYA secara langsung ketemu, bicara, diskusi dengan sosok Prof. Dr. H. Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa, Psi, Msc, mungkin relatif baru. Sebagai rakyat Sumbar, sudah pasti saya sangat tahu dengan pak Irwan Prayitno, karena beliau adalah Gubernur kami.

Selama ini saya tidak begitu “kenal” dengan beliau, bahkan ada nada-nada dan irama-irama sumbang dari beberapa orang terhadap kepribadian beliau. Jujur, saya juga agak terpengaruh. Keterpengaruhan ini bukan tak beralasan, sebab yang bicara kepada saya bukanlah orang-orang sembarangan, tetapi adalah tokoh-tokoh Sumbar yang saya hormati. Tak adil, memang, karena saya hanya mendengar sepihak.

 

Namun dalam beberapa waktu belakangan ini, setelah instens berkomunikasi dengan beliau, saya terkesima denga sifat-sifat beliau yang jujur yang harus saya akui, jarang ditemukan dari berbagai pembesar negeri. Apa yang selama ini saya dengar, ternyata bertolak belakang dengan apa yang ada. Ternyata seorang Irwan Prayitno adalah karakter orang yang tawadhu.

 

Karakter positif orang beriman antara lain adalah tawadhu (rendah hati). Pak Irwan Prayitno (IP) tidak menganggap dirinya hebat dan memandang sebelah mata orang lain. Tawadhu adalah amalan hati yang tercermin dalam perilaku sehari-hari, tak mudah patah hati bila tak dipuji dan pandai memelihara hatinya, cermat dan bersungguh-sungguh mendengar pendapat orang lain, pandai berterima kasih dan mengucapkan terima kasih, terbiasa menghargai pendapat, upaya, jerih payah, karya orang lain atau mitra kerjanya, tidak pendendam dan berperilaku pemaaf.

Bagi saya, Pak IP tidak mau mengklaim suatu sukses sebagai miliknya, walau besar andil dan perannya. Keberhasilan kerja bagi beliau tidaklah dinilai dari pujian dan penghargaan yang diraih. Saya melihat, pak IP akan terus bekerja, berkarya dan tidak berhenti dengan atau tanpa pujian atau penghargaan dari manapun jua. Beliau-pun tidak menganggap dirinya paling berperan atau berjasa dalam suatu amal usaha.

 

Bila ada orang memujinya, ia menyebut itu semata-mata berkat pertolongan Allah dan kerjasama semua pihak. Beliau tidak ingin menyakiti hati mitra kerjanya, teman-temannya, sahabat-sahabatnya. Sungguh suatu suri tauladan yang nyata tentang tawadhu. Seorang IP dengan pribadi tawadhu-nya, tak akan jera mengukir prestasi dan memancangkan asa demi kemuliaan hakiki semata-mata demi keridhoan Allah semata.
Pak IP terjauh dari sifat tinggi hati, sombong dan takabur. Pribadi yang tinggi hati selalu meremehkan orang lain, jarang memberikan apresiasi terhadap karya orang lain, serta enggan mengucapkan terima kasih, apalagi meminta maaf bila bersalah.

Al Quran mencela orang yang menganggap dirinya paling benar dan suci, orang lain bersalah dan berdosa. Menjadi pribadi yang tawadhu tidak menjadikan seseorang hina di mata orang lain. Allah SWT sendiri yang akan mengangkat derajatnya.

Rasulullah saw., bersabda, “Tidaklah seseorang itu bersikap tawadhu’ kepada Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)
Selamat berjuang… Semoga sukses selalu buat pak IP. Insya Allah. Amin.

Ditulis Oleh:
Jasman
Warga Kota Padang

 

Bentengsumbar.com, 1 Oktober 2015

 

Irwan Prayitno dan Gempa 30 September 2009

Irwan Prayitno dan Gempa 30 September 2009

ENAM tahun lalu, Ranah Minang berduka. Air mata membasahi pipi, pekikan Allahu Akbar terdengar histeris, orang-orang berlari kian kemari tak tentu arah. Sebagian besar warga Kota Padang yang tinggal di tepi pantai, mengungsi ke arah Pauh, Kuranji dan dataran tinggi lainnya di Kota Padang.

Penulis masih ingat, pada hari itu, beberapa orang warga dari Lubuk Buaya Koto Tangah mengungsi ke rumah orang tua penulis di Surau Cangkeh Tampat Durian, Kelurahan Korong Gadang Kecamatan Kuranji, pada malam harinya. Mereka terdiri dari satu rumpun keluarga. Untuk sampai ke rumah orang tua penulis, mereka mengendarai satu unit truk. Tak hanya mereka yang mengungsi, tetapi bersama mereka juga dibawa mayat salah seorang keluarganya yang wafat siang harinya. Besok paginya, baru diurus proses pemakaman si mayat tersebut.

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An Nisa:79). “Katakanlah: “Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya.” (QS. Al An’aam: 64).
Gempa bumi dahsyat pada tanggal 30 September 2009 tidak akan pernah terlupakan bagi masyarakat Sumatera Barat, terutama korban gempa. Gempa bumi dengan kekuatan 7,6 Skala Richter di lepas pantai Sumatera Barat pada pukul 17:16:10 WIB tersebut terjadi di lepas pantai Sumatera, sekitar 50 km barat laut Kota Padang.

Gempa menyebabkan kerusakan parah di beberapa wilayah di Sumatera Barat seperti Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Agam, Kota Solok, dan Kabupaten Pasaman Barat. Menurut data Satkorlak PB, sebanyak 1.117 orang tewas akibat gempa ini yang tersebar di 3 kota dan 4 kabupaten di Sumatera Barat, korban luka berat mencapai 1.214 orang, luka ringan 1.688 orang, korban hilang 1 orang. Sedangkan 135.448 rumah rusak berat, 65.380 rumah rusak sedang, dan 78.604 rumah rusak ringan.

Irwan Prayitno Datuk Rajo Basa dilantik menjadi Gubernur pada tanggal 15 Agustus 2010, menggantikan Marlis Rahman. Menjadi Gubernur Sumatera Barat pascagemba 30 September 2009, membuat Irwan harus menguras otak untuk membenahi Ranah Minang yang luluh lantak tersebut. Jika mengandalkan APBD yang pada saat itu hanya sebesar Rp1,6 triliun, tentulah tidak mungkin. Tentulah dibutuhkan langkah strategis dan program prioritas dalam rangka mengembalikan Ranah Minang seperti sedia kala.

Langkah pertama yang dilakukan Irwan adalah melakukan rehab rumah warga yang rusak berat, rusak sedang dan rusak ringan. Sekitar 279.432 rumah warga harus segara direhab. Seiring dengan itu, sarana prasarana publik pun harus juga direhab, seperti jalan dan jembatan, rumah sakit, pasar, sarana ibadah dan sarana publik penting lainnya. Bagi Irwan, rumah warga dan sarana publik yang rusak terkena gempa harus segara direhab. Dia tidak mengutamakan rehab kantor pemerintah dan kantor gubernur.
Rehab dan pembangunan kembali kantor pemerintah baru dilakukan setelah rumah warga dan sarana publik tadi selesai dikerjakan. Baru kemudian dilakukan retrofit dan pembangunan kembali Rumah Bagonjong yang merupakan kantor Gubernur Sumatera Barat. Irwan pun membatalkan rencana rehabilitasi rumah dinas gubernur dan wakil gubernur yang sudah terlanjur dianggarkan pada tahun 2010.

Pasca gempa hingga berakhirnya masa jabatan sebagai gubernur, Irwan masih berkantor di rumah. Setelah pembangunan escape building pada tahun 2014, Irwan juga tidak mau menempati ruangan yang disediakan untuknya. Hal ini dilakukannya, setelah melihat kondisi pegawai pemprov berdesak-desakan berkantor sementara di aula kantor gubernur, Irwan memutuskan tidak jadi menempati kantor yang baru tersebut, sebagai ganti ia menyuruh tiga SKPD menempati kantor baru tersebut, pindah dari aula. Irwan tetap berkantor sementara di rumah dinas. Meski rumah yang ia tempati saat ini sudah banyak yang bocor dan kropos dimakan rayap.

Ini semua dilakukan Irwan, semata-mata amanah jabatan yang dia sandang. Irwan paham betul, sebagai pemimpin dari partai Islam, ajaran agamanya mewajibkan mendahulukan penyelesaian warga korban gempa, ketimbang fasilitas kantor bagi dirinya dan pejabat Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Islam sebagai agama wahyu mengajarkan agar pemikul amanah melaksanakan amanah tersebut dengan baik. Jika tidak, maka azab Allah swt akan ditimpakan kepada penerima amanah tersebut. Jangankan masuk surga yang akan diharap, bau surga saja Tuhan enggan memberikan. Begitulah ketentuan Islam bagi pemimpin yang melalaikan amanahnya.

Belakangan, kebijakan Irwan tidak mendahulukan pembangunan kantor gubernur, dan lebih memilih di rumah dinas dalam komplek Istana Gubernur Sumbar, menuai kritikan tajam dari lawan-lawan politiknya. Apatah lagi dalam suasana Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur Sumatera Barat, isu tersebut dijadikan bahan black campaign (kampanye hitam) oleh lawan-lawan politiknya.
Para pengkritik Irwan lupa, kerja keras dan profesional Irwan bersama jajarannya serta segenap stake holders dalam penanganan gempa mendapat apresiasi dari Pemerintah Pusat yaitu mendapat empat penghargaan sekaligus: Terbaik I Nasional dalam Pelaksanaan Tanggap Darurat,Terbaik I Nasional dalam Pelaksanaan Rehab Rekon Pascabencana, Terbaik II Kategori Akuntabilitas Bidang Kebencanaan dan Terbaik III Bidang Mitigasi. Penghargaan ini diterima pada tahun 2011. Pada tahun 2013 diperoleh lagi penghargaan Rehab Rekon Tercepat. Sumbar berhasil menyelesaikan rehab rekon sebanyak 197.636 rumah masyarakat yang menelan dana sebesar Rp2,714 triliun dengan tepat waktu.

Bahkan, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Syamsul Maarif waktu itu mengatakan bahwa Sumatera Barat patut dijadikan contoh bagi daerah lain dalam pelaksanaan penanganan pascabencana. Beliau juga mengatakan Pemerintah Pusat tidak ragu-ragu mengucurkan dana dalam jumlah besar ke Sumatera Barat, karena yakin dana tersebut pasti dimanfaatkan sebagaimana mestinya dan bisa dipertanggung jawabkan. Untuk diketahui, Pemerintah Pusat mengucurkan dana sebesar Rp 2,7 triliun lebih untuk rehab rekon Sumatera Barat.

“Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik (dan bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (QS. Al-A’raaf:168). “Dan demi sesungguhnya! kalau Kami memberinya pula kesenangan sesudah bencana, tentulah ia akan berkata: “Telah hilang lenyaplah dariku segala bencana yang menimpaku”. Sesungguhnya ia (dengan kesenangannya itu) riang gembira, lagi bermegah-megah (kepada orang ramai).” (QS. Hud: 10).

Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Salah Seorang Pimpinan Bara Online Media (BOM) Group

 

Bentengsumbar.com, 30 September 2015

 

Irwan Prayitno Pemimpin yang Demokratis

Irwan Prayitno Pemimpin yang Demokratis

BERMACAM-macam pendapat ahli untuk mengartikan siapa yang dimaksud pemimpin itu. Tergantung sudut pandang yang mereka gunakan. Namun, pada dasarnya dapat ditarik kesimpulan, bahwa pemimpin itu adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan kelebihan di satu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.

Maka pemimpin dapat dikatakan sebagai seorang yang memiliki satu atau beberapa kelebihan sebagai predisposisi (bakat yang dibawa sejak lahir), dan merupakan kebutuhan dari satu situasi atau zaman, sehingga dia mempunyai kekuasaan dan kewibawaan untuk mengarahkan dan membimbung bawahan. Dia juga mendapatkan pengakuan serta dukungan dari bawahannya dan mampu menggerakan bawahan kearah tujuan tertentu.

“Sesungguhnya Aku (Allah) akan menciptakan khalifah (pemimpin) di muka bumi…” (QS. Al Baqarah: 30). “Sesungguhnya pemimpin kalian hanyalah Allah dan Rasul-nya serta orang-orang Mukmin yang mendirikan sholat, dan memberikan zakat ketika dalam keadaan rukuk.” (QS. Al Maidah: 55).
Ketika suatu masyarakat membutuhkan seorang pemimpin, maka seorang yang paham akan realitas masyarakatlah yang pantas mengemban amanah kepemimpinan tersebut. Pemimpin tersebut harus dapat membawa masyarakat menuju kesempurnaan yang sesungguhnya. Watak manusia yang bermasyarakat ini merupakan kelanjutan dari karakter individu yang menginginkan perkembangan dirinya menuju pada kesempurnaan yang lebih.

Dalam realita kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat, banyak tipe kepemimpinan yang kita lihat, dan jika kita rumuskan, akan bermuara kepada empat tipe, yaitu; Otoriter (Auhoritarian), Laizess Faire (gaya kepemimpinan yang bebas), Pseudo-Demokratis (gaya kepemimpinan otoriter, tetapi seolah-olah demokratis), dan demokratis. Tipe kepemimpinan demokratis merupakan tipe kepemimpinan yang mengacu pada hubungan. Di sini seorang pemimpin selalu mengadakan hubungan dengan yang dipimpinnya. Segala kebijaksanaan pemimpin akan merupakan hasil musyawarah atau akan merupakan kumpulan ide yang konstruktif. Pemimpin sering turun ke bawah guna mendapatkan informasi yang juga akan berguna untuk membuat kebijaksanaan-kebijaksanaan selanjutnya.

Pemimpin yang demokratis menggunakan kekuatan jabatan dan kekuatan pribadi untuk menggali dan mengolah gagasan bawahan dan memotivasi mereka untuk mencapai tujuan bersama. Sebaliknya, kepemimpinan otokratis merupakan gaya kepemimpinan yang menggunakan kekuatan jabatan dan kekuatan pribadi secara otoriter, melakukan sendiri semua perencanaan tujuan dan pembuatan keputusan dan memotivasi bawahan dengan cara paksaan, sanjungan, kesalahan dan penghargaan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab:21).
Jika dilihat dari tipe-tipe kepemimpinan tersebut dan dengan mempelajari rekam jejaknya selama lima tahun memimpin Sumatera Barat, maka Irwan Prayitno termasuk pemimpin yang demokratis. Ciri-ciri pemimpin yang demokratis tersebut setidaknya juga dimiliki Irwan Prayitno.

Pertama. Wewenang pimpinan tidak mutlak, yaitu keputusan pimpinan bisa dipengaruhi oleh masukan dari bawahan, bukan sebagai bentuk intervensi, dalam hal ini lebih ditekankan dari asas musyawarah, Dalam menentukan kebijakan yang diambil, Irwan Prayitno selaku gubernur selalu bermusyawarah dengan Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Sudah menjadi kebiasaan Irwan dalam setiap rapat-rapat staf yang dia pimpin, dia akan membuka rapat tersebut, dan meminta Kepala SKPD untuk bicara sesuai tema. Dia selalu mendengarkan sumbang saran mereka, lantas baru kemudian diakhir rapat menyimpulkan tindakan yang akan diambil.

Kedua. Pimpinan melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan. Dalam hal ini, semua keputusan tidak bergantung pada Irwan semata. Bawahan memiliki wewenang untuk membuat keputusan, namun masih berada dalam batas sewajarnya. Masing-masing SKPD memiliki otoritas dan wewenang. Misalnya dalam menentukan pejabat eselon III dan IV di SKPD tersebut, semuanya adalah usulan Kepala SKPD. Jika persyaratannya sudah cukup dan sudah melalui Badan Pertimbangan Jabatan (Baperjakat), maka Irwan tinggal mengeluarkan SK jabatan dan melantik mereka.

Ketiga. Keputusan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan. Setiap keputusan yang diambil tidak mutlak berasal dari Irwan, namun telah dimusyawarahkan terlebih dahulu bersama Sekda dan Kepala SKPD. Semua kebijakan yang dilahirkan dibuat secara bersama antara Irwan selaku gubernur dengan Sekda, dan Kepala SKPD. Komunikasi antara gubernur dan Sekda serta Kepala SKPD berlangsung dengan baik, tanpa adanya rasa takut atau canggung karena jabatan. Prakarsa suatu kegiatan yang bermanfaat tidak hanya berasal dari Irwan, tetapi juga dari Sekda dan Kepala SKPD, mereka diberikan hak yang seluas-luasnya untuk memprakarsai sesuatu yang berdampak positif bagi pemprov tersebut.

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka.” (QS. As Syuura: 38).
Keempat. Pengawasan dilakukan secara wajar. Sebagai gubernur, Irwan tidak melakukan pengawasan kegiatan secara over atau over protective, sehingga tidak ada tekanan pada bawahan saat melakukan kegiatannya, bawahan pun menjunjung tinggi kepercayaan yang diberikan atasannya. Pengawasan dilaksanakan secara bersama-sama, tak jarang Irwan melakukan sidak ke beberapa SKPD dalam rangka pengawasan ini.
Kelima. Pujian dan kritik seimbang. Sebagai pemimpin, Irwan selalu saling memuji atau mengkritik bawahannya. Kedua-duanya berjalan seimbang sesuai dengan kebutuhan. Irwan pun mendorong prestasi bawahan dengan melakukan inovasi di SKPD yang dipimpinnya. Sehingga, selama lima tahun memimpin Sumatera Barat, Irwan berhasil membuat Kepala SKPD berprestasi di bidangnya. Masing-masing SKPD menjadi penyumbang penghargaan. Hampir 204 penghargaan yang diraih Pemprov Sumatera Barat selama kepemimpinan Irwan.

Keenam. Memperhatikan perasaan bawahan. Irwan bertindak sebagai pemimpin yang mengayomi bawahannya, sehingga dia mengerti apa masalah yang ada pada bawahan, dan dapat mengambil kebijakan dengan segera. Irwan tipikal pemimpin yang tidak mau menzalimi orang, sehingga selama menjabat gubernur, dia tidak seenaknya mencopot seseorang dari jabatannya. Hanya dua kali Irwan menonjobkan pejabat setingkat eselon II, itu pun karena alasan yang sangat fatal agar program dan kegiatan berjalan di SKPD tersebut.

Ketujuh. Tanggung jawab dipikul bersama. Dalam manajemen kepemimpinannya, selaku gubernur, Irwan saling bekerja sama dengan bawahannya dalam mencapai tujuan. Suasana saling percaya, menghormati dan menghargai pun terjalin erat antara Irwan dengan pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Rata-rata, beberapa orang Kepala SKPD yang penulis temui mengatakan, mereka nyaman selama dipimpin Irwan. Mereka tidak sedikit pun merasa resah karena takut diganti, atau dimintai setoran yang macam-macam oleh Irwan.

 

“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat maa´ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. Al Hajj: 41).
Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Alumnus Jinayah Siyasah Fakultas Syariah IAIN Imam Bonjol Padang/Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang

 

Bentengsumbar.com, 30 September 2015

 

Lebih 840 Kali Kunjungan ke Daerah Selama 5 Tahun

Lebih 840 Kali Kunjungan ke Daerah Selama 5 Tahun

IRWAN Prayitno bukanlah tipe pemimpin yang senang bekerja di depan meja. Sebagian besar waktunya tersita untuk rakyat dengan melakukan kunjungan-kunjungan ke daerah. Selama menjabat Gubernur Sumatera Barat, sejak dilantik pada tanggal 15 Agustus 2010 sampai berakhir masa jabatannya pada tanggal 15 Agustus 2015, tercatat lebih dari 840 kali Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa mengunjungi daerah-daerah di Sumatera Barat.

Kebanyakan Irwan berkunjung ke daerah-daerah terisolir yang selama ini belum pernah dikunjungi pejabat lainnya. Seperti daerah Garabak Data di Kabupaten Solok, dan Air Bangis di Kabupaten Pasaman Barat. Tak menunggu waktu lama, setelah daerah yang kaya potensi itu dikunjungi, semua SKPD terkait dikerahkannya, memacu pembangunan di daerah-daerah terisolir tersebut.

 

Dalam doanya, Rasulullah saw memohon kepada Allah swt, “Ya Allah, barangsiapa yang memegang urusan umatku (memimpin rakyat) lalu ia bersikap kejam, maka kejamilah dirinya. Dan barang siapa memegang urusan umatku dan ia bersikap sayang, maka sayangilah dirinya.” (HR Muslim)
Dalam melakukan kunjungan Irwan selalu memiliki energi besar menyambangi rakyatnya. Tak bisa dengan kendaraan, terkadang dia berjalan kaki. Tak bisa dengan mobil dinas, terkadang Irwan menggunakan motor trabas. Tak bisa jalan darat, jalan laut dan sungai pun ditempuhnya. Tak jarang, air mata rakyat meleleh ke pipi ketika disapa Irwan dalam setiap kunjungannya. Betapa tidak, sebagai rakyat kecil yang belum pernah ditegur sapa, apatah lagi disalami pejabat setingkat gubernur, membuat rakyat terharu, dan meluapkan keharuannya tersebut dengan air mata.

Mereka selama ini merasa tidak pernah “merdeka”, dalam artian sering terabaikan dari segi pembangunan. Mereka selama ini seakan hidup bak anak piatu, tanpa bapak yang mengayomi. Mereka bak hidup sebatang kara, karena pejabat yang semestinya membuat mereka bahagia dan tersenyum, justru menangis karena tingkah polah yang mereka benci: hidup mewah, doyan korupsi, doyan

menambah istri, benggo terpasang lengkap dengan dasi, dan sering membawa pengawal kemana pergi, seakan ada jarak antara mereka dengan rakyatnya sendiri.

 

Irwan menghapus image tersebut. Dia tampil sederhana, baju yang dikenakan merupakan baju rakyat kebanyakan. Dia merupakan pejabat yang tidak suka bermewah-mewahan, tampil apa adanya, makan seenaknya, di warung nasi pinggiran jalan pun jadi. Tak jarang dalam setiap kunjungannya, dia makan bersama dengan rakyat, ngopi di warung bersama mereka, berbagi cerita tentang kehidupan.
Dalam setiap kunjungannya, Irwan menghindari penyambutan formal. Tak perlu disambut dengan tari gelombang segala, karena dia bukanlah tipikal pemimpin yang selalu menjaga wibawa semu di mata rakyatnya. Kadang kedatangannya hanya disambut di tanah lapang, kadang disambut di bawah rumpun pisang, saat berkunjung ke sawah ladang. Kadang disambut di pinggir kolam saat memberikan bantuan bibit ikan. Makanan pun tak usah dihidangkan mewah-mewah, karena sebagai orang Kuranji, perutnya terbiasa makan gulai cubadak, makanan orang kebanyakan.

Hebatnya lagi, Irwan tak suka dikawal berlebih-lebihan dalam setiap kunjungannya. Dia ingin tidak ada batas antara dirinya dengan rakyat. Hanya tiga orang yang selalu mengiringi kunjungannya; satu orang sopir, satu orang ajudan, dan satu lagi staf kepercayaan. Selebihnya hanyalah pejabat teknis yang terkait dengan tema daerah kunjungan. Jika dia mengunjungi masyarakat dalam rangka memberikan bibit ikan, maka yang diajak adalah pejabat Dinas Perikanan dan Kelautan. Pejabat yang tidak berkepentingan tak usah ikut, karena mereka masih banyak memiliki tanggung jawab pekerjaan yang harus diurus dan dirunut.

 

Seringkali rakyat tidak tahu bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang gubernur, orang nomor satu di daerah mereka. Jangankan rakyat, pejabat setingkat camat pun ragu, apa benar pemuda yang kurus murah senyum ini gubernur? Kalau iya, mana benggo dan atribut lainnya? Ya, Irwan memang tidak suka memakai benggo kemana pergi, tak pula suka memakai dasi. Baginya, cukup SK sebagai Gubernur Sumatera Barat dari sang Presiden RI. Atribut lainnya hanya dipakai jika memang diharuskan, seperti mendampingi presiden dan menteri.
Irwan tipikal pejabat yang setia dengan istri. Sampai saat ini, belum terdengar oleh kita Irwan beristri lagi. Walau anak 10 dan membutuhkan biaya yang sangat besar dalam mengurus keluarga, sampai detik ini, belum pernah kita dengar, Irwan diterpa isu korupsi. Istri dan anak-anaknya malah memakai fasilitas kendaraan pribadi. Mereka tidak suka memakai kendaraan dinas plat merah, karena mereka tahu, semua fasilitas itu diberikan negara kepada suami dan ayah mereka untuk mengurus rakyat, bukan untuk acara keluarga. Apatah lagi membawa kendaraan dinas ke kebun milik pribadi, mobil rusak, pemda ditagih orang dengan kwitansi, itu jauh dari sikap hidup mereka yang taat menjalankan agamanya.

Itulah sekelumit cerita tentang Irwan Prayitno yang selama menjabat Gubernur Sumatera Barat melakukan kunjungan 840 kali lebih ke daerah. Dan walau pun sibuk dengan berbagai kunjungan tersebut, yang rata-rata seminggu 3-4 kali, Irwan masih diberi kesehatan. Tidak pernah sakit dalam mengemban amanah jabatan. Kuncinya adalah ikhlas, menurut Irwan. Sikap ikhlas akan berbuah manis. Orang yang mukhlis akan selalu berfikiran positif.

Dia tak akan pernah terjebak kepada nafsu amarah, tidak akan terjebak sikap riya, tidak akan terjebak oleh hasad dan dengki. Dia akan selalu berfikiran positif dalam memandang suatu persoalan. Dia akan cenderung memaafkan setiap kesalahan orang kepadanya. Sebab ikhlas mendatangkan energi positif yang menggerakan semua persendian. Itulah rahasia energi terbesar Irwan tetap sehat menjalankan amanah jabatan, sehingga dia mampu berkunjung ke daerah-daerah di luar kemampuan pejabat kebanyakan.

“Kembangkan sifat kasih sayang dan cintailah rakyatmu dengan lemah lembut. Jadikanlah itu sebagai sumber kebijakan dan berkah bagi mereka. Jangan bersikap kasar dan jangan memiliki sesuatu yang menjadi milik dan hak mereka.” (Imam Ali ra)
Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Alumnus Jinayah Siyasah Fakultas Syariah IAIN Imam Bonjol Padang/Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang

 

Bentengsumbar.com, 30 September 2015

 

Ikhlas Pimpin Sumbar, Dianugerahi Kesehatan oleh Allah SWT

Ikhlas Pimpin Sumbar, Dianugerahi Kesehatan oleh Allah SWT

SECARA bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal. Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain.

Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras (nampi beras) dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.

Pada prinsipnya, ikhlas merupakan keharusan hakiki yang mesti ada dalam diri setiap orang. Ketika ikhlas itu ada, akan kuat dan tangguhlah dirinya. Sebaliknya ketika ikhlas telah hilang, maka akan rapuh dan lemahlah dirinya. Hal itu karena manusia itu sendiri diciptakan dari fitrah. Fitrah itu dalam perkembangan hidup di dunia, tidak selalu suci karena dikotori oleh berbagai faktor eksternal. Semakin kotor fitrah itu, manusia akan semakin lemah dan rapuh sampai pada gilirannya merana dan sengsara. Sebaliknya, bila fitrah itu terus terpelihara, disucikan, dimurnikan, dan dirawat, maka pemiliknya akan semakin kuat, tegak berdiri, dan kokoh. Ikhlas berfungsi memelihara fitrah itu agar terus bersih dan murni.

 

“Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.” (Imam Ali ra).
Seorang yang ikhlas dalam melaksanakan pekerjaanya, senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Perjalanan waktulah yang akan menentukan seorang itu ikhlas atau tidak dalam beramal. Dengan melalui berbagai macam ujian dan cobaan, baik yang suka maupun duka, seorang akan terlihat kualitas keikhlasannya dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad.

Dalam sebuah kesempatan, penulis pernah bertanya kepada Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa, apa sebab dia tidak pernah sakit selama memimpin Sumatera Barat? Dengan tersenyum dia menjawab, “Kuncinya adalah ikhlas dalam mengemban amanah jabatan.” Irwan mengaku tidak pernah mengeluh selama memimpin daerah ini. Walau tugas seorang kepala daerah cukup berat.

Apatah lagi, sebagai seorang Gubernur Sumbar, hampir seluruh waktunya diluangkan untuk mengurus masyarakat. Seorang Gubernur Sumbar juga harus siap tempur. Mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk membangun Sumbar. Gubernur dalam melaksanakan tugasnya siang dan malam, harus bepergian dari satu daerah ke daerah lain. Bertemu dan melihat kondisi masyarakatnya, meninjau, melaksanakan dan mengevaluasi berbagai program pembangunan di daerah. Gubernur juga harus siap sedia menghadiri undangan acara dan kegiatan berbagai elemen masyarakat.

Tidak jarang, seorang gubernur juga harus pulang balik ke pemerintah pusat, melobi dan menjemput berbagai program pembangunan pemerintah pusat, untuk dapat direalisasikan di daerah. Dengan tugas yang cukup berat tersebut, kepala daerah rentan menderita kelelahan dan bahkan sampai sakit. Namun, tidak demikian halnya dengan Irwan Prayitno, dia tetap fit dalam setiap kondisi. Sementara ajudan dan sopir yang mendampinginya, meski dengan sistem aplusan, sudah bergiliran sakit dan terpaksa beristirahat total (bed rest).

 

Dalam melaksanakan amanah jabatan sebagai Gubernur Sumatera Barat, tujuan yang hendak dicapai oleh Irwan adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, dia senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha Melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun. Sikap ikhlas ini mengantarkan Irwan terjaga dari apa yang diharamkan Allah swt.
Anda boleh bertanya kepada semua Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), selama menjabat gubernur, Irwan menolak segala bentuk gratifikasi terkait dengan pengurusan izin. Tak hanya itu, dalam setiap pengusulan pejabat, tidak ada uang setoran. Jika ketahuan ada uang setoran, walaupun yang bersangkutan yang terbaik, takkan akan diterima, dan tetap akan diproses sebagaimana mestinya.

Sikap ikhlas akan berbuah manis. Orang yang ikhlas atau mukhlis akan selalu berfikiran positif. Dia tak akan pernah terjebak kepada nafsu amarah, tidak akan terjebak sikap riya, tidak akan terjebak oleh hasad dan dengki. Dia akan selalu berpikiran positif dalam memandang suatu persoalan. Dia akan cenderung memaafkan setiap kesalahan orang kepadanya.

Seorang yang mukhlish akan mengabdi tanpa mempedulikan apakah dia seorang pemimpin pasukan ataukah dia prajurit biasa yang berbeda di garis front paling belakang, selama di dalam memainkan kedua peran itu masih mengharapkan keridhoan sehingga kalbunya tidak dikuasai oleh ambisi untuk menonjolkan diri, membanggakan solidaritas satu korps, ambisi pada kekuasaan serta jabatan dan jenjang tertinggi dalam pos kemiliteran. Dengan kata lain, dalam menjalankan tugas tidak dilatarbelakangi oleh ambisi maupun mengejarnya demi kepentingan pribadinya.

Oleh karena itu, Ibn Hazm menyebutkan bahwa ikhlas ibarat ruh dalam jasad. Jasad akan mati tak bertenaga ketika kehilangan ruh. Itulah maka kenapa para generasi salaf dan para mujahid dapat mengantarkan umat Islam menuju kejayaannya. Karena mereka hidup, memiliki ruh, dan bangkit. Mereka bekerja dan berjuang semata ikhlas lillahi ta’ala. Amal perbuatan mereka bergizi, penuh makna, dan kekuatan, karena ada ruhnya, yaitu ikhlas. Amal yang demikian mengantarkan umat mencapai masa kejayaannya.

 

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan jiwanya dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (QS. An Naziat: 40-41). “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaanNya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharap perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al Kahfi: 28).

Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Alumnus Jinayah Siyasah Fakultas Syariah IAIN Imam Bonjol Padang/Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang

 

Bentengsumbar.com, 30 September 2015

 

Harapan Lembaga Silek Pauh terhadap Irwan Prayitno

Harapan Lembaga Silek Pauh terhadap Irwan Prayitno

MALAM ini, Senin (28/9/20015), penulis kembali terlibat diskusi menarik dengan Ketua Umum Lembaga Silek Pauh Muhammad Yusuf Rajo Bungsu dan Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang Evi Yandri Rajo Budiman. Diskusi kami bertemakan sejarah, budaya dan silek Pauh (salah satu aliran silat tradisional Minangkabau yang terkenal dengan jurus-jurusnya yang mematikan).

Ketika mendengar nama Pauh, dalam benak Anda mungkin akan langsung tertuju kepada Kecamatan Pauh, salah satu daerah yang termasuk bagian wilayah Kota Padang. Anggapan itu sebenarnya tidak salah, karena nama Pauh memang menjadi nama kecamatan yang daerahnya terdiri dari Kenagarian Pauh V dan Limau Manih. Tetapi, Pauh yang kami bahas dalam diskusi kali ini adalah Pauh Basa Si Ampek Baleh yang daerah kekuasaanya secara adat terdiri dari beberapa dua kenagarian, yaitu Kenagariannya Pauh IX dan Kenagarian Pauh V.

Kedua wilayah kenagarian ini dulunya masuk ke dalam wilayah Kabupaten Padang Pariaman. Namun berdasarkan PP nomor 17 tahun 1980, sejak 21 Maret 1980 menjadi wilayah administrasi kota Padang. Sebagian besar wilayah Kenagarian Pauh IX masuk ke dalam wilayah Kecamatan Kuranji, dan sebagian kecil masuk ke dalam wilayah Kecamatan Padang Timur dan Padang Utara. Sedangkan wilayah Kenagarian Pauh V masuk seluruhnya ke dalam wilayah Kecamatan Pauh.

 

Dalam sejarahnya, Nagari Pauh Basa Si Ampek Baleh (Pauh IX dan Pauh V) merupakan daerah yang tidak pernah menyatakan tunduk kepada penjajah Belanda. Menurut Van Bazel, sejarawan Belanda, antara 1665 dan 1740 tidak kurang dari 20 kali memberontak rakyat Pauh terhadap kekuasaan Belanda. Orang Pauh dianggap sebagai orang-orang pemberani dan ditakuti. Pada tahun 1665 terjadinya perang Rupit, perang Rupit adalah peperangan masyarakat Pauh melawan Belanda. Antara tahun 1665 – 1740 rakyat Pauh selalu memberontak terhadap kekuasaan Belanda.
Walau Kota Pauh selalu dibumi hanguskan oleh Belanda, tetap rakyat kembali dan menyusun pemberontakan dari tanah pusakonya. Jacob Gruys pada bulan April 1666 dengan 200 pasukan Belanda dan pasukan-pasukan pembantunya menyerang kota Pauh untuk memadamkan pemberontakan rakyat. Serangan itu berakhir tragis bagi Belanda, hanya 70 serdadu yang kembali hidup-hidup, Jacob Gruys sendiri juga tewas, begitu pula 2 kapten dan 5 letnan.

Menurut Muhammad Yusuf, Ketua Umum Lembaga Silek Pauh, Nagari Pauh Basa Si Ampek Baleh dikuasai oleh 14 suku berdasarkan pembagian tapian adat, yaitu sembilan di Pauh IX dan lima di Pauh V. Sekitar abad ke-8 M, Pauh Basa Si Ampek Baleh dipimpin oleh seorang raja yang berasal dari Pesisir Selatan atas kesepakatan Kerajaan Pagaruyung dan Kerajaan Indrapura. Raja pertamanya bernama Sutan Firmansyah Datuk Rajo Putih bersuku Melayu. Kuburannya terdapat di Gunung Rajo Kampung Pinang, Kelurahan Lambung Bukit. Setidaknya, ada delapan raja yang ditunjuk untuk berkuasa di Pauh Basa Si Ampek Baleh. Namun, untuk menggali sejarahnya masih dibutuhkan waktu yang panjang.

Nagari Pauh Basa Si Ampek Baleh sering dikenal melalui Silek Pauh yang merupakan salah satu beladiri perang yang digunakan pandeka-pandeka (pendekar) Pauh melawan penjajah Belanda. Beladiri tradisional ini sudah terkenal di dunia internasional. Tidak hanya dipelajari oleh Anak Nagari Pauh, tetapi juga dipelajari oleh orang dari luar. Di luar negeri, Silek Pauh dipelajari di Belanda, Belgia, Vietnam, Amerika, dan negara lainnya.

 

Bahkan, di Arab Saudi, Silek Pauh pernah diajarkan oleh Inyiak Arang, penghulu suku Koto yang pergi naik haji ke Mekkah. Inyiak Arang pun tidak pernah kembali ke Pauh Basa Ampek Baleh, karena wafat dan dimakamkan di tanah Arab. Sebelum berangkat haji ke Mekkah, Inyiak Arang membangun surau yang kemudian menjadi cikal bakal Mesjid Jamik Pauh di Pasar Ambacang. Karena jasa-jasa Inyiak Arang ini, Arab Saudi pernah membantu pengembangan dan pembangunan surau tersebut senilai US$ 14.000. Bantuan tersebut diberikan sekitar tahun 70-an, ujar Muhammad Yusuf bercerita.
Sekedar diketahui, ujar Muhammad Yusuf lagi, Prabowo Subianto yang merupakan pendekar dari Satria Muda Indonesia (SMI) dan Ketua Umum Partai Gerindra, mengaku kalau gurunya adalah orang Pauh Basa Si Ampek Baleh, yaitu almarhum Darwis Sutan Sulaiman Datuk Rajo Putih. Belanda sendiri mengakui, kalau Darwis Sutan Sulaiman Datuk Rajo Putih adalah grand master silat tradisional Indonesia.

Untuk menggali nilai-nilai sejarah Pauh Basa Ampek Baleh ini, jelas Muhammad Yusuf, tentu hanya dapat dilakukan oleh Anak Nagari Pauh Basa Si Ampek Baleh. Dorongan pemerintah pun dibutuhkan. Makanya, besar harapan Muhammad Yusuf, jika Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa, penghulu suku Tanjung Tapian Ampang Kenagarian Pauh IX Kecamatan Kuranji terpilih lagi menjadi Gubernur Sumatera Barat pada pilkada 2015 ini.

Jika Gubernur Sumbar adalah Anak Nagari Pauh Basa Si Ampek Baleh, maka langkah ke arah itu akan semakin mudah. Dan dia yakin, Irwan akan mau mendorong ke arah itu. Apatah lagi ini terkait dengan sejarah nagari dan kampung halamannya sendiri. Kelalaian Anak Nagari Pauh Basa Si Ampek Baleh, menurut Muhammad Yusuf, selama Irwan menjabat gubernur dari 2010 sampai 2015, Anak Nagari Pauh Basa Si Ampek Baleh kurang bisa memanfaatkan potensi yang dimiliki Irwan untuk menggali kembali nilai sejarah ini. Seakan-akan ada jarak antara Irwan dengan Anak Nagari Pauh Basa Si Ampek Baleh.

 

Muhammad Yusuf tidak meragukan pengkajian nilai-nilai sejarah dan Silek Pauh semakin mudah dilakukan, jika Irwan Prayitno kembali menjadi gubernur. Keyakinan itu semakin besar, mengingat Irwan Prayitno sendiri adalah seorang pemangku adat dan Ninik Mamak Nagari di Pauh Basa Si Ampek Baleh. Sebagai pemangku adat, Irwan Prayitno memiliki tanggung jawab moral untuk melakukannya.
Saat ini, kata Muhammad Yusuf, Lembaga Silat Pauh terus berupaya melakukan pengkajian, pengembangan, dan pelestarian Silek Pauh. Langkah yang dilakukan adalah dengan menyusun kurikulum Silek Pauh bekerjasama dengan IPSI Kota Padang. Kurikulum Silek Pauh sudah dilaunching oleh Kemenpora Roy Suryo setahun yang lalu. Langkah selanjutya adalah membangun Padepokan Silek Pauh. Rencana ke arah itu sudah dimulai, dimana rencananya Padepokan Silek Pauh tersebut akan dibangun di Gunung Rajo Lambung Bukit, persis di dekat makam raja pertama Pauh Basa Si Ampek Baleh.

Irwan Prayitno diharapkan dapat berperan besar dalam mewujudkan Padepokan Silek Pauh ini. Sebab arti penting keberadaan padepokan ini nantinya adalah sebagai tempat belajar Silek Pauh bagi Anak Nagari Minangkabau. Mereka tidak hanya belajar Silek Pauh secara fisik, tetapi juga akan diajarkan filsafat Silek Pauh, termasuk soal pembinaan aqidah agama. Beberapa perguruan Silek Pauh dari luar negeri, seperti Belanda, Belgia, dan Vietnam juga berencana untuk mendapatkan legalitas dari perguruan-perguruan Silek Pauh yang ada di Pauh Basa Si Ampek Baleh. Tapi sebelumnya, tentu harus ada wadahnya, berupa Padepokan Silek Pauh.

 

Evi Yandri Rajo Budiman berjanji kepada Muhammad Yusuf untuk membicarakan hal tersebut. Menurutnya, sejarah Pauh Basa Si Ampek Baleh harus digali dan dibukukan, termasuk pelestarian Silek Pauh itu sendiri. Sebagai Ninik Mamak Nagari Pauh Basa Si Ampek Baleh, Evi Yandri yakin Irwan Prayitno merespon dengan baik wacana tersebut.
Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang

 

bentengsumbar.com, 29 September 2015

 

Benarkah Irwan Prayitno Gagal Memajukan Sumbar?

Benarkah Irwan Prayitno Gagal Memajukan Sumbar?

AGAKNYA, kawan diskusi penulis pagi ini sudah mulai galau. Dia mengatakan, Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa gagal memajukan Sumatera Barat. Indikasinya terlihat dari angka kemiskinan yang makin bertambah, tidak adanya usaha yang berskala besar, tidak adanya industri padat karya yang menyerap ribuan tenaga kerja, tidak adanya kehidupan malam, dan lain sebagainya.

Benarkah demikian? Jika indikator kemajuan yang dia sebutkan adalah itu, maka penulis pun membenarkan apa yang dia katakan. Namun, kita tentu harus cerdas melihat setiap persoalan yang dikemukakan. Sebab, untuk membangun Sumatera Barat bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Tentunya harus dilihat karakteristik suatu daerah dalam pelaksanaan pembangunan, sehingga pembangunan yang telah direncanakan dapat berjalan dengan baik, sehingga kehidupan masyarakat sejahtera, tetapi tidak merusak tatanan yang telah ada.

“Dan Allah SWT telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An Nur: 55).
Dalam sebuah diskusi dengan Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa, pria berkacamata yang akrab disapa Irwan ini mengatakan, dalam membangun Sumatera Barat, ada tiga hal yang harus diperhatikan. Ketiga hal tersebut harus menjadi pertimbangan dalam membangun Sumatera Barat, kalau tidak maka akan berujung pada kegagalan.

Pertama, geografi. Sumatera Barat terletak di tepi pantai barat Sumatera dan tidak temasuk jalur ekonomi internasional. Sumatera Barat merupakan daerah agraris atau pertanian, namun di sisi lain petani di daerah ini hanya menguasai lahan 1/3 hektar per orangnya. Kondisi lahan pertanian pun berjenjang-jenjang, sehingga tidak bisa memakai sistem mekanisasi. Selain itu, Sumatera Barat merupakan daerah yang rawan bencana, seperti gempa dan tsunami.

Kedua, agama, adat istiadat, dan budaya. Penduduk Sumatera Barat sebagian besar adalah etnis Minangkabau yang menganut agama Islam. Bahkan secara adat, agama Islam adalah agama resmi orang Minangkabau. Jika ada orang Minangkabau tidak beragama Islam maka dianggap bukan lagi orang Minangkabau. Falsafah adat Minangkabau menyatakan, “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah,” merupakan pedoman hidup orang Minangkabau sehari-hari. Maka, pembangunan yang akan dilaksanakan pun harus berpedoman kepada agama dan adat orang Minangkabau.

Ketiga, karakter orang Minangkabau. Orang Minangkabau tidak mudah puas dengan apa yang dia capai. Dia akan terus berusaha lebih untuk melakukan peningkatan dalam kehidupannya. Orang Minangkabau pun bukan tipikal pekerja kasar, mereka lebih mengandalkan otak ketimbang otot. Makanya, jika mereka sudah berpendidikan tinggi, maka mereka akan jarang pulang ke kampung halamannya untuk bertani, tetapi lebih memilih pekerjaan kantoran atau membangun usaha sendiri.

Tudingan bertambahnya angka kemiskinan selama Irwan Prayitno menjadi Gubernur Sumatera Barat merupakan ungkapan sakit hati dari lawan-lawan politiknya. Data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, kemiskinan di Sumatera Barat, sejak dipimpin Irwan Prayitno justru mengalami penurunan. Pada tahun 2010 angka kemiskinan 9,44 persen, tahun 2011 sebesar 8,99 persen, tahun 2012 sebesar 8 persen, tahun 2013 sebesar 7,56 persen, dan tahun 2014 sebesar 7,41 persen.
Bank Indonesia (BI) perwakilan Sumatera Barat mencatat jumlah penduduk miskin di provinsi itu turun dari 384.100 jiwa pada September 2013 menjadi 354.700 jiwa pada September 2014. Dengan kondisi tersebut, persentase penduduk miskin mengalami penurunan dari 7,6 persen menjadi 6,9 persen. Demikian diungkapkan Kepala Perwakilan BI Sumbar Puji Atmoko. (silahkan bacas: BI : Penduduk Miskin Sumbar Berkurang).

Kondisi tersebut mengacu pada hasil kajian ekonomi dan keuangan regional Sumatera Barat triwulan II 2015. Perbaikan kesejahteraan terjadi baik di masyarakat perkotaan maupun pedesaan tercermin dari sejumlah indikator yaitu menurunnya jumlah penduduk miskin, persentase penduduk miskin, indeks kedalaman kemiskinan dan indeks keparahan kemiskinan. Selama setahun terakhir, jumlah penduduk miskin di perkotaan turun 17.500 jiwa dan pedesaan turun 11.900 jiwa.

Ini membuktikan, angka kemiskinan di provinsi itu dalam lima tahun terakhir terus mengalami penurunan. Dalam menghitung angka kemiskinan harus menggunakan patokan dari tahun ke tahun pada bulan yang sama sehingga terukur dengan jelas. Sebab, jika dihitung hanya dari bulan tertentu wajar akan terlihat penambahan, namun yang harus diingat angka tersebut sifatnya berfluktuasi. Pada 2010 kemiskinan di Sumbar berdasarkan pendataan Maret 9,50 persen, 2011 9,04 persen, 2012 8,19 persen, 2013 8,14 persen, 2014 7,14 persen dan 2015 tinggal 7,31 persen.

Terkait data BPS yang menyebutkan jumlah penduduk miskin di provinsi itu pada Maret 2015 mencapai 379.609 jiwa atau bertambah 24.871 orang dibandingkan September 2014, persoalan itu harus dilihat secara utuh, karena penghitungan tidak dilakukan dari tahun ke tahun. Ini juga terjadi merata di seluruh Indonesia karena perlambatan ekonomi, namun untuk mengambil kesimpulan per tahun harus dihitung dalam jangka 12 bulan.

Mengenai tidak adanya usaha berskala besar di Sumatera Barat selama Irwan Prayitno menjadi Gubernur Sumatera Barat pun harus dilihat dengan cermat. Berdasarkan data yang ada, 80 persen pengusaha Sumbar bergerak pada bidang mikro yang modal awalnya dibawah Rp5 juta, 14 persen pengusaha kecil yang modalnya dibawah Rp50 juta, dan 0,8 persen pengusaha menengah yang modalnya di bawah 100 juta. Tidak ada pengusaha besar. Kalau ada orang Minang mengelola usaha besar dan menjadi pengusaha besar, mereka berinvestasi bukan di Sumatera Barat, tetapi di luar Sumbar.
Menurut Irwan Prayitno, di Sumatera Barat tidak mungkin dibangun industri padat karya yang menyerap ribuan tenaga kerja dengan gaji di atas Upah Minimum Regional (UMR). Disamping karakter orang Minang yang tidak suka menjadi buruh kasar, investor pun berfikir ulang untuk berinvestasi pada industri padat karya, karena biaya yang mereka keluarkan sangat tinggi. Mereka akan mengalami kerugian, dan memang semua industri padat karya di Sumbar menemui kegagalan, dan yang tersisa hanya PT Semen Padang. Sementara itu, Sumatex tutup, pabrik triplek kayu, pabrik biskuit juga tutup karena tidak produktif.

Orang Minang lebih suka berindustri dan berdagang sendiri yaitu industri rumahan seperti keripik, rendang, tenun, bordir, songket. Dengan budayanya yang egaliter, orang Minang lebih suka menjadi pemimpin, pengelola, sekaligus pekerja di bisnisnya sendiri. Daripada digaji Rp1,4 juta yaitu UMR Kota Padang dan hidup diatur dari jam 9 pagi sampai 5 sore, orang Minang lebih suka kerja berdagang, membuat produk industri rumahan, atau pekerja dengan skema bagi hasil–bukan upah atau gaji.

Melihat pengalaman industri di Sumatera Barat, Irwan yakin bahwa strategi dan kebijakan yang mengupayakan kemandirian ekonomi harus memperhatikan aspek-aspek budaya dan kebiasaan setempat. Sebab etnik Minang itu modalnya bukan otot, tapi otak. Dengan populasi hanya 5 juta atau 2 persen dari nasional, tokoh-tokoh nasional yang berasal dari Sumbar adalah 15 persen. Mereka banyak sukses menjadi diplomat, pedagang, pengusaha, dan politisi.

Ini sebabnya untuk Sumbar, Irwan menegaskan bahwa industri yang akan sukses adalah industri kreatif dan industri teknologi informasi komunikasi (TIK), selain industri rumahan. Untuk merealisasikan upaya pengembangan sektor industri kreatif dan TIK, sewaktu menjabat Gubernur Sumatera Barat, Irwan merencanakan pembangunan kota industri baru di Padang Pariaman. Dalam hal ini, selaku gubernur waktu itu, ia meminta dukungan dari Pemerintah Pusat lewat Kementerian Perindustrian.
Orang sering membandingkan Sumatera Barat dengan Pekanbaru. Pekanbaru dianggap lebih maju dari Sumatera Barat. Jika kemajuan yang dimaksud adalah kehidupan 24 jam dan banyaknya tempat hiburan, maka Sumatera Barat tidak mungkin seperti itu. Apa sebab? Orang Minang sebagian besar adalah pedagang. Mereka akan menolak, jika di daerah ini dimasukan Alfamart atau yang semacamnya, karena akan memetikan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Apatah lagi tempat hiburan yang berbau-bau maksiat, maka sudah pasti orang Minangkabau akan ribut karena tentu saja tidak sesuai dengan adat dan agama mereka.

Ditulis Oleh:
Zamri Yahya
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang

 

Bentengsumbar.com, 28 September 2015

 

Sosok Pemimpin Inovator, Motivator, dan Berpengalaman

Sosok Pemimpin Inovator, Motivator, dan Berpengalaman

MENJADI kepala daerah di Sumatera Barat tidaklah mudah. Untuk itu dibutuhkan pemimpin yang memahami betul kondisi daerah yang dipimpinnya, baik secara geografis, sosial budaya, agama, dan politik. Biasanya, pemimpin yang tidak memahami kondisi daerah akan berujung kepada kegagalan dalam melaksanakan amanah kepemimpinan yang dia emban.

Sebaliknya, pemimpin yang memahimi kondisi riil daerah yang dipimpinnya, maka dia akan melahirkan program matang untuk mensejahterakan rakyat yang dipimpinnya. Dia akan melahirkan ide inovatif dalam pengambilan kebijakan pembangunan, sehingga betul-betul tepat sasaran. Bukan sekedar melahirkan kebijakan untuk “maantokan tangih” warganya, tetapi kebijakan yang berpandangan jauh ke depan.

 

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar . Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajadah: 24).
Bagi pendukung Irwan Prayitno Datuk Bandaro Basa, calon Gubernur Provinsi Sumatera Barat yang berpasangan dengan Nasrul Abit dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2015 ini, sosok yang satu ini adalah sosok yang multi talenta, sebagaimana telah kita bahas pada tulisan sebelumnya (baca : Anak Muda Sudah Pasti Dukung Pemimpin Multi Talenta). Lebih dari itu, menurut mereka, Irwan Prayitno adalah sosok pemimpin yang inovator dan selalu memotivasi generasi muda untuk selalu berkarya sesuai kemampuan di bidangnya.

Di mata Syahrul Fadhli Islami, Sekretaris Umum Pemuda Kuranji misalnya, Irwan Prayitno adalah sosok pemimpin yang inovator. Banyak ide-ide yang dilahirkannya selama memimpin Sumatera Barat. Namun ide-ide itu, tidak semua orang yang bisa mencernanya dengan baik, justru dijadikan semacam bahan tertawaan. Ini diakibatkan bukan karena ide-ide tersebut kurang bagus, tetapi orang yang menanggapi sudah terlanjur antipati dari awal kepada sosok Irwan Prayitno dengan berbagai alasan.

Syahrul mencontohkan, untuk menggerakan pemuda agar berkarya seni sesuai nafas ajaran Islam, Irwan Prayitno terjun langsung dengan menciptakan lagu-lagu religi. Bahkan, dia langsung menyanyikan lagu-lagu ciptaannya. Semua orang dengan mudah mengakses lagu-lagunya dalam bentuk video clip di YouTube. Untuk memotivasi giat belajar, dia pun mengajak pemuda untuk rajin membaca dan mengaji, efeknya tentu saja generasi muda akan terjauh dari narkoba dan pergaulan bebas jika sudah disibukkan dengan kegiatan belajar dan mengaji di surau.
Nilai lebih lainnya, menurut Syahrul Fadhli Islami, Irwan Prayitno merupakan tokoh yang telah mempunyai pengalaman di kancah nasional. Dan tentu saja ini akan menguntungkan secara nasional, sebab melalui jaringan yang dimilikinya, Irwan Prayitno akan mampu menembus sekat-sekat yang ada untuk memuluskan anggaran pusat untuk daerah, bukan saja anggaran yang bersifat normatif, tetapi juga anggaran yang bersifat tambahan.

Bagi Syahrul Fadhli, sosok Irwan Prayitno merupakan pemimpin yang memiliki kredibilitas. Kredibilitas seorang pemimpin adalah kualitas, kapabilitas, atau kekuatan untuk menimbulkan kepercayaan. Dari segi kualitas kepemimpinan, sosok Irwan Prayitno menerapkan manajemen kepemimpinan secara mandiri terhadap masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Kapabilitas kepemimpinan Irwan Prayitno dengan manajemen kepemimpinan yang dia terapkan mampu mengantarkan Provinsi Sumatera Barat meraih berbagai penghargaan di segala bidang. Masing-masing SKPD menyumpangkan penghargaan sebagai bukti keberhasilan pelaksanaan program pembangunan.

Kredibilitas yang dimiliki Irwan Prayitno dimotivasi oleh ajaran agama yang dia pahami. Amanah jabatan yang dia terima betul-betul dilaksanakan dengan baik, sebab jika amanah itu dilalaikan, maka akan berujung kepada azab Allah swt kepada diri dan keluarganya. Bahkan, amanah kepemimpinan yang disia-siakan akan berujung pada nerakanya Allah swt. Pemimpin yang menipu rakyat, jangankan masuk surga, mencium bau surga saja tidak akan bisa. Inilah ancaman dari Allah swt.

“Tidak seorang hamba pun yang mendapat amanah dari Allah untuk memimpin rakyat, lantas ia meninggal pada hari meninggalnya dalam keadaan mengkhianati rakyatnya kecuali Allah haramkan atasnya surga.” (HR. Bukhari)
Menurut Syahrul Fadhli Islami, sosok Irwan Prayitno adalah sosok yang inovator, motivator, kredibel, dan amanah. Untuk itu, Irwan Prayitno masih layak diberikan kepercayaan oleh masyarakat Sumatera Barat untuk melanjutkan kepemimpinannya di Sumatera Barat lima tahun ke depan. Sebab, beda gubernur akan beda lagi program yang akan dilaksanakannya.

Ditulis Oleh:
Zamri Yahya, SHI
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang

 

Bentengsumbar.com, 27 September 2015

 

Perpaduan Sosok Ulama dan Umara

Perpaduan Sosok Ulama dan Umara

DALAM beberapa kajian keislaman yang pernah Anda ikuti, misalnya di kampus atau seminar-seminar keislaman, pasti pernah mendengar untaian kata, “Ulama dan Umara.” Para pengkhotbah Jumat atau dai yang memberikan pengajian di mesjid dan mushalla pun, sering menyebut-nyebut kedua predikat prestisius tersebut jika materi ceramahnya terkait dengan politik dan pemerintahan.

Predikat ulama, sering diberikan kepada seseorang yang mendalami ilmu-ilmu keilslaman atau agama. Sebuah label yang dianggap suci, sehingga seseorang yang dipanggil ulama ‘diharamkan’ melakukan kesalahan sekecil apa pun, baik disengaja maupun tidak disengaja. Dia mesti terlihat alim di depan publik. Ibadahnya mestilah lebih dan itu terlihat nyata di tengah masyarakat.

Padahal, Al Quran sendiri menjelaskan, ulama itu tidak hanya orang yang paham secara mendalam tentang ilmu agama, tetapi juga orang yang menguasai ilmu pengetahuan umum. Makanya, dalam Islam tidak dibedakan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum tersebut. Seorang ahli fisika pun disebut ulama, demikian juga ahli nuklir juga disebut ulama. Semua cabang ilmu dalam Islam merupakan cara bagi orang yang mempelajarinya untuk mengenal keagungan Tuhan.

“Allah memberi hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan barang siapa diberi hikmah, ia telah memperoleh kebaikan melimpah; tetapi yang dapat mengambil pelajaran hanya orang yang arif.” (QS. Al Baqarah: 269). “Dan demikian pula di antara manusia, binatang melata dan hewan ternak, terdiri dari berbagai macam warna. Sungguh yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama; mereka yang berpengetahuan. Sungguh Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 28).
Sedangkan umara adalah pemimpin pemerintahan. Mereka disebut juga ulil amri, yaitu orang yang memegang kekuasaan atau orang yang bertanggung jawab, yang dapat mengambil keputusan, mereka yang menangani pelbagai persoalan. Oleh karena di dalam Islam tidak ada pemisahan yang tajam antara soal-soal yang sakral dengan yang sekular, maka adanya suatu pemerintah biasa diharapkan dapat berjalan di atas kebenaran, dan dapat bertindak sebagai Imam yang shalih, benar dan bersih pula.

Umara yang saleh, yaitu umara yang adil, amanah, dan bertakwa kepada Tuhannya. Ia bekerja di siang hari untuk kepentingan rakyatnya. Pada malam hari ia bermunajat kepada Tuhannya dan menyerahkan beban kekuasaan itu kepada-Nya untuk dimudahkan. Umara yang saleh menganggap rakyatnya merupakan keluarga besarnya. Yang lebih tua bagaikan orang tuanya dan lebih muda adalah anaknya. Yang sebaya dianggap saudaranya. Umara semacam ini jaminan kesejahteraan bagi rakyatnya, lahir dan batin.

Kekuasaan adalah amanat yang harus ditunaikan dengan jujur, adil dan ikhlas, bukan untuk dibangga-banggakan dan disalahgunakan. Penguasa tidak boleh memperturutkan hawa nafsu, melakukan penyimpangan dan menganiaya rakyat. Di antara kewajiban umara adalah menerapkan pemerintahan yang berkeadilan.

“Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanat kepada yang layak menerimanya. Apabila kamu mengadili di antara manusia, bertindaklah dengan adil. Sungguh Allah mengajar kamu dengan sebaik- baiknya. Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. An Nisaa‘: 58).
Islam sebagai agama yang sempurna dari Tuhan Yang Maha Sempurna menghendaki perpaduan antara ulama dan umara. Perpaduan yang saling isi mengisi. Umat Islam jika ditanya soal ini, pastilah mereka mengharapkan pemimpin yang di dalam dirinya berpadu dua predikat ini, ulama dan umara. Namun mencari pemimpin yang ulama dan umara itu teramat sulit, apatah lagi di zaman sekarang.

Pada pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah Gubernur (Pilkadagub) Sumatera Barat 2015 ini, isu ulama dan umara ini kembali diangkat oleh sebagian kalangan. Bagi kelompok yang antipati kepada Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa yang maju sebagai calon gubernur (Cagub) berpasangan dengan Nasrul Abit (pasangan IP-NA), menghendaki kepemimpinan ulama dan umara harus dipisahkan. Mereka sering menyorot Irwan Prayitno yang sering memberikan tausiyah kepada umat dan ASN Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sewaktu menjabat Gubernur Sumbar.

Posisi Irwan Prayitno sebagai pemimpin (gubernur pada waktu itu) sekaligus ustadz mereka sorot dengan tajam, karena Irwan Prayitno dianggap ‘merampas’ peran ulama. Irwan Prayitno dianggap tidak lagi memberikan kesempatan kepada ulama lain untuk berceramah di depan ASN Pemprov Sumbar karena ‘pekerjaan’ itu diborongnya langsung. Mereka seakan lupa, tugas seorang pemimpin dalam Islam adalah menjaga akidah dan akhlak orang-orang yang dipimpinnya.
Kelompok yang bersimpati kepada Irwan Prayitno terus memberikan dukungan kepadanya. Bagi mereka, sosok Irwan Prayitno adalah sosok ulama dan umara yang sulit mereka temukan saat ini. Maka sudah selayaknya, rakyat Sumatera Barat memberikan kepercayaan sekali lagi kepada Irwan Prayitno, sehingga pekerjaan yang terbengkalai selama dia memimpin Sumatera Barat dapat diselesaikan.

Jika kita amati, ada empat kelompok yang memberikan dukungan kepada Irwan Prayitno. Pertama, dukungan dari orang-orang politik. Dukungan ini berasal dari kader partai, baik PKS maupun Gerindra yang mengusung pasangan IP-NA. Kedua, Anak Nagari Basa Si Ampek Baleh (Pauh-Kuranji) dan Pesisir Selatan. Mereka mendukung pasangan IP-NA dengan alasan sekampung. Di antara mereka juga terdapat pengkritik IP-NA selama memimpin daerah masing-masing. Ketiga, masyarakat Sumbar yang bersimpati karena Irwan Prayitno adalah pemimpin yang bersih, jujur, dan sosok ulama-umara terdapat pada dirinya. Nasrul Abit pun dipandang sebagai pemimpin yang berhasil membangun Pesisir Selatan. Keempat, kalangan anak muda yang terdiri dari mahasiswa dan pelajar yang melihat Irwan Prayitno sebagai sosok multi talenta.

“Dua golongan manusia, jika mereka baik, akan baik seluruh manusia, dan jika ia rusak, akan rusak seluruh manusia. Mereka adalah para ulama dan umara.” (HR Ibnu Nu’aim).
Irwan Prayitno melaksanakan tugasnya sebagai pendakwah jauh hari sebelum terjun ke dunia politik. Berdakwah sudah menjadi bagian utama dalam hidupnya. Tiada hari tanpa berdakwah, itulah prinsip hidupnya. Baik diundang secara tertulis melalui undangan resmi atau sms maupun lisan atau melalui telepon, jika itu menyangkut dakwah, Irwan Prayitno akan memastikan dirinya hadir.

Makanya, ketika Partai Keadilan dideklarasikan pada 20 Juli 1998, Irwan Prayitno langsung bergabung dengan partai ini. Awal pendiriannya, Partai Keadilan yang sekarang berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan partai dakwah. Tujuan pendiriannya adalah untuk memperjuangkan kepentingan umat Islam di kancah politik, tanpa meninggalkan perannya sebagai partai dakwah. Kita pun melihat, rata-rata politisi PKS merupakan dai yang siap terjun berdakwah ke tengah-tengah umat, kapan pun diperlukan.

 

Jadi, jauh hari sebelum bergabung dalam dunia politik praktis, Irwan Prayitno adalah ustadz muda yang berdakwah dari masjid ke masjid, mushalla ke mushalla dan kampus ke kampus. Setelah terjun ke dunia politik Irwan Prayitno tidak melupakan tugas pokoknya sebagai dai. Dia tetap berdakwah ke tengah-tengah umat. Ketika menjadi gubernur, ia pun rutin memberikan ceramah empat kali sebulan kepada pegawai Pemprov Sumbar. Dan isi-isi ceramahnya pun tidak menyinggung persoalan politik secara eksklusif atau menyampaikan pesan-pesan agar memilih partai tertentu. Semua orang yang pernah mendengarkan ceramahnya, pasti tahu itu. Kecuali ceramah itu ditujukan khusus untuk kader partainya.
Irwan Prayitno bukan ustadz dadakan, yang menjadi ustadz ketika musim kampanye saja. Seperti kebanyakan dilakukan oleh calon pemimpin yang ingin mengambil hati rakyat, mereka pun tiba-tiba berlagak seperti ustadz. Bahkan rela tidur bersama jamaah di masjid dan berdiskusi soal ilmu-ilmu agama. Pendekatan secara agama yang hanya dia lakukan untuk meraih simpati rakyat. Setelah berkuasa mereka pun dipanggil ustadz, namun sering pesan agama yang dia sampaikan membuat umat bingung. Umat terpaksa menerima materi yang disampaikan karena kebetulan ia penguasa atau pemimpin partai politik.

Menurut Abu Al-Hasan Al-Mawardi, pengarang kitab Al-Ahkam Al-Sultaniah (kitab tentang ilmu pemerintahan), kewajiban pemimpin meliputi 10 poin: (1) menjaga penerapan agama yang benar; (2) menerapkan hukum dalam setiap permasalahan yang terjadi dengan cara yang adil; (3) melindungi keamanan negara sehingga rakyat dapat beraktivitas dengan bebas dan tidak dihantui ketakutan; (4) menegakkan hukum pidana sehingga akhlak warga terlindungi; (5) menjaga perbatasan negara dengan sistem keamanan yang baik sehingga dapat menangkal serangan musuh; (6) jihad untuk memerangi musuh; (7) mengambil pajak dan zakat dari warga sesuai dengan ketentuan syariat; (8) mendistribusikan dana baitul mal dengan baik dan tepat pada waktunya; (9) mempekerjakan orang-orang yang amanah dan kapabel dalam bidangnya; (10) memantau langsung perkembangan yang terjadi pada warganya dan tidak hanya memercayakannya kepada wakilnya agar dapat memiliki lebih banyak waktu untuk menikmati dunia atau untuk beribadah.

Ditulis Oleh:
Zamri Yahya, SHI
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang

 

Bentengsumbar.com, 27 September 2015

 

Maju dengan Penuh Percaya Diri

Maju dengan Penuh Percaya Diri

SEBAGAI politisi senior Partai Keadilan Sejahtera, karir politik Irwan Prayitno terbilang mulus. Seiring pengukuhan Partai Keadilan pada 20 Juli 1998, Irwan membentuk dan mengetuai perwakilan PK di Malaysia. PK mengantar Irwan duduk di parlemen hasil pemilihan umum 1999. PK mendudukkan tujuh kader di DPR RI, termasuk dirinya. Bersama Partai Amanat Nasional yang mengumpulkan 37 kursi DPR, kedua partai bergabung membentuk Fraksi Reformasi dengan Hatta Rajasa sebagai ketua dan Irwan Prayitno sebagai wakil. Fraksi mengantar nama Irwan sebagai Ketua Komisi VIII. Ia memimpin Komisi VIII yang di antaranya membidangi masalah energi dan sumber daya mineral. AM Fatwa menyebut Irwan satu-satunya pimpinan komisi di DPR yang tak tergantikan selama lima tahun.

Pada pemilihan umum legislatif April 2004, ia diusung partai yang telah berganti nama PKS sebagai calon anggota legislatif DPR. Daerah pemilihan Sumatera Barat mengirimkan dua wakil ke DPR dari PKS, dirinya dan Refrizal. Pada periode keduanya di DPR, ia kembali mengetuai komisi yang sama sampai 2005 sebelum berpindah komisi dan diangkat sebagai Ketua Komisi X sejak 2007.
Dalam pemilihan umum 2009, Irwan dan Refrizal terpilih kembali mewakili Sumatera Barat. Irwan tak menyelesaikan periode ketiganya setelah maju sebagai Gubernur Sumatera Barat dan terpilih sebagai gubernur. Irwan resmi ditetapkan sebagai gubernur terpilih setelah meraup 32,44% suara. Ia tercatat sebagai Gubernur Sumatera Barat pertama yang berasal dari partai politik. Bersama wakilnya Muslim Kasim, Irwan dilantik sebagai Gubernur Sumatera Barat pada Minggu, 15 Agustus 2010 oleh Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi atas nama Presiden RI. Pelantikan berlangsung di bekas ruangan garasi mobil DPRD Sumatera Barat karena gedung utama rusak berat akibat gempa.

Kini Irwan kembali maju untuk periode kedua sebagai calon Gubernur Sumatera Barat berpasangan dengan Nasrul Abit, mantan Bupati Pesisir Selatan dalam pilkada 2015. Dengan penuh percaya diri, pasangan calon nomor urut dua ini yakin akan memenangkan pilkada dengan meraih dukungan rakyat Sumatera Barat. Apatah lagi, pasangan ini didukung dua partai besar, yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang dikenal dengan kader-kader militannya dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang kental dengan figur Prabowo Subiantonya. Pada pemilihan presiden (Pilpres) tahun kemaren, Prabowo Subianto meraih 78 persen suara di Sumatera Barat dan Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Hatta waktu itu adalah Irwan Prayitno.

Sebagai politisi nasional yang matang dalam dunia politik dan dakwah, sosok Irwan dikenal dekat oleh masyarakat kelas bawah. Selama menjabat Gubernur Sumatera Barat, Irwan tercatat mengunjungi daerah-daerah di Sumatera Barat sebanyak 840 kali lebih. Kebanyakan adalah daerah-daerah terpencil dan jarang dikunjungi pejabat sekelas bupati, apalagi gubernur. Bahkan ada pemuka masyarakat di daerah terpencil itu mengatakan, sejak Indonesia merdeka, baru kali itu ada gubernur yang berkunjung ke daerah mereka.

 

Irwan adalah sosok yang penuh percaya diri dalam menempuh karir politiknya. Sejak terjun dalam dunia politik, dalam setiap pemilu legislatif, Irwan terlihat percaya diri. Setidaknya ini tampak dari Alat Peraga Kampanye (APK) yang dipasangnya, tak pernah tampak dia memasang tanda gambar tokoh, baik tokoh nasional maupun tokoh daerah. Pada APK tersebut, dia hanya memasang tanda gambarnya seorang, kalau pun ada tanda gambar orang lain, itu adalah calon anggota legislatif yang separtai dengannya.

Demikian juga pada pilkada gubernur (Pilkadagub) Sumatera Barat pada tahun 2005 dan 2010, Irwan adalah calon gubernur yang tampil beda. Jika calon lainnya memasang tanda gambar tokoh masyarakat yang mendukungnya, Irwan hanya memasang tanda gambar dirinya dan pasangannya. Pada pilkadagub 2015 ini, Irwan kembali tampil apa adanya. Pada APK miliknya, hanya terpasang tanda gambar dirinya dan Nasrul Abit.

Penulis sempat bertanya kepada Irwan, kenapa dirinya tidak mau memasang tanda gambar tokoh Minang atau tokoh masyarakat lokal pada APK, seperti baliho, spanduk, dan banner miliknya. Irwan menjawab, sebagai calon pemimpin, dirinya harus percaya diri dan tidak ingin memanfaatkan ketokohan seseorang. Dia menghormati semua tokoh Minangkabau, baik di tingkat nasional maupun daerah, tetapi dirinya juga tidak ingin memanfaatkan kedekatannya dengan tokoh tersebut untuk kepentingan politik praktis. Tokoh Minang adalah milik bersama orang Minangkabau, bukan milik sebagian kelompok politik. Irwan tidak ingin menciderai ketokohan Tokoh Minang tersebut, sebab itu akan merugikan mereka sendiri dan menyebabkan terkotak-kotaknya Tokoh Minang akibat kepentingan politik.
Apatah lagi, dalam kenyataanya, tokoh Minang yang dimanfaatkan oleh pasangan calon sebagai salah satu bentuk dukungan, justru mengurangi kekaguman masyarakat kepadanya. Banyak kasus, tokoh-tokoh yang selama ini dihormati oleh masyarakat Minang, setelah menyatakan dukungan kepada calon tertentu dalam pilkadagub ini, malah menuai hujatan dari masyarakat. Irwan sendiri bukan tidak ada tokoh Minang yang mendukungnya, secara langsung sudah banyak sesepuh dan tokoh Minang yang menyatakan dukungan kepadanya. Tetapi Irwan tidak ingin memanfaatkan dukungan tersebut dengan memasang tanda gambar mereka, karena boleh jadi akan ada yang pro dan kontra, sehinga sesepuh dan tokoh Minang tersebut akan menuai hujatan.

Bagi Irwan, dukungan sesepuh dan tokoh Minang cukup disampaikan secara pribadi kepadanya, tanpa harus diumbar ke ruang publik. Dukungan dari sesepuh dan tokoh Minang tersebut setidaknya menjadi energi tersendiri bagi pasangan IP-NA, karena mereka tidak hanya memberikan dukungan lisan, tetapi juga mendorong anak kemenakannya memilih pasangan IP-NA. Tak hanya sesepuh dan tokoh Minang, beberapa pimpinan partai politik, baik di tingkat nasional maupun lokal, juga menyatakan dukungannya secara pribadi kepada Irwan Prayitno.

 

Dalam ilmu psikologi politik, yaitu bidang ilmu interdisiplin yang tujuan substantifnya menyingkap saling keterkaitan antara psikologi dan politik, seseorang yang tidak percaya diri maju sebagai calon kepala daerah dapat dilihat dari APK yang digunakan. Jika pada APK itu menampilkan dukungan tokoh masyarakat sebanyak mungkin, berarti dia kurang percaya diri. Pasangan calon kepala daerah yang memasang tanda gambar tokoh pada baliho, spanduk, dan banner APK-nya tidak mungkin untuk gagah-gagahan, pastilah bertujuan untuk mendapatkan dukungan. Sebab, tidak ada jawaban lain selain itu.
Menurut hemat penulis, calon pemimpin yang tidak percaya dengan potensi yang dimilikinya, maka dia akan kurang percaya diri, sehingga memanfaatkan ketokohan seseorang melalui tampilan di baliho, spanduk dan banner untuk meraih simpati rakyat. Kalau mereka percaya diri, tidak mungkin mereka melakukan itu. Tentu kita patut bertanya, pemimpin semacam apakah mereka? Kalau mereka tidak memiliki kepercayaan diri, jika terpilih, tentu mereka tidak bisa mengambil keputusan sendiri, karena tidak percaya diri dan tidak memiliki kemampuan. Bisa saja dia nanti menjadi petugas partai, karena dalam setiap mengambil keputusan tidak percaya diri dan tidak memiliki kemampuan, sehingga harus bertanya kepada orang lain, terutama dari kalangan partai politik yang mendukungnya. Apatah lagi, jika partai pengusung dan pendukungnya banyak, maka mereka akan kerepotan mengakomodir kepentingan semua partai yang banyak tersebut.

Ditulis Oleh:
Zamri Yahya, SHI
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang

 

Bentengsumbar.com, 26 September 2015

 

Anak Muda Sudah Pasti Dukung Pemimpin Multi Talenta

Anak Muda Sudah Pasti Dukung Pemimpin Multi Talenta

MANUSIA multi talenta adalah manusia yang mempunyai semua keahlian di bidang olahraga, musik, pelajaran dan keahlian lainnya. Jika dia seorang pemimpin, maka tentulah dia sosok yang lengkap di mata masyarakat karena memiliki bakat dan keahlian di segala bidang. Multi talenta atau memiliki kemampuan di banyak bidang ilmu pengetahuan dengan kualitas keterampilan terbaik adalah syarat utama untuk menjadi pemimpin sukses di abad ini.

Tak semua pemimpin yang dianugerahi keahlian di berbagai bidang sehingga menyandang predikat sebagai pemimpin multi talenta. Apatah lagi, untuk menjadi pemimpin yang multi talenta tersebut sangatlah sulit. Butuh bakat dan hobi, butuh proses dan pembelajaran. Biasanya, bakat itu sudah dia sandang sedari kecil, bukan bakat yang dibuat-buat.

Irwan Prayitno, mantan Gubernur Sumatera Barat periode 2010-2015 yang saat ini mencalonkan diri lagi sebagai calon gubernur berpasangan dengan Nasrul Abit, mantan Bupati Pesisir Selatan dua kali periode, termasuk pemimpin multi talenta. Dia sosok pemimpin multi talenta yang lahir dari rahim Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan di tangannya pula partai ini dikenal luas di Sumatera, terutama Sumatera Barat. Anak didiknya saat ini sudah banyak yang menjadi kepala daerah dan wakil rakyat. Dan rata-rata mereka memanggil Irwan Prayitno abang, bukan ustadz sebagaimana kebanyakan kader PKS lainnya yang dipanggil ustadz.

Panggilan abang kepada Irwan Prayitno dari kader PKS lainnya tentu memiliki makna tersendiri. Panggilan abang tersebut menandakan Irwan Prayitno tidak ada jarak dengan kader-kadernya. Dia bisa memainkan peran sebagai kakak yang selalu mengayomi adik-adiknya. Bahkan, menurut Budiman Datuk Malano Garang, mantan Wakil Ketua DPRD Kota Padang, Irwan Prayitno tidak hanya dianggap kakak sebagian besar kader PKS, tetapi juga ayah dan guru.

 

Anda tak usah heran, jika suatu saat melihat Irwan Prayitno menabuh drum. Dia memang piawai memainkan alat musik yang satu ini. Penulis sendiri pernah melantunkan tembang kesukaan penulis, dan Irwan Prayitno bertindak sebagai pemain drumnya. Kenangan itu tak pernah penulis lupakan, seorang gubernur yang mahir memainkan alat musik anak muda dan itu jarang terjadi. Menurut Irwan Prayitno, dia sudah mahir memainkan alat musik tersebut semasa muda.

Irwan Prayitno juga seorang pencipta lagu. Lagu-lagu yang dia ciptakan bertemakan religi. Sudah puluhan lagu yang dia ciptakan, sebagian besar dia sendiri yang membawakan. Video clipnya bisa Anda tonton di youtube. Lagu-lagu religinya yang cukup popular adalah Kau Istriku, Ayahku, Anakku Penyejuk Hatiku, dan masih banyak yang lain.

Kalau soal olahraga, Irwan Prayitno itu penyuka olahraga ekstrim dan keras. Sedari bujang dia menyukai olahraga motor trail. Sebagai pembalap, selama menjabat Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno mengunjungi daerah terpencil dan terisolir dengan motor trailnya. Irwan Prayitno juga seorang karateka. Saat ini dia pemegang sabuk hitam dan IV.

Irwan Prayitno terbilang cerdas, sejak duduk di bangku Sekolah Dasar sampai merampungkan kuliahnya untuk gelar PhD dengan IPK cumlaude 3,97 di Universiti Putra Malaysia pada tahun 2000. Sejak tahun 2003, ia mengajar program pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Jakarta dan dikukuhkan sebagai guru besar pada 1 September 2008. Sampai ia menjadi Gubernur Sumatera Barat sejak 2010, ia masih menyempatkan mengajar 12 kali dalam satu semester.

 

Irwan Prayitno juga pernah menjadi guru kursus. Irwan Prayitno memilih mendirikan bimbingan belajar dengan hanya modal bermodalkan uang Rp15 ribu. Di Kota Padang, saat itu tidak banyak bimbingan belajar berdiri. Kecenderungan masyarakat masih menempuh pendidikan formal, dia melihat peluang cukup besar di bidang itu. Untuk menjalankan rencananya mendirikan lembaga bimbingan belajar tersebut, Irwan Prayitno mengajak kawan-kawannya yang dapat bekerjasama. Semangatnya bersama teman-teman, lalu akhirnya terdorong untuk membangun lembaga pendidikan Adzkia (yang artinya kecerdasan) untuk dakwah pendidikan, serta Yayasan Al-Madani untuk mengurusi dakwah sosial.

Secara perlahan tapi pasti, Yayasan Pendidikan Islam Adzkia terus tumbuh seiring tingginya kesadaran masyarakat di Kota Padang pentingnya pendidikan. Tahun 1990 Adzkia membuka Taman Kanak-Kanak Adzkia yang sampai sekarang berkembang menjadi tujuh cabang yang tersebar di Kota Padang, Bukittinggi dan Payakumbuh. Kemudian Yayasan Adzkia mendirikan SDIT, SMPIT, SMAIT dan SMK. Kemudian juga melanjutkan dengan mendirikan perguruan tinggi.

Seiring pengukuhan Partai Keadilan pada 20 Juli 1998, Irwan Prayitno membentuk dan mengetuai perwakilan PK di Malaysia. PK yang sekarang berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera telah mengantar Irwan Prayitno duduk di parlemen hasil pemilihan umum 1999. Irwan Prayitno terus terpilih untuk dua periode berikutnya. Ia memimpin Komisi VIII yang di antaranya membidangi masalah energi dan sumber daya mineral. AM Fatwa menyebut Irwan satu-satunya pimpinan komisi di DPR yang tak tergantikan selama lima tahun. Dia juga pernah menjabat Ketua Komisi X yang membidangi pendidikan.

Irwan Prayitno juga dikenal sebagai aktivis. Dirinya bergabung dan aktif dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jakarta semasa kuliah di Universitas Indonesia. Pada 1984, ia naik sebagai Ketua HMI Komisariat Fakultas Psikologi UI. Ia juga aktif mengikuti pergerakan Islam dalam skala yang lebih kecil, beralih ke masjid di kampus-kampus lewat kelompok-kelompok tarbiyah yang lebih berorientasi pada pembinaan aqidah dan akhlaq. Aktivitas tarbiyah berpusat di masjid-masjid kampus seperti Masjid Arif Rahman Hakim, UI; Masjid Salman, ITB; dan Masjid Al-Ghifari, IPB.

Irwan Prayitno juga dikenal sebagai ustadz panggilan. Sebagai pendakwah, dia sering memberikan ceramah di berbagai mesjid. Selama bulan Ramadhan, jadwal ceramahnya selalu penuh. Demikian juga untuk khatib Jum’at dan khatib Idul Fitri serta Idul Adha. Irwan Prayitno juga merupakan penghulu di Suku Tanjuang Kenagarian Pauh IX Kecamatan Kuranji. Dia diangkat sebagai penghulu pada tahun 2004 dengan gelar Datuk Rajo Bandaro Basa.

 

Sebagai pemimpin multi talenta, Irwan Prayitno disukai banyak kalangan, tua dan muda. Esy Mayasari, seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta ternama di kota ini mengaku mengagumi sosok Irwan Prayitno. Kekagumannya kepada Irwan Prayitno karena sang idola piawai memainkan alat musik drum. Dia juga mengaku pernah menyaksikan Irwan Prayitno dalam pertunjukannya.

Senada dengan itu, Cici, warga Aia Pacah Koto Tangah nan cantik ini juga mengaku kagum kepada sosok Irwan Prayitno. Disamping seorang dai, ternyata Irwan Prayitno juga seorang pembalap. Dua sisi yang selalu dianggap kontradiktif oleh banyak orang, tetapi mampu disatukan dalam dirinya oleh Irwan Prayitno. Cici mengaku tak salah menjatuhkan pilihannya mendukung Irwan Prayitno dalam pilgub kali ini.

Ditulis Oleh:
Zamri Yahya, SHI
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang

 

Bentengsumbar.com, 25 September 2015

Pemuda Harus Kembali Ke Surau

Pemuda Harus Kembali Ke Surau

PEMUDA adalah kekuatan sekaligus kebanggaan suatu umat atau negara. Untuk mengetahui nasib masa depan sebuah umat atau sebuah bangsa adalah dengan melihat generasi muda saat ini. Bila generasi mudanya baik, maka masa depan umat dan bangsa tersebut adalah baik. Sebaliknya bila generasi mudanya rusak maka masa depan umat dan bangsa itu adalah suram.

Berbicara tentang kehidupan sosial dan kemasyarakatan di Minangkabau, maka sisi religiusitas masyarakatnya tak dapat kita pisahkan dari kesehariannya. Ada hal yang unik dari masyarakat Minangkabau. Kalau kita mengenal surau pada umumnya adalah sebagai tempat beribadah (sholat) semata, ternyata bagi masyarakat Minangkabau surau tak hanya sebagai tempat ibadah saja. Namun surau waktu dulunya telah menjadi tempat tinggal bagi anak laki-laki yang mulai beranjak remaja.

Di suraulah dulunya anak laki-laki yang mulai menginjak masa remajanya lebih banyak menghabiskan waktunya setiap hari. Di surau mereka belajar mengaji Al Quran dan juga tafsirnya, ilmu hadis, aqidah, ibadah, muamalah, dan materi keislaman lainnya. Di surau juga mereka belajar tentang petatah-petitih adat Minangkabau, beladiri, randai, dan berbagai kesenian serta adat budaya Minangkabau lainnya. Di surau jugalah mereka ditempa dan dipersiapkan untuk menjadi pribadi yang siap menanggung beban dan amanah di kemudian harinya.

“Al Fityah adalah para pemuda, mereka (para pemuda) adalah orang yang lebih mudah untuk menerima kebenaran serta mengikuti jalan petunjuk dibandingkan orang-orang yang sudah lanjut usia yang telah dimakan usia dan lenyap terjerumus dalam agama yang bathil. Karena itu yang paling banyak menerima seruan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam adalah para pemuda. Adapun orang-orang tua dari suku Quraisy kebanyakan tetap kekal di atas agama nenek moyang mereka, tidak ada yang memeluk Islam kecuali sedikit, demikian pula yang Allah ceritakan tentang ‘Ashabul Kahfi’ bahwa mereka adalah para pemuda.” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/74).
Menyadari hal tersebut, Irwan Prayitno, Ninik Mamak Nagari Pauh IX Kecamatan Kuranji, dalam berbagai kesempatan menghimbau pemuda untuk kembali ke surau. Himbauan itu kembali disampaikannya ketika memberikan kata sambutan pada penutupan acara Semarak Idul Adha 1436 H Remaja Mushalla Abrar Kampung Marapak, Selasa (22/9/2015). Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Evi Yandri Rajo Budiman.

Irwan Prayitno mengapresiasi remaja Mushalla Abrar yang telah mengangkat kegiatan positif tersebut. Sebagai ninik mamak, Irwan Prayitno memang mempunyai kewajiban membina anak kemenakannya agar kembali ke surau. Sebab surau di Minangkabau berfungsi sebagai tempat mendidik generasi muda, baik secara lahir maupun bathin. Secara lahir, pemuda Minangkabau belajar silat sebagai bekal beladiri bagi mereka. Secara bathin, mereka diajarkan berbagai ilmu agama dan adab sebagai orang Minangkabau.

Irwan Prayitno juga mengingatkan anak kemenakannya agar untuk menjauhi narkoba dan pergaulan bebas. Kedua hal ini adalah penyebab kehancuran masa depan generasi muda. Bahaya narkoba dan seks bebas, akan merusak mental generasi muda penerus bangsa. Untuk itu, hindari diri dari seks bebas, minuman keras dan kecanduan narkoba. Untuk menghindari hal-hal tersebut, diperlukan iman yang kuat dan taat kepada agama. Oleh sebab itu, generasi muda harus kembali ke surau untuk mempelajari ilmu agama, sehingga imannya tak mudah goyah.

Seks bebas semakin bayak dilakukan karena kurangnya pemahaman terhadap tuntunan Islam, sebaliknya lebih tertarik meniru gaya hidup orang Barat yang mengutamakan pergaulan bebas. Manusia yang melanggar larangan Allah ialah golongan yang mengikuti dorongan hawa nafsu syahwat liar mereka dan juga diperbudak syetan. Karena iblis selalu menggoda anak Adam sehingga tidak mampu membedakan yang benar dan yang salah.

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah perbuatan keji yang membawa kepada kerusakan.” (QS. Al Isra: 32). Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah berzina seorang yang berzina ketika dia berzina itu dalam keadaan iman. Dan tidaklah mencuri seorang pencuri ketika mencuri itu dalam keadaan iman. Dan tidak pula meminum khamr (seorang peminum khamr) ketika meminumnya itu dalam keadaan iman. (HR. Muslim).
Ditulis Oleh:
Zamri Yahya, SHI
Wakil Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kota Padang

Bentengsumbar.com, 24 September 2015

 

PKS Wakafkan Irwan Prayitno untuk Membangun Sumbar

PKS Wakafkan Irwan Prayitno untuk Membangun Sumbar

Satu hal yang menjadi kritik kepada Irwan Prayitno Datuk Rajo Bandaro Basa adalah selama menjabat Gubernur Sumatera Barat, di rumah dinasnya maupun di kantor, tamu Irwan Prayitno lebih banyak dari kalangan partainya sendiri, ketimbang masyarakat lainnya. Kritik ini pun aneh dan janggal menurut penulis, karena tak sesuai fakta yang sebenarnya.

Ketika Irwan Prayitno terpilih sebagai Gubernur Sumatera Barat pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2010, sebelum dilantik sebagai gubernur, Ketua Dewan Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) KH. Hilmi Aminuddin mengatakan, dengan terpilihnya Irwan Prayitno sebagai gubernur, maka PKS mewakafkan Irwan Prayitno untuk Sumatera Barat. Semua jabatan yang dipegang Irwan Prayitno di partai harus dilepas, dan sebagai gubernur, Irwan Prayitno harus fokus memegang amanah jabatan untuk membangun dan mensejahterakan rakyat Sumatera Barat.

Allah swt berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An Nisa: 58). Di ayat lainnya, Allah swt berfirman, “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” (QS. Al Mu’minun: 8).
Sejak saat itu, Irwan Prayitno resmi sebagai kader biasa PKS, tidak lagi memegang jabatan struktural di partai. Nasib yang sama juga dialami oleh Tifatul Sembiring Datuk Tumanggung yang diangkat menjadi menteri di era Presiden SBY, Ahmad Heryawan yang terpilih menjadi Gubernur Jawa Barat, dan Mahyeldi Ansharullah ketika terpilih menjadi Walikota Padang. Sedangkan bagi kader partai yang terpilih memegang jabatan struktural, harus mundur dari jabatan yang dipegangnya di pemerintahan atau legislatif, seperti Anis Matta yang mundur sebagai anggota DPR RI.

Irwan Prayitno pun fokus membangun Sumatera Barat yang porak poranda akibat digoncang gempa dahsyat 30 September 2009. Sekitar 200 ribu lebih rumah masyarakat harus direhab, dan sarana-prasarana publik harus dibangun kembali karena hancur terkena gempa. Dia tidak lagi memikirkan partai dan terlibat dalam mengurus partai. Rapat-rapat di partai pun tidak lagi melibatkan Irwan Prayitno. Paling dia dilibatkan hanya sebagai narasumber atau pembicara dalam seminar-seminar dan kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh kader-kader PKS.

Kalau ada orang yang mengatakan selama menjabat Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno disibukkan mengurus partai dan keder PKS, di rumah dinasnya maupun di kantor, tamu Irwan Prayitno lebih banyak dari kalangan partainya sendiri, ketimbang masyarakat lainnya, mak